RSS

Monthly Archives: March 2016

CURUG SAWER 20 DESEMBER 2015

Kali ini kamu memutuskan untuk mencari Curug Sawer. Keterbatasan waktu menjadi alasan kami memilih curug ini. Berdasarkan informasi yang didapat, perhitungan waktu untuk mencapai curug tersebut hingga sampai lagi di Bandung sebelum pukul 19.00 WIB mencukupi untuk perjalanan kali ini. Rute yang ditempuh relatif mudah dan kondisi jalan yang akan dilalui pun sepertinya 80% onroad.

MINGGU, 20 DESEMBER 2015

Perjalanan kami mulai pukul 05.00 WIB. Kami keluar dari Bandung sesubuh mungkin untuk menghindari kemacetan yang akan sangat menghambat perjalanan kami. Seperti biasa, rute yang kami lalui jika ke daerah Tasikmalaya yaitu melalui Kota Garut, Cilawu, Salawu, Singaparna kemudian Sukaraja. Perjalanan relatif lancar, kami tidak terhambat kemacetan karena pergantian sift pabrik di Rancaekek dan ramainya lalu lintas yang didominasi anak sekolah sepanjang Kadungora hingga Tarogong.

Memasuki Kecamatan Cilawu, arus lalu lintas kembali sepi. Setelelah melewati pertigaan menuju Perkebunan Dayeuhmanggung yang sekaligus rute pendakian Cikuray, rasa kantuk mulai menyerang. Angin dan udara yang masih dingin cukup membuat rasa kantuk semakin terasa. Kami mampir untuk sarapan dulu di SPBU Salawu untuk sarapan sekitar pukul 07.00 WIB. Selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul 08.00 WIB. Cuaca cukup cerah selama perjalanan.

Perjalanan kami cukup lancar hingga memasuki Kecatana Sukaraja. Tiba-tiba saja pengendara sepeda motor di belakang kami menyalip dan meneriakkan sesuatu, tidak hanya itu, beberapa orang yang ada di bengkel yang kami lewati pun sepertinya meneriakkan sesuatu. Karena merasa bukan meneriaki kami, kami pun terus melaju, sampai tiba-tiba motor sedikit berat. Ternyata ban belakang sudah sangat kempes. Sepertinya kena pake. Memang, ban belakang ini sudah cukup botak dan banyak juga bekas tambalannya. Entah memang kena paku atau tambalan yang lama sobek, yang pasti kami berhenti di tengah-tengah jalan yang tidak ada rumah sama sekali.

Di pinjggir jalan tempat kami berhenti ada tiga orang warga yang sedang mengangkut batu. Menurut mereka, tempat tambal ban yang paling dekat sudah kelewat, sedangkan di depan jaraknya cukup jauh. Akhirnya saya memutuskan untuk turun dan menunggu teman saya putar arah ke tempat tambal ban. Saya meminta ijin untuk ikut menunggu bersama tiga orang warga yang sedang mengerjakan pekerjaan pembetonan aliran sungai. Sambil menunggu sambil bertanya-tanya tentang rute yang akan saya lalui nanti, apakah benar atau ternyata salah info. Salah seorang warga ternyata cukup kenal dengan jalur yang nanti akan kami lewati dan benar jalannya sudah aspal mulus. Hanya saja sepertinya info tentang Curug Sawer belum terlalu familiar.

Setelah sekitar tiga puluh menit menunggu, teman saya akhirnya datang dan kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata lokasi kami berhenti tidak terlalu jauh dengan pertigaan alun-alun Sukaraja, artinya perjalanan kami tinggal setengahnya lagi. Kami mengambil arah kanan menuju jalan raya utama Karangnunggal di pertigaan alun-alun Sukaraja. Rute yang sudah tidak asing lagi bagi kami berdua. Kali ini kami hanya fokus pada jalan masuk menuju Desa Bantarpayung. Sinyal yang tidak terlalu bagus akhirnya membuat kami belok ke jalan desa yang salah. Kami berbelok ke arah kanan jalan dan jalannya langsung menanjak. Saya sedikit curiga, karena seharusnya tidak lama setelah kami berbelok, seharusnya kami bertemu dengan aliran Sungai Ciwulan, bukan jalan berbukit-bukit. Sinyal di hp normal kembali dan ternyata memang benar, kami salah jalan. Seharusnya, jalan yang kami ambil ke arah kiri dan sudah terlewat.

Setelah putar arah, kami melihat jalan kecil dengan gapura bertuliskan “Desa Bantarpayung”. Setelah belok, kami melihat aliran Sungai Ciwulan, nah ini baru jalur yang tepat. Tidak jauh dari jalan masuk, kami harus melewati jembatan gantung yang belakangan diketahui namanya Sasak Masini. Tidak pakai lama, saya segera turun dari motor dan melewati jembatan gantung dengan berjalan kaki. Apalagi kalau bukan untuk mengambil sedikit gambar ketika motor saya melintasi Sasak Masini. Sekilas, jadi teringat jembatan gantung di Desa Sawarna, hanya saja, aliran sungai yang kami lewati kali ini sangat sangat deras dan jauh lebih lebar dibandingkan dengan jembatan gantung di Desa Sawarna. Lebih mirip jembatan gantung di daerah Bojongsoang, bahkan lebar dan derasnya aliran sungai pun hampir sama.

Di ujung Sasak Masini ada sebuah saung kecil dan dua orang ibu-ibu yang menjaga jembatan. Pengendara yang melintas di Sasak Masini biasanya memberikan sumbangan sukarela ke kotak yang disediakan oleh dua ibu ini. Kami melanjutkan perjalanan dan ternyata jalan yang kami lewati menjadi sangat kecil. Mirip jalan gang di perkotaan dengan beton dan rumah-rumah di samping kanan dan kirinya. Sempat ragu jangan-jangan kami salah jalan. Setelah beberapa meter, kami tiba di ujung jalan yang berupa pertigaan. Menurut plot jalur, kami harus mengambil arah ke kanan.

Jalan di depan kami jauh lebih besar dengan hot mix mulus. Sedikit penasaran juga jalannya tembusan dari mana. Mungkin kalau sudah di rumah lagi, akan saya cek. Jalan mulus yang kami lalui makin lama makin menanjak dan di kanan-kiri kami sudah mulai jarang permukiman. Kami memang hanya mencari plot jalur saja, tapi tidak menanyakan kondisi jalan dan medan yang akan kami lalui. Akhirnya kami tetap mengikuti jalan meskipun sebenarnya ragu, tapi plot jalur menandakan kami di jalur yang benar, jadi ikuti saja. Kami tiba di sebuah pertigaan. Untungnya, di pertigaan ini terdapat papan penunjuk jalan. Jarang-jarang di jalan desa atau jalan lokal seperti ini ada papan penunjuk jalan menuju desa-desa di daerah tersebut. Berdasarkan petunjuk jalan tersebut. Di sekitar desa yang sedang kami lalui ini ada satu buah air terjun yang belum terekspose seperti Curug Sawer yang akan kami datangi. Mungkin lain kali saja, mengingat kami hanya punya sedikit waktu untuk perjalanan kali ini.

Jalan semakin lama semakin mengecil dan tidak sebagus sebelumnya. Kami sempat ragu, tapi setelah tidak sengaja melihat papan nama sebuah SD, kami yakin jalannya benar. Kami berhenti untuk bertanya pada warga arah menuju Kampung Cibeureum, dan posisi kami ada di Kampung Cinunjang. Di Kampung Cinunjang ini juga terdapat satu air terjun yang merupakan aliran di hulu Curug Amoh dan Curug Sawer, hanya saja masih belum terekspose dan tidak memungkinkan untuk kami kunjungi kali ini. Menurut penuturan warga, kami tinggal ikuti jalan utama sampai nanti bertemu truk dan toko serba ada milik seorang warga. Toko itulah penanda kami sudah tiba di Kampung Cibeureum.

Tidak jauh dari tempat kami bertanya, kondisi jalan tiba-tiba menjadi aspal rusak dengan beberapa tanah, rupanya jalan ini dekat dengan lokasi pengumpulan dan pengolahan kayu. Cukup banyak saung-saung kecil sebagai tempat penyimpanan dan pemotongan kayu hasil hutan. Tidak lama, kami melihat toko yang dimaksud, akhirnya perjalanan kali ini tidak terlalu lama mencari jalur. Kami bertanya kembali tentang lokasi Curug Sawer. Untungnya, bapak yang kami tanyai ini cukup mengenal Curug Sawer. Menurut info bapak ini, kami cukup jalan sedikit hingga menemukan jembatan dan simpan motor di sana. Lalu, setelahnya, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Ternyata jembatan yang dimaksud itu jembayan kecil dan kebetulan aliran sungainya pun lagi kecil. Saya dan teman saya sempat ragu, ini jembatan sungai atau solokan. Kebeneran lagi, ga ada yang bisa ditanya.

Akhirnya kami mutusin untuk berhenti di sini karena jalan di depan kami menanjak dan mulai berubah jadi batu. Untungnya, di seberang tempat kami berhenti ada ibu-ibu, akhirnya kami pun tanya Curug Sawer. Ternyata kami sudah benar, dan rumah ibu inilah yang biasa dititipi motor oleh pengunjung yang akan ke Curug Sawer. Kalau kata ibu ini sih, perjalanan ke Curug Sawer lumayan jauh dan licin, berhubung lagi musim hujan, tapi kebeneran lagi sudah tiga hari ini ga ujan. Wah, sedikit curiga, jangan-jangan airnya ga adaan.

Curug Sawer ini memang paling bagus didatengin pas musim hujan, puncak musim hujan lebih bagus, hanya terkendala licin di jalur trekingnya saja. Air di Curug Sawer ini akan kering total ketika kemarau, bahkan, di awal-awal musim hujan pun masih kecil volume jatuhannya. Berhubung tidak ada yang bisa mengantar kami ke Curug Sawer, kami pun pamit dan mulai treking sektar pukul 10.00 WIB. Berhubung katanya jalannya jauh dan lumayan susah, aga pesimis juga bakal nyampe soalnya ga ada yang nganter, bisa-bisa kesasar dan balik kanan kaya pas ke Curug Koja Februari 2014 lalu.

Pertama-tama kami melewati jalan setapak di pinggir aliran Sungai Cibaregbeg, lalu masuk ke pematang sawah. Untungnya di pematang sawah, kami ketemu dengan tiga orang anak kecil. Awalnya kami tanya apa mereka tau Curug Sawer, dan ternyata mereka tau dan bersedia untuk nganter. Meskipun anak kecil, ternyata mereka mantap ngarahin jalannya. Setelah pematang sawah yang lumayan jauh dan turun terus, kami harus melewati jalan setapak di tengah kebun dengan medan turunan yang supeeer licin. Seteah kebun, jalan setapak sedikit demi sedikit menghilang tertutup rumput liar dan berubah menjadi jalur air lengkap dengan batuan lepasnya. Saya beberapa kali terpeleset dan akhirnya jalan pelan-pelan. Biasanya sebelum mulai treking, saya cari batang kayu untuk penopang, sayangnya kali ini ga nemu, jadi cukup merepotkan.

Setelah turunan di jalur air yang nyaris ga keliatan karena ketutupan rumput liar, tiga anak tadi berbelok kenana dengan kondisi jalur yang jauh lebih sulit. Kali ini selain jalannya tertutup rumput liar, dahan-dahan pohon pun ikut menghalangi pandangan. Tidak jarang kami harus mengibaskan beberapa ranting. Harusnya sih bawa golok atau parang untuk buka jalur. Lama kelamaan, jalan makin ketutup dan entah posisi sekarang ada dimana, ditambah ganasnya gigitan nyamuk yang menyerang tanpa ampun. Setelah jalur makin ketutup dan makin sulit, temen saya pun nanya “masih jauh ke Curug Sawernya?” tiba-tiba reaksi tiga anak tadi jadi sedikit mencurigakan, mereka mulai bisik-bisik.

Ternyata, mereka kira, kami mau mampir dulu ke Curug Anom, air terjun yang tingkatannya ada di atas Curug Sawer, jadi jalan yang kami lalui ini adalah jalan ke Curug Anom. Menurut salah satu dari mereka, masih lumayan dan makin tertutup, jadi kami putuskan untuk balik kanan dan mengunjungi Curug Anomnya kapan-kapan lagi. Tidak lama, kami tiba di persimpangan di jalur air sebelumnya. Kali ini jalan yang kami tempuh adalah jalan yang terus menurun dan makin licin, ditambah gigtan nyamuk yang belum juga berhenti. Akhirnya kami keluar dari jalur air dan jalnnya menjadi lebih datar. Di sekitar kami pun mulai terbuka. Perjalanan berikutnya kami harus menyeberangi aliran sungai yang tidak terlalu dalam. Rupanya, aliran sungai ini berasal dari Curug Amoh dan nantinya akan jatuh menjadi Curug Sawer. Mungkin juga ini aliran Sungai Cibaregbeg tempat kami menitipkan motor.

Tidak terlalu sulit menyeberangi Sungai Cibaregbeg ini, karena sungainya dangkal dan arusnya sedang tidak deras. Batuannya juga tidak terlalu licin. Di sebelah kiri terlihat seekor kerbau sedang berendam. Sepertinya aliran sungai ini cukup aman saat ini. Setelah menyeberangi sungai, kembali bertemu jalan setapak dan sedikit menanjak. Di akhir tanjakan, kami kembali bertemu dengan pematang sawah. Pematang sawah kali ini sedikit lebih kecil dibandingkan dengan pematang sawah yang pertama kali kami lalui ketika treking. Pemandangan di samping kiri menjadi penghibur di kala treking yang tiada habisnya ini. Kali ini di kiri kami jejeran puncak-pundak perbukitan dan hamparan sawah serta jurang terlihat jelas. Pada jalur sebelumnya, padangan kami terhalang oleh pepohonan. Terlihat puncak Curug Sawer di kejauhan. Ternyata aliran jatuhannya sedang tidak terlalu besar.

Kedatangan kami kemari hanya berselang dua minggu dari kedatangan teman kami asal Tasikmalaya. Mereka cukup beruntung karena waktu itu volume jatuhan Curug Sawer sangat besar. Kami pun melanjutkan jalan dan kembali masuk ke dalam kebun. Pematang sawah kembali berganti dengan jalan setapak tanah yang sangat licin dan rimbun oleh pepohonan. Tiga anak yang mengantar kami ternyata hanya menunjukkan jalan sampai disini. Menurut mereka, perjalanan kami sudah tidak jauh lagi menuju Curug Sawer. Tinggal mengikuti jalan setapak yang terus menurun hingga tiba di samping Curug Sawer. Mereka pun pamitan dan kami melanjutkan perjuangan melewati trek licin dan tertutup ini.

Jalur ini jauh lebih rimbun dan lebih tertutup dibandingkan jalur di dalam kebun sebelumnya, tapi tidak lebih licin dan tidak terlalu banyak batuan yang lepas. Benar saja, sekitar sepuluh menit, kami tiba di Curug Sawer. Puas rasanya bisa sampai ke Curug Sawer. Seperti dugaan sebelumnya, air Curug Sawer kali ini jauh lebih kecil dibandingkan ketika teman kami kemari dua minggu yang lalu, tapi tidak sampai kering. Untuk bisa sampai ke tempat yang cukup luas kami harus menuruni bebatuan yang jauuh lebih licin. Lumpur dan air yang belum kering oleh matahari menyulitkan kami. Ditambah lagi, kami harus memilih mana bagian sungai yang dalam dan yang dangkal. Setelah susah payah, akhirnya kami sampai di tempat yang cukup luas untuk sekedar beristirahat. Total perjalanan kami dan sudah termasuk salah jalan menuju Curug Amoh sekitar satu jam kurang. Pukul 10.52 WIB kami sudah sampai di Curug Sawer.

Tepat di depan aliran jatuhan Curug Sawer, banyak terdapat bongkahan-bongkahan batuan yang kalau sudah siang bisa dijadikan tempat untuk istirahat. Banyak dari bongkahan ini yang tertutup lumut, lumpur dan terkena cipratan air sehingga basah dan sangat licin. Belum lagi jaraknya yang berjauhan mengharuskan pengunjung untuk mengambil langkah yang panjang bahkan sedikit memanjat bongkahan batuan licin tersebut. Saya memutuskan untuk duduk dan beristirahat di dekat tempat kami datang, sementara teman saya memutuskan untuk menyeberangi sungai dan melihat-melihat di sekitar. Tidak berapa lama, kami mendengar ada beberapa orang yang datang dari seberang sungai.

Benar saja, beberapa anak kecil, mungkin seumuran SMP dan SMA datang dari arah yang berseberangan dengan kami. Beberapa sudah menjinjing alas kakinya dan sebagian lagi berusaha berhati-hati memilih jalur untuk menuju sungai. Ternyata ada jalur lain selain yang kami lewati. Berbeda dengan kami, begitu datang, mereka langsung mengeluarkan hpnya untuk foto-foto. Karena ada orang lain selain kami berdua, jadi saya tidak terlalu banyak mengambil foto dan tidak terlalu banyak juga sudut pengambilan gambarnya, karena kebanyakan mereka masuk ke dalam frame. Sebenarnya tidak masalah kalau mereka masuk ke dalam frame foto kalau tidak bergerak, sayangnya mereka bergerak jadi tidak terlalu bagus untuk diambil candid.

Akhirnya saya memberikan kamera saya ke teman saya yang katanya mau melihat di samping air terjun, penasaran ada sebuah cerukan mirip gua katanya. Saya yang tidak terlalu berminat ke daerah sana, lebih memilih untuk beristirahat dan menikmati keadaan sekitar, apalagi sekarang jadi cukup ramai dengan adanya rombongan kedua ini. Perjalanan menuju Curug Sawer cukup menguras tenaga dan kesalahan kami adalah tidak bawa cemilan, air minum pun saya hanya satu botol sedang air mineral dan satu botol sedang minuman berasa, teman saya hanya satu botol air putih, titik. Jadi, diputuskan untuk ga terlalu heboh selama di Curug Sawer, karena di perjalanan pulang nanti tanjakan panjang dan licin sudah menanti. Akhirnya sekitar dua puluh menit, rombongan kedua pergi dari Curug Sawer.

Teman saya yang kebetulan sedang mengeksplore tempat di seberang sungai menemukan memang ada jalan setapak yang langsung terhubung ke pematang sawah, tidak ada jalan yang menyusuri kebun seperti yang kami lalui tadi, dan ada saung kecil di pembatas antara jalan setapak dengan pematang sawah. Tadinya, kami berniat untuk mencoba jalur berbeda untuk pulang, tapi karena pertimbangan logistik dan waktu, akhirnya kami memutuskan untuk pulang melewati jalur yang sama.

Benar saja, perjalanan pulang yang diawali dengan tanjakan panjang hingga ke puncak tebing cukup menguras tenaga, tetapi meskipun sedikit lambat dan sesekali berhenti, tau-tau kami sudah sampai di puncak tebing, keluar dari jalan kebun dan kembali ke pematang sawah tempat tiga anak kecil tadi meninggalkan kami. Semakin siang, semakin ramai yang berkunjung ke Curug Sawer. Kami mulai treking dari Curug Sawer sekitar pukul 11.49 WIB dan sudah tiba di pematang sekitar pukul 12.03 WIB. Di jalur pematang sawah, kami bertemu setidaknya tiga rombongan berbeda yang baru mau menuju Curug Sawer. Kebanyakan datang dari sekitaran Kota Tasikmalaya. Setelah pematang sawah sampai di pinggir sungai pun kami kembali bertemu tiga rombongan lainnya. Wah, untung kami sudah selesai ke Curug Sawernya. Gigitan nyamuk dimulai kembali, saya dan teman saya pun berjalan sedikit lebih cepat. Setidaknya jika kami cepat sampai ke pematang sawah dekat permukiman warga, tidak akan terlalu banyak digigit nyamuk.

Perjalanan setelah menyeberang sungai, tepatnya di dalam kebun yang jalurnya merupakan jalur air, sangat menguras tenaga. Kami beberapa kali berhenti dan kecepatan jalan pun sangat lambat. Selain menghemat tenaga, kami juga menghemat air minum yang sudah kritis. Akhirnya kami kembali bertemu dengan pematang sawah dan lolos melewati jalur air tanpa kepeleset seperti pas pergi. Jalur yang kami lewati ketika pulang sudah banyak yang kering karena terkena sinar matahari, jadi jalur yang licinnya sudah mulai berkurang. Begitu sampai di pematang sawah, rasanya pengen cepet-cepet sampe di rumah tempat kami menitip motor dan minum air putih yang banyak.

Keluar dari jalur pematang sawah, kami masih harus mengikuti jalan kecil di samping permukiman warga dan Sungai Cibaregbeg. Kami berhenti sebentar dan mengobrol dengan warga yang rumahnya kami lewati. Menurut nenek ini, beberapa bulan kemarin cukup banyak yang datang ke Curug Sawer meskipun jalurnya sedang licin-licinnya karena musim hujan. Nenek itu sendiri sudah lama tinggal di sini tapi belum pernah ke Curug Sawer. Akhirnya, ada satu rombongan yang mengajak nenek ini ke Curug Sawer meskipun harus menggendong nenek ini. Pokonya mereka tetep ingin nenek ini sampai ke Curug Sawer. Kami pun pamitan dan segera kembali ke rumah yang kami titipkan motor.

Begitu sampai di rumah tempat kami menitip motor, ada beberapa orang lagi yang baru datang. Mereka dari sekitaran Tasikmalaya. Jadi, sampai kami tiba kembali di rumah ini, hanya kami berdua yang terjauh, dari Bandung. Kami sempat mengobrol dengan rombongan yang terakhir kami temui ini. Menurut mereka, padahal di Bandung banyak curug yang bagus, tapi ya Curug Sawer lebih menyita perhatian kami kali ini. Lalu mereka memberi info Curug Koja yang ada di Cikatomas, yang sudah kamo kunjungi Februari 2014 lalu. Setelah ngobrol sebentar dan bertukar informasi, mereka pamit untuk treking.

Ibu yang rumahnya kami titipin motor ini ternyata hanya tinggal sendiri, anaknya di luar kota dan suaminya hanya bilang “tidak ada” ketika kami mengobrol. Air putih hangat yang disuguhkan ibu langsung bocor beberapa gelas. Kami memperlihatkan air di Curug Sawer dan kata ibunya, sudah tiga hari ga ujan, makanya airnya kecil. Padahal, tahun lalu, ketika puncak musim hujan, air Sungai Cibaregbeg sampai meluap ke jalan. Curug Sawer dan Sungai Cibaregbeg memang akan kering total pada musim kemarau, tapi sedikit berjalan ke hulu Sungai Cibaregbeg terdapat mata air dan kolam kecil yang airnya ada terus, sehingga warga Kampung Cibeureum tidak kesulitan air pada musim kemarau, meskipun tidak berlimpah. Bahkan, warga dari Kampung Cinunjang pun ada yang mengambil air ke kolam tersebut.

Pukul 13.00 WIB, kami pamit dan berhubung langit di Selatan sudah sangat gelap. Kami akhirnya sepakat melewatkan pencarian ke dua air terjun lainnya di lokasi ini karena mengejar sampai di Bandung sebelum pukul 19.00 WIB. Kami sempat makan siang dulu di Sukaraja sekitar pukul 14.00 WIB dan jalan kembali pukul 14.30 WIB. Perjalanan cukup lancar, hanya saja, ketika memasuki perbatasan Kecamatan Sukaraja dengan Cibalanarik, kami berdua mulai mengantuk. Perpaduan antara rasa lelah treking dan jalan yang cukup monoton membuat kantuk kami lebih cepat datang. Jalanan Cibalanarik sampai Singaparna yang berlubang dan menanjak rasanya cukup lama kami lewati. Karena kami sampai di jalur Singaparna – Garut masih cukup siang, jadi arus lalu lintasnya sedikit ramai. Padahal, biasanya kami masuk jalur ini di atas pukul 20.00 WIB, jadi arus lalu lintasnya sangat sepi.

Perjalanan pulang kali ini terasa sangat lama, bahkan di perbatasan Cilawu dengan Salawu, ban motor kembali berulah, untungnya posisi kami tidak terlalu jauh dari tempat tambal ban. Sedikit was-was juga karena waktunya jadi banyak terbuang. Sekitar tiga puluh menit, akhirnya kami bisa jalan lagi. Makin mendekati Kota Garut, arus lalu lintas semakin ramai. Teman saya memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum masuk Kota Garut dan waktu sudah menunjukan pukul 15.30 WIB. Kami jalan lagi, dan bisa ditebak, Minggu sore arus lalu lintas dari Kota Garut hingga Kadungora sangat ramai bahkan sudah mulai macet. Rasa cape karena treking, ngantuk, dan lapar ditambah dengan macet menjadi kombinasi paling pas untuk kehilangan konsetrasi dan pengendalian emosi. Untungnya, kami berdua sudah cukup sering ada di situasi seperti itu, jadi ya, sabar saja. Akhirnya kami berhasil sampai di lingkar Nagreg, kemudian sedikit terhambat di Jalan Raya Cicalengka – Rancaekek, selepas itu, Cileunyi sampai Cibiru ramai lancar. Target waktu pun terpenuhi, pas jam 18.00 WIB saya pisah dengan teman saya, karena rumah teman saya yang duluan kelewatan jika dari arah Timur. Pas juga ketika sampai di dekat rumah, hujan sangat deras langsung turun.

 
Leave a comment

Posted by on March 8, 2016 in AIR TERJUN, Travelling

 

CURUG NYOGONG

Secara administratif, Curug Nyogong berada di Kampung Sawah Pasir, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Nyogong memiliki arti menikung. Hal ini mencerminkan aliran jatuhan Curug Nyogong yang memang sedikit berbelok dari aliran utama di atasnya, yaitu Curug Cialeuan. Secara keseluruhan, tingkat pencapaian menuju lokasi Curug Nyogong cukup mudah. Kunjungan wisatawan ke Curug Nyogong saat ini masih didominasi oleh wisatawan lokal di sekitar Kecamatan Cihurip ataupun Kecamatan Cikajang. Curug Nyogong merupakan salah satu potensi wisata air terjun andalan yang berada di Kecamatan Cihurip selain Curug Cibadak yang saat ini juga tingkat kunjungannya masih rendah.

Patokan awal yang paling mudah untuk menuju Curug Nyogong adalah dari Kota Garut. Arahkan kendaraan menuju arah Pameunpeuk. Kondisi jalan sepanjang Kota Garut hingga Kecamatan Bayongbong pada saat akhir pekan akan cukup ramai, sehingga disarankan untuk masuk Kota Garut sekitar jam 06.00 WIB. Kondisi jalan yang akan dilalui cukup baik hingga Kecamatan Cikajang dan relatif tidak terlalu banyak berkelok-kelok. Selepas Kecamatan Cikajang, medan akan mulai memasuki daerah pegunungan. Jalan berkelok khas wilayah Selatan Jawa Barat akan menjadi medan utama hingga tiba di pertigaan Kecamatan Cihurip.

Pada pagi hari dan selepas pukul 17.00 WIB, udara di sekitar perkebunan Cikajang akan sangat dingin, disarankan untuk mengenakan pakaian yang sesuai dengan medan dan cuaca yang akan dilalui. Kabut cukup tebal biasanya turun menjelang sore hingga sekitar pukul 19.00 WIB. Arus lalu lintas di jalur ini cukup ramai, baik pagi, siang, maupun malam. Pada sore hingga malam, kendaraan yang melintas didominasi oleh ELF. Jalur ini merupakan jalur utama dari Kota Garut menuju Kecamatan Pameungpeuk, lokasi Pantai Santolo yang merupakan objek wisata andalan Kabupaten Garut.

Dari Kota Garut, ikuti terus jalan utama hingga tiba di Kecamatan Bayongbong. Setelah alun-alun Kecamatan Bayongbong akan ditemui pertigaan pada koordinat -7.271900, 107.813825. Ambil arah kanan di pertigaan ini. Pertigaan ini merupakan pertemuan jalan dari jalur Samarang dengan jalur yang melalui Garut kota dan dicirikan dengan adanya pasar. Selepas pertigaan ini, arus lalu lintas akan sedikit ramai. Setelah pertigaan Bayongbong, patokan berikutnya yaitu Pasar Cisurupan. Pasar Cisurupan sudah tidak akan asing lagi, karena merupakan patokan utama menuju Gunung Papandayan, salah satu objek wisata andalan Kabupaten Garut. Ikuti jalan utama menuju Cidatar dan Cikajang. Selepas Pasar Cisurupan, arus lalu lintas akan sedikit lebih sepi dan kondisi jalan akan menjadi lebi lebar.

Patokan berikutnya yaitu Pertigaan Papanggungan yang berada pada koordinat -7.347190, 107.801105. Ambil arah kiri atau yang mengarah ke Cikajang dan Pameungpeuk. Patokan berikutnya yaitu pusat Kecamatan Cikajang. Ikuti terus jalan utama hingga memasuki Perkebunan teh. Patokan berikutnya yaitu objek wisata Batu Tumpang yang berada tepat di pinggir jalan. Arus lalu lintas di jalur ini pada akhir pekan akan cukup ramai, baik oleh angkutan umum yang memang beroperasi pada jalur ini, maupun kendaraan yang touring menuju pesisir Garut Selatan.

Setelah melewati Batu Tumpang, jalan akan sedikit mengecil dan akan semakin berkelok-kelok. Jarak antar tikungan cukup dekat, sehingga harus berhati-hati, karena tidak jarang bus besar pun melintas di jalur ini pada akhir pekan. Kondisi jalan sangat bagus, meskipun tidak ada lampu penerangan jalan ketika kabut tebal mulai turun di jalur ini. Setelah jalur dengan pemandangan perkebuna teh dan deretan perbukitan, jalur akan memasuki wilayah Gunung Gelap. Pada jalur ini, di sisi kiri jalan merupakan jurang yang sangat dalam dan pada dasarnya mengalir aliran Ci Sanggiri. Sungai Cisanggiri merupakan aliran sungai yang kemudian sebagian akan jatuh menjadi Curug Cialeuan dan Curug Nyogong.

Patokan menuju Kecamatan Cihurip berada pada koordinat -7.486887, 107.835408. Pada koordinat ini, terdapat jalan kecil dengan gapura bertuliskan Kecamatan Cihurip di sisi kiri jalan jika datang dari arah Kota Garut. Ambil jalan menuju gapura. Jalan ini sudah masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Cihurip, sedangkan jalan raya utamanya masih termasuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Cikajang. Setelah gapura, medan akan terus menurun hingga ke dasar perbukitan. Turunan setelah gapura hingga ke dasar perbukitan cukup curam, tetapi kondisi jalannya sudah sangat baik. Pada dasar perbukitan, jalan akan menyeberangi aliran Ci Sanggiri yang akan sangat deras dan keruh ketika musim hujan.

Medan yang dilalui setelah menyeberangi aliran Ci Sanggiri akan terus menanjak hingga berada kembali di puncak perbukitan. Tanjakan cukup curam dan panjang, tetapi kondisi jalannya sudah sangat baik. Tanjakan panjang akan berakhir di puncak salah satu bukit, kemudian jalan akan kembali sedikit datar. Pemandangan di sisi kanan jalan sedikit demi sedikit akan terbuka. Hamparan perbukitan terjal, desa-desa yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Cihurip, hamparan sawah dan hutan, serta garis pantai di pesisir Selatan Kabupaten Garut akan menjadi pemandangan utama. Sisi kanan dan kiri jalan akan didominasi oleh lahan kebun dan hutan produksi warga dan belum ada permukiman.

Ikuti terus jalan utama dengan medan yang kembali menurun panjang hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.485728, 107.855556. Ambil kanan pada koordinat ini. Kondisi jalan akan semakin mengecil dan akan semakin rusak. Di beberapa titik, bahkan perkerasan jalan akan berubah menjadi batu dan lumpur ketika musim hujan. Medan yang dilalui masih akan didominasi turunan curam dan panjang. Jarak antar permukiman cukup jauh dan di kanan serta kiri jalan akan didominasi oleh perkebunan dan jurang yang bagian dasarnya merupakan area sawah. Ada dua jalan yang dapat dilalui untuk menuju titik akhir berkendara menuju Curug Nyogong.

Jalan pertama yaitu mengambil arah kanan pada koordinat -7.498578, 107.843399 menuju kantor Desa Mekarwangi. Kendaraan dapat disimpan di sekitar halaman kantor Desa Mekarwangi dan kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalur kedua yaitu yang terus mengikuti jalan desa pada koordinat -7.498578, 107.843399 hingga tiba di koordinat -7.504860, 107.841530. Pada koordinat ini, kendaraan dapat dititipkan di rumah warga atau di warung. Jalan masuk menuju Curug Nyogong berada di dekat koordinat tersebut dan hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki.

Menurut penuturan salah seorang warga, sebelumnya, motor pun dapat melintas hingga tiba di persimpangan menuju bendungan mikrohidro, namun, karena tidak adanya pemeliharaan dan masih rendahnya tingkat kunjungan ke Curug Nyogong, jalur tersebut pun menjadi rusak dan hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki. Rute pertama yang melalui kantor Desa Mekarwangi medan dominannya adalah turunan jika menuju Curug Nyogong. Jalur kedua relatif lebih banyak menanjak tetapi tidak terlalu panjang dan curam. Jalur kedua merupakan jalur masuk dari Kampung Sawah Pasir yang akan dibahas pada tulisan kali ini.

Jalan setapak menuju Curug Nyogong dari Kampung Sawa Pasir pertama-tama akan melewati permukiman penduduk kemudian masuk ke jalan setapak di pinggir sawah. Jalur kemudian akan masuk ke kebun, medan mulai menanjak tetapi cukup landai. Jalan setapak inilah yang dulunya masih dapat dilalui oleh sepeda motor. Ujung jalan setapak ini akan bertemu dengan percabangan jalan dari arah kantor Desa Mekarwangi dengan jalur yang menuju bendungan mikrohidro. Titik pertemuan ketiga jalur ini berada di sebuah dataran terbuka dengan pemandangan yang cukup menarik.

Tepat di depan dataran ini menjulang tinggi perbukitan dengan lapisan tanah yang berwarna kehitaman dan sedikit tandus dihiasi dua aliran air terjun yang indah dari puncak bukit di kedua sisinya. Aliran air terjun di sisi kiri (bila menghadap tebing) merupakan Curug Cibalinaga yang hingga saat ini tidak terdapat akses jalan, bahkan warga setempat pun cukup kesulitan untuk mendekati aliran jatuhan Curug Cibalinaga ini. Aliran Curug Cibalinaga ini akan terlihat sangat jelas di titik terakhir berkendara jika memilih jalan setapak dari Kampung Sawah Pasir.

Aliran air terjun di sisi kanan (bila menghadap tebing) merupakan aliran Curug Cialeuan yang juga merupakan tingkatan di atas Curug Nyogong. Posisi titik jatuhan tertinggi Curug Cialeuan berada jauh di bawah titik jatuhan tertinggi Curug Cibalinaga. Bukit yang menjadi tempat Curug Cialeuan dan Curug Nyogong pun puncaknya masih lebih rendah dibandingkan puncak bukit tempat aliran jatuha Curug Cibalinaga.

Setelah titik pertemuan dengan dua jalur lainnya, jalan setapak menuju Curug Nyogong selanjutnya hanya akan ada satu jalur, yaitu menyusuri saluran irigasi. Medan yang dilalui dari sini didominasi oleh turunan dan jalur yang dilalui masih berupa jalan setapak tanah seperti dari titik awal jalan setapak di perkebunan. Medan jalan kemudian datar setelah menyusuri aliran irigasi. Beberapa titik di saluran irigasi ini rusak berat bahkan terputus karena longsor, sehingga jalan harus sedikit turun ke jalan setapak sebelum kemudian menyusuri saluran irigasi kembali. Total waktu yang diperlukan untuk berjalan kaki menuju Curug Nyogong dari Kampung Sawah Pasir kurang lebih sekitar 40 menit dengan total jarak kurang lebih 1 Km.

Curug Nyogong merupakan tingkatan kedua setelah Curug Cialeuan dan merupakan air terjun permanen. Pada musim kemarau, aliran jatuhannya akan mengecil dan air di kolam Curug Nyogong akan berwarna kebiruan. Pada musim hujan, aliran jatuhan Curug Nyogong sangat deras dan air kolamnya berwarna cokelat. Curug Cibalinaga merupakan air terjun non permanen. Pada musim kemarau, terutama puncak musim kemarau, aliran jatuhannya akan mengering. Pada musim hujan, aliran jatuhan Curug Cibalinaga tidak akan sederas Curug Cialeuan dan Curug Nyogong. Sumber aliran Curug Cialeuan dan Curug Nyogong adalah aliran Sungai Cisanggiri yang berhulu di sekitaran hutan Gunung Gelap, Kecamatan Cikajang. Aliran dari Curug Cialeuan, Curug Nyogong, dan Curug Cibalinaga akan bertemu pada satu aliran sungai yang kemudian dijadikan sebagai sumber aliran Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kecamatan Cihurip.

Curug Cialeuan dapat diklasifikasikan ke dalam tipe Horsetail sebagai klasfikasi utama dan Ribbon sebagai klasifikasi sekundernya. Curug Nyogong dapat diklasifikasikan ke dalam tipe Punchbowl sebagai klasifikasi dominan, tipe Cataract & Plunge sebagai kalsifikasi dominan pada musim hujan dan tipe Horsetail sebagai klasifikasi utama pada musim kemarau. Jika dilihat dalma satu aliran jatuhan, maka Curug Cialeuan dan Curug Nyogong memiliki klasifikasi dominan Tiered/Multi Step. Curug Cibalinaga secara umum dapat dikalsifikasikan ke dalam tipe Multi Step/Tiered. Hal ini dipengaruhi oelh adanya kurang lebih tujuh tingkatan jatuhan dalam aliran Curug Cibalinaga. Klasifikasi berikutnya yang cukup dominan adalah tipe Horsetail karena selama proses jatuhannya aliran air mengenai dinding air terjun. Klasifikasi berikutnya yaitu Ribbon karena aliran jatuhan mengalir melalui celah sempit yang cukup panjang namun tidak terlalu deras.

 
Leave a comment

Posted by on March 7, 2016 in AIR TERJUN, Travelling