RSS

Monthly Archives: December 2015

CURUG SAWER

Curug Sawer secara administratif berada di Kampung Cibeureum, Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Curug Sawer merupakan tingkatan kedua dari aliran Sungai Cibaregbeg setelah Curug Amoh. Di sekitar Curug Sawer terdapat juga tiga air terjun lainnya di kampung dan desa terdekatnya. Curug Sawer merupakan air terjun yang saat ini mulai banyak didatangi oleh masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar Tasikmalaya. Akses menuju Curug Sawer temasuk yang memiliki tingkat aksesibilitas yang mudah, bahkan dengan tingkat aksesibilitas treking yang cukup mudah. Terdpat dua jalur utama menuju Curug Sawer, yaitu melalui Kota Garut dan Kota Tasikmalaya.

KOTA GARUT – KAMPUNG CIBEUREUM – CURUG SAWER (VIA CIBALONG)

Arahkan kendaraan menuju Cilawu melalui Perkebunan teh Dayeuhmanggung yang cukup terkenal sebagai jaur pendakian utama Gunung Cikuray. Kondisi jalan akan cukup ramai dimulai dari Kota Garut hingga Lapangan Golf Ngamplang. Kondisi jalan selepas Lapangan Golf Ngamplang akan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Arus lalu lintas akan didominasi oleh sepeda motor dan angkutan kota dari Terminal Guntur hingga ke Terminal Bojongloa di Kecamatan Cilawu. Ikuti terus jalan utama hingga menuju tugu perbatasan Garut – Tasikmalaya. Kondisi jalan akan semakin berkelok dan sedikit menyempit ketika memasuki Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Jalan berada di pinggir tebing dengan jurang berupa sawah dan aliran sungai yang cukup besar di sisi satunya. Lalu lintas akan cukup ramai sore menjelang malam dari arah Garut oleh bus besar dan angkutan barang, sedangkan dari arah Tasikmalaya akan ramai oleh angkutan barang dan ternak, serta mobil pribadi. Tidak ada penerangan jalan sepanjang Kecamatan Cilawu di Kabupaten Garut hingga Desa Neglasari, Kecamatan Salawu sehingga disarankan untuk berhati-hati bila melintas pada malam hari.

Kondisi lalu lintas akan kembali ramai selepas Kantor Kecamatan Salawu hingga memasuki Singaparna. Untuk mempersingkat jarak, ambil arah kanan (menuju Jalan Sukapura) pada persimpangan di koordinat -7.365560, 108.101766 tepat di samping Polres Tasikmalaya. Jalan ini juga merupakan jalan utama menuju objek wisata Situ Sanghyang di perbatasan Desa Cibalanarik dan Desa Cilolohan. Ikuti terus jalan utama (Jalan Sukapura) hingga ke Jalan Cibalanarik. Kondisi jalan mulus hanya akan sampai di perbatasan Jalan Cibalanarik. Selebihnya, kondisi jalan berbatu dan menurun akan menjadi medan yang harus dilewati hingga memasuki Kecamatan Sukaraja. Lalu lintas cukup ramai oleh mobil pribadi dan sepeda motor, sesekali bus berukuran ¾ jurusan Cibalanarik dan ELF pun akan melintas dari pagi hingga siang hari. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan tepat di alun-alun Kecamatan Sukaraja pada koordinat -7.451698, 108.194136. Pada persimpangan ini ambil arah kanan menuju Karangnunggal. Kondisi jalan sepanjang Jalan Raya Karangnunggal sudah cukup baik dan sedikit berkelok-kelok. Arus lalu lintas akan ramai oleh bus ¾ dan sepeda motor. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di Jalan Raya Cibalong. Di jalan Raya Cibalong, ambil jalan menuju Kampung Bantar Payung ditandai dengan gapura pada koordinat -7.506948, 108.188808.

Setelah belok kiri pada koordinat -7.506948, 108.188808 (dari arah Tasikmalaya) jalan akan melewati jembatan gantung di atas aliran Ci Wulan yang bernama Sasak Masini. Di ujung jembatan akan ada warga yang menjaga jembatan sembari menjaga kotak sumbangan dari pengendara yang melintas di Sasak Masini. Jalan kemudian akan menyempit dan melewati area permukiman hingga tiba di koordinat -7.510224, 108.193231. Belok kanan pada koordinat ini. Persimpangan ini merupakan pertemuan jalan dari Kampung Bantarpayung dengan jalan tembusan dari Jalan Raya Papayan – Salopa (Jalur utama Sukaraja – Salopa) dengan kondisi yang lebih mulus dan jalan lebih lebar. Setelah melewati persimpangan tersebut, ikuti jalan utama menuju Desa Mandalamekar dan akan terdapat papan penunjuk arah menuju Desa Mandalamekar di Desa Kersagalih. Papan penunjuk arah ini berada di pertigaan pada koordinat -7.536306, 108.198786. Arah menuju Desa Mandalamekar yaitu yang mengikuti jalan utama. Aspal jalan akan sedikit mengelupas setiba di Kampung Cinunjang, kampung yang berada tepat sebelum Kampung Cibeureum. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor akan berhenti pada koordinat -7.550838, 108.222455 tepat setelah jembatan kecil. Kendaraan bisa dititipkan di rumah warga yang berada persis setelah jembatan di kiri jalan. Setelah koordinat ini, perjalanan akan dilanjutkan dengan berjalan kaki yang dimulai dari jalan setapak tepat di seberang rumah tempat menitipkan kendaraan bermotor. Jika ragu, bisa bertanya atau meminta bantuan warga untuk mengantar ke lokasi Curug Sawer.

Total jarak dan lama waktu perjalanan yang tertera pada pembacaan peta yaitu sejauh 109 Km dengan waktu tempuh selama 2 jam 59 menit.

KOTA GARUT – KAMPUNG CIBEUREUM – CURUG SAWER (VIA JALAN RAYA PAPAYAN – SALOPA)

Arahkan kendaraan menuju Cilawu melalui Perkebunan teh Dayeuhmanggung yang cukup terkenal sebagai jaur pendakian utama Gunung Cikuray. Kondisi jalan akan cukup ramai dimulai dari Kota Garut hingga Lapangan Golf Ngamplang. Kondisi jalan selepas Lapangan Golf Ngamplang akan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Arus lalu lintas akan didominasi oleh sepeda motor dan angkutan kota dari Terminal Guntur hingga ke Terminal Bojongloa di Kecamatan Cilawu. Ikuti terus jalan utama hingga menuju tugu perbatasan Garut – Tasikmalaya. Kondisi jalan akan semakin berkelok dan sedikit menyempit ketika memasuki Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Jalan berada di pinggir tebing dengan jurang berupa sawah dan aliran sungai yang cukup besar di sisi satunya. Lalu lintas akan cukup ramai sore menjelang malam dari arah Garut oleh bus besar dan angkutan barang, sedangkan dari arah Tasikmalaya akan ramai oleh angkutan barang dan ternak, serta mobil pribadi. Tidak ada penerangan jalan sepanjang selepas Kecamatan Cilawu hingga Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, sehingga disarankan untuk berhati-hati bila melintas pada malam hari.

Kondisi lalu lintas akan kembali ramai selepas Kantor Kecamatan Salawu hingga memasuki Singaparna. Untuk mempersingkat jarak, ambil arah kanan (menuju Jalan Sukapura) pada persimpangan di koordinat -7.365560, 108.101766 tepat di samping Polres Tasikmalaya. Jalan ini juga merupakan jalan utama menuju objek wisata Situ Sanghyang di perbatasan Desa Cibalanarik dan Desa Cilolohan. Ikuti terus jalan utama (Jalan Sukapura) hingga ke Jalan Cibalanarik. Kondisi jalan mulus hanya akan sampai di perbatasan Jalan Cibalanarik. Selebihnya, kondisi jalan berbatu dan menurun akan menjadi medan yang harus dilewati hingga memasuki Kecamatan Sukaraja. Lalu lintas cukup ramai oleh mobil pribadi dan sepeda motor, sesekali bus berukuran ¾ jurusan Cibalanarik dan ELF pun akan melintas dari pagi hingga siang hari. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan tepat di alun-alun Kecamatan Sukaraja pada koordinat -7.451698, 108.194136. Pada persimpangan ini ambil arah kanan menuju Karangnunggal. Kondisi jalan sepanjang Jalan Raya Karangnunggal sudah cukup baik dan sedikit berkelok-kelok. Arus lalu lintas akan ramai oleh bus ¾ dan sepeda motor. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.475868, 108.208370 dan ambil arah kiri. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.475868, 108.208370 ambil arah kanan. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan dengan jalan yang dari arah Kampung Bantarpayung pada koordinat -7.510221, 108.193234 dan ambil arah kanan. Setelah melewati persimpangan tersebut, ikuti jalan utama menuju Desa Mandalamekar dan akan terdapat papan penunjuk arah menuju Desa Mandalamekar di Desa Kersagalih. Papan penunjuk arah ini berada di pertigaan pada koordinat -7.536306, 108.198786. Arah menuju Desa Mandalamekar yaitu yang mengikuti jalan utama. Aspal jalan akan sedikit mengelupas setiba di Kampung Cinunjang, kampung yang berada tepat sebelum Kampung Cibeureum. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor akan berhenti pada koordinat -7.550838, 108.222455 tepat setelah jembatan kecil. Kendaraan bisa dititipkan di rumah warga yang berada persis setelah jembatan di kiri jalan. Setelah koordinat ini, perjalanan akan dilanjutkan dengan berjalan kaki yang dimulai dari jalan setapak tepat di seberang rumah tempat menitipkan kendaraan bermotor. Jika ragu, bisa bertanya atau meminta bantuan warga untuk mengantar ke lokasi Curug Sawer.

Total jarak dan lama waktu perjalanan yang tertera pada pembacaan peta yaitu sejauh 73,6 Km dengan waktu tempuh selama 1 jam 56 menit.

KOTA TASIKMALAYA – SUKARAJA – CURUG SAWER (VIA CIBALONG)

Arahkan kendaraan menuju Kawalu untuk kemudian mengikuti jalan utama menuju Cipatujah, yaitu Jalan Raya Karangnunggal. Arus lalu lintas akan cukup padat pada pagi hingga sore hari hingga lepas Kawalu. Setelah Kawalu, jalan akan mulai berkelok-kelok dan arus lalu lintas akan menjadi sedikit lebih sepi. Ikuti terus jalan utama hingga tiba pada patokan pertama, yaitu alun-alun Kecamatan Sukaraja sekaligus persimpangan dengan jalur yang dari arah Garut – Salawu pada koordinat -7.451738, 108.194141. Ikuti terus jalan utama pada persimpangan ini hingga tiba di Cibalong. Kondisi jalan sepanjang Jalan Raya Karangnunggal sudah cukup baik dan sedikit berkelok-kelok. Arus lalu lintas akan ramai oleh bus ¾ dan sepeda motor. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di Jalan Raya Cibalong. Di jalan Raya Cibalong, ambil jalan menuju Kampung Bantar Payung ditandai dengan gapura pada koordinat -7.506948, 108.188808.

Setelah belok kiri pada koordinat -7.506948, 108.188808 (dari arah Tasikmalaya) jalan akan melewati jembatan gantung di atas aliran Ci Wulan yang bernama Sasak Masini. Di ujung jembatan akan ada warga yang menjaga jembatan sembari menjaga kotak sumbangan dari pengendara yang melintas di Sasak Masini. Jalan kemudian akan menyempit dan melewati area permukiman hingga tiba di koordinat -7.510224, 108.193231. Belok kanan pada koordinat ini. Persimpangan ini merupakan pertemuan jalan dari Kampung Bantarpayung dengan jalan tembusan dari Jalan Raya Papayan – Salopa (Jalur utama Sukaraja – Salopa) dengan kondisi yang lebih mulus dan jalan lebih lebar. Setelah melewati persimpangan tersebut, ikuti jalan utama menuju Desa Mandalamekar dan akan terdapat papan penunjuk arah menuju Desa Mandalamekar di Desa Kersagalih. Papan penunjuk arah ini berada di pertigaan pada koordinat -7.536306, 108.198786. Arah menuju Desa Mandalamekar yaitu yang mengikuti jalan utama. Aspal jalan akan sedikit mengelupas setiba di Kampung Cinunjang, kampung yang berada tepat sebelum Kampung Cibeureum. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor akan berhenti pada koordinat -7.550838, 108.222455 tepat setelah jembatan kecil. Kendaraan bisa dititipkan di rumah warga yang berada persis setelah jembatan di kiri jalan. Setelah koordinat ini, perjalanan akan dilanjutkan dengan berjalan kaki yang dimulai dari jalan setapak tepat di seberang rumah tempat menitipkan kendaraan bermotor. Jika ragu, bisa bertanya atau meminta bantuan warga untuk mengantar ke lokasi Curug Sawer.

Total jarak dan lama waktu perjalanan yang tertera pada pembacaan peta yaitu sejauh 30 Km dengan waktu tempuh selama 52 menit.

KOTA TASIKMALAYA – SUKARAJA – CURUG SAWER (VIA JALAN RAYA PAPAYAN – SALOPA)

Arahkan kendaraan menuju Kawalu untuk kemudian mengikuti jalan utama menuju Cipatujah, yaitu Jalan Raya Karangnunggal. Arus lalu lintas akan cukup padat pada pagi hingga sore hari hingga lepa Kawalu. Setelah Kawalu, jalan akan mulai berkelok-kelok dan arus lalu lintas akan menjadi sedikit lebih sepi. Ikuti terus jalan utama hingga tiba pada patokan pertama, yaitu alun-alun Kecamatan Sukaraja sekaligus persimpangan dengan jalur yang dari arah Garut – Salawu pada koordinat -7.451738, 108.194141. Ikuti terus jalan utama pada persimpangan ini hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.475868, 108.208370 dan ambil arah kiri. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.475868, 108.208370 ambil arah kanan. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan dengan jalan yang dari arah Kampung Bantarpayung pada koordinat -7.510221, 108.193234 dan ambil arah kanan. Setelah melewati persimpangan tersebut, ikuti jalan utama menuju Desa Mandalamekar dan akan terdapat papan penunjuk arah menuju Desa Mandalamekar di Desa Kersagalih. Papan penunjuk arah ini berada di pertigaan pada koordinat -7.536306, 108.198786. Arah menuju Desa Mandalamekar yaitu yang mengikuti jalan utama. Aspal jalan akan sedikit mengelupas setiba di Kampung Cinunjang, kampung yang berada tepat sebelum Kampung Cibeureum. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor akan berhenti pada koordinat -7.550838, 108.222455 tepat setelah jembatan kecil. Kendaraan bisa dititipkan di rumah warga yang berada persis setelah jembatan di kiri jalan. Setelah koordinat ini, perjalanan akan dilanjutkan dengan berjalan kaki yang dimulai dari jalan setapak tepat di seberang rumah tempat menitipkan kendaraan bermotor. Jika ragu, bisa bertanya atau meminta bantuan warga untuk mengantar ke lokasi Curug Sawer.

Total jarak dan lama waktu perjalanan yang tertera pada pembacaan peta yaitu sejauh 34,4 Km dengan waktu tempuh selama 1 jam.

KAMPUNG CIBEUREUM – CURUG SAWER

Perjalanan dari Kampung Cibeureum menuju Curug Sawer hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 1,01 Km di tengah pematang sawah dan kebun. Perjalanan akan menjadi cukup sulit karena licinnya jalur di kebun warga ketika musim hujan. Jalan setapak pada beberapa titik merupakan jalur air ketika hujan, sehingga pijakannya akan menjadi licin akibat campuran air dan tanah merah. Tanah merah mendominasi hampir seluruh jalur jalan setapak. Pada jalur ini akan ditemui juga persimpangan menuju Curug Amoh, yang masih satu aliran sungai dengan Curug Sawer. Setelah persimpangan dengan Curug Amoh, perjalanan akan menyeberangi aliran Sungai Cibaregbeg. Aliran sungai ini merupakan aliran yang sama dengan sumber Curug Amoh dan Curug Sawer. Setelah menyeberangi sungai, pemandangan akan kembali terbuka. Hamparan sawah, jurang, dan puncak-puncak perbukitan akan menjadi pemandangan yang cukup menyejukan mata. Dari area ini pula akan terlihat bagian atas Curug Sawer dengan latar belakang jurang dan puncak-puncak perbukitan terjal. Trek setelah menyeberangi sungai akan kembali melewati pematang sawah, kemudian kembali masuk ke kebun. Disarankan untuk memakai celana dan baju tangan panjang serta lotion/spray anti nyamuk. Trek menuju Curug Sawer akan menurun terus dan pada beberapa bagian akan cukup tertutup daun, ranting kayu, dan ilalang.

Setelah tiba di area Curug Sawer, jika musim hujan harus cukup berhati-hati karena batuannya sangat licin. Area di sekitar Curug Sawer akan terdapat banyak batu berukuran bongkahan raksasa yang berlumpur. Jika ingin mendapatkan spot untuk mengabadikan Cuurg Sawer, maka, harus mengambil dari aliran sungai. Spot di sekitar Curug Sawer cukup sempit. Untuk menyimpan barang-barang dapat memanfaatkan bongkahan-bongkahan batu di sekitar aliran Sungai Cibaregbeg. Lama perjalanan normal menuju Curug Sawer dari Kampung Cibeureum adalah kurang lebih empat puluh menit dan perjalanan dari Curug Sawer menuju Kampung Cibeureum yang didominasi oleh tanjakan akan memakan waktu normal kurang lebih satu jam.

Curug Sawer merupakan air terjun semi permanen. Air terjun ini akan memiliki volume yang besar jika hujan turun terus menerus dengan intensitas besar berturut-turut. Volume terbesarnya pun jarang terlihat karena benar-benar mengandalkan curah hujan. Pada musim kemarau, terutama jika sudah memasuki puncak musim kemarau, air di Curug Sawer akan kering total. Curug Sawer pada musim kemarau hanya akan nampak seperti tebing curam saja, tanpa ada sedikitpun air yang menetes/jatuh dari atas tebing. Curug Sawer memiliki klasifikasi utama Curtain dan Segmented, dan Ledge. Klasifikasi Curtain muncul akibat munculnya klasifikasi Segmented. Aliran jatuhan pada bagian atas Curug Sawer terbagi ke dalam beberapa lintasan jatuhan akibat bentuk tebing yang tidak sejajar, namun jaraknya tidak terlalu berjauhan dan tidak ada penghalang lain selain bentuk ujung tebingnya yang tidak rata sejajar. Klasifikasi Segmented yang berjarak tidak terlalu jauh ini akan membentuk jatuhan air yang terpisah-pisah dengan jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga membentuk tirai air, inilah yang menjadi ciri utama klasifikasi Curtain. Volume jatuhan air yang rata-rata kecil di Curug Sawer ini akan lebih menampilkan klasifikasi Curtain dibandingkan klasifikasi Segmented. Bila volume jatuhan besar, maka yang akan lebih terlihat adalah klasifikasi Segmented dibandingkan klasifikasi Curtain. Klasifikasi Ledge muncul akibat bentuk bagian atas tebing yang sedikit memiliki jarak dengan dinding air terjun, sehingga jatuhan air akan langsung jatuh secara vertikal tanpa menyentuh dinding air terjun. Kondisi bagian atas tebing ini memungkinkan tidak adanya kontak antara jatuhan air dengan dinding air terjun sekalipun dalam volume terkecilnya. Tidak seperti air terjun pada umumnya, yang akan memunculkan klasifikasi Horsetail pada musim kemarau dan Ledge pada musim hujan.

Batuan dinding air terjun dan tebing di sekitarnya didominasi oleh batukapur, dan pada tebing di samping Curug Sawer bahkan terbentuk celah menyerupai mulut gua yang cukup lebar. Batukapur yang berada di sekitar Curug Sawer termasuk yang mudah larut di air sehingga bongkahan-bongkahan batu di aliran sungai, terutama yang terkena aliran air akan cukup licin. Berbeda dengan batuan di dasar Sungai Ciwatin dan di sekitar Curug Koja, Curug Cibakom, dan Curug Ciwatin yang tidak licin meskipun terendam air.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Curug Sawer adalah pada puncak musim penghujan, tetapi hal ini juga memiliki risiko yang sangat besar. Licinnya jalur menuju Curug Sawer dan potensi adanya air bah menjadi pertimbangan utama untuk melihat jatuhan air Curug Sawer dalam volume terbesarnya. Oleh karena itu, sebaiknya memang meminta tolong pada warga dan meminta informasi mengenai keamanan akses dan selama berada di Curug Sawer karena Curug Sawer merupakan potensi objek wisata yang sama sekali belum dikelola, bahkan oleh warga sekitar.

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2015 in AIR TERJUN, Travelling

 

CURUG BATU NYUSUN / CURUG CISARUA

Curug Batu Nyusun secara administratif berada di Kampung Cikuda, Desa Pangrumasan, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Batu Nyusun sebenarnya merupakan nama untuk suatu kenampakan geologi berupa columnar joint yang berada di dekat air terjun. Air terjunnya sendiri oleh warga lebih dikenal atau mempunyai nama lain yaitu Curug Cisarua, namun, yang lebih terkenal di masyarakat luas ialah Curug Batu Nyusun. Curug Cisarua merupakan salah satu dari setidaknya lima air terjun yang berada di Desa Pangrumasan. Di atas aliran Curug Cisarua masih terdapat satu air terjun kecil yang oleh warga setempat dinamai Curug Tengah. Curug Cisarua memiliki ketinggian sekitar 30 – 50 m dengan dinding air terjun yang cukup khas, yaitu berupa columnar joint. Curug Cisarua memiliki air yang jernih karena masih berada di lereng perbukitan dan masih satu aliran dengan Curug Koncrang atau Curug Luhur sebutan warga setempat. Keberadaan Curug Cisarua ini masih belum terlalu banyak diketahui oleh masyarakat luas, salah satu penyebabnya adalah sulitnya aksesibilitas menuju lokasi, bahkan dari Kota Garut.

Akses termudah menuju lokasi bila dari arah Kota Garut yaitu melalui Cikajang. Setelah tiba di Kecamatan Cikajang, ambil jalan menuju Singajaya yang berada pada koordinat -7.393508, 107.836663 yang jalan masuknya ditandai oleh gapura dan pangkalan ojek. Kondisi jalan dari Cikajang sampai kantor Kecamatan Peundeuy sudah baik. Aspal mulus dengan medan yang berupa perbukitan dan jalan yang berkelok-kelok di lereng Gunung Cikuray dan daerah perbukitan akan menjadi kondisi dominan selama perjalanan. Arus lalu lintas di jalur ini relatif sepi dan hanya akan didominasi oleh sepeda motor dan ELF yang menuju arah Cikajang, tetapi jika menjelang malam, truk pengangkut kayu akan sering melintas dari arah Cikajang. Kondisi jalan di malam hari cukup rawan kecelakaan. Selepas Kantor Kecamatan Banjarwangi hingga pertigaan Cikajang sering turun kabut. Kabut biasanya turun selepas pukul 18.00 dan akan sangat tebal, sehingga tidak disarankan untuk melintas bila belum terbiasa dengan medan berkelok di lereng gunung dengan kabut yang sangat tebal. Tidak ada pembatas jalan yang bisa dijadikan patokan arah jalan di jalur ini, sehingga jika kabut turun kondisi lampu kendaraan yang sesuai sangat diperlukan.

Setelah pertigaan di Cikajang, ikuti terus jalan utama melewati Kecamatan Banjarwangi, Kecamatan Singajya, Kecamatan Peundeuy. Aspal jalan yang mulus akan habis di daerah sekitar Desa Saribakti (-7.543937, 107.918679), Kecamatan Peundeuy. Selepas Desa Saribakti, kondisi jalan akan kembali menjadi batu dengan medan yang masih sama, yaitu perbukitan. Medan berupa tanjakan dan turunan masih akan mendominasi jalur menuju Desa Pangrumasan. Setelah pusat Desa Toblong, di kanan dan kiri jalan akan menajdi sedikit lebih sepi dan pemandangan akan mulai terbuka. Puncak-puncak perbukitan terjal dan aliran Sungai yang cukup besar yang merupakan sambungan dari aliran Sungai Cibaliuk.

Kondisi jalan selepas pusat Desa Toblong akan semakin buruk, batu-batu yang cukup besar dan sebagian lepas akan mendominasi jalur, selain itu, permukiman penduduk akan semakin jarang ditemui dan jaraknya berjauhan. Ikuti terus jalan besar hingga pemandangan di kanan dan kiri jalan menjadi terbuka dan berada di punggungan bukit dan akan menajdi sedikit menurun. Akan ditemui warung kecil satu-satunya di kanan jalan dengan pemandangan laut dan perbukitan. Ikuti terus jalan besar yang kali ini akan didominasi dengan turunan. Turunan di titik ini merupakan yang terpanjang dan tercuram, batu-batunya pun banyak yang sudah lepas dan cukup licin, sehingga bila musim hujan akan cukup merepotkan. Ikuti jalan hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.591121, 107.910618 dan ambil kanan, sedangkan arah lainnya adalah yang menuju Desa Maroko. Ikuti terus jalan utama yang masih didominasi oleh batu-batu lepas dan turunan hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.588674, 107.904589. Pada persimpangan ini ambil jalan kecil ke sebelah kanan dengan patokan tugu PNPM Desa Pangrumasan di kanan jalan.

Jalan menuju Desa Pangrumasan jauh lebih kecil dan lebih rusak dibandingkan jalur Toblong – Maroko. Persimpangan ini merupakan bagian dari Kampung Cinangsi, Desa Pangrumasan, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut. Kondisi batu di jalur ini jauh lebih buruk dibandingkan jalur sebelumnya, bahkan di beberapa titik, batunya sudah hancur dan menjadi bentuk pasir yang sangat gembur sehingga cukup menyulitkan kendaraan yang melintas. Untuk tiba di Kampung Cikuda, lokasi terakhir untuk kendaraan bermotor dari pertigaan Simpang Maroko dengan Desa Pangrumasan, setidaknya harus melewati dua kampung di Desa Pangrumasan terlebih dahulu dan harus memutari bukit di pinggir jurang yang cukup dalam. Jarak dari kampung pertama di dekat Simpang Maroko – Desa Pangrumasan cukup jauh dan harus melewati kebun serta hutan yang cukup sepi. Jika malam hari, jalur ini akan ramai truk pengangkut kayu yang melintas. Sebenarnya, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.566800, 107.898829 yang akan tembus menuju Jalan Raya Toblong di persimpangan pada koordinat -7.566719, 107.916337. Dari segi jarak, jalur ini memang memiliki jarak yang lebih pendek, tetapi kondisi jalan masih sama, yaitu batu dan bahkan sebagian merupakan jalan tanah, medan dan tingkat kesulitan pencapaiannya pun sedikit lebih sulit. Diperkirakan jalur ini adalah jalur truk pengangkut kayu.

Setelah tiba di Kampung Cigalugur, patokan menuju Kampung Cikuda adalah kantor Desa Pangrumasan dan jembatan yang menyeberangi aliran sungai yang cukup besar. Jalan dari Kampung Cigalugur menuju Kampung Cikuda masih didominasi oleh batu yang berukuran cukup besar, lebar jalan cukup sempit. Medan menuju Kampung Cikuda didominasi oleh turunan terjal. Perjalanan dengan kendaraan bermotor hanya akan bisa dilakukan sampai Kampung Cikuda, pada koordinat -7.569809, 107.890823. Motor bisa dititipkan di rumah warga. Perjalanan berikutnya dilakukan dengan berjalan kaki melewati pematang sawah dan kebun warga sejauh 1,5 Km dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Sebaiknya meminta antar warga untuk menemani trekking menuju air terjun karena tidak akan ada patokan menuju air terjun dan jalur di kebun warga cukup tertutup.

Pemandangan selama trekking di pematang sawah dari Kampung Cikuda menuju Curug Cisarua akan disuguhkan oleh tebing perbukitan yang terjal serta aliran sungai dan tumpukan batu columnar joint yang sebenarnya merupakan bagian dari tebing. Keberadaan columnar joint di sekitar Pangrumasan masih perlu diteliti, apakah hasil intrusi atau hasil aktivitas gunung api yang sudah terhenti dan kemungkinan juga bentuknya sudah mengalami perubahan akibat lapuk dan tererosi. Jalur trekking di pematang sawah akan berakhir di sebuah saung kecil tepat disamping semak belukar yang cukup tinggi. Dari saung ini aliran sungai dari Curug Cisarua sudah mulai terlihat. Untuk meneruskan perjalanan menuju sungai dari saung harus melewati ilalang yang tingginya melebihi orang dewasa dengan beberapa lubang dalam berukuran kecil yang tertutup rerumputan. Ada juga jalur air yang cukup dalam yang hanya dihubungkan oleh satu buah batang kayu yang sangat kecil dan jembatan kayu yang sangat kecil. Medan dari saung didominasi oleh turunan, berbeda dengan jalur trekking dari jalan hingga saung di pematang sawah yang didominasi turunan tetapi terdapat banyak area yang datar.

