RSS

GENESIS GUMUK-GUMUK GUNUNGAPI (HILLOCKS) DI LERENG BARAT G. RAUNG, JAWA TIMUR, INDONESIA

GENESIS GUMUK-GUMUK GUNUNGAPI (HILLOCKS) DI LERENG BARAT G. RAUNG, JAWA TIMUR, INDONESIA

Oleh Eko Teguh Paripurno

Extended Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan busur gunungapi terpanjang di dunia. Terdapat sedikitnya 129 gunungapi aktif, yang merupakan 17% gunungapi dunia berjajar di busur ini. Gunungapi tersebut tersebar di Sumatra 30, Jawa 35 , Bali & Nusatenggara 30, Maluku 16 dan Sulawesi 18. Luas kawasan rawan bencana mendekati 20.000 km2, dengan penduduk di kawasan rawan bencana mendekati 10 juta orang.

G. Raung dengan ketinggian 3332 dml, seperti sebagian besar gunungapi-gunungapi di Indonesia lainya merupakan gunungapi strato dengan disertai kaldera (1) yang pernah mengalami erupsi ganda. Sejarah perkembangan erupsinya disominasi oleh erupsi Tipe Volkano yang diselingi dengan aliran lava. Tipe Vulkano merupakan erupsi eksplosif magmatis berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik. Oleh karenanya tubuh gunungapi tersusun atas lava dan tephra yang terdiri dari breksi, lapili dan abu vulkanik. (2)

Berdasarkan data geologi bahwa pusat letusan G. Raung mempunyai sumber erupsi terpusat (3), yang berpindah-pindah selama pra sejarah berpindah-pindah, masing-masing berurutan dari G. Wates, G. Pajuaran, G. Pajungan dan G. Raung. Pada saat kegiatan G. Pajungan pernah terjadi suatu letusan dahsyat disertai dengan longsoran besar melanda di bagian lereng barat G. Raung, yaitu berasal dari G. Panjungan (Sutawidjaja dkk., 1987). Longsoran gunungapi ini membentuk morfologi perbukitan, hillocks (4), di sekitar gunungapi.

Ketidaksembangan sektoral pada tubuh gunungapi dapat menyebabkan terjadinya longsoran dan lahar (5). Longsoran skala besar tercatat pernah terjadi di sekitar G. Galunggung, Tasikmalaya Jawa Barat dan di sekitar G. Raung, Jember, Jawa Timur. Sumber longsoran di sekitar G. Raung berasal dari kecamatan Sumberjambe dan Ledokombo akibat erupsi G. Panjungan. Endapan-endapan proksimal terdapat di kecamatan-kecamatan Sumberjambe, Ledokombo, Sukowono dan Kalisat. Endapan-endapan medial terdapat di kecamatan-kecamatan Sumbersari dan Pakusari. Endapan-endapan distal dijumpai di Kaliwates, Rambipuji, Jenggawah, Balung, Umbulsari, Puger dan Kencong. Total volume dari sekitar 2200 gumuk yang berada di sekitar G. Raung diperkirakan mencapai 120 juta meter kubik.

Gumuk-gumuk tersebut merupakan sisa aliran debris flow yang mengalir turbulen dan diendapkan secara en masse freezing di bagian hulu dan menerus sampai hyperconcetrated-flow dan dilute stream-flow. Endapan debris-flow didominasi komponen berukuran kerakal sampai bongkah dengan komponen raksasa yang selalu hadir. Endapan hyperconcetrated-flow didominasi butiran berukuran kerikil, sedang bongkah dan kerakal hanya sebagai komponen mengambang. Ukuran komponen kerakal sampai bongkah untuk jenis debris-flow atau kerikil untuk jenis mud-flow. Komponen endapan penyusun berasal dari tubuh gunungapi hasil beranekaragam erupsi berupa rempah lava dan breksi vulkanik dengan bentuk komponen membulat tanggung sampai menyudut.

Debris-flow merupakan fluida plastis yang mengikuti kaidah Bingham Plastic, yaitu diasumsikan sebagai aliran massa rigid dan tidak mengikuti kaidah Newton. Mekanisme pendukung butirannya disebabkan oleh adanya daya dukung matrik yang bekerja padanya. Keduanya umumnya bersifat kohesif karena adanya matriks yang mengandung lumpur lebih dari 20%. Partikel-partikel lumpur tersebut merupakan suspensi penyangga komponen ketika massa bergerak. Karena sifatnya yang kohesif maka padanya terjadi proses en masse freezing. Pendekatan karakteristik aliran menggunakan model Bingham dengan persamaan g τ = S + μ du/dt; dengan τ = resistensi, S= shear strength dan μ = kekentalan

Wedomartani, 20120502

Bahan Diskusi pada Seminar Mahasiswa Pencinta Alam MAPENSA Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember, 12/05/2012

(1) Kaldera, merupakan depresi topografi yang besar, berbentuk bundar atau oval. Ukuran kaldera memang lebih besar dari kawah, meskipun tidak ada batasan ukuran yang membedakannya hingga mempunyai ukuran berupa kawah dapat disebut kaldera. Bentuk morfologi gunungapi lain berupa kerucut, kubah, maar, dan kawah. Kerucut, merupakan bentukan yang umum dijumpai pada gunungapi piroklastik dan berlapis. Bentukan kerucut yang dibangun oleh bahan lepas gunungapi dapat berupa kerucut batuapung yang tersusun oleh batuapung, kerucut scoria yang tersusun oleh scorea dan kerucut sinder yang merupakan kumpulan sinder dan bahan skoreaan. Kubah, biasanya dijumpai pada tipe gunungapi lava (shield volcano). Kubah lava merupakan bentukan dari lelehan lava kental yang keluar melalui celah dan dibatasi oleh sisi curam disekelilingnya. Maar, umumnya dijumpai pada tipe gunungapi gas atau peroklastik.Kawah, merupakan bentuk negative yang terjadi karena kegiatan gunungapi. Berdasarkan genetiknya dibedakan kawah letusan dan kawah runtuhan. Sedangkan berdasarkan letaknya terhadap pusat kegiatan dikelompokkan kawah kepundan dan kawah samping (kawah parasiter).

(2) Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, juga kuat lemahnya letusan serta tinggi tiang asap, gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe erupsi, yaitu: Islandia, Hawai, Stromboli, Vulkano, Plini, Sub-Plini, Ultra-Plini, Sursetyan dan Freato-Plini. Tipe Islandia merupakan erupsi efusif berupa aliran magma basalt yang menerus. Tipe Hawai merupakan erupsi efusif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa semburan lava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau kepundan sederhana. Tipe Stromboli serupa dengan Tipe Hawai, berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal, dengan bentuk semburan lebih kuat menyerupai kembangapi. Tipe Plini merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar. Tipe Sub-Plini merupakan erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi strato, tahap erupsi efusifnya menghasilkan kubah lava riolitik. Erupsi Sub-Plini dapat menghasilkan pembentukan ignimbrit; Tipe Ultra-Plini, erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih banyak dan luas dari Plini biasa; Tipe Surtseyan dan Tipe Freato-plini, kedua tipe tersebut merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut atau gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltic dengan air permukaan atau bawah permukaan, letusannya disebut freatomagmatik. Freatoplinian kejadiannya sama dengan Surtseyan, dengan magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi riolitik.

(3) Gunungapi diklasifikasikan ke dalam beberapa sumber erupsi, yaitu erupsi terpusat, erusi samping, erupsi celah dan erupsi eksentrik. Erupsi pusat adalah proses erupsi yang keluar melalui kawah utama. Erupsi samping merupakan proses erupsi yang keluar dari lereng tubuh gunungapi. Erupsi celah merupakan erupsi yang muncul pada retakan/sesar dengan bentuk memanjang sampai beberapa kilometer. Erupsi eksentrik merupakan erupsi samping yang tidak melalui kepundan pusat yang mengalami penyimpangan ke samping, melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.

(4) Hillocks merupakan bukit – bukit kecil di sekitar kaki gunungapi, dari hasil endapan lahar atau letusan gunungapi. Morfologi disekitar gunungapi lainnya berupa kerucut parasiter dan antiklinorium. Kerucut parasiter adalah bentukan kerucut pada kaki gunungapi utama, terbentuk akibat magma yang terjadi berhubungan langsung dengan kegiatan gunungapi. Antiklinorium Gunungapi merupakan rangkaian perbukitan antiklinorium yang dijumpai pada kaki gunungapi. Terbentuk oleh gaya kompresi lateral karean runtuhnya kerucut gunungapi.

(5) Sebagian besar kehadiran longsoran longsoran maupun lahar dipicu oleh air hujan sehingga dikenal sebagai lahar hujan. Bentuk lain dikenal sebagai lahar letusan, yang dipicu oleh erupsi gunungapi yang memiliki tubuh air dalam danau kawah atau tubuh es di puncaknya. Lahar yang terbentuk di sekitar G. Merapi adalah contoh lahar hujan, sedang yang terbentuk di sekitar G. Kelut adalah contoh lahar letusan

 

RE-POST FROM : http://geohazard.blog.com/tag/raung/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: