RSS

Monthly Archives: May 2015

SAFE AND SOUND

SAFE AND SOUND

Sabtu, 23 Mei 2015 tepat seminggu saya ada di sini, di negeri asing dengan segala sesuatunya yg serba asing. Ga kerasa udah hampir waktunya pulang ke tanah air. Banyak hal yg saya dapetin di sini. Meskipun bukan kegiatan traveling seperti biasanya, tapi banyak hal yg terasa tidak asing seperti ketika traveling dengan teman-teman dekat.

Adaptasi
Ga gampang memang untuk adaptasi dengan lingkungan baru, bahkan ketika traveling. Kali ini, saya tantang diri sendiri harus bisa adaptasi dengan lingkungan, kultur, kehidupan sehari-hari dan hal-hal lainnya, bahkan dengan jam tidur dan sikap. Hanya dalam waktu 24 jam, rasa ingin pulang, sedih, kangen, kesal, canggung, kaget dll kayanya udah mau meledak. Ingin rasanya membatalkan waktu 8 hari menjadi 3 hari saja. Untungnya, tantangan kepada diri sendiri masih berlaku dan saya menolak untuk kalah cepat.

Di hari ke-2 dan seterusnya proses adaptasi saya sedikit membaik,  meskipun memang rasa homesick sesekali muncul. Peranan orang-orang lain, dalam hal ini keluarga sangat penting. Biarpun hanya diajak keluar sesekali menjelang tengah malam dan hanya ke sekitaran pusat kota, ternyata cukup ampuh untuk menjadi pengalih rasa homesick. Bukan tanpa alasan keluar menjelang tengah malam dan hanya sesekali jalan, mengingat tujuan utama kedatangan saya ke sini bukan untuk traveling tapi silaturahmi, jadi ajakan sepupu-sepupu dari calon saya ini bisa dibilang bonus yang cukup lumayan. Tidak hanya ajakan jalan saja, tapi menginap di beberapa rumah saudara yg lain pun sudah bonus meskipun sama saja tidak banyak yg bs kami lakukan karena pada sibuk kerja.

Dari segi interaksi, ini pun hal yang cukup sulit untuk saya di hari-hari pertama. Bahasa dan logat yang sedikit sulit dimengerti, mata uang yang berbeda sampai kegiatan sehari-hari dan suasana lingkungan tempat tinggal selama di sini yg sangat berbeda pun jadi tantangan bagi diri saya sendiri. Kembali lagi, selain peranan orang-orang di sekitar kita, pengalaman selama traveling pun di sini pun sangat membantu. Bagaimana cara bersikap dan menyikapi pola kegiatan di lingkungan yg baru agar kita bisa diterima dan berbaur pun digunakan selama di sini. Setidaknya hanya dengan diam dan memperhatikan saja, kita sudah dapat masukan tentang bagaimana sebaiknya kita bersikap. Mulai dari kebiasaan bangun jam berapa, apa yg biasanya dilakukan pagi-pagi, apa saja biasanya jenis makanan yang dimakan, acara hiburan seperti apa yg biasa dinikmati di sini, dan berbagai hal kecil lainnya yang bisa jadi informasi.

Kebetulan, hampir semua lingkungan yang saya singgahi selama di sini merupakan lingkungan perniagaan. Kebiasaannya dimulai dari berbelanja tengah malam hingga menjelang subuh di pasar induk, tidak lepas dari ikan karena di sini dekat dengan laut, pagi hingga siang merupakan waktu tersibuk untuk urusan berdagang, siang hingga menjelang Magrib biasanya bergantian untuk tidur dan istirahat. Jam tidur pun cukup malam, ketika sebagian berbelanja ke pasar induk tengah malam, yang lainnya beristirahat. Kegiatan pagi di sini baru mulai kondusif sekitar pukul 07.00-07.30 pagi, tdak sepagi dan sesibuk di Bandung,  pukul 06.00 pun sudah ramai dengan hiruk pikuk kendaraan. Karena di lingkungan perniagaan,  jadi ramai di sini ramai dan kondusif oleh orang-orang yang berjualan dan pembeli, bukan kemacetan dan lalu-lalang pekerja kantoran serta anak sekolah.

Bila biasanya libur kantoran adalah Sabtu-Minggu, maka di sini kebanyakan Jumat-Sabtu. Ada juga yang libur hanya Minggu saja. Bila di Bandung Sabtu malam ramai dengan kemacetan dan acara-acara hiburan, maka di sini hal tersebut dapat kita temui Jumat malam. Suasana lingkungan tempat tinggal pun berbeda drastis. Biasanya sehari-hari sepi karena sebagian besar pergi bekerja dari pagi sekali sampai menjelang malam, tapi di sini, sepanjang hari dari pagi sampai malam ramai terus. Tempat tinggal yang hampir kebanyakan rumah kerabat atau kebetulan satu kampung di Indonesia membuat suasana di sini terasa seperti di bagian lain di Indonesia. Kebanyakan merupakan penduduk dari Pulau Bawean yg biasa disebut Boyan, ada juga Madura, Aceh, dan sedikit dari Jawa Timur lainnya. Dari karakteristik penduduk seperti ini,  telinga pun harus bisa beradaptasi dengan bahasa Melayu, Boyan, Madura dengan logat yang tak kalah asingnya, logat Melayu campur Madura sedikit-sedikit. Cara berbicara dan berkomunikasinya pun pasti berbeda. Tidak seperti kebanyakan penduduk Solo, Yogyakarta, dan Sunda yang kalau bicara sedikit pelan dan intonasinya yang lembut, di sini,  seperti khasnya Jawa Timur, keras, intonasi yang cepat dan tegas akan menjadi hal yang sangat biasa didengar di sini. Suhu udara pun tidak luput. Biasanya sejuk, di sini harus tahan dengan terik matahari dan udara yang bikin gerah meskipun malam hari.

Mati Gaya
Sudah berusaha adaptasi pun bukan berarti semuanya berjalan lancar. Terkadang ada juga moment-moment mati gaya dan canggung. Ketika seisi rumah tertidur lelap tapi kita sendiri masih belum bisa tidur, saat itulah hp dan sinyal wi fi jadi hal yang sangat membantu. Homesick pun bisa disiasati dengan melihat timeline teman-teman di sosial media, chatting sekedar bertanya kabar atau malah curhat habis-habisan bisa membantu biar ga mati gaya. Saya yang bukan tukang maen game di hp kayanya sedikit tertolong jg sama beberapa game yang ada di hp. Ketika ga dapet sinyal wi fi, kena moment canggung, atau mati gaya, maen game di hp bisa jadi penyelamat. Satu hal yang saya rasakan paling ampuh ketika di moment mati gaya ataupun moment canggung adalah menulis. Ya, beberapa tulisan yang kepending ditulis sebelum pergi, bisa jadi alternatif biar ga kesel dan geje sendiri. Ketika mati gaya dan ada di moment canggung, manfaatkan jg sinyal wi fi untuk membaca berbagai link atau blog yg menarik. Baca berita pun ga ada ruginya. Mati gaya dan canggung bisa diantisipasi, informasi baru pun bs kita dapet. Seengganya ketika udah keluar dari moment canggung dan mati gaya, kita punya banyak informasi baru dari hasil baca dan siapa tahu bs jadi topik obrolan baru. Nah, klo udh mentok mau nulis lgi ga beride, main game bosen, ga dapet sinyal wi fi jd ga bs baca, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengerin ipod sambil berusaha tidur. Kadang, ada hal-hal yang suka tiba-tiba terlintas atau bahan renungan spontan yang bisa dijadiin bahan tulisan.

Seperti sekarang ini, ketika semua asik nonton bola dan nonton tv, sementara saya ga suka bola dan canggung jg ikutan nonton tv, tidur pun belum ngantuk, sempet mati gaya dan pas lg dengerin ipod tiba-tiba spontan aja ada ide untuk ngetik ini. Btw,  kenapa judul tulisan ini ‘Safe and Sound”? Soalnya lagu ini yg didenger berkali-kali selama ngetik ini.

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2015 in Apa aja boyeeehh, Sehari-hari

 

OUR HOME IS BETTER

image

Kebanyakan orang bakal menganggap kalau bisa ke luar negeri (dalam hal ini liburan), kayanya tuh sesuatu yang ‘Wow’ banget. Iya sih,  dari segi budget, perhitungan waktu, bahasa, mata uang, tempat tujuan, kultur dan banyak hal lainnya memang lebih susah dibandingkan kalau liburan di dalam negeri. Nah, klo buat saya pribadi sih lebih milih untuk bersusah-susah dan repot-repot blusukan di negeri sendiri. Mungkin ada yang beranggapan kalau saya ini malas, katro, terlalu nasionalis dll, tapi kenyataan loh ini. Ini yang saya rasakan sekarang.

image

Sebut saja Singapore, Malaysia, Thailand, Burma (Myanmar), Australia, Nepal, dan Filipina. Banyak looh temen-temen saya yang sudah, maSih rencana, sedang, atau cita-cita ke salah satu negara tadi. Singaporelah yang kayanya paling banyak peminat kalau pertimbangannya kemudahan akses dan lama waktu yang diperlukan, malah, ga jarang loh negara ini jadi tempat tujuan Honeymoon.

image

Tempat saya ngetik cerita ini sekarang, mungkin hanya sekitar 20 menit sama perbatasan Singapore sebelah Utara. Ya, kali ini cerita spontan ini saya ketik di Johor Bahru,  . Johor Bahru ini salah satu kota termaju di Malaysia (ke-2) setelah Kuala Lumpur. Banyak loh yg komen “Wah, itu mah dikit lagi jg ke Singapore, asik banget” ya sih emang asik, tapi ko saya ga terlalu tertarik ya ke sana?

image

Sedikit cerita dulu kenapa saya yang bakal jadiin pilihan liburan ke luar negeri itu bukan prioritas utama tau-tau nyangkut di Johor. Jadi, saya di Johor bukan untuk liburan,  seengganya tujuan utamanya bukan liburan,  tapi mengunjungi (calon) keluarga. Nah,  kalau yg namanya keluarga,  mau di Singapore,  London,  Alaska,  Dubai, Jepang, Korea dll ya pasti dijabanin donk. Nah, kebeneran kedatangan kami ke sini bukan di hari libur,  jadi kebanyakan saudara yang kami kunjungi sibuk kerja. Sudah empat hari saya di sini dan jalan-jalan terjauh saya cuman sampai jembatan perbatasan antara Malaysia-Singapore, itu pun ga nyebrang,  karena repot juga harus tuker-tuker uang lagi dan Singapore mahal!!

image

Nah, balik lagi ke cerita. Berhubung memang tujuannya bukan travelling apalagi eksplore jarambah kemana-mana, jadi ya betah-betah aja sih di Johor (ya,  kadang bosen & mati gaya juga, tpi ga separah kalau di rumah). Malah selama di sini, yang saya kangenin itu jalan-jalan di Indonesia. Apalagi liat postingannya temen-temen weekend kemaren. Ada yg ke Curug Puncak Jeruk, Gunung Lembu, baru balik dari Semeru, Merapi, motoran blusukan,mantai,kumpul-kumpul dll beuuuhhh, homesick kambuh!!!  Sial banget deh itu foto-fotonya, ngileerrr. Malahan saya lebih nunggu-nunggu nanti waktu di Batam klo buat jalan-jalan mah.  Ya, meskipun kota-kota juga, tpi entah kenapa klo buat travelling kayanya lebih semangat nnti di Batam. Malah ngarep bisa sampe ke Natuna biar cuman sebentar.

image

Mungkin banyak orang banyak nganggep saya ini aneh, udh bs ke luar negeri, ke salah satu destinasi taraf internasional pula,  ko kangennya malah sama motoran lumpur-lumpuran, nanjak-nanjak gunung, ama mantai di pulau yg ga ada apa-apanya? Yaa,  tiap orang kan beda-beda kesukaannya. Cuman klo diajak jalan-jalan ke KL, Singapore, Langkawi dll mah hayu ajah, cmn sekali lagi, itu bukan tujuan utama saya nyangkut di sini.

image

Jadi, begitu nnti balik ke Bandung, lngsung rencanain piknik motoran seperti biasa aahh.

image

image

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2015 in Apa aja boyeeehh, Sehari-hari

 

CURUG CIRUTI

upload-62

Secara administratif, Curug Ciruti berada di Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°19’35″S 106°29’31″E. Air terjun ini memiliki nama lain yang diberikan oleh warga. Curug Luhur adalah nama pemberian warga di sekitar air terjun ini dikarenakan oleh ketinggiannya. Oleh beberapa pengunjung air terjun ini diberi nama lain karena nama ‘Curug Luhur’ cukup banyak jumlahnya di seluruh Kabupaten Sukabumi. Nama air terjun ‘Curug Luhur’ setidaknya ada lebih dari 3 buah di seluruh Kabupaten Sukabumi. Nama ‘Ciruti’ kemudian menjadi nama yang lebih sering didengar untuk menyebut air terjun ini ketimbang Curug Luhur. Nama Ciruti sendiri diambil dari nama dusun yang terletak tidak jauh dari lokasi air terjun ini. Kabarnya, air terjun ini dapat dilihat dari pinggir jalan di sekitar Dusun Ciruti. Akses masuk menuju air terjun ini sendiri lebih banyak yang mengambil dari Desa Cikangkung. Lokasi Curug Ciruti sebenarnya tidak terlalu jauh dari Curug Cigangsa di Surade, bahkan warga di sekitar Curug Cigangsa sudah banyak yang mengetahui keberadaan Curug Ciruti. Pamor Curug Ciruti masih kalah oleh Curug Cikaso dan Curug Cigangsa yang sudah dibuka aksesnya dan menjadi salah satu objek wisata andalah di Kabupaten Sukabumi bagian Selatan. Curug Ciruti sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata, karena pencapaian dan medan yang dilalui untuk menuju Curug Ciruti relatif mudah. Terdapat tiga pilihan jalur untuk menju Curug Ciruti. Jalur pertama yaitu bila datang dari arah Kota Sukabumi dan Cibadak. Jalur Palabuhanratu – Kiaradua bagi yang datang dari arah Banten Selatan dan Palabhanratu dan jalur bagi yang berasal dari arah Ujunggenteng dan Surade.

upload-212

RUTE SUKABUMI – UJUNGGENTENG

Jalur ini merupakan jalur utama menuju area wisata Ujunggenteng. Tepat di pertigaan Waluan, tidak jauh dari Polsek Waluran, ambil jalan ke kanan menuju Ciemas. Umumnya kondisi jalan mulai dari Pasar Pangleseran hingga pertigaan Waluran banyak berlubang dan medan akan terus menanjak. Jalur ini sedikit ramai pada siang hari dan bila pada malam hari akan cukup sepi. Tidak banyak lampu penerangan jalan di sepanjang jalur ini. Umumnya lampu penerangan jalan hanya berada di sekitar permukiman ataupun pusat kota kecamatan. Guna lahan di sepanjang jalur ini didominasi oleh areal perkebunan teh, jagung, karet, hutan produksi, hutan pinus hingga area hutan dan pabrik serta lokasi penambangan batukapur di sekitar Jampang Tengah. Selepas pertigaan Waluran (-7.198591, 106.614212 ), ikuti terus jalan utama dan ambil lurus ketika tiba di pertigaan Ciemas (-7.259357, 106.540919). Berikutnya, setelah sampai di Masjid Besar Ciracap, ambil jalan ke arah Jalan Cirangkong (belakang Masjid), ikuti terus jalan utama hingga ke pertigaan dengan Jalan Cidangdeur Dua (-7.331013, 106.498573). Kondisi jalan setelah melewati Pertigaan Waluran hingga perkebunan karet masih banyak berlubang, tetapi setelah itu, kondisi jalan akan kembali mulus karena sudah diperbaiki. Kondisi jalan yang cukup baik pun akan dilalui hingga ke rumah terakhir di Desa Cikangkung, sekaligus tempat untuk menitipkan kendaraan bermotor. Berikut adalah uraian rute yang harus dilalui bila melalui jalur Sukabumi – Ujunggenteng:

Sukabumi/Cibadak – Gunungguruh – Pasar Pangleseran – Jampang Tengah – Lengkong – Waluran – Jalan Ciracap Mareleng – Ciracap (Masjid Besar Ciracap) – Jalan Cirangkong – Jalan Cidangdeur Dua (Desa Cikangkung) – Curug Ciruti.

 upload-82

RUTE PALABUHANRATU – KIARADUA – WALURAN – CIRACAP

Jalur ini merupakan jalur yang sama bila menuju Pal Tilu menuju Kecamatan Ciemas, lokasi Geopark Ciletuh. Ambil Jalur menuju Citarik dan di pertigaan menuju Kecamatan Simpenan (-7.011172, 106.567065) ambil jalan menuju Kiaradua. Jalur ini akan melewati Kecamatan Simpenan dan Kecamatan Kiaradua melalui Cihaur, tepatnya Jalan Palabuhanratu. Kondisi jalan akan sedikit rusak ketika sudah melewati pusat Kota Kecamatan Simpenan, tepatnya di Cihaur hingga Cigaru, perbatasan dengan Kecamatan Kiaradua. Medan jalan pun akan didominasi oleh tanjakan dan jalan berkelok. Jalan relatif sempit dan merupakan jalur truk, sehingga pengguna jalan harus berhati-hati. Terdapat beberapa titik longsor diantara Cihaur hingga Kiaradua. Ambil jalur menuju Kecamatan Kiaradua menuju Kecamatan Waluran di Pertigaan Pal Tilu (-7.117760, 106.595361). Kondisi jalan akan cukup baik hingga di Pertigaan Kiaradua (-7.131248, 106.622207) yang merupakan pertemuan antara Jalur Palabuhanratu – Simpenan – Kiaradua dengan jalur Jampang Tengah – Lengkong – Waluran. Perjalanan melalui jalur ini akan banyak melewati perkebunan teh. Setelelah mengambil arah ke Kecamatan Waluran dari Pertigaan Kiaradua, jalur yang dilewati akan sama dengan jalur pertama (Jalur Sukabumi – Ujunggenteng). Berikut adalah uraian rute yang harus dilalui bila melalui jalur palabuhanratu – Kiaradua –Waluran – Ciracap:

Palabuhanratu – Simpenan – Cihaur – Cigaru –Pal Tilu – Kiaradua – Waluran – Jalan Ciracap Mareleng – Ciracap (Masjid Besar Ciracap) – Jalan Cirangkong – Jalan Cidangdeur Dua (Desa Cikangkung) – Curug Ciruti.

 upload-72

RUTE UJUNGGENTENG/SURADE – CIRACAP.

Rute ini merupakan rute terpendek dan dapat dikembangkan sebagai jalur wisata. Jalur ini dapat dipertimbangkan agar Curug Ciruti masuk ke dalam daftar objek wisata andalan Ciracap bersama dengan Pantai Ujunggenteng dan Curug Cikaso serta Cigangsa di Kecamatan Surade. Bila dari arah Surade dan Pantai Ujunggenteng, ambil jalan menuju Pertigaan Jampang Kulon – Surade dengan Surade – Ujunggenteng (-7.357368, 106.545438). Ambil arah menuju Ciracap (terdapat papan penunjuk jalan). Jalur kemudian akan melewati Jalan Pasiripis – Ciracap yang keseluruhan kondisinya baik. Dari pertigaan Surade – Ujunggenteng, jarak yang ditempuh hingga tiba di Masjid Besar Ciracap hanya sekitar 4,4 Km melalui jalan utama. Akan banyak persimpangan dengan jalan-jalan kecil di lingkungan desa, tetapi cukup ikuti jalan utama agar tidak bingung. Setelah tiba di di depan Masjid Besar, ambil jalan menuju Jalan Cirangkong kemudian Jalan Cidangdeur Dua seperti yang telah dijelaskan pada dua rute sebelumnya.

 upload-92

Setelah tiba di Desa Cikawung, perjalanan akan diteruskan dengan berjalan kaki. Waktu tempuh yang diperlukan untuk sampai di Curug Ciruti (tanpa berkunjung ke Curug Badak terlebih dahulu) kurang lebih sekitar 20 menit. Perjalanan akan melewati jalan setapak di kebun warga hingga koordinat -7.326961, 106.493023. Truk pengangkut kayu masih akan ditemui hingga area sawah di ujung jalan setapak (-7.327230, 106.492052). Setelah keluar dari jalan setapak di kebun warga (-7.326961, 106.493023), jalan setapak akan melewati areal sawah. Berbeda dengan trek sebelumnya, trek di area sawah ini akan sangat terbuka, sehingga bila sedang kemarau atau musim penghujan akan sulit menemukan tempat berteduh. Jalur menuju Curug Ciruti memang belum dibuka untuk objek wisata, bahkan wisata lokal pun masih cukup jarang. Pada awalnya, pengunjung yang datang ke Curug Ciruti berasal dari beberpa komunitas yang sekalian bersepeda dan sedikit warga lokal. Lama-kelamaan akhirnya mulai dikenal dan berkembang menjadi wisata lokal.

