RSS

Monthly Archives: June 2015

TALAGA NILA & TALAGA LOA

upload-42

Secara administratif, Talaga Nila berada pada Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat dan berada pada koordinat 06°47′48.4″S 108°23′16″E Selain Talaga Nila, terdapat juga Talaga Loa di Desa Jerukleueut (06°47′40.1″S 108°23′03.3″E )dan Talaga Beunteur di Desa Padaherang (06°47′51.3″S 108°23′10.4″E ) yang lokasinya saling berdekatan. Ketiga danau ini merupakan bagian dari objek tujuan wisata utama di Kawasan Wisata Sindangwangi, atau yang disingkat Kawit Wangi bersama dengan Telaga Herang, Telaga Cikuda, Curug Cipeuteuy, Situ Bulakan, Bumi Perkemahan, Agropolitan, Kolam Renang/Water Boom, Kerajinan Anyaman dan Ukiran. Tujuannya adalah untuk mengembangkan objek wisata yang berada di Kecamatan Sindangwangi menjadi objek wisata unggulan selain yang berada di wilayah Kecamatan Maja, Argapura, dan Argalingga. Akses menuju Talaga Nila terbilang cukup mudah dengan kondisi jalan yang baik. Akses menuju Talaga Nila cukup mudah dan cukup banyak pilihan.

 upload-52

JALUR UTARA/JALUR PANTURA

Jalur Utara, biasanya digunakan oleh yang berasal dari Jakarta, Subang, dan lainnya, yaitu melalui jalur Pantura (Jalan Raya Cijelag – Jalan Raya Ujungjaya Cikamurang) dan turun di Kecamatan Tomo. Ikuti jalan utama Tomo – Jatiwangi hingga masuk ke Jalan Raya Cirebon – Palimanan. Setiabnya di daerah Palasah, Kabupaten Majalengka, tepatnya setelah Masjid Palasah, ambil arah kanan di persimpangan setelah Masjid Palasah (-6.721146, 108.297518). Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan -6.733036, 108.315297, ambil arah kanan kemudian ambil kiri di persimpangan -6.754137, 108.318390 dan langsung belok kanan di persimpangan Desa Heluleutweragati, Kecamatan Leuwimundung (-6.751996, 108.325546). Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan -6.757296, 108.327017 ambil arah kiri kemudian belok kanan tepat di persimpangan Jalan Raya Rajagaluh – Leuwimunding. Ikuti terus hingga melewati SMAN 1 Rajagaluh. Tepat setelah SMAN 1 Rajagaluh, ambil kiri di persimpangan Rajagaluh – Luwimunding, Kecamatan Rajagaluh, kemudian belok kanan di persimpangan dengan koordinat -6.780323, 108.374507. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pertama (-6.791318, 108.378040) belok kiri kemudiang langsung belok ke arah kanan, ikuti kembali jalan utama hingga di persimpangan kedua (-6.795816, 108.381414) ambil arah ke kiri. Tidak jauh dari persimpangan kedua, jalan akan langsung tiba tepat di depan Talaga Loa. Waktu tempuh dengan kondisi normal bila melalui jalur ini adalah sekitar 2 jam 33 menit dan bila terdapat banyak hambatan akan menjadi sekitar 2 jam 42 menit untuk 104 Km dari Kota Subang.

 

JALUR TENGAH/JALUR PROVINSI

Jalur ini merupakan jalur utama Sumedang – Jatiwangi dengan kondisi jalan yang cukup baik, meskipun ada beberapa ruas jalan yang rusak berat, seperti Cimalaka – Tomo. Arus lalu lintas cukup ramai, dan truk pengangkut hasil tambang serta hasil hutan akan melintas 24 jam di jalur ini. Pagi hingga menjelang malam, kendaraan yang melintas ditambah dengan kendaraan pribadi, sepeda motor, dan ELF berbagai jurusan. Ambil arah Majalengka di persimpangan Jatiwangi. Setelah masuk jalur utama Majalengka, ikuti jalan utama sampai tiba di bunderan Cisayong. Ambil arah Rajagaluh (dari bunderan ambil jalan yang lurus). Tidak ada patokan menuju Talaga Nila. Sebaiknya menggunakan GPS dan pada koordinat -6.780323, 108.374507 (terdapat di Jalan Raya Ujungberung/Jalan Raya Rajagaluh) belok kanan dan ikuti terus jalan utama hingga tiba di persimpangan pertama (-6.791318, 108.378040) belok kiri kemudiang langsung belok ke arah kanan, ikuti kembali jalan utama hingga di persimpangan kedua (-6.795816, 108.381414) ambil arah ke kiri. Tidak jauh dari persimpangan kedua, jalan akan langsung tiba tepat di depan Talaga Loa. Waktu tempuh normal untuk melalui jalur ini adalah sekitar 3 jam 25 menit dan bila terdapat banyak hambatan akan menjadi 4 jam 38 menit untuk 128 Km dimulai dari Kota Bandung.

 

JALUR ALTERNATIF

Jalur lainnya yaitu melalui Wado – Bantarujeg – Talaga – Maja – Majalengka – Rajagaluh yang berjarak lebih jauh dan sedikit memutar dan merupakan jalur alternatif jika ingin melewati jalur yang lebih sepi. Arus lalu lintas di jalur ini jauh lebih sepi dibandingkan dengan jalur utama Sumedang – Jatiwangi. Kebanyakan yang melintas di jalur ini adalah ELF, sepeda motor, dan sesekali pick up. Kondisi jalannya pun sedikit lebih kurang baik dan cukup smepit. Jalur ini melalui perbukitan, sehingga medannya didominasi oleh tanjakan dan turunan panjang serta tikungan tajam. Bila yang belum terbiasa melalui jalur ini sebaiknya harus berhati-hati. Ada beberapa titik ruas jalan yang rusak parah dan banyak terdapat timbunan pasir. Pada musim hujan, bahkan ada beberapa titik yang longsor dan rawan banjir. Arus lalu lintas akan kembali sedikit ramai setelah memasuki Kecamatan Bantarujeg hingga Kecamatan Talaga. Memasuki Kecamatan Talaga, jalur yang dilewati sudah merupakan jalur Kabupaten yang menghubungkan kota-kota kecamatan di Kabupaten Majalengka dengan Kota Majalengka. Setibanya di Kecamtan Talaga, ambil jalan menuju Kecamatan Maja. Setelah tiba di Kecamatan Maja, ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan di pusat kota Kecamatan Maja. Ambil jalan menuju SMAN 1 Maja. Setelah melewati SMAN 1 Maja, ambil arah kanan di persimpangan Desa Cicalung, Kecamatan Maja (-6.863748, 108.299241). Patokan setelah melwati persimpangan di Desa Cicalung adalah arah menuju Curug Cipeuteuy di Kecamatan Sindangwangi. Setelah tiba di persimpangan menuju Curug Cipeuteuy, ambil jalan utama (tidak masuk ke dalam area Curug Cipeuteuy) dan ikuti terus hingga bertemu di persimpangan dengan koordinat -6.795803, 108.381418 dan ambil arah kanan. Kondisi jalan setelah melewati persimpangan Desa Cicalung akan melewati perbukitan, sehingga medannya akan banyak ditemui tanjakan, turunan, dan tikungan. Bila menempuh jalur ini, kebanyakan jalannya akan berkelok-kelok tidak seperti Jalur Pantura dan Jalur Provinsi yang pada umumnya lurus. Waktu tempuh dalam kondisi normal bila melalui jalur ini adalah sekitar 3 jam 55 menit tanpa macet dan bila terdapat banyak hambatan akan menjadi sekitar 4 jam 2 menit untuk 134 Km dari Cileunyi.

 

Jalur Selatan

Jalur ini merupakan jalur yang melalui Jalan Nasional III melewati Rancaekek – Nagreg – Malangbong. Ikuti jalan utama hingga tiba di pertigaan Jalan Raya Bandrek – Malangbong, Kecamatan Malangbong (-7.060947, 108.086638) belok kiri menuju Jalan Raya Sumedang – Cibeureum. Jalur ini kemudian akan bertemu dengan Jalur alternatif di Kecamatan Wado, tepatnya di perimpangan -6.945297, 108.092506 ambil arah Terminal Wado, kemudian ikuti jalur seperti pada jalur alternatif yang sudah dipaparkan sebelumnya. Waktu tempuh dalam keadaan normal adalah sekitar 3 jam 38 menit, sedangkan bila terdapat banyak hambatan menjadi sekitar 3 jam 51 menit untuk 138 Km dimulai dari Cileunyi.

 

Jalur Talaga Herang.

