RSS

Monthly Archives: August 2015

SITU SANGHYANG

upload-201

upload-65

Secara administratif berada di Desa Cibalanarik dan Desa Cilolohan, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dan berada pada koordinat -7.401762, 108.149954. Situ Sanghyang merupakan danau alami dengan luas kurang lebih 37 Ha. Situ Sanghyang merupakan salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Tasikmalaya yang berjarak tidak jauh dari pusat Kota Tasikmalaya, yaitu sekitar 25 Km. Akses menuju Situ Sanghyang pun terbilang cukup mudah, bahkan dari beberapa kota besar terdekat, seperti Kota Bandung, Kota Garut, dan Kota Tasikmalaya. Fasilitas yang ada di sekitar Situ Sanghyang sudah cukup lengkap. Terdapat Masjid lengkap dengan area parkir, papan berisikan cerita mengenai Situ Sanghyang, beberapa saung permanen, pagar pembatas, teras dengan paving block, hingga beberapa warung kecil yang tersebar di sekitar area Situ Sanghyang. Pengunjung cukup membayar retribusi masuk sebesar Rp 3.500,00. Nama dan lokasi Situ Sanghyang memang masih kalah oleh Situ Gede yang dari jarak lokasi pun jauh lebih dekat dan lebih mudah dijangkau dari Kota Tasikmlaya. Berikut uraian singkat mengenai rute menuju Situ Sanghyang dari beberapa kota besar terdekat

upload-104

upload-173

BANDUNG – GARUT – SITU SANGHYANG

Dari Kota Bandung ambil jalur menuju Kota Garut yang dapat ditempuh melalui tiga pilihan jalur termudah, yaitu melalui Nagreg, Kamojang, dan Cijapati. Bila belum terlalu terbiasa dengan jalan di medan perbukitan terjal, sebaiknya mengambil jalur Nagreg. Setibanya di Kota Garut, ambil jalur menuju pusat Kota Garut dan ambil rute menuju Tasikmalaya (sudah banyak papan penunjuk arah menuju Kota Tasikmalaya). Rute menuju Kota Tasikmalaya dari Garut ini akan melalui beberapa tempat yang dapat dijadikan patokan. Patokan pertama adalah Perkebunan Teh Dayeuhmanggung di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut yang merupakan salah satu pintu pendakian menuju Gunung Cikuray. Kedua, adalaha Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya yang juga sekaligus merupakan objek wisata Kampung Naga. Ketiga adalah Polres Tasikmalaya yang sekaligus berada di pertigaan menuju Desa Cibalanarik. Posisi pertigaan Polres Tasikmalaya ini berada pada koordinat -7.365581, 108.101785 dan ambil kanan di koordinat ini menuju Mangunreja. Kondisi jalan secara umum sudah baik, hanya saja sepanjang jalur Cilawu hingga Salawu jika malam hari akan sangat sepi dan tidak jarang kabut tebal tebal. Jalur ini berada di perbukitan sehingga jalannya berkelok-kelok dan sedikit sempit. Pada pagi hingga siang hari, kendaraan yang banyak melintas adalah mobil dan motor pribadi. Pada sore dan malam hari, kendaraan yang banyak melintas adalah bus dan kendaraan pengangkut ayam. Kondisi jalan yang kurang baik akan ditemui setelah belok menuju Mangunreja dari Polres Tasikmalaya hingga pintu gerbang objek wisata Situ Sanghyang. Jarak pada pembacaan peta di jalur ini adalah sekitar 111 Km dengan waktu tempuh sekitar 3 jam 47 menit.

bandung-situ-sanghyang

upload-164

TASIKMALAYA – SINGAPARNA – SITU SANGHYANG

Ambil arah menuju Singaparna dari Kota Tasikmlaya. Lalu lintas di jalur ini cukup padat, terutama pada akhir minggu dan pagi hari. Cukup banyak kendaraan pribadi yang melintas di sini dari pagi hingga malam hari. Kondisi jalan cukup baik dan sepanjang jalan menuju Singaprna akan ditemui pertokoan dan kawasan pondok pesantren. Di jalur ini juga, terdapat jalur menuju objek wisata Situ Gede. Setibanya di alun-alun Singaparna, ambil arah menuju Salawu dan pada pertigaan Polres Tasikmalaya di koordinat -7.365581, 108.101785 ambil ke arah kiri menuju Mangunreja kemudian Desa Cibalanarik. Jarak pada pembacaan peta di jalur ini adalah sekitar 26,2 Km dengan waktu tempuh sekitar 56 menit.

tasikmalaya-situ-sanghyang

upload-95

SUKARAJA – SITU SANGHYANG

Jalur ini merupakan patokan jalur bila datang dari arah Selatan Tasikmalaya (Cikatomas, Salopa, Jatiwaras, Karangnunggal, Bantarkalong, dll). Patokan paling mudah adalah alun-alun Kecamatan Sukaraja. Dari alun-alun Sukaraja, ambil jalan ke arah kiri, tepat setelah Polsek Sukaraja bila dari arah Selatan, tepatnya pada koordinat -7.451709, 108.194096. Tidak jauh setelah belok pada koordinat tersebut,a ambil jalan ke arah kiri pada koordinat -7.449330, 108.186099. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.441107, 108.161179 dan ambil arah kiri, ikuti jalan hingga menemui persimpangan pada koordinat -7.441001, 108.157339, ambil arah kanan. Persimpangan berikutnya akan ditemui pada koordinat -7.435527, 108.140289 dan ambil arah kanan. Pada jalur ini akan banyak ditemui persimpangan, tetapi kebanyakan hanya merupakan persimpangan menuju permukiman, ikuti terus jalan utama. Persimpangan yang cukup besar berikutnya ada pada koordinat -7.410885, 108.156770. Pada persimpangan ini ambil arah kiri. Ikuti jalan utama hingga tiba di area Situ Sanghyang. Kondisi jalan pada jalur ini cukup baik dan lalu lintasnya tidak seramai jika melalui jalur Kawalu. Pada sore hari, lalu lintas di jalur ini cukup sepi. Kondisi jalan yang kurang baik akan ditemui ketika memasuki Desa Cibalanarik hingga area Situ Sanghyang. Jarak pada pembacaan peta di jalur ini adalah sekitar 14,2 Km dengan waktu tempuh sekitar 24 menit.

sukaraja-situ-sanghyang

upload-85

SITU SANGHYANG, BATU PRASATI, DAN MAKAM KUNO

Area di sekitar Situ Sanghyang masih berupa kebun penduduk dan hutan yang masih alami, bahkan kondisi jalan untuk mengelilingi Situ Sanghyang setengahnya hanya merupakan jalan tanah di area kebun. Lahan di sekitar Situ Sanghyang dan lokasinya yang cukup jauh dari jalan raya, menjadikan daya tarik bagi pengunjung. Selain karena alamnya, Situ Sanghyang juga terkenal dengan adanya Makam Kuno yng dieprcaya oleh warga setempat sebagai makam Eyang Linggawasatu, salah satu tokoh yang paa legenda setempat berperan penting dalam pembentukan Situ Sanghyang. Di sekitar makam kuno ini dapat ditemukan batu pancalikan, yaitu tahta yang terbuat dari batu dan digosok secara halus sampai mengkilap. Tahta ini hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas tahta itu calon raja diberkati oleh pendeta tertinggi. Tempat tahta ini, sesuai tradisi, berada di kabuyutan kerajaan, tidak di dalam istana. Pada Oktober 2011, telah ditemukan beberapa bongkahan batu dengan berbagai ukuran. Batu terbesar memiliki diameter 1,5 m. Lokasi ditemukannya batu yang diduga prasasti kuno ini ada di sekitar Kampung Nangklong, Desa Linggaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Pada permukaan batu terdapat gambar seperti peta dan tulisan menyerupai angka 0, 1, dan 5 dan memiliki motif garis-garis seperti gambar perbukitan di daerah setempat. Selain itu, prasasti kuno ini kemungkinan ada sangkut pautnya dengan sejarah kerajaan yang berada di Situ Sanghyang. Dari cerita lisan masyarakat setempat menyebutkan bahwa di kawasan itu pernah berdiri Kerajaan Galuh Sanghyang dan Kerajaan Saung Gentong. Keberadaan temuan batu tersebut hanya sekitar 5 kilometer dari Situ Sanghyang.

upload-75

upload-192

LEGENDA TERJADINYA SITU SANGHYANG

Pada zaman dahulu, area yang saat ini menjadi Situ Sanghyang merupakan sebuah perkampungan. Penduduk di kampung tersebut sangat terkenal dengan sifatnya yang pelit. Kabar ini terdengar oleh Prabu Linggawastu (dalam beberapa sumber hanya dikatakan utusan, tanpa menyebutkan nama) dari Kerajaan Sanghiyang Murba Wisesha yang terkenal sangat sakti. Untuk menguji kebenaran tentang sifat kikir kampung ini, Prabu Linggawastu menyamar menjadi seorang anak kecil sekitar umuran Anak  8 Tahunan, badannya (Bocah tersebut)  kelihatan rada Hitam dengan perawakan yang sedikit gempal dan bajunya yang dia kenakan tidak memakai kancing depannya jadi perutnya Bocah itu terlihat terbuka dan ada yang beda dengan perutnya yang menyembul dan sedikit buncit. Ketika tiba di kampung ini, ternyata sedang digelar sebuah acara, hampir semua penduduk kampung ini berada di tempat acara. Anak kecil jelmaan Prabu Linggawastu pun akhirnya meminta sedikit makanan dan minuman. Konon, di kampung ini kala itu sedang dilanda kekeringan, sehingga cukup sulit untuk mendapatkan air bersih, bahkan untuk minum. Kehadiran anak kecil jelmaan Prabu Linggawasatu ini ternyata tidak disambut dengan baik oleh penduduk yang sedang berpesta tersebut. Sebagian ada yang mengacuhkan, sebagian lagi malah menghardik dan menyebutnya Si Buncireung. Singkat cerita, karena tidak mendapatkan apapu dari warga yang ia temui, akhirnya Si Buncireung mendatangi sebuah rumah yang tidak jauh dari lokasi pesta tersebut.

upload-183

upload-154

Ternyata, pemilik rumah tersebut adalah seorang nenek renta yang hidup sebatang kara. Sambutan nenek ini jauh berbeda dari sambutan yang diterima oleh penduduk lainnya. Nenek yang sudah renta ini tidak diundang ke acara hajatan dan memilih untuk tinggal di rumah. Nenek ini sangat ramah terhadap Si Buncireung yang sebenarnya orang asing bagi nenek ini. Setelah menawarkan air putih dingin dan aneka hasil kebun meskipun tidak banyak kepada Si Buncireung, Si Buncireung pun berpesan pada nenek ini untuk segera mengemasi barang-barangnya dan sesegera mungkin lari menjauh hingga ujung jalan. Tepat di ujung jalan, nenek ini akan dijemput oleh Kendaraan Bendi dengan kuda-kuda dan tentara-tentara yang gagah yang akan membawa nenek ini ke Kerajaan Sanghyang. Nenek ini segera berkemas, saking tergesa-gesanya, hingga menimbulkan kegaduhan dan menarik perhatian warga sekitar.

upload-144

upload-134

Warga pun segera mendatangi rumah nenek ini dan berkata mengapa nenek ini mau saja menuruti perkataan Si Buncireung, orang asing yang baru pertama kali tiba di kampung. Si Buncireung pun keluar dari rumah nenek ini dan berkata pada warga-warga yang pelit tersebut dan berkata “ Hai penduduk lembah ini ,ketahuilah bahwa kelakuan kalian itu telah salah dan menyebabkan Nenek Renta itu tidak berdaya menghadapi hidup ,itu salah sebuah contohnya , namun hanya dialah yang akan selamat dari Bencana yang akan menimpa kalian semuanya sekarang juga , kalau kalian pada sombong dan masih mempertahankan Budaya Pelit yang kini telah menggejala maka aku tantang kalian , coba cabutlah Lidi pohon Kelapa itu di samping Rumahnya nenek itu!” Warga lembah yang tadi mencoba menyapa Bocah itu menghampiri si Buncireung yang berdiri di tengah-tengah kerumunan warga yang heran dengan kehadiran Bocah yang punya perut buncit itu, lalu serempak para warga lembah itu menertawai kehadiran Bocah itu, namun kejadian itu hanya sebentar si buncireung mencoba mendekat ke Lidi yang telah di tancapkan di pinggiran Rumah Nenek Tua Sebatang Kara yang kini telah pergi dengan di Jemput para Tentara kahyangan untuk di beri Tempat yang lebih layak di Kahyangan sana. Si Buncireung lantas mencabut Lidi Kelapa yang di tancapkan di pinggiran Rumah Nenek Renta itu , dan secara ajaib, dari bekas lubang tancapan Lidi Kelapa yang di tarik si Buncireung keluar air yang sangat Dahysat. Dari lubang lidi kelapa yang di cabut oleh si Buncireung itu kini jadi sebuah Danau yang sangat Luas , menenggelamkan lembah yang punya Budaya “jelek” 

upload-124

upload-119

Berdasarkan beberapa sumber, diyakini bocah Buncireung ini merupakan jelmaan dari Eyang Linggawastu yang diyakini dimakamkan dekat Situ Sanghyang. Adapun dugaan makam kuno yang hingga kini berada di dekat Situ Sanghyang merupakan makam dari Eyang Linggawastu dari Kerajaan Murba Wisesha. Kondisi air di Situ Sanghyang akan cukup menyusut pada musim kemarau. Banyak juga warga yang memancing di sekitar Situ Sanghyang.

upload-55

upload-46

Sumber Lainnya:

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=1043&lang=id

http://www.kompasiana.com/nokia.com/legenda-si-buncireung-dan-situ-sanghyang-di-kab-tasikmalaya_54f4239e7455137c2b6c879c

http://www.kerajaannusantara.com/id/news/378-Batu-Kerajaan-di-Situ-Sanghyang

upload-36

upload-28

upload-118

 
Leave a comment

Posted by on August 25, 2015 in DANAU, Travelling

 

SITU SANGIANG

upload-191

Situ Sangiang secara administratif berada di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat dan berada pada koordinat -6.941097, 108.341314. Keberadaan Situ Sangiang tidak terlepas dari sejarah kerajaan-kerajaan Hindu Budha dan Islam pada zaman dahulu. Kemunculan Situ Sangiang masih erat kaitannya dengan Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi, bahkan masih ada beberapa trasdisi dan kepercayaan yang dilaksanakan oleh masyrakat di sekitar Situ Sangiang, bahakan hingga ke Kecamatan Talaga. Terlepas dari sejarah dan mitos-mitos seputar Situ Sangiang, saat ini, Situ Sangiang merupakan salah satu objek wisata unggulan dari Kabupaten Majalengka selain TN Gunung Ceremai. Status Situ Sangiang yang sudah menjadi objek wisata unggulan dari Kabupaten Majalengka memberikan dampak terhadap kemudahan akses. Aksesibilitas dan kondisi di sekitar Situ Sangiang sudah dapat dikatakan cukup baik. Untuk menuju Situ Sangiang, terdapat dua rute utama yang dapat ditempuh, yaitu dari arah Utara dan arah Selatan. Dari arah Utara, patokannya adalah Kota Majalengka, sedangkan dari arah Selatan, Kecamatan Talaga dapat dijadikan sebagai patokan. Angkutan umum hanya sampai setengah perjalanan, sampai Cihaur, Banjaran (dapat menggunakan elf/microbus jurusan Kadipaten – Cikijing / Bandung – Cikijing atau medium Bus jurusan Cikarang – Bantarujeg) dari arah Kota Majalengka. Dari Gapura selamat datang menuju Situ Sangiang dapat menggunakan ojek atau disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Berikut adalah uraian singkat mengenai rute menuju Situ Sangiang.

upload-182

MAJALENGKA – SITU SANGIANG

Bila datang dari arah Utara (Jakarta, Cikampek, Subang, dan sekitarnya) maka pertama kali ambil rute menuju Kota Majalengka. Setibanya di Kota Majalengka, ikuti terus jalan utama (Jalan Raya Majalengka – Rajagaluh) hingga ke persimpangan Cigasong pada koordinat -6.836162, 108.250259 kemudian ambil ke kanan menuju Kecamatan Talaga. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di patokan berikutnya, yaitu Kecamatan Maja. Setelah Alun-alun Kecamatan Maja, ikuti jalan utama ke Kecamatan Talaga sebagai patokan. Kondisi jalan dari Kota Majalengka hingga Kecamatan Maja cukup baik. Jalan dari Kota Majalengka menuju Kecamatan Talaga merupakan jalan utama sehingga lalu lintasnya cukup ramai, baik oleh kendaraan pribadi, ELF, maupun bus antar kota pada pagi hingga sore hari. Setelah Kecamatan Maja, ikuti terus jalan utama menuju Kecamatan Talaga, dan berhenti tepat di koordinat -6.947809, 108.307237. Koordiat tersebut merupakan persimpangan menuju Desa Sangiang yang ditandai dengan adanya pangkalan ojek di sisi kanan jalan. Sebenarnya ada gapura penanda objek wisata Situ Sangiang, hanya saja tidak akan terlihat jika datang dari arah Kota Majalengka. Setelah belok kiri tepat di pertigaan, kondisi jalan akan lebih kecil dan mulai menanjak. Kondisi jalannya sudah cukup baik. Sebelum tahun 2014, kondisi jalan menuju Situ Sangiang tidak terlalu baik, terutama di sekitar Desa Sangiang karena sering banjir. Ikti terus jalan kecil tersebut karena tidak akan ditemukan patokan apapun menuju Situ Sangiang. Bila ragu, bisa menanyakan arah menuju Situ Sangiang kepada penduduk sekitar. Pintu masuk menuju Wana Wisata Situ Sangiang kurang lebih berada pada koordinat -6.945026, 108.338841. Jarak padda pembacaan peta melalui jalur ini adalah sejauh 22,5 Km dengan waktu tempuh sesuai pembacaan peta adalah sekitar 34 menit dan waktu tempuh terlama sesuai pembacaan peta adalah sekitar 38 menit.

majalengka-situ-sangiang

TALAGA – SITU SANGIANG

Jalur ini merupakan jalur utama bila datang dari arah Selatan, seperti Kecamatan Cikijing, Kecamatan Bantarujeg, bahkan jika datang dari sekitar Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut (jalurnya dapat melalui Wado atau melalui Cipasung). Ambil jalur utama menuju Kecamatan Maja. Kondisi jalan cukup baik dan lalu lintasnya cukup ramai, baik oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Tepat pada koordinat -6.947809, 108.307237 tepat di sebelah kanan jalan akan ditemui gapura menuju objek wisata Situ Sangiang. Selain itu, di sisi kiri jalan akan ditemui pangkalan ojek. Ambil kanan dan ikuti terus jalan utama hingga tiba pada koordinat -6.945026, 108.338841 yang sekaligus menjadi pintu masuk menuju objek wisata Situ Sangiang. Jarak padda pembacaan peta melalui jalur ini adalah sejauh 11,1 Km dengan waktu tempuh tercepat sesuai pembacaan peta adalah sekitar 19 menit dan waktu tempuh terlama sesuai pembacaan peta adalah sekitar 20 menit.

