RSS

PROFIL KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT

Geografis dan Administratif

Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) memiliki posisi geografis yang berbatasan dengan negara Australia dan Timor Leste, serta memiliki 10 pulau terluar.

Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) memiliki posisi geografis yang berbatasan dengan negara tetangga seperti Australia dan Timor Leste. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 125.422 Km2. Hampir sebahagian besar dari luas wilayah merupakan wilayah laut, yaitu sebesar 110.838,4 Km2 atau (88,4 %), dan hanya sebahagian kecil saja wilayah daratan, yaitu seluas 14.584 Km2 atau 11,6 %. Secara astronomis kabupaten MTB terletak antara 6o – 8 o 30’ LS dan 125 o45’ – 133 o BT dan secara geografis mempunyai batas-batas sebagai berikut :
– Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Banda
– Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Timor dan Laut Hindia
– Sebelah Barat berbatasan dengan ‘Laut Flores, serta
– Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Arafura
Wilayah Kabupaten MTB merupakan dapat dikelompokan kedalam 4 satuan gugus pulau, yaitu : (1) Gugus pulau Tanimbar dengan luas daratan 5.936 Km2; (2) Gugus pulau Babar dengan luas daratan 2.456 Km2; (3) Gugus pulau Terselatan dengan luas daratan 4.686 km2; dan (4) Gugus pulau Lemola dengan luas daratan 1.506 Km2. Dilihat dari struktur Pemerintahan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat terdiri dari 17 (tujuh belas) Kecamatan, dan 187 Desa/1 Kelurahan.

Berdasarkan Perpres 78/2005 mengenai Pengelolaan Pulau Kecil Terluar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat memiliki 10. pulau kecil terluar yang menjadi lokasi penempatan titik dasar dan berhadapan dengan wilayah laut Timor Leste dan atau Australia, yaitu Pulau Larat, Asutubun, Selaru, Batarkusu, Masela, Meatimarang, Leti, Kisar, Wetar, dan Pulau Liran

Sumberdaya Alam

Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) memiliki potensi SDA yang besar di sektor perikanan, kehutanan, pertanian, perkebunan, peternakan, dan pertambangan.

Perikanan. Jumlah potensi Perikanan di Laut Banda dan Laut Arafura yaitu sekitar 1.034.174 ton, dengan jenis ikan yang bervariasi antara lain cakalang, tongkol, tuna, marlin, ikan pedang, tenggiri, ikan karang, lobster, udang, udang, dan cumi-cumi. Dari potensi tersebut yang baru di produksi sebesar 6.895 ton atau sebesar 0,66 %. Hal ini disebabkan sumberdaya manusia, sarana dan prasarana kelautan dan perikanan masih terbatas, serta penangkapan ikan masih tradisional dan belum berfungsinya pelabuhan pendaratan ikan (PPI) karena sementara dalam tahap pembangunan.
Kehutanan. Kabupaten MTB memiliki Kawasan Hutan Produksi dan Kawasan Hutan Lindung. Kawasan Hutan Produksi yang ada seluas 81.722,04 Ha, terdiri dari Hutan Produksi Terbatas seluas 191.420 Ha dan Hutan Produksi Tetap seluas 170.388,46 Ha. Sedangkan kawasan hutan lindung yang ada seluas 164.123,66 Ha, terdiri dari Hutan Suaku Alam/ Konservasi seluas 122.736,66 Ha dan Hutan Lindung seluas 41.388 Ha.
Pertanian Tanaman Pangan. Komoditi tanaman pangan yang cukup potensial dan mempunyai pasar untuk di jadikan komoditi unggulan yaitu padi ladang (beras merah), jagung, ketela, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar serta sayur-sayuran (Hortikultura). Sementara untuk komoditi unggulan lokal yang potensial yaitu buah-buahan seperti jeruk kisar, pisang, jagung, kacang tanah serta bawang merah.
Perkebunan. Potensi perkebunan yang dimiliki Kabupaten MTB antara lain buah-buahan, cengkeh, coklat, jambu mete, kapuk, kelapa, pala dan rempah-rempah yang terdapat pada Gugus Kepulauan Tanimbar, Babar, Lemola dan Pulau-pulau Terselatan, serta cengkeh yang terdapat pada pulau Tepa dan Romang
Peternakan.Ternak umumnya dimiliki oleh masyarakat di seluruh wilayah Maluku Tenggara Barat. Jenis – jenis ternak yang diusahakan antara lain kerbau Moa, Sapi, kambing Lakor, domba Kisar, babi dan kuda serta jenis unggas. Ternak yang di usahakan di wilayah Maluku Tenggara Barat mencapai 144.550 ekor dengan potensi terbesar adalah kambing, babi, kerbau dan sapi sementara populasi ternak unggas mencapai 3.030.236 ekor dan Itik 167.903 ekor.
Pertambangan. Jenis – jenis bahan tambang yang potensial antara lain emas di Pulau Wetar, serta minyak bumi di pulau Marsela, Letti dan Adodo Fordata yang sampai saat ini telah dilakukan eksplorasi oleh perusahan asing

Sumberdaya Manusia

Penduduk Kabupaten Maluku Tenggara Barat pada tahun 2003 berjumlah 155.645 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 33.975 KK, dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 1,42%, maka diperkirakan pada tahun 2007 mendatang jumlah penduduk Kabupaten Maluku Tenggara Barat menjadi 164.674 jiwa, dengan presentase terbesar yaitu 87 % penduduk usia kerja bekerja sebagai petani. Dari jumlah penduduk sebanyak 155.645 jiwa tersebut, terdapat keluarga miskin dengan presentase sebesar 47,25 %.

Ekonomi

Berdasarkan distribusi PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2004 menunjukkan bahwa terdapat tiga sektor utama yang memberikan peranan sangat besar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Maluku Tenggara Barat, yaitu sektor pertanian yang memberikan distribusi terhadap PDRB sebesar 53,65 %; perdagangan, hotel dan restoran 26,32 %; dan jasa-jasa 10,39%. Tingkat kesejahteraan masyarakat dilihat dari Pendapatan Domestik Regional Perkapita atas dasar harga berlaku selama tahun 2000 – 2004, terlihat mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pad atahun 2000, pendapatan per kapita tercata sebesar Rp 1.868.822 dan pada tahun 2004 tecatat sebesar Rp 2.712.778. Meskipun pendapatan perkapita mengalami peningkatan namun disadari bahwa pendapatan perkapita tersebut masih sangat rendah sehingga perlu ditingkatkan secara bertahap.

Sarana dan Prasarana

Perhubungan laut. Hingga Kabupaten MTB telah dilayani oleh 4 kapal perintis.
Perekonomian. Sarana dan prasarana perdagangan (pasar) hanya terdapat di 5 (lima) kecamatan induk.
Listrik. Sarana dan prasarana listrik hanya terdapat di 8 (delapan) kecamatan yang kapasitasnya terbatas hanya melayani kebutuhan kota tersebut sementara beberapa desa disekitarnya belum terjangkau jaringannya.
Pulau Kecil Terluar. Beberapa pulau kecil terluar telah dilengkapi oleh sarana suar, antara lain Pulau Asutubun, Batarkusu, Leti, Kisar, wetar, dan Liran.

Isu Strategis

  • Rendahnya tingkat perekonomian dicirikan oleh rendahnya produksi riil, pendapatan perkapita, lapangan kerja, minat investor, serta mobilisasi barang dan manusia
  • Sebagian besar penduduk merupakan penduduk miskin
  • Kondisi permukiman masih memprihatinkan seperti buruknya sanitasi, kesehatan dan gizi keluarga
  • Rendahnya tingkat kesehatan disebabkan kurangnya sarana dan prasarana kesehatan, terutama di Pulau Wetar, Leti, Moa, dan Mdonna Hiera
  • Masih kurangnya sarana dan prasarana pendidikan TK, SD, SLTP, SMU/SMK terutama di pulau Wetar, Kisar, Lemola, Babar, dan Selaru
  • Masyarakat umumnya bekerja disektor pertanian dengan keterampilan yang rendah, sarana produksi yang terbatas serta modal usaha yang sangat minim, terutama yang bekerja sebagai nelayan tangkap
  • Persediaan air bersih untuk keperluan penduduk sangat terbatas, terutama di pulau Wetar, Kisar, Lemola
  • Terjadi perusakan dan pencurian sumberdaya perikanan dan kelautan, ternmasuk oleh kapal-kapal asing
  • Belum dilakukan pengamanan yang intensif di sekitar laut perbatasan
  • Keterisolasian akibat terbatasnya sarana transportasi baik laut, udara maupun darat, termasuk ke pulau-pulau kecil terluar.

SUMBER: http://www.batas.bappenas.go.id//

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: