RSS

Category Archives: OUR JOURNEY

SITU CIKALAPA 9 DESEMBER 2021

UPLOAD 1

Tepat pukul 05.30 WIB, kami pergi dari rumah. Tujuan kami kali ini adalah sebuah danau di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Jarak yang lumayan jauh juga rencana rute yang kami ambil menjadi pertimbangan kami untuk pergi sepagi mungkin dari Kota Bandung. Kami memang rencana tidak menginap. Jadi setidaknya biar sampai ke Bandung lagi tidak terlalu malam.

Dari Kota Bandung, kami mengambil rute melalui Cibaduyut, Soreang, Ciwidey, Rancabali, lalu masuk ke Kabupaten Cianjur melalui Kecamatan Naringgul. Berhubung kami berangkat sedikit lebih pagi dibanding waktu kami ke Rawa Picung, jadi kami tidak menghabiskan waktu terlalu lama untuk tiba di Ciwidey.

Kami tiba di Alun-Alun Kecamatan Ciwidey tepat pukul 07.00 WIB. Berhubung mini market belum ada yang buka dan di jalur Rancabali – Naringgul kami belum update info mini market terbaru, jadi kami putuskan untuk non stop saja sampai Cidaun. Belanja logistik pun di mini market di Cidaun saja.

Kami sempat berhenti untuk isi bahan bakar di SPBU terakhir di jalur Ciwidey – Rancabali. Karena setelah ini, hanya akan Pertashop (Pertamini) dan SPBU Mobile. Perjalanan kami sangat lancar, karena masih sangat pagi dan bukan weekend. Mendekati jalur Gunung Sumbul, banyak kendaraan dinas TNI AU. Ternyata sedang akan diadakan latihan Kopaskas AU di Gunung Sumbul.

UPLOAD 2

Memasuki Desa Balegede, kondisi jalan tidak banyak berubah semenjak kami terakhir melintas di jalur ini September 2019 lalu. Selepas Desa Balegede, tepatnya di turunan yang curam, sedang ada perbaikan jembatan ketika kami melintas. Mungkin sekarang sudah 100% rampung. Titik perbaikan jembatan ini cukp rawan kecelakaan, karena tepat berada di turunan dan tikungan curam dengan jalan yang sempit dan banyak pasir bekas pekerjaan jalan menambah licin jalan. Yang paling bikin meresahkan adalah warga yang memberhentikan kendaraan yang lewat hanya untuk dimintasi ‘Sumbangan Sukarela’.

Untuk saya sih, cukup membahayakan, karena tepat di turunan, menyebabkan konstrasi berkendara buyar. Padahal, di beberapa titik pekerjaan jalan berikutnya, pekerja dan penjaga jalan tidak ada yang memberhentikan pengguna jalan untuk dimintai sumbangan.

Perjalanan kami hingga tiba di Cidaun sangat lancar. Cuaca cerah, langit pun bersih dari awan, arus lalu lintas sangat sepi, tidak ada titik longsor. Bahkan, ketika tiba di Cidaun, langit sangat biru, tidak ada awan hujan sama sekali. Kami tiba di Cidaun pada pukul 09.00 WIB. Kami berhenti di mini market di Sindangbarang untuk beli logistik. Kami istirahat sebentar di sini karena kami berencana untuk makan di tempat makan yang biasa kami singgahi di Alun – Alun Sindangbarang.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami tiba di Alun-Alun Kecamatan Sindangbarang. Sayangnya, rumah makan yang biasa kami singgahi tutup. Kami pun cari tempat makan lain di sekitar alun-alun, tapi sayangnya tidak ada yang cocok. Kami pun jalan lagi ke arah Barat. Mungkin nanti di depan akan nemu tempat makan yang cocok. Benar saja, tidak sengaja, saya melihat satu tempat makan yang rasanya cocok untuk dijadikan tempat untuk istirahat juga. Tepatnya di Ayam Geprek Ibu Ratih, Desa Talagasari, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur. Mungkin di Gmaps masih belum terupdate dan masih ditandai oleh Tanjungjaya Birds & Fishing (-7.453105,107.111429).

UPLOAD 3

Kami memesan dua porsi nasi + ayam geprek + saus + es teh manis. Sembari beristirahat dan menunggu makanan datang, kami pun mengecek ulang posisi kami, posisi lokasi tujuan, dan sisa rute yang akan kami lalui. Di sinilah semuanya aga kacau.

Awalnya, lokasi yang akan kami datangi, saya lihat posisinya berada di Kecamatan Surade. Saya pun segera melihat jalan besar untuk patokannya. Dalam bayangan saya, jalan besar tersebut, tidak jauh dari jalan masuk menuju Pantai Muara Cikaso. Salahnya saya waktu cek lokasi di Gmaps, saya tidak ngetrek rute dari awal sampai tujuan. Hanya melihat patokan dan persimpangannya saja.

Akhirnya, saat menunggu makanan datang, kami pun cek lagi dengan me-ngetrek jalur mana yang akan kami lewati nanti. Ternyata, perkiraan saat meleset jauh. Memang, tujuan kami ada di dekat pantai, tapi pantai di Surade dan harus melewati jalur menuju Curug Cikaso, bahkan harus sampai ke Terminal Surade.

Wah, kalau begini sih, jadi nambah jarak dan waktu tempuh. Salah perhitungan judulnya. Dilihat di Gmaps, waktu tempuh sekitar 2 jam dengan jarak 98 Km. Sebenarnya masih keburu. Setidaknya kalau kami jalan sekitar jam 11.00 WIB, kami bisa sampai lokasi pukul 13.00 WIB. Kalaupun molor, jam 15.00 WIB baru sampai lokasi pun masih keburu.

UPLOAD 4

Permasalahan kedua, kalau sudah sampai di lokasi, apakah akan tetap pulang atau nginep. Kalaupun pulang, mau ga mau, jalur yang paling memungkinkan adalah jalur utama Ujunggenteng – Sukabumi – Cianjur – Padalarang. Panjang memang rutenya. Pertimbangan kedua yaitu menginap. Tapi, pilihan kami kebanyakan di area UGG Ciletuh.

Akhirnya kami putuskan untuk liat waktu kami sampai tujuan. Kalau sampai jam 17.00 WIB kami belum sampai, kami akan langsung ambil arah pulang ke Bandung lewat Sukabumi. Kalau sebelum jam 17.00 WIB kami sudah bisa sampai lokasi, maka selanjutnya akan dipikirkan lagi, apakah akan menginap di Ciemas, atau tetap seperti rencana awal yaitu langsung pulang ke Bandung.

Jam 11.00 WIB, kami pun melanjutkan kembali perjalanan. Kali ini, kami kembali akan jalan nonstop sampai Terminal Surade. Perjalanan kami sangat lancar. Lalu lintas sangat sepi. Kondisi jalan di area perkebunan karet dan kelapa di daerah Kecamatan Agrabinta pun sudah baik. Terakhir kami melintas di jalur ini adalah September 2019. Pada saat itu, kondisi jalan sepanjang Kecamatan Agrabinta banyak jalan yang berlubang dan bergelombang.

UPLOAD 5

Saat kami melintas (Desember 2021), kondisi jalan sudah sangat baik. Bahkan sudah ada bangunan jembatan baru yang lebih lebar dan kokoh tepat sebelum memasuki Pasar Agrabinta. Jembatan sebelumnya, lebarnya hanya cukup untuk dua mobil mini bus papasan dan satu truk kayu saja. Selain itu, tepat setelah melewati Pasar Agrabinta, sudah ada satu mini market dan satu SPBU.

Sayangnya, mendekati Kecamatan Tegalbuleud, awan hujan tepat berada di atas kami. Kami beberapa kali terkena gerimis. Awalnya kami memutuskan untuk berteduh sebentar. Tapi, tepat setelah motor berhenti, gerimis pun berhenti. Ternyata jalur yang akan kami lalui menjauhi awan hujan tersebut. Posisi kami saat ini berada di ujung wilayah awan hujan.

Kami pun memutuskan untuk terus jalan saja. Lagipula, kalau dilihat ke arah Barat, langitnya justru cerah. Awan hujan berada di atas Kecamatan Cidolog hingga ke Utaranya. Kami pun bergegas menuju Kecamatan Tegalbuleud. Benar saja, setelah memasuki Kecamatan Tegalbuleud, matahari kembali bersinar terik. Langit pun kembali biru tanpa awan. Kami pun tetap melaju. Kondisi di sekeliling jalan raya utama di Kecamatan Tegalbuleud jauh lebih sepi dibandingkan di Kecamatan Sindangbarang dan Agrabinta sebelumnya. Hanya terlihat warga laki-laki yang bergegas menuju Masjid karena sudah hampir waktunya Adzan Dzuhur.

UPLOAD 6

Sampailah kami di persimpangan antara arah Pantai Muara Cikaso dan ke arah Kecamatan Cibitung. Kami pun mengambil arah menuju Kecamatan Cibitung. Jalur yang kami lewati terus mengikuti jalan utama Tegalbuleud – Cibitung – Surade. Memasuki area PTPN Kebun Cikaso, kondisi jalan menjadi semakin rusak. Lubang yang cukup dalam, serpihan pasir dan kerikil. Hingga jalan yang ambles banyak kami temui di sepanjang jalur di dalam area PTPN Kebun Cikaso ini. Kondisi jalan rusak akan terus ditemui higga mendekati Jembatan Cikaso. Perbaikan jalan baru di area dekat Jembatan Cikaso. Belum sampai ke area Selatan kea rah pesisir.

Kondisi jalan yang rusak, otomatis memperlambat laju motor kami. Kami pun mulai merasakan ngantuk dan lapar. Maklum saja, ketika kami melintas di jalur perkebunan Cikaso ini sudah tepat jam 12.00 WIB. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti sejenak di dekat Jembatan Cikaso.

Kami berhenti di sebuah warung tepat di pertigaan gerbang masuk menuju objek wisata Curug Cikaso. Kami berhenti cukup lama, hingga kira-kira jam 13.30 WIB kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, saya sudah mulai menyalakan jalur menuju lokasi tujuan di Google Maps. Sembari berharap sinyal tetap bersahabat sampai di tujuan nanti.

UPLOAD 7

Patokan pertama kami adalah Pasar Surade. Sayangnya, belokan yang seharusnya kami ambil terlewat. Akhirnya saya me-reroute lagi jalurnya. Patokan baru kami adalah Taman Megalodon. Sayangnya lagi, belokannya pun kembali terlewat. Kali ini, patokan terakhir adalah jalan kecil setelah SPBU 34.431.15 (-7.348729, 106.555133). Beloklah kami ke jalan kecil ini.

Kondisi jalan kembali aspal rusak dan melewati sedikit areal persawahan dan areal permukiman. Kami hanya tinggal mengikuti jalan ini sampai mentok di perempatan. Tepat di perempatan, kami akan menemui jalan aspal desa. Di perempatan ini, kami mengambil arah ke patokan berikutnya, yaitu Kantor Desa Cipeundeuy.

Kondisi jalan menuju Kantor Desa Cipeundeuy sangat baik, meskipun sekelas Jalan Desa. Setiba di Kantor Desa Cipeundeuy, kami belok ke arah kiri. Kondisi jalannya berubah kembai menjadi aspal seadanya. Kami hanya tinggal mengikuti jalur ini saja hingga jalannya bercabang di sebuah sekolahan.

UPLOAD 8

Di persimpangan terakhir ini, kami mengambil jalur ke arah kanan. Kondisi jalan hanya mulus selama beberapa meter saja. Selebihnya, jalur akan menjadi makadam dan melewati area kebun bambu. Jalan makadam tentu menghambat laju kami, ditambah lagi tepat di depan kami ada truk pengangkut kayu.

Cukup lama kami berada di belakang truk kayu karena sulit untuk mendahului. Akhirnya, setelah lama mengikuti truk kayu, kami pun berhasil menyusulnya. Kami pun kembali memasuki area permukiman. Tidak jauh dari rumah-rumah pertama, motor kami arahkan ke arah kiri pada sebuah persimpangan. Tepatnya di persimpangan dekat MTS Ratumandala.

Jalur akan kembali memasuki areal perkebunan bambu. Namun, kali ini tidak sepanjang sebelumnya. Kami akan sesekali menemui permukiman warga yang berkelompok, lalu areal kebun lagi. Kondisi jalan masih sama, yaitu jalan makadam. Tepat pukul 15.00 WIB kami pun sampai di tujuan.

UPLOAD 9

Tujuan perjalanan kami kali ini adalah Situ Cikalapa yang berada di Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Lokasi danau berada tepat di pinggir jalan desa. Kami pun segera mencari area yang pas untuk memarkirkan motor.

Terdapat area cukup luas di samping danau. Saat kami datang, area tersebut dimanfaatkan oleh pengembala kerbau untuk menggembalakan kerbau-kerbaunya. Setelah memarkirkan motor, saya pun sedikit mengobrol dengan salah satu warga yang sedang menggembalakan kerbau.

Menurut bapak warga, danau ini sering juga disebut dengan nama Situ Haji Habibi. Sayangnya, bapak tersebut kurang paham bagaimana ceritanya bisa sampai dinamakan demikian. Menurut bapak warga pertama, danau ini alami dan sudah ada dari dulu. Areal danau sangat luas. Belum ada jalan desa untuk mengelilingi keseluruhan area danau. Begitupun dengan fasilitas perahu. Tapi, kalau jalan setapak sih ada. Hanya saja, akan didominasi oleh area hutan/kebun.

UPLOAD 10

Ketiga warga tersebut pun berlalu, karena sudah terlalu sore. Waktunya kerbau-kerbaunya kembali ke kandang. Satu warga menggiring kerbau-kerbau, sementara yang dua masuk ke jalan setapak ke arah hutan. Sepeninggal ketiga warga tadi, hanya tinggal kami berdua saja di area danau. Tapi, di sisi Selatan danau, tepatnya arah ke permukiman Kampung Cimandala, masih ada beberapa warga yang sedang memancing.

Lokasi Situ Cikalapa berada di persimpangan. Tepatnya persimpangan dari arah Utara kami datang (pusat Desa Cipeundeuy) dengan arah menuju Kampung Cimandala di sisi Barat dan area pantia dan tambak garam di sisi Timur. Jika kita melanjutkan perjalanan menuju Kampung Cimandala, maka akan ditemui Pantai Cimandala, Jika diteruskan lagi, bisa tembus di Pantai Karang Bolong dan Pantai Cicaladi dengan jarak kurang lebih 20 Km dari Situ Cikalapa.

Jika mengambil arah Timur, maka akan ditemui beberapa perusahaan tambak garam dan beberapa permukiman penduduk. Area ini lebih didominasi oleh kebun kelapa dan area pesisir pantai yang sangat sepi. Di ujung Timur jalur akan ditemui Muara Cipamarangan dan sedikit ke Timur lagi sudah memasuki area wisata Pantai Minajaya. Jarak menuju Pantai Minajaya dengan menyusur pantai atau jalan perkampungan dari Situ Cikalapa kurang lebih sejauh 5 Km.

UPLOAD 11

Setelah mengambil sedikit dokumentasi, saya pun memutuskan untuk istirahat saja, sedangkan suami sudah tertidur lelap di hammock. Karena rasanya sudah sangat lelah, jadi masih ada beberapa spot yang belum sempat dieksplore, terutama yang ke arah Kampung Cimandala dan beberapa rumah penduduk yang ada di dekat area Situ Cikalapa tempat kami isitrahat.

Sekitar pukul 16.30 WIB kami pun mulai packing ulang. Akhirnya kami putuskan untuk langsung pulang saja ke Bandung. Ketika kami sedang packing, datang beberapa warga yang baru saja selesai menggembalakan sapi-sapinya. Sapinya cukup banyak, dan begitu mendekati area Situ Cikalapa, sapi-sapi tersebut kembali merumput.

Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk kembali berbincang sebentar dengan bapak pemilik sapi-sapi tersebut. Informasi yang diberikan bapak warga kedua ini pun ternyata cocok dengan informasi dari bapak warga pertama. Menurut bapak warga kedua, danau ini bernama Situ Cikalapa dan merupakan danau alami. Dan, memang benar, danau ini pun dikenal juga oleh warga setempat dengan danau Haji Habibi.

UPLOAD 12

Menurut bapak warga kedua ini, Haji Habibi adalah orang Surade, tidak dijelaskan detail siapa dan di Surade mana tinggalnya. Tapi, sudah pasti orang yang cukup dikenal dan berpengaruh. Tambahan informasi dari bapak warga yang kedua mengenai Situ Cikalapa adalah, bahwa sebenarnya Situ Cikalapa pada mulanya adalah aliran sungai.

Aliran sungai tersebut dibendung dan alirannya dibelokan melalui solokan buatan yang berada di dekat jembatan Situ Cikalapa. Memang, jika dilihat pada Gmaps, area di sektiar Situ Cikalapa memang cocok sebagai area Muara. Hanya saja, karena aliran sungainya dibendung, jadi ada sedikit pembelokan aliran sungai dan penyempitan area muara. Area muara tersebut sebagian besarnya berubah menjadi Situ Cikalapa dan sebagiannya lagi menjadi lahan pertanian. Namun area lainnya masih berupa lahan hutan/kebun yang sangat mendominasi.

Menurut bapak warga kedua, beliau pun tidak mengetahui apa fungsi awal pembendungan sungai dan pembuatan Situ Cikalapa, hanya saja, sampai saat ini memang lebih banyak dimanfaatkan sebagai area memancing warga dan menggembalakan ternaknya. Bapak warga kedua pun berpamitan karena harus segera memasukan ternak-ternaknya ke kandang. Kami pun  bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini kami akan mencoba jalur menuju pantai sesuai informasi dua warga tadi. Memang sih, selama kami di Situ Cikalapa, cukup banyak warga yang datang dan menuju jalur yang mengarah ke pantai.

UPLOAD 13

Menurut bapak warga kedua, jalur tersebut juga bisa tembus ke Pantai Minajaya. Bisa lewat pinggir pantainya atau ikuti jalan desa. Tapi saya pribadi ragu, karena untuk sampai ke Pantai Minajaya, kami terlebih dulu harus menyeberangi satu muara sungai. Setelah menyeberangi muara sungai terseut, kami harus melewati jalan setapak di area kebun.

Saya ragu apakah benar ada jalan setapak atau malah hanya jalan kecil yang tidak bisa dilalui oleh sepeda motor. Rasanya sudah terlalu sore untuk coba-coba offroad menuju Pantai Minajaya. Rute kedua yaitu mengikuti jalan kecil hingga bertemu kembali jalan desa yang menuju ke Surade (area Pasar Surade). Kami pun memulai perjalan pulang tepat pukul 17.30 WIB.

Tidak lama kami berbelok ke jalur yang menuju pantai, jalanan ternyata merupakan jalan kecil berupa perpadatan pasir. Sisi kanan didominasi oleh areal persawahan yang sangat luas. Sisi kiri jalan didominasi oleh semak belukar yang membatasi jalan motor dengan area pantai. Di beberapa titik terdapat areal tambak garam.

UPLOAD 14

Jalan pun semakin mengecil sampai akhirnya jalan mentok di sebuah persimpangan. Tepat di persimpangan terdapat rumah warga/mess untuk pekerja tambak. Jika ke arah kanan akan ditemui jalan setapak pasir yang cukup panjang di samping areal persawahan. Sementara jika ke arah kiri akan ditemui jalan setapak yang jauh lebih sempit lagi mengarah ke area pantai.

Setelah bertanya pada warga di rumah tersebut, kami diarahkan ke arah kanan jalan. Kami bertanya arah menuju Balai Desa Cipeundeuy. Karena jika hanya bertanya menuju Surade, akan diarahkan menuju jalan ke area pantai dan benar-benar menyusuri bibir pantai hingga ke Muara Cipamarangan.

Kami pun mengikuti arahan warga tersebut hingga akhirnya kami bertemu jembatan cukup besar yang disebutkan warga. Jembatan ini merupakan Jembatan Muara Cipamarangan. Yang artinya jika sudah menyeberangi jembatan ini ke arah Barat, perjalanan bisa ditembuskan sampai ke Pantai Minajaya melalui jalan perkampungan dan perkebunan. Tanpa harus kembali terlebih dahulu ke jalan raya utama Surade. Hanya saja, tujuan kami kali ini bukanlah Pantai Minajaya.

UPLOAD 15

Kami pun mengikuti satu-satunya jalan perkampungan hingga tiba di sebuah perempatan. Ternyata, ini adalah jalur utama Desa Buniwangi – Muara Cipamarangan. Karena sudah sampai sini, kami putuskan untuk mampir sebentar di Muara Cipamarangan. Area ini merupakan area wisata, tapi masih didominasi oleh warga setempat saja. Selain itu, di sisi Barat terdapat bangunan perusahaan tambak garam yang cukup besar. Jika tidak jeli, maka jalan setapak di pinggri tambak tidak akan terlihat. Jalan setapak itulah yang akan tembus ke area wisata Pantai Minajaya.

Kami pun kembali menuju Surade. Jalur kami kali ini terus mengikuti jalur utama Desa Buniwangi hingga melewati Kantor Desa Buniwangi dan Puskesmas Buniwangi sebagai patokannya. Kami pun keluar dari jalur Desa Buniwangi tepat di samping mini market -7.356249, 106.543439. Tepatnya sudah di persimpangan dengan Jalan Raya Pasir Ipis – Ciracap. Jalur yang sedari awal saya tandai untuk masuk menuju Situ Cikalapa dari Surade. Setidaknya kami jadi punya beberapa rute menuju Situ Cikalapa.

Awalnya kami berencana berhenti di Surade mencari tukang Nasi Goreng sembari menunggu Magrib. Agar nanti sehabis Magrib bisa jalan nonstop sampai Kota Sukabumi. Apa daya, ternyata sampai masuk Jampang Kulon ternyata kami tidak menemukan tukang nasi goreng (mungkin kurang teliti atau belum buka). Akhirnya kami putuskan untuk berhenti di Terminal Bojonglopang saja. Setidaknya kami sudah melewati jalur Waluran – Lengkong yang sangat sepi dan didominasi hutan lebat dan areal perkebunan teh.

UPLOAD 16

Sepanjang Surade – Jampang Kulon kondisi jalan sangat bagus dan masih termasuk area yang ramai. Apalagi menjelang Magrib, banyak dijumpai warga yang menuju masjid dan tempat-tempat makan yang baru akan memulai aktivitasnya. Selepas Jampang Kulon, tepatnya ketika jalur memasuki area hutan di Kecamatan Waluran, jarak antar rumah sudah mulai berjauhan, Arus lalu lintas pun sangat sepi.

Perjalanan kami melewati jalur Kecamatan Waluran ditemani oleh lembayung senja yang menambah syahdu perjalanan. Kondisi jalan yang mulus hanya sampai di batas Kecamatan Waluran – Pertigaan Kiara Dua, Kecamatan Simpenan. Memasuki area perkebunan teh selepas Pertigaan Kiara Dua, kondisi jalan semakin rusak. Kami tiba di Pertigaaan Kiara Dua tepat pukul 18.30 WIB. ELF yang sedari tadi beriringan dari Jampang Kulon berpisah di sini.

Sepanjang perkebunan teh setelah Pertigaan Kiara Dua hingga tiba di pusat Kecamatan Lengkong, hanya kami berdua saja yang melintas. Cukup bikin merinding juga. Karena masih di waktu Magrib, melewati perkebunan teh dengan kondisi jalan yang rusak. Banyak terdapat lubang yang cukup dalam dan kerikil di sepanjang jalur. Permukiman warga yang kami temui pun suasananya cukup sepi. Mungkin karena masih di waktu Magrib. Untung juga kami memutuskan untuk mencari makan setelah melewati jalur kebun teh, kalau tidak, bisa kemalaman melintas di jalur ini.

UPLOAD 17

Setelah mungkin hampir tiga puluh menit kami melintas sendiri di jalur perkebunan teh, akhirnya kami kembali bertemu keramaian. Kami sudah tiba di pusat Kecamatan Lengkong. Kondisi jalan semakin rusak ketika memasuki wilayah Kecamatan Jampang Tengah. Padahal, dulu, jalur di Jampang Tengah ini yang termulus. Perjalanan kami pun jadi sedikit terhambat. Selain karena kondisi jalan yang rusak, lalu lintas pun lebih ramai dibandingkan di Kecamatan Lengkong. Bahkan beberapa kali kami berpapasan dengan truk pengangkut BBM dan beriringan dengan beberapa truk kayu.

Sekitar jam 20.00 WIB tibalah kami di tempat tujuan pertama. Terminal Bojonglopang. Pertama-tama kami mampir di mini market lalu mencari tempat untuk makan. Tukang Sate, Pecel Lamongan, aneka jajanan seperti gorengan, batagor, mie ayam berjejer sepanjang jalan di depan terminal. Sayangnya tukang nasi goreng tidak kami temui. Bahkan sampai melewati Koramil pun tidak ketemu. Selepas Koramil Jampang Tengah, jalur akan kembali sepi.

AKhirnya, daripada perut tidak diisi sama sekali, mengingat terakhir kami isi perut di Sindangbarang jam 10 pagi tadi, jadi mau tidak mau sekarang harus diisi. Pilihan kami pun jatuh antara Depot Sunda dan Pecel Lamongan. Keduanya sama-sama menyajikan olahan ayam dan soto. Tidak sengaja, ketika kami akan memutar arah di gerbang Terminal Bojonglopang, mata saya tertuju pada satu-satunya sapnduk di dalam terminal, tidak jauh dari tempat kami berhenti. Karena penasaran, saya pun meminta untuk mendekati spanduk tadi. Ketemu juga yang kami cari. Tukang Nasi Goreng.

UPLOAD 18

Tidak pikir panjang, kami pun memarkirkan motor di dekat gerobak Nasi Goreng. Dua porsi Nasi Goreng segera disiapkan oleh penjual. Ada yang menarik perhatian saya. Ternyata tempat jualan nasi goreng ini bukanlah gerobak nasi goreng pada umumnya. Tukang Nasgor ini berjualan di sebuah mobil bekas yang dimodifikasi menjadi semacam food truck. Menarik juga. Setelah Nasgor tersedia, kami pun segera menyantapnya. Selagi kami makan, ada setidaknya tiga pelanggan yang ketiganya menyertakan juga menu Kwe Tiau.

Setelah selesai makan, iseng saya pun bertanya pada tukang jualan mengenai ‘gerobak’ jualannya. Ternyata, ‘gerobak’ jualannya merupakan mobil sejenis Suzuki Carry yang masih beroperasi normal yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga mendekati konsep food truck. Sembari menunggu gerobak nasgor yang seperti kebanyakan gerobak nasgor lainnya diperbaiki, jadilah gerobak – mobil ini difungsikan dulu. Asalnya, gerobak – mobil ini hanya dioperasikan ketika hari-hari libur tertentu dan Lebaran. Gerobak – Mobil ini digunakan untuk berjualan di Ujunggenteng. Selain itu, jika ada event Grasstrack – Motocross, gerobak – mobil ini sudah dipastikan akan hadir meramaikan jualan di sana.

Mamang Nasgor ini hobi nonton event offroad ternyata. Di manapun ada event motor-offroad digelar di Kabupaten Sukabumi, disitulah ada gerobak – mobil Nasgor ini. Bahkan ada satu event yang digelar di Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur pun didatangi. Selain event-event offroad, mamang Nasgor pun tau banyak mengenai beberapa daerah dan jalur di Kabupaten Sukabumi. Dari mulai jalur Desa Ciemas – Desa Girimukti – Puncak Darma, Pantai Palangpang, jauh sebelum ada Geopark, jalur alternatif Jampang Kulon – Lengkong, jalur alternatif Bojonglopang – Sagaranten – Curugkembar – Cijati – Kadupandak pun hafal.

UPLOAD 19

Rasanya bukan seperti ngobrol dengan tukang jualan nasgor random yang kami temui di jalan, tapi seperti ngobrol dengan teman lama yang sama-sama suka mencoba jalur. Obrolan seru kami berempat harus terhenti, karena ada pelanggan lain yang datang. Kami pun sekalian berpamitan karena ternyata sudah pukul 21.00 WIB. Perjalanan kami masih panjang.

Jalur setelah Bojonglopang ini bisa dibilang sangat membosankan. Selain jalurnya yang melewati area pembakaran batu kapur sepanjang Jampang Tengah dan area pabrik sepanjang Cikembar – Gunungguruh, serta area pinggiran kota sepanjang Gunungguruh – Lembursitu, kondisi jalannya pun jauh lebih rusak lagi.

Setiba di Pasar Pangleseran dan masuk ke Jalan Palabuhan II, kondisi jalan kembali membaik. Hanya saja arus lalu lintas di sini lebih ramai. Untungnya, ketika kami tiba sudah cukup malam. Jadi tidak seramai dan semrawut ketika pagi hingga petang hari. Kami mengisi bahan bakar di SPBU di Lembursitu. Ketika kami tiba, ternyata sedang ada pergantian shift, jadi harus menunggu sebentar. Lumayan, bisa lurusin kaki sejenak. Setelah beres urusan bahan bakar, saatnya kami lanjutkan perjalanan lagi. Kali ini nonstop sampai rumah.

UPLOAD 20

Kami tidak mengambil jalur alternatif melewati Makam Cikundul dan tembus Sukaraja seperti biasanya. Selain sedikit lupa jalurnya, jalannya pun dipastikan sudah sangat sepi. Siang hari pun sudah sepi, apalagi semalam ini. Terlebih lagi, di dalam jalur tersebut masih harus melewati areal kebun, kuburan cina dan area permukiman sepi. Jadilah kami mengambil jalur utama Jalan Raya Palabuhan II hingga tiba di Jalur Lingkar Selatan.

Jalur Lingkar Selatan pun sudah sepi. Arus lalu lintas pun didominasi oleh truk kayu, truk pasir, truk logistik lainnya, pick up dan mobil box. Kami pun tiba di Kecamatan Sukaraja tanpa terkena macet. Jalur berikutnya merupakan jalur yang cukup ramai sampai memasuki Kabupaten Cianjur. Jalur Sukaraja – Sukalarang – Gekbrong – Warungkondang kami lewati tanpa hambatan, meskipun arus lalu lintas masih sedikit ramai. Sementara arus lalu lintas yang mengarah ke Kota Sukabumi masih ramai dan didominasi oleh truk besar. Kami pun beberapa kali beriringan dengan truk pasir dan truk kayu. Tapi berhasil kami lewati dengan mudah karena arus lalu lintas yang tidak sepadat pagi hingga sore hari.

Rasanya lega ketika sudah tiba di Terminal Pasir Hayam. Tepat pukul 23.00 WIB kami tiba di persimpangan Terminal Pasir Hayam. Tepat dua jam dari Terminal Bojonglopang. Sesuai dengan perkiraan tukang Nasgor. Kami pun tidak pakai berhenti segera melanjutkan perjalanan menuju jalur Lingkar Selatan dan tembus di Kecamatan Karangtengah. Jalur Karangtengah – Padalarang adalah jalur membosankan berikutnya. Jalur ini tidak pernah sepi di kedua arahnya. Untungnya, kami tiba di jalur ini sudah cukup larut, hampir tengah malam. Jadi, sudah sepi. Bahkan, tidak terasa kami sudah akan memasuki Citatah.

UPLOAD 21

Harapan kami supaya tidak kena macet di jalur Citatah – Padalarang dikabulkan. Hanya ada beberapa saja truk besar yang mengarah ke Padalarang. Itupun hanya 1-2 dalam satu rombongan. Arus lalu lintas dari arah Padalarang cukup sepi. Hingga akhirnya tidak terasa kami pun sampai di Situ Ciburuy tanpa hambatan. Perjalanan dari Situ Ciburuy hingga tiba di rumah kembali sangat lancar. Tepat pukul 01.00 dini hari di hari Jumat, kami tiba kembali di rumah dengan selamat. Tepat dua jam dari Terminal Pasir Hayam dan tepat empat jam dari Terminal Bojonglopang. Persis seperti perkiraan tukang Nasgor di Bojonglopang.

Jika dilihat dari jarak tempuh, memang jarak tempuh jalur pergi kami lebih jauh dibandingkan dengan jarak tempuh jalur pulang. Jalur pergi kami melewati jalur Rancabali – Naringgul – Pansela Jabar – Surade – TKP sejauh 231 Km dalam waktu 9,5 Jam sudah dengan isitrahat. Tidak terasa cape, karean sepanjang jalan merupakan jalur sepi dan kondisi jalannya hampir semuanya baik.

Jarak tempuh jalur pulang melalui Surade – Jampang Tengah – Sukabumi kota – Cianjur – Padalarang sejauh 196 Km dengan waktu 6,5 jam sudah dengan istirahat. Jika melintas di jalur pulang pada pagi sampai sore hari, kemungkinan akan memakan waktu 7 – 7,5 jam sudah dengan istirahat dan macet. Tapi, akan terasa lebih cape, karena sepanjang jalan merupakan jalur ramai ditambah dengan kondisi jalan banyak yang rusak.

UPLOAD 22

UPLOAD 24

UPLOAD 24UPLOAD 26

 
Leave a comment

Posted by on December 14, 2021 in DANAU, OUR JOURNEY, Travelling

 

TOURING PACITAN 25 MARET 2012

UPLOAD 1

Rencana awal ke Pacitan jam 09.00 WIB dari Jogja pun kandas!!! Gimana mu sukses, manusia-manusianya aja baru pada melek jam 08.00 WIB dan nampak males bangun dari kasur. Malah ada yang masih tidur dan mutusin buat tidur lagi. Jadilah sukses berangkat kluar dari tempat nginep jam 11.00 WIB. Jam 11.00 WIB pun dibagi jadi dua kloter. Kloter 1 pesen tiket bis buat temen yang dr Jakarta, kloter 2 langsung stay di tempat makan.

Siang ini kita mutusin buat makan Gudeg yang cukup rame di area kampus UGM (lupa namanya, tapi dulu terkenal di depan Solokan Mataram). Beruntung kita dateng jam 11an, belum masuk jam makan siang. Soalnya tempat makan ini kata temen saya rame terus, apalagi sekarang puncaknya long weekend dan jam makan siang.

Bener aja, ga lama setelah pesenan kita dateng (pas sama waktu makan siang), tempatnya udah rame aja. Kebanyakan sih yang dibungkus, tapi yang makan di tempat juga ga kalah rame. Gimana ga rame, sekali dateng satu rombongan keluarga. Beres makan, dua temen saya yang dr Jakarta pamit pulang dianter ke terminal bis. Sambil nunggu dua temen saya balik lagi dari terminal, manfaatin waktu buat istirahat, soalnya sebentar lagi perjalanan panjang lainnya bakalan dimulai.

UPLOAD 2

Jam 12.00 WIB, kita pergi dri Jogja ke Pacitan dengan mampir di warnet dan pom bensin dul. Cuacanya, puanas luar binasa. Apalagi tempat tujuan kita sekarang ini pantai selatan, yang pastinya panasnya lebih ganas dari Jogja. Siap – siap aja deh.

Jalur ke Pacitan kali ini lewat Gunungkidul-Pacimantoro-Pacitan soalnya rutenya lebih cepet dibanding yang lewat ke Sragen-Klate. Viewnya juga lebih ajib katanya. Tapi buat bayaran view keren dan jarak pendek ini ga lain ga bukan adalah harus siap dengan semua peralatan perang touring macem jaket tebel, kaos kaki (berhubung pake sendal gunung), minum di tempat yang gampang dijangkau, masker, kacamata, helm yang ada kacanya, soalnya ternyata jalur yang kita lewatin lepas Wonosari ini salah satu daerah Karst yang cukup terkenal di Asia Tenggara (kalau ga salah sih). Malah ada museumnya juga.

Tapi kali ini kita cuman numpang lewat aja sih. Selepas Wonosari adalah daerah yang bener-bener asing buat saya. Belum pernah kesini sebelumnya dan viewnya beneran keren. Deretan bukit yang ngebentang sampe ke seberang entah kemana, padang rumput, sawah, kebun dan bukit dari batuan yang udah aga kekikis bawahnya jadi ngebentuk gua kecil yang cukup menyeramkan sebenernya jadi pemandangan dominan sampe masuk ke pinggiran Imogiri-Pacimantoro.

UPLOAD 3

Kondisi jalannya,dari sepanjang Jogja sampe lepas Wonosari sih masih lumayan bagus, ada juga sih lubang-lubang ama bergeombang dikit-dikit mah. Luasnya, standar jalan luar kota sekunder, cuma cukup dua mobil minibus atau bis kecil papasan dan monoton. Lurus, nanjak, turun, sedikit jalan yang belok-belok curam macem jalan-jalan di Jawa Barat bagian tengah. Ahirnya di tengah jalan, saya gantian sama temen saya, kasian udah dari semalem dia terus yang bawa motor.

Tapi sayangnya motor yang kita pake kali ini motor matic dan saya aga ga lancar pake motor matic. Dan bener aja kararagok jalannya, mau ngebut, asa ringan banget ini motor, takut ngapung. Mau ngerem, biasa pake kaki dan rem tangan, kali ini hanya pake dua tangan pokonya karagok. Malahan sempet ngerem ngedadak beberapa kali dan salah jalan pula. Untung ga terlalu jauh nyasarnya, harusnya kita ambil yang ke arah Pacitan lewat Pacimantoro, bukan ambil arah Imogiri.

Ga jauh dari perempatan nyasar, saya gantian lagi sama temen saya soalnya udah ga sanggup bawa dan jalannya udah mulai rusak. Batu-batu kecil dan pasir lumayan dominan dijalan. Takut jatoh, jadi mendingan saya jadi penumpang lagi aja. Bener aja, ga jauh dari pom bensin, jalannya lumayan rusak parah, bolong-bolong dan lumayan sering papasan sama kendaraan laen pas lagi ngehindarin lubang.

UPLOAD 4

Kalau saya yang bawa, udah bisa dipastiin besok motornya masuk bengkel gara-gara rusak kaki-kaki & lecet-lecet di body bawah hehehehe. Tapi, begitu ampir masuk Jawa Timur, jalannya mulai mulus lagi (Jawa Timur gitu loh) dan sepi lagi. Ahirnya di jalan yang lumayan belok-belok kepampang gede pisan gambar Pa Sby dan beberapa icon pariwisata di Pacitan macem Gua Gong dan beberapa gambar pantai yang artinya sampai sudah kita di Kab. Pacitan. Sampai juga kita di Jawa Timur.

Bener-bener ga nyangka bisa naek motor dri Jateng ke Jatim. Bener-bener trip gelo ga nanggung-nanggung. Di sini saya gantian lagi sama temen saya berhubung jalannya asik, belok-belok, sepi tapi mulus. Lumayan jauh juga saya bawa motor, dari yang mulai banyak rumah-rumahnya, ladang, sampe yang balik lagi masuk hutan dengan kondisi nanjak dan tikungan yang makin tajem. Lama-lama saya mulai biasa juga ngatur gas ama rem motor matic.

Tapi ini pengalaman perdana bawa motor di jalan yang punya tikungan tajem sekaligus tanjakan, jadi ada beberapa tikungan yang mabal. Dan yang paling fatal adalah di tikungan dan tanjakan yang sebagian besar bagian pinggir jalannya kekikis lumayan tinggi. Jadi saya coba buat ngehindar, tapi ternyata kecepatan motor masih di atas yang diperbolehkan. Jadilah sukses mabal jauuuh ke kanan, masuk jalur berlawanan dan ampir masuk jurang. Untungnya ga ada kendaraan dari arah berlawanan. Nah di sinilah ke-gagapan saya sama rem motor matic bikin tambah kacau, sampe-sampe rem abis dan dibantu rem alami kaki haha.

UPLOAD 5

Langsung tukeran lagi sama temen saya dan gara-gara kejadian tadi, ilang sudah ngantuk saya. Ternyata dari awal tadi ngelewatin gerbang “Selamat datang di Pacitan, Jawa Timur” sampe sekarang ga ada tanda-tanda pantai. Yang ada baru petunjuk arah ke beberapa gua yang itupun ga keliatan sama sekali guanya dibelah mana. Sejauh mata memandang cuman ada jalan, bukit-bukit karst yang ga mirip kaya ga. Yo wes deh, jalan aja terus, enjoy ajaaa

Daaan ahirnya ga lama, nemu juga papan penunjuk jalan kearah Pantai Watu Karung, pantai yang jadi tujuan pertama kita. Rencananya kita mau babat abis Pantai Watu Karung, Klayar, Srau, sama Sidomulyo biar sebenernya ga tau juga sih dimana persisnya letak pantai-pantainya, yaaa hajar ajalah.

Ternyata arah ke Pantai Watu Karung sama Klayar sama, tapi yang ke Srau beda, dan ternyata saya salah ambil keputusan. Harusnya ke arah Srau dulu baru Watu Karung, tapi ini malah ke Watu Karung dulu. Kalau ke sini, terpaksa Srau ama Sidomulyo di skip. Tapi ga apa-apalah Srau ama Sidomulyo udah sempet ngitip di foto temen. Kalau Watu Karung belom pernah liat sama sekali.

UPLOAD 6

Di tengah jalan kearah Watu Karung tiba-tiba mendung dan malah seikit gerimis, nah looo?? Tadi pagi sempet chat ama rombongan temen yang kmaren udah eksplore Pacitan, katanya mereka pas sore kena ujan, gerimis sih dan air lautnya udah pasang di atas jam 16.00 WIB. Weleh jangan sampe deh dapet ujan lagi. Cukup di Merbabu aja ujan-ujanannya.

Ternyata lagi-lagi kayanya ini emang rezeki kita ke Pacitan. Gerimisnya cuman lima menit, selepas itu, langsung cerah disambut sedikit view Laut Selatan yang biru dari atas bukit. ga sabar. Jam 3 kurang kita udah sampe di jalan di daerah pesisir Pantai Watu Karung. Ternyata buat masuk ke Pantai Watu Karung kita bayar retribusi Rp 5.000,00/motor (kalau ga salah) dan udah bisa nikmatin Pantai Watu Karung yang masih sepi.

Ternyata udah ada beberapa penginepan dan homestay yang dibuka buat umum di sini. Keliatan banget masih baru, soalnya kata temen saya, terakhir kali dia kesini ampir SATU taun yang lalu, belum ada tempat buat nginep. Mereka nenda disini, ada kemajuan juga ternyata baguslah.

UPLOAD 7

Begitu beres parkir motor dan pake peralatan perang buat di pantai, siap buat hunting foto Pantai Watu Karung yang wooooow!!! Pasir putih, air biru terang di tengah dan aga tosca di pinggi deket pasir. Jejeran batu karang yang gede yang jadi icon “Watu Karung” dan pantai ini ramenya cuman sama penuduk setempat yang lagi mincing dan nyari udang. Buat wisatawannya, hanya ada beberapa termasuk kita dan bisa diitung jari.  Puas deh.

Ga nyesel dan ga sia-sia tiga jam di motor dengan segala kejadiannya. Bagian yang diesksplore pertama bagian kiri pantai dan tadinya niat buat ke tengah dan naek ke bukit karang di ujung kiri pantai, soalnya airnya lagi surut banget. Tapi, berhubung pas di tengah nyadar banyak banget bulu babi yang sembunyi di balik karang dan kedalamannya bener-bener dangkal, saya balik arah. Males aja tiba-tiba nginjek dan harus ngerasain sakitnya duri bulu babi dan harus ada di motor buat next tiga jam kedepan itu rasanya.

Ahirnya saya sama satu temen saya mutusin buat nyusur sisi kanan pantai yang lebih banyak orangnya. Di sini dan ternyata lebih dapet view buat foto lebih banyak. Ternyata di ujung pantainya bisa melipir batu karang ke sisi lain pantai. Berhubung airnya surut sih, kalau lagi ga surut ga tau juga bisa melipir atau ngga. Di sisi kanan lebih banyak penduduk sekitar yang lagi nyari udang. Kalau di pinggir kebanyakan anak-anak kecil nyari udang, tapi yang orang dewasanya ada yang sampe naek ke batu karang buat ngumpulin kaya rumput-rumput kalau diliat dari jauh mah.

UPLOAD 8

Ternyata dibalik batu karang ada satu pantai kecil di tengah-tengah batu karang. Pasir putih dan sama sekali ga ada orang. Di ujung atas pantai ini ternyata nyambung sama jalan raya entah belah mana tapinya. Sebenernya masih bisa melipir batu karang buat ke balik tebing, tapi berhubung udah sore, ampir jam 16.30 WIB dan kita masih harus jalan ke tempat parkir dan ke Pantai Klayar yang entah berapa lama waktunya. Jadilah saya sama satu temen saya berenti sampai di pantai ini aja. Cukup puas foto-foto Pantai Watu Karung ditambah langit biru bersih, gradasi air yang cantik dan batu-batu karang yang gede di sepanjang garis batas pantai sama laut.

Pas lagi ambil foto di celah-celah batu karang tempat kita melipir tadi, tiba-tiba anak-anak yang lagi nyari udang pada teriak “monyet”. Dan ternyata di atas tebing pas di atas tempat saya neduh tadi turun belasan malah puluhan monyet kearah pantai. Buset untung udah jalan, kalau ngga weleeh. Ga di gunung ga di pantai ko ya ketemu monyet juga sih.

Perjalanan ke tempat parkir sama susahnya kaya jalan ke ujung kanan pantai ini. Pasir yang ada di sepanjang pantai ini gembur banget. Sekali diinjek langsung nelen kaki sampe ke atas mata kaki ditambah kontur pantai yang miring ke arah laut. Jadi kalau kita mau ke tempat parkir, selain harus ngangkat kaki, kita juga harus aga sedikit nanjak. Aslinya capeee. Sambil istirahat gara-gara cape nanjak di pasir, sambil minum es degan. Temen saya pesen kelapa muda yang harganya sama-sama Rp 2.000,00. Buseett murah amat tu kelapa muda, pinggir pantai pula Rp 2.000,00 ajah.

UPLOAD 9

Jam 17.00 WIB, kita cabut ke Pantai Klayar buat hunting sunset. Ternyata eh ternyata jalan ke arah Pantai Klayar itu masih burem, ga tau kemana, pokonya seingetnya temen saya yang udah pernah ke Pacitan aja deh. Sepanjang jalan, naek turun bukit, tapi jalannya mulus, asli Jawa Barat kalah banyak sama Jawa Timur. Di tempat yang mbelsek kaya gini aja, jalannya masih mulus, di Jabar??? Di tengah kota aja ada banyak lubang jebakan.

Akhirnya sampe juga ke pantai Klayar, ternyata tipe jalannya turun dari atas bukit ke pinggir pantai. Ga kaya Watu Karung, yang tipe jalannya langsung ada di pesisir pantainya. Tapi emang view dari atas bukit ke pantai itu selalu menarik. Apalagi ini Klayar dengan ikon batunya karang yang gede di tengah pantainya. Ga buang-buang waktu, abis bayar retribusi yang juga masih kebilang murah banget, cari tempat parkir, kita susur ke arah kiri pantai, ke arah batu karang yang jadi icon Pantai Klaya. Baru hunting sunset ke atas bukit.

Tapi sebenernya ga tau dari bukit yang mana sunsetnya bisa keliatan. Ada dua bukit di masing-masing ujung pantai. Dan ahirnya saya milih bukit yang ada di sisi kanan pantai, yang letaknya deket jalan masuk. Jalan ke atas bukit udah dibikin jalan setapak dan di puncak bukitnya ada spanduk tanda tim Si Bolang pernah kesini dan beberapa warung kecil yang masih buka.

UPLOAD 10

Tapi ternyata eh ternyata, kita salah bukit sodara-sodaraaa. Ternyata dari bukit yang ini ke arah matahari kehalangan bukit lain. Dan ternyatanya lagi yang lebih dodolnya lagi, ini bukit buat liat sunrise. Ya udah deh mu gimana lagi, sunsetnya pun udah lewat. Jadilah di sini cuman foto Pantai Klayar dari atas dan foto ombak ganas yang ngehantem pinggiran tebing karang di sisi kanan tempat kita berdiri.

Puas ambil foto, kita turun. Perjalanan turun dari bukit yang ga seberapa tinggi ke tempat parkir, kerasa nyiksa banget, kalau kita abis turun gunung di ketinggian 3142 mdpl dan naek motor lebih dari total enam jam dari pas kemaren sama sekarang. Jadilah keliatan kaya rombongan tiga pinguin turun bukit.

Di tempat parkir pun ga kelewatan ambil foto, apa aja deh yang bisa difoto, sebelum ahirnya jam set 7 kita cuuus ke Jogja. Siap-siap nempuh perjalanan panjang lagi dan kali ini jauh lebih panjang, soalnya pulang ga lewat jalur awal. Kita pulang lewat Klaten, jalur yang katanya sedikit lebih muter buat nyampe ke Jogja.

UPLOAD 11

Ternyata sepanjang jalan dari Pantai Klayar ke jalan utama Pacitan jauuuuuh & sepiiiiii banget. Aslinya ga ada yang lewat sama sekali. Orang-orang pun semuanya diem di rumah yang kesannya ga ada orangnya. Seppppiiii sangat, jalan turun-naek, belok-belok, lewatin beberapa tebing kapur, kebun, jalannya sempit, sampe ahirnya masuk juga jalan utama. Sampe jalan utama pun sama sekali ga ada bedanya, tetep sepi.

Malah sempet bingung juga mau lewat mana. Tapi berkat nanya, perjalanan pulang kita kali ini ga pake acara nyasar. Di pom bensin sambil isi bensin sambil lurusin kaki dulu. Di sini baru kearasa pegel abis turun gunung sama touring yang belum selesei kaya gimana. Keluar Pacitan ke arah Imogiri masih jam 19. 00 WIB, tapi suasananya kaya yang udah ampir tengah malem.

Jarang banget ada kendaraan yang lewat papasan, rumah-rumah pun sepi, malah di beberapa rumah kaya ada acara pengajian. Ga hanya satu atau dua rumah, tapi lumayan banyak rumah yang kaya ngadain pengajian. Sebenernya ga tau juga sih acara apa, tapi ko kaya acara tradisi kampung setempat yah??

UPLOAD 11

Jalan yang lurus monoton dengan harus ngehindari lobang-lobang yang lebih ganas dibanding pas di jalur pergi, angin malem yang sepoi-sepoi, fisik yang cape, sukses bikin saya ngantuuuuk beraaaaat. Sebenernya tingkat sepi jalur yang ini sama jalur Gunungkidul sama aja. Bedanya, di jalur yang ini kita ngelewatin permukiman. Di jalur yang tadi pagi, kita ngelewatin perbukitan ama kebun penduduk dengan permukiman yang cukup jarang.

Jalur ini juga masih asing buat saya. Jalur yang ngehubungin kota apa sama apa, tembus kemana aja, trus nampak jejeran perbukitan di sisi kiri dan malah katanya Gunung Lawu pun ikutan nyempil di sisi kiri jalan. Tapi satu yang pasti pas ngelewatin jalur yang ini, serem!! Hawanya aga beda sama sebelum-sebelumnya. Tapi berhubung udah ngantuk berat, jadi yaaa konsen aja deh sama acara nahan ngantuk biar ga ketiduran di motor.

Sebenernya jalur ini kalau masih terang ga kalah bagusnya ko sama jalur Gunungkidul, tapi berhubung kesempatan lewat sininya malem, ya yoo wiisss. Sekarang mah tahan ngantuk aja deh. Ahirnya jalur yang kita lewatin misah juga sama jalur utama. Kita ambil jalan kecil yang langsung tembus ke Klaten, jadi ga masuk Solo dulu. Naah, di jalan ini baru jalannya mulai rusak parah. Udah jalurnya sepi, kecil jalannya, rusak parah, tengah sawah pula makin aja serem. Ga berapa lama, ahirnya nemu juga peradaban, sekalian isi bensin sekalian lurusin kaki lagi. Pas lagi lurusin kaki ini ngantuknya makin menjadi-jadi. Pengen cepet-cepet ketemu kasur.

UPLOAD 13

Ahirnya di perjalanan abis dari pom bensin tadi saya sedikit ngalenyap, untungnya saya langsung sadar ga keburu jatoh dri motor. Temen yang ngebonceng saya juga untungnya nyadar dan nyuruh saya tidur aja. Beeuuhh aslinya ini baru pertama kalinya saya tidur d motor. Ga tau deh bisa kontrol badan apa ngga, kalo ga bisa yaaa, siap-siap aja akrobat jatoh dari motr. Ditambah lagi temen yang bonceng saya ini salah satu partner touring saya dan cukup terkenal suka ngebut dan jalanin motor cepet. Tapi apa daya mata ama badan udah ga kuat lagi, pasrah aja deh dan saya pun tidur.

Entah berapa lama saya tidur, tapi saya sempet bangun setengah sadar dan ngeliat di sekeliling udah mulai banyak rumah. Ada rel kereta api, bukan lagi sawah ama kebun kaya tadi, saya pun tidur lagi. Saya bener-bener kebangun pas motor kerasa berenti. Pas buka mata, alamaaak ternyata saya lagi berenti di lampu merah dengan posisi tidur ngadep ke mobil yang berenti di sebelah saya.

Buseeettt entah kaya apa ni muka dan entah udah berapa lama ni motor berenti. Dan yang paling penting udah berapa lampu merah yang saya lewatin selama tidur hahaha Ngerasa udah cukup istirahatin mata, saya pun bangun & kembali ke posisi semula. Ternyata ini udah di jalur utama ke Jogja. Jalurnya sih ampir mirip sama jalur yang kemaren kita lewatin pulang dari Selo.

UPLOAD 14

Berhubung saya udah cukup cape dan baru bangun jadi aga susah juga konsen inget-inget dan nyocokin jalur yang kita lewatin. Pokonya sisa perjalanan ke Jogja saya lewatin dengan sedikit ngelamun sambil dengerin lagu sambil liat jalan.

Daaannn JOGJAAAAA AHIRNYAAAAA!!!! Tapi sebelum ke tempat kita nginep, kita isi perut dulu, kasian dari tadi udah teriak-teriak minta diisi. Ahirnya pilihan kita jatuh pada pecel ayam daaan nikmaaaat bangeeet. Sepanjang ritual makan, ga banyak bahan obrolan, keliatan banget semuanya udah pada cape dan pengen cepet-cepet ketemu sama yang namanya kasur. Jam 01.00 WIB ahirnya kita semua sampe ke tempat nginep.

Biar badan udah bener-bener cape mampus, tapi jujur, sata tetep ga bakalan bisa tidur kalau ga mandi dulu. Biar sebenernya badan udah mulai aga ga enak. Gpplah mandi aja daripada tidur dengan badan lengket keringet dan air laut campur pasir. Toh tadi udah sempet beli minuman buat panas dalam. Beres mandi, saya pun pingsan kembali.

UPLOAD 15

SENIN, 26 MARET 2012

Our last holiday in Jogja!! Sebenernya sih kemaren sempet kesebut hari ini mau jelajah pantai-pantai Gunungkidul, malah saya mah pengennya ke Tawangmangu ke Danau Sarangan. Tapi nampak cuman gosip aja, soalnya sampe jam 09.00 WIB pun ini masih leyeh-leyeh aja. Ahirnya hari ini diputusin buat sekedar cari oleh-oleh dan tiket buat pulang. Jam 10.00 WIB kita kluar ‘sarang’ dan lagi-lagi dibagi dua tim. Saya sama temen saya langsung ke TKP tempat makan yang cukup terkenal “Sego Pecel” (lupa namanya) dan masih di sekitaran kampus UGM, temen saya yang dua lagi, ke tempat bis buat pesen tiket pulang ke Bandung nanti sore. Berhubung udah laper, saya sama temen saya langsung makan aja.

Tempatnya enak, luas, adem, parasmanan, lauk-pauk yang disediannya itu looh bikin lapar mata dan murah meriah pastinyaaaa ditambah ada live music band lokal aliran jazz. Cocok deeh buat istirahatin dan balikin fisik yang udah dihajar naek-turun gunung ditambah touring lintas provinsi ke pantai. Jam 12.00 WIB, temen saya yang dua udah dateng dan udah makan juga, langsung kita capcus ke tempat oleh-oleh kerajinan dari eceng gondok.

Tempatnya lumayan jauh juga, di luar Jogja, udah masuk daerah Kulonprogo, ditambah pas lagi kita pergi paaas lagi jam 12.00 WIB siang hueeeh. Nyampe tempat kerajinannya, kita ternyata diajak ke tempat pembuatannya. Tempatnya sih ga gede-gede amat, home industry tapi tempatnya adeeeeem dan kerajiannya juga lumayan bikin ngiler. Ada satu tas selempang ukuran sedeng buat jalan-jalan, tapi harganya ga sedeng. Batal deeh belinya.

UPLOAD 16

Ahirnya saya beliin oleh-oleh dua item buat mamah dan ade, buat papah dan titipan temen mah next aja di Malioboro. Beres urusan oleh-oleh di sini, kita balik ke Jogja. Di tengah jalan, kita berenti buat foto-foto di Jembatan Bantar. Iseng aja sih. Beres foto-foto, ternyata ada ide buat ngadem di mall, saya pun setuju. Lumayan juga nih ngadem dulu ke mall sebelum ke Malioboro, panas-panasan lagi. Mall yang jadi tujuan kita Amplas. Tapi nampak pas masuk Jogja, malah parkir dulu di tempat makan. Kali ini sasarannya sate pake bumbu kacang gitu, saya sih ga makan, masih berasa kenyang dan aga-aga ga enak ni tenggorokannya.

Beres makan, ternyata waktunya ga akan cukup kalau ngadem dulu, ahirnya kita ke Jogja, cari ATM dan saya mutusin buat ke salon, ngurus rambut yang udah ga karuan. Sementara satu temen saya pengen cari tempat pijit refleksi dan temen saya yang satu harus siap-siap packing buat pulang ke Bandung pake bis jam 16.30 WIB.

Yup, temen saya kloter pertama yang ninggalin jogja, disusul sama temen saya yang mau pijit refleksi pake pesawat jam 19.00 WIB, baru deh saya yang paling terakhir pake kereta jam 22.30 WIB. Ahirnya saya sama temen saya muter-muter buat nyari tempat refleksi yang deket sama salon juga. Ahirnya nemu salon juga. Bukan salon yang mewah sih, tapi lumayanlah, kosooong, jadi langsung masuk langsung creambath, tapi muahaaal. Tapi mahal sebanding sama hasilnya, lumayaaan seger.

UPLOAD 17

Beres nyalon, temen saya pun udah selesei pijitnya. Jadi, saya dijemput sama temen saya dan langsung meluncur ke Malioboro. Berhubung udah jam 16.30 WIB, jadilah kita ke Mirota sajah buat nyari pesenan bermacem oleh-oleh. Tapi, ternyata kalau lagi injury time gini, Mirota ini jadi toko serba lengkap tapi yang kita butuhin ko malah ga ketemu ya??

Padahal kalau Lebaran lagi kesini, kayanya semua barang ada deh. Padahal kita ga niat buat beli itu, esmosi juga nih. Ahirnya ada sebagian barang yang saya beli di toko PKL depan Mirota. Untungnya ada dan sesuai pesenan. Beres rempong belanja, saatnya kebut pulang, soalnya temen saya yang nemenin belanja ini kudu cepet-cepet check in pesawat jam 7 kurang. Wuuuzzz

Nyampe tempat temen saya, langsung packing. Oya, temen saya udah dianter ke tempat bis dan udah dalam perjalanan ninggalin Jogja. Byeee…. semoga ini bukan trip terakhir kita, biar sebenernya ini trip terakhir dengan status pengangguran buat dia. Di tempat temen, rempong banget deh ngeliatin temen saya packing. Udah bawaannya banyak, di luar semua, bawa keril dan harus packing ulang kaya semula, dikejar-kejar waktu pula, lucu aja ngeliatnya.

UPLOAD 19

Ahirnya jam 6 lebih, temen saya dianter ke bandara. Yaaahh pulang lagi satu temen trip saya kali ini. Tinggalah saya sendiri nunggu giliran pulang nanti malem. Ada semacem perasaan seneng, puas, refresh, sedih, deg-degan, semangat, dan kangen beuuhh nano-nano deh pokonya. Selama saya nunggu temen saya nganterin ke bandara, saya mandi, packing dan istirahat dulu bentar soalnya ini badan ko mulai ga enak ya??? Aga-aga demam gini, bersin-bersin terus, sakit nelen pula. Untung udah sempet beli obat flu sama minuman buat panas dalam.

Ga lama, jam 8an temen saya dateng, sambil nunggu jam 21.30 WIB, dia beli makan, sementara saya, ko makin ga enak badan ya?? Saya mutusin buat tidur aja sambil nunggu temen saya dateng bawain makanan. Pas temen saya dateng, badan saya ko malah makin ga enak gini. Diisi makanan pun malah jadi mual dan kerasanya pait yaa?? Waduuuh ini sih fix sakit kecapean lagi deeh. Untungnya kereta saya nanti kereta eksekutif dan sebelahan sama temen saya. Seengganya ada temen adn bisa istirahat, keretanya enak. Jam 9 lebih, saya dianter ke stasiun, tapi di Jogja pun sama kaya di Bandung, yang nganter ga boleh masuk ke stasiun.

Sepanjang jalan dari tempat temen ke stasiun, udah mulai sepi. Iyalah udah jam 21.30 WIB, hari Senin pula. Buat yang ga punya status pengangguran kaya saya sih, ini hari pertama setelah long weekend, jadi pasti pengennya cepet-cepet istirahat. Sepanjang jalan dari tempat temen ke stasiun juga, ko rasanya sedih juga ya harus ninggalin Jogja lagi. Jogja, jadi kota yang cukup jauh dari Bandung yang jadi lumayan sering saya kunjungin atowpun hanya sekedar dilewatin.

UPLOAD 20

Selalu ada cerita dan kenangan seru dari kota ini. Dulu, sebelum saya kenal sama dunia travelling, setiap Lebaran ada ide ke Jogja, selalu saya tolak, alesannya? Bosen. Dari jaman SMP sampe sekarang pasti ke Jogja dan tujuannya ga lain ga bukan adalah Malioboro, dan kegiatannya?? apalagi kalau bukan shopping.

Tapi semenjak saya kenal sama dunia travelling, sedikit demi sedikit saya mulai kenalan sama sisi lain kota Jogja. Taun 2010, saya kesini untuk transit trip ke Gunungkidul. Ternyata eh ternyata ada wajah lain selain Malioboro dan Keraton, pantai-pantai cantik dan gua yang keren. Ga ketinggalan sungai bawah tanah yang wow di Selatan Jogja dan view Jogja dari Patuk.

Di pertengahan 2010, saya kenalan lagi sama Jogja. Kali ini dalam rangka survey TA yang ikut ke penelitian PU. Kali ini saya bener-bener liat wajah Jogja dari segi transportasinya. Satu minggu penuh diem di pinggir beberpa lokasi jalanan Kota Jogja dari jam 06.00 WIB – 18.00 WIB, isi kuesioner, ketemu berbagai ragam warga Jogja, interaksi langsung, liat gimana kondisi jalanan Kota Jogja di hari lain selain musim liburan, keseharian warga Jogja, kesibukan lalu lintas warga Jogja aslinya.

UPLOAD 21

Tinggal di Jogja satu minggu kaya warga Jogja, makan di tempat makan manapun yang kita temuin, bukan rumah makan yang biasa jadi tujuan kalau pas musim liburan, lewatin jalan-jalan yang bukan jalur yang biasa dilewatin kalau lagi musim liburan. Liat sisi kehidupan temen-temen di kampus UGM.

Sekarang? bener-bener numpang di kota ini ala anak kosan, makan di tempat biasa temen saya makan, kendaraan yang dipake? pinjem ke temennya temen saya, jalur yang dilewatin? jalur yang biasa dipake temen-temen saya kalau ke kampus atau ke tempat lainnya di Jogja yang pastinya ga banyak yang tau kalau cuman dalam rangka belanja ke Malioboro.

Nah balik lagi ke perjalanan saya ke stasiun, beneran deh kayanya bakalan kangen banget sama Jogja, entah kapan bisa ngabur kesini lagi lama-lama. Soalnya udah di ujung tanduk buat nyari kerja dan siap-siap mulai kerja kalau ada. Jam set 10 lebih dikit sampailah saya di Stasiun Tugu. Setelah pamitan dan bilang makasih buanyaaak sama temen saya, sayapun masuk stasiun.

UPLOAD 22

Jadi inget empat hari yang lalu saya di sini sore-sore, rempong cek tempat duduk dan tuker tiket dan siap bulai mulai petualangan tanpa rencana sampai ke provinsi sebelah. Sekarang, semuanya selesai dan waktunya pulang. Sambil nunggu kereta, sambil usaha buat nguat-nguatin badan yang udah mu ambruk aja.

Kereta yang pertama dateng Turangga, dari Surabaya. Salah satu kereta favorit saya dan stasiunnya pun kembali sepi. Kayanya sisa orang yang ada sama-sama naek Malabar. Ternyata eh ternyata keretanya seperti biasa, jadwal kereta dateng ga sama sama jawal kereta di tiket.

Daaaan ahirnya keretanya dateng juga. Kereta yang sama yang saya pake ke Semeru taun baru kmaren. Tapi kali ini ga rame-rame kaya kemaren, hanya kebeneran bisa bareng sama satu temen saya yang abis ada urusan di tempatnya. Begitu kereta dateng, langsung cari gerbong dan duduk manis disamping temen saya. Biar ada temen juga, tapi ga banyak yang kita obrolin.

UPLOAD 23

Saya pengen istirahat soalnya badan mulai bener-bener ga enak, temen saya juga mau istirahat soalnya besok langsung ke kantor. Untungnya saya bisa tidur juga di kereta biar sempet kebangun-bangun sebentar. Lumayanlah aga keringetan badannya. Subuh, baru saya bener-bener bangun & ternyata masih di daerah Tasik.

Jam 7an barulah temen saya bener-bener bangun dan ada temen ngobrol juga. Kereta nyampe Bandung jam 8an, d jemput mamah, nganterin temen saya, langsung pulang ke rumah dan istirahat. Aaaahhh selesai sudah ngabur sendirinya. Sampai ketemu lagi Merbabu, Merapi, Selo, Jogja, Pacitan.

Makasih banyak buat Mas Tatang, Mas Fahmi, Mba Runa, dan Mas Feri, temen nanjak dadakan ke Merbabu. Gon yang udah jadi tuan rumah yang baek bangeeet. Bang Ye Be yang udah ngebolehin Nad nimbrung di tripnya. Zam yang udah jadi partner touring kali ini. Maaf kalau ngerepotin dan ada salah. Sampai ketemu di laen trip, di laen kesempatan.

UPLOAD 24

UPLOAD 25

UPLOAD 26

 
2 Comments

Posted by on December 4, 2021 in OUR JOURNEY, PANTAI, Travelling

 

PENDAKIAN MERBABU 23-24 MARET 2012

UPLOAD 1

Long weekend Maret, segudang rencana udah dipersiapin. Setumpuk ajakan nge-trip pun berdatangan. Yap, long weekend Maret ada invite ke TN Ujungkulon, Pacitan-Gunungkidul, Eksplore Gunungkidul, Papandayan, dan ada juga beberapa temen yang solo karir sepedahan ke Pangandaran, nanjak Sikunir, acara kluarga di tempat yang keren, touring ke Ranau (ternyata ga jadi, jadinya nanjak Gunung Salak), Kep. Derawan, dll lupa juga sih.

Sedangkan saya? Yap puncak begajulan ngetrip kali ini saya mutusin buat pergi ngetrip sendiri. Solo karir, tanpa itenerary, tanpa list peserta, tanpa update-update, pokonya semua direncanain di tempat & ga keiket waktu. Saya mutusin buat pergi nanjak Merbabu. Itupun sebenernya saya diajakin sama temen yang tau kalau udah lama saya pengen ke Merbabu.

Kebeneran long weekend ini temen saya itu mau nganter temennya yang bawa temen-temennya juga dari Jakarta. Yang ternyata ahirnya ketauan kalau temen yang dari Jakarta ini temen saya juga. Satu grup traveling sama saya. Hanya belum pernah pergi bareng hanya komunikasi lewat sosial media aja. Ko sempit juga yah ternyata.

UPLOAD 2

Nah, berhubung ini long weekend dan kayanya nanjak Merbabu ga akan selama itu, jadilah saya iseng nyeletuk satu ide gila buat mampir juga ke Pacitan. Ternyata temen saya yang di Jogja oke-oke aja. Setelah rundingan ama temen yang d Jakarta, untungnya nampak ga masalah soalnya ternyata dia ambil cuti. Ya nyantailah.

Akhirnya fix long weekend sekarang saya solo karir nanjak Merbabu dan santai di pantainya Pacitan. Jadilah long weekend ini ngabur terlama saya, setelah ngabur ke Semeru di awal tahun 2012 ini. Yak, pergi Kamis pagi, pulang Senin pagi.

Tiket PP udah ditangan, tapi karna satu dan lain hal, rencana pulang Senin pagi kayanya ga memungkinkan. Soalnya ada kemungkinan Minggu baru turun Merbabu dan Senin baru ke Pacitan. Ya sudahlah saya ganti tiket pulang jadi Senin malem. Kebeneran juga ada temen yang Senin malem mau ke Bandung dan naik kereta yang lewat Jogja.

UPLOAD 3

KAMIS, 22 MARET 2012

Pagi-pagi rempong setelah semalem niat tidur cepet malahan tidur tengah malem, walhasil ngantuklah. Ke stasiun pagi-pagi buta tanpa sarapan dulu itu salah besar. Yap, semua tempat makan di stasiun belum buka. Ada yang buka, tapi makanan yang ada cuman baru rawon ajah. Saya ga suka daging. Tapi ya udahlah, daripada ga ada makanan yang masuk, ya makan nasi ama kuahnya aja deh.

Tapi lama-lama ga mempan bukannya kenyang, malah mual. Ya sudahlah mending beli roti buat dimakan sekarang ama ntar di kereta. Beres makan dan pamitan, saya pun menuju kereta yang dimaksud. Pas masuk kereta, aga rempong juga soalnya saya ga tau gerbong yang mana. Ya udahlah nanya-nanya aja di gerbong. Oya, saya sempet nanya sama petugas di sana gerbong bisnis 2 dimana, dan jawabannya adalah: “mendingan mba tanya sama petugas yang diujung sana, dia senior saya.” Haaahhh???

Kalau mood lagi jelek, udah saya semprot juga tu orang. Ahirnya daripada nanya, mending masuk gerbong terdekat aja. Orang ternyata gerbong yang deket saya ini gerbong Binis 1. Pas did alem kereta, saya nanya sama petugas lain yan ada di dalem, dan ternyata bener gerbong 2 itu masih di belakang.

UPLOAD 4

Pas sampe tempat duduk saya, udah ada ibu-ibu yang duduk di kursi deket jendela. Ah, bakalan boring ini mah. Pas lagi mu nanya buat mastiin ini tempat saya, saya mau ambil tiket di dalem dompet, tapi ternyata tiketnya ga ada donk!!! Panik, ya ampun gimana ini, ga mungkin banget turun kereta dan beli tiket baru. Mau pergi dan nyampe Jogjanya kapan coba? Udah cek di tas, domet, saku, tas gede, ga ada.

Pas lagi panik-paniknya untungnya ada yang baik hati nemuin tiket dan balikin ke saya. Selamatlah trip saya kali ini. Awal perjalanan trip ngabur sendiri yang rempong. Kereta berangkat pas jam 08.00 WIB pagi. Baru juga nyampe Cileunyi, ni ibu-ibu di sebelah dengan tenangnya nutup tirai jendela.

Busyeeett tujuan saya naek kereta pagi kan biar saya bisa foto-foto dari dalem kereta.  Sekarang malah ditutup ara-gara silau! Mending kalau cuman ditutup, lah ini pas udah ditutup, dia malah tidur! Kalau mu tidur, tukeran tempt duduk ajalah Bu!!

UPLOAD 5

Sampe masuk Garut pun ni Ibu-ibu masih tidur aja. Pupus sudah harapan saya buat foto landscapenya. Padahal inceran saya itu view dari mulai Nagreg – masuk Tasik. Sekarang kereta berenti di stasiun Tasik dan ibu ini baru bangun. Bener-bener deeehh BT abis ama ni ibu-ibu. Untungnya sih saya tadi sempet ketiduran bentar jadi ga terlalu boringlah.

Tapi tetep ajaaa ga dapet foto. Ga lama, kereta jalan lagi. Kali ini saya iseng bilang ke Ibu buat bukain tirainya, dan jawaban  Ibu adalah ga nyambung. Dia kira saya minta tolong buat buka jendelanya. Pas udah aga lama dia nyerocos yang intinya ga mau buka jendela, ahirnya nyadar juga kali ya, kalau maksud saya itu yang dibuka tirainya. Tapi tetep aja ibu ini ga mau buka jendelanya dengan alesan silau. Iih ga asik banget sih Bu!!

Berhubung saya beser, jadi saya musi lumayan bolak-balik ke Toilet. Ah, ternyata ada tiga orang yang sengaja diem di lorong deket sambungan kereta. Entah pegel atau entah bosen duduk, tapi saya ada ide buat nikmatin viewnya dari sini aja, daripada di kursi kaga bisa liat apa-apa gara-gara Ibu di sebelah. Lumayan lama juga saya berdiri dan kena angin gelebug. Akhirnya saya mutusin buat duduk, soalnya keretanya pun udah mulai sering berenti-berenti.

UPLOAD 6

Pas saya balik ke tempat duduk, ternyata Ibu ini mau cash hpnya. Jadi Ibu ini pun ke gerbong makan. Nah, kebeneran, ga pake lama, saya duduk di deket jendela dan buka tirai. Kebeneran lagi keretanya lagi berenti dan ada objek buat saya foto. Dari tadi ke batre hpnya abis tu.

Lumayanlah satu jam Ibu itu baru balik dan view d luar udah ga terlalu bagus buat foto. Kali ini Ibunya mau ngebiarin tirainya aga sedikit di buka. Akhirnya sekitar jam 16.00 WIB, sampailah saya di Jogja. Hal pertama yang harus saya lakuin adalah cek tiket pulang, soalnya saya ada rencana buat ganti kereta biar satu kereta sama temen saya yang dari Kediri.

Ga lama, temen saya yang di Jogja nyampe stasiun juga dan langsung aja cek tiket. Ternyata kata satpamnya, kalau mau cek kursi harus ke CS dan CS itu adanya di dalem stasiun. Belah mana pula itu? Untungnya ada temen saya, dengan sedikit memelas ahirnya kita berdua berhasil nerobos-nerobos. Ga lewat pintu yang seharusnya. Sampailah kita di kantor CS.

UPLOAD 7

Setelah tanya ini-itu dan jelasin maksud saya apa, ahirnya dapet jawaban yang sangat- sangat diharapkan. Setelah dapet jawaban fix, kita kembali ‘nerobos’ jalan dengan seijin satpam juga sih, dan langsung ngantri lagi. Kkayanya setelah ke-BT-an saya selama di kereta, saatnya dibales sama dapet nomor kursi buat pulang yang udah saya incer.

Sekarang hanya tinggal nunggu dua puluh nomor antrian dan ternyata cepet ajah. Begitu giliran nomor antrian saya, langsung menuju loket 5 dan bilang minta nomor kursi yang udah saya incer. H2C, dan setelah di cek ulang, ternyata, dapet doonk nomornya. Hore. Bukan itu aja, ternyata harga tiketnya lebih murah dari itungan awal saya, asiiiik. Tiket pulang udah di tangan, saatnya simpen tas dan makan.
Rasanya selalu seneng buat balik lagi ke kota ini. Udah lamaaaa banget saya ga keliling-keliling pake motor di Jogja. Pertama kalinya saya keliling-keliling di Jogja ya taun 2010 lalu, waktu pulang dari Gunungkidul dan pas seminggu survey TA di sini.

Cuaca Jogja sore ini bener-bener asik buat jalan. Berawan, ada angin sepoi-sepoinya, sinar matahari pun ga terlalu terik, pokonya perfect deh. Beres simpen tas, ga pake basa-basi langsung meluncur ke tempat makan “Jejamuran” yang ternyata cukup jauh juga dari tempat saya nginep.

UPLOAD 8

Tapi asik juga, jadi tau jalur lain selain jalur yang rutin saya lewatin pas Lebaran. Sampailah kita di tempat yang dimaksud. Ternyata tempatnya lumayan ekslusif, waduh takut ga cukup aja nih budgetnya. Tapi pas udah dapet menunya, ternyata harganya terjangkau ko. Pas kita dateng, dateng juga satu rombongan gede yang lagi study tour kayanya. Maklum besok itu long weekend di bulan Maret.

Begitu makanan dateng, bener-bener yummy deh. Tapi sayangnya saya bikin satu kedodolan. Minuman yang saya pesen itu ternyata gula cairnya aga ngumpul di bawah. Saya kira udah saya aduk semua. Pas lagi minum, tau-tau ampir semua yang masuk ke kerongkongan saya itu gula. Busyeeet langsung keselek mendadak. Sampe batuk-batuk ga berenti-berenti.

Bahkan pas lagi makan, mana udah mulai penuh lagi ni tempat. Nahan batuk sampe mual dan makanan ga bisa masuk. Akhirnya saya mutusin dengan berat hati udahan aja makannya dan balik ke tempat temen saya. Sampe tulisan ini dibuat, saya masih kepengen makan pesenan saya yang ga jadi saya abisin.

UPLOAD 9

Kita pulang lewat jalur laen. Yaaa bisa dibilang jalan kolektor sekundernyalah. Bedanya jalan kolektor sekunder di sini ama di Bandung adalah, disini jalannya asli mulus banget plus ga rame. Kalau di Bandung jangan tanya deh. Udah jalannya bolong-bolong, ruameee sama motor yang motong jalan. Sampe di satu jembatan, ga sengaja saya liat ke langit. Ternyata udah sunset dan bagus banget. Bener-bener kemerah-merahan. Ga di sia-siain donk, langsung berenti dan ambil beberapa foto.

Puas sama foto sunset di hari pertama ngabur, kita balik ke tempat nginep. Sampe tepat nginep, saya mandi dan istirahat sambil nunggu satu temen saya yang dateng dari Madiun. Jam 8 kurang temen saya sms katanya dia udah sampe di Jogja. Ternyata ada satu temen kita juga yang ada di Jogja dan ngajak makan malem.

Seneng deh kalau gini, ketemu banyak temen dari mana-mana di kota orang. Sampe sekarang ada tiga rombongan gede yang beberapa di dalemnya itu temen-temen yang pernah ngetrip bareng sama saya juga. Ada yang ke Pacitan – Gunungkidul, ada yang susur Wonosari – Gunungkidul, ada juga yang mau jalan-jalan di Jogja. Saya sendiri, kali ini saya pengen nyobain nagbur sendiri tanpa ikut rombongan mana-mana, ternyata sama asiknya ko. Setelah temen saya mandi dan beres-beres dikit, ahirnya kita bertiga jemput temen saya yang satu lagi yang besok ke Pacitan dan makan malem.

Pas lagi makan malem, sekitar jam 11 kurang, taunya ujan guede. Padahal udah mau pulang dan ngantuk buangeeet. Yowes, terusin lagi ajalah ngobrolnya seru ini. Bahas-bahas sekilas tentang Merbabu via Selo yang besok bakal kita lewatin, bahas trip-trip yang dulu-dulu dan beberapa hal lainnya. Sampe ahirnya jam 12 kurang ujan udah berenti, kita pun pulang. Istirahat buat petualangan kita masing-masing besok.

UPLOAD 10

JUMAT, 23 MARET 2012

Jam 06.00 WIB pagi, temen saya ngasih tau kalau dia mau jemput temen kita satu lagi dan siap-siap buat belanja dan packing ulang. Sekitar jam 07.00 WIB, saya sama temen saya yang di Jogja belanja logistik. Lumayan banyak juga yang kita beli. Mulai dari buat makan, sampe perlengkapan. Jam 08.00 WIB kita udah ngumpul. Berhubung rencana awal pergi ke Selo jam 09.00 WIB, jadi ya udah lumayan deh ada waktu bentar buat packing ulang dan istirahat lagi bentar.

Jam 09.00 WIB berangkatlah kita ke Selo. Selama di jalan berdoa semoga pendakian kita kali ini ga pake ujan guede kaya pas saya ke Semeru Januari lalu. Sebenernya saya aga ragu-ragu sama jalur Selo ini. Dari beberapa yang saya tanya, termasuk obrolan kita semalem, jalur Selo itu lumayan berat. Biasanya jalur Selo ini buat jalur turun.

Mana saya ga olahraga sama sekali, lama juga ga naek gunung, takut nanti pendakiannya kaya siput gara-gara saya. Pas sampe di satu jalan, ternyata ban motor yang saya pake kurang angin. Akhirnya kita tambah angin dulu. Ternyata ada satu motor, dua orang yang pake settingan baju sama kaya kita dan sedikit ngobrol ternyata mereka mau ke Sumbing.

Semoga pendakiannya lancaaar. Selama keluar dari tempat temen saya ke tempat tambal ban ini, oran-orang di jalan pada ngeliatin. Mungkin mereka mikirnya ini long weekend biasanya orang-orang wisata santai, ini rempong-rempong bawa tas segede gaban ditambah jirigen air.

UPLOAD 11

Aga lama juga, eeeh tau-tau ban motor yang saya pake bocoooor. Untungnya ada tambal ban deket sini. Sialnya, tukang tambal bannya penuuuuuh. Ini nampak satu-satunya tempat tambal ban yang statusnya ‘available’ untuk saat ini. Mulai dari beberapa motor yang ganti ban juga, ada juga tiga truk yan mau ganti ban juga. Matilaaaah, udah ampir jam set 11 iniii, mu nyampe Selo jam berapa ini???

Pupus sudah harapan saya buat tidur selama nunggu yang cowo-cowo Jumatan Sambil nunggu iseng-iseng cari tempat makan, baru sadar kalau saya belum sarapan Ahirnya nemu warung makan deket tempat tambal ban, untungnya kosong, jadi saya ga perlu nunggu lama-lama amat buat makan. Soalnya saya lebih milih dibikinin nasi goreng daripada makan yang udah jadi. Ga terlalu suka sama menunya.

Selagi nunggu ada satu keluarga juga yang makan di sini. Tapi mereka lebih pilih makan makanan yang udah jadi. Dari gelagatnya kayanya keluarga ini udah lumayan sering juga makan disini. Ahirnya nasi goreng yang saya pesen dateng juga. Rasanya? enaaak hahaha biar masih panas dan udaranya juga panas, tapi lahap banget deh saking enaknya.

UPLOAD 12

Sebenernya sih pertanyaannya “enak” atau “laper” nih hehe. Beres makan, saya balik lagi tempat tambal ban, ternyata temen saya yang punya motor, ahirnya mutusin buat beli ban baru daripada nanti kenapa-kenapa di jalan, perjalanan kita masih panjaaaang.

Jam set 11 kurang, ahirnya motor beres dan terusin jalan ke Selo. Ternyata lumayan jauh juga inih ke basecampnya. Biar udah berkali-kali lewat jalur ini, tapi ga pernah ngitung pasnya berapa lama dari Boyolali sampe ke Malang. View di jalan cukup menghibur mata yang udah mulai berat gara-gara ngantuk, Merapi keliatan jelas. Sayang Merbabu hanya keliatan sampe tengah-tengah aja, puncaknya udah ketutup kabut tebel. Ini tetep naik hari ini atau plan B???

Tapi kalau plan B nanti rencana ke Pacitannya jadi berantakan donk? Mana tiket kereta udah ga bisa dibatalin pula. Pas jam 12, kita semua sampe di Selo. Sambil istirahat, sambil nungguin yang cowo-cowo Jumatan. Ternyata pas berenti disini, kita berempat ketemu dua orang yang katanya sih dari Jakarta.

UPLOAD 13

Kayanya udah sempet janjian ama temen saya yang di Jogja. Ga lama ada juga dua orang yang nungguin di kantor polisi, satu cewe, satu cwo mereka dari Kediri. Kayanya udah janjian juga ama temen saya yang di Jogja ini. Naah jadilah sekarang rombongan ke Merbabu nambah empat orang. Jadi total delapan orang.

Sambil nunggu yang Jumatan, saya dianter sama temen saya yang perempuan buat tidur-tiduran bentar di kantor polisi. Beres pada Jumatan, kita Solat trus nunggu yang pada makan siang. Beres makan siang, beli logistik sedikit baru deh menuju basecamp Selo. Tapiii berhubung motor cuman 2 dan orangnya ada delapan orang, jadilah dua orang temen saya bolak-balik. Jemput dan anter dari jalan desa ke basecamp.

Ternyata jalan ke basecamp fuuuulll nanjak, malah pas di tanjakan deket basecamp, motornya ga kuat naek dan kepaksa harus jalan sedikit. Sampe basecamp udah aga sore, sekitar jam 15.00 WIB, dan gerimiiis dooonk. Masa mau ujan-ujanan atau di pending ampe besok gitu?? haaah geje. Ahirnya jam 15.30 WIB kita start pendakian.

UPLOAD 14

Pakai peralatan perang (jas ujan, masukin jaket, dll) bener aja pas masuk ke gerbang, eehh ujannya ko malah makin gede. Haduuuh kuat ga yaaa?? mana ga pake olahraga, lewat jalur yang ‘fisik’ banget, ujan pula, jalan malem, mana jalannya pada cepet-cepet pula inih haddeehh.

Lima belas menit jalan, ternyata kondisi treknya masih bisa dibilang landa. Tapi berhubung ujan dan udah sore jadilah sampe pos 1 kerasa lumayan berat juga. Sempet beberapa kali berenti. Pertama berenti gara-gara ada kesalahan teknis sama sendal gunungnya. Kedua berenti karena emang cape. Ketiga berenti karena emang cape.

Kayanya udah tradisi begitu nemuin pos pasti berenti. Ga peduli durasi jalannya udah berapa lama, terakhir berenti gara-gara salah jalan. Untung temen yang dari Jogja ngasih tau kalau ngga bakalan nyasar deh ini. Belom apa-apa udah nyasar. Berhubung dikasih tau salah jalan, jadilah alesan buat berenti lagi. Kali ini ujannya udah tinggal gerimis aja, ga sederes waktu awal jalan.

UPLOAD 15

Makin lama treknya makin nanjak tapi tetep kebilang landai dan makin licin. Ampir mirip jalur air, sempit, tanah merah daaaannn ga seberapa lama jalan, baru deeeh keliatan trek Selo yang benerannya kaya gimana. Trek yang lumayan harus ngangkat lutut, licin, sempit, udah jadi jalur air, dan yang pasti udah mulai gelap dan nafas tinggal seadanya.

Tapi buat pendakian kali ini, dari tadi malem pas obrolan tentang jalur Selo selalu saya ingetin diri sendiri buat “nikmatin aja perjalanannya”. Dan bener aja, tanjakan demi tanjakan yang sebenernya lumayan nguras fisik ditambah bekas ujan dan dingin pun kelewatin. Sampe ahirnya di tempat yang aga kebuka kita ketemu sama beberapa pendaki lain yang salah satunya temennya temen yang naik dari jalur Kopeng.

Kalau kata mereka sih, mereka kena badai, ga dapet sunrise, sunset, pokonya semuanya putiiiih + angin yang cukup kenceng. Malah sempet dikomporin buat balik lagi dan hijrah ke Merapi. Ragu juga sih kalau dapet badai. Tapi berhubung Merbabu ini udah kepending dari tahun 2010, jadi yaaa naek terus deh.

UPLOAD 16

Ga lama jalan, ujan bener-bener berenti dan ternyata sunset udah mulai. Yaaah kecewa ga dapet sunset Merbabu yang katanya keren banget + bonus Merapi. Ya udahlah yaaaa, biar ga dapet sunsetnya, dapet langitnya + view Selo, Boyolali, Klaten dan sekitarnya cukuplah ya.

Iseng saya nanya, target kita kemana dan estimasi waktunya berapa lama, ternyata target sampai di Sabana 1 dan kira-kira sekitar tiga jam lagi kalau jalannya cepet. Kalau jalan malem sih udah pasti saya ga bisa jalan cepet. Ga lama jalan, kita berenti dulu berhubung udah waktunya Magrib. Dan ahirnya kita sepakat buat berenti dan camp di pos 2.

Soalnya lewat pos 2 trek udah full kebuka dan angin udah mulai kenceng lagi. Takut kena badai dan ga ada tempat buat nenda. Mendingan kita istirahat dan summit besok subuh. Selama berenti temen saya yang di Jogja cerita sedikit tentang ‘cerita Merbabu’.

UPLOAD 17

Emang sih selama ini ga pernah denger ‘Cerita Merbabu’, selama ini yang didenger tentang Merbabu selalu yang bagus-bagus. Mulai dari sabananya yang ijo, view ke arah Merapi yang ajib, view city light Salatiga yang keren, sampe mitos gunung cinta & Puncak Kentwng Songo. Ternyata ada juga ‘cerita lain’ Merbabu. Katanya, kalau kita udah lewat pos 2, sebelum pos 3 “Batu Tulis”, itu tempatnya ‘yang lain’ kaya ‘Pasar Setan’ di Lawu, Sumbing, Merapi, nah, di Merbabu juga ada di sebelum pos Batu Tulis.

Sebenernya yang jadi masalah sekarang sih gimana kalau lagi pas di tempat terbuka tiba-tiba ada badai. Mana kita udah seharian full jalan, belum ada istirahat sama sekali. Untungnya semua sepakat buat camp di pos 2. Sampe Pos 2 sekitar jam 19.00 WIB. Lumayan repot juga diriin tenda disini, soalnya lahannya emang cukup kecil dan ada 3 tenda yang belum diatur gimana-gimananya.

Begitu tenda jadi, langsung bagi-bagi satu tenda buat logistik dan tas, satu tenda buat tidur dan tempat makan, satu tenda buat full tidur. Beres ber-rempong-ria, ahirnya masak, makan malem rame-rame, dan tiduuuuurrrr. Saya sih sebenernya yang masuk tenda langsung tidur entah sampe berapa lama.

Sampe ahirnya jam 02.00 sesuai rencana awal, bangun dan summit. Tapi ko ga ada yang bangun ya?? ada sih dua orang yang bangun, yang dari tadi ga tidur-tidur sih sebenernya, tapi yang lainnya ga ada suaranya. Akhirnya sepakat buat bangun jam 04.00 WIB dan langsung summit biar dapet sunrise di puncak.

UPLOAD 18

SABTU, 24 MARET 2012

Jam 4, bangun lagi, kali ini lumayan nambah satu orang lagi yang bangun, tapi ko nampak males ya kluar dari SB +mulai nanjak-nanjak lagi?? Sampe ahirnya ada yang nyeletuk mending pergi jam 6 aja, toh pergi sekarang juga tetep ga akan bisa dapet sunrise di puncak. Semuanya setuju dan langsung tewas lagi. Jam 06.00 WIB barulah bener-bener bangun. Selain perjalanan masih jauh dan udah terang juga diluar, udah puas juga bayar tidurnya, jadi ya siap-siap buat summit.

Bagi-bagi logistik dan atur barang bawaan. Jam 07.00 WIB kita mulai jalan. Ternyata tanjakan yang ada di samping tenda kita tanjakan terakhir yang ketutup. Selebihnya langsung trek kebuka. Begitu sampe di trek terbuka, ga ada yang bisa diliat selain ‘Si Putih’. Waduh pesimis juga sih bakalan dapet cerah di puncak dan bakalan bisa foto sabana Merababu yang terkenal ijo bangetnya itu.

Tapi, sekali lagi saya inget dan men-sugesti diri sendiri “Nikmatin aja”, bener-bener berhasil. Makin dinikmatin, makin ga kerasa capenya. Padahal kondisi treknya 2x lipat lebih susah dari pos 1- pos 2 kemarin. Lumayan cape juga. Takut lutut kena lagi, ga ada persiapan obat-obatan sama sekali dan belum sarapan. Tapi cape dan pegelnya ilang sama gimana perjuangan buat bisa ke Merbabu gagal 3x dari taun 2010.

UPLOAD 19

Ga berapa lama jalan, kata temen saya kita udah ampir sampe di pos 3 “Batu Tulis”. Tapi ko makin ke atas, anginnya makin kenceng. Yang sekarang malah bener-bener kenceng dan kabut yang makin tebel. Makin aja pesimis dapet cerah. Tapi ya udahlah, udah nyampe sini juga, udah jauh kemana-mana hajar aja deh. Ternyata angin dan kabutnya ga terlalu lama. Di pos 3, udah tinggal kabut dan bisa sambil istirahat dan foto-foto dulu.

Lewat Batu Tulis, ini dia treknya. Bener-bener curam, super licin gara-gara tanah merah dan dikasih ujan. Ga ada pegangan, jalan sendiri pula. Lumayan juga nguras fisik juga sih sebenernya, tapi capenya masih bisa diatasin. Ga kaya waktu ke Ciremai KO. Kata temen saya sih, disini sama trek ke puncak yang lumayan berat, selebihnya sih nanjak standar.

Bener aja sih sampe ujung trek licin tadi, jalannya mulai nanjak normal lagi. Sampe ahirnya kita sampe di tempat yang bener-bener kebuka. Ga ada tebing lagi di kanan-kirinya. Kita istirahat sebentar di sini, daaaan ternyata emang rezeki kita kayanya, sedikit-sedikit awan di seberang mulai turun. Keliatan sedikit puncak Merapi dan Lawu dikejauhan. Lawu sih sebenernya emang udah dari kemarin sore keliatan, tapi ga sejelas sekarang.

UPLOAD 20

Ga buang-buang waktu kita terusin jalan. Sekarang jalan lumayan nanjak lagi dan aga sempit. Tapi setelah lewat tanjakan terakhir, sampailah ke Pos IV, Sabana 1. Sayang pas kita nyampe sini, kabutnya tebel lagi. Ternyata lumayan banyak juga yang camp di sini dan tempat-tempat yang pas buat nge-camp udah abis semua. Di sini sempet-sempetin buat foto keluarga dulu. Ga berlama-lama, kita terusin jalan ke Pos V, Sabana 2 dengan kondisi trek yang datar tapi tetep berkabut.

Di tengah-tengah trek keliatan sedikit bukit-bukit di bawah yang udah kita lewatin kemarin dan tadi plus sedikit view Selo dan Boyolali (kayanya sih). Ternyata trek datarnya ga seberapa panjang, tau-tau kita udah ketemu lagi sama trek yang nanjak lumayan bikin lutut pegel lagi. Tapi tetep, nikmati ajaaa.

Di ahir trek nanjak ini, sarapan roti, madu, ager-ager dulu, ga lupa sedikit foto-foto dengan background Lawu, Kota Boyolali dan Desa Selo. Mumpung belum terlalu cape, saya jalan duluan. Selama jalan dari pos 2, temen jalan saya, ya anggota perempuan satu lagi, temen yang gabung kemarin dari Kediri. Tapi Mba ini jalannya lumayan cepet, aga susah juga ngimbanginnya kalau lagi nanjak. Untung dari sini sampai Sabana 2 treknya kebuka dan jelas, keliatan sampai ujung Sabana 2.

UPLOAD 21

Di Sabana 2, kabutnya udah mulai ilang, udah mulai keliatan gimana rupa Sabana 2 dan bukit-bukit di sekitarnya. Tapi sayang, yang kita tunggu dari kemaren-kemaren masih belum bisa keliatan juga. Yup, Merapi. Akhirnya cuman sebentar di Sabana 2, langsung jalan lagi.  Pas lagi mau jalan temen saya ada yang nanya, mana jalan ke puncaknya dan kayanya emang rezeki kita lagi. Di idepan kita langsung keliatan jelas trek ke puncak yang ternyata masih harus turun-naik tiga bukit lagi dan treknya itu loooh nanjaaaaak ga ada bonus dan kebukaaa.

Nah ini dia Merbabu. Ya udah daripada terlalu siang nyampe puncak, mending kita jalan lagi aja. Tapi pas lagi jalan, ga sengaja ngliat ke arah jurang di Sabana 2. Ternyata view ke Merapi jelaaaas banget bonus sama awannya yang super tebel kaya selimut. Langsung balik arah buat nyempetin foto dulu. Puas foto di pinggir jurang kita terusin jalan ke arah puncak. Ternyata kalau udah di trek, ga se-mengerikan kalau keliatan dari Sabana 2. Masih tetep sadis trek Ciremai via Linggarjati ama trek Sindoro dari mana-mana.

Di sepanjang trek ini, ada beberapa pohon Edelweiss yang tingginya lebih dari tinggi kita semua. Kata temen saya, ini masih pendek dibandingin sama sebelum Merbabu kebakaran taun lalu. Di tengah-tengah cape nanjak, temen saya yang jalan di depan, berenti buat duduk sebentar dan langsung bilang kalau di belakang kita view Merapi jelaaas banget. Awannya udah mulai kebuka, langitnya cerah, pas buat foto. Treknya pun udah mulai kena sinar matahari.

UPLOAD 22

Bener-bener emang rezeki kita ke Merbabu kayanya nih, dapet cerah di tengah-tengah puncak musim ujan di Jawa Tengah. Sambil nanjak, sambil sesekali berenti ngilangin cape dan liat view Merapi yang bener-bener ‘gagah’. Makin semangatlah kita buat sampe di puncak Kenteng Songo. Ga sabar buat ngeliat view dari ketinggian 3142 mdpl.

Tapi ini rasanya udah lama nanjak ko ya ga nyampe-nyampe, mana sebenernya ada satu bukit lagi yang harus dilewatin buat sampe ke puncak. Gempor juga lama-lama. Tapi tetep asik, apalagi nyobain najak dari jalur Selo yang kata kebanyakan orang lebih enak buat jalur turun soalnya ga terlalu nguras fisik, bareng sama temen-temen yang asik-asik & dapet view Merapi yang cukup cerah.

Sampe ahirnya di satu trek yang harus ditarik soalnya tinggi banget. Pasirnya lumayan tebel dan harus ngelangkah cukup jau. Celana pun jadi korban. Tapi, setelah lewat trek ini, viewnya lebih ajib soalnya udah lebih tinggi dan perjalanan nanjak udah tinggal dikit lagi. Udah mulai keliatan penampakan-penampakan orang di puncak yang seliweran, bikin tambah semangat buat cepet-cepet nyampe puncak. Trek terberat terakhir ada di sini. Lumayan harus ngangkat lutut, batu yang cukup labil, udah mulai panas, soalnya udah ampir tengah hari. Tapi, tetep semangat demi ke puncak tertinggi di Merbabu.

UPLOAD 23

Satu jam, pas jam 11.00 WIB ahirnya sampe juga di puncak. Udah ada beberapa temen saya yang nyampe dan udah nyiapin lapak sendiri. Beberapa rombongan dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang udah foto-foto, masak, dll. Ahirnya kesampean juga nginjekin kaki di Puncak Merbabu. Kata temen saya yang udah beberapa kali kesini, kita termasuk cepet.

Ga disia-siain buat foto-foto di semua sudut puncak Kenteng Songo. Emang bener-bener lagi rezeki kita kayanya nih. Merabunya cerah, Merapi keliatan, Sumbing-Sindoro pun keliatan dikit puncaknya, Lawu masih setia nemenin pendakian kita, lautan awan di bawah yang bener-bener mirip kasur, pokonya puas deh ke Merbabu kali ini. Biar ga ngelewatin semua jalurnya dan ga ngedatengin semua puncaknya. Jam 12.00 WIB, beres makan dan mati gaya narsis, kita turun. Di perjalan turun kali ini saya bener-bener cuman berdua sama temen saya yang perempuan.

Yang depan jauuuh banget, yang belakang juga jauuuh banget. Dan sialnya lagi pas turun kali ini kita berdua bener-bener ga bawa air minum, padahal ini lumayan panas.  Ga sadar kita berdua jalan turun non stop ga pake berenti sampe di pos 3. Di Pos 3 bener-bener udah ga kuat haus berat, ahirnya temen saya minta air sama pendaki yang lagi istirahat.

UPLOAD 24

Beres minum sedikit, kita terusin jalan ke Pos 2, bener-bener deh baru kerasa ga nyampe-nyampenya gara-gara haus berat. Untungnya masih kuat buat sampe ke Pos 2, nyampe Pos 2 langsung minum air putih & air berasa segerr. Sambil nunggu yang di belakang, saya tidur aja deh.

Lumayan lama juga yang belakang nyampenya. Jam 14.00 WIB lebih baru kumplit dan udah ada beberapa pendaki yang turun. Tapi ga sedikit juga yang naek. Saya baru inget kalau sekarang hari Sabtu. Biasanya kalau turun gunung itu pasti hari Minggu, berhubung sekarang long weekend, jdi lebih cepet satu hari. Jam 15.00 WIB, kita semua siap turun. Kalau masalah turun, ga bisa dilama-lamain, bisa sakit ni lutut ama jari kaki.

Di perjalanan turun ini, lagi-lagi kebagi beberapa kloter. Saya sama temen saya yang dari Kediri paling depan, di belakang ada temen saya yang perempuan, di belakangnya lagi ada temen saya yang dari Jakarta, di belakang barulah temen saya yang dari Jogja dan satu orang lagi.

UPLOAD 25

Perjalanan dari pos 2 ke pos 1, jalan terus nonstop. Tapi begitu udah masuk hutan deket-deket pos 1, mulai mendung lagi. Beberapa kali saya sama temen saya berenti, jaga-jaga kalau ada monyet yang nyebrang dari pohon ke pohon. Jaga-jaga aja, repot juga kalau tu monyet nemplok di keril, udah berat, ditambah monyet ga bisa diem pula. mending kalau cuman nemplok, nah kalao buka-buka keril? Rempong.

Lewat pos 1, mulai gerimis. Saya sama temen saya mulai aga cepet lagi jalannya. Sampe di satu tempat abis pos 1, kita berdua nyium ada bau menyan, nah lo??? Padahal jarang-jarang kaya beginian di Merbabu. Merbabu termasuk yang ga terlalu banyak ‘cerita lain’ nya deh perasaan. Ah, ga peduli, terus jalan, soalnya males juga kalau harus ujan-ujanan kalau udah deket gini. Begitu masuk hutan pinus, kita istirahat sebentar. Berhubung ujannya pun ga jadi.

Cukup istirahat kita jalan terus ke gerbang pendakian dan sampailah di Desa Selo. Selesai sudah pendakian Merbabu. Pas lagi jalan di desa, ujan lagi, kali ini bukan gerimis, tapi lumayan deres. Untungnya keburu nyampe di basecamp. Langsung buka lapak, cash hp & antri kamar mandi, soalnya basecampnya ruame.

UPLOAD 26

Saya sama temen saya yang pertama nyampe sekitar jam 17.00 WIB, sambil nunggu yang laen, kita pesen teh manis panas. Udah ganti baju, udah cuci muka, udah selonjorin kaki, udah tidur-tiduran ditambah minum teh panas Jawa Tengah yang khas dan enak selepas turun gunung itu rasanya nikmaaat banget. Ga lama dateng temen saya dua orang dan ahirnya jam 17.30 WIB kumplit semuanya ada di basecamp. Ternyata rombongan yang ada di ruangan sebelah baru mau mulai pendakian.

Sebenernya udah mau naek dari jam 17.00 WIB tadi, tapi kepotong ujan. Jadilah ga jadi naek dan baru naek jam 18.30 WIB. Nah disinilah waktunya pisah. Saya sama temen-temen awal dari Jogja mau mutusin buat nerusin trip ke Pacitan. Dua temen saya yang dari Jakarta mau langsung pulang ke Jakarta soalnya harus mulai kerja. Dua temen saya yang dari Kediri masih galau antara lanjut Merapi atau langsung pulang ngeteng ke Kediri.

Ahirnya dua temen saya yang ke Kediri mutusin buat diem dulu di basecamp. Dua temen saya yang dri Jakarta ikut nebeng sama kenalan yang sewa travel ke arah Solo. Baru nyambung-nyambung bis ke Jakarta. Jam 19. 00 WIB resmi pamitan sama temen-temen baru yang asik dan lanjutin trip ugal-ugalan ke Pacitan. Baru pertama kalinya ngetrip pake motor di kota orang lewat jalan yang bener-bener asing, cuman dikitan pula. Hajar deh pokonya.

UPLOAD 27

Selama jalan dari basecamp ke jalan utama Desa Selo, turun terus. Mana sekarang gantian pake tas yang 55 ltr punya temen dan daypack disimpen didepan, soalnya pake motor matic. Beuuuuuhh pegelnya ituuu loh luar binasa. Pegel lutut, pundak, telapak kaki lengkap sudah. Di tengah jalan, tiba-tiba motor temen jalannya aneh, ampir masuk jurang. Ternyata eh ternyata rem depannya blong, panik! Akhirnya diputusin buat balik ke Jogja lewat Boyolali.

Begitu masuk ke jalan utama desa, langsung bongkar moto. Cek apa yang salah. Ternyata emang ada masalah di rem depannya, ga tau juga sih apa yang salah, ga ngerti. Ahirnya temen saya cari bengkel, temen saya satu lagi meriksa apa yang salah. Setelah diotak-atik dikit normal lagilah itu remnya. Sekarang tinggal nunggu temen saya balik lagi. Ahirnya sisa perjalanan kita diabisin dengan nyusurin jalan fuuul turunan sepanjang Desa Selo sampai ke Boyolali.

Dan itu mengakibatkan lutut pegel, tepak kaki sakit, semua kaki mati rasa, pundak sakit, otot tangan atas udah pegel luar binasa nahan biar badan ga merosot. Di perjalanan ke Boyolali, sesekali liat ke arah Merbabu, sebenernya gelap sih ga keliatan apa-apa da malem, tapi ternyata nampak ujan ditambah petir di Merbabu. Duh, semoga temen-temen yang tadi baru pada naik baik-baik aja.

UPLOAD 28

Sepanjang jalan Selo-Boyolali di tikungan yang cukup gelap dengan view ke Kota Boyolali yang cukup bagus, nemu yang lagi pada mojok ckckck. O, iya ya ini malem minggu. Niat pisan itu mojok di tempat gelap di jalur ini. Buat saya sendiri sih jalur ini cukup nyeremin juga. Malahan pengen cepet-cepet keluar dari jalur Selo, eeehh ini malah mojok berduaan di tempat gelap.

Ahirnya keluar juga dari jalur Selo dengan kondisi kaki yang udah mati rasa, kesemutan, pegeel, pundak sakit, tangan pegel, mata mulai sepet gara-gara kena angin malem Selo yang bikin ngantuk. Muka perih, lengkap sudah oleh-oleh dari Merbabu, tapi sampe sekarang tetep enjoooy. Begitu sampe di Boyolali aneh rasanya, biasanya kesini satu taun sekali pas Lebaran, nah sekarang di luar waktu Lebaran, sendirian pula.

Rasanya kangen, aneh, seneng, cape juga pastinya. Saya pikir ke Jogja bakal ngelewatin jalan pinggir yang biasa saya lewatin kalau Lebaran, ternyata temen saya lebih milih lewat jalur Kota yang sebenernya jauuuuh lebih lama. Tapi berhubung kondisi rem motor, fisik, ama udah malem juga, kayanya terlalu riskan juga kalau lewat jalur pinggir. Jadilah perjalanan pulang kali ini kerasa lama banget. Bener-bener trip ngabur ugal-ugalan mandiri ter-ugal-ugalan deh, cewe sendiri pula.

Sekitar jam 22.30 WIB, kita merapat di Klaten atau apa ya? Lupa. Isi perut dengan kikil di depan alun-alun kota ini. Berhubung saya ga suka kikil, jadi ya sudah deh numpang lurusin kaki dan lemesin otot-otot tangan dan kaki. Cukup ngaso dan isi perutnya, kita lanjutin jalan ke Jogja. Masih satu jam lagi ini. Tapi berhubung ini malem minggu, jadi jalanan lumayan rame juga. Ternyata kaya gini ya malem minggu normal di sepanjang jalur utama Solo-Jogja, lumayan rame. Jam 12 kurang kita udah masuk Jogja dan ahirnya sampe juga di tempat kita nginep.

UPLOAD 29

UPLOAD 30

 
Leave a comment

Posted by on December 4, 2021 in OUR JOURNEY, Travelling