RSS

PROFIL KABUPATEN SANGIHE

Kabupaten Kepulauan Sangihe berada di antara Provinsi Sulawesi Utara (Republik Indonesia) dan Kepulauan Mindanao Selatan (Republik Philipina). Kabupaten ini memiliki luas wilayah 20.258,60 Km2, terdiri dari daratan mencapai 1.012,94 km2, dan lautan 19.245,67 Km2 dengan ibukota berkedudukan di Tahuna. Kabupaten ini terdiri dari dua gugusan kepulauan yaitu gugusan kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (27,24 %) dan gugusan kepulauan Sangihe Besar (72, 76 %), secara keseluruhan jumlah pulau sebanyak 112 pulau, 82 pulau tidak berpenghuni dan 30 pulau berpenghuni.Secara geografis wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak antara 2o 4’ 13” – 4o 44’ 22” LU dan 125° 9′ 28” – 125° 56′ 57” BT dan posisinya terletak di antara Pulau Sulawesi dengan Pulau Mindanao (Republik Filipina). Adapun batas-batas administrasi yang dimiliki oleh kabupaten ini adalah, sebagai berikut :
􀂃 Sebelah Utara : Republik Filipina
􀂃 Sebelah Timur : Laut Sulawesi
􀂃 Sebelah Selatan : Kabupaten Minahasa Utara
􀂃 Sebelah Barat : Kabupaten Kepulauan Talaud dan Laut Maluku.
Berdasarkan Perpres 78/2005, Kabupaten Kepulauan Sangihe memiliki 5 pulau terluar antara lain Pulau Makalehi, Pulau Marore, Pulau Kawio, Pulau Kawaluso, dan Pulau Batu Bawaikang

Secara administrasi Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tahun 2005 (sebelum dimekarkan) terbagi dalam 24 kecamatan, 197 desa dan 26 kelurahan.

 

Potensi Daerah

Wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe yang sebagian besar (+ 85%) wilayahnya terdiri dari lautan sehingga memiliki potensi besar sebagai daerah pengembangan perikanan laut baik dari subsektor perikanan tangkap maupun budidaya. Produksi perikanan laut daerah Sangihe sangat diyakini mengalami kenaikan dari tahun ke tahun khususnya untuk jenis ikan layang dan tongkol/tuna. Usaha budidaya baik di laut dan di perairan umum masih kurang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Sangihe. Potensi lain pada sektor pertanian, terutama perkebunan, yang memberikan kontribusi terbesar didalam struktur perekonomian Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan 6 jenis komoditas tanaman perkebunan rakyat yang diusahakan dan dikembangkan oleh penduduk yaitu kelapa, cengkih, pala, kopi, kakao dan vanili. Sektor pariwisata, terutama wisata alam, wisata bahari, dan wisat abudaya juga potensial dikembangkan. Namun sejauh ini kegiatan sektor pariwisata di Kabupaten Kepulauan Sangihe belum kelihatan perannya dalam menunjang perekonomian daerah.

Sumberdaya Manusia

Penduduk. Jumlah penduduk Kabupaten Sangihe pada tahun 2005 (Sebelum dimekarkan) adalah sebesar 192.490 jiwa. Kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Tatoareng dan terendah adalah Tabukan Selatan Tenggara. Sebagian besar penduduk di Kabupaten Kepulauan Sangihe bekerja sebagai petani dan nelayan

Ekonomi

Kontribusi sektor primer terutama sektor pertanian mendominasi PDRB dengan kontribusi sebesar 45,1% diikuti sektor tersier dengan kontribusi rata-rata 42,8% dan sektor sekunder rata-rata sebesar 12,1% per tahun. Subsektor yang memberikan sumbangan terbesar pada sektor pertanian adalah subsektor perkebunan dengan kontribusi rata-rata sebesar 26,25%. Beberapa subsektor lain penyumbang PDRB di sektor pertanian adalah perikanan 8,82%, tanaman bahan makanan 3,43%, peternakan 2,06% dan kehutanan 0,02%. Walaupun komoditas-komoditas yang dihasilkan oleh Kepulauan Sangihe relatif sama dengan komoditas yang dihasilkan oleh beberapa wilayah di Mindanao Selatan, faktor jarak yang relatif dekat membuat wilayah Filipina Selatan menjadi alternatif tujuan pemasaran yang penting, disamping Manado dan Bitung yang menjadi tujuan pemasaran selama ini. Jarak Tahuna sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe ke Manado sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Utara relatif hampir sama dengan jarak Tahuna ke General Santos dan Davao City yang merupakan dua kota besar di Mindanao Selatan. Beberapa gugus kepulauan di Utara Tahuna bahkan memiliki jarak yang lebih dekat dengan beberapa wilayah di Mindanao Selatan. Perhubungan Darat.

Sarana dan Prasarana

Kabupaten Kepulauan Sangihe memiliki jalan nasional dengan panjang ruas 85.520 kilometer, jalan provinsi panjang ruas 149.400 kilometer dan jalan kabupaten panjang ruas 325.860 kilometer. Pada umumnya jalan yang ada di wilayah ini memiliki permukaan aspal dengan kondisi yang belum mantap, dilain pihak untuk jalan kabupaten, permukaan jalannya masih banyak berupa tanah dengan kondisi rusak berat.
Perhubungan Laut. Kabupaten kepulauan Sangihe memiliki beberapa pelabuhan laut dengan kapasitas dan fasilitas yang layak sehingga mampu melayani kapal penumpang, kapal penangkap ikan, dengan jalur pelayaran antar pulau serta pelabuhan-pelabuhan lokal. Salah satu dari pelabuhan-pelabuhan tersebut, Tahuna merupakan pelabuhan utama yang akan dikembangkan sebagai Pelabuhan Kontainer untuk wilayah ini. Ada pula, fasilitas karantina baik hewan maupun tumbuhan telah dibangun dilokasi pelabuhan. Selain itu terdapat pula pengembangan sistem jaringan transportasi laut, yaitu pelabuhan Tagulandang, Pelabuhan Siau, Pelabuhan Peta

Perhubungan Udara. Kabupaten Kepulauan Sangihe memiliki sebuah bandara perintis yang telah diusulkan peningkatan status menjadi bandara Penyebaran Kecil, yaitu Yudha Tindas yang berada di Pulau Sangihe Besarn Kecamatan Tabukan Utara Kampung Naha. Bandara ini merupakan pintu keluar-masuk utama di wilayah ini dengan menggunakan pesawat udara. Hanya dapat didarati oleh pesawat jenis Cassa dengan frekuensi penerbangan 3 kali seminggu, itu pun tergantung dari cuaca yang ada. Dalam pengembangannya banadara ini akan dijadikan sebagai pengembangan jalur perbatasan langsung dengan negara tetangga Philipina, dirasakan akan menjadi penting sehubungan semakin meningkatnya kegiatan perekonomian di Mindanau Selatan

Isu Strategis

  • Beberapa isu strategis dalam pengembangan wilayah Perbatasan di Kabupaten Sanghe antara lain :
    Kondisi fisik wilayah yang berbukit dan memiliki kemiringan lereng yang curam terutama pada pulau-pulau besar menjadi hambatan dalam pengembangan lahan dan sulit kemampuan daya hubungnya.
    Kesenjangan sosial ekonomi penduduk dengan negara tetangga.
    Keterisolasian wilayah karena jarak antara satu pulau ke pulau yang lain relatif berjauhan, dengan kondisi perairan laut yang hampir sepanjang tahun bergelombang besar disertai arus deras dan angin bertiup kencang.
    Kemiskinan akibat keterisolasian sehingga sebagian besar wilayah mengalami ketertinggalan.
    Munculnya kegiatan ekonomi ilegal karena lemahnya sistem pengawasan dan sulitnya pengendalian serta pengawasan wilayah laut akibat kondisi geografis
    Eksploitasi sumberdaya alam masih sangat kecil, belum ramah lingkungan, dan belum sinergis antara produksi, pengolahan dan pemasaran.
    Minimnya prasarana dan sarana transportasi/komunikasi, infrastruktur sosial, ekonomi, pendidikan tinggi dan kesehatan; pertumbuhan penduduk negatif dan berdaya saing kurang.
    Merupakan daerah rawan bencana alam seperti bencana gunung api, bencana angin ribut dan gelombang, pengrusakan lingkungan, longsor, abrasi, dll.

SUMBER: http://batas.bappenas.go.id//images/DATA%20WILAYAH/Sulawesi%20Utara/profilsangihe

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: