RSS

Monthly Archives: April 2017

AIR TERJUN DADALI

Secara administratif, Curug Dadali berada di perbatasan Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak dengan Desa Wargaasih, Kecamatan Kadupandak, Kabuapaten Cianjur, Jawa Barat dan berada pada koordinat -7.186489, 107.004450. Aliran Curug Dadali bersumber dari Sungai Cibala. Sungai Cibala merupakan salah satu anak dari Sungai Cibuni yang nantinya bermuara di laut Selatan. Sungai Cibuni memiliki debit air yang cukup besar dan stabil pada musim kemarau. Hal ini menyebabkan Curug Dadali menjadi air terjun permanen. Artinya, pada saat musim kemarau, aliran Curug Dadali tidak akan mengering hanya mengalami penurunan volume jatuhan.

 Sebelum menjadi aliran Curug Dadali, aliran Sungai Cibuni sudah terlebih dulu dibendung. Posisi bendungan tepat setelah perkebunan teh. Sejak tahun 2014 sudah dimulai pembangunan PLTA di aliran Sungai Cibala, dekat dengan posisi Curug Dadali. Pembangunan PLTA ini bertujuan untuk menambah daya listik di sekitar Desa Wargaasih, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dan sekitarnya. Menurut informasi warga di sekitar Desa Wargaasih, target penyelesaian pembangunan akan berakhhir pada 2020. Namun, target pengaspalan akses jalan dari Desa tedekat hingga PLTA dan jalan masuk menuju Curug Dadali ditargetkan selesai pada 2019.

Terdapat beberapa alternatif jalur menuju Curug Dadali, baik dari Kota Bandung, Cimahi, Cianjur dan Sukabumi. Berikut uraiannya

Cimahi – Gununghalu – Desa Wargaasih

Arahkan kendaraan menuju Batujajar. Jalur yang ditempuh dari Cimahi merupakan jalur yang sama bila akan menuju objek wisata Curug Malela. Jalur akan berpisah ketika memasuki Kecamatan Rongga, tepatnya di persimpangan pada koordinat -7.009495, 107.275776. Patokannya adalah mini market yang berada di kanan jalan (bila dari arah Cililin) dan tepat berada di persimpangan. Ikuti jalur utama pada persimpangan ini menuju Jalan Gununghalu – Desa Bunijaya. Patokan berikutnya adalah kebun teh PT. Montaya kemudian lapangan kosong lokasi rencana Terminal Tipe C Bunijaya, dan hutan pinus.

Kondisi jalan akan didominasi oleh tanjakan. Pada beberapa titik, tanah merah akan menutupi sebagian permukaan jalan akibat longsor. Pada musim hujan, jalan akan sangat licin karena tertutup tanah merah. Kondisi jalan berlubang dan cukup dalam akan ditemui sepanjang hutan pinus hingga memasuki Desa Cilangari. Setelah jalur keluar dari hutan pinus, medan jalan akan didominasi oleh turunan panjang dan curam. Kondisi jalan sudah cukup baik dengan perkerasan aspal. Sudah banyak ditemui permukiman penduduk, termasuk toserba dan bengkel di sepanjang jalur.

Kondisi jalan akan kembali memburuk ketika tiba di perbatasana Desa Cilangari – Desa Campakamulya. Batu-batu cukup besar akan ditemui tepat di tanjakan dan turunan karena lapisan aspal paling atas sudah menghilang total. Jalan pun cukup sempit dan masih berkelok-kelok. Disarankan untuk tidak memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Patokan berikutnya yaitu hutan yang cukup lebat yang merupakan perbatasan antara Kecamatan Campakamulya dengan Kecamatan Sukanagara.

Jalur ini akan bertemu dengan jalur utama Cianjur – Sindangbarang di persimpangan pada koordinat -7.087761, 107.142320. Pada persimpangan ini, ikuti jalur utama ke arah Selatan. Patokan berikutnya yaitu SPBU Sukanagara kemudian Terminal Sukanagara. Terminal Sukanagara ini sekaligus persimpangan jalur dari Sukanagara menuju Kadupandak dan Takokak. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.100331, 107.129215. Ambil arah kanan menuju Kecamatan Kadupandak – Kecamatan Takokak dan Kebun Pasir Nangka. Ikuti jalan utama hingga bertemu dengan patokan berikutnya, yaitu persimpangan menuju Kecamatan Kadupandak dengan Kecamatan Takokak.

Persimpangan menuju Kecamatan Kadupandak dengan Kecamatan Takokak berada pada koordinat -7.121433, 107.085860. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju patokan berikutnya, yaitu Kebun dan area pabrik teh Kebun Pasir Nangka. Kondisi jalan dari Terminal Sukanagara hingga memasuki area Perkebunan Cimapag cukup buruk. Banyak lubang besar dan cukup dalam di sepanjang jalan. Memasuki area perkebunan Pasir Nangka, kondisi jalan sangat baik hingga area pabrik Kebun Pasir Nangka. Selepas area pabrik Kebun Pasir Nangka, kondisi jalan akan kembali memburuk.

Jalan berkelok dan didominasi turunan akan ditambah dengan lubang-lubang besar dan dalam di sepanjang perjalanan hingga patokan berikutnya, yaitu Situ Ciasmay kemudian kantor Desa Sukasari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tepat di depan Kantor Desa Sukasari, merupakan persimpangan menuju Desa Wargaasih dan yang menuju Desa Bojongkasih. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.192064, 107.052058. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Sindangsari – Jalan Situ Wangi. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan cukup besar pada koordinat -7.190177, 107.026728. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Pasir Layung.

Ikuti jalan utama (Jalan Pasir Layung) hingga tiba pada persimpangan berikutnya pada koordinat -7.182826, 107.026913. Ambil arah kiri pada koordinat ini menuju Jalan Pasir Layung. Ikuti jalan utama hingga tiba pada persimpangan berikutnya pada koordinat -7.181689, 107.019048. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Jalur ini merupakan jalan pintas menuju ke arah lokasi Curug Dadali. Jalur ini akan berujung di persimpangan dengan jalan utama menuju Curug Dadali dan jalur proyek pembangunan PLTA. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.182259, 107.011623.

Pada persimpangan ini, terdapat dua pilihan. Pertama menitipkan kendaraan di bengkel tepat di seberang persimpangan kemudian berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,8 Km menyusuri jalan tanah merah akses PLTA. Pilihan kedua yaitu tetap membawa kendaraan melewati jalur tanah merah akses PLTA hingga tiba di rumah warga terakhir pada koordinat -7.187081, 107.005706. Setelah rumah pada koordinat ini, perjalanan hanya dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki. Setelah rumah pada koordinat ini, perjalanan hanya dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Jarak dan waktu tempuh yang tertera pada peta kurang lebih 117 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam 36 menit.

Cianjur, Sukabumi – Sukanagara – Desa Wargaasih

Arahkan kendaraan menuju Terminal Pasir Hayam, baik dari arah Cianjur kota maupun Kota Sukabumi, Bogor, dan Jakarta. Setiba di Terminal Pasir Hayam, ambil jalur menuju Kecamatan Sukanagara dan Kecamatan Sindangbarang (arah Selatan). Ikuti jalan raya utama hingga tiba di patokan pertama, yaitu Terminal Sukanagara. Terminal Sukanagara ini sekaligus persimpangan jalur dari Sukanagara menuju Kadupandak dan Takokak. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.100331, 107.129215. Ambil arah kanan menuju Kecamatan Kadupandak – Kecamatan Takokak dan Kebun Pasir Nangka. Ikuti jalan utama hingga bertemu dengan patokan berikutnya, yaitu persimpangan menuju Kecamatan Kadupandak dengan Kecamatan Takokak.

Persimpangan menuju Kecamatan Kadupandak dengan Kecamatan Takokak berada pada koordinat -7.121433, 107.085860. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju patokan berikutnya, yaitu Kebun dan area pabrik teh Kebun Pasir Nangka. Kondisi jalan dari Terminal Sukanagara hingga memasuki area Perkebunan Cimapag cukup buruk. Banyak lubang besar dan cukup dalam di sepanjang jalan. Memasuki area perkebunan Pasir Nangka, kondisi jalan sangat baik hingga area pabrik Kebun Pasir Nangka. Selepas area pabrik Kebun Pasir Nangka, kondisi jalan akan kembali memburuk.

Jalan berkelok dan didominasi turunan akan ditambah dengan lubang-lubang besar dan dalam di sepanjang perjalanan hingga patokan berikutnya, yaitu Situ Ciasmay kemudian kantor Desa Sukasari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tepat di depan Kantor Desa Sukasari, merupakan persimpangan menuju Desa Wargaasih dan yang menuju Desa Bojongkasih. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.192064, 107.052058. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Sindangsari – Jalan Situ Wangi. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan cukup besar pada koordinat -7.190177, 107.026728. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Pasir Layung.

Ikuti jalan utama (Jalan Pasir Layung) hingga tiba pada persimpangan berikutnya pada koordinat -7.182826, 107.026913. Ambil arah kiri pada koordinat ini menuju Jalan Pasir Layung. Ikuti jalan utama hingga tiba pada persimpangan berikutnya pada koordinat -7.181689, 107.019048. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Jalur ini merupakan jalan pintas menuju ke arah lokasi Curug Dadali. Jalur ini akan berujung di persimpangan dengan jalan utama menuju Curug Dadali dan jalur proyek pembangunan PLTA. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.182259, 107.011623.

Pada persimpangan ini, terdapat dua pilihan. Pertama menitipkan kendaraan di bengkel tepat di seberang persimpangan kemudian berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,8 Km menyusuri jalan tanah merah akses PLTA. Pilihan kedua yaitu tetap membawa kendaraan melewati jalur tanah merah akses PLTA hingga tiba di rumah warga terakhir pada koordinat -7.187081, 107.005706. Setelah rumah pada koordinat ini, perjalanan hanya dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki. Setelah rumah pada koordinat ini, perjalanan hanya dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Jarak dan waktu tempuh yang tertera pada peta kurang lebih 71,6 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam 20 menit.

Perjalanan dengan berjalan kaki pertama akan melewati kebun dengan jalan setapak tanah merah yang jalurnya menurun terus hingga pematang sawah. Berikutnya, jalur treking menyusuri pematang sawah hingga aliran sungai dan saluran irigasi di sampingnya. Jalur menuju ke bagian bawah Curug Dadali, yaitu mengikuti saluran irigasi hingga menemukan jalan setapak kecil menuju aliran sungai. Jalur irigasi akan berada tepat di pinggir jurang. Curug Dadali dan aliran Ci Bala akan terlihat jelas dari saluran irigasi. Pengunjung harus sangat berhati-hati jika berjalan di jalur ini karena tepat berada di pinggir jurang yang cukup tinggi tanpa pembatas. Jarak dan waktu tempuh yang tertera pada peta kurang lebih 1,8 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam.

Curug Dadali merupakan air terjun permanen. Curug Dadali secara keseluruhan dapat diklasifikasikan ke dalam tipe Block Waterfall. Hal ini didasari oleh aliran Sungai Cibala yang cukup lebar. Lebar dinding air terjun Dadali kurang lebih 50 m dengan ketinggian air terjun kurang lebih 20 m. Pada musim hujan, akan muncul klasifikasi minor yaitu Cataract Waterfall. Hal ini dikarenakan pada musim hujan, debit air Sungai Cibala akan sangat besar.Volume jatuhan Curug Dadali pun akan sangat besar, bahkan bisa sampai menciptakan kabut dari cipratan air yang mengenai batuan di bagian bawah air terjun. Pada musim kemarau, tidak semua dinding air terjun tertutup aliran jatuhan, sehingga akan memunculkan klasifikasi Segmented Waterfall.

 

Area di sekitar Curug Dadali memang cukup sempit. Terdapat banyak bongkahan batu di bagian tengah aliran Ci Bala tepat di hadapan Curug Dadali. Pada kemarau, pengunjung dapat mencapai bongkahan-bongkahan batuan tersebut. Volume aliran jatuhan Curug Dadali pun tidak besar, sehingga kabut dan cipratan air dari Curug Dadali akan menghilang. Pada musim kemarau. Aliran Sungai Cibala dan Curug Dadali akan jauh lebih jernih. Pada musim hujan, aliran Sungai Cibala dan Curug Dadali akan berwarna sangat cokelat dan terdapat riam/jeram di sepanjang aliran Cibala. Pada musim hujan, akses pengunjung menuju bongkahan batu yang berada di tengah Sungai Cibala pun akan terendam air luapan dari aliran Ci Bala.

Terdapat gua di balik Curug Dadali. Masih belum dapat dipastikan apakah gua ini terbentuk karena pengikisan dinding air terjun oleh aliran jatuhan Curug Dadali atau sistem gua mandiri. Sistem gua mandiri artinya sebuah gua yang memang sudah ada dan bukan merupakan hasil pengikisan dinding batuan air terjun akibat aliran jatuhan Curug Dadali. Pengunjung dapat mengunjungi Curug Dadali kapanpun karena merupakan air terjun permanen. Hanya tinggal menyesuaikan apakah ingin Curug Dadali dengan kondisi volume jatuhan terbesardan menutupi seluruh dinding air terjun dengan air yang cukup keruh atau Curug Dadali dengan kondisi volume jatuhan yang kecil dan tidak menutupi seluruh dinding air terjun dengan air yang lebih jernih.

 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

GRANIT DAN HARI BUMI 22 APRIL 2017

Dalam rangka memperingati Hari Bumi atau kerennya Earth Day, akan banyak kita temukan berbagai foto/poster yang diunggah di internet bertemakan Hari Bumi tersebut. Sebagai salah satu individu yang kebetulan melihat foto-foto bertemakan hari bumi yang menghiasi hampir sebagian besar layar laptop. Tepatnya ketika membuka mesin pencarian (sebut saja Google), rasanya sedikit terdorong untuk ikut serta meramaikan postingan Hari Bumi. Menggunakan foto milik pribadi saja tentunya.

Kali ini foto pilihan saya jatuh pada bongkahan Granit di Kepulauan Natuna, yang saya ambil hampir dua tahun lalu. Kenapa Granit? Ketika sebagian besar foto-foto yang terpampang lebih memperlihatkan betapa rusak dan tuanya Bumi kita. Salah satu alasan saya karena, Bumi itu sendiri tidak terlepas dari susunan batuan-batuan, bahkan ketika kita sedang berada di lautan sekalipun. Lalu, kenapa harus Granit? Kenapa juga harus Kepulauan Natuna?

Jawabannya, karena setelah baca beberapa litelatur tentang batuan, Granit termasuk ke dalam salah satu kelompok batuan dengan umur yang cukup tua, bahkan sedikit lebih tua dibandingkan jaman Dinosaurus. Lalu kenapa Kepulauan Natuna? Karena dari banyaknya sebaran lokasi Granit di Indonesia, baru Kepulauan Natuna saja yang saya datangi.

Mengenal Batuan Granit

Pengertian dan karakteristik

Pengertian batuan granit adalah salah satu jenis batuan beku  yang memiliki warna cerah, butirannya kasar, tersusun dari mineral dominan berupa kuarsa dan feldspar, serta sedikit mineral mika dan amfibol. Batuan jenis Granit ditemukan pada pluton-pluton besar dalam benua, pada waktu kerak bumi mengalami suatu pengikisan yang sangat besar. Granit ini mengalami suatu proses pendinginan yang sangat lama pada kedalaman yang jauh dari permukaan tanah, dan membentuk butiran-butiran mineral yang besar. Pluton yang memiliki ukuran kurang dari 100 Km2 biasa disebut dengan galang, sedangkan ukuran yang lebih besar biasa disebut dengan batolit.

Selain itu, batuan granit juga bisa terbentuk akibat letusan lava pijar yang dikeluarkan gunung berapi. Saat lava pijar keluar dari perut bumi serta memenuhi daratan bumi, akan tetapi lava pijar dengan komposisi yang sama dengan batu granit hanya akan ke luar pada permukaan bumi. Yang mana dapat diartikan bahwa granit terbentuk melalui suatu pelelehan batuan benua, dimana pelelehan tersebut dapat terjadi karena penambahan panas serta penambahan volatil yaitu air atau karbon dioksida atau bahkan keduanya. Permukaan benua tersebut trelatif panas karena banyak mengandung sebagian besar dari uranium serta potasium yang bisa memanaskan daerah sekelilingnya dengan peluruhan radiokatif.

Proses dari lempeng tektonik dapat menyebabkan naiknya magma basaltik dari bawah benua. Selain daripada panas, karbon dioksida tersebut juga melepaskan air dan magma yang akan membantu semua jenis dari batuan untuk meleleh pada suhu yang lebih rendah. Diperkirakan sejumlah besar dari magma basaltik bisa menempel pada bagian bawah dari sebuah benua. Proses tersebut biasa disebut dengan underplating. Dengan pelepasan suhu panas serta cairan yang lambat tersebut, sejumlah besar dari kerak benua dapat berubah menjadi batu Granit pada waktu yang bersamaan.

Menurut ilmu petrologi, granit didefinisikan sebagai batuan beku yang di dalamnya terkandung mineral kuarsa sebesar 10 – 50 persen dari kandungan total mineral felseik, serta mineral alkali feldspar sebanyak 65 – 90 persen dari jumlah seluruh mineral feldspar. Seperti yang telah disebutkan pada definisi, bahwa karakteristik dari batuan granit adalah memiliki butiran kasar dan berwarna cerah. Warna batuan granit meliputi warna merah, abu- abu, putih dan merah muda, dengan butiran warna gelap seperti hijau tua, coklat tua dan hitam.  Warna tersebut diperoleh dari komposisi mineral yang terkandung dalam batuan granit.

Karakteristik lain dari batuan granit yaitu bersifat asam, serta ukuran butiran kristalnya relatif sama dan besar. Tekstur butiran batuan granit disebut tekstur  phaneritic  yang tidak memiliki retakan dan lubang – lubang bekas pelepasan gas (vasculer). Batuan ini sangat masif (padat) dengan kepadatan rata- rata 2,75 gr/cm3 dan kekuatan tekanan lebih dari 200 Mpa. Kepadatan tersebut memungkinkan batuan granit untuk tahan terhadap erosi dan abrasi, mampu menahan beban yang berat serta tahan terhadap pelapukan batuan.

Kata granit sendiri berasal dari kata Granum, bahasa Latin yang berarti butiran padi. Sedangkan dalam dunia industri, granit diartikan sebagai batuan yang butiran atau biji – bijiannya dapat dilihat dengan jelas dan mempunyai kepadatan yang lebih keras dari marmer. Contoh penerapannya misalnya digunakan pada mesin pengukur koordinat atau Coordinate Measuring Machine. Manfaat lain dari batu granit antara lain sebagai bahan baku pembuatan tegel. Lembaran granit yang sudah dipoles juga dapat dipergunakan sebagai ornamen dinding. Batuan ini lebih resisten akan sinar matahari dan air hujan.

Kesimpulannya, ada 3 hal mendasar yang bisa membedakan batu Granit dengan jenis batuan yang lainnya. Pertama, granit terbentuk dari sejumlah butiran mineral besar dan bersatu erat. Yang kedua adalah Granit selalu terdiri dari mineral kuarsa dan feldspar, dan dengan atau tanpa kandungan jenis mineral yang lain di dalamnya. Dan yang ketiga adalah hampir dari semua jenis batuan granit memiliki bentuk yang beku dan plutonik. Pengaturan acak dari butiran batu granit ini merupakan sebuah bukti otentik akan asal plutoniknya.

Sumber:

http://www.majalahbatu.com/2015/07/batu-granit.html

http://ilmugeografi.com/geologi/batuan-granit

Hubungan Batuan Granit dengan Kepulauan Natuna

Natuna merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang termasuk ke dalam jalur timah. Keberadaan batuan granit dan timah di sekitar Kepulauan Natuna memang masih kurang setenar Kepulauan Bangka Belitung. Keberadaan granit dan batuan sedimen Natuna masih kalah tenar dengan keberadaan cadangan migasnya. Natuna selalu identik dengan cadangan migas terbesar di Indonesia, tetapi, jika melihat lebih luas lagi, bentang alam dan keberadaan sebaran batuan granit dan sedimen di wilayah Kepulauan Natuna pun menarik untuk dipelajari. Batuan granitoid atau disebut juga sebagai batuan granitik merupakan batuan yang plutonik, paneritik (Best, 2003). Selain granitnya, posisi Kepulauan Natuna juga berada di ujung Paparan Sunda.

Paparan Sunda terbentuk dari hasil extension dari benua Asia Tenggara, yang mana berhubungan dengan Malay Peninsula. Paparan Sunda dibatasi oleh Laut Cina Selatan di bagian Utara, bagian Selatan oleh Pulau Jawa, Selat Makassar di bagian Timur, dan  Pulau Sumatra di bagian Barat. Di kepulauan Natuna batuan tertua terdiri dari batuan beku basal (gabro, diorit, diabas, norit, ampibolit, serpentinit dan tufa) yang berasosiasi dengan rijang radiolaria. Ini merupakan tipikal asosiasi ofiolit radiolaria yang dapat  dikorelasikan dengan batuan berumur Permokarbon bagian dari Formasi Danau (Molengraff) di bagian utara Kalimantan Barat.

Seri yang lebih muda terdiri dari serpih dan konglomerat dengan batuan vulkanik basa berhubungan dengan batuan berumur Trias bagian atas di Kalimantan Barat dan di daerah paparan Sunda. Batuan ini diintrusi oleh batolit granit pasca Trias. Pulau Midai yang sangat kecil di barat daya kepulau Natuna merupakan vulkanik basal sub resen. Litologinya berupa batuan beku (gabro, diorite, diabas, norit, amphibolit, serpentin, tuff) yang berkorelasi dengan Formasi Danau di Kalimantan. Endapan sediment berupa konglomerat dengan lempung dan andesit. Lempung ungu dan lempung coklat kemerahan yang ditemukan mirip dengan lempung di kepulauan Riau dan Kalimantan yang berumur Trias atas.

Sumber:

https://poetrafic.wordpress.com/2010/08/15/intrusi-magma/

https://kelompoklimahmg09.wordpress.com/2010/12/16/paparan-sunda/ http://www.tekmira.esdm.go.id/newtek2/

http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1714

Mengenal Lapian Kulit Bumi

  1. Litosfer

Lithosfer merupakan lapisan kerak bumi yang paling luar dan terdiri atas batuan dengan ketebalan rata-rata 1200 km.  Lithosfer adalah lapisan kulit bumi paling luar yang berupa batuan padat.  Lithosfer tersusun dalam dua lapisan, yaitu kerak dan selubung, yang tebalnya 50 – 100 km.  Lithosfer merupakan lempeng yang bergerak sehingga dapt menimbulkan persegeran benua. Penyusun utama lapisan lithosfer adalah batuan yang terdiri ari campuran antar mineral sejenis atau tidak sejenis yang saling terikat secara gembur atau padat.  Induk batuan pembentuk litosfer adalah magma, yaitu batuan cair pijar yang bersuhu sangat tinngi dan terdapat di bawah kerak bumi.  Magma akan mengalami beberapa proses perubahan sampai menjadi batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf.

Lithosfer memegang peranan penting dalam kehidupan tumbuhan.Tanah terbentuk apabila batu-batuan di permukaan litosfer mengalami degradasi, erosi maupun proses fisika lainnya menjadi batuan kecil sampai pasir.  Selanjutnya bagian ini bercampur dengan hasil pemasukan komponen organis mahluk hidup yang kemudian membentuk tanah yang dapat digunakan sebagai tempat hidup organisme. Tanah merupakan sumber berbagai jenis mineral bagi mahluk hidup.  Dalam wujud aslinya, mineral-mineral ini berupa batu-batuan yang treletak berlapis di permukaan bumi.  Melalui proses erosi mineral-mineral yang menjadi sumber makanan mahluk hidup ini seringkali terbawa oleh aliran sungai ke laut dan terdeposit di dasar laut.

Lithosfer terdiri dari dua bagian utama, yaitu :

  1. Lapisan sial yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan alumunium, senyawanya dalam bentuk SiO2dan Al2O3.
    Pada lapisan sial (silisium dan alumunium) ini antara lain terdapat batuan sedimen, granit andesit jenis-jenis batuan metamor, dan batuan lain yang terdapat di daratan benua. Lapisan sial dinamakan juga lapisan kerak, bersifat padat dan batu bertebaran rata-rata 35 km.  Kerak bumi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu :
  2. Kerak benua, merupakan benda padat yang terdiri dari batuan granit di bagian atasnya dan batuan beku basalt di bagian bawahnya. Kerak ini yang merupakan benua.
  3. Kerak samudera, merupakan benda padat yang terdiri dari endapan di laut pada bagian atas, kemudian di bawahnya batuan batuan vulkanik dan yang paling bawah tersusun dari batuan beku gabro dan peridolit. Kerak ini menempati dasar samudra
  4. Lapisan sima (silisium magnesium) yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun oleh logam logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa Si O2 dan Mg O lapisan ini mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesium yaitu mineral ferro magnesium dan batuan basalt. Lapisan merupakan bahan yang bersipat elastis dan mepunyai ketebalan rata rata 65 km .

Sumber:

http://severalcut.blogspot.co.id/2012/08/lapisan-dan-lempeng-bumi.html

Berdasarkan uraian di atas, batuan Granit berada pada Litosfher di Lapisan Sial atau Lapisan Kerak. Dengan kata lain, Batuan Granit tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur pembentuk Bumi.

Dalam rangka memperingati hari Bumi di tahun 2017 ini alangkah baiknya tidak hanya mengekspose tentang kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan manusia terhadap Bumi yang sudah tua ini, tetapi juga dibarengi dengan pemahaman-pemahaman tentang Bumi itu sendiri. Sebagai catatan, saya sendiri bukanlah seorang yang mendalami ilmu kebumian (Geologi, Geografi dan Geo-geo lainnya). Hal-hal yang dituliskan diatas merupakan hasil pencarian dari berbagai litelatur. Hal-hal yang dicantumkan pun hanya yang benar-benar dapat saya pahami dan yang sesederhana mungkin agar tulisan ini dapat dipahami oleh kalangan umum. Tidak hanya terbatas untuk para ahli ilmu kebumian atau akademisi ilmu kebumian saja.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on April 22, 2017 in Sehari-hari, Travelling

 

CURUG CILEUTAK

Secara administratif, Curug Cileutak berada pada perbatasan antara Desa Sindangasih, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya dengan Kampung Leuwi Leutak/Cikarees, Desa Harumandala, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Aliran Curug Cileutak berasal dari aliran Sungai Cileutak, namun ada juga yang menyebutkan Sungai Ciharuman. Aliran sungai ini sendiri merupakan pembatas geografis antara Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Pangandaran. Curug Cileutak berada pada koordinat -7.572906, 108.356362.

