RSS

Monthly Archives: January 2018

CURUG ARJUNA

 

Secara administratif, Curug Arjuna berada di Kampung Cikopo, Desa Panawa, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°22’29.2″S 107°41’01.7″E. Aliran utama Curug Arjuna berasal dari Sungai Ciarjuna. Aliran jatuhan lainnya berasal dari aliran sungai-sungai kecil dan rembesan air dari akar dan dinding batuan di sekitar area Curug Arjuna.

Lokasi Curug Arjuna berada satu kawasan dengan areal PLTMh Cikopo 2. Jalur yang dilalui pun merupakan jalur yang dibuka untuk kepentingan operasional PLTMh Cikopo 2. Lokasi Curug Arjuna berada di dasar lembah yang dikelilingi tebing-tebing dan hutan yang masih sangat alami. Bila musim hujan, akan banyak tetesan bahkan aliran air rembesan dari tebing-tebing di sekeliling lembah.

Secara umum, pencapaian menuju Curug Arjuna cukup mudah, hanya tinggal mengikuti jalan utama dan hampir tidak terdapat percabangan. Kendala yang ada hanyalah kondisi jalan di area Perkebunan PTPN VIII Papandayan hingga lokasi parkir sejauh 15, 2 Km berupa jalan makadam.

Garut – Cikandang – Panawa

Arahkan kendaraan menuju Cikajang dari Garut kota. Setelah tiba di Cikajang, patokan pertama adalah pertigaan Papanggungan. Pertigaan Papanggungan merupakan persimpangan dari arah Kota Garut menuju Kecamatan Bungbulang dengan yang menuju Kecamatan Cikajang dan Kecamatan Cisompet. Ambil arah kanan menuju Cikandang pada pertigaan Papanggungan ini. Ikuti terus jalan utama hingga patokan berikutnya, yaitu Kawasan Kostrad di Desa Cikandang.

Patokan berikutnya yaitu gerbang masuk menuju objek wisata Curug Orok yang berada pada koordinat -7.382644, 107.735226. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan dengan jalur menuju area Perkebunan Papandayan pada koordinat -7.379239, 107.726241. Kondisi jalan hingga persimpangan dengan gerbang masuk Perkebunan Papandayan sudah sangat baik. Jalur ini merupakan jalur utama dari Kota Garut menuju Kecamatan Bungbulang. Arus lalu lintas cukup padat dari pagi hingga sore hari dan didominasi oleh sepeda motor dan ELF.

Untuk menuju Desa Panawa, ambil jalan menuju kebun Papandayan. Setelah melewati gerbang, akan ditemui percabangan, ambil arah kanan. Kondisi jalan dari gerbang Papandayan sudah berupa makadam. Ikuti terus jalur utama. Akan ditemui beberapa percabangan sepanjang jalur, tetap ikuti jalan utama. Jika menggunakan kendaraan umum, terdapat ELF jurusan Cikajang – Panawa yang beroperasi hanya pagi hari dari Desa Panawa dan dari Cikajang.

Medan jalan yang dilalui sepanjang jalur Perkebunan Papandayan didominasi medan landau. Pada beberapa titik terdapat tanjakan dan turunan yang cukup panjang, tetapi masih landai. Jalur kebun Papandayan akan mengelilingi perbukitan, sehingga bahan bakar dan kondisi motor harus diperhitungkan secara matang. Jarak antar permukiman sangat jauh, bahkan hanya akan ditemui dua permukiman yang cukup ramai sebelum memasuki Desa Panawa dengan jarak yang cukup berjauhan.

Setelah tiba di Desa Panawa, tepat di gapura desa, ikuti jalan yang terdapat gapura Desa Panawa. Ikuti terus jalan desa hingga melewati pintu gerbang PLTMh Cikopo 2. Tidak jauh setelah pintu gerbang, akan ditemui percabangan antara jalan desa dengan jalan makadam. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.372795, 107.674555. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan hingga tiba di pos penjagaan.

Pengunjung hanya akan dapat membawa kendaraan hingga pos penjagaan ini, selebihnya perjalanan akan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Hal ini salah satu upaya untuk meminimalisir kecelakaan dan untuk kelancaran mobilitas kendaraan PLTMh. Jalur treking pun terbagi menjadi dua pilihan. Pertama terus mengikuti jalan yang sudah dibangun oleh PLTMh sekaligus jalur mobilitas kendaraan PLTMh. Kedua, melalui tangga pipa air.

Kondisi jalur treking sudah cukup baik karena merupakan jalur terbangun (bukan jalan setapak tanah ataupun tebing curam), tetapi medannya sangat curam. Bila menuju Curug Arjuna, medan yang ditempuh merupakan turunan panjang yang sangat curam. Jarak jalur treking bila diukur dari persimpangan gerbang PLTMh hingga tepat di depan Curug Arjuna adalah kurang lebih sejauh 1,48 Km. Tepat diujung jalur treking, akan terdapat dua percabangan. Satu percabangan di sebelah kanan merupakan jalan masuk menuju gedung PLTMh Cikopo2 dan jalur di sebelah kiri merupakan jalan menuju areal Curug Arjuna.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta dari Cikajang hingga Desa Panawa kurang lebih 29,2 Km dalam waktu kurang lebih dua jam. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta dari pos penjagaan PLTMh hingga areal Curug Arjuna sejauh 1, 48 Km dalam waktu kurang lebih dua puluh menit untuk turun menuju Curug Arjuna dan satu jam untuk naik dari area Curug Arjuna menuju pos penjagaan.

 

Panawa – Pakenjeng – Cikandang

Jalur lainnya yang dapat dilalui selain jalur Kebun Papandayan bila dari arah Desa Panawa yaitu Jalur Pakenjeng. Jalur ini merupakan jalur terpendek dari dan menuju Desa Panawa, namun medannya jauh lebih sulit dibandingkan jalur Kebun Papandayan. Jalur Pakenjeng selain lebih sulit, medan dan kondisi jalannya pun lebih berbahaya, terutama ketika musim hujan. Jalur ini merupakan jalur potong kompas dan menerabang lembahan serta hutan lebat dari dua bukit yang berhadapan.

Jalan masuk menuju jalur ini cukup mengikuti jalan desa hingga tiba di gerbang PLTMh Cikopo 2 kemudian ikuti jalan utama (jangan berbelok ke arah pos penjagaan). Jalur yang dilalui akan berupa jalan rabat beton, jalana setapak, makadam, serta jalur longsor. Medan jalan pada mulanya akan didominasi oleh turunan panjang dengan kondisi jalan yang sangat buruk. Setelah melewati Desa Panawa, tidak akan ditemui lagi permukiman/perkampungan ramai di jalur ini hingga memasuki Desa Garumukti.

Jalur ini akan memasuki hutan lebat dan jalur akan berada melipir jurang. Kondisi jalur yang dilewati di dalam hutan semuanya adalah jalan tanah. Jalur di dalam hutan sebagian besar merupakan jalur yang melipir jurang. Jurang di jalur ini berjaarak cukup dalam dari jalan. Makadam hanya ditemukan ketika memasuki permukiman. Jalur tanah pun hanya berupa gundukan tanah akibat logsor yang dipadatkan. Menjelang sore hari, kabut cukup tebal akan turun di jalur ini.

Jalur dari Desa Panawa hingga Desa Garumukti hanya merupakan jalur tunggal, sehingga cukup ikuti terus jalan hingga memasuki perkampungan besar pertama (Desa Garumukti). Setiba di Desa Garumukti, patokan pertama yaitu Kantor Desa Garumukti. Ikuti jalan utama hingga jalan menyeberangi aliran sungai yang cukup besar. Patokan berikutnya yaitu Kantor Desa Pakenjeng.

Tidak jauh dari Kantor Desa Pakenjeng, akan ditemui persimpangan yang terletak pada koordinat -7.412492, 107.691186. Ambil kiri pada koordinat ini menuju patokan berikutnya, yaitu Kantor Kecamatan Pamulihan. Persimpangan ini merupakan persimpangan menuju lokasi Curug Cipakenjeng dan Curug Sanghyang Taraje di Kampung Kombongan. Kondisi jalur sudah mulai membaik ketika memasuki Desa Garumukti.

Selepas Kantor Kecamatan Pamulihan, jalan akan kembali memasuki area Kebun Papandayan. Jalan cukup sempit dan akan berada di ujung tebing serta berkelok-kelok. Bila cuaca cerah, pemandangan di jalur ini sayang bila dilewatkan untuk diabadikan. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di Desa Pananjung (Cisandaan). Jalur akan berujung di belakang Pasar Cisandaan dan bertemu kembali dengan jalur utama Cikajang – Bungbulang tepat pada koordinat -7.396505, 107.720565.

Ambil arah kiri pada persimpangan ini untuk kembali menuju Cikajang. Jarak dan waktu tempuh jalur ini sesuai pembacaan pada peta adalah sejauh 17 Km dalam waktu kurang lebih 53 menit. Jika hujan atau memulai perjalanan dari Desa Panawa lebih dari jam 16.00 WIB, sebaiknya kembali ke jalur Kebun Papandayan untuk kembali ke Cikajang.

Area di sekitar Curug Arjuna sangat luas dan dikelilingi oleh dinding tebing. Sebelum tiba tepat di depan Curug Arjuna, pengunjung akan terlebih dahulu harus menyeberangi aliran Ci Arjuna dan danau kecil yang terbendung secara alami dari aliran Ci Arjuna yang terpisah dari sistem sungai. Aliran air sangat jernih dan bersuhu cukup dingin. Curug Arjuna merupakan air terjun permanen. Seluruh aliran jatuhan Curug Arjuna akan tetap jernih meskipun musim hujan, dan pada musim kemarau, airnya tidak akan kering sama sekali.

Secara keseluruhan, Curug Arjuna dapat diklasifikasikan ke dalam tipe Paralel Waterfall. Hal ini terlihat cukup jelas karena tiga aliran jatuhan ini memiliki sumber aliran yang berbeda. Ketiga aliran jatuhan ini sekilas memang terlihat berasal dari sumber yang sama karena jarak antar jatuhannya berdekatan.

Aliran jatuhan utama Curug Arjuna merupakan aliran jatuhan paling kanan bila menghadap Curug Arjuna. Aliran paling kanan ini memiliki volume jatuhan yang paling besar dan paling stabil. Aliran jatuhan paling kanan memiliki klasifikasi dominan Tiered Waterfall. Klasifikasi lain yang muncul ketika musim kemarau yaitu Horsetail Waterfall karena aliran jatuhannya akan terus menempel pada dinding air terjun selama proses jatuhan.

Aliran jatuhan paling kanan akan jatuh ke dalam kolam kecil, lalu kembali bergabung kedalam sistem Sungai Ciarjuna dan akan langsung bergabung dengan aliran Sungai Cibutarua tepat di samping area PLTMh Cikopo 2. Gabungan dari aliran Ci Arjuna dengan Ci Butarua ini kemudian akan bertemu dengan aliran Sungai Cikandang di Kampung Kombongan Hilir dan kemudian menyatu menjadi Sungai Cikandang.

Aliran jatuhan yang paling tengah merupakan aliran jatuhan dengan volume yang paling kecil. Ketika musim hujan, aliran jatuhannya akan langsung jatuh ke tanah karena belum memiliki kolam. Bila musim kemarau, aliran jatuhan paling tengah nyaris kering. Tanah bekas aliran jatuhannya akan sangat lembek dan berlumpur bila musim hujan.

Bila musim hujan, pengunjung dapat masuk ke balik aliran jatuhan paling tengah, karena dinding air terjun sedikit menjorok ke dalam sehingga aliran jatuhan paling bawah akan terlihat menggantung. Aliran jatuhan paling tengah dapat diklasifikasikan ke dalam tipe Horsetail Waterfall. Air dari aliran jatuhan akan menyebar ke tanah di sekeliling tebing dan diserap kembali. Aliran jatuhan paling kiri bila menghadap air terjun merupakan aliran jatuhan dengan volume yang sedang.

Secara keseluruhan, bentuk jatuhan aliran paling kiri cukup mirip dengan aliran jatuhan paling tengah dengan volume yang lebih besar. Secara keseluruhan aliran jatuhan paling kiri dapat diklasifikasikan ke dalam tipe Horsetail Waterfall. Aliran jatuhan paling kiri akan langsung masuk ke dalam sistem sungai kecil dan akan masuk ke dalam danau di area Curug Arjuna. Sistem sungai ini cukup dangkal dengan aliran yang cukup tenang.

Pada musim hujan, akan terdapat aliran minor tepat di samping kanan dan kiri aliran jatuhan paling kanan dan aliran minor diantara aliran tengah dengan aliran paling kiri. Pada musim kemarau, aliran minor ini akan menghilang. Sumber aliran minor ini berasal dari rembesan akar pohon dan rembesan dari batuan dinding tebing. Curug Arjuna memiliki ketinggian antara 80 – 100 m.

Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Curug Arjuna adalah pada masa peralihan musim hujan ke musim kemarau. Hal ini didasarkan pertimbangan jalur yang akan dilalui menuju Desa Panawa berupa jalur makadam. Selain itu, volume jatuhan masih cukup besar namun intensitas hujan sudah tidak terlalu tinggi.

Sumber lainnya mengenai Curug Arjuna:

http://curugdigarut2016.blogspot.co.id/2017/10/curug-ciarjuna-pamulihan-garut.html

http://kangfajrin.id/pamulihan-desa-panawa/

http://ngabolangngabolang.blogspot.co.id/2017/08/curug-arjuna-ciarjuna-garut.html

 

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2018 in AIR TERJUN, Travelling

 

SITU CIATER & SITU HIANG

SITU CIATER

Secara administratif, Situ Ciater berada di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°08’10.6″S 108°16’30.6″E. Air di Situ Ciater masih bersumber dari Situ Lengkong yang terletak tidak jauh dari Situ Ciater. Situ Ciater terletak tepat di sisi Jalan Raya Timur Panjalu, sehingga sangat mudah untuk didatangi. Situ Ciater memiliki luas genangan kurang lebih 1,79 Ha.

Sejarah Situ Ciater

Menurut para sesepuh, Situ Ciater merupakan telaga yang tak sengaja terbentuk ketika penjajah Belanda membuat jalur jalan kavaleri dan infantri dari Kawali ke Panjalu. Pembangunan tersebut secara tidak langsung membendung aliran air dari selokan kecil yang mengairi areal pesawahan Cilambit.

Konon sebelum menjadi telaga, Situ Ciater merupakan kolam-kolam ikan mas kepunyaan Eyang Gajah. Ikan-ikan mas tersebut beranak pinak dan turunannya hidup sampai saat ini. Salah satu ikan mas yang terkenal keramat dan hidup sampai tahun 1980-an dinamakan Lauk  Euis. Konon, lauk Euis dikenal sebagai ikan yang dilindungi oleh makhluk halus penunggu Situ Ciater. Banyak peristiwa aneh tapi nyata yang dialami oleh warga sekitar, terutama yang mengakrabi Situ Ciater.

Situ Ciater memiliki aksesibilitas yang sangat mudah. Berikut uraian pencapaian menuju Situ Ciater dari arah Bandung dan Majalengka.

Bandung – Pagerageung – Situ Ciater

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Nagreg. Ikuti jalan raya utama menuju Timur. Ruas jalan raya yang dilalui merupakan Jalan Provinsi penghubung Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Patokan pertama yaitu Gentong. Selepas Gentong, tepat di Kecamatan Kadipaten akan ditemui persimpangan di Pasar Kadipaten. Dengan nama Simpang Pamoyanan. Persimpanan tersebut berada pada koordinat -7.125019, 108.145542.

Ambil arah kiri pada Simpang Pamoyanan menuju Jalan Haji Salim / Jalan Nangeleng – Cirahayu. Ikuti jalan utama hingga tiba di Simpang Pagerageung. Simpang Pagerageung berada pada koordinat -7.115233, 108.180300. Ikuti jalan utama pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Pagerageung / Jalan Nangeleng – Cirahayu. Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya dan Simpang Warudoyong. Simpang Warudoyong berada pada koordinat -7.125572, 108.219223.

Ikuti jalan utama di Simpang Warudoyong menuju Jalan Nangeleng – Cirahayu. Patokan berikutnya yaitu Simpang Panjalu yang terletak pada koordinat -7.128408, 108.265006. Ambil arah kanan pada Simpang Panjalu menuju Jalan Raya Panjalu. Patokan berikutnya yaitu Taman Borosngora/Alun-alun Panjalu yang berada pada koordinat -7.134639, 108.269495. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di Situ Ciater. Jarak dan waktu tempuh sesuai pembacaan pada peta adalah 97,4 Km dalam waktu 2 jam 56 menit.

Majalengka – Sukamantri – Situ Ciater

Arahkan kendaraan dari Majalengka menuju Alun-alun Maja yang berada pada koordinat -6.888715, 108.304047. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di Alun-alun Talaga yang berada pada korodinat -6.983258, 108.310649. Tepat setelah Alun-alun Talaga akan ditemui persimpangan kecil, ambil arah kiri menuju Cikijing. Patokan berikutnya yaitu Simpang Cikijing yang berada pada koordinat -7.016275, 108.365698.

Ambil arah kanan di Simpang Cikijing menuju Jalan Raya Panawangan. Patokab berikutnya yaitu Simpang Cikijing – Panjalu yang berada pada koordinat -7.025832, 108.351206. Ambil arah kanan pada Simpang Cikijing – Panjalu menuju Jalan Cikijing – Panjalu. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di Jahim Bike Park yang berada pada koordinat -7.062107, 108.303799.

Ikuti jalan raya utama hingga tiba di Situ Cibubuhan yang berada pada koordinat -7.086235, 108.298336. Ikuti jalan raya utama menuju Sukamantri. Setelah tiba di Sukamantri, ikuti jalan raya utama menuju Situ Lengkong yang berada pada koordinat -7.127134, 108.265606. Patokan berikutnya yaitu ambil jalur menuju Taman Borosngora/ Alun-alun Panjalu yang berada pada koordinat -7.134639, 108.269495. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di Situ Ciater. Jarak dan waktu tempuh sesuai pembacaan pada peta adalah 57,5 Km dalam waktu 1 jam 39 menit.

 

Toponimi Ciater, selain berasal dari nama daerah lokasi danau ini berada masih terdapat dua versi penamaan lainnya. Pertama berasal dari kata “ngageter” atau “ngageleter” ( = bergetar), karena airnya memang (hanya) bergetar, tidak beriak saat tertiup angin. Menurut satu cerita, jika Situ Lengkong lebar, maka Ciater itu dalam, lebih dalam dari Situ Lengkong. Melihat kenyataannya sekarang, Situ Ciater sudah mulai berkurang, alias mendangkal terus.

Toponimi kedua, bisa juga berasal dari nama jenis bambu, Bambu Ater, yg ini a.l toponimi nama “Ciater” yg memiliki mataair panas di Subang bagian utara. Meskipun berada tepat di pinggir jalan raya utama dan tidak terlalu jauh dari pusat kota kecamatan, tetapi Situ Ciater masih belum menjadi tempat wisata. Peruntukan Situ Ciater hingga saat ini masih sebatas lokasi memancing dan pengembangbiakan ikan oleh warga setempat. Tidak ada retribusi parkir maupun fasilitas pendukung pariwisata lainnya.

Sumber lainnya mengenai Situ Ciater:

https://sportourism.id/jelajah/misteri-si-euis-ikan-mas-angker-di-situ-ciater-panjalu

SITU HIANG

Secara administratif, Situ Hiang berada di Desa Sadewata, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°07’25.6″S 108°19’30.6″E. Situ Hiang merupakan danau alami yang memiliki luas genangan kurang lebih 1,51 Ha. Situ Hiang kini lebih banyak dimanfaatkan sebagai sumber pengairan areal sawah dan kebun, serta budidaya ikan. Tidak jarang, Situ Hiang dijadikan juga sebagai tempat memancing bagi warga.

ASAL-USUL SITU HIANG

Asal mula terbentuknya Situ Hiang tidak terlepas dari cerita di masa Kerajaan Galuh. Konon, dahulu kala ketika Kerajaan Galuh dan Kerajaan Talagamanggung masih berdiri, hiduplah seorang kesatria yang sakti mandraguna bernama Dewa Banga. Kala itu para raja dan keturunannya memang masih menggunakan gelar ‘sanghiang’ atau ‘dewa’, yang menunjukkan ketinggian kasta dari masyarakat biasa.

Dewa Banga yang sedang menempuh perjalanan, pada suatu waktu tiba di tempat yang dirasanya cocok untuk menetap. Ia pun lalu bermukim di tempat tersebut, sebuah dataran tinggi yang masih sepi. Setelah membuat pemukiman, Dewa Banga lalu bermaksud membuat danau sebagai tempat penampungan air. Air adalah kebutuhan hidup yang sangat penting dan harus selalu tersedia.

Tempat yang dipilihnya untuk membuat danau adalah sebuah gunung bernama Gunung Jaha dengan hutan lebat bernama Leuweung Ranjeng. Jika menggunakan tenaga biasa tentu akan membutuhkan orang yang sangat banyak dan waktu lama untuk membentuk ‘kolam besar’ yang diinginkan.

Tak kehabisan akal, Dewa Banga membuat sebuah perkakas dari kayu. Alat semacam linggis itu dipakainya untuk mulai meratakan permukaan Gunung Jaha. Ajaib, hanya diperlukan satu hentakan, gunung itupun runtuh seketika akibat kesaktian Dewa Banga yang luar biasa. Para pengikutnya tinggal melanjutkan kerja dengan memindahkan tanah saja.

Linggis kayu yang dipakai Dewa Banga kemudian ditancapkan olehnya ke tanah sebagai tanda (tetengger) jika suatu saat hutan tersebut menjadi tempat yang ramai. Tongkat linggis kayu tersebut berubah menjadi pohon kitiwu yang tingginya sekitar 60 cm dan tak memiliki daun.

Sejak saat itulah Situ Hiang terbentuk. Semua ikan yang hidup di dalamnya diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan hidup para penduduk setempat dan anak-cucu keturunannya. Meskipun demikian, ada larangan mengambil jika yang diperoleh adalah ikan mas berukuran besar. Lokasi pemukiman tersebut kemudian bernama Nusa Dewata (atau kemudian dikenal menjadi Sadewata) dan menjadi tempat yang ramai.

MITOS SEPUTAR SITU HIANG

Selain asal-usul terbentuknya Situ Hiang yang sarat akan kekuatan mistis dan unsur kerajaan, terdapat juga mitos yang umurnya lebih muda dibandingkan cerita asal-usul terbentuknya Situ Hiang. Situ artinya danau, dan Hiang artinya hilang. Situ Hiang itu menurut mitos, lama-lamaan akan mengecil dan hilang. Menurut cerita, Situ Hiang masih memiliki hubungan dengan Situ Lengkong Panjalu.

Dari cerita yang beredar di masyarakat, konon ikan di Situ Hiang dan Situ Lengkong Panjalu bisa berkomuniasi. Ikan yang dimaksud adalah ikan kokol. Bila di Situ Lengkong Panjalu digelar Gebrugan, maka ikan itu pindah ke Situ Hiang. Ikan Kokol yang dimaksud sama dengan mitos Ikan Kokol yang ada di Situ Wangi, Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Lokasi Situ Wangi, Situ Hiang, dan Situ Lengkong memang tidak terlalu jauh satu sama lain, bahkan masih dapat dikatakan berada dalam “satu garis”.

Warga juga meyakini, di dasar Situ Hiang terdapat lubang yang tembus ke laut Cirebon. Pada jaman Walisongo, tepatnya pada saat pembangunan masjid Cirebon, para wali kekurangan material kayu. Mereka kemudian meminta tolong orang Sadewata untuk mengirim kayu. Kayu itu kemudian dikirim lewat Situ Hiang dan beberapa hari kemudian sampai di Cirebon. Situ Hiang terletak persis di samping jalan raya, sehingga pencapaiannya pun sangat mudah. Berikut uraian akses menuju Situ Hiang dari beberapa kota terdekat.

Bandung – Pagerageung – Situ Hiang

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Nagreg. Ikuti jalan raya utama menuju Timur. Ruas jalan raya yang dilalui merupakan Jalan Provinsi penghubung Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Patokan pertama yaitu Gentong. Selepas Gentong, tepat di Kecamatan Kadipaten akan ditemui persimpangan di Pasar Kadipaten. Dengan nama Simpang Pamoyanan. Persimpanan tersebut berada pada koordinat -7.125019, 108.145542.

Ambil arah kiri pada Simpang Pamoyanan menuju Jalan Haji Salim / Jalan Nangeleng – Cirahayu. Ikuti jalan utama hingga tiba di Simpang Pagerageung. Simpang Pagerageung berada pada koordinat -7.115233, 108.180300. Ikuti jalan utama pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Pagerageung / Jalan Nangeleng – Cirahayu. Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya dan Simpang Warudoyong. Simpang Warudoyong berada pada koordinat -7.125572, 108.219223.

Ikuti jalan utama di Simpang Warudoyong menuju Jalan Nangeleng – Cirahayu. Patokan berikutnya yaitu Simpang Panjalu yang terletak pada koordinat -7.128408, 108.265006. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Cikijing – Panjalu. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan pertama pada koordinat -7.119816, 108.266338. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Simpar Banjarwaru.

Ikuti jalan raya utama hingga memasuki Desa Maparah. Setelah memasuki Desa Maparah, ikuti jalan utama hingga memasuki Desa Sadewata. Lokasi Situ Hiang akan berada pada koordinat -7.122691, 108.324788. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 105 Km dalam waktu 2 jam 56 menit.

Majalengka – Sukamantri – Situ Hiang

Arahkan kendaraan dari Majalengka menuju Alun-alun Maja yang berada pada koordinat -6.888715, 108.304047. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di Alun-alun Talaga yang berada pada korodinat -6.983258, 108.310649. Tepat setelah Alun-alun Talaga akan ditemui persimpangan kecil, ambil arah kiri menuju Cikijing. Patokan berikutnya yaitu Simpang Cikijing yang berada pada koordinat -7.016275, 108.365698.

Ambil arah kanan di Simpang Cikijing menuju Jalan Raya Panawangan. Patokab berikutnya yaitu Simpang Cikijing – Panjalu yang berada pada koordinat -7.025832, 108.351206. Ambil arah kanan pada Simpang Cikijing – Panjalu menuju Jalan Cikijing – Panjalu. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di Jahim Bike Park yang berada pada koordinat -7.062107, 108.303799.

 

Ikuti jalan raya utama hingga tiba di Situ Cibubuhan yang berada pada koordinat -7.086235, 108.298336. Ikuti jalan raya utama menuju Sukamantri. Setelah tiba di Sukamantri, ikuti jalan raya utama menuju Situ Lengkong. Tepat sebelum tiba di Situ Lengkong, akan terdapat persimpangan pada koordinat -7.119816, 108.266338. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Jalan Simpar Banjarwaru.

Ikuti jalan raya utama hingga memasuki Desa Maparah. Setelah memasuki Desa Maparah, ikuti jalan utama hingga memasuki Desa Sadewata. Lokasi Situ Hiang akan berada pada koordinat -7.122691, 108.324788. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 60,1 Km dalam waktu 1 jam 47 menit.

DESA SADEWATA

Desa Sadewata mulanya termasuk bagian dari Desa Panawangan, namun banyaknya jumlah dusun di Panawangan menyebabkan Sadewata di mekarkan hingga menjadi desa. Desa Sadewata termasuk kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Desa ini memiliki lima dusun yaitu dusun Ciledug, dusun Desa, dusun Babakan, dusun Ciheleut, dan dusun Kareo.

Mulanya Desa Sadewata merupakan area perkebunan cengkeh dan hanya sedikit penduduk yang menetap di Desa. Semenjak krisis moneter, harga cengkeh turun drastis, permintaan terhadap cengkeh pun menurun. Hal ini membuat petani cengkeh lebih memilih menjual kebunnya dan membangun rumah. Inilah yang menjadi awal terbentuknya permukiman. Selain perkebunan cengkeh terdapat pula kolam-kolam ikan, sawah, dan sedikit perkebunan sayur dan singkong.

 

Pada tahun 1983 listrik mulai masuk di Desa Sadewata, kemudian di ikuti masuknya teknologi seperti parabola pada tahun 1985. Desa Sadewata berada di kawasan yang relatif aman dari bencana alam, selama Desa Sadewata berdiri tidak ada bencana alam yang sampai memakan korban.

Kondisi infrasturktur lainnya seperti jalan pun sudah cukup baik. Jalan utama Desa Sadewata yang merupakan jalan penghubung dari Desa Maparah, Kecamatan Panjalu – Desa Sadewata, Kecamatan Lumbung – Desa Citeureup, Kecamatan Kawali pun sudah cukup baik, meskipun di beberapa titik kondisi aspalnya sudah mengelupas. Sepanjang jalan penghubung antar kecamatan ini tidak ada penerangan jalan dan hanya ada beberapa papan penunjuk jalan sederhana.

Sumber lainnya mengenai Situ Hiang:

http://kknm.unpad.ac.id/sadewata/profil-desa/sejarah-desa/

https://kumeokmemehdipacok.blogspot.co.id/2013/07/SejarahSundaSituHiang.html

http://www.harapanrakyat.com/2017/10/situ-hiang-berpotensi-jadi-objek-wisata-di-ciamis/

http://www.ciamis.info/2017/01/kisah-dewa-banga-dan-asal-usul-situ.html

 
1 Comment

Posted by on January 3, 2018 in DANAU, Travelling