RSS

PROFIL KEPULAUAN TALAUD

Geografis dan Administratif

Geografis. Kabupaten Kepulauan Talaud terletak antara 4001’00’’ LU dan 126040’00 BT, berbatasan di sebelah Utara dengan Negara Filipina, sebelah Timur dengan Laut Sulawesi dan Laut Pasifik, sebelah Selatan dengan Laut Maluku dan sebelah Barat dengan Laut Sulawesi. Kabupaten Talaud memiliki wilayah seluas 27061,16 Km2 terdiri dari wilayah daratan seluas 1.288,94 Km2 (4,76%) dan wilayah lautan seluas 25.772,22 Km2 (95,24%)
Berdasarkan Peraturan Presiden no. 78 Tahun 2005 mengenai Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar, Kabupaten Kepulauan Talaud memiliki 4 buah pulau kecil yang menjadi lokasi penempatan titik dasar batas negara serta berhadapan langsung dengan negara Filipina yaitu Pulau Miangas, Pulau Marampit, Pulau Intata dan Pulau Kakorotan. Dari 4 pulau tersebut, 2 pulau dinilai memiliki kondisi paling rawan yaitu Pulau Miangas dan Pulau Kakorotan

Administratif

Kabupaten Kepulauan Talaud terdiri dari 17 Kecamatan, 11 Kelurahan, dan 142 Desa. Pulau Kecil Terluar berada di 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Miangas dan Kecamatan Nanusa

Sumberdaya Alam

Kabupaten Kepulauan Talaud memiliki potensi besar di sektor primer, antara lain sektor kelautan dan perikanan (perikanan tangkap dan budidaya), pertanian (perkebunan pala, kelapa, cengkih, vanili, pisang abaka; buah-buahan; dan palawija), dan pertambangan (pasir besi, mangan, nikel, dan batu alam). Selain itu terdapat potensi besar di sektor pariwisata (alam dan budaya) serta industri kecil terutama kerajinan. Beberapa sentra produksi komoditi pertanian antara lain di Kecamatan Nanusa (perikanan dan kelapa), Kecamatan Salibabu (perikanan, kelapa, dan pala), Kecamatan Damau (perikanan dan Pala), Kecamatan Gemeh (Pala), dan Kecamatan Melonguane timur (perikanan, kelapa dan pala). Adapun pulau kecil terluar memiliki potensi SDA yang besar untuk pengembangan sektor pertanian, perikanan, wisata bahari, dan kawasan konservasi

Lintas Batas

Terdapat beberapa jalur lintas batas tradisional yang sering digunakan oleh masyarakat di negara tetangga untuk masuk ke wilayah RI melalui Kabupaten Talaud antara lain Jalur Miangas, Jalur Karatung, Jalur Lahu (Kec. Gemeh), Jalur Bowombaru (Kec. Melonguane Timur), Jalur Lawasan (kec. Salibabu), dan Jalur Kakorotan (Kec. Nanusa). Saat ini baru terdapat 1 (satu) buah Pos Lintas Batas (PLB) yaitu PLB Miangas. PLB ini telah didukung oleh fasilitas bea cukai, imigrasi, dan keamanan.

Sumberdaya Manusia

Dari total jumlah keluarga di Kabupaten Kepulauan Talaud sebesar 18.457, 58 % atau 10/698 KK diantaranya tergolong keluarga miskin. Dari 4 pulau kecil terluar, 3 diantaranya memiliki penduduk yaitu Pulau Miangas, Marampit, dan Kakorotan dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan/petani

Sarana dan Prasarana Kesehatan. Kabupaten Talaud hingga tahun 2005 telah memiliki 1 Unit RSUD Tipe C di Melonguane, 12 unit Puskesmas, dan 36 unit Puskesmas Pembantu. Jumlah ini masih kurang dibandingkan dengan kebutuhan ideal, dimana jumlah ideal Puskesmas adalah sebanyak 16 Unit; dan Pustu sebanyak 126 Unit.
Sarana dan Prasarana Perhubungan. Sarana dan prasarana perhubungan yang ada di Kabupaten Talaud, baik perhubungan darat, laut, dan udara, pada umumnya masih minim dan belum memadai.
Jalan. Hingga tahun 2005, Kabupaten Talaud memiliki jalan negara/nasional sepanjang 91 Km. Jalan nasional dengan kondisi baik tercatat sepanjang 11,5 Km (12,6 %), kondisi sedang 17,6 Km (19,3 %), dan rusak Berat 61,9 Km (68 %). Terdapat 90 unit jembatan pada ruas jalan nasional dengan panjang total 1420.95 m, dimana 30 persen diantaranya (424,5 m ) dalam kondisi rusak berat. Untuk jalan propinsi, dari panjang total sebesar 107,5 Km, 74,7 persen diantaranya atau 80,3 Km dalam kondisi rusak berat. Adapun jalan propinsi dengan kondisi baik dan kondisi sedang masing-masing hanya tercata 1,2 Km (1,1 %) dan 80,3 Km (74,7 %). Jembatan pada jalan propinsi, 57 m tercatat rusak berat dan 270 m belum ada jembatan. Sedangkan untuk jalan kabupaten, panjang jalan total tercatat sebesar 138,1 Km, dimana jalan dengan kondisi baik tercatat sepanjang 3,2 Km (2,3 %), kondisi sedang 18,5 Km (13,4 %), dan rusak berat sepanjang 116, 4 Km (84,3 %).

Perhubungan Laut. Jumlah Dermaga/Pelabuhan di Kabupaten Talaud hingga tahun 2005 tercatat 5 unit yaitu Pelabuhan Mangaran (P. Kabaruan), Pelabuhan Lirung (P. Salibabu), Pelabuhan Melonguane (P. Karakelang), Pelabuhan Karatung (P. Karatung), dan Pelabuhan Miangas (P. Miangas). Saat ini tengahdibangun Pelabuhan Beo dan Pelabuhan Essang. Sedangkan Pelabuhan di Gemeh, Rainis, Ganalo, Dampulis, Kakorotan dan Damau, belum memiliki dermaga. Saat wilayah Kabupaten Talaud telah dapat diakses oleh transportasi laut dengan frekuensi 5 kali pelayaran seminggu dari manado, baik oleh PELNI maupun pelayaran swasta. Selain itu telah ada pula Jalur Ferry Bitung-Melonguane (PP) seminggu sekali. Rencana pengembangan ke depan, perlu diupayakan pembangunan Jalur Ferry P. Marampit (Nanusa) – General Santos (Filipina)

Perhubungan udara. Hingga tahun 2005, Jumlah Bandara di Kabupaten Talaud tercatat sebanyak 1 unit berkedudukan di Melonguane. Bandara tersebut memiliki Run Way seluas 27.600 m2 yang dirasakan masih belum memenuhi syarat untuk untuk didarati Foker 70. Kebutuhan minimun runway seluas 49.500 m2, sehingga dibutuhkan pengembangan Runway seluas 21.900 m2. Saat ini rute penerbangan yang telah ada adalah Manado-Melonguane-Naha (PP) setiap hari rabu (Bersubsidi APBN), dan rute penerbangan: Manado-Melonguane (PP) setiap hari Senin dan Sabtu (Komersial). Jenis pesawat yang beroperasi adalah Merpati jenis Cassa 21 Sheet. Rencana pengembangan rute yang dibutuhkan ke depan adalah membuka rute penerbangan hingga ke Filipina, yaitu rute Manado-Naha-Melonguane-Miangas-Davao (Filipina)

Isu Strategis antara lain :

  • Letak Pulau Miangas yang sangat dekat dengan garis batas negara dan lebih dekat dengan wilayah negara tetangga Filipina menyebabkan kedua pulau ini sangat rentan terhadap intervensi asing.
  • Wilayah perbatasan sangat rawan terhadap perdagangan dan penyeludupan senjata dari Pulau Mindanao, Filipina Selatan menuju berbagai daerah rawan konflik di Indonesi seperti Poso, Maluku Utara, dan Maluku.
  • Beberapa pulau di wilayah perbatasan sering dijadikan transit point bagi alur lalu lintas teroris internasional. Wilayah perbatasan menjadi alur perdagangan dan penyeludupan berbagai barang elektronik, narkoba (narkotika dan obat-obat terlarang), minuman beralkohol dan non-alkohol, serta rentan terhadap peredaran dollar palsu Amerika Serikat.
  • Wilayah perbatasan dimanfaatkan warga asing untuk melakukan kegiatan pengurasan sumber daya laut dan perikanan (illegal fishing) dan trans-shipment.
  • Sebagian besar penduduk Kabupaten Kepulauan Talaud tergolong penduduk miskin dan wilayah kedua kabupaten tersebut termasuk klasifikasi wilayah tertinggal dan daerah rawan bencana.
  • Infrastruktur dasar dan sarana transportasi yang tersedia sangat terbatas dan sebagian kondisi prasarana-prasarana pelabuhan dan fasilitas penunjang lainnya dalam kondisi yang tidak dapat digunakan.
  • Terjadinya perubahan dan kerusakan ekosistem alami hutan pantai, mangrove, dan ekosistem hutan daratan yang berdampak terhadap pengurasan luas habitat pulau, pencemaran lingkungan estuari, dan perairan pantai. Konsekuensinya terjadi penurunan potensi keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem pulau-pulau kecil

SUMBER: http://batas.bappenas.go.id//images/DATA%20WILAYAH/Sulawesi%20Utara/profilTalaud.pdf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: