RSS

Monthly Archives: February 2017

PENDAKIAN GUNUNG TAMBORA 27-29 MEI 2014

Tulisan ini sebelumnya sudah pernah dipublikasikan di https://travelnatic.com/catatan-pendakian-gunung-tambora/

Setelah perjalanan tiga hari empat malam dari Bandung ke Basecamp Pancasila via darat, tepat Selasa, 27 Mei 2014 tepatnya sekitar pukul 03.00 WITA kami tiba di tujuan. Basecamp Pancasila merupakan satu dari dua jalur pendakian Gunung Tambora, tepatnya di Desa Pancasila, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Langit subuh di Desa Pancasila ketika kami datang benar-benar bersih, bahkan kami bisa melihat milkyway dengan sangat jelas.

Sekitar pukul 06.00 WITA, kami semua sudah terbangun dan langsung memisahkan barang yang akan dibawa selama pendakian dengan barang yang akan disimpan di basecamp. Kondisi fisik saya drop di perjalanan hari ketiga. Demam dan sedikit gejala maag membuat saya memilih untuk tinggal di basecamp dan membatalkan pendakian. Setelah cukup istirahat, demam sedikit turun dan setelah dipertimbangkan lagi, akhirnya saya pun memutuskan untuk tetap ikut dalam pendakian, hanya saja dengan menyewa satu orang porter lagi, selain dua porter yang memang sudah sengaja dipersiapkan. Jadi, total rombongan kami adalah sepuluh orang tim dari Petualang 24 dan tiga orang porter.

SELASA, 27 MEI 2014

Tepat pukul 08.00 WITA, kami memulai pendakian. Jalur pendakian sesungguhnya masih lebih dari 1 Km lagi dari basecamp, oleh karena itu, kami pun menyewa ojek. Sebenarnya jika berjalan kaki pun tidak masalah, hanya saja kami memang menghemat waktu dan tenaga. Kondisi jalan yang dilalui oleh ojek merupakan jalan tanah di tengah perkebunan kopi. Kondisi jalan tanah yang masih basah karena hujan semalam, menjadikan trek ojek kami penuh dengan lumpur dan genangan cukup dalam. Kami tiba di pintu hutan sekitar satu jam kemudian. Setelah packing ulang dan mengatur urutan rombongan, pendakian pun dimulai.

Kondisi trek masih bersahabat meskipun terus menanjak. Kondisi hutan di sekeliling kami masih cukup terbuka dari pepohonan besar, hanya saja semak belukar memang menutup jalur pendakian di beberapa tempat. Sekitar satu jam perjalanan, kondisi trek terus menanjak namun masih sangat bersahabat, bahkan untuk saya yang masih dalam kondisi sedikit demam dan sakit di kepala yang cukup lumayan mengganggu konsentrasi. Lokasi berhenti kami adalah pos 1 yang masih sekitar dua jam lagi. Kami memang berniat untuk mendaki Tambora dengan ritme pendakian santai. Kami berencana menginap dua malam, yaitu di Pos 3 dan di Pos 5.

Perjalanan dari pintu hutan ke pos 1 memakan waktu kurang lebih tiga jam. Sekitar pukul 12.00 WITA kami tiba di Pos 1. Sudah ada beberapa pendaki yang sedang beristirahat di Pos 1 dan hanya rombongan kami yang mengarah ke Pos 2. Kami istirahat makan siang dan solat di Pos 1. Sekitar pukul 13.30 WITA kami memulai kembali pendakian. Kali ini perjalanan menuju Pos 2 kami tempuh dengan melewati hutan yang lebih lebat dengan kondisi trek yang sebagian besar tertutup semak belukar. Kali ini tanjakan sedikit lebih curam namun masih cukup bersahabat.

Trek mulai berganti dari jalan setapak yang hanya tertutup semak belukar dengan trek akar pohon. Kondisi hutan sudah mulai tertutup, bahkan di beberapa titik kami harus menghindari batang pohon yang cukup rendah. Jalur pendakian Gunung Tambora dari Pos 1 sampai menjelang Pos 3 sudah sangat terkenal akan pacetnya, terutama jika kondisi trek basah seperti sekarang ini. Oleh karena itu, kami meminimalisir berhenti terlalu lama.  

Ritme perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 menjadi lebih cepat. Selain karena malas tertempel pacet, cuaca mulai mendung dan jarak kami ke Pos 3 masih cukup jauh, sementara hari sudah semakin sore. Meskipun ritme pendakian kami santai, tapi sebisa mungkin selain untuk summit, kami tidak jalan malam. Semakin mendekati Pos 2, jalur pendakian menjadi lebih berat lagi dan makin tertutup. Bahkan, porter yang berjalan paling depan pun beberapa kali menebas ilalang/semak belukar dan ranting yang menutup jalur pendakian.

Kami tiba di Pos 2 tepat pukul 16.00 WITA atau 2,5 jam dari Pos 1. Terbilang cukup lama memang, karena jika pendakian dilakukan dengan ritme cepat, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Pos 2 dari Pos 1 adalah 1 jam 40 menit sampai dua jam. Berhubung kami memang jalan santai, jadi 2,5 jam sudah cukup wajar setidaknya. Kami berhenti di sebuah shelter/pos kecil di Pos 2. Serangan pacet masih belum berhenti, apalagi lokasi Pos 2 ini sangat dekat dengan aliran sungai. Beberapa teman mengambil air untuk mengisi ulang air di aliran sungai.

Kami berhenti tiga puluh menit di Pos 2. Tepat pukul 16.30 WITA kami mulai kembali pendakian. Jalur dari Pos 2 menuju Pos 3 pertama-tama harus turun hingga sungai, lalu menyeberangi aliran sungai, kemudian kembali menanjak. Setelah trek mulai menanjak, hutan di sekeliling jalur pendakian menjadi semakin rapat oleh pepohonan besar. Pada beberapa titik, kami mulai menemukan batang pohon yang tumbang. Semakin jauh menuju Pos 3, batang pohon tumbang semakin banyak kami temui. Kami pun harus melewati batang pohon tersebut dengan sedikit memanjat, atau menunduk melewati bagian bawah batang pohon.

Serangan pacet semakin menjadi, terutama dengan banyaknya batang pohon tumbang yang sangat lembab yang harus kami lalui. Hutan semakin rapat dan tumbuhan pakis semakin banyak kami temui. Lumut-lumut di batang pohon yang masih tegak maupun di batang pohon tumbang pun cukup banyak. Kami lumayan banyak berhenti untuk minum atau sekedar mengatur nafas kembali. Di tengah perjalanan, gerimis turun. Kami pun berhenti sejenak untuk memakai jas hujan/jaket. Menjelang Magrib, gerimis mulai reda, namun perjalanan kami menuju Pos 3 ternyata masih cukup jauh.

Begitu gerimis berhenti, kami berhenti lagi sejenak untuk mempersiapkan headlamp sembari beristirahat sejenak. Kali ini, kami sudah berada di lokasi yang terbilang jarang pacet. Kami berhenti tidak terlalu lama dan ritme jalan kami dipercepat karena sudah lebih dari waktu yang direncanakan. Kami tiba di Pos 3 tepat pukul 20.00 WITA. Total perajalanan kami dari Pos 2 ke Pos 3 adalah 3,3 jam. Perjalanan kami menjadi cukup lama karena selain ritme perjalanan kami yang terbilang sangat santai, beberapa kali kami berhenti cukup lama, terutama Magrib. Selain itu, medan menanjak dan cuaca gerimis cukup melambatkan kami.

Setiba di Pos 3, kami langsung mendirikan tenda, Hanya ada rombongan kami yang camp di Pos 3 malam ini. Kebanyakan rombongan yang akan mendaki baru akan tiba lusa dan hampir semua rombongan yang mendaki Gunung Tambora sebelum kami sudah turun menuju Basecamp. Setelah tenda berdiri semua, kami merapihkan barang dan segera menyiapkan makan malam. Berhubung kami mendaki santai, jadi besok pun kami tidak harus terburu-buru sepagi mungkin untuk melanjutkan perjalanan. Kami benar-benar butuh tidur setelah empat hari perjalanan darat menuju Desa Pancasila dan sehari penuh mendaki Gunung Tambora. Sekitar pukul 22.00 WITA kami semua sudah terlelap.

RABU, 28 MEI 2014.

Pukul 08.00 WITA, kami semua sudah bangun dengan kondisi badan yang lebih segar dibanding hari kemarin. Beberapa mulai menyiapkan sarapan, beberapa lagi mengisi persediaan air. Pos 3 ini merupakan suatu lahan datar yang cukup terbuka dan cukup luas. Di Pos 3 juga terdapat sumber air dan area yang cukup bebas dari pacet, meskipun kami sempat menemukan beberapa di dekat tenda. Setelah sarapan, sebagian kami bebersih alat masak dan tempat makan, sebagian mengisi kembali persediaan air untuk dibawa ke Pos 5, dan sebagian lagi packing ulang.

Perjalanan kami hari ini terbilang cukup singkat. Kami akan kembali bermalam di Pos 5 sekaligus menjadi titik awal summit. Medan dari Pos 3 ke Pos 5 pun tidak sejauh perjalanan kemarin. Jadi, kami meskipun dengan ritme pendakian super santai, menargetkan sebelum jam 17.00 WITA sudah tiba bahkan buka tenda di Pos 5. Setelah semua siap, kami tidak lupa berfoto sebelum memulai pendakian. Jalur yang kami tempuh kali ini terkenal penuh dengan tumbuhan jelatang. Sarung tangan, gaiter, buff untuk menutup kepala dan muka pun dipakai karena rasanya malas juga merasakan sensasi terkena jelatang.

Perjalan kami mulai dengan memasuki hutan yang jauh lebih tertutup dari sebelumnya. Tumbuhan pakis, semak belukar, ranting pohon banyak menutup jalur pendakian. Porter yang berada di depan pun harus berkali-kali menebas ranting dan semak belukar untuk membuka jalur. Medan pendakian terbilang cukup bersahabat meskipun terus menanjak. Tidak lama kami berjalan, dari rombongan paling depan mulai terdengar seruan-seruan ‘awas jelatang’.

Meskipun sudah berusaha untuk tidak mengenai daun jelatang, tapi tetap saja beberapa dari kami merasakan ‘sengatan’ jelatang, termasuk saya. Beruntung, saya terkena jelatang di lengan atas, rasanya jadi seperti sedang disuntik dengan efek panas dan gatal yang tidak hilang selama satu jam kedepan. Di pertengahan jalur Pos 3 menuju Pos 4, rombongan kami mulai terpisah. Saya sendiri berada di rombongan paling belakang bersama empat orang lainnya. Tidak ada porter di rombongan kami.

Sesekali kami berhenti mengatur nafas, bahkan berhenti untuk memakan makanan ringan. Trek di depan kami dipersulit dengan masih banyaknya batang pohon tumbang yang menutup jalur pendakian. Bahkan, ada satu jalur yang merupakan batang pohon tumbang sekaligus jembatan diantara jurang-jurang tanaman jelatang. Tinggi jelatang di titik ini mungkin diperkirakan hingga 2 m. View di sepanjang jembatan batang pohon ini seluruhnya tertutup tumbuhan jelatang. Selain menjadi titik yang paling lama kami lalui karena jelatangnya, lokasi ini juga menjadi spot foto yang tidak boleh dilewatkan.

Kami tiba di Pos 4 tepat pukul 11.00 WITA. Kali ini, meskipun ritme perjalanan kami masih cukup santai, namun waktu tempuh kami sama dengan waktu tempuh dengan ritme normal. Setiba di Pos 4 yang merupakan lahan terbuka sedikit luas dengan permukaan tanah yang berundak, kabut tebal pun turun. Kami manfaatkan untuk istirahat dan foto-foto. Setelah tiga puluh menit kami berhenti, tepat pukul 11.30 WITA kami melanjutkan pendakian. Trek dari Pos 4 menuju Pos 5 sudah cukup terbebas dari jelatang dan pacet, namun medannya terus menanjak.

Kali ini saya berada di kloter paling depan bersama dua teman lainnya. Porter semua berada di rombongan belakang saya. Kali ini, saya berjalan nonstop. Hanya sesekali berhenti untuk mengatur nafas, itupun tidak selama perjalanan sebelumnya. Kami baru bersitirahat setelah sekitar satu jam berjalan nonstop. Kami beristiahat tidak terlalu lama, hanya untuk minum dan mengecek posisi teman-teman di belakang kami. Setelah ada kloter dua yang berhasil menyusul kami, kami pun mulai jalan lagi.

Medan yang terus menanjak dan cukup tertutup harus terus kami lalui hingga tiba di Pos 5. Seluruh rombongan tiba di Pos 5 pukul 13.00 WITA. Beberapa masih memutuskan untuk beristirahat, beberapa lagi langsung memasang tenda dan menyiapkan makan siang. Kami akan bermalam di Pos 5 dan memulai summit tepat pukul 00.00 WITA nanti. Pendakian hari kedua ini berakhir lebih cepat dari perkiraan kami sebelumnya, yaitu tiba di Pos 5 sekitar puku 15.00 WITA. Setelah makan siang, ada yang langsung kembali tidur, ada juga yang sekedar mengobrol.

Menjelang Magrib, kami semua berkumpul lagi untuk menyiapkan makan malam. Cuaca sedari pagi hingga malam sangat bersahabat, bahkan langit sangat cerah. Pos 5 cukup terkenal dengan babi hutannya, oleh karena itu semua alat masak, sepatu, dan barang-barang yang tidak kami masukan ke tenda, dimasukan ke dalam kantong keresek dan digantung di pohon. Kami semua kembali ke tenda masing-masing sekitar pukul 20.00 WITA.

KAMIS, 29 MEI 2014

Udara malam Tambora cukup menusuk ketika pintu tenda dibuka. Satu persatu keluar dari tenda dan mempersiapkan untuk summit. Setelah ganti sepatu, membawa logistik, packing, dan menggantung tas serta sepatu di pohon, kami pun memulai summit. Perjalanan benar-benar baru kami mulai sekitar pukul 01.00 WITA. Ritme perjalanan kami lebih lambat dibanding tadi siang. Jalur dari Pos 5 menuju batas vegetasi tanjakannya cukup melelahkan.

Entah sudah berapa lama kami mendaki, vegetasi mulai terbuka. Perlahan-lahan langkah kaki kami sedikit tertahan karena pijakan tanah sudah berubah menjadi pasir dan batu berukuran kerikil. Di kanan dan kiri kami sudah sangat terbuka. Tidak ada lagi semak belukar dan ranting pohon yang menghalangi pandangan, tidak ada lagi batang pohon tumbang yang harus kami panjat.  Saya memang cukup kewalahan jika pendakian dilakukan pada malam hari, apalagi ditambah dengan trek berpasir dan terbuka di ketinggian.

Angin dini hari ditambah oksigen yang lebih tipis cukup membuat kami berkali-kali berhenti. Bahkan air minum saya pun sudah hampir habis saking keringnya tenggorokan saya. Hanya tinggal satu botol milik pribadi yang tersisa. Kalau saya tidak segera memperbaiki ritme pendakian saya, bisa-bisa kewalahan sendiri. Hanya langit cerah ditambah taburan bintang, bahkan milkyway yang menjadi penyemangat untuk melewati jalur ini.

Sekitar dua atau tiga jam perjalanan melewati tanjakan tanpa bonus dengan trek pasir dan batu kerikil yang cukup gembur, jalur mulai sedikit berkurang curamnya. Ada beberapa bagian yang datar, namun tetap didominasi tanjakan. Jauh di seberang kami, terlihat lampu-lampu dari headlamp yang juga mengarah ke puncak. Hanya saja, jalur yang mereka lalui masih sedikit tertutup. Posisi kami sudah hampir mencapai bagian dari bibir kaldera. Jalur pendakian yang sebelumnya cukup sempit, kali ini menjadi mirip sebuah dataran luas tidak rata dan berbatu.

Jalur kami kali ini cukup landai. Batuan berukuran kerikil dan pasir yang cukup gembur kini berganti menjadi pasir dan kerikil yang cukup padat. Angin semakin kencang dan suhu udara benar-benar semakin menurun. Perjalanan di medan ini tidak terlalu menguras tenaga. Sedikit demi sedikit di sisi kiri kami mulai terlihat bagian dari puncak dinding kaldera sekaligus titik puncak Gunung Tambora. Menyusul kemudian, sebuah lubang berwarna hitam pekat yang sangat luas mulai terlihat di sisi kiri kami. Kami sudah tiba tepat di bibir kaldera Tambora. Angin semakin kencang dan suhu udara semakin menurun.

Kami langsung mengambil jalur yang mengarah ke puncak Tambora, titik tertinggi yang berada pada ketinggian 2.850 mdpl. Semakin kami mendekati titik tertitinggi tersebut, angin semakin kencang dan udara dingin semakin menusuk. Kami semua berhasil tiba di Puncak Tambora tepat pukul 04.30 WITA, namun karena masih terlalu gelap untuk mengambil foto, kami lebih memilih mencari tempat untuk berlindung dari angin yang makin kencang. Perjalanan 3,5 jam dari Pos 5 menuju Puncak Tambora pun berhasil kami lewati. Semakin menjelang pagi, angin semakin kencang, bahkan saking dinginnya, untuk bicara pun sulit karena menggigil.

Pukul 05.00 WITA, sedikit demi sedikit mulai terlihat cahaya kemerahan di langit. Kami pun bersiap mengeluarkan kamera dan segala properti untuk mengabadikan sunrise di Puncak Tambora ini. Sedikit demi sedikit mulai terlihat kepulan asap bercampur kabut dan awan tipis dari dalam kaldera Tambora. Sementara langit semakin membiru dan matahari mulai muncul. Pemandangan dari Puncak Tambora pun mulai terlihat. Hamparan Laut Flores lengkap dengan Pulau Satonda dan Pulau Moyo, dinding-dinding kaldera, hutan-hutan yang sudah kami lalui sedari kemarin, Gunung Rinjani di kejauhan, serta tidak ketinggalan kaldera raksasa Tambora yang melegenda terlihat jelas dari posisi kami.

Rombongan lain pun tiba. Ini adalah rombongan yang kami lihat sewaktu perjalanan menuju bibir kaldera. Semuanya adalah warga Pekat. Rombongan kami adalah rombongan satu-satunya yang berada di Puncak Tambora, setelah rombongan dari Pekat memutuskan untuk kembali turun ke Pos 5. Kalau porter kami tidak mengingatkan kami untuk segera turun karena masih ada perjalanan pulang, mungkin kami bisa lebih lama lagi diam di Puncak Tambora. Kami benar-benar meninggalkan Puncak Tambora pukul 07.30 WITA. Kami pun menuruni puncak menuju bibir kaledera.

Kami berhenti lagi tepat di bibir kaldera. Kurang lengkap rasanya kalau belum mengabadikan kaldera Tambora yang sangat terkenal di dunia. Cuaca cukup cerah, sehingga dasar kaldera bisa kami lihat dengan jelas. Puas mengabadikan kaldera Tambora, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalur turun kami kali ini berbeda dengan jalur summit kami. Kali ini kami menggunakan jalur yang digunakan rombongan dari Pekat, yaitu melalui Cemara Tunggal. Medan dari bibir kaldera hingga sebuah in memoriam cukup sulit. Turunan panjang dengan trek pasir dan batuan kerikil yang cukup gembur harus kami lalui. Angin kencang tidak jarang menerbangkan pasir dan batuan halus ke arah kami dan masuk ke dalam mata.

Setelah sedikit susah payah dan berperosotan ria di pasir, kami tiba di lokasi yang cukup datar, dimana terdapat sebuah in memoriam. Dari lokasi ini, trek masih berpasir tapi tidak segembur sebelumnya. Tumbuhan cemara pun sudah mulai terlihat. Tumbuhan cemara akan terus ditemui hingga tiba di aliran sungai sekaligus sumber air di dekat pos 5. Kami berhenti sejenak di aliran sungai ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos 5 dengan medan berupa tanjakan. Kami semua tiba di Pos 5 kembali tepat pukul 10.00 WITA.

Sembari istirahat, sebagian dari kami ada yang langsung packing, ada yang menyiapkan makan siang, ada juga yang masih menghilangkan pegal. Sekitar pukul 11.00 WITA kami makan siang dan langsung membereskan semua barang bawaan kami. Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan turun langsung menuju basecamp. Sekitar pukul 12.30 WITA kami memulai perjalanan. Baru juga mininggalkan Pos 5, hujan turun. Kami pun bergegas memakai jaket/jas hujan dan melanjutkan perjalanan. Kami mulai terbagi ke dalam dua rombongan. Saya sendiri di bagian depan rombongan kedua bersama dua teman saya.

Kali ini kami benar-benar melakukan perjalanan dengan ritme cepat. Rombongan di depan saya pun bahkan tidak berhenti di Pos 4. Selain karena masih hujan, jarak dari Pos 5 ke Pos 4 terbilang pendek, jadi langsung saja bablas menuju Pos 3. Rombongan kloter saya pun demikian Saya cukup kewalahan juga menghindari jelatang di sepanjang Pos 4 menuju Pos 3, terlebih batang pohon tumbang yang harus kami lalui menjadi lebih licin terkena air hujan. Rombongan kloter saya tiba di Pos 3 hanya dalam waktu satu jam dari Pos 5, yaitu pukul 13.30 WITA.

Ketika rombongan kloter saya tiba di Pos 3, sebagian dari kloter pertama bahkan sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Saya dan dua teman saya memutuskan untuk mengejar rombongan pertama dan tidak berhenti di Pos 3. Saya bersama satu teman lainnya mengejar rombongan pertama. Kami berdua benar-benar berjalan sangat cepat dari Pos 3 menuju Pos 2, bahkan setengah berlari. Kami sama sekali tidak berhenti, kecuali untuk memanjat batang pohon tumbang yang harus kami lalui. Kami berdua tiba di Pos 2 pukul 15.30 WITA (dua jam perjalanan dari Pos 3).

Di Pos 2, kami bertemu beberapa teman dari rombongan pertama yang sedang beristirahat. Sementara tiga teman lainnya terus turun menuju Pos 1. Dengan demikian, kami terbagi ke dalam empat rombongan. Beberapa teman memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan. Saya sendiri memilih untuk istirahat selama tiga puluh menit di Pos 2. Perjalanan menuju Pos 2 kali ini saya bareng dengan dua teman dan satu porter. Kami tetap berjalan dengan ritme cepat dan sangat jarang berhenti. Kami tiba di Pos 1 pukul 17.30 WITA (1,5 jam perjalanan). Di Pos 1 kami bertemu rombongan yang baru akan naik.  Sementara teman kami di depan kami sudah tiga puluh menit yang lalu melewati Pos 1.

Kami berempat memutuskan berhenti dulu di Pos 1 karena sudah menjelang Magrib. Sekitar pukul 18.00 WITA, kami melanjutkan perjalanan ke Pintu Rimba karena tidak ingin terlalu lama berjalan malam di tengah hutan. Rasanya trek dari Pos 1 ke Pintu Rimba menjadi berbeda dibanding kami lewat dua hari yang lalu. Kami sempat ragu, karena jalurnya benar-benar sangat tertutup, rumputnya pun melebihi tinggi kami, padahal ketika kami pertama melakukan pendakian, rumput dan jalurnya tidak terlalu tertutup. Porter yang bareng dengan kami meyakinkan kalau jalur kami ini sudah benar.

Dengan sisa tenaga ditambah medan yang cukup terututup, perjalanan kami berempat kali ini sedikit terhambat. Di belakang kami hanya tinggal Mbak Evi dan dua porter lainnya, sementara enam teman kami lainnya sudah ada di depan. Suasana sepanjang Pos 1 menuju Pintu Rimba cukup membuat merinding. Pukul 19.30 WITA kami berempat sudah tiba di Pintu Rimba dan ojek yang kami pesan sudah menunggu. Menurut ojek yang menunggu kami, mereka tidak bertemu enam teman kami yang sudah duluan. Malah mereka kira, kamilah yang pertama sampai. Setelah curiga enam teman kami masuk ke jalur perkebunan kopi, beberapa ojek segera menyusul.

Perjalanan belum selesai. Kami bertiga masih harus melewati jalur kebun kopi yang medannya jauh lebih parah dibanding dua hari sebelumnya. Lumpur semakin tebal, bahkan genangan air sudah berubah menjadi kubangan setinggi jok motor. Untungnya motor kami tidak ada yang mogok. Setelah satu jam melewati jalur penuh lumpur dengan ojek, sampailah kami di basecamp. Enam teman kami yang di depan sudah tiba dengan selamat. Mbak Evi yang berada di paling belakang pun tidak lama bergabung dengan kami di basecamp.

Setelah bersih-bersih, sambil makan malam, masing-masing rombongan menceritakan pengalaman masing-masing. Tiga teman kami yang berjalan paling depan, menjelang Magrib sudah hampir tiba di basecamp dengan jalur yang sama dengan jalur pergi. Karena belum ada ojek yang stand by di pintu rimba, mereka bertiga berjalan kaki dari Pintu Rimba sampai ke basecamp.

Tiga teman kami lainnya di rombongan kedua salah mengambil jalur menuju Pintu Rimba di tengah hutan. Mereka tiba di area perkebunan kopi di luar jalur pendakian tepat pada saat Magrib. Setelah mendapat sinyal dan keluar dari hutan, salah satu teman menelepon ke basecamp dan meminta dijemput ojek. Karena di luar jalur pendakian, ada satu atau dua babi hutan yang mendekat ke arah tiga teman kami, untungnya teman kami cepat masuk ke dalam pos penjagaan yang posisinya cukup tinggi dari jalan.

Beda lagi dengan rombongan saya yang sepanjang Pos 1 hingga Pintu Rimba seperti diikuti dan diawasi serta ragu salah jalan karena jalurnya sangat tertutup. Rombongan Mbak Evi bahkan harus mundur dulu ketika bertemu ular yang sedang diam di tengah jalur pendakian. Terpencarnya kami jadi empat rombongan ternyata membawa kesan dan cerita tersendiri tentang pendakian Tambora. Malam ini merupakan malam terakhir kami di Desa Pancasila. Pendakian Tambora sudah selesai kami lewati, saatnya memulihkan tenaga untuk perjalanan kami berikutnya di Nusa Tenggara Barat.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2017 in Travelling

 

2 DANAU 1 CURUG 22 JANUARI 2017

Kali ini saya dan Mitra akan mencari dan mengunjungi dua danau di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Kedua danau ini berada di wilayah perbatasan antar kabupaten tersebut. Talaga Ciukur merupakan danau pertama yang berada di Kabupaten Cianjur yang akan kami kunjungi. Rute yang kami tempuh untuk jalur pergi merupakan jalan utama Bandung- Cianjur lalu ke arah Terminal Pasir Hayam kemudian ke arah Selatan hingga ke Sukanagara.

Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 06.30 WIB dan arus lalu lintas masih cukup lancar. Kami istirahat sekaligus sarapan di Karangtengah, Cianjur sampai pukul 08.00 WIB. Cuaca sepanjang perjalanan cukup cerah. Setelah tiba di Terminal Pasir Hayam, kami langsung mengarahkan motor ke arah Selatan. Arus lalu lintas cukup ramai, baik oleh mobil, motor, bahkan rombongan sepeda yang sedan bersiap-siap, bahkan kami terkena macet di Pasar Cibeber. Selepas Cibeber, arus lalu lintas sedikit sepi.

Jalur akan terus menanjak dari Cibeber hingga Kecamatan Campaka. Kondisi jalan yang masih cukup rusak sepanjang Cibeber hingga perbatasan Kecamatan Campaka memperlambat perjalanan kami. Arus lalu lintas menuju arah Sukanagara cukup ramai, kami bahkan cukup kesulitan untuk menyusul rombongan mobil pribadi. Arus lalu lintas kembali tersendat di Pasar Kecamatan Campaka. Volume kendaraan mulai terurai disini. Sebagian ada yang menuju jalur objek wisata Curug Cikondang dan Situs Gunungpadang, sebagian lagi berhenti di Campaka, sebagian kecil melanjutkan ke arah Selatan, termasuk kami.

Perjalanan menuju Sukanagara terasa sangat lama. Hal ini disebabkan ramainya jalan dan kondisi jalan yang banyak berlubang. Kami tidak bisa memacu motor dengan cepat. Rasa ngantuk pun mulai datang ketika memasuki area perkebunan Sukanagara. Kami berhenti di SPBU Sukanagara tepat pukul 09.30 WIB untuk istirahat dan isi bensin. Badan rasanya pegal semua, padahal, setengah jalan saja belum.

Kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul 10.00 WIB. Patokan kami adalah Terminal Sukangara. Kami ambil arah menuju Kadupandak di Terminal Sukanagara. Kondisi jalan masih sama rusaknya seperti terkahir saya lalui pada Juni 2016 lalu. Perjalanan terasa sangat panjang karena ramainya kendaraan dan kondisi jalan yang jelek. Kondisi jalan baru membaik ketika memasuki Perkebunan Cimapag. Patokan kami berikutnya yaitu pertigaan ke arah Kadupandak dengan ke arah Perkebunan Ciwangi sekaligus jalur menuju Takokak.

Kondisi jalan menuju arah Takokak cukup baik. Aspal mulus, kondisi jalan yang cukup sempit dengan pemandangan berupa hutan dan area kebun teh menjadi obat ngantuk karena perjalanan Cibeber – Sukanagara yang sangat monoton. Kami tiba di sebuah persimpangan menuju pabrik PT. Lamteh dengan jalur utama menuju Takokak. Kami mengambil jalur ke arah kiri, menuju area perkebunan teh. Setelah jalur kami bertemu jembatan kayu dan kondisi jalan menjadi lebih sempit dan berbatu, kami pun sadar kalau kami salah jalan. Kami pun segera kembali ke persimpangan.

Jalur kembali masuk area permukiman dengan kondisi jalan masih aspal mulus. Setelah permukiman habis, kondisi jalan pun kembali menjadi jalan berlubang dengan lapisan aspal yang sudah mengelupas. Arus lalu lintas sangat sepi meskipun kami beberapa kali melewati permukiman. Bahkan kami cukup jarang berpapasan dengan kendaraan lain. Pemandangan di jalur ini cukup bagus. Hamparan kebun teh, bukit-bukit yang masih tertutup hutan lebat dan jejeran perbukitan yang masih panjang mengarah ke Selatan sangat menghibur kami di jalur yang cukup sepi ini.

Kondisi jalan menjadi semakin rusak ketika memasuki Desa Sindangsari. Jalur yang kami lalui kembali masuk ke permukiman. Ketika berada di salah satu tikungan, secara tidak sengaja saya melihat ada air terjun cukup besar di sisi kanan jalan. Jarak air terjun dengan jalan posisi kami berada tidak terlalu jauh. Jalan dan air terjun terpisah oleh sawah dengan medan yang cukup datar. Saya dan Mitra memutuskan untuk mampir ketika pulang karena tujuan kami yaitu Talaga Ciukur masih cukup jauh.

Jalur kembali masuk ke dalam area kebun dan kondisi jalan berubah menjadi makadam dan jauh lebih sempit lagi. Tidak lama, jalur kembali masuk ke area permukinan dengan pemandangan yang lebih terbuka. Kali ini pemandangan didominasi oleh bukit-bukit area kebun teh di sisi kanan dan kiri kami. Kondisi jalan kembali menjadi aspal mulus. Sepanjang pertigaan dengan Kadupandak, jalur memang melewati permukiman warga, tetapi cukup sepi dan jarak antar perkebunan dipisahkan oleh area kebun teh atau hutan. Sebaiknya kondisi motor diperiksa terlebih dahulu agar tidak kerepotan melintas di jalur ini.

Jalur yang mulus dengan pemandangan yang cukup menyegarkan mata membuat kami hampir menabrak gulungan kabel telepon yang menjulur sampai ke jalan. Bahkan banyak kami lewati tiang-tiang telepon yang sudah hampir tumbang dan sudah tumbang. Tiang-tiang telepon yang tumbang, kabelnya masih tersambung dengan tiang lainnya sehingga melintang di jalan. Setelah melewati kabel-kabel telepon yang melintang di jalan, pemandangan menjadi sangat terbuka.

Jejeran perbukitan ke arah Selatan yang didominasi oleh area kebun teh tampak sangat jelas lengkap dengan permukiman penduduk yang tersebar di lereng dan lembahnya. Di sisi Utara , terlihat tiga puncakan bukit yang masih tertutup hutan rimbun. Saking khusyuknya melihat pemandangan di jalur ini, saya sampai lupa cek posisi kami. Kami pun segera berhenti setelah melihat kami melewatkan belokan yang seharusnya kami lalui. Tapi sedari tadi, tidak ada persimpangan sama sekali. Ada satu percabangan, tetapi jalur tersebut ditutup karena bukan jalan umum dan masuk ke area perkebunan.

Kami pun kesulitan mencari warga yang bisa ditanya, karena posisi kami benar-benar berada diantara area kebun teh. Kami pun balik arah menuju permukiman yang baru saja kami lewati. Untungnya, kami bertemu dua warga tidak jauh dari lokasi kami berhenti. Menurut warga, jalur yang kami lalui sudah benar. Tinggal ikuti jalan hingga bertemu persimpangan besar. Di persimpangan ambil arah kiri. Lalu nanti akan ditemui dua persimpangan lagi, di dua persimpangan ini juga masih ambil arah kiri. Pokonya mengikuti jalan utama. Setelah informasinya lengkap, kami pun jalan lagi.

Sepertinya jalur yang ditunjukan Google Maps merupakan jalan pintas dan masuk ke area perkebunan teh dengan kondisi jalan yang sangat sempit sampai-sampai tidak terlihat oleh kami. Akhirnya kami menemukan persimpangan yang dimaksud. Pemadangan di posisi kami kali ini sudah tertutup oleh ilalang dan semak belukar yang sangat tinggi.

Setelah persimpangan pertama, jalur masuk ke dalam hutan. Di hutan ini kami menemukan dua persimpangan lagi. Persimpangan pertama kondisi jalannya sudah dibeton namun diportal. Persimpangan kedua, kondisinya jauh lebih buruk dari jalur kami. Bahkan terlihat beberapa gelondongan kayu di pinggir jalannya. Jalur menuju Takokak ini memang peruntukan lahannya didominasi untuk area perkebunan dan area hutan produksi. Jadi, tidak heran kalau jalannya juga sangat sepi.

Setelah melewati persimpangan ketiga, medan jalan berubah menjadi turunan panjang dengan jalur yang berkelok-kelok. Banyak terdapat lubang cukup dalam di jalur ini. Kondisi jalan juga sangat sempit, terlebih jika papasan dengan mobil, jadi sebaiknya berhati-hati. Jalanan turun terus hingga ke dasar lembah. Pemandangan di sisi kanan kami cukup terbuka. Jejeran perbukitan dengan area perkebunan teh sampai di puncaknya cukup menarik untuk diabadikan. Sayang, kami tidak sempat lagi mampir-mampir karena mengejar sampai di Talaga Ciukur secepatnya.

Setelah tiba di dasar lembah, jalur kembali masuk ke area permukiman dan pabrik teh. Kondisi jalan kembali menjadi sedikit rusak. Medan jalan kali ini cukup datar. Setelah melewati permukiman, jalur kembali masuk ke dalam area hutan dan kebun. Kondisi jalan berubah kembali menjadi beton setelah masuk ke permukiman. Terdapat papan informasi mengenai jalur yang kami lalui. Jalur yang kami lalui merupakan jalur Takokak – Nyalindung, artinya kami sudah di jalur yang benar.

Kondisi jalan beton tidak terlalu panjang. Begitu jalur kembali meninggalkan permukiman, kondisi jalan pun kembali menjadi aspal rusak. Kami menemukan persimpangan besar lagi. Gmaps error karena sinyal kurang bagus, akibatnya kami tidak bisa mengetahui posisi kami saat ini. Saya pun bertanya ke warga. Yang saya tanyakan adalah Desa Bungbangsari. Menurut warga, dua jalur ini sama-sama menuju Desa Bungbangsari, hanya saja yang ke arah kiri merupakan jalur tercepat. Setelah belok kiri di warung, kami harus mengambil jalur ke arah kanan yang menanjak.

Setelah masuk ke jalur yang disarankan warga, saya ragu dengan jalan yang kami lalui ini. Seingat saya di peta, jalur yang harusnya kami lalui terus mengikuti jalan utama Cianjur – Sukabumi. Meskipun kondisi jalur utama Cianjur – Sukabumi cukup buruk dan tidak seperti jalan arteri sekunder seharusnya, tapi jalan yang kami lalui saat ini bukanlah jalur utama, meksipun kondisinya sama buruknya. Akhirnya setelah dipertimbangkan lagi, kami pun balik arah ke warung dan mengambil jalur yang satunya (meneruskan jalur dari arah kami datang).

Mungkin jalur yang barusan kami lewati ini memang mengarah ke Desa Bungbangsari, hanya saja bukan yang dekat dengan Talaga Ciukur. Kondisi jalan jauh lebih buruk. Lapisan aspal yang sudah menghilang ditambah lubang yang besar dan dalam harus kami lewati setidaknya sampai 2,4 Km. Sisi kiri dan kanan kami kembali menjadi lahan hutan produksi dan kebun-kebun. Kondisi jalan mulai membaik ketika memasuki pusat Kecamatan Takokak, 2,4 Km dari persimpangan besar yang terakhir kami lewati.

Kami tidak berhenti dan terus melaju ke arah Barat. Setelah keluar dari Jalan Pasawahan, yang merupakan area pusat kota Kecamatan Takokak, kondisi jalan langsung berubah total. Jalan beton dan aspal mulus dengan medan yang datar langsung berubah menjadi jalan makadam dan sedikit berlumpur dengan medan yang kembali menanjak. Kondisi badan yang sudah cukup lelah, menjadikan badan semakin pegal ketika harus melewati jalur makadam. Ditambah matahari semakin terik karena sudah hampir mendekati pukul 12.00 WIB.

Setelah mendapat sinyal, kami pun mengecek posisi kami saat ini. Ternyata, jarak dari posisi kami saat ini sampai ke persimpangan menuju Talaga Ciukur hanya tinggal 3,3 Km. Meskipun jaraknya lumayan pendek, tapi jika kondisinya makadam dan lubang-lubang dalam seperti ini rasanya jadi seperti lebih dari tiga kilometer. Kami kembali masuk ke area permukiman yang merupakan perbatasan antara Desa Hegarmanah dengan Desa Bungbangsari. Akhirnya kami sampai juga di Desa Bungbangsari. Sekarang hanya tinggal mencari persimpangan menuju Talaga Ciukur.

Tepat ketika memasuki Desa Bungbangsari terdapat area pabirk teh milik PTPN VIII Kebun Goalpara yang kondisinya jauh berbeda dengan pabrik teh milik PT. Lamteh dan PT. Pasir Luhur yang tadi kami lewati. Kami belok kiri ke arah sebuah SD dan bertanya lagi pada warga. Ternyata, jalan menuju Talaga Ciukur masih di depan, kami pun putar arah. Kami pun tiba di persimpangan yang dimaksud. Terdapat papan nama jalan dengan tulisan Jalan Danau Ciukur tepat di samping sebuah warung kecil di sisi kiri kami. Tidak pakai lama, kami pun segera membelokan motor ke jalan kecil tersebut.

Jalan Danau Ciukur merupakan jalan setapak sangat kecil dengan kondisi sebagian makadam sebagian tanah merah. Kondisi tanah merah ketika kami lalui masih ada sebagian yang basah, jadi lumayan licin. Medan jalan terus menurun hingga akhirnya pemandangan kembali terbuka. Di sisi kanan kami mulai terlihat Talaga Ciukur yang kami cari. Tidak ada lahan untuk menyimpan motor, jadi kami benar-benar berhenti di pinggi jalan setapak yang lebarnya tidak seberapa ini.

Meskipun terletak tepat di pinggir jalan, tetapi kami tidak menemukan jalan setapak untuk mendekat ke arah danau. Saya pun turun untuk mengecek jalur masuk, sementara Mitra melanjutkan jalan yang mengarah ke atas bukit siapa tahu ada spot untuk melihat Talaga Ciukur dari tempat yang lebih tinggi. Saya pun segera menepi ke sebuah celah sempit yang ternyata merupakan jalan kecil menuju pinggir danau. Tetapi jalannya terputus dan tidak tersambung dengan jalan setapak di sisi seberang Talaga Ciukur.

Kami tiba di Talaga Ciukur tepat pukul 12.30 WIB dan matahari cukup terik. Saya pun mengambil beberapa foto dari spot yang sangat terbatas ini. Talaga Ciukur merupakan danau yang berukuran cukup kecil dan mungkin pemanfaatannya hanya sebatas untuk pengairan lahan kebun teh dan area memancing warga setempat. Terlihat beberapa warga sedang memancing di seberang kami.

Kami pun kembali ke jalan setapak dan mengambil foto Talaga Ciukur dari sisi jalan. Ternyata, jalan setapak menuju lokasi memancing warga berada di sisi seberang kami. Karena sudah terlalu siang dan tidak banyak spot yang bisa dieksplore, kami pun melanjutkan perjalanan ke Talaga Warna. Lokasi Talaga Warna tidak terlalu jauh dan hanya tinggal meneruskan jalur yang kami lalui ke arah Sukabumi. Kami memutuskan untuk beristiahat sambal ganjal perut dulu di warung di persimpangan Jalan Danau Ciukur. Ternyata warungnya penuh dan hanya warung tersebut yang buka. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Talaga Warna.

Kondisi jalan masih tetap aspal rusak dan berlubang dan di kiri serta kanan kami kali ini makin didominasi oleh lahan perkebunan dan area hutan produksi. Jalan cukup berdebu dan arus lalu lintas sedikit lebih ramai. Jalan pun menjadi cukup lebar. Jarak yang tertulis di Gmaps adalah 4,5 Km dari persimpangan Talaga Ciukur menuju persimpangan jalan masuk ke Talaga Warna. Hanya saja dengan kondisi jalan yang buruk, 4,5 Km harus ditempuh dengan waktu yang cukup lama.

Setelah melewati pinggiran bukit, kami melihat jalan kecil di sisi kiri kami. Kami pun belok ke jalan kecil tadi karena kami yakin ini adalah jalan menuju Talaga Warna. Kondisi jalan berubah menjadi makadam dan menjadi sangat sempit. Di kanan dan kiri kami kini merupakan hutan yang cukup rapat. Kondisi jalan sangat sepi. Sempat ragu kami mengambil jalur yang benar. Setelah terus mengikuti jalan yang makin lama batuannya semakin menghilang dan tertutup rumput, kami melihat Talaga Warna yang kami cari di sisi kiri kami.

Kami mencari jalan setapak untuk mendekat ke arah danau, tapi tidak ketemu. Selain itu, posisi jalan yang sedang kami lalui saat ini lebih tinggi dari permukaan danau. Kami pun terpaksa menyusuri jalan mencari celah untuk turun ke danau. Semakin ke dalam hutan, kondisi jalan semakin buruk. Jalur makadam kini berubah menjadi genangan lumpur. Kami sempat memutuskan untuk balik arah karena jalan di depan kami berubah menjadi genangan lumpur. Tetapi, di tepi danau di seberang kami terlihat seperti sebuah shelter atau gapura. Kami yakin itu adalah jalan masuk menuju danau. Jadi, kam tidak jadi balik arah.

Saya pun sempat turun dan jalan kaki dulu untuk mengecek kondisi jalan di depan. Ternyata genangan lumpurnya tidak terlalu panjang dan di depan kami jalan kembali menjadi makadam. Setelah cukup susah payah, akhirnya kami pun menyusuri jalan makadam yang licin karena lumpur dan rumput liar. Jalan yang kami lalui berujung di persimpangan. Jalan di depan kami jauh lebih lebar meskipun masih jalan makadam. Saya pun menyuruh Mitra mengambil jalur ke kiri. Benar saja, kami tiba di sebuah shelter.

Beberapa minggu lalu, saya memang sempat menanyakan jalur ke Talaga Warna pada satu teman saya yang pernah mengunjungi Talaga Warna. Saya diberi foto shelter yang merupakan Patokan jalan masuk menuju danau. Shelter tempat kami berhenti saat ini merupakan shelter yang sama dengan yang di foto milik teman saya. Setelah memarkirkan motor dan menyimpan barang-barang yang tidak akan dibawa di bagasi motor, kami pun menuruni jalan setapak tepat di samping shelter.

Jalan setapak tidak terlalu panjang, mungkin hanya 100 m kami sudah sampai di pinggir danau. Akhirnya kami berhasil sampai di tujuan kedua sekaligus tujuan terakhir kami di perjalanan hari ini. Kami tidak dapat mengelilingi Talaga Warna karena belum ada jalan setapak yang mengelilingi danau. Mungkkin sebenarnya ada, hanya saja harus masuk ke dalam hutan. Sekeliling Talaga Warna merupakan hutan lebat yang sangat tertutup. Banyak pepohonan besar dan tua, serta tidak jarang ditemukan lumut di batang-batang pohonnya. Selain kami berdua, hanya ada setidaknya lima warga yang smemancing di sisi lain danau.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di sisi danau ini. Talaga Warna merupakan danau yang cukup luas, bahkan jauh lebih luas dari Talaga Ciukur. Asal usul penamaan danau ini sebagai Talaga Warna belum berhasil saya temukan referensinya. Air danaunya pun tidak seperti Talaga Warna Dieng ataupun Cianjur. Airnya jauh lebih jernih dibandingkan Talaga Ciukur yang berair cokelat. Perukaan danau yang cukup tenang dan langit biru tepat diatas kami cukup sempurna untuk mengambil foto refleksi.

Terdapat bangunan dari beton tepat di depan tempat kami berdiri. Bangunan beton tersebut cukup luas. Mungkin dimaksudkan sebagai teras bagi pengunjung. Namun, sayangnya, karena terbengkalai dan sepinya tepat ini, bangunan beton tersebut malah terendam air danau. Setelah agak lama kami mengambil foto di spot ini, kami memutuskan untuk mendatangi lokasi warga yang sedang memancing, di sisi lain danau. Kami harus kembali ke shelter dan melanjutkan perjalanan menuju sisi lain danau dengan menggunakan motor.

Tidak terlalu jauh dari shelter, kami menemukan jalan setapak yang mengarah ke hutan, tepat di batas antara hutan dengan area kebun teh. Kami pun memarkirkan motor tepat setelah jalan setapak. Sebenarnya motor bisa saja dibawa ke atas, namun kondisi jalannya cukup licin dan tanjakannya curam. Sekilas saya melihat papan himbauan tertancap di pohon. Isi papan tersebut menyebutkan dilarang berburu hewan apapun dan memancing di kawasan hutan lindung Talagawarna. Tapi, kalau dilarang memancing, nyatanya masih ada juga warga yang memancing.

Saya pun ragu, apakah Talaga Warna ini termasuk ke dalam kawsan cagar alam atau tidak. Karena di peraturan tertulis Kabupaten Sukabumi yang saya baca, Talaga Warna termasuk ke dalam kawasan wisata danau dan tidak disebutkan adanya Cagar Alam Talagawarna. Tapi saya memang belum mengecek peraturan milik perhutani. Karena kemungkinan besar, area hutan di sekitar Talaga Warna merupakan lahan Perhutani.

Setelah tanjakan habis, kami mengambil jalan di kiri kami yang menurun ke danau, sementara jika diteruskan, jalan setapak akan masuk ke dalam kawasan hutan lindung. Area di sisi danau ini pun sempit. Kami tidak terlalu lama disini. Kami tidak lupa menanyakan jalur pulang selain jalur yang datang yang kami lalui. Rasanya malas juga harus melewati jalur lumpur lagi. Ternyata, jalur utamanya yaitu terus mengikuti jalan makadam, dan tidak belok ke jalan kecil tempat kami datang di shelter.

Pukul 13.23 WIB kami pun pulang melewati jalan yang dimaksud warga. Ternyata jalur kami keluar dekat dengan pusat Kecamatan Nyalindung. Dari jalan raya ini, kami bertemu dengan persimpangan yang ke arah Sukanagara dengan yang ke arah Sukabumi kota. Jarak dari persimpangan ini ke Sukanagara sekitar 70 Km. Kami pun mengambil jalan menuju Sukanagara. Medan jalan langsung didominasi tanjakan panjang sampai tiba di gapura perbatasan Kabupaten Sukabumi dengan Kabupaten Cianjur. Sepanjang jalan, pemandangan merupakan lahan sawah dan hutan.

Setelah melewati gapura, medan kembali datar. Kondisi jalan merupakan aspal rusak dan banyak terdapat lubang besar dan dalam. Kami memutuskan untuk jalan nonstop sampai ke pusat Kecamatan Takokak. Perjalanan kami cukup panjang, ditambah dengan kondisi jalan yang buruk. Kami memacu motor sedikit lebih cepat, sampai-sampai di jalan makadam beberapa kali motor mengantam batu. Kami tiba di Pasawahan, Takokak setelah 46 menit perjalanan, yaitu tepat pukul 14.10 WIB.

Kami berhenti untuk makan siang di warung ramen. Berhubung sedang malas makan nasi, kami pun memesan Mie Ayam. Cuaca cukup cerah, matahari pun cukup terik sampai membuat kami sedikit kehabisan tenaga dan mengantuk. Pukul 15.00 WIB kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Perjalanan pulang terasa sedikit lebih cepat. Kami sudah hampir sampai di persimpangan warung terakhir. Kami berhenti sebentar di tugu makam pahlawan Takokak.

Kami baru berhenti ketika sampai di area kebun teh tempat kami sempat panik karena melewati belokan yang ditandai Gmaps. Kami tiba sekitar pukul 16.00 WIB. Ternyata, jika sore, sebagian areanya, terutama yang berada di Barat menjadi backlight jika difoto. Jadi, waktu yang pas untuk mengambil foto landscape di jalur ini adalah pagi hingga siang. Meskipun demikian, view ke arah Timur lebih bagus karena sinar matahari datang dari arah Barat.

Kami tidak teralu lama berhenti dan segera melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur kami melewati area kabel-kabel telepon yang melintang dan tiang telepon yang tumbang. Setiba di permukiman, tidak sengaja saya melihat papan penunjuk arah menuju Curug Faskut. Kami pun spontan berhenti. Ternyata, Curug Faskut ini adalah air terjun yang kami lihat pagi tadi dari pinggir jalan ketika kami datang. Setelah memarkirkan motor, kami pun menuruni jalan setapak yang sudah dibuatkan tangga menuju aliran irigasi.

Setelah melewati aliran irigasi, jalan setapak terus menurun hingga aliran sungai. Tangganya cukup banyak dan jarak antar anak tangganya cukup berjauhan. Medannya cukup curam dan akan licin ketika hujan. Untungnya warga sudah membuat tangga-tangga agar lebih mudah. Curug Faskut baru dibuka untuk wisata oleh warga setempat akhir tahun lalu, atau sekitar satu bulan kebelakang. Tidak heran jika area di sekitar air terjun masih belum tertata sempurna dan masih terkesan banyak sampah berserakan.

Kami juga tidak berlama-lama di Curug Faskut. Selain karena perjalanan pulang kami masih panjang, langit pun mulai gelap. Ketika sedang treking naik, bahkan sudah gerimis. Kami memerlukan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai lagi di parkiran. Medan dari Curug Faskut hingga parkiran terus menanjak, tidak ada yang datarnya. Kami membayar 8.000 Rupiah. Per orang dikenakan tarif 3.000 Rupiah, sisanya untuk parkir motor. Kami melanjutkan pulang pukul 16.45 WIB. Target kami adalah tiba secepatnya di SPBU Sukanagara.

Kami tiba di SPBU Sukanagara pukul 17.30. Langit di atas kami sudah sangat mendung. Bahkan, arah pulang kami mungkin sudah turun hujan. Untuk perjalanan pulang, kami memilih rute Sukanagara – Gununghalu – Cililin. Baru juga kami masuk ke jalur Sukanagara – Campakawarna, hujan deras turun. Kami menepi sebentar untuk memakai jas hujan. Mau tidak mau kami harus tetap jalan agar tidak melintas di jalur ini malam hari.

Hujan deras sama sekali tidak berhenti. Kami harus pelan-pelan ketika jalannya menurun dan ketika menemui genangan air. Dikhawatirkan genangannya cukup dalam dan berbatu. Medan jalan terus menurun sampai tiba di jembatan perbatasan antara Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bandung Barat. Kondisi jalan dari Campakawarna hingga jembatan perbatasan sudah cukup baik. Berbeda ketika Juni 2016 lalu saya lewat sini.

Setelah jembatan perbatasan, medan jalan akan terus menanjak. Ternyata kondisi jalan yang Juni lalu saya lewati masih dalam keadaan baik, kali ini sudah mulai terkelupas aspalnya. Bahkan sebagian jalan sudah berlubang cukup dalam. Kondisi jalan yang terus menanjak dan air yang menggenangi jalan bahkan mengalir turun karena tidak terserap hutan cukup menyulitkan kami. Hujan baru reda setelah kami tiba di hutan pinus perbatasan Desa Cilangari dengan Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu. Di tengah hutan pinus, kami papasan dengan mobil pick up yang tidak kuat menanjak dan akhirnya selip.

Kami memutuhkan waktu satu jam untuk sampai di Desa Bunijaya dari Sukanagara. Langit ke arah Cililin jauh lebih gelap dibandingkan di Gununghalu, artinya, kami masih harus jalan sambil hujan-hujanan lagi. Kami terus jalan nonstop di tengah guyuran hujan yang jauh lebih deras dari sebelumnya. Untungnya, kondisi jalan sepanjang Gununghalu hingga Cililin masih sangat baik dan jalannya kosong. Kami bisa lebih cepat memacu motor. Kami sempat terkena patahan jalan dan hampir terjatuh dari motor.

Kami tiba di Cililin sekitar pukul 19.00 WIB (satu jam dari Desa Bunijaya) dan hujan sudah reda. Kami kembali berhenti di SPBU untuk beristirahat. Badan rasanya sudah remuk karena seharian melintas di jalan rusak dan makadam. Ditambah lagi baju yang basah karena hujan yang sangat deras. Jas hujan dan jaket sudah tidak bisa lagi menahan air hujan. Sekitar pukul 19.30 WIB kami melanjutkan perjalanan.

Jalur yang kami ambil dari Cililin adalah melalui Curug Jompong, Nanjung, Margaasih dan Cijerah. Ternyata, di Cililin belum turun hujan. Jalan sepanjang Cililin hingga Bandung kering. Sayangnya, ketika di Cijerah kami salah belok dan akhirnya malah menuju arah Cigondewah. Putar balik. Kondisi jalan sepanjang Curug Jompong sampai Cijerah cukup ramai, sehingga perjalanan pulang terasa semakin lama. Saya tiba kembali di rumah tepat pukul 21.00 WIB. Total perjalanan pulang dari Sukanagara nonstop sampai Bandung adalah empat jam tanpa macet.

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2017 in AIR TERJUN, DANAU, Travelling

 

CURUG CIASTANA 4 JUNI 2016

Tujuan kami kali ini adalah mencari Curug Ciastana di Cianjur. Lokasi tepatnya berada di Desa Bojongkasih, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Nama kampung dan patokan jalan yang saya tahu masih sebatas sampai kantor Desa Sukasari di Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur. Seperti biasa, berangkat nyubuh pun tinggal wacana. Kami baru berangkat dari Bandung sekitar pukul 06.00 WIB. Rute yang kami ambil dari Bandung adalah melalui Ciwidey, Gununghalu, Sukanagara, Kadupandak.

Rute Ciwidey – Gununghalu menurut informasi dari teman, kondisinya kini makin parah, terlebih akibat musim hujan beberapa bulan ke belakang. Rute ini terakhir saya lewati sekitar pertengahan September 2013 dengan waktu tempuh dari Ciwidey sampai pertigaan Rongga hanya dua jam. Waktu tempuh dari Rongga hingga Sukanagara pun dua jam dengan kondisi jalan yang tidak terlalu parah.

Kami berhenti untuk sarapan di Alun-alun Ciwidey sampai jam 08.00 WIB. Tidak jauh dari alun-alun akan ditemui pertigaan dengan papan penunjuk jalan menuju Desa Wisata Lebak Muncang ke arah kanan, Ambil jalur tersebut. Patokan kami adalah hutan pinus yang sekaligus menjadi perbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Bandung. Kondisi jalan sampai masuk hutan pinus sudah beton. Setelah hampir keluar hutan pinus, beton berubah menjadi aspal rusak dengan lubang disana-sini.

Kami berhenti sebentar sebelum keluar dari hutan pinus. Pemandangan di pagi yang cerah ini rasanya sayang untuk dilewatkan. Jejeran gunung dan bukit di Utara Bandung, kota Bandung dan Ciwidey di kejauhan dengan kabut tipis yang masih melayang cukup membuat mata kami sedikit segar kembali. Setelah puas berfoto, kami pun jalan lagi. Jalan yang harus kami lewati masih cukup panjang. Kondisi jalan langsung berubah. Lapisan aspal sudah menghilang seluruhnya hingga keluar dari desa pertama, Desa Mekarwangi yang sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat ini.

Karena sudah cukup lama dari terakhir saya melintas di jalur ini, saya sedikit ragu ketika bertemu persimpangan di jalan desa. Patokan kami adalah Desa Tangsijaya kemudian Desa Bunijaya. Desa Bunijaya adalah desa terakhir di jalur ini sebelum memasuki pusat kecamatan Gununghalu. Selepas Desa Mekarwangi, kondisi jalan semakin buruk. Permukiman diganti dengan lahan sawah dan ladang. Setelah benar-benar keluar dari permukiman, jalur kembali bertemu dengan area perkebunan teh dengan kondisi jalan makadam yang jauh lebih buruk.

Kami bertemu pertigaan cukup besar dan jalur yang harus kami ambil menuju Desa Tangsijaya adalah yang ke arah kiri. Kondisi jalan yang harus kami lewati semakin parah dan menyempit. Medan yang kami lalui pun sudah tidak datar lagi. Kondisi jalan akan sedikit membaik ketika memasuki Desa Tangsijaya. Kondisi jalan hanya cukup baik sampai di pasar Desa Tangsijaya. Setelah tanjakan pasar, kondisi jalan makadam semakin buruk.

Permukiman penduduk pun mulai jarang dan digantikan dengan lahan sawah serta aliran sungai yang nantinya bergabung menjadi aliran Ci Beber dan Ci Sokan. Sungai Cisokan merupakan anak Sungai Citarum yang juga menjadi batas geografis antara Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Cianjur yang akan kami lalui nanti. Kondisi jalan yang berupa makadam dan lumpur cukup memperlambat perjalanan kami. Patokan kami berikutnya adalah Situ Rancabolang yang pagi ini hanya kamu lalui karena menghemat waktu.

Setelah Situ Rancabolang, jalur akan memasuki hutan yang masih cukup rimbun dan alami. Setelah Situ Rancabolang hingga keluar dari hutan sudah tidak akan ditemui lagi permukiman warga. Semakin masuk ke dalam hutan, kondisi jalan semakin parah. Makadam berubah menjadi kubangan lumpur yang sangat licin. Kami sempat papasan dengan pick up. Kondisi jalan yang cukup sempit ditambah harus memilih-milih jalan agar tidak terperosok lumpur sudah cukup menyulitkan, ditambah jika harus papasan dengan mobil.

Setelah keluar dari hutan, kondisi jalan kembali menjadi makadam dan lumpur. Medan jalan dari Situ Rancabolang hingga keluar dari hutan sudah datar, tidak lagi ditemui tanjakan dan turunan yang menyulitkan. Patokan kami berikutnya adalah sebuah camping grond  dan SDN Tangsijaya. Pemandangan sepanjang jalur ditambah cuaca yang cukup cerah menjadi pelepas lelah dan sakit badan akibat kondisi jalan makadam yang parah. Setelah melewati camping ground, pemandangan kembali berubah menjadi ladang, sawah yang berbatasan langsung dengan hutan serta gunung  yang saya perkirakan berada di sekitar Pasir Jambu atau Ciwidey.

Kami tiba di Desa Bunijaya dan kondisi jalan baru berubah kembali menjadi aspal ketika memasuki pusat Kecamatan Gununghalu. Kami belok menuju arah Kecamatan Rongga. Patokan kami berikutnya adalah pertigaan menuju Cilangari dengan menuju Curug Malela. Sepanjang jalan dari pabrik teh hingga pertigaan Curug Malela sedang dilakukan perbaikan dan pembetonan. Kami sempat terhenti karena harus gantian dengan kendaraan dari arah berlawanan. Selepas pusat Desa Bunihayu, lalu lintas menjadi sangat sepi. Kondisi jalan cukup baik. Masih aspal hanya banyak lubang kecil dan dalam yang tersebar di permukaan jalan.

Kondisi jalan membaik ketika mulai memasuki area perkebunan teh Montaya. Medan jalan mulai terus menanjak sedari perkebunan teh Montaya hingga keluar dari hutan pinus. Selepas hutan pinus, jalur memasuki wilayah Desa Cilangari. Kondisi jalan sudah sangat mulus. Berbeda jauh ketika 2013 lalu keluar dari hutan pinus, kondisi jalan berubah dari aspal, menjadi jalan tanpa lapisan aspal paling atas serta batuan lepas. Medan jalan dari Desa Cilangari akan terus turun hingga jembatan perbatasan Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Cianjur.

Kondisi jalan yang cukup mulus sepanjang Desa Bunijaya hingga perbatasan Kecamatan Campakawarna cukup mempersingkat waktu tempuh. Selepas jembatan perbatasan, konidisi jalan di Kecmatan Campakawarna sedikit memburuk. Ada beberapa tanjakan dan turunan yang masih makadam dan lumpur, namun tidak panjang dan tidak terlalu parah. Kondisi jalan mulai membaik ketika memasuki pusat Kecamatan Campakawarna. Medan jalan mulai kembali terus menurun menandakan jalur sudah hampir keluar dari Kecamatan Campakawarna dan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sukanagara.

Kami tiba di Sukanagara sekitar pukul 10.30 WIB. Kami memutuskan untuk istirahat dulu. Akhirnya pilihan kami jatuh di warung bakso dan hasilnya, kami berempat pun sukses ngemil bakso setelah sarapan di Ciwidey tiga jam yang lalu. Kami mulai jalan lagi menuju Kecamatan Kadupandak. Jalan masuk kami ambil dari arah Terminal Sukanagara karena rute tersebut sudah pernah saya lalui. Setidaknya bisa sedikit mempersingkat waktu tempuh. Sebenarnya ada jalan masuk lain dari Tanggeung dan Cijati, namun karena belum terlalu ngeh jalurnya lewat mana, jadi diputuskan masuk dari Sukanagara.

Kondisi jalan dari Terminal Sukanagara sampai memasuki Perkebunan Cimapag cukup membuat pegal. Jalan dengan lapisan aspal yang sudah menghilang ditambah arus kendaraan yang cukup padat cukup memperlambat kami. Belum lagi, ngantuk yang mulai datang karena kondisi jalan yang cukup monoton dan lambat. Ketika memasuki kebun Pasir Nangka, kondisi jalan berubah menjadi sangat mulus. Kondisi jalan berbeda jauh ketika terakhir saya lewat sini Juli 2015 lalu. Kondisinya masih aspal rusak dan sangat berdebu.

Kondisi jalan hanya bagus sampai area pabrik Kebun Pasir Nangka. Setelah keluar dari area pabrik, kondisi jalan kembali memburuk. Aspal rusak dengan lubang yang cukup lebar dan dalam harus kami lewati. Beberapa kali motor menghantam lubang, bahkan charger motor Aria pun sampai terlempar dari motor dan akhirnya rusak. Patokan berikutnya adalah Situ Ciasmay. Berdasarkan waktu tempuh ketika saya melintas disini satu tahun yang lalu, dari pabrik Kebun Pasir Nangka sampai kantor Desa Sukasari kurang lebih satu jam dengan kondisi jalan yang sama persis.

Dengan menahan pegal, ngantuk, dan gerah, akhirnya tepat jam 12.00 WIB kami tiba di depan Kantor Desa Sukasari. Kami bertanya kembali jalur menuju Desa Bojongkasih. Ternyata berdasarkan saran dari warga, jalur yang sebaiknya kami lewati berbeda jauh dari jalur yang ditunjukan oleh Gmaps. Jalur yang kami ambil terus mengikuti jalan utama menuju Selatan. Warga tersebut bilang, di turunan panjang kami akan menemukan pertigaan. Kami harus mengambil jalan ke bawah di turunan tersebut.

Kondisi jalan dari kantor Desa Sukasari hingga turunan yang dimaksud masih sama buruknya, bahkan lebih parah. Medan yang kami lalui dominan turunan meskipun terlihat datar. Di sisi kanan dan kiri jalur yang kami lewati sudah bukan lagi permukiman penduduk, tetapi area hutan produksi dan kebun-kebun yang cukup lebat. Akhirnya kami tiba di turunan yang dimaksud.

Ternyata, jalur yang kami ambil di turunan ini adalah jalur yang sama dengan yang saya lewati ketika Juli 2015 lalu. Jalur yang sedang kami lewati ini adalah salah satu jalur utama pengubung antar kabupaten. Tepatnya antara Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur dengan Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi. Di jalur ini kami mulai banyak bertanya pada warga rute menuju Desa Bojongkasih sekaligus lokasi Curug Ciastana.

Warga yang pertama kami tanya, menyebutkan rute menuju Desa Bojongkasih, tetapi tidak mengetahui tentang Curug Ciastana. Warga tadi malah menyebutkan lokasi Curug Cijengkol yang belokannya tidak jauh dari lokasi kami saat ini. Kondisi jalan masih sama rusaknya, bahkan cenderung berubah menjadi makadam. Untungnya kondisi jalan di jalur ini sangat kering, jadi kami lebih mudah melewatinya. Tidak puas dengan jawaban warga pertama, kami pun kembali bertanya.

Kali ini kami bertanya pada warga sekaligus pemilik bengkel. Menurut warga ini, jalur yang kami ambil sudah benar. Berikutnya, kami harus mengambil jalur ke arah kanan di tugu batas desa. Menurut warga ini, Curug Ciastana yang kami cari memiliki sebutan lain dan masih ada tiga air terjun lainnya di sekitar Curug Ciastana. Warga tersebut juga memberitahu kami bahwa jalan masuk menuju Curug Ciastana berada di Kampung Sinarmuda, Desa Bojongkasih.

Setelah mendapat cukup informasi, kami pun melanjutkan perjalanan. Pertama, kami mencari patokan sebuah jembatan dan persimpangan. Ternyata ada dua buah jembatan yang kami lewati dan jembatan kedualah yang dimaksud warga di bengkel tadi. Setelah melewati jembatan yang dimaksud, kami pun mencari patokan berikutnya, yaitu tugu batas desa. Kondisi jalan masih tetap aspal rusak parah dan di kanan kiri kami masih didominasi hamparan sawah yang cukup luas.

Teman saya di motor lain menemukan tugu batas desa yang dimaksud sekaligus persimpangannya. Setelah belok kanan di persimpangan tersebut, kondisi jalan semakin mengecil dan semakin berubah menjadi makadam. Saya pun ragu ini jalan yang benar menuju Kampung Sinarmuda. Akhirnya kami putuskan untuk bertanya kembali ketika bertemu warga. Akhirnya kami bertemu warga yang kebetulan sedang berkumpul.

Menurut warga, jalur kami sudah benar jika akan menuju Kampung Sinarmuda, hanya saja informasi mengenai Curug Ciastana kembali simpang siur. Satu warga menyebutkan air terjun yang kami perlihatkan fotonya adalah benar Curug Ciastana, hanya saja memang memiliki nama lain. Warga lainnya, menganggap, Curug Ciastana bukanlah foto air terjun yang kami perlihatkan. Satu warga lainnya bahkan mengatakan jika air terjun di foto yang kami maksud bukan ke arah ini jalannya, tapi masih di depan, melewati tugu batas desa.

Dari sini pun kami memperoleh informasi mengenai nama Ciastana. Salah satu warga menyebutkan bahwa Ciastana merupakan nama perusahaan perkebunan yang memiliki lahan di sekitar air terjun. Oleh karena itu, air terjun yang akan kami kunjungi ini memiliki dua nama, salah satunya yaitu Curug Ciastana. Kami pun memutuskan untuk menuju Kampung Sinarmuda terlebih dahulu, terlepas dari benar atau tidaknya jalur yang kami ambil menuju Curug Ciastana.

Kondisi jalan didominasi tanjakan dengan lebar jalan yang cukup sempit dan berupa makadam. Kami mengambil arah kiri ketika bertemu persimpangan, sesuai petunjuk dari warga. Jalan yang kami lalui semakin mengecil dan akhirnya mentok di depan sebuah masjid. Setelah masjid, jalan bukan lagi seperti jalan desa, melainkan jalan setapak atau lebih mirip dengan pematang sawah. Kami pun memutuskan untuk beristirahat dulu di masjid, berhubung memang sudah waktu Dzuhur, sudah mulai lapar dan ngantuk, dan matahari yang semakin terik tentunya.

Terdapat rumah warga tepat di depan masjid. Kami pun dipersilahkan untuk mampir dan beristirahat sejenak oleh ibu pemilik rumah yang sangat ramah. Setelah sedikit bercerita kenapa kami berempat bisa sampai disini, ibu tersebut pun bilang, kalau jalur kami sudah benar menuju Kampung Sinarmuda. Kami hanya perlu mengikuti jalan setapak tepat di depan masjid yang menurut kami lebih mirip pematang sawah tadi. Syukurlah ternyata kami tidak salah jalan. Tenaga sudah setengahnya habis hanya untuk mencari jalur yang benar ke Kampung Sinarmuda.

Setelah tenaga sedikit pulih dan sudah cukup banyak merampok kue kacang ibu pemilik rumah, kami pun pamit tepat pukul 13.30 WIB. Matahari masih bersinar cukup terik. Rasanya membayangkan harus treking ke Curug Ciastana malas sekali. Ternyata jarak dari masjid tempat kami berhenti dengan SD yang dimaksud warga untuk menitipkan motor jika akan ke Curug Ciastana tidak terlalu jauh. Hanya saja kondisi jalan yang sangat mirip pematang sawah ini yang memperlambat kami.

Jalan yang kami lewati masuk ke sebuah gang lalu tembus di halaman musola kecil, lalu kembai masuk gang dan barulah kembali ke pematang sawah. Di pematang sawah inilah SD yang dimaksud. Kami pun memarkirkan motor di SD. Tidak ada siapapun di SD kecuali beberapa anak kecil. Kami pun bertanya ke anak kecil jalur menuju Curug Ciastana. Mereka pun tampak ragu-ragu. Akhirnya ada warga yang menghampiri. Menurut warga, jika ingin ke Curug Ciastana, masih harus berjalan kaki lagi dari SD ini. Biasanya pengunjung yang akan ke Curug Ciastana menitipkan motor di SD, bahkan sampai ada yang menumpang menginap di rumah warga.

Ada seorang warga yang akhirnya meminta anaknya untuk mengantar kami sampai ke jalur sawah miliknya, karena jalur menuju Curug Ciastana masih tidak jelas dan kebetulan melewati area sawah miliknya. Kami pun memulai treking tepat pukul 14.00 WIB. Mula-mula jalan yang kami lalui masih berupa jalan setapak makadam. Jalur ini sebenarnya masih merupakan jalur motor warga, karena masih ada satu kampung lagi tepat sebelum jalur treking menuju Curug Ciastana. Medan jalan selepas SD masih datar kemudian menurun cukup curam hingga sampai di sebuah jembatan bambu.

Turunan yang baru saja kami lewati cukup lumayan juga untuk jalur pulang, karena artinya kami harus menanjak cukup panjang. Setelah jembatan bambu, jalan langsung menanjak. Tanjakannya sangat panjang dan semakin ke atas semakin curam. Batuan yang kami pijak pun semakin berlumut dan sangat licin. Tanjakan ditambah kemiringan yang cukup curam, dilengkapi batu besar berlumut sudah pasti cukup menguras tenaga. Kalau pakai motor pun sebenarnya masih bisa, tapi lumayan ngeri juga.

Setelah tiba di ujung tanjakan, saya mengambil nafas dulu, maklum jarang olahraga. Ternyata benar, masih ada rumah warga di atas bukit ini. Jalur yang kami ambil adalah yang terus menuju pematang sawah setelah rumah terakhir yang kami lewati. Pematang sawah pun cukup sempit dan beberapa ada yang masih becek. Bahkan beberapa titik, pematang sawah menghilang karena longsor, jadi kami harus sedikit ke tengah sawah. Untung saja, seabgian besar sawah disini sudah selesai panen dan belum ditanami kembali. Jadi kami sedikit lega harus menginjak bagian tengah sawah.

Pematang sawah yang kami lalui tidaklah datar. Pematang sawah yang harus kami lewati ternyata mengarah ke puncak bukit, artinya, selain pematang sawahnya sempit, kami juga harus menanjak dengan jarak antar pematang yang cukup tinggi. Saya? Sudah pasti kewalahan. Kami tiba di sebuah persimpangan di tengah pematang sawah. Beberapa anak kecil yang mengantar kami berhenti dan sedikit berdebat jalur mana yang harus diambil. Ternyata, sawah yang dimaksud ibu tadi adalah lokasi kami sekarang. Nah, berhubung sudah sampai di lokasi sawah, makanya anak-anak yang mengantar kami bingung.

Di sisi kiri kami, memang ada aliran sungai dan terdengar seperti ada aliran air terjun, tapi jika terus naik  ke arah bukit pun, ada saluran irigasi. Kami putuskan untuk mencari sendiri jalurnya dari sini. Anak-anak yang mengantar kami pun kembali ke bawah, karena mereka pun bingung kami ini mau kemana (ha ha). Kami memutuskan untuk mencoba jalur yang ke atas bukit. Kondisi pematang sawahnya semakin tinggi jaraknya. Jalur irigasi pun kondisinya tidak begitu baik. Beberapa beton bahkan ada yang hancur, bahkan menghilang.

Setelah beberapa kali kami harus melompati bagian yang runtuh, melipir ke rumput yang penuh lumpur, atau masuk ke saluran irigasi yang lumayan dalam, kami pun tiba di areal Curug Ciastana. Waktu yang kami perlukan untuk sampai ke Curug Ciastana dari SD sekitar empat puluh menit. Area di sekitar Curug Ciastana sangat luas. Curug Ciastana memiliki kolam air terjun yang cukup kecil. Setelah dari kolam air terjun, aliran air kembali masuk ke sistem sungai, hanya saja sungai di bagian atas Curug Ciastana ini masih terbilang sangat dangkal.

Area di sekitar bagian atas Curug Ciastana lebih mirip seperti sebuah hamparan batu yang longsor dan membentuk tingkatan kedua Curug Ciastana sebelum benar-benar kembali menjadi sebuah sistem sungai yang cukup besar. Curug Ciastana memiliki dua tingkatan utama. Tingkatan pertama merupakan bagian paling tinggi dari Curug Ciastana. Sekilas, tingkatan pertama Curug Ciastana mirip dengan Curug Sawer di Kabupaten Tasikmalaya. Yang membedakan adalah sistem sungai setelah aliran jatuhan dan karaktersitik batuan di area air terjun.

Di sekitar tingkatan pertama Curug Ciastana tidak terlalu banyak ditemukan batuan berbentuk bongkahan. Hampir seluruh areanya merupakan hamparan terbuka dengan alas batuan yang masih rata dan tidak licin. Aliran Curug Ciastana ketika kami tiba masih cukup deras, karena beberapa hari kebelakang hujan masih sering turun. Jika kemarau, aliran Curug Ciastana bisa kering total. Meskipun demikian, volume jatuhan Curug Ciastana kali ini bukanlah volume jatuhan terbesarnya.

Pukul 15.30 WIB kami memutuskan untuk kembali, karena perjalanan pulang masih sangat jauh, ditambah, sudah terdengar suara petir. Kami istirahat sebentar setelah masuk kembali ke permukiman warga. Salah satu warga menyapa kami dan mempersilahkan kami untuk singgah di rumanya. Berhubung kami mendapat informasi kalau di sekitar sini masih ada tiga air terjun lagi, kami pun menanyakan informasi tersebut.

Ternyata benar, masih ada satu air terjun lagi di sekitar sini, hanya dua dari air terjun tersebut jalan masuknya bukan dari jalur yang baru kami lewati. Warga tersebut menanyakan apa kami mau sekalian mengunjungi Curug Cipeuteuy yang lokasinya tidak jauh dari posisi kami. Karena saat ini hanya ada saya dan Puput, sementara Ujang dan Aria sudah duluan turun, maka kami pun memutuskan untuk menanyakan dulu ke mereka. Puput menyusul Ujang dan Aria sementara saya menunggu di rumah ibu ini.

Cukup lama saya tunggu di rumah warga tersebut, mungkin sekitar dua puluh menit, tapi mereka bertiga belum muncul juga. Sinyal hp disini kurang bersahabat, ditambah, hp kami semua yang lowbat, jadi sudah pasti akan sulit menghubungi mereka bertiga. Saya memutuskan untuk menyusul. Cukup sulit juga berjalan di medan turunan panjang dan curam ditambah batuan yang licin karena lumut. Hasilnya, saya membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk tiba di jembatan bambu.

Setiba di jembatan bambu, barulah tiga teman saya lainnya muncul. Benar saja dugaan saya dan Puput, ternyata Ujang dan Aria sudah sampai di SD. Kami bergegas kembali ke rumah warga tadi. Lumayan menguras tenaga juga bolak-balik di jalan desa ini dengan berjalan kaki. Setibanya di rumah warga, kami tidah berlama-lama diam dan segera treking menuju Curug Cipeuteuy. Menurut warga, jarak ke Curug Cipeuteuy lebih pendek dibandingkan ke Curug Ciastana.

Jalur treking kembali menuju pematang sawah. Kali ini, meksipun menuju ke arah bukit, tetapi jarak antar pematang sawah tidak setinggi pematang sawah ke arah Curug Ciastana, jadi kami bisa sedikit menghemat tenaga. Pematang sawah habis dan trek digantikan saluran irigasi. Saluran irigasi kali ini kondisinya sedikit lebih baik dibandingkan dengan ke Curug Ciastana. Ketika Curug Cipeutey mulai terlihat, kondisi saluran irigasi mulai memburuk.

Kami harus melompati beton saluran irigasi yang hancur terbawa longsor, bahkan ada juga beton saluran irigasi yang sudah hancur dan digantikan tanah dengan kondisi basah. Saya pun memutuskan untuk masuk ke saluran irigasi mendekati jalan setapak menuju area Curug Cipeuteuy. Waktu yang kami butuhkan untuk treking hingga tiba tepat di area Curug Cipeuteuy adalah tujuh belas menit.

Area di sekitar Curug Cipeuteuy jauh lebih sempit dibanding Curug Ciastana. Kami harus melewati bebatuan berukuran bongkahan untuk bisa melihat Curug Cipeuteuy dari dekat. Seluruh area Curug Cipeuteuy dipenuhi bongkahan batu, bahkan kami pun beristirahat di atas bongkahan batu yang cukup datar. Cukup sulit mengeksplore seluruh area Curug Cipeuteuy. Kami memutuskan turun ke SD karena waktu sudah menunjukan pukul 16.30 WIB. Setiba di rumah warga, kami isitrahat sejenak kemudian pamit kembali ke SD. Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, kami ganti baju dan cek kondisi motor terlebih dahulu.

Kami tiba di masjid tempat kami berhenti tadi siang tepat ketika Adzan Magrib. Sudah dapat dipastikan kami akan sampai di Bandung tengah malam. Kami berhasil sampai ke jalan raya utama Kadupandak – Cijati sebelum benar-benar gelap. Hari mulai benar-benar gelap ketika jalur mulai memasuki area hutan produksi milik Perhutani. Berhubung lampu motor Ujang kurang terang, jadi kami tidak bisa jalan terlalu cepat. Sekitar lima belas menit kami di jalur menuju pusat kecamatan Kadupandak, Aria mulai sadar kalau di belakang motor Ujang, ada satu motor lagi yang mengikuti tanpa lampu sama sekali.

Sempat was-was juga karena di jalur ini hanya ada kami berempat dan di tengah area hutan. Kondisi jalan dan motor pun tidak memungkinkan jika harus tancap gas. Ketika jalur kembali masuk ke permukiman, kami sedikit lega. Motor yang mengikuti kami hanya sampai di Desa Sukasari. Jalur berikutnya yang harus kami lalui masih melalui tengah hutan. Kali ini, hanya benar-benar kami berempat yang melintas di jalur ini. Kami tidak papasan dengan kendaraan lain hingga sampai di area pabrik Kebun Pasir Nangka. Niat kami untuk mampir di Situ Ciasmay ketika pulang pun harus dibatalkan.

Setelah keluar dari area pabrik Kebun Pasir Nangka, barulah beberapa kali kami papasan dengan kendaraan lain. Kami tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di area kebun Cimapag, artinya kami sudah hampir sampai di Terminal Sukanagara. Kami tiba di Terminal Sukanagara sekitar pukul 20.00 WIB dan berhenti sebentar untuk makan. Pukul 21.00 WIB kami melanjutkan perjalanan. Jalur yang kami ambil merupakan jalur yang sama dengan jalur datang, yaitu jalur Gununghalu.

Saya sendiri belum pernah lewat di jalur Gununghalu lebih dari jam 17.00 WIB, jadi bisa dibilang sedikit nekat kami ambil jalur ini malam-malam. Kami mampir dulu di SPBU barulah langsung tancap gas. Kondisi jalan di sekitar Sukanagara masih basah. Rupanya tadi sore disini turun hujan, sementara di Curug Ciastana dan Curug Cipeuteuy hanya kebagian mendungnya saja. Baru masuk jalur menuju Kecamatan Campakawarna, jalan sudah sangat sepi ditambah kabut yang cukup tebal. Udara malam yang dingin menjadi semakin dingin karena hujan baru selesai di daerah sini.

Ada dua motor lainnya yang juga mengarah ke Gununghalu serta satu mobil. Beberapa kali kami papasan dengan kendaraan pribadi, selebihnya hanya motor kami berempat saja yang ada di jalur ini. Kami berhenti di mini market di Campakawarna untuk membeli minum dan makanan ringan. Ada dua mobil yang juga berhenti serta beberapa motor warga. Dari sekian kendaraan yang berhenti, hanya kami berempat saja yang tujuannya sampai ke Gununghalu.

Kami memacu motor sedikit cepat, karena selain tenaga yang semakin berkurang, kondisi jalur ini malam hari cukup menyeramnkan juga. Kami kesulitan menyusul satu mobil, mungkin kami dikira begal, makanya kami tidak diberi jalan untuk menyusul. Setelah berhasil menyusul kendaraan tersebut dengan susah payah, kami terus tancap gas hingga masuk kembali ke hutan pinus. Di hutan pinus, kali ini kami bertemu pick up ke arah Gununghalu. Lumayan ada teman seperjalanan lagi.

Berhubung jalan sepanjang Rongga – Gununghalu sedang dibeton, jadi kami dua kali harus berhenti menunggu giliran lewat. Kami tiba di pertigaan Gununghalu – Bunijaya arah Ciwidey tepat pukul 23.00 WIB. Badan sudah mulai pegal-pegal, masuk angin, dan ngantuk pastinya. Rute kami kali ini ke arah Cililin, Cimahi, baru masuk Bandung. Perjalanan masih panjang. Kondisi jalan Gununghalu – Cililin sudah sangat mulus. Kami hanya perlu waktu satu jam untuk sampai di Cililin. Dengan kondisi jalan yang sudah mulus dan sangat sepi, kami bisa tancap gas terus.

Masuk Cililin, jalan sedikit ramai. Berhubung ini malam Minggu, jadi masih banyak komunitas-komunitas motor yang baru akan bubar dari alun-alun Cililin. Arus lalu lintas Cililin – Batujajar masih cukup ramai kami lalui dengan sisa tenaga dan rasa kantuk yang makin menjadi. Kami tiba kembali di Bandung pukul 01.30 WIB dengan seluruh badan pegal-pegal dan rasa ngantuk yang luar biasa.

 
Leave a comment

Posted by on February 13, 2017 in AIR TERJUN, Travelling