RSS

Monthly Archives: August 2018

BANDUNG SELATAN DARI MASA KE MASA

Selatan Bandung, tujuan wisata yang sudah ada sejak jaman penjajahan
Apa yang terlintas ketika mendengar kata “Bandung Selatan”? Mungkin sebagian ada yang langsung teringat dengan Kawah Putih, Situ Patenggang, Rancaupas, Situ Cileunca, Pangalengan, Ciwidey, touring, kemping, kebun teh. Bandung Selatan, memang merupakan destinasi wisata yang cukup terkenal semenjak dahulu kala. Bahkan konon dari masa penjajahan Belanda, kawasan Selatan Bandung merupakan area perkebunan teh sekaligus tempat peristirahatan bagi bangsawan-bangsawan Belanda. Setelah masa kemerdekaan, banyak lokasi-lokasi yang kemudian dikelola dan dibuka untuk kepentingan wisata umum.

Sebut saja Situ Cileunca, Situ Patenggang, Kawah Putih, Rancaupas, pemandian air panas, dan KPBS (Koperasi susu murni terbesar di Bandung Selatan) yang sudah menjadi tujuan-tujuan wisata yang sudah terkenal semenjak jaman penjajahan Belanda. Seperti yang kita tahu, Situ Cileunca dan Kawa Putih pertama “muncul” di Selatan Bandung pada jaman penjajahan. Situ Cileunca merupakan danau buatan yang mulai dibangun pada 1919 dan berakhir pada 1926. Peruntukan Situ Cileunca adalah sebagai sumber air bersih dan sumber listrik untuk Kota Bandung pada zaman kolonial. Berbicara tentang Situ Cileunca, tidak akan terlepas dengan Bendungan Syphon yang berada di area Perkebunan Malabar.

Kawah Putih pun tidak luput dari cerita di seputar masa penjajahan Belanda. Area Kawah Putih tidak sengaja ditemukan oleh ilmuwan Belanda bernama Dr. Franz Wilhelm Junghun pada 1837. Penemuan Kawah Putih ini diawali ketika Dr. Junghun tidak sengaja melihat pemandangan ke arah Gunung Patuha. Saat itu, muncul rasa penasaran mengapa tidak ada seekor burungpun yang melintas di atasnya. Selain, itu, kondisi sekitar Gunung Patuha pada masa itu masih berupa hutan sangat lebat dan tidak luput dari berbagai cerita mitos dan habitat binatang buas. Rasa penasaranlah yang mendorong Dr. Junghun nekat mencari penyebab sepinya area tersebut dari lalu lalang hewan. Rasa penasaran sebagai seorang ilmuwan pulalah yang pada akhirnya membuat Kawah Putih “ditemukan”

Bergeser ke Selatan dari Kawah Putih, terdapat danau cantik bernama Situ Patenggang. Berbeda dengan Situ Cileunca, Situ Patenggang merupakan danau alami yang pada awalnya berada di kawasan Cagar Alam. Pada 1981, status di sekitar Situ Patenggang berubah menjadi Taman Wisata, sementara sisa areanya masih merupakan Kawasan Cagar Alam. Situ Patenggang sarat akan mitos antara Ki Santang dengan Dewi Rengganis. Dari mitos inilah kemudian muncul sebuah pulau kecil di tengah danau dengan nama populer Pulau Sasuka yang berarti Pulau Cinta. Tepat di tengah pulau ini terdapat sebuah batu yang dinamakan Batu Cinta yang juga tidak terlepas dari cerita mitos Ki Santang dengan Dewi Rengganis.

Selain danau, kawasan di Selatan Bandung pun tidak terlepas dari perkebunan teh dan peternakan. Semenjak zaman penjajahan Belanda, peruntukan kawasan terluas di Selatan Bandung adalah perkebunan teh. Sebut saja perkebunan Malabar dengan makam Boschanya, perkebunan Kertasari, Perkebunan Talun, Perkebunan Kertamanah, Perkebunan Cukul, Perkebunan Cibuni, Perkebunan Sinumbra, dan yang paling popoler, Perkebunan teh Rancabali. Berbagai olahan teh (tidak hanya teh biasa, tapi juga pengolahan teh hijau dan teh hitam) tersedia di areal ini.

Tipikal perkebunan teh yang seperti memiliki pola tersendiri dan terhampar menutupi lereng-lereng perbukitan menjadi daya tarik bagi para fotografer landscape. Tak terhitung jumlah foto yang menampakkan keindahan perkebunan-perkebunan teh yang ada di Selatan Bandung dari jaman kolonial Belanda hingga saat ini. Selain perkebunan teh, khusus di kawasan Pangalengan, juga diperuntukkan bagi peternakan sapi. Sapi perah merupakan jenis peternakan utama. Selain itu menyusul peternakan ayam dan kambing. Sementara di daerah Ciwidey, kini bahkan sudah terdapat peternakan Luak.

Kawasan Ciwidey, karena berada dekat dengan gunung purba menjadikan daerah ini pun memiliki beberapa sumber mata air panas. Sumber mata air panas ini telah dimanfaatkan oleh warga sekitar semenjak lama. Karena suhu udara di Ciwidey yang cukup dingin, maka lama kelamaan, sumber-sumber air panas ini kemudian dikelola dan dikembangkan menajdi objek wisata pemandian air panas sederhana.

Perkembangan industri wisata di Selatan Bandung
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya industri pariwisata, kawasan Selatan Bandung seolah tidak pernah kehabisan tempat baru. Selain objek-objek wisata alam yang sudah ada dari jaman penjajahan Belanda, kini mulai bermunculan objek-objek wisata baru. Diantara kemunculan objek-objek wisata baru ini, ternyata ada juga “wajah lama” tujuan wisata yang melakukan pembenahan. Objek wisata Kawah Putih bebenah dari segi pengelolaan dan akomodasi bagi para wisatawan, objek wisata Rancaupas pun tidak ketinggalan. Dahulu Rancaupas hanya merupakan bumi perkemahan yang lebih sering digunakan sebagai acara-acara kampus atau organisai atau pun institut, kini lebih dibenahi agar bisa dinikmati oleh keluarga. Penambahan sarana outbound dan penataan di sekitar danau pun menjadi prioritas utama.

Situ Cileunca dan Situ Patenggang pun tidak mau ketinggalan. Kini, selain dimanfaatkan sebagai objek wisata air (arung jeram Sungai Palayangan, lokasi latihan olahraga kano dan dayung), kini terdapat resort di tepi Situ Cileunca yang berkonsep Family Camp. Kini, kemping di pinggir danau bersama keluarga pun menjadi lebih mudah karena sudah difasilitasi lengkap oleh resort bernama Cileunca Group House. Selain fasilitas tenda, terdapat juga Cottage dan ruang meeting.

Sementara Situ Cileunca memiliki ikon baru Cileunca Group House, Situ Patenggang pun kini memiliki ikon baru selain Pulau Sasuka dan Batu Cinta. Glamping Lakeside kini menjadi salah satu tujuan wisata paling hits di sekitar Rancabali. Sebuah tujuan wisata berupa restoran dan cottage/bungalow di tepi Situ Patenggang memiliki desain arsitektur unik berupa sebuah perahu besar. Desain inilah yang menjadi nilai jual Glamping Lakeside hingga menjadi tujuan wisata yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Rancabali.

Selain pembenahan “objek-objek wisata tua” yang semakin mengikuti perkembangan kreatifitas di bidang industri pariwisata, tempat wisata baru dengan berbagai konsep pun semakin banyak ditemukan di Selatan Bandung. Agar tidak tertukar, sebelumnya mari kita bagi dulu kawasan Selatan Bandung menjadi dua jalur utama. Jalur pertama adalah Soreang – Ciwidey – Rancabali. Jalur kedua adalah Banjaran – Pangalengan – Ciparay.

Soreang – Ciwidey – Rancabali
Objek wisata yang sudah lama terkenal di jalur ini diantaranya Perkebunan Gambung, Kawah Putih, pemadian air panas Cimanggu dan Ciwalini, perkebunan teh Rancabali, dan Situ Patenggang. Hingga awal 2018, kini diantara lokasi objek-objek wisata ini sudah banyak bermunculan tujuan wisata baru. Objek wisata yang bermunculan pun bukan hanya objek wisata alam bagi para penyuka kegiatan di alam bebas, tetapi juga objek wisata yang diperuntukkan bagi keluarga, wisata, kuliner, bahkan edukasi. Selain tempat wisata yang memang baru muncul, terdapat beberapa objek wisata yang sebenarnya sudah ada hanya baru dikelola/dibenahi sehingga baru mendapat perhatian baru-baru ini.

Sebut saja Kawah Cibuni yang kini lebih dikenal sebagai Kawah Rengganis, pemandian air panas Cimanggu yang kini lebih dikenal dengan nama Cimanggu Hot Spring & Cottage, Bumi Perkemahan Rancaupas yang kini lebih dikenal dengan nama Rancaupas Smart Camp Adventure atau Kampung Cai, dan Kebun petik strawberry. Selain objek wisata alam, ada juga tempat kuliner dan tempat wisata keluarga yang sudah ada sejak lama di jalur ini. Sebut saja Resto & Hotel Sindangreret, Patuha Resort, Saung Gawir, Kampung Pa’Go. Beberapa tahun kebelakang, mungkin hanya Hotel & Restoran Sindangreret dan Patuha Resort saja yang sudah populer sejak lama.

Adapun kelompok wisata alam yang kini menjadi tempat hits di sekitaran Ciwidey dan Rancabali antara lain Kawah Putih, Situ Patenggang, Kawah Rengganis, Perkebunan teh Rancabali, Cimanggu Hot Spring & Resort, pemandian air panas Ciwalini, Kampung Cai, Barusen Hills, Bukit Jamur, dan Kebun Petik Strawberry. Tempat wisata lainnya selain wisata alam, ada juga tempat wisata khusus bagi anak yaitu Taman Kelinci, wisata edukasi kebun tanaman obat Sari Alam, serta lokasi kuliner Sindangreret dan Pinisi Resto.

Sebagai daerah tujuan wisata, kurang lengkap rasanya jika tidak sekaligus menghadirkan tempat wisata bagi keluarga. Kini, terdapat beberapa pilihan untuk menginap dan berwisata bersama keluarga di sekitaran Ciwidey, Adapun pilihan tempat wisata hits di Ciwdey yaitu Ciwidey Valley Resort, EmTe Highland Resort, Green Hill Park, Legok Kondang Lodge, Glamping Lakeside, Kampung Pa’Go, Saung Gawir Bungalow & Resto, serta D’Riam Riverside & Resto.

Selain tempat-tempat yang disebutkan sebelumnya dan sudah mulai hits, di sekitar Ciwidey dan Rancabali pun masih terdapat lokasi-lokasi yang menjadi potensi wisata. Bagi para pendaki gunung, banyak terdapat gunung-gunung yang masih sangat jarang didaki. Sebut saja Gunung Patuha dengan tujuan Kawah Saat, Gunung Cadaspanjang, Gunung Singa, Gunung Lolongokan, Gunung Padang, dan lainnya. Bagi para penikmat keindahan alam yang masih sepi dan alami, area perkebunan Sinumbra dapat dijadikan alternatif. Situ Balekambang dan embung-emung yang tersebar di area perkebunan Sinumbra dapat menjadi tempat perhentian sambil menikmati keindahan perkebunan Sinumbra.

Banjaran – Pangalengan – Ciparay
Sebagian besar objek wisata yang berada di area ini merupakan wisata alam. Situ Cileunca, Situ Cipanunjang dan Gunung Puntang merupakan objek wisata andalan dan sudah sejak lama menjadi tujuan wisata utama. Situ Cileunca masa kini pun sudah jauh berbeda dengan wajah Situ Cileunca masa lalu. Area darat di sekitar Situ Cileunca kini dimanfaatkan sebagai tujuan wisata keluarga dibawah pengelolaan Cileunca Group House. Area perairan Situ Cipanunjang pun kini dimanfaatkan sebagai area latihan bagi atlet kano dan dayung. Aliran Sungai Palayangan pun semenjak 2010 lalu sudah mulai dimanfaatkan sebagai objek wisata sekaligus olahraga air Arung Jeram.

Jembatan di area bendungan Situ Cileunca yang dahulu hanya sebagai jalur mobilitas warga, kini menjadi tempat paling hits di sekitar area Situ Cileunca. Jembatan Merah, kini sebutannya. Tidak sedikit wisatawan yang rela datang sedari subuh untuk mendapatkan efek kabut dan sinar matahari pagi di Jembatan Merah dan Situ Cileunca. Selain Situ Cileunca, Situ Cipanunjang pun kini mulai dilirik oleh wisatawan. Spot paling populer di Situ Cipanunjang yaitu DAM Cipanunjang serta lokasi latihan atlet kano yang akan berubah menjadi tempat wisata ketika akhir pekan.

Objek wisata kebun teh di area Pangalengan jauh lebih luas dibandingkan dengan yang berada di areal Ciwidey. Terdapat kurang lebih lima pabrik teh besar dengan jenis pengolahan teh yang berbeda di area Pangalengan. Sebut saja pabrik teh Kertasari, pabrik teh Talun Santosa, pabrik teh Malabar, pabrik teh Cukul, dan pabrik teh Ketamanah. Area perkebunan teh yang berada di perbukitan telah menghadirkan Bukit Nini di sekitar area Perkebunan Malabar dan Puncak Giri di area Perkebunan Cukul menjadi tempat tujuan wisata yang hits di Pangalengan. Makam Boscha yang juga berada di area Perkebunan Malabar pun menjadi lokasi wisata yang tidak boleh terlewat.

Area Pangalengan pun erat kaitannya dengan Kawasan Geothermal. Geothermal di Pangalengan berada di sekitar Gunung Wayang dan Gunung Windu, oleh karena itu lebih dikenal sebagai Geothermal Wayang Windu. Keberadaan Geothermal tidak terlepas dengan munculnya mata air panas ke permukaan, oleh karena itu, tidak jauh dari jalur menuju Geothermal Gunung Wayang akan ditemukan pemandian air panas Cibolang. Pemandian air panas Cibolang ini masih berada di area Perkebunan Malabar.

Selain lokasi-lokasi yang sudah disebutkan sebelumnya, yang juga merupakan tujuan wisata yang sudah terkenal semenjak zaman penjajahan Belanda, terdapat juga objek-objek wisata yang baru bermunculan. Kemunculan objek wisata di area Pangalengan kebanyakan merupakan potensi wisata yang kemudian dikelola dan dibenahi sehingga mampu menarik pengunjung. Sebut saja Situ Cisanti yang merupakan hulu Sungai Citarum di daerah Kertasari, penangkaran Rusa di perkebunan Kertamanah, area agrowisata Kopi Malabar dengan danau buatan yang bernama Situ Malabar, serta Puncak Giri (Cukul sunrise point) yang merupakan objek wisata paling baru di area Pangalengan.

Objek wisata lainnya yang tidak kalah hits di area Pangalengan yaitu pusat oleh-oleh dan beberapa tempat makan yang menyajikan makanan khas Sunda di sepanjang jalur Pangalengan – Puntang. Situs budaya pun terdapat di area ini, yaitu Situs Rumah Adat Cikondang yang berada di Desa Lamajang. Bendungan-bendungan yang dimanfaatkan sebagai PLTA pun lebih banyak terdapat di area ini dibandingkan dengan area Ciwidey – Rancabali. Adapun bendungan-bendungan di area Pangalengan antara lain PLTA Cikalong, PLTA Plengan, dan PLTM Cilaki.

Selain lokasi-lokasi wisata yang baru bermunculan dan sudah ramai sejak dulu, masih banyak terdapat lokasi-lokasi wisata yang masih sepi dan alami. Sebut saja Bendungan Syphon, Situ Aul, Situ Cukul, Situ Cicoledas, Situ Talun, Situ Kinceuh, Situ Cimeuhmal, Situ Margaluyu, serta Situ Ninah. Bagi para penggiat dunia pendakian, selain Pegunungan Malabar dengan Punggung Naganya, kini ada juga Bukit Artapela di Gunung Gambunsedaningsih, Datar Anjing, Gunung Wayang, Gunung Rakutak, serta Gunung Kendang. Gunung Windu pun masih merupakan lokasi potensi wisata yang belum dibuka sama sekali.

Pengaruh keberadaan objek wisata
Keberadaan objek-objek wisata yang hits di kedua jalur wisata Ciwidey dan Pangalengan membrikan berbagai dampak bagi daerah sekitarnya. Dampak yang paling terasa yaitu kondisi infrasturktur jalan. Hampir sebagian besar jalan di kedua jalur wisata ini sebelum tahun 2010 kondisinya sangat buruk. Kini, berangsur-angsur jalan utama sudah dibenahi. Pembenahan ada yang dilakukan oleh pihak swasta seperti di area Perkebunan Kertamanah dan Geothermal Wayang Windu di Pangalengan serta kawasan Perkebunan Sinumbra di Rancabali. Pembenahan jalan yang dilakukan oleh pemerintah antara lain jalur Cukul – Talegong – Cisewu hingga Rancabuaya serta jalur Rancabali – Naringgul – hingga Cidaun.

Selain tempat-wisata kuliner, rumah makan dan mini market, serta homestay pun mulai banyak bermunculan. Jika melihat kondisi pariwisata di sekitar Ciwidey dan Pangalengan sebelum tahun 2010, tempat menginap, rumah makan, dan mini market, bahkan warung dan SPBU masih bisa dihitung dengan jari. Kondisi lalu lintas pun sudah pasti terkena dampaknya. Kemacetan dan bus-bus pariwisata berukuran besar kini sudah menjadi pemandangan yang tidak asing di jalur Ciwidey dan Pangalengan. Padahal, dulu, masih bisa dihitung dengan jari.

Dampak perekonomian dan pembenahan di bidang infrastruktur serta akomodasi pun menjadi hal yang tidak luput dari perkembangan industri pariwisata. Sebut saja listrik, air bersih, sarana angkutan umum, serta pengolahan dan pemasaran komoditi lokal. Perkembangan industri pariwisata dan dampak yang dibawanya pada dua daerah ini, hendaknya tetap dalam perhitungan bukan menjadi ajang eksploitasi besar-besaran sehingga malah berganti membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Perlu diketahui, lingkungan alam di sektiar dua kawasan wisata tersebut masih ada yang berstatus hutan primer, cagar alam, perkebunan tetap, serta kawasan resapan air.

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2018 in AIR TERJUN, DANAU, Travelling

 

SITU KABUYUTAN

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di Travelnatic Magazine

Objek Wista Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan lebih banyak dikenal dikalangan para pendaki sebagai salah satu akses pendakian gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ceremai. Dari segi sejarah, Kabupaten Kuningan tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian Linggarjati. Bagi kalangan traveler, Kabupaten Kuningan memiliki beberapa tempat wisata yang instagramable. Sebut saja Taman Purbakala Cipari, Curug Putri dan Ipukan di Kecamatan Cigugur; Talaga Remis, Talaga Cicerem, Talaga Cikalahang, dan Talaga Nilem di Kecamatan Pasawahan; serta objek wisata andalan lainnya.

Hampir seluruh lokasi wisata yang cukup terkenal berada di Kabupaten Kuningan bagian Barat, sementara Kabupaten Kuningan bagian Timur masih jarang yang terekspose. Baru-baru ini mulai bermunculan potensi-potensi wisata di Kabupaten Kuningan bagian Selatan. Beberapa diantaranya adalah Curug Cigalagah dan Tugu Kujang di Kecamatan Cibingbin; Curug Cisuran dan Curug Ngelay di Kecamatan Selajambe; Pemandian Cipanas dan Curug Parakan Panjang di Kecamatan Subang; Curug Payung di Kecamatan Ciniru; Curug Bungawari, Bukit Pasir Panjang, dan Wisata Keramat Puncak Manik (Pangupukan) di Kecamatan Karangkancana; Cadas Gantung dan Curug Winujati di Kecamatan Ciwaru, serta Situ Putat, Situ Kabuyutan, dan Gunung Subang di Kecamatan Cilebak.

Situ Kabuyutan dan Situ Putat

Diantara potensi-potensi wisata yang ada di Kabupaten Kuningan bagian Tenggara dan Timur, terdapat tiga danau alami. Umumnya, danau-danau di Kabupaten Kuningan terdapat di bagian Barat Laut, Barat, dan Barat Daya Kabupaten Kuningan. Lokasi tepatnya di sekitar kaki dan lereng Gunung Ceremai. Berbeda dengan Situ Putat dan Situ Kabuyutan yang berada di sisi Tenggara Kabupaten Kuningan yang tidak memiliki Gunungapi. Sebagai gantinya, Situ Kabuyutan dan Situ Putat dikelilingi oleh jejeran perbukitan. Perbukitan di sekitar Situ Kabuyutan merupakan perbukitan dengan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.

Situ Putat dan Situ Kabuyutan berada di kaki Gunung Subang. Gunung Subang merupakan gunung paling Barat di jejeran perbukitan yang nantinya akan menyatu dengan perbukitan Pasir Panjang. Perbukitan Pasir Panjang sudah termasuk wilayah administrasi Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes. Secara administratif, Situ Kabuyutan dan Situ Putat berada di Desa Legokherang, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Situ Kabuyutan berada pada koordinat 7°09’22.5″S 108°34’31.7″E dan Situ Putat berada pada koordinat 7°09’20.8″S 108°34’26.2″E. Situ Putat dan Situ Kabuyutan merupakan danau alami yang belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai objek wisata.

Akses Menuju Situ Kabuyutan dan Situ Putat Melalui Kecamatan Luragung

Pencapaian menuju Situ Kabuyutan dan Situ Putat cukup mudah. Terdapat dua jalur menuju ke Desa Legokherang. Pertama melalui Kecamatan Luragung. Jalur Luragung merupakan jalur tercepat menuju Desa Legokherang bila datang dari arah Timur Kabupaten Kuningan. Bila datang dari arah Cibingbin, maka patokan pertama yaitu pool bis Luragung yang berada di sisi kanan jalan. Setelah Pool bis Luragung, akan ditemui persimpangan. Ambil kiri pada persimpangan ini melewati Taman Luragung. Setelah Taman Luragung, lurus ikuti jalan menuju Kecamatan Ciwaru.

Ikuti jalan utama hingga memasuki Kecamatan Ciwaru. Kondisi jalan cukup baik, namun tidak selebar jalur utama Luragung – Kuningan. Jalan cukup sepi, dan bila malam minim penerangan. Medan jalan akan terus menanjak ketika memasuki Kecamatan Ciwaru. Memasuki Desa Sumberjaya, Kecamatan Ciwaru, kemiringan tanjakan akan semakin curam. Tanjakan yang harus dilalui pun cukup panjang. Pada beberapa titik, terdapat perpaduan antara tanjakan panjang dan curam disertai tikungan tajam. Perlu berhati-hati terlebih bila berpapasan dengan kendaraan lain karena kondisi lebar jalan yang cukup sempit. Lebar jalan di jalur ini kurang lebih 3,7 meter.

Medan jalan akan semakin sulit ketika memasuki Desa Patala, Kecamatan Cilebak. Tanjakan panjang dan curam akan terus ditemui hingga memasuki kawasan hutan pinus Desa Patala. Kawasan hutan pinus sudah berada di punggungan perbukitan, sehingga medan tanjakan sudah tidak teralalu banyak ditemui. Setelah melewati hutan pinus, medan jalan akan berupa turunan panjang dan curam hingga memasuki alun-alun Kecamatan Cilebak.

Ikuti jalan utama Kecamatan Cilebak (Jalan Nagasirna) hingga tiba di ujung jalan yang berupa pertigaan. Ambil arah kiri di pertigaan ini menuju Jalan Cilebak. Tidak jauh setelah pertigaan, akan ditemui persimpangan jalan. Ambil jalan kecil menanjak ke arah kiri. Kondisi jalan cukup sempit dan perkerasan batu lepas. Tanjakan di jalur ini pun cukup panjang. Ikuti terus jalan utama hingga memasuki Desa Legokherang. Bila ragu, bertanyalah mengenai jalan menuju Situ Kabuyutan di Desa Legokherang. Posisi Situ Putat berada tepat di pinggir jalan desa, sehingga tidak terlalu sulit untuk mencapai area Situ Putat. Sedangkan untuk menuju Situ Kabuyutan, masih diperukan treking selama kurang lebih sepuluh menit melewati jalan setapak.

Akses Menuju Situ Kabuyutan dan Situ Putat Melalui Kecamatan Subang.

Jalur kedua merupakan jalur terpendek menuju Situ Kabuyutan dan Situ Putat bila datang dari arah Barat. Bila datang dari arah Barat, patokan pertama adalah Kantor Desa Rancah. Tidak jauh dari kantor desa Rancah akan ditemui pertigaan. Ambil arah kiri menuju Jalan Pasar Desa Rancah. Ikuti jalan utama hingga memasuki Desa Dadiharja, Kecamatan Rancah. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan dengan patokan sebuah bengkel. Ambil arah kanan di pertigaan ini menuju Jalan Tangkolo Subang. Ikuti jalan utama hingga menyeberangi jembatan yang cukup lebar.

Setelah melewati jembatan, ambil jalan yang mengarah ke kanan. Ikuti jalan utama hingga memasuki pusat Desa Pamulihan, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan. Patokan berikutnya yaitu Masjid Cikoneng. Setelah melewati Masjid Cikoneng, ikuti terus jalan utama hingga memasuki Desa Legokherang. Bila ingin menanyakan arah menuju Situ Kabuyutan, terlebih dahulu tanyakan arah menuju Desa Legokherang. Setelah tiba di Desa Legokherang, barulah tanyakan lokasi Situ Putat dan Situ Kabuyutan.

Mengenal Situ Kabuyutan dan Situ Putat

Situ Kabuyutan dan Situ Putat merupakan danau alami. Air di Situ Kabuyutan dan Situ Putat sangat jernih, bahkan air Situ Kabuyutan berwarna biru tosca. Situ Kabuyutan memiliki luas genangan kurang lebih 0,25 Ha. Situ Kabuyutan berada di bawah kewanangan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Pemanfaatan Situ Kabuyutan hingga saat ini masih sebatas area memancing dan sumber air bagi area sawah di sekitar danau. Area di sekeliling Situ Kabuyutan masih sangat alami. Jalan masuk menuju Situ Kabuyutan pun sedikit tertutup rumput liat yang cukup tinggi.

Bila mengadap ke arah Timur, akan terlihat puncak Gunung Subang dengan hutannya yang masih sangat lebat. Sisi Timur Situ Kabuyutan masih berupa hutan lebat dan langsung berada di kaki Gunung Subang. Berdasarkan cerita di sini. terdapat berbagai hewan liar, seperti Lutung, Surili, tupi, burung dudut, kutilang, burung pipit dan berbagai jenis serangga yang masih terdapat di hutan tersebut. Situ Kabuyutan pun memiliki berbagai jenis ikan. Ikan yang berada di Situ Kabuyutan antara lain Ikan mujair, mas, gabus, udang rawa, remis, dan kijing. Terdapat juga biawak meskipun jarang ditemui. Ukuran ikan di Situ Kabuyutan cukup besar.

Sisi Barat dan Selatan Situ Kabuyutan berbatasan dengan kebun warga. Sisi Utara Situ Kabuyutan berbatasan dengan areal sawah. Lokasi Situ Kabuyutan berada lebih tinggi dibandingkan jalan desa dan Situ Putat. Selama perjalanan treking menuju Situ Kabuyutan akan terlihat pemandangan perbukitan di sisi Barat Desa Legokherang. Jalan masuk menuju Situ Kabuyutan berada di sisi Selatan. Lokasi Situ Kabuyutan tidak terlalu jauh dari beberapa rumah warga. Pengunjung yang membutuhkan sesuatu dapat dengan mudah meminta bantuan pada warga. Pengunjung yang datang ke Situ Kabuyutan sebaiknya membawa logistik sendiri.

Awalnya, tidak ada warga yang berani memasuki area Situ Kabuyutan karena lebatnya pepohonan tua dan besar di sekeliling danau. Namun, atas usulan dari pemerintah Desa Legokherang ke Dinas Pariwisata, dilakukanlah pembukaan area Situ Kabuyutan. Sebelum dilakukan pembukaan lahan di sekitar danau, air Situ Kabuyutan semula berwarna hitam. Hal ini karena area tersebut tidak terkena sinar matahari. Setelah dilakukan pembukaan lahan, air di Situ Kabuyutan mulai berbah menjadi biru tosca. Dilakukan juga pembangunan pintu air untuk mengatur pengairan ke area sawah dan kebun warga serta penembokan pinggiran danau.

Berbeda dengan Situ Kabuyutan, Situ Putat masih belum mendapatkan perhatian sebagai objek wisata. Situ Putat hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai tempat memancing dan sumber pengairan bagi lahan persawahan. Untuk mendekati areal Situ Putat, pengunjung harus menyusuri pematang sawah sejauh kurang lebih 70 m. Pematang sawah yang harus dilalui tidak terlalu sulit dengan jarak antar pematang sawah tidak terlalu tinggi. Luas genangan Situ Putat kurang lebih sekitar 0,29 Ha. Area di sekitar Siut Putat belum diberi dinding seperti Situ Kabuyutan. Areanya pun lebih terbuka karena berada di tengah area sawah. Berbeda dengan area Situ Kabuyutan yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar dan tua.

Situ Putat dan Situ Kabuyutan merupakan danau alami yang terbentuk akibat adanya sesar. Seperti yang disebutkan situs milik ESDM, struktur geologi di daerah ini terjadi akibat deformasi seperti patahan/sesar naik dan lipatan antiklin (fold) terdapat di bagian Barat daerah ini. Berdasarkan Peta geologi Lembar Majenang, Jawa, Puslitbang Geologi (Irwan Bahar, 1995), lokasi ini merupakan bagian dari satuan batuan Formasi Halang (Tmph). Situ Kabuyutan dan Situ Putat cocok dikunjungi pada perlaihan musim hujan menuju kemarau atau di awal musim kemarau. Hal ini mengingat kondisi jalan menuju Desa Legokherang yang belum semuanya mulus. Selain itu, Desa Legokherang termasuk salah satu desa di Kecamatan Cilebak yang rawan akan gerakan tanah serta longsor.

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2018 in DANAU, Travelling

 

EKSPLORE BONDOWOSO

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Website Travelnatic Magazine. Bondowoso merupakan satu kota kecil yang berada di Jawa Timur. Kota ini berbatasan langsung dengan Jember, Banyuwangi, Situbondo, dan Besuki. Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu kabupaten yang tidak memiliki wilayah laut (terkurung daratan) dan terletak di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.

Sebelum bercerita mengenai lokasi yang dikunjungi, ada baiknya kita sedikit berkenalan dengan perjalanan kemunculan objek-objek wisata di Kabupaten Bondowoso. Meskipun berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi yang sudah cukup dikenal sebagai tujuan wisata utama di Timur Pulau Jawa, namun, tidak halnya dengan Bondowoso. Jangankan sebaran dan nama-nama objek wisata di Bondowoso, letak Bondowoso pun masih banyak yang tidak tahu. Padahal, kenyataannya, Kabupaten Bondowoso memiliki objek wisata yang cukup lengkap dan tersebar di seluruh wilayahnya.

Setahun kebelakang, tepatnya 2017, mulai muncul Kawah Wurung yang turut meramaikan daftar objek wisata yang wajib di kunjungi di Indonesia. Hal ini secara langsung mengangkat nama Bondowoso di kalangan para traveler. Padahal, jauh sebelum hitsnya Kawah Wurung, sudah ada Air Terjun Belawan dan Niagara Mini yang pertama kali muncul sekitar tahun 2011 (atau bahkan sebelum itu). Satu-satunya andalan dan icon wisata sebelum Kawah Wurung yaitu Pegunungan Hyang dengan Gunung Argopuro dan Danau Taman Hidupnya.  Kemunculan objek wisata Kawah Wurung dan Kawah Ilalang inilah yang pada akhirnya mendorong salah satu admin Travelnatic untuk berkunjung ke Bondowoso.

Tepat akhir Februari 2018, perjalanan menuju Bondowoso pun dimulai. Perjalanan berawal dari Bandung menggunakan kereta api tujuan Jember dengan sebelumnya transit dulu di Surabaya. Dari Jember, perjalanan menuju Bondowoso akan ditempuh dengan sepeda motor selama satu jam. Sebelum berangkat, informasi mengenai rute, letak objek wisata sudah dikumpulkan terlebih dahulu. Sampai akhirnya mendapatan kontak R-Jek nya Relawan Muda Bondowoso. Rekan dari R-Jek inilah yang akan menemani saya selama dua hari keliling Bondowoso. Mas Zen namanya. Tepat pukul 13.00 WIB, sudah siap menjemput di Stasiun Jember. Perjalanan lalu dilanjutkan menuju Bondowoso selama satu jam.

Untuk berkunjung ke Bondowoso, terdapat beberapa pilihan rute, diantaranya melalui pesawat dari Bandung menuju Jember dengan transit di Surabaya. Pilihan kedua menggunakan kereta api menuju Surabaya, lalu dilanjutkan menuju Jember. Pilihan ketiga menggunakan kereta api hingga Surabaya, lalu bus menuju Jember Pilihan keempat, menggunakan bus menuju Surabaya, lalu ganti bus jurusan Jember di Surabaya. Untuk menuju Bondowoso dari Jember, kita dapat menggunakan bus antar kota dari Terminal Jember menuju Terminal Bondowoso. Atau, jika tidak ingin repot, bisa langsung menyewa ELF dari Surabaya atau Jember langsung menuju lokasi tujuan.

Jika menyewa ELF dari Surabaya atau Jember, sebaiknya perjalanan dilakukan secara rombongan agar pembagian biaya bisa lebih ringan. kitapun bisa juga menggunakan jasa R-Jek dari Komunitas Relawan Muda Bondowoso jika tidak ingin repot atau hanya bepergian sendiri/dalam jumlah rombongan sedikit.

Untuk masalah akomodasi di Bondowoso, terdapat beberapa pilihan. Pertama dengan menginap di hotel-hotel yang ada di Bondowoso. Namun, karena belum seramai kota lainnya, maka ketersediaan hotel di beberapa situs penyedia jasa pemesanan online cukup terbatas. Sebaiknya mencari setiba di lokasi agar lebih banyak pilihan harga. Kedua, langsung menyewa homestay/guesthouse di Sempol. Jika mengambil pilihan kedua, berarti, setiba di Jember sudah harus langsung mencarter mobil atau akomodasi lainnya hingga ke Sempol. Waktu tempuh antara Kota Jember – Kota Bondowoso – Kecamatan Sempol kurang lebih tiga jam. Pilihan ketiga, bisa dengan menumpang di Basecamp milik Komunitas Relawan Muda Bondowoso yang berlokasi sedikit di pinggiran kota Bondowoso, dan yang terpenting, gratis.

Kembali ke cerita perjalanan. Setiba di Bondowoso, kami berdua langsung menuju base camp. Sore ini, base camp sepi karena hampir semua anggota memang sedang ada keperluan masing-masing. Bahkan. Kedatangan saya bertepatan dengan persiapan Mubes Komunitas Relawan Muda Bondowoso di tempat lain. Sore ini, saya hanya bertemu dengan bapak dan ibu nya Komunitas RMB, dan satu orang teman RMB. Berhubung sudah sore dan ada satu tempat yang ingin langsung saya kunjungi. Saya dan mas Zen pun tidak berlama-lama di basecamp. Kami pun pamitan dengan ibu. Tujuan kami di sore yang mendung ini adalah Tancak Kembar yang berada di salah satu kaki Pegunungan Hyang.

Tancak Jomblo dan Tancak Kembar

Perjalanan dari basecamp menuju Tancak Kembar hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk jarak 23 Km. Perjalanan cukup lancar, kurang dari satu jam kami sudah tiba di Tancak Jomblo. Meskipun hari Minggu, namun sepanjang perjalanan menuju Tancak Jomblo dan di lokasi Tancak Jomblo pun tidak ada pengunjung lain yang kami temui. Jalan yang harus dilalui akan memasuki area milik perkebunan. Jalan di perkebunan inilah yang tersulit. Jalan desa Andungsari yang berbatu dan terus menanjak akan berakhir di gapura milik PTPN.

Dari sini, jalan yang harus dilalui hanya disarankan untuk sepeda motor saja, Jalan merupakan jalan tanah kurang lebih sepanjang 2,5 Km yang hanya cukup untuk dua sepeda motor berpapasan. Sisi kanan jalan merupakan tebing yang rawan longsor, sedangkan di sisi kiri jalan merupakan jurang yang sangat dalam. Bila musim hujan, jalan akan dipenuhi oleh lumpur dan rumput basah, sangat licin. Meskipun kondisi jalan relatif datar, tetapi jalur akan terus menyusuri tepian jurang.

Tancak Jomblo berada tepat di sisi jalan, sehingga kita tidak perlu susah payah treking. Tancak Jomblo ini merupakan air terjun non permanen, artinya pada musim kemarau akan kering total. Perjalanan kami lanjutkan menuju Tancak Kembar yang hanya tinggal 1 Km lagi dari lokasi Tancak Jomblo. Ujung jalan yang kami lalui merupakan area parkir objek wisata Tancak Kembar. Sudah ada pos penjagaan dan semacan toilet yang saat kami datang dalam keadaan terkunci. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 500 meter. Jalan menuju lokasi Tancak Kembar sudah dikelola, jadi pengunjung hanya tinggal mengikuti jalan setapak dari area pakir

Tibalah kami di area utama Tancak Kembar. Dua buah air terjun dengan air yang sangat jernih dan dan sangat dingin menyambut kami berdua. Pada saat kami tiba, volume jatuhan kedua aliran Tancak Kembar sedang besar. Jika kemarau, air terjun di sisi kiri akan sangat kecil volume jatuhannya, bahkan kering. Tidak demikian dengan air terjun di sisi kanan. Pada kemarau pun masih tetap ada airnya, meskipun kecil. Sudah tersedia beberapa saung untuk pengunjung di area ini. Saat kami tiba, tidak ada pengunjung lain selain admin dan mas Zen.

Kondisi ketika kami tiba sudah gerimis dari kabut, sehingga cukup sulit mengambil foto tanpa lensa yang berembun. Langit pun sudah sedikit gelap, kelabu oleh awan mendung, sehingga foto-foto yang saya ambil rasanya kurang greget. Berhubung sudah hampir pukul 17.30 WIB, kami berdua memutuskan untuk segera kembali. Jika hujan turun lagi, jalan yang kami lalui tadi akan semakin sulit. Selain itu, kami juga menghindari kemalaman di jalan Perkebunan Andungsari yang berbatas jurang dalam itu.

Tancak Kembar merupakan objek wisata air terjun andalah Bondowoso setelah Air Terjun Belawan yang lebih dulu tenar beberapa tahun lalu. Tancak Kembar yang terletak di lereng Gunung Argopuro pun tidak luput dari cerita Dewi Rengganis. Konon, Tancak Kembar merupakan tempat mandinya Dewi Rengganis. Dari sinilah mitos yang mengatakan jika kita membasuh muka dengan aliran Tancak Kembar akan awet muda.

Aliran Tancak Kembar di sisi kanan berasal dari Danau Taman Hidup di Gunung Argopuro, sedangkan aliran di sisi kiri, memiliki sumber aliran dari sungai-sungai kecil di atas tebing. Inilah salah satu sebabnya mengapa aliran Tancak Kembar sangat dingin dan jernih, juga kenapa hanya satu aliran jatuhan yang akan kering ketika musim kemarau. Berdasarkan salah satu sumber, ketinggian Tancak Kembar kurang lebih 77 M. Hutan yang ada di sekitar Tancak Kembar, merupakan kawasan Hutan Lindung dan berada pada ketinggian 900 mdpl.

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan mampir sebentar di Tancak Jomblo sebelum kabut tebal menutup total pemandangan di sekitar jalan perkebunan. Kami mulai jalan kembali sekitar pukul 18.19 WIB. Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Tidak terasa, kami sudah kembali menjejal jalanan Desa Andungsari yang berbatu. Kemudian berganti menjadi aspal mulus, hingga tiba kembali di persimpangan dengan jalan Raya Situbondo. Kami mampir kembali di basecamp untuk beritirahat dan makan malam.

Rencana hari kedua di Bondowoso, kami akan mengeksplore beberapa wisata andalan Bondowoso di sekitar Pegunungan Ijen. Kurang lebih ada enam lokasi. Perencanaan yang matang pun pada akhirnya harus diolah kembali ketika menghdapi situasi tak terduga. Hujan lebat dengan durasi cukup lama memang sedang sering mengguyur Bondowoso dan sekitarnya. Rupanya, Bondowoso sedang berada pada puncak musim hujan.

Kawah Wurung dan Jabal Kirmit

Rencana kami untuk berangkat pukul 05.00 WIB pun tinggal wacana. Nyatanya, kami baru tiba di basecamp sekitar pukul 06.00 WIB. Kami hanya sebentar di basecamp. Hanya sekedar menitipkan pakaian dan barang-barang yang tidak terlalu perlu dibawa untuk perjalanan kali ini. Kawah Ilalang merupakan tujuan utama kami. Dalam sebuah referensi, disebutkan bahwa diperlukan treking sekitar 45 menit menanjak ke atas bukit dan 30 menit melewati jalan untuk motor yang penuh pasir dan lumpur. Inilah alasan kenapa kami seharusnya sudah berangkat sedari 04.30 WIB. Selain itu, akhir Februari merupakan puncak musim hujan di Bondowoso. Bahkan pagi hari pun sudah turun hujan.

Setelah hari pertama kami mengeksplore di sekitar Pegunungan Hyang, hari kedua ini, kami menuju arah Pegunungan Ijen. Tanpa sarapan dan tanpa perbekalan logistik, kami pun melintasi Jalan Kawah Ijen. Senin pagi, hanya ada motor yang kami kendarai di jalan aspal mulus yang membelah ladang tebu. Cuaca cukup cerah, dari basecamp terlihat jelas Pegunungan Hyang di Barat dan Pegunugan di daerah Kecamatan Kretek di Utara. Tepat di persimpangan dengan jalur menuju Sumber Wringin, salah satu jalur pendakian Gunung Raung, kami berhenti sejenak membeli makanan ringan dan minuman. Satu jam kemudian, kami memasuki area perkebunan. Kami hampir sampai di Sempol.

Rencana kami untuk sarapan di Sempol pun kami urungkan. Berhubung kami sudah terlambat, kami memutuskan untuk memakan makanan ringan yang kami beli sebelumnya di lokasi saja. Siang nanti baru kami akan makan makanan berat. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju Kawah Wurung. Kawah Ilalang yang menjadi tujuan utama pun kini hanya menjadi cadangan. Sebenarnya, dari segi pemandangan, Kawah Ilalang lebih direkomendasikan. Terlebih, Kawah Ilalang letaknya lebih tinggi dari Kawah Wurung dan belum komersil, masih alami.

Langit biru dengan sedikit saja awan putih menyambut kami di Kawah Wurung. Pemandangan ke arah Situbondo dari celah-celah tebing pegunungan pun nampak jelas. Gunung Ranti terlihat jelas, sementara di sisi kirinya, puncak Gunung Ijen dan Merapi mulai tertutup awan. Di sisi lainnya, puncak Gunung Suket dan Gunung Raung tetap murung tertutup awan hujan. Kami memutuskan untuk ke sisi Tenggara Kawah Wurung. Spot disini lebih sempit, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan bukit yang memiliki tulisan “Kawah Wurung”.

Tidak ada pengunjung lain selain saya dan mas Zen. Kami cukup beruntung kata mas Zen, karena ketika kami tiba di Kawah Wurung ini pada pukul 10.12 WIB, langit masih biru dan hanya ada sedikit awan putih. Berbeda dengan beberapa hari lalu yang ketika mas Zen tiba di Kawah Wurung dengan waktu yang sama, hujan lebat sudah turun. Puas mengambil foto, mas Zen menawarkan untuk turun ke savana di bawah kami, namun segera tawaran tersebut saya tolak. Akhirnya mas Zen mengajak ke Bukit Jabal Kirimit, salah satu objek wisata dari enam objek wisata di area Kawah Wurung.

Jalan yang kami ambil pertama-tama berada di pinggiran jurang dan hanya selebar ban motor. Salah manuver sedikit, bisa-bisa kami meluncur bebas ke savana di bawah kami. Untungnya, hanya sekitar 500 m, kami kembali ke jalan utama yang menghubungkan area utama Kawah Wurung dengan Jampit. Jalan yang kami harus lewati sekarang pun cukup sulit. Pasir lepas dan lubang besar yang menganga akibat gerusan air hujan harus kami lalui. Tepat jam 11.00 WIB kami tiba di Bukit Jabal Kirmit.

Karena keterbatasan waktu, kami tidak sampai mendaki ke puncak Bukit Jabal Kirimit. Menurut Mas Zen, puncak Jabal Kirmit akan ramai oleh pengunjung yang melaksanakan upacara 17-an. Selain itu, di balik Bukit Jabal Kirmit, terdapat satu rumah mewah milik sesepuh yang membuka area ini. Uniknya rumah yang bisa dibilang mewah ini sudah kosong berpuluh-puluh tahun. Tidak ada yang berani menempati. Para ahli warisnya pun tidak diceritakan. Kami berjalan sedikit ke area yang lebih terbuka untuk beristirahat dan memakan makanan ringan kami. Perut mulai terasa lapar.