Pada umumnya, jalur ini digunakan oleh pengunjung yang berasal dari sekitar Kota dan Kabupaten Majalengka. Patokan pertama dari Kota Majalengka yaitu Talaga Herang yang berada di perbatasa tiga desa (Desa Padaherang, Desa Jerukleueut, dan Desa Lengkongkulon), Kecamatan Sindangwangi, Kabuaten Majalengka. Untuk mencapai Talaga Nila dari arah Sindangwangi ikuti jalan ke arah timur Talaga Herang setelah keluar dari  gapura Talaga Herang ada pertigan pertama (-6.792554, 108.386726), belok kanan ke jalan yang menanjak, ikuti jalan tersebut lalu akan ditemukan pertigaan yang di depannya terdapat lapangan sepakbola (-6.794578, 108.387043), ambil jalan ke sebalah kanan lalu ikuti jalan tersebut hingga dapat terlihat sebuah telaga disebelah kiri jalan.

 

Talaga Nila merupakan danau yang tidak permanen, artinya pada musim kemarau volume airnya akan berkurang drastis, bahkan ada yang menyebutkan hingga menyusut dan kering total. Bentuk Talaga Nila memanjang dari Utara ke Selatan dengan panjang ± 80 M dan lebar ± 18 – 20 M. Keunikan dan yang menjadi ciri khas dari telaga ini adalah warna air di telaga ini berwarna biru terkadang berwarna biru kehijauan. Air di telaga ini sangat jernih hingga dapat melihat dasar dari telaga dan ikan yang berenang di talaga ini. Area di sekitar Talaga Nila masih sangat alami. Pepohonan yang rimbun dan beberapa lahan kebun milik warga menjadi pemandangan utama di sekitar danau. Banyak terdapat sarang semut di jalan setapak kecil di samping Talag Nila. Belum ada tempat untuk parkir khusus dan hingga kini kendaraan yang disarankan untuk digunakan ke lokasi Talaga Nila adalah sepeda motor. Kondisi jalan yang sempit dan tidak adanya lahan parkir khusus akan sedikit menyulitkan jika membawa mobil. Kendaraan umum pun masih jarang dan cukup sulit untuk mencapai Talaga Nila. Satu-satunya kendaraan umum yang memungkinkan adalah jasa ojek yang pangkalannya cukup jauh dari lokasi, yaitu di Jalan Raya Rajagaluh – Cirebon atau mencarter angkutan umum. Tidak ada penjual makanan atau minuman, sehingga disarankan untuk membawa masing-masing.

 upload-62

Di dekat Talaga Nila, tepatnya dengan menyusuti jalan setapak sekitar ± 500 M dari Talaga Nila akan ditemukan lagi sebuah danau yang ukurannya lebih kecil, yaitu Talaga Beunteur. Talaga Beunteur ini merupakan danau yang akan menyusut total pada musim kemarau dan akan berubah menjadi sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk bermain sepakbola. Pada musim hujan, Talaga Beunteur ini akan kembali terisi oleh air dan sangat jernih serta akan berwarna biru kehijuan sedikit menyerupai Talaga Nila. Di sekitar area Talaga Beunteur tidak akan terlalu banyak ditemukan sarang semut dan serangga, sehingga pengunjung dapat sedikit lebih nyaman untuk berlama-lama di area ini dibandingkan di area Talaga Nila. Masih di sekitar Talaga Nila, tepatnya di sisi Utaranya, terdapat danau yang sedikit lebih luas bernama Talaga Loa.

 upload-72

Aliran keluar (outlet) Talaga Nila akan menuju sunga kecil hingga masuk kembali ke Talaga Loa (inlet). Posisi Talaga Loa yang sedikit berada di bawah posisi Talaga Nila dan aliran sungai kecil (Outlet Talaga Nila) menjadikan terbentuknya air terjun sangat kecil tepat di aliran masuk (Inlet) Talaga Loa. Untuk mendekati aliran air terjun kecil ini, pengunjung harus menyusuri jalan setapak yang masih cukup rimbun dan akan penuh dengan lumpur pada musim hujan. Terdapat lahan kebun di sisi kiri Talaga Loa (bila menghadap Talaga Loa) yang dapat digunakan untuk menyimpan kendaraan. Tidak seperti Talaga Nila yang sedikit terhalang pepohonan yang cukp rimbun, Talaga Loa dapat dengan jelas dilihat dari pinggir jalan. Kondisi jalan di sekitar Talaga Loa sama kecil dan tidak terlalu baik seperti di area Talaga Nila. Warna air di Talaga Loa sangat jernih dan berwarna biru, meskipun tidak seperti di Talaga Nila. Di sekeliling Talaga Loa, tepatnya di pinggir-pinggir danaunya banyak batang dan ranting pohon yang merambat dan yang sudah tumbang ke dalam danau.

 upload-82

Baik Talaga Nila, Talaga Loa, dan Talaga Beunteur memang belum dikelola secara resmi, baik oleh pihak pemerintah, swastam ataupun swadaya masyarakat setempat, tetapi sudah termasuk ke dalam kawasan andalan untuk pengembangan objek wisata Kecamatan Sindangwangi (Kawasan Kawit Wangi) yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Majalengka. Tidak ada larangan bagi pengunjung untuk berenang baik di Talaga Nila, Talaga Beunteur, ataupun Talaga Loa, tetapi menurut pandangan pribadi, alangkah baiknya jika kealamian air di tiga danau tersebut tidak tercemar/tersentuh oleh manusia, apalagi jika sampai digunakan untuk mandi karena bilasan dari sabun dan sampo yang digunakan akan mempengaruhi kadar ph dan kualitas air di tiga danau tersebut, dan yang terpenting akan berpengaruh terhadap kehidupan di bawah air di tiga danau tersebut.

 upload-91

Sumber Lainnya:

http://disporabudpar.majalengkakab.go.id/index.php/objek-wisata/43-pariwisata-andalan/36-kawasan-kawit-wangi

http://infomjlk.com/telaga-nila-danau-biru-nan-eksotis-detail-3320.html

 upload-101

upload-112

upload-121

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2015 in DANAU, Travelling

 

CURUG OROK

upload-1

Secara administratif, Curug Orok berada di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat dan terletak pada koordinat 07°23′13.6″S 107°44′10.3″E. Curug Orok merupakan air terjun yang sudah menjadi Objek dan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Garut bagian Selatan sejak 21 April 1996. Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata Curug Orok berada di bawah PT Perkebunan Nusantara dan dimiliki oleh PT. Perkebunan Papandayan dan karena sudah dikelola, maka setiap pengunjung diharuskan membayar retribusi sebesar Rp 10.000,00 serta memiliki jam opeasional. Jam operasional untuk berkunjung ke Curug Orok ini adalah setiap hari dimulai dari 09.00 – 16.30. Adapun batas wilayah Curug Orok adalah sebagai berikut

Utara               : Gunung Papandayan

Selatan           : Gunung Geder

Barat               : Desa Cikandang

Timur              : Kecamatan Pamulihan

Curug Orok berjarak sekitar ± 5 Km dari pusat kota Kecamatan Cikajang dan sekitar ± 34,4 Km dari Kota Garut. Curug Orok berada pada ketinggian 250 m atas muka laut dan masih berada di kaki Gunung Papandayan. Letak Curug Orok yang berada di kaki Gunung Papandayan tidak langsung membuat Curug Orok berada di wilayah yang seluruhnya curam, ada juga daerah yang ringkat kemiringannya landai dengan konfigurasi umum berupa lahan berbukit. Kualitas dan visabilitas lingkungan di kawasan ini tergolong baik walaupun terdapat sedikit pencamaran sampah dan vandalisme di bebatuan yang disebabkan oleh pengunjung. Terdapat pula papan penunjuk jalan dan sedikit rambu iklan. Sumber daya listrik di kawasan berasal dari PLN dengan 220 volt. Sumber air bersihnya berasal dari air terjun itu sendiri yang debitnya tidak terbatas dan kualitas airnya yang jernih, rasanya tawar dan baunya normal. Sistem pembuangan limbah di Curug Orok yaitu melalui septic tank dan sistem irigasi dalam kondisi yang baik. Sedangkan sistem komunikasi di kawasan ini yaitu berupa handy talkie dengan jumlah 6 buah dalam kondisi yang cukup. 