Sungai Cileutak memiliki debit yang stabil, bahkan pada musim kemarau. Oleh karena itu, warga berinisiatif membangun pembangkit listrik mikrohidro secara swadaya. Setelah listrik masuk ke Kampung Leuwi Leutak, listrik dari tenaga mikrohidro masih dipergunakan, hanya tidak oleh semua warga. Terdapat rumah pompa mikrohidro di dekat area Curug Cileutak. Listrik yang dihasilkan dari pembangkit ini sekitar 4000 Watt yang lumayan cukup untuk menerangi waga kampung Cikarees yang berjumlah sekitar 44 kepala keluarga ini yang dimana tiap warga di bebani iuran sebesar 15.000 rupiah perbulan untuk pemeliharaan pembangkit listrik tersebut.

Meskipun berada di perbatasan antara dua kabupaten, namun hingga saat ini, akses masuk menuju Curug Cileutak berada di wilayah Kabupaten Pangandaran. Akses masuk menuju Curug Cileutak saat ini berada di Kampung Leuwi Leutak, Kabupaten Pangandaran, sehingga masih banyak yang salah memposisikan Curug Cileutak sebagai bagian penuh milik Kabupaten Pangandaran.

Rute tercepat menuju Curug Cileutak bila datang dari arah Barat (Bandung, Garut, Cianjur, Tasikmalaya) adalah yang melalui Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya. Sedangkan bila datang dari arah Utara (Tasikmalaya kota, Majalengka, Sumedang) dapat melalui Manonjaya menuju Kecamatan Salopa kemudian bertemu dengan jalur dari arah Timur. Bila datang dari arah Banjar, Ciamis kota dan sekitarnya, rute yang dapat dilalui yaitu mengikuti jalur utama Ciamis/Banjar – Pangandaran kemudian menuju arah Kecamatan Cijulang kemudian ke Kecamatan Cigugur.

GARUT – SALOPA – CURUG CILEUTAK

Arahkan kendaraan dari Kota Garut menuju Kecamatan Cilawu. Patokan pertama yaitu pertigaan Kebun Teh Dayeuhmanggung di Kecamatan Cilawu yang merupakan gerbang pendakian Gunung Cikuray. Lewati pertigaan tersebut menuju perbatasan Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya. Patokan kedua yaitu Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Lewati Kampung Naga dan terus ikuti jalan raya Salawu menuju Kecamatan Singaparna.

Setiba di Kecamatan Singaparna, patokan berikutnya adalah persimpangan tepat di samping Polres Singaparna. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.365577, 108.101789. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Sukaraja – Mangunreja. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di patokan berikutnya, yaitu persimpangan dengan objek wisata Situ Sanghyang di Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya. Lewati persimpangan tersebut menuju Kecamatan Sukaraja.

Jalan akan berakhir di persimpangan tepat di samping alun-alun Kecamatan Sukaraja. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.451706, 108.194131. AMbil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Karangnunggal. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan menuju arah Cikalong dan Salopa pada koordinat -7.464941, 108.195523. Ambil arah kiri di persimpangan ini menuju Jalan Raya Papayan. Patokan berikutnya di jalur ini adalah pusat Kecamatan Jatiwaras.

Setelah tiba di Kecamatan Jatiwaras, ikut terus jalan raya utama hingga di pusat Kecamatan Salopa. Lewati pusat Kecamatan Salopa menuju patokan berikutnya, yaitu area perkebunan karet. Area kebun karet ini biasa dikenal dengan sebutan daerah Bolang. Ikuti jalan di area perkebunan karet hingga bertemu persimpangan pada koordinat -7.531577, 108.279130. Ambil kiri pada persimpangan ini menuju Jalan Haurkuning – Mandalaguna. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di patokan berikutnya.

Patokan berikutnya di jalur ini adalah persimpangan menuju Curug Cimanitin di Desa Tanjungsari, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya. Ikuti terus jalan utama di persimpangan ini menuju Desa Mulyasari. Kondisi jalan dari persimpangan kebun karet (daerah Bolang) hingga persimpangan Curug Cimanitin sudah sangat baik. Setelah persimpangan Curug Cimanitin, kondisi jalan akan berubah menjadi makadam. Kondisi jalan makadam akan terus dilalui hingga memasuki perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Pangandaran.

Setelah persimpangan dengan Curug Cimanitin, patokan berikutnya yaitu persimpangan cukup besar dan SD tepat di persimpangannya. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.524139, 108.324640. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Desa Jayasari, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Kondisi jalan cukup buruk dan merupakan perlintasan truk pengangkut kayu. Umumnya, truk pengangkut kayu akan mulai banyak melintas di jalur ini sedari sore hingga larut malam.

Ikuti terus jalan utama hingga melewati tugu perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Pangandaran. Setelah tugu perbatasan, kondisi jalan akan sedikit membaik. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.539880, 108.347160. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Ciupuray. Terdapat warung nasi sebagai patokan tepat pada persimpangan ini. Jangan ragu bertanya pada warga setempat jalur menuju Curug Cileutak atau lebih dikenal dengan sebutan Leuwi Leutak disini.

Ikuti jalan utama setelah belok ke arah kanan pada persimpangan. Kondisi jalan akan membaik. Kondisi jalan akan berubah menjadi jalan beton setelah melewati tugu batas Kecamatan Langkaplancar dengan Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran. Medan yang dilalui berupa turunan sangat panjang dan cukup curam.Patokan terakhir adalah persimpangan pada koordinat -7.564684, 108.356772. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju jalan yang menurun dan lebih kecil. Bila ragu, jangan sungkan untuk bertanya pada warga di sepanjang jalur ini.

Setelah ambil kanan pada persimpangan tersebut, ikuti jalan hingga rumah terakhir di jalur ini. Kondisi jalan akan sedikit lebih buruk, Jalan semen dan makadam serta medan yang cukup curam menjadi medan yang harus dilalui. Titipkan motor ke rumah warga, setelah meminta izin terlebih dahulu. Perjalanan berikutnya akan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 91,4 Km dalam waktu 2 jam 58 menit.

CIJULANG – CIGUGUR – CURUG CILEUTAK

Arahkan kendaraan dari Cijulang menuju Jalan Raya Cijulang – Parigi hingga tiba di perismpangan dengan jalur menuju Kecamatan Cigugur. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.699761, 108.495284. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Parigi – Cigugur. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di patokan berikutnya, yaitu Masjid Kaum Cigugur yang berada pada koordinat -7.632532, 108.416822.

Lewati masjid dan ikuti jalan utama (Jalan Jurago) hingga tiba di jembatan tepat diatas aliran Sungai Cigugur. Setelah melintasi jembatan, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.608438, 108.387982. Lurus terus di persimpangan ini. Persimpangan ini merupakan pertemuan jalur antara yang melalui Cijulang – Cibanten – Kertajaya – Pagerbumi dengan jalur Cijulang – Parakanmanggu – Pagerbumi. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.567222, 108.362358. Ambil kiri pada persimpangan ini. Persimpangan ini sudah termasuk ke dalam wilayah Desa Harumandala.

Ikuti terus jalan utama hingga tiba pada persimpangan pada koordinat -7.564665, 108.356768. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Bila datang dari arah Cigugur, persimpangan ini tidak terlalu terlihat, karena posisinya yang membelakangi jalan raya dan menurun. Setelah belok kiri pada persimpangan ini ikuti jalan hingga rumah terakhir di jalur ini. Kondisi jalan akan sedikit lebih buruk, Jalan semen dan makadam serta medan yang cukup curam menjadi medan yang harus dilalui. Titipkan motor ke rumah warga, setelah meminta izin terlebih dahulu. Perjalanan berikutnya akan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 32,1 Km dalam waktu 1 jam 8 menit.

Perjalanan menuju Curug Cileutak akan ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 24 menit. Jalur treking pertama-tama akan melewati pematang sawah hingga bertemu dengan pipa mikrohidro. Terdapat dua jalur yang bisa dilalui. Pertama, naik ke atas pipa mikrohidro, atau sedikit turun menuju jalan setapak yang cukup sempit di samping pipa. Medan akan terus menurun hingga tiba di areal Curug Cileutak.

Area di sekitar Curug Cileutak cukup luas. Terdapat lahan kosong dengan tumbuhan bambu yang dominan sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang. Area tepat di depan Curug Cileutak sangat terbuka dan cukup luas. Terdapat bongkahan-bongkahan batu di pinggir sungainya. Air Curug Cileutak berwarna tosca pada area kolamnya. Namun, ketika masuk kembali ke sistem sungai, airnya tidak berwarna tosca lagi tetapi jernih. Kebanyakan pengunjung memanfaatkan kolam Curug Cileutak yang cukup dalam dan jernih untuk berenang.

Curug Cileutak termasuk air terjun yang memiliki dinding lebar. Lebar Curug Cileutak kurang lebih 20 m dengan ketinggian sekitar 10 – 15 m. Dinding air terjun yang cukup lebar, menjadikan Curug Cileutak dapat termasuk ke dalam klasifikasi Block Waterfall. Block Waterfall merupakan air terjun dengan karaktersitik aliran sungai dan dinding air terjun yang cukup lebar. Selain itu, Curug Cileutak juga dapat diklasifikasikan kedalam tipe Horsetail. Aliran jatuhannya tetap mempertahankan kontak dengan dinding air terjun secara terus menerus.

Sumber lainnya:

http://ngabolangngabolang.blogspot.co.id/2016/02/curug-cileutak.html

 
Leave a comment

Posted by on April 13, 2017 in AIR TERJUN, Travelling