talaga-situ-sangiang

MALANGBONG –TALAGA – SITU SANGIANG

Jalur ini merupakan jalur utama dari arah Selatan (Garut, Malangbong, Limbangan, dan sekitarnya). Ambil jalan menuju Wado melalui Jalan Raya Wado – Cilengkrang pada persimpangan di koordinat -7.060686, 108.086889. Lalu lintas di jalan ini cukup ramai dari pagi hingga sore hari. Pada malam hari, lalu lintas akan sangat sepi. Sepanjang jalur ini belum semuanya dilengkapi oleh lampu penerangan jalan, sehingga tidak dianjurkan untuk melintas di sini pada malam hari. Kabut yang cukup tebal pun sering turun, terutama pada area di sekitar kaki Gunung Cakrabuana. Ikuti jalan utama hingga tiba di Wado, dan belok kiri ke arah Terminal Wado pada koordinat -6.945195, 108.092624. Ikuti jalan utama yang sekaligus merupakan jalan utama menuju Kecamatan Talaga dari Wado melalui Kecamatan Lemahsugih dan Kecamatan Bantarujeg.

upload-172

Kondisi jalan dari selepas Terminal Wado, akan cukup buruk. Tanjakan, turunan panjang serta tikungan tajam akan menjadi medan dominan yang harus dilalui. Kondisi jalan sebelum memasuki Kecamatan Bantarujeg dan Kecamatan Talaga akan cukup buruk. Bila musim hujan, akan turun kabut di beberapa area di sepanjang Kecamatan Lemahsugih hingga Kecamatan Bantarujeg. Lalu lintas di jalur ini hanya akan ramai pada siang hari, itupun hanya ramai oleh ELF dan sepeda motor. Sore hari menjelang malam akan kembali sepi. Bila sudah malam, tidak dianjurkan untuk melewati jalur ini karena cukup sepi dan masih banyak area berupa perkebunan yang jauh dari permukiman yang akan dilewati di jalur ini. Setiba di Kecamatan Talaga, ikuti jalan utama menuju Kecamatan Maja. Kondisi jalan cukup baik dan lalu lintasnya cukup ramai, baik oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Tepat pada koordinat -6.947809, 108.307237 tepat di sebelah kanan jalan akan ditemui gapura menuju objek wisata Situ Sangiang. Selain itu, di sisi kiri jalan akan ditemui pangkalan ojek. Ambil kanan dan ikuti terus jalan utama hingga tiba pada koordinat -6.945026, 108.338841 yang sekaligus menjadi pintu masuk menuju objek wisata Situ Sangiang. Jarak padda pembacaan peta melalui jalur ini adalah sejauh 58,1 Km dengan waktu tempuh sesuai pembacaan peta adalah sekitar 1 jam 41 menit.

malangbong-situ-sangiang

Situ Sangiang terletak pada ketinggian 600 – 800 m atas muka laut. Ketinggian tanah terendah berada didesa Banjaran dan tertinggi di desa Sangiang. Bentuk permukaan tanah umumnya beragam, namun secara umum adalah relatif datar dengan kemiringan lahan sampai dengan 10%. Lahan-lahan demikian umumnya dipergunakan untuk areal pesawahaan dan perairan. Area di sekitar Situ Sangiang termasuk ke dalam tipe iklim C. Jenis tanah di sekitar area Situ Sangiang terdiri dari dua jenis, yaitu Asosiasi Andosol dan Asosiasi Podsolik. Mayoritas sebaran Podsolik berada pada area sawah dan perairan. Kedua tekstur jenis tanah tersebut halus sampai dengan sedang dengan top soil antara 50-150 cm dengan tingkat kesesuaian S3-S2 untuk pertanian. Ketinggian air tanah di sekitar Situ Sangiang berkisar antara 2-20 m di bawah permukaan tanah dengan sifat pengaliran tidak stabil. Sumur artesis yang digunakan penduduk untuk memperoleh air bersih berkisar pada kedalaman 5-15 m dengan pH 6,5. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa air permukaan dan air tanah di sekitar Situ Sangiang dapat dipergunakan untuk kepentingan pengembangan pertanian, perikanan, dan kegiatan lainnya.

upload-163

Tumbuhan yang berada di area Wana Wisata Situ Sangiang merupakan hutan campuran dengan tumbuhan jenis mahoni dan kayu manis ditemukan juga jenis-jenis lain diantaranya alang-alang, rumput teki, gewar, rotan, saliara, kirinyuh, pohpohan, tepus, kiara, manglid, suren, benda, kemiri, pasang dan lain-lain. Sedangkna jenis fauna diantaranya ular sanca, ular sawah, burung kutilang, bincarung, cangkakak, kera, lutung, bai. Daya tarik lainnya selain berbagai flora dan fauna, terdapat pula makam Sunan Parung, area untuk berkemah, lintas alam, dan bersampan. Situ Sangiang merupakan salah satu objek wisata alam yang berada di Majalengka yang mengandalkan sumber mata air tanah dan curah hujan sebagai sumber air utamanya. Situ Sangiang memiliki luas total mencapai 26,4 hektar. Area Situ Sangiang juga termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai.

upload-153

Situ Sangiang merupakan objek wisata alam dan tempat ziarah. Banyak para pendatang yang berkunjung kesini dengan tujuan untuk berziarah. Untuk masuk ke lokasi situ terdapat beberapa gerbang. Di tiap pintu gerbang, ada kotak amal yang bisa diisi suka rela oleh pengunjung. Biasanya diperuntukkan bagi para juru kunci. Di sebelah kiri jalan setapak menuju situ, terdapat makam leluhur terdahulu seperti Makam Sunan Parung dengan seorang juru kunci. Terkait dengan adanya kegiatan ziarah ke makam salah seorang tokoh dari kerajaan Islam pada zaman dahulu kala, menjadikan adanya serangkaian kegiatan yang biasa dilakukan oleh pengunjung dengan arahan kuncen. Para peziarah yang datang ke makam Sunan Parung, setelah berziarah, akan dilanjutkan dengan kegiatan mandi di Situ Sangiang. Adapun tata cara mandi di Situ Sangiang seperti memakai kain putih, batas mandi dalamnya hanya sepinggang, dan pelaksanaan kebersihan oleh tujuh kuncen setiap satu minggu sekali pada hari Senin yang disebut “nyapu”. Semua kuncen melaksanakan tugasnya mulai masuk jalan keramat sampai dipertigaan tiga orang melaksanakan kebersihan ke Makam Keramat berikut didalam keramatnya, sedangkan yang empat orang melaksanakan kebersihan jalan yang menuju Situ Sangiang.

upload-143

SITU SANGIANG DAN SEJARAH KERAJAAN PAJAJARAN DAN KERAJAAN ISLAM

Penulisan Sangiang pada ‘Situ Sangiang’ sekilas mirip dengan penyebutan Sang Hyang dalam ‘Sang Hyang Widi’ yang erat kaitannya dengan agama Hindu. Penamaan Situ Sangiang berasal dari suatu peristiwa sejarah yang mengakibatkan menghilangnya Kerajaan Talaga Manggung berikut salah satu raja (Raden Panglurah) dan seluruh pengikutnya yang menjadi dasar penamaan danau ini. Sangiang dalam ‘Situ Sangiang’ merupakan penyingkatan dari “Ngahiang” yang berarti ‘menghilang’. Jadi, penulisan nama yang benar adalah ‘Situ Sangiang’ bukan ‘Situ Sanghyang’ yang asal katanya dari Sang Hyang Widi seperti pada penamaan Situ Sanghyang di Desa Cibalanarik, Kabupaten Tasikmalaya dan Sanghyang Taraje pada penamaan air terjun di Kabupaten Garut.

upload-133

Situ Sangiang memang tidak dapat terlepas dari peranan kerajaan Hindu terbesar sata itu, Kerajaan Pajajaran. Kali ini, tokoh yang memegang peranan penting yaitu Putri Ambet Kasih yang merupakan salah satu putri Prabu Siliwangi dengan Ratu Inten Kedaton. Putri Ambet Kasih kemudian menikah dengan seorang sakti dari Malaka yang bernama Angkalarang. Setelah menikah, Angkalarang dan Putri Ambet Kasih diberi wilayah kekuasaan di daerah yang bernama Sindangkasih. Setelah menikah, Ratu Ambet Kasih dan Angkalarang memiliki tiga orang anak, yaitu Pucuk Umum, Ratu Manah Dewa, dan sunan Guntur. Pucuk Umum kemudian dititpkan untuk dididik oleh Prabu Siliwangi seperti janji Angkalarang. Pucuk Umum (cucu Prabu Siliwangi) inilah yang kemudian menjadi Raja di Talaga dengan gelar Talaga Manggung Pucuk Umum. Wilayah Kerajaan Talaga ini berada di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Prabu Talaga Manggung Pucuk Umum punya dua orang senapati yang juga putranya. Mereka bernama Aria Salingsingan dan Raden Panglurah. Kedua kakak bradik tersebut merupakan senapati andalan kerajaan Talaga.

upload-123

Singkat cerita, Aria Salingsingan dan Raden Panglurah inilah yang secara langsung menjadi inti cerita terjadinya Situ Sangiang. Aria Salingsingan pada akhirnya memeluk agama Islam setelah kalah berhadapan dengan Sunan Gunungjati. Sunan Gunungjati akhirnya mengutus Sunan Parung untuk membantu mengislamkan rakyat Talaga. Prabu Pucuk Umum yang kokoh memeluk agama Sanghyang pada akhirnya memilih untuk Ngahiang (menghilang) beserta pengikut setianya ke Ujungkulon, sedangkan Raden Panglurah saat itu sedang mencari ilmu ke Gunung Bitung. Akhirnya Kerajaan Talaga berada di bawah kekuasaan Aria Salingsingan yang beragam Islam. Hal ini berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan agama rakyat Kerajaan Talaga. Dalam waktu singkat, atas bantuan Sunan Parung, kuil-kuil tempat pemujaan telah berganti menjadi Masjid, Surau lengkap dengan saluran air untuk keperluan beribadah. Tentu saja hal ini membuat Raden Panglurah yang kembali ke Talaga marah sekaligus terkejut. Setelah bertikai dengan Aria Salingsingan, demi mencegah pertempuran dengan saudara kandungnya, dan setelah berunding untuk terakhir kalinya dengan adiknya, Aria Salingsingan, Prabu Panglurah yang amat sakti kemudian bertanya pada pengikutnya apakah akan tinggal di Talaga atau pindah ke alam gaib bersama dirinya.

upload-117

Keputusan Prabu Panglurah sekaligus hasil perundingan dengan Aria Salingsingan akhirnya menemui sebuah kesepakatan. Prabu Panglurah meminta ijin untuk pindah ke alam gaib bersama pengikutnya beserta bekas Keraton Talaga yang kini sudah sepi karena hampir semua penduduknya memeluk Agama Islam. Singkat cerita, dengan disaksikan Aria Salingsingan dan juga Sunan Parung, dalam sekejap Istana Talaga lenyap. Hal berikutnya adalah dari bekas Kerajaan Talaga kini memancar air dan akhirnya menjadi sebuah danau yang luas. Prabu Panglurah beserta pengikutnya berubah wujud (fisiknya) menjadi berbagai jenis ikan tetapi jiwanya telah pindah ke alam gaib. Adapun jenis ikan yang merupakan jelmaan dari pengkut Raden Panglurah adalah Ikan Lele, Ikan Mas, Ikan Mujaer, dan sebangsanya, sedangkan Raden Panglurah menjelma menjadi Ikan Lele berukuran sebesar bayi manusia. Sebelum binatang tersebut masuk kedalam situ, terdengar suara Raden Panglurah yang kedengaran oleh kakaknya, juga penduduk Talaga. Kemudian mereka berbondong-bondong menuju ke situ ciptaan Raden Panglurah. Bukan main terkejut dan kagumnya penduduk Talaga mengetahui keajaiban tersebut.

upload-103

Adapun pesan Raden Panglurah kepada Aria Salingsingan dan seluruh penduduk Talaga yang menyaksikan kejadian ini adalah “Walau kami kini telah berubah menjadi ikan, kalian harus tetap menghormati kami layaknya seperti kepada manusia. Jika salah satu dari kami mati, kalian harus menguburkannya seperti manusia, sebab asal kami manusia. Anak cucu di kemudian hari dilarang keras untuk makan ikan dari situ ini. Jika mereka tetap memakannya, akibatnya akan fatal. Mereka akan mati sebab pada hakekatnya kami ini manusia seperti kalian. Dan rupanya tempat kami yang tepat sekarang adalah situ. Kakang Salingsingan, maafkanlah semua kesalahanku. Selamat berpisah, Kakang. Juga rakyat Talaga.” Bahkan, Aria Salingsingan pun memberikan pesan kepada rakyat Talaga “Kalian telah mendengar pesan adikku, Raden Panglurah sebelum ia masuk ke dalam situ. Mulai saat ini peliharalah situ ini sebaik mungkin. Jika kebetulan kalian mendapatkan ikan yang mati, kuburkanlah seperti manusia layaknya, sebab ikan itu masih saudara kita. Pesan ini sampaikan pula kepada generasi penerus agar iangan memakan ikan yang hidup di situ ini. Jika ada yang berani mengambil ikannya, aku tidak bertanggung jawab akan akibatnya.” Atas nasihat Sunan Parung kepada Aria Salingsingan, maka danau ciptaan Raden Panglurah ini harus segera diberi nama, agar amanat dari Raden Panglurah dapat diteruskan secara turun temurun. Kutipan berikut menjelaskan mengapa penulisan danau ini adalah Sangiang bukan Sanghyang

“Situ… ya…. Situ. Situ bukan terjadi begitu saja. Situ ini sebaiknya kuberi nama talaga. Di situ itu ayah dan adikku menghilang atau ngahiang. Bagaimana seandainya kuberi nama sangiang. Ya, Situ Sangiang. Sesuai dengan ngahiangnya mereka. Bukan Situ Sanghiang, tetapi Situ Sangiang sebagai peringatan kepada adik dan ayahku beserta abdi setia yang berjumlah 41 orang itu,”

Keesokan harinya Aria Salingsingan mengumumkan kepada penduduk Talaga, bahwa situ tersebut diberi nama Situ Sangiang. Penduduk setempat menyambut gembira nama itu. Mereka pun berjanji akan mengindahkan pesan Raden Panglurah agar menguburkan bangkai ikan yang mati dengan layak. Kalau perlu mereka akan menguburkan setelah terlebih dahulu membungkusnya dengan kain kafan seperti layaknya jenazah manusia. Untuk hal itu Aria Salingsingan tidak menyuruh ataupun mencegah. Yang jelas harus dihormati, namun jangan sampai menimbulkan mudarat.

upload-94

SITU SANGIANG dan MAKAM SUNAN PARUNG SAAT INI

Sejak saat itu sampai sekarang, danau ciptaan Raden Panglurah tersebut dinamakan Situ Sangiang yang letaknya di Kampung Wates, Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka. Banyak keanehan di Situ Sangiang. Antara lain, sampai sekarang tidak pernah ditemukan selembar daun pun yang mengapung di atas situ walau sekelilingnya dipenuhi pepohonan yang telah berumur ratusan tahun, ini merupakan bukti bahwa situ tersebut ada yang menjaga serta memelihara, yang tak lain adalah Raden Panglurah beserta abdi setianya. Sesekali orang bisa melihat kehadiran ikan lele jelmaan Raden Panglurah yang besarnya sebesar bayi. Namun itu jarang terjadi, kecuali kepada mereka yang kebetulan bernasib baik saja. Namun biasanya orang yang sempat melihat ikan Lele tersebut akan terus berlari menghindar karena takut terkena musibah. Mereka percaya sampai sekarang kemungkinan besar Raden Panglurah masih menyimpan dendam kepada penduduk Talaga. Seiring dengan itu, agama Islam berkembang dengan pesat di Talaga dan sekitarnya. Kini hampir dari setiap rumah terdengar suara orang yang sedang mengaji, dan ada pula yang sedang berzikir mengagungkan asma Allah SWT.

upload-84

Setelah sekian lama menyebarkan Islam kepada penduduk setempat, Sunan Parung pun wafat dengan tenang. Makamnya tidak jauh dari tepi Situ Sangiang, dan dikeramatkan sampai sekarang. Di hari-hari tertentu para peziarah berdatangan mengharapkan berkahnya, terutama dari Cirebon. Lokasi makan Sunan Parung agak tinggi dari tepi situ, sehingga kita harus manaiki tangga sejumlah 128 buah. Suasana di dalam makan wali tersebut sangat sakral dan mencekam. Tidak heran jika juru kunci melarang para peziarah untuk bermalam di dalam makam Sunan Parung. Juru kunci tidak bertanggung jawab jika ada peziarah yang memaksa tidur di makam. Alasannya para peziarah belum tentu tahan menghadapi godaan sebab biasanya godaan akan datang dari dalam Situ Sangiang. Godaan itu bisa berbentuk ikan besar, ular, dan sebangsanya yang menakutkan. Di dalam hutan sekitar situ sangiang terdapat pula tujuh buah pohon angsana yang telah berusia ratusan tahun. Dari bawah pohon tersebut terpisah, tapi setelah agak ke atas, ketujuh pohon angsana itu menjadi satu sehingga tampaknya seperti sebuah pohon saja. Itu merupakan keajaiban yang tidak terdapat di tempat keramat lain. Ada beberapa versi tentang pohon angsana itu. Sebagian penduduk mengatakan, bahwa pohon tersebut berasal dari tongkat Sunan Parung. Sebagian lagi mempercayai bahwa pohon itu berasal dari senjata Prabu Talaga manggung Pucuk Umum. Dan sebagian lagi percaya bahwa pohon itu berasal dari tongkat Raden Panglurah yang ia bawa saat baru saja pulang bertapa dari Gunung Bitung. Selanjutnya ditancapkannya, dan berubah jadi tujuh buah pohon hingga sekarang. Tak jauh dari tempat itu, terdapat batu untuk menyembelih binatang sebagai Nazar mereka yang berhasil maksudnya. Namun banyak pula yang hanya berekreasi, sebab Situ Sangiang sekarang dijadikan objek pariwisata yang menarik.

upload-74

SITU SANGIANG BERDASARKAN PAPARAN KELILMUAN

Situ Sangiang yang terletak 700 m atas muka laut terbentuk karena lidah lava yang mengantarkan air tanah, mengalir hingga cekungan yang saat ini menjadi Situ Sangiang. Cekungan yang terisi air tanah karena lidah lava ini merupakan salah satu Maar di kaki Gunung Ceremai, selain Setu Patok di Cirebon dan Setu Sedong di Kuningan. Maar merupakan bahasa dialek dari Jerman yang berarti genangan air atau danau. Menurut Sutikno Bronto (2010) menulis, maar adalah gunungapi yang memotong batuan dasar di bawah muka air tanah, dan membentuk kerucut berpenampang landai yang tersusun oleh rempah gunungapi berbutir halus hingga kasar, mempunyai diamter kawah yang bervariasi antara 100 – 3.000 m, yang terisi air membentuk danau. Sebagian besar Maar terbentuk oleh letusan hidroklastika, namun juga bisa berakhir dengan letusan magmatik, sehingga terbentuk kerucut sinder atau kubah lava. Jejak gunungapi Maar ini umumnya lebih berupa cekungan ketimbang kerucut seperti layaknya bentuk gunungapi yang biasa dikenal. Bisa dikatakan, bentuk gunungapi Maar ini berupa gunungapi kerdil karena kecilnya. Dasar gunungnya hanya 1/8 gunungapi komposit. Gunungapi ini termasuk ke dalam kelompok gunungapi monogenesis, yaitu gunungapi yang terbentuk oleh satu periode letusan karena energinya yang rendah dengan volume magma yang kecil, sehingga waktu hidupnya sangat singkat dan bentuk gunungnya menjadi kecil.

upload-64

Sumber lainnya:

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/05/hukum_adat_indonesia.pdf

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=958&lang=id

http://www.kompasiana.com/bayu-pamungkas/wisata-situ-sangiang-tawarkan-kepercayaan-gaib_54f95f63a33311f8478b50e1

www.geomagz.com/artikel-geologi-populer/160-setu-patok-gunungapi-purba-di-selatan-cirebon/

www.denisugandi.com/tag/situ-sangiang-ikan/

upload-54

upload-45

upload-35

upload-27

upload-116

situ-sangiang

 
Leave a comment

Posted by on August 24, 2015 in DANAU, Travelling

 

TALAGA BODAS

upload-114

Danau Talaga Bodas secara administratif berada di Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7 12′ 34″, S 108 3′ 41″ E. Lokasi Talaga Bodas berada kurang lebih 8 Km dari pusat Kecamatan Wanaraja, 20 Km dari Kota Garut, dan 83 Km dari Kota Bandung. Talaga Bodas merupakan salah satu daya tarik wisata yang berada di area yang diperuntukan sebagai Taman Wisata Alam (SK Mentri No : 98 / KPTS / UM / 1978) di bawah pengelolaan BKSDA Jawa Barat II dengan status kepemilikan lahan di bawah Kehutanan. Taman Wisata Alam Talaga Bodas memiliki luas sekitar 23,85 Ha. Lokasi Taman Wisata Alam Talaga Bodas ini sekaligus pembatas geografis antara Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Garut.

upload-26

Danau Talaga Bodas merupakan danau vulkanik hasil dari letusan tahap ke-6 Gunung Talagabodas. Pada periode sebelumnya (periode letusan pertama hingga kelima) telah menghasilkan Kaldera Talagabodas Tua dengan diameter 4,5 Km, pembentukan Kawah Saat di tengan Kaldera Talagabodas Tua, pembentukan kerucut dari letusan samping di sekitar dinding Kaldera Talagabodas Tua (Gunung Canar, Piit, Lebakjero, Masigit), pembentukan kerucut dari letusan samping di luar dinding kaldera Talagabodas Tua (Gunung Beuticanar, Malang, Ciparay). Danau Talaga Bodas pada awal terbentuknya merupakan kawah yang berdiameter kurang lebih 2 Km yang lama kelamaan terisi air. Air yang mengisi kawah Gunung Talagabodas ini kemudian melarutkan dan menutupi berbagai material hasil letusan sehingga menghasilkan warna air yang putih seperti susu. Hal inilah yang menjadi asal mula penamaan Talaga Bodas. Luas Danau Talagabodas dari tahun ke tahun selalu mengalami penyusutan, Pengukuran pertama, yaitu 1942, luas Talaga Bodas kurang lebih sekitar 455.000 m2 dan pada pengukuran terakhir 1992, luasnya berkurang menjadi sekitar 150.000 m2. Bahkan, pada Februari 2013, muncul pulau-pulau yang memanjang lebih dari 50 m di tengah danau. Pendangkalan paling cepat terjadi di Tenggara danau. Kedalaman danau dari hasil pengukuran pertama yaitu sekitar 10 m, dan terus terjadi pendangkalan hingga pengukuran terakhir pada 1992 kedalamannya hanya sekitar 2 m. Posisi danau Talaga Bodas berada pada ketinggian 1. 720 m atas muka laut dan ketinggian Gunung Talagabodas saat ini sekitar 2.201 m atas muka laut.

upload-34

Daerah Kawah Talaga Bodas memiliki temperatur rata-rata 24-26 derajat celsius per tahun, dengan curah hujan 1321 mm / tahun serta penyinaran matahari yang sedang. Flora dominan kawasan sekitar Kawah Talaga Bodas berupa tanaman kebun seperti ; tomat, kol dan rumput ilalang. Kondisi lingkungan Kawah Talaga Bodas cukup baik dengan kebersihan dan bentang alam yang tergolong baik. Adapun Batas administrasi dari kawasan TWA Talaga Bodas adalah sebagai berikut: 

Utara     : Desa Sukaurip

Barat     : Desa Sindangmekar 

Selatan  : Desa Tenjonagara

Timur     : Desa Tenjonagara 

upload-44

Keindahan danau Talaga Bodas sebenarnya sudah diketahui sejak lama, sayangnya perbaikan akses menuju area Taman Wisata Alam Talaga Bodas baru mendapat perhatian sekitar awal 2013. Pada akhir 2013, perbaikan akses menuju Taman Wisata Alam Talaga Bodas telah rampung diselesaikan. Akses yang diperbaiki dan sekaligus menjadi akses utama hingga kini yaitu dari Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang sebelumnya merupakan akses masuk terparah. Sebelum perbaikan akses menuju TWA Talagabodas, objek wisata danau Talaga Bodas merupakan wisata minat khusus. Hal ini tentu saja karena sulitnya akses menuju TWA Talaga Bodas yang akan berbanding lurus dengan ketersediaan moda transportasi dan fasilitas pendukung di sekitar area Danau Talaga Bodas. Sebelum pembukaan akses dari Kecamatan Wanaraja diperbaiki, banyak pengunjung yang masuk dari perbatasan Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut dengan Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya melalui Karah Bodas (area geothermal milik PT. Pertamina) yang sebetulnya memerlukan waktu tempuh jauh lebih lama (sekitar 2-3 jam) dengan jalan makadam dan medan yang berbukit. Dampak dari perbaikan aksesibilitas menuju TWA Talaga Bodas yang telah rampung diselesaikan terlihat dari meningkatnya jumah pengunjung sejak dari akhir 2013 dan makin meningkat di awal 2014. Beberapa fasilitas pun dibenahi, seperti area parkir yang lebih dikelola, warung-warung kecil yang mulai banyak berjejer, pembuatan pagar pembatas area danau dengan daratan, perbaikan dan pembuatan pipa-pipa dari sumber mata air di area sekitar danau, hingga pembenahan pemandian air panas yang cukup terkenal di Talaga Bodas.

upload-53

Terdapat beberapa akses menuju TWA Talaga Bodas, diantaranya dari arah Bandung, Garut, dan Tasikmalaya (sebagai patokan kota besar terdekat). Secara keseluruhan, kondisi jalan serta waktu tempuhnya tidak terlalu sulit dan tidak terlalu lama. Berikut uraiannya.

upload-63

KOTA GARUT – TALAGA BODAS

Dari Kota Garut, ambil jalan menuju Karangpawitan hingga tiba di persimpangan dengan Jalan Raya Wanaraja, kemudian ambil kanan pada koordinat -7.187447, 107.974125. Lalu lintas di ruas jalan ini sudah tidak terlalu ramai dan dominan datar dan lurus. Ikuti jalan hingga ke persimpangan Sadang pada koordinat -7.188299, 107.977344 kemudian ambil arah kiri. Ikuti jalan hingga tiba di Jalan Raya Talagabodas pada koordinat -7.177101, 107.987826 kemudian ambil arah kanan. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan jalan pada koordinat -7.197207, 108.035554 ambil jalan yang menyerong ke kiri. Dari persimpangan ini jalan sudah mulai berkelok-kelok dan sedikit menyempit. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.203004, 108.065526 yang juga merupakan perbatasan Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya. Ambil arah kanan pada koordinat ini hingga tiba di pintu gerbang objek wisata Danau Talaga Bodas. Sebelum diperbaiki, jalur ini merupakan jalur terparah. Titik kerusakan jalan dimulai dari Polsek Wanaraja hingga pintu gerbang objek wisata Danau Talaga Bodas. Total jarak pada pembacaan peta dari Kota Garut hingga Danau Talaga Bodas adalah 25 Km dengan waktu tempuh tercepat pada pembacaan peta adalah 49 menit dan waktu tempuh terlama adalah 53 menit.

garut-talaga-bodas

TASIKMALAYA – TALAGABODAS

Ambil rute menuju pertigaan Jalan Raya Cisayong dengan Jalan Raya Rajapolah pada koordinat -7.266709, 108.186457. Pada persimpangan ini dari arah Kota Tasikmalaya, ambil ke arah kiri menuju Jalan Raya Cisayong. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.256993, 108.143214 kemudian ambil arah kanan. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan berikutnya pada koordinat -7.234828, 108.125973 ambil arah kanan. Kondisi jalan setelah masuk ke Jalan Raya Cisayong dominan lurus dan lalu lintasnya sepi. Pada persimpangan terakhir (-7.234828, 108.125973) medan akan mulai menanjak dan lalu lintasnya semakin sepi, serta jalan sedikit menyempit. Ikuti terus jalan dengan kondisi yang tidak terlalu baik hingga tiba di persimpangan -7.203003, 108.065518 ambil ke arah kiri. Ikuti jalan utama hingga tiba di gerbang objek wisata Danau Talaga Bodas. Total jarak pada pembacaan peta dari Kota Tasikmalaya hingga Danau Talaga Bodas adalah 29, 7 Km dengan waktu tempuh tercepat pada pembacaan peta adalah 50 menit dan waktu tempuh terlama adalah 55 menit.

tasikmalaya-talaga-bodas

SUMEDANG – TALAGA BODAS

Rute ini merupakan rute yang bisa digunakan bila datang dari arah Utara. Titik awal jika melalui jalur ini dapat dimulai dari Kota Sumedang. Jalur dengan kondisi yang relatif baik dari Kota Sumedang adalah yang melalui Darmaraja – Wado – Malangbong. Dari Kota Sumedang, ambil jalur menuju Wado. Kondisi jalan menuju Wado sudah cukup baik dan arus lalu lintas akan cukup ramai dari pagi hingga sore hari. Medan jalan akan mulai berkelok-kelok ketika keluar dari Kecamatan Situraja hingga Malangbong. Ada beberapa titik dengan kondisi jalan yang kurang baik. Aspal yang sedikit mengelupas, terutama ketika memasuki Kecamatan Darmaraja. Kendaraan yang dominan melintas di sini adalah bus 4/3, angkutan kota, sepeda motor, serta truk pengangkut pasir pada pagi hingga sore hari. Jalur ini juga merupakan jalur alternatif ketika mudik. Ikuti jalan utama hingga memasuki Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut hingga di persimpangan Cibeureum – Malangbong pada koordinat -7.060695, 108.086902. Pada persimpangan ini ambil ke arah Tasikmalaya melalui Jalan Nasional III hingga lewat alun-alun Ciawi. Setelah alun-alun Ciawi, pada persimpangan di koordinat -7.164464, 108.153037, ambil kanan. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan di daerah Jamanis pada koordinat -7.174973, 108.153798 kemudian ambil arah kanan dan pada persimpangan berikutnya pada koordinat -7.178031, 108.152634 ambil kanan lagi. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan Sukahening pada koordinat -7.201025, 108.129268 dan ambil arah kiri. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan dengan Jalan Raya Cisayong pada koordinat -7.234829, 108.125971 dan ambil arah kiri. Persimpangan ini juga merupakan persimpangan dengan jalur yang dari arah Kota Tasikmalaya. Secara keseluruhan, kondisi jalan di jalur ini cukup baik dan cukup ramai meskipun bukan jalan provinsi. Total jarak pada pembacaan peta dari Kota Tasikmalaya hingga Danau Talaga Bodas adalah 86,9 Km dengan waktu tempuh tercepat pada pembacaan peta adalah 2 jam 21 menit dan waktu tempuh terlama adalah 2 jam 26 menit.

sumedang-talaga-bodas

Referensi lainnya:

https://kgcmtb.wordpress.com/2013/11/29/sekilas-gambaran-beberapa-trek-di-garut/

http://www.nativeindonesia.com/kawah-talaga-bodas-garut/

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=441&lang=id

http://pariwisata.garutkab.go.id/index.php?mindex=daf_det_wisata&id_wisata=12

http://geomagz.com/artikel-geologi-populer/artikel-geologi-populer/161-talaga-bodas-danau-kawah-putih-susu-

danau-talaga-bodas

upload-73

upload-83

upload-93

upload-102

upload-115

upload-122

upload-132

upload-142

upload-152

upload-162

 
Leave a comment

Posted by on August 22, 2015 in DANAU, Travelling