 upload-2

Untuk menuju Curug Orok jika perjalanan dimulai dari Kota Garut yaitu dengan menuju Kecamatan Cikajang yang berjarak ±25 Km dari Kota Garut melaui Jalan Raya Cimanuk Jalan Raya Bayongbong, Jalan Raya Cisurupan, hingga tiba di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang. Tepat setelah Pasar Cisurupan, ikuti terus jalan utama (Jalan Raya Cisurupan – Cikajang) hingga tiba di Pertigaan Papanggungan. Ambil arah kanan menuju Bungbulang. Sudah ada papan penunjuk arah sederhana buatan warga yang bertuliskan Curug Orok, sedangkan pada papan penunjuk jalan, arah yang ditunjukkan adalah arah menuju Kecamatan Bungbulang. Arus lalu lintas akan cukup padat dimulai dari Jalan Raya Cimanuk hingga pertigaan Pasar Cisurupan, terutama pada akhir pekan. Selepas pertigaan Pasar Cisurupan, arus lalu lintas akan kembali sepi hingga tepat di depan kawasan Kostrad. Selepas kawasan Kostrad, lalu lintas akan sedikit ramai tetapi tidak seramai dari Kota Garut hingga Pasar Cisurupan. Kondisi jalan pada umumnya baik dan jalannya berkelok-kelok selepas Pasar Cisurupan hingga masuk ke area Perkebunan Papandayan. Setelah mengambil kanan di Pertigaan Papanggungan, Kecamatan Cikajang, jalan akan sedikit mengecil dan berkelok-kelok, jika malam akan gelap karena tidak terdapat lampu penerangan jalan dan akan sangat sepi. Pemandangan selepas Pasar Cisurupan cukup menarik, di sisi kanan akan terlihat Gunung Papandayan dan di sisi kiri akan terlihat hamparan perkebunan teh dan Gunung Cikuray. Selepas area Kostrad, kondisi jalan akan sedikit lebih baik dan tidak terlalu berkelok-kelok. Area yang sering turun kabut yaitu selepas Pasar Cisurupan hingga area perkebunan PTPN VIII Kebun Papandayan. Untuk menuju Curug Orok menggunakan angkutan umum, bisa dengan menggunakan ELF jurusan Bungbulang, Pakenjeng, atau Pamulihan dan turun tepat di pintu masuk Curug Orok. Pilihan lain yaitu dengan menggunakan ELF jurusan Cikajang kemudian turun di Pertigaan Papanggungan, Kecamatan Cikajang dan bisa dilanjutkan dengan menggunakan ojek tetapi sedikit mahal atau menunggu ELF jurusan Bungbulang/Pakenjeng/Pamulihan. Mobil atau sepeda motor pun dapat digunakan karena kondisi jalannya cukup baik dan medannya tidak terlalu sulit, bahkan bus ukuran kecil pun dapat digunakan hingga ke parkiran Curug Orok. Akses jalan yang tersedia di kawasan ini yaitu jalan raya sepanjang 700 m dengan lebar jalan 3-5 m, jalan desa sepanjang 200 m, dan jalan setapak berupa tangga yang panjangnya 200 m.

 upload-3

Area di sekitar Curug Orok sudah dikelola, sehingga terdapat fasilitas yang cukup lengkap untuk para pengunjung. Fasilitas yang terdapat di area Curug Orok, diantaranya lahan parkir dengan luas 500 m2 dengan daya tampung 10 bus, 20 mobil dan 50 motor. Terdapat pula sebuah pintu masuk dalam kondisi yang cukup baik. Di dalam area objek wisata Curug Orok juga terdapat 2 buah toilet yang sekaligus berfungsi sebagai ruang ganti dan sebuah tempat bilas, serta shelter. Pada area Curug Orok juga terdapat fasilitas keamanan berupa pos jaga yang juga berfungsi sebagai pos tiket. Warung-warung banyak terdapat di dalam area Curug Orok dan kebanyakan akan berjualan pada akhir pekan. Pada hari kerja mungkin hanya sedikit warung yang buka. Terdapat juga beberapa unit villa untuk menghabiskan liburan akhir pekan bersama keluarga. Jalan setapak yang sudah dibentuk menyerupai tangga dari area parkir hingga tepat di depan Curug Orok terbuat dari tanah liat dan kerikil. Pada musim hujan, jalan setapak ini akan sedikit berlumpur dan licin. Medan jalan setapak ini bila dari area parkir akan terus berupa turunan dan tidak ada pagar atau pembatas, sehingga meskipun sudah ramah untuk segala golongan masih harus berhati-hati. Pintu masuk menuju Curug Orok ditandai dengan papan bertuliskan “Wana Wisata dan Bumi Perkemahan Angling Darma: Curug Orok, Ci Kahuripan, Curug Kembar”

 upload-4

Curug Orok merupakan air terjun semi permanen. Pada musim kemarau, volume jatuhan airnya akan mengecil, bahkan beberapa air terjun kecil akan menghilang, tidak seperti pada musim hujan yang bahkan akan memunculkan beberapa air terjun kecil selain rangkaian air terjun utama Curug Orok. Jatuhan air Curug Orok sangat jernih, bahkan pada puncak musim hujan sekalipun hanya jatuhan air pada air terjun utama (yang paling besar dan tinggi) yang akan berwarna cokelat, sedangkan air terjun yang kecil akan tetap jernih. Aliran jatuhan pada air terjun utama melewati lahan perkebunan penduduk, sehingga pada musim hujan akan membawa material tanah. Air terjun kecil di sekitar air terjun utama berjumlah ±4 buah dan pada musim hujan aliran jatuhannya akan tetap jernih karena berasal dari celah-celah bebatuan di tebing sekitar Curug Orok. Secara keseluruhan, Curug Orok dapat diklasifikasikan sebagai tipe Paralel waterfall karena memiliki lebih dari dua aliran jatuhan air yang berdekatan tetapi dari sumber yang berbeda. Klasifikasi Curug Orok bila tidak dilihat secara keseluruhan, maka air terjun utama akan memiliki klasifikasi Ledge Waterfall yang merupakan bentuk klasik dari sebuah air terjun. Aliran jatuhannya akan jatuh langsung secara vertikal tanpa ada tahapan/tingkatan. Pada musim hujan, aliran jatuhan air tidak akan menyentuh dinding air terjun, tetapi pada musim kemarau, bila volume jatuhan airnya masih cukup besar, hanya pada bagian bawahnya saja yang menyentuh dinding air terjun dan membentuk sedikit tingkatan. Air terjun kecil yang berada di sekitar air terjun utama pada musim kemarau yang utama berjumlah empat buah, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya aliran baru dengan volume yang lebih kecil. Klasifikasi utama air terjun kecil ini merupakan Horsetail Waterfall karena aliran jatuhannya tetap mempertahankan kontak dengan dinding air terjun. Terdapat pula klasifikasi minor yaitu Cascade Watrfall yang muncul karena jatuhan airnya mengikuti dinding air terjun dan sedikit landai serta berundak.

 upload-5

Asal mula air tejun ini dinamakan Curug Orok karena menurut cerita masyarakat setempat pada tahun 1968 ada seorang wanita muda yang membuang bayinya dari puncak air terjun, sehingga air terjun tersebut dinamakan Curug Orok. Jika dilihat dari bentuknya yang berupa satu buah air terjun besar dan empat rangkaian air terjun kecil, masyarakat setempat menganalogikannya dengan peristiwa pembuangan bayi. Air terjun besar melambangkan sang Ibu, dan empat rangkaian air terjun kecil melambangkan bayi yang dibuang. Sebelum ada peristiwa pembuangan bayi yang menjadikan air terjun ini lebih dikenal sebagai Curug Orok, air terjun ini memiliki nama Curug Sanghyang Prabu Gebur.

 upload-6

Sumber lainnya:

http://travel.detik.com/read/2014/03/15/124900/2523300/1025/kisah-tragis-di-balik-keindahan-curug-orok-garut

http://pariwisata.garutkab.go.id/index.php?mindex=daf_det_wisata&id_wisata=19

https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-orok—garut

upload-7

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2015 in AIR TERJUN, Travelling

 

CURUG SANGHYANG TARAJE

upload-1

Secara administratif, Curug Sanghyang Taraje berada di Kampung Kombongan, Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Jawa Barat dan berada pada koordinat 07°22′35.6″S 107°40′43.4″E. Lokasi Curug Sanghyang Taraje berada sekitar ± 48 Km dari pusat Kota Garut dan ± 3, 2 Km dari pusat Kecamatan Pamulihan. Curug Sanghyang Taraje masih berada dekat dengan kawasan Gunung Papandayan. Untuk menuju Curug Sanghyang Taraje, dapat juga menggunakan angkutan umum, yaitu ELF jurusan Pakenjeng atau Pamulihan (sedikit lebih sulit dibandingkan ELF Pakenjeng) dari Terminal Guntur, Kota Garut. Alternatif lainnya yaitu menggunakan ELF jurusan Bungbulang dan turun di pertigaan Cisandaan (sebelum kantor Kecamatan Pakenjeng), kemudian menyewa ojek atau menumpang kendaraan pick up untuk sampai di lokasi Curug Sanghyang Taraje. Pilihan yang paling praktis yaitu menggunakan sepeda motor. Mobil tidak terlalu direkomendasikan mengingat kondisi jalan yang tidak terlalu baik.