Setiba di aliran sungai, maka Curug Cisarua pun akan terlihat. Dinding air terjun dan dinding di sekitar air terjun pun masih banyak terbentuk columnar joint. Air sungai yang jatuh menjadi Curug Cisarua tergolong yang jernih, karena posisinya yang masih berada di dataran tinggi dan jenis batuannya bukan yang mudah larut air. Bila sedng puncak musim hujan, jarang terjadi air bah seperti di aliran sungai lainnya, seperti misalnya di Curug Cinangsi yang hampir setiap tahunnya memakan korban karena air bah. Aliran sungai dari Curug Cisarua ini kemudian akan menyatu dengan aliran sungai utama yang bermuara di Kecamatan Cibalong, tepat sebelum area Hutan Sancang.

Curug Cisarua merupakan air terjun semi permanen, yaitu air terjun yang akan kering total ketika musim kemarau panjang. Curug Cisarua dapat dikalsifikasikan ke dalam air terjun Tiered dan Horsetail sebagai tipe dominannya. Klasifikasi Tiered yang muncul memang hanya berada pada bagian atas air terjun, yaitu tepat saat air jatuh dari tebing. Kalsifikasi ini muncul karena dinding air terjun yang berbentuk seperti kolom-kolom balok menyerupai anak tangga dalam jarak yang sangat sempit. Kolom-kolom balok inilah yang memberikan kesan bahwa air yang jatuh dari tebing akan mengalami beberapa tahapan jatuhan, tidak langsung jatuh secara vertikal. Klasifikasi Horsetail muncul karena aliran air yang jatuh tetap mempertahankan kontak dengan dinding air terjun selama proses jatuhannya, meskipun bentuknya tidak seperti air terjun tunggal. Aliran sungai dan tebingnya memang sedikit lebar, tetapi tidak cukup lebar untuk memunculkan klasifikasi Block. Curug Cisarua sudah mempunyai kolam, meskipun tidak terlalu lebar dan banyak sekali terdapat batuan dalam bentuk bongkahan besar. Di bawah aliran jatuhan air, masih banyak terdapat bongkahan batuan yang terkikis langsung oleh air yang jatuh dari atas tebing.

Pangrumasan adalah suatu Daerah yang terletak di sebelah selatan dari Kota Garut, adapun Nama Pangrumasan di ambil dari dua suku kata yaitu Pangru kata tersebut diambil dari nama sungai yang bernama Cipangru ada di Pangrumasan kemudian kata Masan yang mempunyai makna keemasan. Pemuka awal Daerah Pangrumasan  dikelola oleh Desa Singajaya artinya bahwa wilayah Pangrumasan dibawah Pemerintahan Desa Singajaya yang dipimpin oleh Lurah Bintang Singajaya. Kebudayaan Masyarakat Pangrumasan yang ada sejak dulu diantaranya: Tradisi ngaruat Lembur, Tradisi ziarah, Tradisi Hajat Tujuh Bulan, dan lain-lain sehingga Pangrumasan bisa disebut kaya dengan budaya dan bertumpu kepada nama yang berarti keemasan, yang telah diwariskan leluhurnya untuk dilanjutkan untuk masa yang akan datang. Selama lebih kurang 3 tahun yaitu tahun 1905 Daerah Pangrumasan direncanakan akan dibentuk sebuah Desa, dan pada waktu itu dibentuklah sebuah Panitia Pemilihan Kepala Desa untuk menentukan siapa Kepala Desa yang akan menjabat di Pangrumasan. Sejak itulah Pangrumasan yang awalnya sebuah kedusunan menjadi sebuah Desa.

SUMBER LAINNYA :

http://bakanatia.blogspot.co.id/2013/06/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

 
Leave a comment

Posted by on December 28, 2015 in AIR TERJUN, Travelling

 

MENGENAL KEPULAUAN NATUNA

NATUNA DAN PERBATASAN (KEWILAYAHAN, POSISI,upload-37UMUM)

http://www.natunakab.go.id/kondisi-geografis.html

http://www.geomatika.its.ac.id/lang/en/archives/774/comment-page-1

http://bappeda.natunakab.go.id/attachments/article/124/BAB%20II%20GAMBARAN%20UMUM%20KONDISI%20DAERAH_1.pdf

upload-38

Secara geografis, Kabupaten Natuna terletak pada 1016’ Lintang Utara – 7019’ Lintang Utara dan 1050oo’ Bujur Timur – 11100oo’ Bujur Timur. Kabupaten Natuna mempunyai luas 264.198,37 Km2, dimana sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan, yaitu seluas 262.197,07 Km2 dan sisanya daratan yang berbentuk kepulauan seluas 2.001,3 Km2. Kabupaten Natuna secara administratif berbatasan dengan

Utara:  Vietnam dan Kamboja

Selatan: Kepulauan Bintan

Timur:  Malaysia Timur dan Kalimantan Barat

Barat: Kabupaten Kepulauan Anambas

Di kabupaten ini terdapat 154 pulau, dengan 27 pulau (17,53%) yang berpenghuni dan sebagian besar pulau (127 buah) tidak berpenghuni. Dua pulau terbesar diantaranya adalah Pulau Bunguran dan Pulau Serasan. Pulau-pulau yang ada dapat dikelompokkan dalam 2 gugusan:

  • Gugusan Pulau Natuna, terdiri dari pulau-pulau di Bunguran, Sedanau, Midai, Pulau Laut, dan Pulau Tiga.
  • Gugusan Pulau Serasan, terdiri dari pulau-pulau di Serasan, Subi Besar dan Subi Kecil.

Kondisi iklim Natuna yang berada di dalam Provinsi Kepulauan Riau adalah beriklim tropis dan sangat dipengaruhi oleh perubahan arah angin. Musim kemarau biasanya terjadi pada Maret sampai Juli. Curah hujan rata-rata berkisar 193,2 milimeter dengan rata-rata kelembapan udara sekitar 90,4% dan temperatur berkisar sekitar 25,80 C. Minimnya pemanfaatan potensi laut juga karena pengaruh musim yang hanya ramah selama enam bulan saja. Musim tersebut sangat berpengaruh terhadap usaha perikanan di Provinsi Kepulauan Riau baik dari usaha penangkapan maupun usaha budidaya. Selebuhnya, saat Angin Utara datang, laut di sekitar Natuna menjadi ganas dan para nelayan memilih berkebun sebagai lahan menyambung hidup.

upload-44

Berdasarkan kondisi fisiknya, Kabupaten Natuna merupakan tanah berbukit dan bergunung batu. Dataran rendah dan landai banyak ditemukan di pinggir pantai. Ketinggian antar wilayah kecamatan cukup beragam, yaitu berkisar antara 3 – 959 m atas muka laut dengan kemiringan antara 2 – 5 m. Pada umumnya, struktur tanah terdiri dari podsolik merah kuning dari batuan tanah dasarnya yang memiliki bagan granit dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus. Berikut nama gunung dan tingginya dari permukaan laut yang berada dalam wilayah Kabupaten Natuna:

  • Gunung Bedung di Kec. Bunguran Timur Laut
  • Gunung Segeram di Kec. Bunguran Timur Laut
  • Gunung Ceruk di Kec. Bunguran Timur Laut
  • Gunung Bukit Kapur di Kec. Bunguran Timur Laut
  • Gunung Ranai (959 m) di Kec. Bunguran Timur Laut
  • Gunung Punjang (443 m) di Kec. Serasan
  • Gunung Pelawan Condong (405 m) di Kec. Serasan
  • Gunung Kute (232 m) di Kec. Serasan

Jarak Ibukota Kabupaten Natuna ke Ibukota Negara Tetangga

  • Ranai – Jakarta (1.135,629 km)
  • Ranai – Kuching (350,037 km)
  • Ranai – Singapore (581,565 km)
  • Ranai – Kuala Lumpur (751,345 km)
  • Ranai – Phnom Penh (925,806 km)
  • Ranai – Ho Chi Minh City (789,605 km)
  • Ranai – Bandar Sri Begawan (739,415 km)
  • Ranai – Manila (1.825,559 km)
  • Ranai – Tokyo (4.777,676 km)
  • Ranai – Taipei (2.740,665 km)
  • Ranai – Guangzhou (2.201,019 km)
  • Ranai – Hanoi (1.924,099 km)
  • Ranai – Bangkok (1.393,674 km)

upload-54

Potensi pengembangan wilayah di Kabupaten Natuna sangat beragam, Kabupaten Natuna yang secara geografis terdiri dari kepulauan memiliki keunggulan di bidang pariwisata alam. Gugusan kepulauan Natuna memiliki pemandangan yang indah, dengan panorama pantai yang masih terjaga keasriannya. Sejumlah lokasi bahkan menjadi tempat favorit bagi penggemar snorkling, pengamat habitat penyu, dan pecinta wisata bawah air. Selain potensi pariwisata alam, Kabupaten Natuna saat ini memang menjadi salah satu daerah andalan penghasil minyak dan gas Indonesia. Berdasarkan laporan studi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2002, cadangan minyak yang dimiliki Natuna mencapai 308,30 juta Barel. Sementara cadangan gas buminya terbesar se-Indonesia, yaitu sebesar 54,78 triliun kaki kubik. Tidak mengherankan jika Dana Bagi Hasil Migas menjadi sumber pendapatan utama Kabupaten Natuna. Kabupaten Natuna memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, diantaranya adalah sumber daya perikanan laut yang mencapai lebih dari 1 juta ton per tahn dengan total pemanfaatannya hanya sekitar 36%. Selanjutnya potensi pertanian dan perkebunan seperti kelapa, karet, umbi-umbian dan cengkeh. Kabupaten Natuna memiliki banyak objek wisata bahari seperti pantai dan biota laut yang indah untuk kegiatan penyelaman, gunung, air terjun, dan lain sebagainya. Namun, potensi kekayaan Kabupaten Natuna yang paling fenomenal adalah cadangan migas di ladang gas Blok D-Alpha yang terletak 225 Km di sebelah Utara Pulau Natuna, dengan taksiran total cadangan 222 TCT dan gas hidrokarbon sebesar 46 TCT yang merupakan salah satu sumber terbesar di Asia.

upload-64

Secara umum, berbagai daerah di Indonesia merupakan titik rawan bencana, terutama bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan letusan gunung berapi. Wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah, dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, seperti banjir, tsunami, abrasi, longsor, kebakaran hutan, gempa tektonik dan vulkanik, dll. Dari hasil pendataan sementara yang dilakukan bagian kesiagaan dan penanggulangan bencana kantor Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol dan Linmas) Natuna, menyatakan bahwa, kawasan Pulau Natuna merupakan daerah yang berkawasan ekstrim. Hal ini dikarenakan letak geografis wilayahnya berada di ujung Utara dan berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Salah satu titik rawan bencana di daerah Kabupaten Kepulauan Natuna adalah daerah yang berpotensi tinggi terhadap masalah abrasi pantai, meliputi Kecamatan MidaI, Kecamatan Pulau Laut, Kecamatan Serasan, dan Kecamatan Subi. Selain itu, daerah yang berpotensi mengalami angin puting beliung adalah Kecamatan Bunguran Utara, sedangkan kawasan yang berpotensi terjadi longsor berada di Desa Ceruk, Kecamatan Bunguran Utara.

upload-74

Geografis Kabupaten Natuna terdiri dari 98,84% lautan. Keadaan tersebut menempatkan angkutan laut menjadi sarana utama untuk menghubungkan suatu pulau dengan pulau lain, dari desa ke ibukota kecamatan, dan dari ibukota kecamatan ke ibukota kabupaten. Transportasi laut ini menempati jaringan transportasi yang ada di Kabupaten Natuna. Berbagai jalur pelayaran laut telah berkembang dengan baik di Kabupaten Natuna, yang menghubungkan Kota Ranai dengan daerah lainnya, Hal ini tercermin dari semakin meningkatnya arus penumpang dan barang yang memanfaatkan jasa transportasi laut. Pada saat ini terdapat dua model sistem perhubungan laut, yaitu:

Sistem Transportasi Internal

Sistem ini merupakan sistem transportasi yang menghubungkan antar pulau yang berada di wilayah Kabupaten Natuna. Moda transportasi yang digunakan adalah jenis speed boat yang berupa perahu bermesin dengan kapasitas 20 orang penumpang yang disebut Pompong. Aksesibilitas dengan menggunakan moda transportasi ini relatif lebih murah dan jadwal pelayarannya tidak tetap, akan tetapi berdasarkan kebutuhan.

Sistem Transportasi Eksternal

Sistem transportasi eksternal adalah sistem transportasi yang mengubungkan pulau-pulau yang ada di wilayah Kabupaten Natuna dengan pulau-pulau di kabupaten tetangga lainnya. Moda transportasi yang digunakan adalah jenis kapal perintis dan kapal pelni dengan rute yang telah terjadwal. Selain Prasarana dan sarana transportasi laut, Kabupaten Natuna juga mengandalkan prasarana dan sarana perhubungan udara. Prasarana perhubungan udara di Kabupaten Natuna hanya terdapat di Pulau Bunguran. Moda transportasi dengan menggunakan pesawat udara terdiri dari tiga model penggunaan, yaitu digunakan untuk transportasi komersil, untuk kepentingan militer, dan untuk kepentingan perusahaan. Lalu lintas penumpang yang naik dan turun melalui Pelabuhan Natuna secara umum mengalami penurunan.

upload-84

Penumpang yang berangkat keluar melalui Pelabuhan Laut Natuna pada 2008 tercatat 7.757 orang, sedangkan pada 2005 tercatat sebesar 8.841 orang, yang berarti mengalami penurunan 2,05% dari 10.889 orang pada 2005 menjadi 10.674 orang pada 2008. Secara keseluruhan, jumlah penumpang yang datang dan berangkat di Bandar Udara Ranai pada 2009 juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada 2007 tercata 14.474 jumlah kedatangan dan 14.567 jumlah keberangkatan, maka pada 2009 tercatat 23.727 jumlah kedatangan dan 23.286 jumlah keberangkatan yang artinya mengalami peningkatan sebesar 63,93% untuk kedatangan dan 59,85% untuk keberangkatan. Saat ini hanya ada dua maskapai yang melayani penerbangan dari dan menuju Bandar Udara Ranai, yaitu Wings dan Sriwijaya Air dengan jadwal yang tidak setiap hari. Hal ini menyebabkan akses masyarakat Natuna terhadap penerbangan masih terbatas. Diharapkan, kedepannya Bandar Udara Ranai mempunyai jadwal penerbangan rutin setiap hari sehingga memudahkan akses masyarakat menuju maupun keluar Kabupaten Natuna menggunakan jalur udara.

upload-94

Melihat kondisi geomorfologi dan geografis Kabupaten Natuna yang terdiri dari pulau-pulau kecil, mutlak diperlukan rencana tata ruang. Penataan ruang perlu dijadikan pedoman dalam rencana jangka menengah, guna mempercepat pembangunan ekonomi daerah serta mendayagunakan sumber daya alam secara seimbang. Sebagai strategi terkait dengan penataan ruang regional, pelaksanaan konsep kerjasama IMS-GT di wilayah Indonesia, khusunya untuk Kabupaten Natuna diarahkan pada pengembangan potensi strategis sumber daya alam yang dimiliki seperti gas alam, minyak lepas pantai dan potensi perikanan dan kelautan. Potensi yang besar ini telah mendorong pemerintah untuk semakin memacu perkembangan wilayah Natuna dengan memisahka Natuna dengan Kabupaten Kepulauan Riau dan menjadikannya sebagai kabupaten tersendiri dengan wilayah meliputi sepuluh kecamatan, yaitu Bunguran Utara, Bunguran Timur, Bunguran Barat, Midai, Subi, Serasan, Pulau Laut, Pulau Tiga, dan Bunguran Timur Laut. Pengembangan ini diharapkan dapat lebih meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan wilayah Natuna. Sistem perkotaan di Kabupaten Natuna harus memperhatikan sistem perkotaan yang dikembangkan dalam wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Kebijakan sistem perkotaan di Kabupaten Natuna adalah sebagai berikut:

upload-104

  1. Kegiatan Hirarki I/Orde I/ Primer (Ranai)

Merupakan pusat pelayanan berskala regional didefinisikan sebagai fasilitas yang lingkup pelayanannya mencakup PKW (Pusat Kegiatan Wilayah) atau PKSN, atau PKL (Pusat Kegiatan Lokal) dalam sistem nasional. Pusat pelayanan hirarki I/Orde I/primer:

  1. Pusat pelayanan berskala regional didefinisikan sebagai fasilitas yang lingkup pelayanannya mencakup wilayah kecamatan atau wilayah yang lebih luas dari kecamatan
  2. Pusat pelayanan berskala regional terdiri dari fasilitas pemerintahan, kesehatan, perdagangan dan jasa yang melayani tingkat kecamatan atau wilayah yang lebih luas dari kecamatan
  3. Lokasinya diarahkan pada wilayah yang cenderung menjadi aglomerasi fasilitas pelayanan tingkat kecamatan yang sudah ada
  4. Mempunyai kemudahan aksesibilitas terhadap daerah yang dilayani, terutama lokasi yang terletak atau mudah dicapai dari jalur regional
  5. Kegiatan hirarki II/Orde II (Sedanau)

Pusat pelayanan berskala kota:

  1. Pusat pelayanan berskala kota didefinisikan sebagai fasilitas yang lingkup pelayanannya mencakup wilayah kota yang bersangkutan
  2. Pusat pelayanan skala kota meliputi fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan dan jasa, peribadatan, serta olahraga yang melayani tingkat kota atau wilayah perencanaan
  3. Lokasinya diarahkan pada temapt-tempat yang cenderung menjadi aglomerasi fasilitas pelayanan tingkat kota yang sudah ada
  4. Mempunyai kemudahan aksesibilitas terhadap bagian wilayah kota yang dilayani
  5. Lokasinya diarahkan pada tempat yang cenderung sentris dengan maksud agar bisa dicapai secara lebih merata dari setiap bagian wilayah kota
  6. Kegiatan Hirarki III/Orde III (Serasan, Cemaga, Harapan Jaya, Tanjung, Sabang Mawang, Pulau Laut, Subi, Kelarik, Serasan Timur, dan Midai)
  7. Pusat pelayanan berskala lokal adalah fasilitas yang lingkup pelayanannya mencakup bagian wilayah kota
  8. Pusat pelayanan berskala lokal meliputi fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, olahraga, serta perdagangan eceran yang melayani bagian wilayah kota
  9. Diarahkan pada lokasi yang mempunya kemudahan aksesibilitas dan bisa dicapai secara lebih merata dari setiap lingkungan
  10. Pada kawasan terbangun, lokasinya diarahkan pada tempat-tempat yang cenderung menjadi aglomerasi fasilitas pelayanan bagian kota yang telah ada
  11. Penempatan pusat pelayanan lokal digunakan sebagai salah satu strategi untuk mengacu perkembangan kawasan baru

Kabupaten Natuna dalam RTRWN termasuk dalam kawasan anadalan dan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Kawasan Natuna ditetapkan sebagai kawasan andalan aut dan kawasan tertentu. Sebagai simpul transportasi laut internasional, Kabupaten Natuna diarahkan untuk mendukung pelayanan dan akses pasar global, dan juga dairahkan untuk pemanfaatan:

  1. Bandar transit pelayaran internasional dan pusat pelayanan akses pasar global (Ranai/Selat Lampa)
  2. Penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana kepelabuhanan
  3. Membina dalam pengembangan wisata alam dan wisata bahari
  4. Pengawasan dan pengendalian terhadap penggunaan Kawasan Strategis Kabupaten Natuna merupakan wewenang Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau
  5. Alur pelayaran internasional yang melewati Kabupaten Natuna dapat dijadikan tempat Bunkering BB, dan STS Oil.

upload-117

Kabupaten Natuna diarahkan pemanfaatan kawasan strategis Provinsi direncanakan sebagai:

  1. Bandar Udara militer Ranai sebaga bandara tersier
  2. Sedanau sebagai pelabuhan pengumpul
  3. Pelabuhan Ranai sebagai pelabuhan nasional dan utama

NATUNA DAN SEJARAH (CERITA RAKYAT, SEJARAH ZAMAN PENJAJAHAN, LEGENDA)

http://mynameszawir.blogspot.co.id/2014/10/arti-nama-natuna-dalam-berbagai-versi.html

http://mynameszawir.blogspot.co.id/2014/10/sejarah-kabupaten-natuna.html

http://terungkaplagi.blogspot.co.id/2012/04/legenda-sejarah-dan-aura-mistis-pulau.html

upload-124

Penamaan suatu daerah terkadang tidak terlepas dari sebuah peristiwa atau ciri khas yang hanya paling pertama atau bahkan hanya ada di wilayah tersebut, serta kondisi geografis yang benar-benar mencirikan daerah tersebut. Penamaan Natuna pun tidak terlepas dari kisah legenda dan kondisi geografis yang mencerminkan wilayah tersebut. Penamaan Natuna berdasarkan ciri/kondisi geografis yang khas/mencirikan wilayah tersebut juga tidak terlepas dari pengaruh pelafalan bahasa.

Versi 1

Kata Natuna di ambil dari bahasa Belanda yaitu “Natunae” yang artinya “alami“. Pulau Natuna bermakna pulau yang alami, di lihat keindahan panorama alamnya seperti gugusan pulau-pulau besar dan kecil di mana keindahannya begitu kental dibentuk oleh alam.

Versi 2

Arti nama Natuna berasal dari bahasa mandarin Nan Toa, “Nan” artinya pulau dan “Toa” berarti Besar. Kata Nan Toa di ketahui berasal dari buku seorang pendeta dari China yang bernama I Tsing 671 M pada saatsinggah di Kerajaan Sriwijaya ia memberitakan tentang perjalanannya ke Sriwijaya dalam bukunya yang berjudul “Ta,t ang yu ku fa kao seng chouan dan nan hai ki ko usi ne chouan”. Diantaranya mengisahkan perjalana laut I Tsing di Laut Cina Selatan telah singgah di gugusan pulau-pulau, ada yang besar dan ada yang kecil. Pulau Besar dalam bahasanya disebut Nan Toa.  Oleh karena perkembangan zaman kata Nan Toa pun berubah menjadi Natuna, karena dari akibat pelafalan bahasa dialeg Melayu yang semakin hari semakin berkembang di masyarakat. Dan untuk info lengkap tentang sejarahnya baca selengkapnya di www.pariwisata.natunakab.go.id

Versi 3:

Kata Natuna berasal dari kata”Na” dan “Tuna”. Kata Na berasal dari bahasa Jepang yang merupakan kata penghubung dan Tuna ialah ikan Tuna. Perlu di ketahui pada zaman dahulu ketika itu Natuna merupakan salah satu pelabuhan transit bagi para pedagang baik dari China dan Jepang, pada saat itu Natuna bak Singapura pada zaman sekarang. Selain itu, Penamaan Natuna berkaitan dengan ikan Tuna, dikarenakan dengan banyaknya ikan Tuna di perairan pulau ini, baik untuk ukuran raksasa maupun babyfish/anak ikan tuna. Selain itu kebiasaan masyarakat Natuna yang hidangan makanan dirumah mereka yang tak lepas dari menu olahan ikan Tuna, baik di goreng, di gulai, paoh/rebus dengan asam kandis maupun kunyit, ikan salai, ikan bakar dan masih banyak lagi. Itu adalah salah satu faktor sebab kenapa nama Natuna dimaknai berkaitan dengan ikan Tuna.

upload-154

Sejarah berdirinya Kabupaten Natuna juga tidak dapat dilepaskan dari perjalanan dalam lingkup pemerintahan. Adapun sejarah terbentuknya Kabupaten Natuna hingga sekarang tentu saja telah banyak melakukan perjuangan dan pengorbanan, terlebih kabupaten yang terletak di ujung utara dari kesatuan NKRI ini adalah salah satu kabupaten yang terjauh dari pusat ibu kota negara Indonesia, Jakarta, selain itu Natuna adalah daerah terpencil dan terisolasi dari kemajuan dan modernnya perkotaan-perkotaan besar yang akibat dari tidak adanya pemerataan pembangunan di Indonesia. Namun sejak terbentuknya kabupaten natuna dari tahun 1999 hingga sekarang, kini telah banyak perubahan yang signifikan. Perubahan yang dimiliki selain dari segi pembangunan infrastruktur bangunan, jalan dan sarana umum, namun juga dari segi sosial, ekonomi, kesehatan dan lain-lain. Begitu banyak hal yang diharapakan dari perkembangan kabupaten Natuna saat ini, selain adanya pemerataan pembangunan, namun juga adanya kesejahteraan sosial bagi masyarakatnya. 

upload-164

Dahulu Kabupaten Natuna adalah bagian dari wilayah Kabupaten Kepulauan Riau. Natuna awalnya terkenal sebagai wilayah Pulau Tujuh yang merupakan gabungan dari tujuh kecamatan kepulauan yang tersebar di perairan Laut Cina Selatan yaitu Jemaja, Siantan, Midai, Bunguran Barat, Bunguran Timur, Serasan, dan Tambelan. Enam kecamatan kecuali Tambelan nantinya menjadi cikal bakal wilayah Kabupaten Natuna. Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Republik Indonesia No.9/Deprt tanggal 18 Mei 1956, Propinsi Sumatera Tengah menggabungkan diri kedalam Republik Indonesia dan Kepulauan Riau diberi status Daerah Otonom Tingkat II yang dikepalai oleh Bupati sebagai kepala daerah dan membawahi empat kewedanan sebagai berikut:

  1. Kewedanan Tanjungpinang meliputi wilayah Kecamatan Bintan Selatan (termasuk 
  2. Kecamatan Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur).
  3. Kewedanan Karimun meliputi wilayah Kecamatan Karimun, Kundur, dan Moro
  4. Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Singkep, dan Senayang.
  5. Kewedanan Pulau Tujuh meliputi wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai,
  6. Bunguran Barat, Bunguran Timur, Serasan, dan Tambelan.

upload-174 

Kemudian berdasarkan Surat Keputusan No.26/K/1965 dengan berpedoman pada Instruksi Gubernur Riau tanggal 10 Februari 1964 No.524/A/1964 dan Instruksi No. 16/V/1964 serta berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau tanggal 9 Agustus 1965 No. UP/247/5/1965 dan tanggal 15 November 1965 No.UP/256/1965 menetapkan terhitung mulai 1 Januari 1966 semua daerah administratif kewedanan dalam Kabupaten Kepulauan Riau dihapuskan. Berdasarkan Undang-undang No. 53 Tahun 1999 Kabupaten Natuna dibentuk hasil dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau dan meliputi enam kecamatan yaitu kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Jemaja, Siantan, Midai dan Serasan, serta satu Kecamatan Pembantu Tebang Ladan. Seiring dengan adanya kewenangan otonomi daerah Kabupaten Natuna, wilayah kecamatan kemudian dimekarkan sehingga pada tahun 2004 jumlah kecamatan bertambah menjadi 10 kecamatan dengan terbentuknya Kecamatan Palmatak, Subi, Bunguran Utara, dan Pulau Laut. 

upload-184

Pada 2008, Kabupaten Natuna mengalami perubahan lagi, yaitu terpisahnya Kecamatan Palmatak, Jeamaja, dan Siantan menjadi bagian dari Kabupaten Anambas. Pemisahan beberapa kecamatan sehingga menjadi Kabupaten Anambas didasari oleh Undang-Undang No. 33 Tahun 2008 tanggal 24 Juni 2008. Kabupaten Kepulauan Anambas terdiri dari 6 Kecamatan yaitu Kecamatan Siantan, Kecamatan Siantan Timur, Kecamatan Siantan Selatan, Kecamatan Palmatak, Kecamatan Jemaja dan Kecamatan Jemaja Timur. Ditambah dengan 1 Kecamatan yaitu Kecamatan Siantan Tengah yang dibentuk berdasarkan Keputusan Bupati Kabupaten Natuna Nomor 17 Tahun 2008 dengan cakupan wilayah administrasi Desa Air Asuk, Desa Air Sena dan Desa Teluk Siantan. Hingga pada akhirnya sekarang Kabupaten Natuna terdiri dari Kecamatan Bunguran Barat, Bunguran Timur, Bunguran Selatan, Bunguran Utara, Midai, Pulau Laut, Pulau Tiga, Serasan, Serasan Timur, Subi, Bunguran Timur Laut.

upload-194

NATUNA DAN GRANIT (PENJELASAN GRANIT, POSISI NATUNA DALAM SEBARAN BATUAN GRANIDOIT INDONESIA)

https://poetrafic.wordpress.com/2010/08/15/intrusi-magma/

https://kelompoklimahmg09.wordpress.com/2010/12/16/paparan-sunda/ http://www.tekmira.esdm.go.id/newtek2/

http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1714

upload-204

Natuna merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang termasuk ke dalam jalur timah. Keberadaan batuan granit dan timah di sekitar Kepulauan Natuna memang masih kurang setenar Kepulauan Bangka Belitung. Keberadaan granit dan batuan sedimen Natuna masih kalah tenar dengan keberadaan cadangan migasnya. Natuna selalu identik dengan cadangan migas terbesar di Indonesia, tetapi, jika melihat lebih luas lagi, bentang alam dan keberadaan sebaran batuan granit dan sedimen di wilayah Kepulauan Natuna pun menarik untuk dipelajari. Batuan granitoid merupakan batuan yang sangat istimewa karena keberadaannya berasosiasi dengan keterdapatan mineral bijih yang bernilai ekonomis. Batuan granitoid di Indonesia tersebar secara luas dari Sumatra hingga Papua, namun pada tulisan kali ini hanya akan difokuskan pada sebaran di wilayah Kepulauan Natuna.

upload-213

Batuan granitoid atau disebut juga sebagai batuan granitik merupakan batuan yang plutonik, paneritik (Best, 2003). Granit merupakan salah satu batuan beku, yang bertekstur granitik dan struktur holokristalin, serta mempunyai komposisi kimia ±70% SiO2 dan ±15% Al2O3, sedangkan mineral lainnya terdapat dalam jumlah kecil, seperti biotit, muskovit, hornblende, dan piroksen. Umumnya granit berwarna putih keabuan, Sebagai batu hias warna granit lainnya adalah merah, merah muda, coklat, abu-abu, biru, hijau, dan hitam, hal ini tergantung pada komposisi mineralnya. Granit merupakan batuan beku asam plutonik atau terbentuk dan membeku dalam kerak bumi, pada kedalaman puluhan kilometer. Digolongkan kedalam batuan beku dalam yang membentuk batolit. Oleh proses tektonik, batuan-batuan ini mengalami pengangkatan, bahkan beberapa mengalami pematahan dan peretakan. Akibat dari proses tektonik tersebut, batu granit yang tadinya berasal jauh di bawah permukaan Bumi, muncul ke permukaan Bumi Bentuk cebakan yang terjadi dapat berupa dike, sill, atau dalam bentuk masa yang besar dan tidak beraturan. Batuan lelehan dari granit disebut rhiolit, yang mempunyai susunan kimia dan mineralogy yang sama dengan granit tetapi tekstur dan strukturnya berlainan. Granit mempunyai sumber cadangan yang potensial, namun sampai saat ini belum banyak yang ditambang. Potensi tersebut terdapat di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

upload-222

Selama proses pengangkatan granit dari bawah Bumi, tubuh granit mengalami deformasi. Tubuhnya retak-retak. Ketika tubuh granit yang retak-retak ini muncul di permukaan Bumi, proses pelapukan dan erosi atau abrasi mengikisnya melalui retakan-retakan. Akibat proses ini yang terjadi berulang-ulang selama ratusan hingga ribuan tahun, batu granit yang muncul di permukaan seolah-olah merupakan bongkah batuan yang terpisah-pisah. Padahal bongkah batu granit raksasa ini sebenarnya hanya bagian atas dari tubuh sangat besar batu granit yang ada di bawah permukaan Bumi. Batu granit tertentu mengandung mineral bijih timah yang dikenal sebagai mineral kasiterit yang tersusun atas senyawa kimia oksida SnO2. Mineral kasiterit yang masih berada di dalam batuan disebut sebagai mineral primer. Konsentrasinya besar tetapi tidak terakumulasi pada tubuh granit tertentu, tetapi menyebar secara luas di dalam tubuh batu granit. Selain itu, untuk mengekstraksinya, yaitu memisahkan mineral kasiterit dari mineral pembentuk batu granit lainnya, prosesnya sangat sulit.

Selain granitnya, posisi Kepulauan Natuna juga berada di ujung Paparan Sunda. Paparan Sunda terbentuk dari hasil extension dari benua Asia Tenggara, yang mana berhubungan dengan Malay Peninsula. Paparan Sunda dibatasi oleh Laut Cina Selatan di bagian Utara, bagian Selatan oleh Pulau Jawa, Selat Makassar di bagian Timur, dan  Pulau Sumatra di bagian Barat. Paparan Sunda terdiri dari lima zona, yaitu:

  • Zona Natuna
  • Zona Anambas
  • Zona Karimata
  • Zona Sabuk Timah (Malaysia barat, Singkep, Bangka, Belitung, sampai utar Laut Jawa)
  • Zona Karimunjawa

Pada zaman Kuarter, paparan Sunda tenggelam oleh kenaikan muka air laut yang disebabkan meleburnya es di kutub (menurut Molengraaff dan Weber, 1919)

Bagian-bagian pembentuk Peneplain Sunda antara lain Malay Penisula, kepulauan Riau-Lingga, Bangka, Belitung, pada satu bagian, dan Laut Jawa dan Selat Malaka pada bagian lain. Bagian ini pernah dipotong oleh sungai dari tenggara Sumatra, yang menjadi anak sungai pada sistem sungai purba di Laut Cina Selatan.

Selat Sunda tidak ditemukan pada sejarah paparan sunda sebelum tahun 1175. Pada awal Kuarter, batas antara Sumatra dan Jawa ditutupi oleh endapan pumice vulkanik muda yang sangat tebal.Endapan ini adalah produk vulkanik gunung api yang berada di tengah Selat Sunda, dan tersebar mulai dari Lampung sampai Banten.

upload-232

Pulau-pulau di Paparan Sunda

  • Kepulauan di Paparan Sunda.

Paparan Sunda membentuk tepi kontinen yang kurang stabil, dikelilingi oleh sistem busur vulkanik Sunda. Ini dikonsolidasikan oleh orogenesa yang terjadi di daerah ini pada Palaesoikum Muda – Mesosoikum Tua. Siklus diatrofisma ini berawal di kepulauan Anambas dan menyebar ke arah timur laut ke Natuna dan ke arah barat daya ke kepulauan Riau dan Bangka Beliton. Di kepulauan Anambas batuan beku basa (gabro, gabro porfiri, diabas dan andesit) merupakan kelompok batuan tua yang diintrusi oleh batolit granit berumur Permo Trias. Kelompok batuan ini sebanding dengan batuan Permokarbon Pulu Melayu di Kalimantan Barat.   Di kepulauan Natuna batuan tertua terdiri dari batuan beku basal (gabro, diorit, diabas, norit, ampibolit, serpentinit dan tufa) yang berasosiasi dengan rijang radiolaria. Ini merupakan tipikal asosiasi ofiolit radiolaria yang dapat dikorelasikan dengan batuan berumur Permokarbon bagian dari Formasi Danau (Molengraff) di bagian utara Kalimantan Barat. Seri yang lebih muda terdiri dari serpih dan konglomerat dengan batuan vulkanik basa berhubungan dengan batuan berumur Trias bagian atas di Kalimantan Barat dan di daerah paparan Sunda. Batuan ini diintrusi oleh batolit granit pasca Trias. Pulau Midai yang sangat kecil di barat daya kepulau Natuna merupakan vulkanik basal sub resen.

upload-241

Pulau Natuna / Kepulauan Natuna

Litologinya berupa batuan beku (gabro, diorite, diabas, norit, amphibolit, serpentin, tuff) yang berkorelasi dengan Formasi Danau di Kalimantan. Endapan sediment berupa konglomerat dengan lempung dan andesit. Lempung ungu dan lempung coklat kemerahan yang ditemukan mirip dengan lempung di kepulauan Riouw dan Kalimantan yang berumur Trias atas.

Midai

Terletak 80km Barat Daya Natuna, berupa kubah basalt yang datar dengan cekungan dangkal dipuncaknya.

upload-251

NATUNA DAN PARIWISATA (URAIAN OBJEK WISATA, TRANSPORTASI, AKOMODASI, KETERANGAN TAMBAHAN)

WWW.NATUNA.TV

upload-26 

Kabupaten kepulauan Natuna merupakan salah satu kabupaten terluar yang berada di Utara Indonesia. Predikat kepulauan sudah tentu wilayah Kabupaten Natuna didominasi oleh perairan dan memiliki cukup banyak pulau-pulau kecil. Hal ini menjadi suatu nilai tambah, khususnya bagi kekayaan alam bawah laut dan juga potensi wisata baharinya. Lokasi Kabupaten Kepulauan Natuna yang cukup jauh dari pusat pemerintahan (baik Jakarta maupun Tanjungpinang), menjadikan objek-objek wisata di daerah ini masih tergolong sepi pengunjung. Wisatawan yang biasanya singgah di wilayah Natuna ini kebanyakan wisatawan mancanegara. Waktu kunjungan pun sangat dibatasi oleh kondisi iklim. Waktu yang tepat untuk mengunjuni Kepulauan Natuna adalah sekitar April hingga September. Dengan predikatnya sebagai kepulauan, sudah tentu wisata andalannya adalah wisata bahari, baik yang berupa pantai, pulau kecil, maupun spot-spot bawah laut yang cantik di tengah Laut Cina Selatan. Berikut adalah sedikit gambaran mengenai objek-objek wisata yang ada di Kaabupaten Kepulauan Natuna:

  1. Pulau Setanau

Objek wisata Pulau Setanau terletak di Desa Sabang Mawang, Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Menuju Pulau Setanau dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dari Kota Ranai (Ibukota Kabupaten Natuna). Waktu tempuh menuju pelabuhan Selat Lampa, Pulau Tiga kurang lebih sekitar satu hingga satu setengah jam perjalanan. Setibanya di Pelabuhan Selat Lampa, wisatawan harus menggunakan Pompong (perahu tradisional) untuk menuju Pulau Setanau. Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menuju Pulau Setanau dari Pelabuan Selat Lampa. Pengunjung akan disambut dengan pulau kecil tidak berpenduduk yang indah yang memiliki hamparan pasir putih yang memanjang dan diapit oleh dua pantai kecil. Biru laut dan jejeran perbukitan batuan sedimen di pulau utama (Pulau Bunguran) akan menambah keindahan pemandangan setibanya di Pulau Setanau.

upload-134

upload-144

  1. Objek Wistata Batu Kasah

Objek wisata ini berada di Desa Cemaga, Kecamatan Bunguran Selatan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Untuk menuju Batu Kasah diperlukan waktu sekitar satu jam dari Kota Ranai dengan kendaraan bermotor. Keunikan dari kawasan wisata Batu Kasah ini adalah bongkahan batu granit yang akan ditemui di sepanjang garis pantai, bahkan di pinggir pantai. Selain Batu Kasah, ada pula Batu Madu dan Pulau Akar. Ketiga objek wisata ini dapat didatangi oleh pengunjung ketika air laut surut. Air laut surut dari pagi hari hingga pukul 14.00. Ketika air laut kembali pasang, maka bongkahan-bongkahan batuan granit ini pun akan menjadi kumpulan pulau-pulau kecil di tengah laut. Selain bongkahan batu granit, pengunjung juga akan dimanjakan dengan hamparan pasir putih dan jejeran pohon kelapa di sepanjang objek wisata ini.

upload-25

upload-34

  1. Objek Wisata Batu Sindu/Tanjung Senubing

Batu Sindu, atau yang memiliki nama asli yaitu Tanjung Senubing terletak tidak jauh dari Kota Ranai. Batu Sindu atau Tanjung Senubing berada di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Hanya dibutuhkan waktu berkendara dengan kendaraan bermotor selama 15-2o menit dari Kota Ranai menuju Objek wisata Batu Sindu atau Tanjung Senubing. Keindahan yang ditawarkan dari objek wisata ini adalah bongkahan-bongkahan batu granit yang terdapat di sepanjang tebing hingga bibir pantai Tanjung Senubing. Selain itu, dapat juga menikmati keindahan pantai dari ketinggian 50 m dengan Pulau Senoa sebagai latar belakangnya.

upload-36

  1. Objek Wisata Pulau Senoa

Pulau Senoa terletak di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Untuk menuju Pulau Senoa, pengunjung harus menyewa Pompong dari Pelabuhan Tanjung Baruk. Untuk mencapai Pelabuhan Tanjung Baruk, diperlukan waktu sekitar 30 menit berkendara dengan kendaraan bermotor dari Kota Ranai dan sekitar 30 menit untuk menyeberang dari Pelabuhan Tanjung Baruk menuju Pulau Senoa. Keunikan Pulau Senoa yaitu bentuk pulaunya yang menyerupai ibu hamil yang berbaring. Tentu saja, bentuk pulau yang unik ini tidak lepas dari cerita legenda setempat, bahkan termasuk salah satu legenda yang paling terkenal dari Pulau Bunguran selain asal usul nama Pulau Bunguran itu sendiri. Bagi para penyuka aktivitas di bawah laut, Pulau Senoa menawarkan spot-spot snorkling hingga diving terbaik.

  1. Objek Wisata Pantai Semitan

Pantai Semitan berada di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Untuk mencapai objek wisata ini diperlukan waktu sektiar 1 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Kota Ranai. Pantai Semitan memang tidak selalu dikunjungi oleh wisatawan, karena termasuk objek wisata yang tergolong kecil dan sempit. Lokasinya sendiri hanya beberapa meter dari jalan raya utama. Tidak banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Pantai Semitan memberikan kesan alami bagi Pantai Semitan, sehingga bagi kebanyakan yang sudah mengetahui keberadaan Pantai Semita ini, menjadikan pantai ini sebagai salah satu spot yang direkomendasikan untuk mengambil gambar. Pantai Semitan memiliki garis panjang yang landai, terutama ketika air surut, jarak dari bibir pantai hingga batas laut bisa mencapai puluhan meter. Air lautnya bening bak kaca. Terdapat juga Pantai Migit yang hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 10 menit berjalan kaki dari Pantai Semitan yang juga tidak kalah indah dan alaminya.

  1. Objek Wisata Pantai Tanjung Datuk

Objek wisata Pantai Tanjung Datuk berada di Desa Teluk Buton, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Lokasi Pantai Tanjung Datuk tergolong yang cukup jauh dari Kota Ranai, sekitar 50 Km. Diperlukan waktu tempuh sekitar satu hingga dua jam berkendara dengan kendaraan bermotor dari Kota Ranai. Pantai ini memiliki hamparan pasir yang kecokelatan dan memiliki bongkahan batuan yang menyerupai lempeng batu raksasa dengan gawir kecil terisi air laut sebagai hasil dari abrasi. Terdapat juga perbukitan batu pasir yang beraneka bentuk di bagian ujung pantai. Di bagian kanan pantai terdapat bongkahan-bongkahan batu karang yang berbentuk lempeng yang berpermukaan datar nan halus yang ditumbuhi lumut-lumut kecil. Di sela-sela batuan tersebut terdapat lubang-lubang kecil mirip seperti pothole yang sering ditemui di sungai, hanya saja ukuran dan kedalamannya lebih besar dibandingkan dengan pothole yang biasa ditemui di sungai. Lubang-lubang kecil ini akan terlihat jelas ketika air laut surut dan akan ditemui ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya. Pantai Tanjung Datuk memiliki kejernihan air laut yang sangat bersih, dan tergolong dalam, sebab pantai ini langsung mengahdap ke laut lepas. Sangat cocok bagi pengunjung yang memiliki hobi memancing. Pantai ini memiliki bentuk yang melengkung layaknya sebuah teluk dan bertebing batu pasir yang sangat curam di samping kanan bibir pantainya. Bagian darat ditumbuhi pohon cemara yang menjulang tinggi dengan ukuran yang cukup besar beserta beberapa jenis pohon lainnya.

upload-311

upload-321

Setelah puas menyusuri bibir pantai, pngunjung dapat pula menikmati sisi lain dari pantai ini, yaitu dengan melihat seluruh wilayah pantai dari ketinggian tebing. Dari ketinggian, pengunjung dapat merasakan percikan air laut yang berasal dari hempasan gelombang yang menghantam ke sela-sela batu tebing. Selain itu, pengunjung dapat juga melihat laut biru yang luas membentang dan merupakan bagian dari Laut Cina Selatan. Hembusan udara segar dari arah laut serta rimbunnya pepohonan di atas bukit menambah nikmat suasana. Tempat di atas bukit ini juga dimanfaatkan sebagai area camping ground. Bagian tebing ini juga merupakan lokasi yang cocok untuk menyaksikan fajar menyingsing dan senja.

upload-29

upload-30

  1. Objek wisata Pantai Pengadah

Objek wisaya Pantai Pengadah berada di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Jarak Pantai Pengadah dengan Kota Ranai sekitar 30 Km. Diperlukan waktu tempuh sekitar 40 menit berkendara dengan kendaraan bermotor dari Kota Ranai. Pantai Pengadah memiliki garis pantai yang cukup panjang dan jejeran pohon kelapa di sepanjang garis pantainya. Ombak di Pantai Pengadah termasuk kategori ombak yang tenang. Pantai Pengadah lokasinya berdekatan dengan muara Sungai Semitan yang merupakan sungai terpanjang di daerah tersebut. Selain ditumbuhi oleh pohon kelapa di sepanjang garis pantainya, di sepanjang bibir Pantai Pengadah ini juga tumbuh pohon cemara yang berjajar rapi dan menjulang tinggi. Pantai pengadah memiliki air yang jernih dan belum terlalu banyak didatangi, sehingga kealamian dan keindahan pantainya masih sangat terjaga. Bila air laut sedang surut, akan muncul hamparan pasir halus yang tak kurang dari 5 Ha dan bisa dimanfaatkan pengunjung untuk bermain ataupun mencari kerang. Objek wisata lainnya yang terletak di dekat Pantai Pengadah yaitu Pantai Pulau Kambing dan Pantai Sengiap.

  1. Objek Wisata Pantai Sahi

Objek wisata Pantai Sahi terletak di Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Waktu tempuh menuju Pantai Sahi sekitar 40 menit berkendara dengan kendaraan bermotor dari Kota Ranai. Pantai Sahi merupakan primadona bagi wisatawan lokal. Pantai Sahi tersohor karena posisinya yang berhadapan langsung dengan Pulau Sahi. Pulau Sahi merupakan pulau kecil yang merupakan pulau karang yang terjal dan cukup tinggi dengan jarak sekitar 100 m dari bibir pantai. Ketika air laut sedang surut, pengunjung dapat berjalan kaki menuju Pulau Sahi. Bagi para pengunjung yang gemar memancing, Pantai Pulau Sahi dapat menjadi salah satu tujuan utama. Pantai Sahi umumnya ramai dikunjungi ketika Minggu petang dan hari-hari libur lainnya. Suasana Pantai Sahi yang tenang ditambah hembusan angin sepoi-sepoi dari laut lepas serta pemanangan Pulau Senoa dan Gunung Ranau di kejauhan menjadikan pantai ini pilihan utama wisatawan lokal untuk berlibur. Tidak ada rumah singgah atau pondok, semuanya masih sangat alami. Pengunjung disarankan membawa tikar atau tenda untuk berteduh.

upload-116

  1. Objek Wisata Pantai Pulau Kambing/Pantai Sengiap

Objek wisata Pantai Pulau Kambing berada di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Nama lain untuk pantai ini adalah Pantai Sengiap. Untuk mencapai Pantai Pulau Kambing, diperlukan waktu sekitar 30 menit berkendara dengan kendaraan bermotor dari Kota Ranai kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit, tetapi jika ingin membawa kendaraan bermotor pun bisa, hanya saja medannya cukup sulit. Pantai Pulau Kambing memiliki luas pantai kurang lebih 10 Ha dan panjang garis pantai sekitar 5 Km. Letak pantai ini berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan yang membentang biru. Pantai ini memiliki pantai pasir putih yang sangat halus. Keunikan dari pantai ini adalah, hamparan pasirnya yang akan mengelurakan bunyi-bunyian ketika diinjak. Selain memiliki hamparan pasir putih dan pasir yang dapat mengeluarkan bunyi, pantai ini memiliki air yang jernih. Pantai Pulau Kambing termasuk pantai yang masih alami, tidak terdapat pondok atau rumah singgah di sekitar pantai. Disarankan bagi para pengunjung untuk membawa tikar atau tenda sebagai tempat untuk berteduh. Pantai Pulau Kambing juga merupakan loaksi yang cocok untuk memburu sunset.

upload-35

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2015 in Travelling, Uncategorized