Kami berhenti di sebuah area terbuka yang dibatasi oleh jalan utama yang masih berupa jalan pasir dan Bukit Jabal Kirmit di seberang kami. Jika kami terus mengikuti jalan utama yang berpasir ini kami akan tiba di Jampit yang terkenal akan Guest House yang sudah ada sejak 1928 dan masih digunakan hingga saat ini. Kalau saja, Gunung Suket dan Gunung Raung tidak tertutup awan hujan yang makin menghitam, kami mungkin akan nekat terus jalan hingga Jampit. Namun, posisi Gunung Raung dan Gunung Suket yang sebenarnya tepat berada di hadapan kami makin menghilang oleh awan hujan yang semakin menghitam.

Hanya satu jam kami duduk sambil mengobrol dan menikmati makanan ringan kami di Jabal Kirmit ini. Kami memutuskan untuk kembali ke Sempol karena mendung semakin mendekat ke arah kami. Beberapa rencana awal pun kembali berubah. Berhubung jalur menuju Air Terjun Gentongan cukup sulit dan dikhawatirkan hujan deras turun selepas siang, maka Air Terjun Gentongan pun kami ganti dengan Air Terjun Belawan. Air Terjun dari Bondowoso yang paling pertama populer. Curah Penai dan Bukit Apet-Lepet yang tadinya ingin saya kunjungi pun terpaksa ditunda untuk lain kali.

Kami mulai melahap kembali jalanan berpasir dan berlubang dalam dimana-mana ini, berharap hujan tidak segera turun. Kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto di area parkir utama Kawah Wurung. Kali ini, hanya terlihat pucak Kawah Ilalang yang mulai tertutup kabut tebal. Pemandangan lainnya yang saya lihat jelas tadi pagi, kini semuanya putih tertutup kabut tebal.

 AIR TERJUN BELAWAN DAN NIAGARA MINI

Kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Belawan dan Niagara Mini di sisi lain Kecamatan Sempol. Perjalanan cukup lancar hingga tiba tepat di hadapan Air Terjun Belawan, Sebelum tiba di lokasi Air Terjun Belawan, akan terlebih dahulu melewati Air Terjun Niagara Mini yang letaknya tepat di pinggir jalan utama. Lagi-lagi tidak ada pengunjung lain selain kami berdua.

Suasana di sekitar lokasi utama Air Terjun Belawan cukup membuat saya sedikit tidak nyaman. Entah karena awan mendung yang makin menghitam, suara petir di kejauhan yang tidak berhenti, tebing-tebing dengan tetesan air yang suram, atau air terjun Belawan sendiri yang kala itu volume airnya sangat-sangat besar. Sampai sedikit pusing jika terus-terusan melihat ke arah jatuhan airnya. Sesekali, cuaca menjadi cerah, namun kembali mendung, hingga akhirnya kali ini sama sekali tidak ada sinar matahari lagi. Kami memutuskan untuk kembali ke parkiran motor. Untuk sampai di parkiran motor, pengunjung harus berjalan kaki menanjak melewati anak tangga. Waktu yang diperlukan cukup 5-10 menit saja.

Tujuan terakhir kami di Sempol adalah Niagara Mini. Berhubung hanya perlu waktu lima menit berjalan kaki saja, kali ini mas Zen tidak ikut menemani. Mas Zen menjaga motor yang diparkirkan di pinggir jalan desa. Dari lokasi menyimpan motor pun, air terjunnya sudah terlihat. Tetapi, spot yang cocok untuk mengambil gambar Air terjun Niagara Mini ini memang harus sedikit ke bawah lagi. Saya tidak berlama-lama disini karena gerimis sudah mulai turun. Segera kami memakai jas hujan karena diperkirakan di pusat kota Kecamatan Sempol hujan deras sudah turun.

Benar saja, tidak lama setelah melewati persimpangan ke arah Kawah Wurung, hujan deras turun tanpa basa-basi. Kami berhenti di satu rumah makan di Sempol. Saya memesan nasi goreng dan mas Zen memesan nasi pecel. Akhirnya kami mengisi perut juga dengan makanan berat ditemani hujan deras. Kami cukup beruntung karena sudah semua tempat yang ingin kami datangi sudah berhasil didatangi tanpa terpotong hujan. Hujan deras cukup lama, bahkan tidak terasa sudah hampir pukul 15.00 WIB. Mas Zen mengajak untuk menerobos hujan, karena hujan disini biasanya baru reda malam hari.

Sebenarnya masih terpikirkan untuk mengunjungi Batu Solor sore ini. Namun, tidak memaksa, karena lokasinya yang berada jauh di Utara Bondowoso. Hujan baru benar-benar reda ketika kami tiba di persimpangan dengan arah ke Sumber Wringin. Batu Solor pun menjadi tujuan berikutnya. Meskipun sudah terlalu sore, tetapi masih berharap sempat menikmati sunset disana. Batu Solor memang terkenal sebagai salah satu spot sunset terbaik di Bondowoso. Sekitar pukul 16.30 WIB, kami tiba di persimpangan dengan jalan utama Bondowoso – Situbondo. Mas Zen menelepon temannya yang rumahnya berada di dekat Batu Solor.

Sayangnya, memang kali ini belum berkesempatan mengunjungi Batu Solor, ternyata disana sedan hujan deras, bahkan lengkap dengan petir dan angin sedari siang tadi. Sambil mencari lagi kira-kira tempat mana yang bisa dikunjungi sesore ini, mulai dari Bendungan Sampean sampai yang kearah Barat Bondowoso. Tetap tidak terkejar, ditambah sepertinya hujan dimana-mana. Akhirnya kami mengakhiri jalan-jalan kali ini di Bondowoso karena malam nanti harus segera kembali ke Jember dan meneruskan perjalanan pulang. Kami pun melaju menuju basecamp dengan basah kuyup.

Barulah malam hari, admin melihat sebuah buku katalog untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke Bondowoso dengan menggunakan jasa R-Jek. Katalognya cukup lengkap, mulai dari wisata buatan, wisata keluarga, wisata sejarah, wisata minat khusus, wisata alam yang sedikit harus blusukan, wisata budaya, bahkan beberapa peninggalan megalitikum yang masih luput dari sorotan dunia pariwisata nasional. Dari beberapa tempat wisata yang ada di buku katalog, admin merekomendasikan Bendungan Sampean 2, Tancak Sulaiman, Batu Solor, Situs Pekauman, Goa Arak-arak, Situs Beto Labeng, Situs Goa Buto Cermee, dan Situs Goa Buto Sumber Wringin. Oh ya, buku katalog ini milik teman-teman RMB dan disimpan di basecamp RMB. Jadi, kalau penasaran, sebaiknya segera rencanakan perjalanan untuk mengeksplore Bondowoso dan sekitarnya. Atau bisa juga cari referensi dulu disini.

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2018 in AIR TERJUN, Travelling