 upload-61

Perjalanan paling dekat dimulai dari Kota Garut, ambil jalur Garut menuju Cikajang. Lalu lintas dari Kota Garut hingga pertigaan Pasar Cisurupan sedikit ramai, terutama pada akhir pekan. Selepas pertigaan Pasar Cisurupan, arus lalu lintas akan sedikit lebih sepi sampai ke pertigaan Cikajang. Setibanya di pertigaan Cikajang, ambil jalan ke arah kanan, sudah ada papan penunjuk jalan sederhana bertuliskan Curug Kembar dan Curug Orok pada arah yang menuju Bungbulang pada papan penunjuk jalan. Ikuti jalan hingga masuk area Kostrad kemudian Desa Cikandang. Kondisi jalan dari Kota Garut hingga Desa Cikandang relatif baik, hanya ada beberapa titik yang kondisi jalannya berlubang dan aspalnya sedikit mengelupas. Terdapat Curug Orok di Desa Cikandang yang merupakan destinasi wisata yang lebih terkenal di Kabupaten Garut Selatan. Setelah gerbang masuk Curug Orok, jalan akan masuk area PTPN VIII Kebun Papandayan. Sepanjang perjalanan akan disuguhi Gunung Cikuray di sisi kiri dan Gunung Papandayan di sisi kanan. Petunjuk berikutnya setelah Curug Orok yaitu PLTm Sumadra. Tidak jauh dari PLTm Sumadra akan terdapat pertigaan yang ditandai oleh pasar. Pertigaan ini dikenal dengan nama Pertigaan Cisandaan dan sudah mulai masuk wilayah Kecamatan Pakenjeng. ELF jurusan Bungbulang, Pamulihan dan Pakenjeng akan berhenti di pertigaan ini sebelum melanjutkan perjalanan. Ambil kana di pertigaan tepat di pasar lalu ikuti terus hingga masuk kembali ke areal perkebunan teh.

 upload-71

Kondisi jalan akan semakin buruk selepas pertigaan Cisandaan dan terdapat beberapa daerah rawan longsor di jalan sepanjang perkebunan teh. Medan jalan akan melewati perbukitan dan menyusuri pinggiran tebing dan jurang yang cukup dalam di sisi lainnya. Tebing-tebing di jalur inilah yang cukup beresiko longsor. Kondisi jalannya pun akan banyak berlubang, bahkan ada beberapa yang lapisan aspalnya sudah hilang. Pada musim hujan, medan inilah yang harus diwaspadai. Petunjuk berikutnya yaitu Gapura Desa Pakenjeng. Dari Gapura ini terus ikuti jalan utama sampai tiba di pertigaan menuju Kampung Kombongan. Sebaiknya, setelah gapura Desa Pakenjeng, banyak bertanya arah menuju Curug Sanghyang Taraje kepada penduduk setempat. Kebanyakan penduduk sudah mengetahui lokasi Curug Sanghyang Taraje, sehingga tidak akan sulit.

upload-44

Jalan menuju Kampung Kombongan jauh lebih kecil, bahkan hanya cukup untuk satu kendaraan pick up saja. Medan jalan dari pertigaan Desa Pakenjeng hingga lokasi Curug Sanghyang Taraje lebih didominasi oleh turunan. Jalur ini merupakan jalur yang berada di tepi jurang yang sangat dalam. Areal di sepanjang jalan dari pertigaan Desa Pakenjeng hingga Curug Sanghyang Taraje merupakan area sawah dan hutan, sehingga lalu lintasnya cukup sepi dan akan sangat gelap menjelang malam karena tidak ada penerangan jalan. Tanda bahwa jalan masuk menuju area Curug Sanghyang Taraje adalah jalan yang dilalui berada diantara dua aliran sungai, yaitu Sungai Cipareeun di sisi kiri dan Sungai Cikandang di sisi kanan. Curug Sanghyang Taraje akan mulai nampak pada aliran sungai di sisi kiri. Tidak jauh dari titik pertama kali melihat Curug Sanghyang Taraje, di sisi kiri jalan akan terdapat bangunan mirip pos penjagaan yang sudah tidak terurus dan ada jalan setapak tanah kecil di depannya. Jalan setapak tanah itulah jalan masuk menuju area Curug Sanghang Taraje. Pada musim hujan, jalan setapak ini akan sangat licin bahkan terkadang longsor, jadi harus sangat berhati-hati.

