RSS

Monthly Archives: December 2016

SITU CISAMPING

Secara administratif, Situ Cisamping berada di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°44’39.5″S 108°28’30.2″E. Situ Cisamping dan Sungai Cijulang memiliki sumber mata air yang sama. Mata air Situ Cisamping dan Sungai Cijulang berasal dari sebuah lobang seperti gua yang berukuran lebar 2 meter.

Nama Cisamping berasal dari sebuah kisah perjalanan seorang Dalem Sembah Agung. Konon, Dalem Sembah Agung melakukan perjalanan untuk mencari puteranya yang hilang semasa kecil. Putranya tersebut bernama Rangga Carita, atau lebih dikenal dengan nama Sulton Muradi. Dalam perjalanan mencari keberadaan puteranya, Dalem Sembah Agung tiba di sebuah danau dan menemukan samping (kain) yang digunakan sebagai bungkus anaknya yang hilang dari ayunan di wilayah Sandaan. Ketika itu, Rangga Carita masih kecil. Danau tersebut kemudian diberi nama Situ Cisamping.

Selain asal mula nama Cisamping yang diyakini masyarakat sekitar Desa Batukaras secara turun temurun, terdapat juga kepercayaan bahwa Situ Cisamping merupakan kerajaan dari segala jenis siluman di alam gaib. Adapun nama dua siluman yang disebutkan berada di Situ Cisamping yaitu Si Gundul dan Si Pocol. Diantara kedua siluman tersebut, Si Gundullah yang paling jahil. Dengan adanya kepercayaan ini, maka pengunjung Situ Cisamping disarankan untuk selalu menjaga sopan santun, kebersihan, dan sikapnya.

Situ Cisamping dapat diakses dengan mudah karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari jalan utama menuju Pantai Batukaras dari arah Cijulang. Akses jalur menuju Situ Cisamping dari beberapa kota besar terdekat pun tidak sulit. Berikut adalah uraian pencapaian menuju Situ Cisamping dari beberapa kota besar terdekat.

TASIKMALAYA – CIMERAK – SITU CISAMPING

Arahkan kendaraan menuju Salopa melalui Gunungtanjung. Setiba di Salopa, tepatnya di persimpangan pada koordinat -7.509751, 108.269383, ikuti terus jalan utama ke arah Selatan (Cikatomas). Patokan berikutnya adalah alun-alun Kecamatan Cikatomas. Setelah melewati alun-alun dan pasar Cikatomas, akan ditemui SPBU di kiri jalan. Tepat di samping SPBU ada persimpangan jalan yang berada pada koordinat -7.627060, 108.262461.

Ambil arah kiri di persimpangan tersebut menuju Kecamatan Pancatengah. Jalur ini juga merupakan jalur yang sama menuju Curug Dengdeng Cikatomas yang terletak tepat di perbatasan Kecamatan Cikatomas dengan Kecamatan Pancatengah. Patokan berikutnya yaitu pusat Kecamatan Pancatengah. Setelah melewati alun-alun Kecamatan Pancatengah, ikuti terus jalan utama ke arah pesisir Selatan. Patokan berikutnya adalah Kecamatan Cimerak.

Setelah mengikuti jalan utama Kecamatan Cimerak, ujung jalan akan bercabang menjadi pertigaan pada koordinat -7.749063, 108.439530. Ambil arah kiri pada koordinat ini menuju Kecamatan Cijulang. Pertigaan ini merupakan pertemuan jalur Tasikmalaya – Cimerak dengan jalur Lintas Selatan Jawa Barat. Ikuti jalan utama hingga tiba di pertigaan tepat sebelum jembatan Cijulang. Pertigaan tersebut berada pada koordinat -7.734606, 108.452322. Ambil arah kanan menuju jalur utama objek wisata Pantai Batukaras melalui Jalan Batukaras.

Ikuti Jalan Batukaras hingga bertemu pertigaan pada koordinat -7.739229, 108.472959. Ambil arah kanan pada pertigaan ini. Tidak jauh dari pertigaan, di sisi kanan jalan (jika dari arah Cijulang) akan terdapat gapura Situ Cisamping. Gapura Situ Cisamping berada pada koordinat -7.742766, 108.475281. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 85 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam 3 menit.

BANJAR – PANANJUNG (PANTAI PANGANDARAN) – SITU CISAMPING

Arahkan kendaraan mengikuti jalan utama menuju objek wisata Pantai Pangandaran. Setiba di kawasan wisata Pantai Pangandaran, ambil jalur menuju Cijulang. Ikuti terus Jalan Raya Cijulang hingga tiba di alun-alun Kecamatan Cijulang. Patokan berikutnya dari alun-alun Kecamatan Cijulang adalah kawasan wisata Cukangtaneuh. Setelah melewati jembatan Cijulang, akan ditemui pertigaan pada koordinat -7.734605, 108.452313. Ambil arah kiri pada persimpangan ini.

Jalur ini merupakan jalur yang sama dengan yang menuju objek wisata Pantai Batukaras. Ikuti Jalan Batukaras hingga bertemu pertigaan pada koordinat -7.739229, 108.472959. Ambil arah kanan pada pertigaan ini. Tidak jauh dari pertigaan, di sisi kanan jalan (jika dari arah Cijulang) akan terdapat gapura Situ Cisamping. Gapura Situ Cisamping berada pada koordinat -7.742766, 108.475281. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 84,1 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam 3 menit.

CIAMIS – CIJULANG – SITU CISAMPING

Terdapat dua jalur yang dapat dipilih jika berangkat dari Kota Ciamis. Jalur pertama yaitu yang melalui Manonjaya, dan jalur kedua adalah yang melalui Banjar. Jika memilih melalui Banjar, maka, jalur yang ditempuh sama dengan jalur yang menuju kawasan objek wisata Pantai Pangandaran.

Bila memilih jalur Manonjaya, dari Kota Ciamis arahkan kendaraan menuju Jembatan Cirahong. Jembatan Cirahong merupakan salah satu landmark Kota Tasikmalaya yang berada di Kecamatan Manonjaya. Setelah melewati Jembatan Cirahong, patokan berikutnya adalah alun-alun Kecamatan Manonjaya. Setelah melewati alun-alun Kecamatan Manonjaya, patokan berikutnya adalah Kecamatan Gunungtanjung.

Ikuti jalan utama Manonjaya – Gunungtanjung. Setelah melewati Gunungtanjung, ikuti terus jalan utama menuju Salopa melalui Jalan Raya Salopa. Jalur yang akan dilalui merupakan jalur yang sama dengan jalur Tasikmalaya – Cimerak – Situ Cisamping yang sudah diuraikan sebelumnya. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 82,5 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam 53 menit.

Lokasi Situ Cisamping berada tidak jauh dari permukiman penduduk dan berada diantara kawasan wisata Batukaras dan Cijulang, sehingga jika harus bermalam, sudah banyak tersedia akomodasi di sekitar Situ Cisamping. Kondisi jalan, baik dari Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar sudah hampir seluruhnya dengan kondisi baik. Hanya arus lalu lintasnya saja yang akan lebih sepi ketika menjelang sore hari. Kawasan Pangandaran, Batukaras, dan Cijulang merupakan kawasan wisata yang sangat ramai ketika akhir pekan.

Sumber lainnya:

http://www.pangandarannews.com/2016/10/situ-cisamping-batukaras-dan-mitosnya.html

http://ngabolangngabolang.blogspot.co.id/2015/05/situ-cisamping.html

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2016 in DANAU, Travelling

 

SITU WANGI

UPLOAD 1

Secara administratif, Situ Wangi terletak di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan terletak pada koordinat 7°09’42.0″S 108°22’11.3″E. Pada mulanya, Situ Wangi hanya dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai sumber pengairan sawah, kebun, dan kolam. Pada 2007, Situ Wangi masuk kedalam pada perencanaan pengembangan objek wisata oleh Pemkab Ciamis. Hal ini baru dapat direalisasikan pada 2014.

Situ Wangi yang memiliki luas kurang lebih 4,7 Ha yang sudah meliputi area perairan dan darat akhirnya dibenahi. Pembenahan dilakukan oleh Pemkab Ciamis. Pembenahan yang dilakukan diantaranya perbaikan akses jalan menuju Situ Wangi, pembuatan gapura Situ Wangi, pembuatan area parkir wisatawan. Pembenahan lainnya, terkait dengan penataan dan penambahan sarana prasarana bisa dilangsungkan setelah pembebasan lahan warga yang berbatasan langsung dengan area Situ Wangi.

Asal-usul nama Situ Wangi memiliki dua versi yang berbeda. Versi pertama berkaitan dengan Kerajaan Galuh. Disebutkan, Raja Galuh pertama, keturunan Brata Legawa, atau lebih akrab dikenal Haji Purwa Galuh (Prabu Wangi), pergi ke Mekah untuk berhaji. Sepulang dari Mekah, Haji Purwa Galuh tersebut membawa air zam-zam. Kemudian, sebagian air zam-zam tersebut dituangkan ke dalam situ, kemudian lahirlah nama Situ Wangi. Versi kedua yaitu diambil dari nama seorang penari ronggeng yang dulu mencurahkan keluh kesahnya dengan mendatangi situ tersebut, nama seorang penari itu Nyi mas Sri Wangi.

UPLOAD 2

Selain asal-usul nama Situ Wangi yang salah satunya memiliki kaitan dengan Kerajaan Galuh, ada beberapa fenomena dan kepercayaan warga setempat mengenai Situ Wangi. Salah satunya adalah cerita mengenai Rawing dan Kohkol yang muncul pada saat peresmian Situ Wangi.

Saat Situ Wangi diresmikan, para tamu undangan disuguhi ikan mas. Ikan mas itu kemudian dimakan, tapi bagian kepalanya tidak. Ikan itu selanjutnya dilemparkan ke dalam Situ Wangi. Seketika, ikan mas itu hidup kembali. Ikan mas itu diberi nama si Rawing. Ada lagi cerita, ikan mas yang disuguhkan saat pembukaan, hanya dimakan pada bagian perutnya saja. Ikan itu kemudian hidup kembali setelah dilemparkan ke dalam situ. Ikan itu kemudian dinamai Kohkol.

Keanehan di Situ Wangi terkait keberadaan Kohkol yaitu seandainya Situ Wangi itu dipancing, maka ikan yang ada di dalamnya akan pindah ke Situ Panjalu. Ikan-ikan itu dibawa Kohkol, dimana bagian perutnya yang berlubang membawa air menuju Situ Panjalu. Air itu digunakan untuk memubuat jalan yang dilalui ikan menjadi licin. Ikan Kohkol itu biasanya diikuti ikan lele berukuran besar di belakangnya.

UPLOAD 3

Fenomena lain yang terjadi pada Situ Wangi, terjadi pada saat kejadian tsunami Aceh. Air yang ada di Situ Wangi surut sedalam dua meter, dan kembali menyembur ke atas mencapai empat meter. Kejadian itu persis bersamaan dengan peristiwa tsunami. Begitu juga saat terjadi bencana di belahan bumi lain. Air di Situ Wangi bergelombang seperti ombak dan airnya berubah menjadi keruh.

Mitos lainnya seputar Situ Wangi ialah adanya larangan untuk buang air besar dan kecil di sekitar danua. Konon, menurut warga setempat, jika dilanggar, maka pelanggar tersebut akan meninggal keesokan harinya. Untuk menghindari petaka tersebut, pelanggar harus membaca Al-Quran semalam suntuk dengan ditemani oleh warga setempat. Ada juga mitos mengenai larangan suku asli di salah satu wilayah di Jawa Barat untuk berkunjung ke Situ Wangi. Meskipun masih belum jelas alasan dan akibatnya, namun, ada baiknya pengunjung tetap menghormati kepercayaan di lokasi Situ Wangi.

Air Situ Wangi tidak akan menyusut seperti kebanyakan danau lainnya di Jawa Barat. Ketika musim kemarau, air dan ikan di Situ Wangi akan tetap berlimpah. Air di Situ Wangi tidak akan surut dan ikan-ikannya tidak akan menghilang ketika musim kemarau. Hal ini disebabkan adanya kepercayaan bahwa sumber air di Situ Wangi sama dengan sumber air yang ada di Situ Lengkong, Kabupaten Panjalu.

Akses menuju Situ Wangi termasuk mudah, bahkan dari beberapa kota besar di sektarnya, seperti Majalengka, Ciamis, bahkan Bandung. Berikut uraian jalur menuju Situ Wangi dari beberapa kota besar.

UPLOAD 4

BANDUNG – KAWALI – SITU WANGI

Arahkan kendaraan menuju Ciawi melalui Jalan Raya Bandung – Tasikmalaya. Tepat di Pasar Ciawi, ambil jalan menuju Pondok Pesantren Suryalaya melalui Pagerageung. Pertigaan menuju Pagerageung berada pada koordinat -7.125025, 108.145545. Pada koordinat ini, ambil kanan menuju Jalan H. Salim. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di pertigaan pada koordinat -7.125503, 108.154650. Ambil arah kiri pada pertigaan ini menuju Jalan Raya Nanggeleng – Cirahayu (Jalan Raya Pagerageung). Ikuti terus jalan raya utama hingga patokan berikutnya. Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya.

Setelah persimpangan dengan jalur menuju Pondok Pesantren Suryalaya, akan ditemui persimpangan besar pada koordinat -7.125572, 108.219191. Persimpangan ini merupakan pertemuan dari Jalan Raya Suryalaya – Jalan Raya Panjalu – Simpang Tiga Warudoyong. Ikuti jalan raya utama pada persimpangan ini menuju Simpang Tiga Warudoyong. Patokan berikutnya yaitu Situ Lengkong di Kecamatan Panjalu.

UPLOAD 5

Setibanya di area Situ Lengkong, tepatnya di persimpangan pada koordinat -7.128427, 108.264994, ambil arah kanan menuju gerbang masuk objek wisata Situ Lengkong. Setelah gerbang masuk objek wisata Situ Lengkong, ikuti jalan raya utama menuju Jalan Raya Panjalu – Kawali. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.177750, 108.364180. Ambil arah kiri menuju Jalan Cikijing – Kawali. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.166573, 108.368959.

Persimpangan ini berada tepat di tikungan, sehingga akan lebih mudah jika masuk dari arah Kawali. Ikuti jalan utama hingga menemukan gapura masuk ke Situ Wangi pada koordinat -7.162870, 108.368633. Gapura masuk menuju Situ Wangi berada di sebelah kanan jalan. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 115 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam 25 menit.

bandung-situ-wangi

CIAMIS – KAWALI – SITU WANGI

Arahkan kendaraan menuju Kecamatan Kawali. Setelah tiba di Kecamatan Kawali, arahkan kendaraan menuju Jalan Raya Cikijing – Kawali hingga bertemu persimpangan pada koordinat -7.177648, 108.364181. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Cikijing – Kawali. Ikuti jalan utama hingga menemukan gapura masuk ke Situ Wangi pada koordinat -7.162870, 108.368633. Gapura masuk menuju Situ Wangi berada di sebelah kanan jalan. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 23.2 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 38 menit.

ciamis-situ-wangi

MAJALENGKA – PANAWANGAN – SITU WANGI

Arahkan kendaraan menuju Kecamatan Cikijing melalui Kecamatan Maja kemudain Kecamatan Talaga. Setiba di Kecamatan Cikijing, arahkan kendaraan menuju persimpangan ke Jalan Raya Cikijing – Kawali. Persimpangan menuju Jalan Raya Cikijing – Kawali berada pada koordinat -7.016263, 108.365689. Ambil arah kiri menuju Jalan Raya Panawangan. Ikuti jalan raya utama hingga tiba pada persimpangan di koordinat -7.025867, 108.351542. Ambil arah kiri menuju Jalan Raya Panawangan.

Arahkan kendaraan hingga tiba di Panawangan. Setiba di Panawangan, ikuti jalan Raya Cikijing – Kawali hingga tiba persimpangan pada koordinat -7.177648, 108.364181. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Cikijing – Kawali. Ikuti jalan utama hingga menemukan gapura masuk ke Situ Wangi pada koordinat -7.162870, 108.368633. Gapura masuk menuju Situ Wangi berada di sebelah kanan jalan. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 62.3 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 44 menit.

majalengka-situ-wangi

Kondisi jalan, baik Jalan Raya Ciamis – Kawali – Winduraja, Jalan Raya Pagerageung – Panjalu – Kawali, dan Jalan Raya Cikijing – Panawangan – Winduraja akan sangat sepi menjelang malam. Penerangan masih sangat minim serta jarak antar rumah yang cukup berjauhan. Sebaiknya tidak melintas di jalur ini pada malam hari bagi yang belum terbiasa. Situ Wangi sebagai objek wisata masih belum memiliki fasilitas penunjang wisata yang lengkap, bahkan mck. Pengunjung dapat meminta ijin pada warga setempat jika membutuhkan sesuatu. Lokasi Situ Wangi berada sangat dekat dengan permukiman warga.

UPLOAD 6

Sumber lainnya:

http://www.harapanrakyat.com/2016/03/situ-wangi-berpotensi-jadi-obyek-wisata-unggulan-di-ciamis/

http://www.harapanrakyat.com/2010/12/obyek-wisata-situ-wangi-dibiarkan-sareuseuk/

http://fokusjabar.com/2016/02/05/kencing-di-situ-wangi-winduraja-ciamis-bisa-mati/

http://www.harapanrakyat.com/2015/04/begini-sejarah-dan-fenomena-alam-yang-terjadi-di-situ-wangi-kawali-ciamis/

http://fokusjabar.com/2015/10/19/keajaiban-situ-wangi-winduraja-ciamis-di-musim-kemarau/

upload 7

UPLOAD 8

UPLOAD 9

UPLOAD 10

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2016 in DANAU, Travelling

 

CURUG BATU NYUSUN 25 DESEMBER 2015

Libur Natal kali ini, saya dan suami akan mengunjungi beberapa air terjun di daerah Pangrumasan dan Cihurip, Kab. Garut. Air terjun yang rencananya akan kami kunjungi yaitu Curug Batu Nyusun di Kec. Peundeuy dan Curug Nyogong di Kec. Cihurip. Sebenarnya ada Curug Koncrang yang juga berlokasi di Kec. Peundeuy, tapi akhirnya pilihan jatuh pada Curug Batu Nyusun di Kec. Peundeuy. Karena rencana pergi ini dadakan, jadi kami hanya pergi berdua saja. Kalau libur panjang begini, mencari teman yang bisa diajak dadakan sangat sangat susah.

Ketika ga sengaja sedang chating dengan Mitra, ternyata posisinya sekarang ada di Singajaya. Langsung saja saya ajak untuk ke Pangrumasan. Sekedar informasi, jalan menuju Pangrumasan pasti akan melewati Singajaya. Saya pun segera tanya info-info tentang Desa Pangrumasan. Kondisi jalan menuju Pangrumasan, jalur yang harus dilewatin, jalur tembus dari Pangrumasan ke Cihurip, dan ga ketinggalan, siapa tau ada info tambahan dri warga tentang curug-curug yg akan kami cari.

Info dari Mitra pun datang. Menurut warga di Singajaya, jalan menuju Peundeuy searah dari Singajaya. Benar-benar tinggal ikuti jalan utama Singajaya. Kondisi jalan sampai Kec. Singajaya sudahbaspal mulus, tapi selepas Singajay sampai ke Pangrumasan jalannya jelek. Ada yang bilang jeleknya hanya aspal desa yang mengelupas, ada juga yang bilang jalan batu. Sudah bisa ditebak daerah Selatan memang tidak bisa dipisahkan dari jalan batu. Mengenai jalan tembus ke Cihurip dari Pangrumasan, kata warga, tetap harus balik lagi ke Singajaya baru ke Cihurip.

25 DESEMBER 2015

Seperti biasa, rencana berangkat subuh jadinya kesiangan. Kami baru keluar rumah sekitar pukul 06.00 WIB. Untungnya, jalur yang kami lewati kali ini bukan termasuk jalur yang ramai meskipun long weekend. Jalur yang kami lewati adalah Sapan – Majalaya – Ibun – Lingkar Monteng – Kamojang – Samarang, lalu tembus ke jalur utama Garut – Cikajang. Di Cikajang, jalur yang kami ambil adalah yang mengarah ke Banjarwangi – Singajaya – Peundeuy – Desa Pangrumasan.

Jalanan baru ramai setelah kami masuk Samarang. Kami berhenti sejenak di mini market di daerah Samarang. Baru juga jalan kurang dari  dua jam, tapi rasanya sudah mulai ngantuk lagi. Akhirnya kami berhenti agak lama disini.  Sekitar pukul 08.00 WIB, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami cukup lancar sampai memasuki Pasar Cikajang. Di Pasar Cikajang, arus lalu lintas sedikit terhambat.

Selepas Pasar Cikajang, jalan kembali sepi. Kami bahkan tidak perlu waktu lama untuk masuk ke jalur Banjarwangi – Singajaya. Kondisi jalan yang kami lewati sangat mulus dan kebetulan cuaca sedang cerah. Puncak-puncak bukit dan jurang dalam yang tepat berada di sisi jalan terlihat jelas. Jurang di sisi kiri kami ini cukup dalam. Di dasar jurang mengalir sebuah aliran sungai besar bernama Ci Udian. Sungai ini nantinya akan bersatu dengan aliran sungai utama yang bermuara tepat di sisi luar Cagar Alam Leuweung Sancang.

Awalnya, pemandangan dan udara segar di kaki Gunung Cikuray ini sukses mengusir kantuk saya, tapi karena udaranya dingin dan lebih segar, saya pun mengantuk lagi. Jalan dari Cikajang hingga Singajaya memang berkelok-kelok dan sempit, tapi karena jalannya sudah aspal mulus, malah jadi cepet ngantuk. Lain ceritanya kalau leway di jalur tepat selepas pukul 18.00 sampai pukul 21.00 WIB, dijamin ngantuk pun hilang. Jalur ini berada di kaki Gunung Cikuray, jadi, selepas pukul 18.00 WIB terkadang kabut sangat tebal mulai turun. Jarak pandang pun bisa kurang dari 1 m.

Ini kali ketiga saya lewat jalur ini, dan ini pertama kalinya saya lewat ketika masih ada matahari. Rasanya sudah jalan lama tapi kami ga sampai-sampai juga di Singajaya. Kakau lihat waktu tempuh pun, baru dua jam dari Samarang, waktu standar. Kami sempat istirahat lagi di Banjarwangi. Padahal saya kira kami sudah sampai di Singajaya. Karena perjalanan kami masih sangat sangat jauh, jadi kami tidak berhenti lama disini.

Kami janjian dengan Mitra tepat di perbatasan Kec. Singajaya dengan Kec. Peundeuy. Memasuki Kecamatan Peundeuy, jalan lebih banyak didominasi turunan. Turunan panjang dan curam harus kami lewati. Akhirnya kami sampai di tempat janjian dengan Mitra. Tidak ada siapa-siapa. Berhubung cuaca terik dan mulai ngantuk lagi, setelah memberi kabar kami sudah sampai, kami pun melipir di saung pinggir jalan. Menurut info yang saya dapat dari sosmed, jalan menuju Pangrumasan batu-batu. Treking menuju curug pun sekitar satu jam.

Curug Batu Nyusun yang akan kami datangi berada di Kp. Cikuda, Desa Pangrumasan, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Nama Kecamatan Peundeuy sendiri baru saya dengar ketika melihat postingan Curug Batu Nyusun ini. Ternyata Mitra datang bersama tantenya. Berhubung tantenya balik ke arah Cikajang, jadi kami menunggu ELF jurusan ke Cikajang lewat dulu. Sambil menunggu sambil iseng bertanya ke tukang ojek.Jawaban yang kami dapat beragam. Untuk masalah jalur menuju Pangrumasan, kami sudah ada di jalur yang benar. Mengenai Curug Batu Nyusunlah yang menjadi perdebatan. Ada beberapa tukang ojek yang bilang kalau di Pangrumasan sama sekali tidak ada curug. Ada juga yang bilang, kalau curug yang di Pangrumasan bukan Curug Batu Nyusun. Yang lainnya bilang pernah dengar nama Curug Batu Nyusun di Pangrumasan. Tante teman saya pun bahkan bilang di Pangrumasan tidak ada curug, yang ada jalannya hancur lebur.

Saya sendiri lebih percaya feeling kalau postingan teman saya itu tidak salah lokasi. Teman saya itu benar-benar datang sendiri ke Curug Batu Nyusun, dan teman saya itu sama seperti saya, mengumpulkan informasi tentang objek wisata dengan lokasi yang selengkap-lengkapnya dan sebenar-benarnya. Bagi kami, cara untuk meluruskan informasi mengenai suatu objek wisata di suatu wilayah dengan cara datang langsung ke objek wisata tersebut.

Karena malas berdebar panjang mengenai lokasi yang saya saja belum terlalu kenal, jadi ya hanya senyum-senyum saja. Satu informasi lagi, kalau mau ke Cihurip, kami harus balik ke Singajaya. Tidak ada jalan tembus dari Pangrumasan ke Cihurip. Pangrumasan itu istilahnya seperti ‘jalan buntu’, mentok disitu. Elf jurusan Cikajang pun datang. Kami pun langsung meluncur menuju Pangrumasan. Jalan di depan kami sudah merupakan jalan tak beraspal. Aspal yang ada pun hanya tinggal sisa-sisa, selebihnya, lubang dan batuan lepas.

Makin lama, jalannya makin sepi. Makin jauh dari permukiman, sungai besar di sisi kiri jalan pun menghilang, diganti dengan kebun-kebun. Jalan yangkami lewati semakin hancur dan akhirnya menjadi makadam. Medan jalan terus menurun meskipun tidak curam. Tanjakan hanya sesekali kami temui. Cuaca sangat cerah. Malah kami merasa cukup kepanasan. Makin lama, jalan makin sepi dan ga meyakinkan. Kamipun beberapa kali bertanya ke warga yang susah sekali ditemui di jalan ini saking sepinya. Dan ternyata sudah benar jalur kami ini.

Hanya ada satu informasi dari warga yang bisa sedikit meyakinkan. “Kalau nanti sudah ketemu turunan panjang, nanti belok kanan setelah turunan. Setelah itu, nanjak aja terus, sampe di Desa Pangrumasan. Masih jauh.” Begitu kira-kira patokan kami berikutnya. Berhubung kami ga tau maksudnya turunan panjang itu seperti apa, jadi setiap jalannya menurun, kami pasti celingukan dulu.

Akhirnya kami ngerti maksudnya turunan panjang itu apa. Jalan yang kami lewati ini sampai di punggungan bukit. Kanan dan kiri kami jurang yang sangat dalam. Jalan satu-satunya yang harus kami lewati yaitu yang menuju jurang di sisi kanan kami. Di kejauhan, tepatnya di bukit di seberang kanan kami terlihat permukiman yang cukup ramai. Dari lokasi ini, jalan sudah makadam sangat amat jelek sekali.

Selepas lokasi saya bertemu Mitra, arus lali lintas semakin sepi. Kami sangat jarang papasan atau bareng dengan kendaraan lainnya. Sampai di punggungan ini pun, hanya motor kami bertiga yang melintas. Di sisi jalan setidaknya ada dua sampai tiga warung yang menjual minuman dan cemilan. Sudah ada lima motor warga yang sedang beristirahat di dalam warung. Mitra pun bertanya jalur menuju Pangrumasan ke salah satu warung tersebut.

Rumah-rumah di bawah di seberang kanan tempat kamilah Desa Pangrumasan. Artinya, kami harus melewati turunan panjang dan curam. Lokasi warung ini ada di puncak bukit, tepatnya di punggungan dan Desa Pangrumasan ada di dasar bukit ini. Bukit tempat kami bertanya di warung ini termasuk cukup tinggi, meskipun saya tidak bisa mengira-ngira berapa ketinggiannya. Susah payah kami lalui turunan makadam yang curam, panjang, dan batuannya sebagian banyak yang lepas dan hilang ini.

Sampai juga kami di dasar bukit. Hanya ada beberapa rumah di ujung turunan yang baru saja kami lewati, tapi ini sudah masuk wilayah administrasi Desa Pangrumasan. Jalan di depan kami masih makadam tapi sedikit menanjak. Sedikit demi sedikit kami masuk ke wilayah permukiman. Meskipun ini masih jam 11.30 WIB, tapi sangat sangat sangat sepi. Kami tiba di persimpangan. Ada papan penunjuk jalan sederhana dari kayu seadanya yang menunjukan jalan di kiri kami adalah yang menuju Toblong, Maroko dan berujung di Perkebunan Miramareu. Perkebunan Miramareu sendiri sudah termasuk wilayah pesisir dan perbatasan antara Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya.

Sesuai petunjuk salah satu warga yang kami tanya tadi, jalan yang kami ambil setelah turunan panjang adalah jalan yang menanjak ke kanan. Jalan di depan kami ini sama sulitnya dengan turunan panjang yang baru saja kami lewati. Bedanya, kali ini tanjakan sangat panjang dengan jalan makadam yang sangat sangat hancur. Susah payah motor saya naik, karena saya dan suami berboncengan. Kali ini, MX saya sukses nanjak sampai habis tanpa nurunin paksa boncengers.

Setelah tiba di atas tanjakan, jalan di depan kami malah makin membingungkan. Sama sekali tidak ada permukiman dan hanya ada kebun di sisi kanan kami, jurang di sisi kiri kami. Kami jalan pelan-pelan dan kami langsung berhenti ketika mendapat jalan yang sedikit datar. Kami berhenti tepat di samping jalan setapak menuju kebun. Di tanjakan yang baru saja kami lewati, saya tidak sengaja melihat satu buah air terjun yang cukup besar. Dan kalau mengira-ngira posisinya, jalur masuk menuju air terjun tadi adalah jalan setapak di sebelah kami.

Ragu antara coba cek jalur menuju air terjun yang baru saja kami temui atau menoba jalan terus sampai bertemu warga yang bisa kami tanya. Kami mendengar suara motor. Akhirnya ada juga orang yang bisa kami tanya. Dua orang warga yang usianya jauh lebih muda dari kami memberi informasi kalau mereka tidak tahu curug tujuan kami, tapi kalau Curug Koncrang masih di depan. Kalau saya tidak salah, lokasi Curug Koncrang itu berdekatan dengan Curug Batu Nyusun yang kami cari, jadi kami sudah ada di jalur yang tepat.

Saya dan Mitra menunggu di pinggir jalan sementara suami mengecek jalan setapak. Cukup lama juga jalannya, berarti antara jalannya jauh atau memang bukan ini jalannya. Setelah hampir tiga puluh menit, suami pun kembali. Menurutnya, jalan ini bisa menuju ke air terjun yang tadi saya lihat di tanjakan, hanya saja jalan ini tembus di bagian atas curug, jadi, masih harus turun lagi lewat pematang sawah. Curug yang terlihat dari jalan setapak ini hanya dua tingkatan, tapi kemungkinan lebih dari dua tingkatan.

Ga banyak buang waktu, kami pun lanjutin jalan. Sisi kiri jalan yang kami lewati ini adalah jurang yang cukup dalam. Di seberang jurang, terlihat permukiman penduduk yang cukup ramai. Jalan yang kami lalui semakin rusak dan jelek. Medannya terus turun. Meskipun turunannya tidak panjang dan tidak curam, tapi batu-batunya yang besar sempat membuat ban belakang beberapa kali tersangkut. Jalan semakin menyempit dan akhirnya melewati kebun lagi. Masih tidak ada warga yang bisa kami tanya disini.

Bahan bakar motor saya sudah hampir habis. Berhubung kami belum tahu sejauh mana lagi tujuan kami, makan begitu kami masuk kawasan permukiman, kami langsung cari penjual bensin eceran. Agak khawatir juga soalnya dari tadi kami belum memasuki area permukiman lagi. Posisi kami cukup jauh dari permukiman warga sebelumnya, di dekat pertigaan menuju Maroko.

Untunglah ada satu rumah yang menjual bensin eceran. Kami pun berhenti. Sambil mengisi bahan bakar sambil bertanya lokasi Curug Batu Nyusun. Awalnya kami hanya bertanya ke ibu penjual bensin, tapi akhirnya malah jadi satu kampung yang ikut nimbrung. Tetangga ibu penjual bensin ternyata tau curug yang kami maksud dan menunjukan jalannya. Menurut ibu ini ada dua jalan, yang satu dari dekat lokasi kami sekarang, dan yang satu lagi dari kebun di bukit di seberang lokasi kami.

Semakin lama, semakin banyak warga yang nimbrung dan masing-masing sepertinya merasa tau curug yang saya maksud. Tapi, sayangnya tidak ada yang kompak. Saat obrolan denagan ibu-ibu warga sini, hanya saya yang mengerti apa yang diucapkan ibu-ibu ini, sementara suami dan Mitra tidak ngerti, karena berasal dari luar Jawa Barat. Karena makin banyak yang nimbrung dan ga ada satupun informasi yang bisa ditangkap, akhirnya ibu yang jual bensin pun memanggil salah satu warga yang masih terbilang muda.

Warga ini kebeneran tahu lokasi Curug Batu Nyusun. Ibu penjual bensin pun meminta tolong warga ini untuk mengantar kami. Kami disuruh lewat jalur di dekat rumah sala satu warga (saya lupa namanya). Pemuda ini pun setuju dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju jalur yang benar. Jalan di depan kami benar-benar makin mengecil dan langsung turunan panjang dengan batuan lepas. Kira-kira 2 meter ke depan, jalan kami melintasi aliran sungai yang cukup besar namun aliranya tidak terlalu deras.

Jalan kemudian sedikit membaik kondisinya. Kami melewati Kantor Desa Pangrumasan. Ternyata, jalan dan bangunan-bangunan yang sedang kami lalui ini adalah permukiman yang kami lihat sewaktu kami berhenti untuk mengecek jalan ke air terjun. Setelah lewat kantor desa, kami baru memasuki area permukiman warga yang paling ramai. Tepat di rumah terakhir setelah pertigaan, pemuda yang mengantar kami berhenti. Ternyata ini adalah rumah warga yang dimaksud ibu penjual bensin tadi.

Pemuda tadi menjelaskan maksud kedatangan kami ke pemilik rumah. Pemilik rumah adalah bapa-bapak umurnya sekitar 30-40an yang cukup ramah. Meskipun ramah, tapi penampakannya lumayan sangar. Bapak ini memberi informasi kalau jalan ke Curug Batu Nyusun ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih satu jam. Saya dan suami menyusun ulang barang bawaan di dalam tas. Barang-barang yang bisa ditinggal seperti baju ganti, sandal gunung, dan beberapa benda lainnya kami titipkan ke ibu pemilik rumah.

Tidak disangka, akhirnya bapak pemilik rumah ini mau mengantar kami ke Curug Batu Nyusun. Alasannya, karena ada sebagian trek yang cukup membingungkan bagi selain warga disini. Perjalanan pun dimulai. Pertama-tama kami masih menyusuri jalan desa yang berupa turunan. Kemudian setelah turunan, jalan desa kembali menanjak, namun di sisi kiri jalan ada jalan menuju pematang sawah. Jalan menuju pematang sawah inilah trek kami.

Awalnya, jalan berupa pematang sawah yang masih datar-datar, namun ada sebagian yang basah. Maklum, sudah musim hujan, sinar matahari jarang muncul lama di daerah sini, tutur bapak yang mengantar kami. Selain bapak pemilik rumah, ada dua orang pemuda lainnya yang ikut menemani, termasuk pemuda yang disuruh mengantar kami oleh ibu penjual bensin. Pematang sawah yang kami lalui semakin lama semakin mengarah ke aliran sungai. Benar saja, kami harus menyeberangi saluran irigasi tanpa jembatan, alias harus nyemplung.

Setelah nyemplung, trek kami kembali menanjak. Trek kami hampir semuanya merupakan pematang sawah. Jadi, baik medannya menanjak atau menurun, bentuknya tetap pematang sawah. Pematang sawah yang kami lalui ini jauh lebih kecil dari pematang-pematang sawah yang biasa ditemui di kota. Tanahnya pun tidak sepenuhnya kering. Jarak antar pematang sawah yang lebih tinggi dengan yang di bawahnya pun lumayan jauh. Saya yang baru blusukan lagi seperti ini lumayan kesulitan berjalan. Jadi, saya dan suami sedikit tertinggal dari yang lainnya.

Rombongan depan nampak menuju kebun dan tidak lagi menyusuri pematang sawah. Kami pun mencari pematang sawah mana yang mengarah ke kebun tersebut. Di kebun ini, kam istirahat sejenak. Ada saung kecil dengan kondisi seadanya. Hanya bisa dua sampai tiga orang yang duduk di saung, itupun hanya di bagian luarnya saja. Kebun tempat kami saat ini dipenuhi ilalang. Tinggi ilalang di tempat kami semuanya lebih tinggi dari kami. Warga yang ikut mengantar kami menebas ilalang yang menghalangi perjalanan kami.

Jalur berikutnya sudah bukan pematang sawah lagi, tapi jalan setapak di kebun. Jangan bayangkan jalan setapak ini seperti yang ada di Tahura atau jalur-jalur pendakian resmi. Jalan setapaknya benar-benar tertutup ilalang yang lebih tinggi dari kami. Bahkan, ada beberapa lubang dalam di jalan setapak menurun. Lubang-lubang ini tertutup rapat oleh ilalang. Selain itu, batuan pijakan di medan turunan ini adalah batuan lepas. Tidak ada batang pohon besar yang bisa dijadikan pegangan. Jadi, antara sedikit berperosotan atau minta bantuan untuk dipegangi selama turun.

Curug Batu Nyusun yang kami cari belum juga terlihat, padahal kami berjalan sudah hampir satu jam lamanya. Jalan setapak kami mencapai ujungnya. Di depan kami mengalir sungai yang cukup lebar dengan air yang sangat jernih. Alirannya tidak terlalu deras. Untuk menuju sungai, kami harus sedikit ngesot. Posisi kami jauh lebih tinggi dibandingkan batas sungai. Karena ini sungai yang masih alami, jadi tanah di samping sungai merupakan tanah basah dan lumpur. Salah memijakan kaki, bisa-bisa masuk ke lumpur.

Setelah susah payah mencapai batas sungai, terlihatlah Curug Batu Nyusun yang kami cari. Posisi Curug Batu Nyusun berada di kanan kami. Volume jatuhannya cukup deras. Jarak cipratan airnya cukup jauh, jadi sepertinya tidak bisa mengambil foto terlalu dekat dengan air terjun. Dari posisi kami saat ini, masih harus berjalan ke hulu dengan cara memanjat batu kali yang jauh lebih besar dari ukuran badan kami. Meskipun terlihat gampang, tapi hampir mayoritas batu-batu kali ini basah dan berlumut. Kurang hati-hati sedikit saja, bisa-bisa terpeleset dan jatuh ke sungai.

Air Curug Batu Nyusun dan aliran sungainya cukup jernih, karena masih termasuk di daerah hulu sungai. Suhu airnya pun sangat sangat dingin. Baju kami yang sudah basah karena keringat, kali ini ditambah oleh cipratan air Curug Batu Nyusun, Yang kami khawatirkan adalah hujan yang turun tiba-tiba. Karena sedari kami treking, cuaca perlahan-lahan berubah, dari cerah menjadi mendung. Bapak pemilik rumah dan tiga warga lainnya pamitan sebentar. Tinggalah kami dengan pemuda yang mengantar kami dari tempat penjual bensin.

Pemuda ini membenarkan kalau Curug Batu Nyusun ini akan kering total ketika kemarau. Masih belum banyak pengunjung ke Curug Batu Nyusun. Kalaupun ada, hanya warga sekitar. Paling jauh pun hanya dari Garut kota. Meskipun area untuk pengunjung sebagian besar berada di aliran sungai, tapi area di sekitar Curug Batu Nyusun ini relatif aman dibandingkan dengan diair terjun yang kami lihat di tanjakan tadi. Kami sebelumnya bertanya mengenai keberadaan air terjun yang terlihat di tanjakan ketika akan masuk Desa Pangrumasan.

Pemuda ini memberi tahu kami nama curug sekaligus tanjakannya, tapi sayang, saya lupa namanya apa. Pemuda ini bercerita, sudah beberapa warga terbawa hanyut di air terjun tersebut ketika sedang mencari ikan. Banyak warga setempat yang mencari ikan di aliran-aliran sungai di Desa Pangrumasan ini. Singkat cerita, warga yang terbawa hanyut tersebut ditemukan di aliran utama sungai besar yang berhulu di Banjarwangi.

Suami dan Mitra memutuskan untuk mencoba berenang di kolam Curug Batu Nyusun. Air kolamnya sangat sangat dingin. Saya pun tidak ketinggalan masih berusaha mengambil foto Curug Batu Nyusun dari jarak yang lebih dekat. Cipratan air Curug Batu Nyusun tergantung tiupan angin. Ketika tiupan anginnya tidak mengarah ke lokasi kami, saya pun segera mengambil foto. Tetap saja gagal. Akhirnya hanya bisa mengambil foto seadanya dari kamera hp.

Setelah puas berenang dan foto-foto, kami kembali ke jalur masuk dari kebun. Ternyata bapak pemilik rumah dan dua warga yang pamit tadi mengambil kelapa dan diberikan pada kami. Wah, habis jauh-jau naik motor di jalan makadam hancur lebur, hampir putus asa karena nyasar, treking yang ga nyampe-nyampe,d an ternyata kami belum makan siang, eehh dapet kelapa gratisan, segaar rasanya. Sambil menikmati kelapa, kami pun bertanya tentang daerah sekitar Pangrumasan.

Menurut pemuda yang mengantar kami, sebenarnya ada jalan tembus ke Cisompet, bukan Cihurip, hanya saja melewati gunung. Jika dilihat di peta, posisi Kecamatan Cihurip berada tepat di balik bukit di hadapan kami. Tepat dibalik bukit ini adalah Desa Cisangkal, Kecamatan Cihurip. Lokasi yang sama dengan lokasi Curug Cibadak yang pernah saya kunjungi akhir 2012 lalu. Memang, dulu sewaktu ke Curug Cibadak, ketika bertanya pada warga mengarah kemana jalan di depan Curug Cibadak ini, jawabannya adalah jalan buntu ke arah gunung. Kali ini, saya sedang berada di baliknya.

Jalan yang dimaksud adalah jalan setapak mendaki ke puncak gunung, kemudian tembus ke Cisompet. Sebenarnya kami malas kalau harus balik lagi ke jalan yang tadi kami lewati, tapi setelah dipikir-pikir, warga pun jarang yang pakai jalur ini dan sudah sore juga, kami pun memutuskan mengambil jalan awal kami datang. Kelapa habis, kami pun siap-siap kembali ke desa.

Sepanjang perjalanan pulang, kami diberitahu kenapa dinamakan Batu Nyusun. Selain karena dinding air terjun yang berupa Columnar Joint, ada juga batuan tebing di dekat Curug Batu Nyusun yang bentuknya seperti batu lonjong yang disusun-susun hingga ke puncak bukit. Sebagian warga disini lebih mengenal Curug Batu Nyusun dengan nama Curug Cisarua. Diatas Curug Batu Nyusun yang kami datangi, ada Curug Tengah. Curug Tengah merupakan tingkatan kedua dari tiga tingkatan utama Curug Cisarua / Curug Batu Nyusun.

Ketika kami sedang treking di pematang sawah, warga menunjukan air terjun yang sangat tinggi di tebing yang cukup jauh. Air terjun tersebut masih berada di daerah Pangrumasan, hanya saja jalan desa dan medan trekkingnya jauh lebih sulit. Setidaknya harus dari pagi sudah mulai trekking.  Perjalanan pulang terasa lebih lama. Ketika tenaga sudah cukup terkuras, saya masih harus melewati satu tanjakan lagi, yaitu pematang sawah di dekat jalan desa.

Sekitar pukul 15.30 WIB kami sudah kembali ke rumah warga. Saya langsung meminta ijin untuk ikut ganti baju. Tidak berlama-lama, kami packing ulang dan siap-siap kembali ke Cikajang. Kami khawatir kalau keburu turun hujan, jalan pulang kami menjadi lebih sulit. Setelah berterimakasih, kami pun pamit. Sebenarnya kami ditawari untuk menginap saja, tapi karena kami tidak mempersiapkan untuk menginap, kali ini kami menolaknya.

Perjalanan pulang tersasa lebih cepat, tau-tau kami sudah tiba di tempat kami isi bensin. Ibu-ibu yang tadi siang kami tanya-tanya hanya ada sebagian saja yang terlihat. Kami pun berpamitan dengan pemuda yang mengantar kami. Kami sempat berhenti lagi untuk mengambil foto Curug Batu Nyusun dari kejauhan. Sepanjang perjalanan kami dari tempat kami isi bensin sampai ke tempat tadi siang kami berhenti, setidaknya kami tiga kali papasan dengan motor yang pengendaranya seperti dari luar Pangrumasan.

Turunan curam berhasil kami lewati dengan lancar, tinggal tanjakan panjang ke atas bukit. Rasanya sudah malas kalau harus turun gara-gara motornya ga kuat nanjak. Ternyata, MX berhasil sampai di ujung tanjakan dan saya pun tidak diturunkan paksa. Hanya, begitu lewat warung di atas bukit, motornya malah ga kuat nanjak. Saya pun akhirnya turun. Sambil treking, tidak lupa untuk mengambil foto kondisi jalan dan pemandangan sekitar. Untunglah masih bisa dapat oleh kamera hp seadanya karena sudah mendung dan gelap.

Kami langsung tancap gas nonstop. Setidaknya kalaupun hujan, target kami sudah ada di Singajaya. Sesampainya di Singajaya, rasanya tanggung kalau berhenti untuk makan di Singajaya. Kami hanya berhenti untuk membeli cemilan kemudian jalan lagi. Kami akan berhenti makan di Banjarwangi. Sesampainya di Banjarwangi, sekitar pukul 17.00 WIB, yang kami cari adalah warung nasi. Kami selesai makan sekitar pukul 18.00 WIB. Waktu tempuh dari Pangrumasan sampai Banjarwangi ternyata hanya dua jam, tapi tadi siang rasanya lebih dari dua jam.

Yang saya khawatirkan sekarang adalah kabut di sepanjang jalur Banjarwangi hingga Cikajang. Jalur ini terkenal dengan kabutnya yang sangat tebal. Pertama kali lewat di jalur ini, saya langsung disuguhi kabut tebal. Benar saja, kabut sudah keburu turun. Jam yang sama dengan pertama kali saya lewat jalur ini. Kali ini kami tidak sendiri, ada beberapa motor dan tiga mobil yang sama-sama melintas. Satu persatu mobil kami susul sampai akhirnya kami hanya bareng dengan motor. Jarak pandang benar-benar terbatas.

Kabut disini, menurut saya jauh lebih tebal dibandingkan kabut di Balegede, Kab. Cianjur. Motor Mitra yang ada di depan kami pun akhirnya menghilang dari jarak pandang karena kabut. Jangan tanya seberapa tebal kabutnya. Ini adalah kabut paling tebal yang saya lewati. Bahkan marka jalan pun tidak nyaris tidak keliahatan. Jalur yang tertutup kabut ini berada tepat di sisi lain kaki Gunung Cikuray. Sisi Gunung Cikuray di daerah Banjarwangi ini bukan sisi populer seperti sisi Cilawu, Salawu, dan Cikajang.

Angin yang bertiup cukup kencang, setidaknya membantu kabut cepat lewat dan terbawa ke bawah lereng. Begitu kami bisa melihat hamparan ladang penduduk karena kabutnya sudah menipis, lega rasanya. Ini artinya kami sudah dekat dengan pertigaan dengan Jalan Raya Cikajang. Mitra sudah menunggu di gapura pertigaan. Disini kami baru bisa tertawa lagi karena sepanjang kabut tadi suasana sangat tegang. Konsetrasi tidak boleh buyar. Salah-salah malah masuk jurang atau tertabrak/terserempet kendaraan lain.

Kami berpisah di Cisurupan. Mitra akan menginap semalam lagi di rumah saudaranya, sementara kami langsung meluncur ke Bandung. Perjalanan cukup lancar. Kami masuk daerah Cipanas sekitar pukul 21.00 WIB. Arus lalu-lntas sudah mulai lancar. Belakangan ini,  begitu keluar dari Cipanas sampai lewat alun-alun Leles adalah daerah rawan macet. Bahkan, kalau long weekend seperti ini, bukan tidak mungkin macet total. Sekitar pukul 23.00 WIB kami sudah sampai di rumah. Akhirnya rasa penasaran saya dengan Curug Batu Nyusun ini terbayar juga.

 
Leave a comment

Posted by on December 12, 2016 in AIR TERJUN, Travelling