 upload-3

Area di sekitar Curug Sanghyang Taraje cukup luas, bahkan ada jalan setapak yang cukup rimbun untuk mengikuti aliran Sungai Cikandang. Curug Sanghyang Taraje berada pada ketinggian ± 660 m atas muka laut. Ketinggian Curug Sanghyang Taraje sekitar 82 m. Aliran jatuhan dari Curug Sanghyang Taraje dimanfaatkan sebagai PLTm yang merupakan bagian dari PLTM Cibatarua. Pengelolaan area wisata Curug Sanghyang Taraje sebenarnya berada di bawah Perhutani, tetapi hingga saat ini semakin terbengkalai. Curug Sanghyang Taraje sebenarnya dapat menjadi potensi objek wisata utama di Selatan Kabupaten Garut selain Curug Orok bila aksesibilitas dan area di sekitar Curug Sanghyang Taraje dibenahi.

 upload-210

Curug Sanghyang Taraje merupakan air terjun permanen, oleh karena itu, pada musim kemarau masih dapat ditemui volume jatuhan yang cukup besar meskipun tidak sebesar pada musim hujan. Pada musim hujan, volume jatuhan airnya sangat besar dan bila baru turun hujan, airnya akan sangat keruh. Curug Sanghyang Taraje memiliki klasifikasi dominan Segmented dan Ledge yang merupakan bentuk klasik dari satu air terjun. Jatuhan air Curug Sanghyang Taraje yang terbagi menjadi dua dan sama persisi terkadang dapat memunculkan klasifikasi lain, yaitu Twin/Paralel. Perbedaan antara klasifikasi Twin/Paralel dengan Segmented yaitu dari sumber alirannya. Pada klasifikasi Segmenten sumber aliran hanya satu, sedangkan pada klasifikasi Twin/Paralel bisa saja sumber alirannya satu atau lebih dari dua. Hal inilah yang membuat klasifikasi Twin/Paralel menjadi klasifikasi minor. Ledge merupakan bentuk klasik dari sebuah air terjun, yaitu satu aliran vertikal yang langsung jatuh dari ujung tebing, tetapi dalam hal ini, jatuhan air Curug Sanghyang Taraje sama sekali tidak mengenai dinding air terjun. Klasifikasi minor lainnya yaitu Cataract, karena pada musim hujan volume jatuhan airnya sangat deras, bahkan sebenarnya cukup menakutkan dibandingkan indah, sehingga klasifikasi Cataract muncul selama musim hujan. Bila diperhatikan, aliran jatuhan air pada sisi kiri air terjun (bila menghadap Curug Sanghyang Taraje) akan lebih besar dibandingkan dengan jatuhan air pada sisi kanan.

 upload-110

Penamaan Curug Sanghyang Taraje lebih banyak dipengaruhi oleh legenda setempat dan berdasarkan dari bentuk jatuhan airnya. Nama Sanghyang Taraje, erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang di daerah Pakenjeng. Konon, pada jaman dahulu air terjun ini digunakan oleh Sangkuriang untuk naik ke langit mengambil bintang atas permintaan Dayang Sumbi. Di dekat air terjun ini juga terdapat sebuah batu berbentuk tapak raksasa yang konon itu adalah tapak Sangkuriang tetapi jarang sekali orang yang dapat menemuinya. Sedangkan batu yang ada di bawah tepat air terjun menurut masyarakat setempat dipercaya sebagai tempat penyimpanan bintang (harta karun) Sangkuriang, tetapi konon tempat itu dijaga oleh Belut raksasa, dan seringkali dilihat oleh masyarakat. Penamaan lainnya pada Curug Sanghyang Taraje lebih didasari karena terdapat dua aliran jatuhan yang berdekatan dan sama besar serta sama derasnya sehingga mirip dengan taraje (tangga yang terbuat dari bambu). Penambahan ‘Sanghyang’ diperkirakan dikaitkan dari legenda Sangkuriang yag cukup terkenal di tanah Sunda. Karena termasuk air terjun permanen, waktu berkunjung ke Curug Sanghyang Taraje dapat kapan saja, tetapi bila ingin melihat Curug Sanghyang Taraje pada waktu terbaiknya sebaiknya datang ketika mulai memasuki musim hujan dan akhir musim penghujan. Tidak disarankan untuk mengunjungi Curug Sanghyang Taraje pada puncak musim hujan, karena kondisi dan medan jalan yang cukup berbahaya.

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2015 in AIR TERJUN, Travelling