Jalur menuju Curug Ciruti setelah tiba di areal persawahan adalah yang menuju aliran sungai, cari jalan setapak tepat di ujung area sawah (-7.327230, 106.492052) menuju ke bawah tebing melalui kebun warga. Jalan setapak yang dimaksud letaknya memang cukup tertutup hingga tiba di ujung jalan setapak menurun (-7.326849, 106.491715). Setelah berjalan menuruni tebing, jalan setapak akan kembali masuk di area sawah, dari sini, arahkan jalur menuju sungai. Jarak dari titik ini menuju aliran sungai sudah tidak terlalu jauh. Kendala yang mungkin menghambat perjalanan adalah tertutupnya jalur dan tidak adanya penunjuk arah menuju Curug Ciruti dari desa terakhir, oleh karena itu, disarankan untuk meminta antar penduduk setempat. Secara keseluruhan, kondisi jalur menuju Curug Ciruti bila musim hujan akan berlumpur di beberapa titik, seperti misalnya di area kebun dan sawah warga sebelum menuruni tebing.

upload-310

Area di sekitar Curug Ciruti tidak terlalu luas. Banyak terdapat bongkahan batu di sekitar pinggiran aliran sungai hingga ke tengah dan di bawah aliran jatuhan Curug Ciruti. Bila musim kemarau, pengunjung dapat mendekati aliran jatuhan Curug Ciruti dengan berjalan di atas bongkahan batu dan mencari pijakan batu yang kokoh di dasar sungai. Bila musim hujan, hal tersebut akan cukup sulit dilakukan karena air sungai akan meninggi sehingga pijakan-pijakan batu akan tertutup oleh air. Area untuk menikmati dan mengabadikan landscape di sekitar Curug Ciruti bila musim hujan akan sangat terbatas, tetapi aliran jatuhannya akan memenuhi hampir semua dinding air terjun. Kekurangan lainnya adalah air sungainya akan berwarna cokelat. Bila musim kemarau, area untuk mengambil landscape Curug Ciruti akan cukup luas, tetapi aliran jatuhannya tidak akan menutupi dinding air terjun dan akan terlihat batuan dinding Curug Ciruti yang cukup menarik. Aliran sungainya pun akan berwarna sedikit jernih bila musim kemarau. Waktu berkunjung yang disarankan untuk ke Curug Ciruti adalah sekitar bulan April-Juli dan November-Maret (tergantung curah hujan).

Dinding air terjun Ciruti cukup tinggi dan lebar, tetapi lebar dinding air terjun lebih mendominasi dibandingkan ketinggiannya, oleh karena itu, Curug Ciruti dapat diklasifikasikan sebagai Block Waterfall. Dalam kondisi volume jatuhan air maksimal maupun normal, Curug Ciruti masih tetap dapat diklasifikasikan sebagai Ledge waterfall. Volume jatuhan airnya akan bertambah banyak pada musim hujan, tetapi tidak cukup besar hingga menyerupai klasifikasi Cataract waterfall. Pada musim kemarau, volume jatuhan airnya akan cukup kecil sehingga tidak semua dinding air terjunnya tertutup aliran jatuhan air. Meskipun masih dapat digolongkan sebagai kalsifikasi Block Waterfall, tetapi pada musim kemarau muncul klasifikasi sekunder yaitu Curtain waterfall. Klasifikasi sekunder ini muncul karena ada celah-celah dinding air terjun yang tidak tertutup aliran jatuhan air, tetapi masih ada juga dinding air terjun yang tertutup aliran jatuhan air di keseluruhan dinding air terjunnya.

 upload-46

Tepat di atas aliran Curug Ciruti, terdapat air terjun yang lebih kecil yang oleh warga sekitar diberi nama Curug Badak (7°19’33″S 106°29’35″E). Konon, di tempat ini dulu masih banyak badak yang hidup bebas. Melihat lokasi Curug Ciruti yang tidak terlalu jauh dari Kawasan Geopark Ciletuh (yang kabarnya merupakan daerah yang banyak badaknya juga) hal tersebut dapat dijadikan pertimbangan. Aliran Curug Badak terdiri dari tiga tingkatan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu tinggi, bahkan satu diantaranya cukup landai dinding air terjunnya. Jalur jatuhan air di Curug Badak relatif sempit dan masih banyak bongkahan batu dan batuan sungai yang belum sepenuhnya terkikis air dan longsor sehingga memunculkan lintasan vertikal. Berdasarkan bentukannya, Curug Badak dapat diklasifikasikan ke dalam Multi Step Waterfall dan Ledge Waterfall meskipun sudut kemiringannya tidak terlalu landai. Volume jatuhan airnya pun tidak terlalu deras. Pada musim hujan, aliran sungainya akan berwarna cokelat pekat. Hal ini karena tingginya tingkat erosi di pinggiran sungai dan tingginya transportasi hasil erosi karena arus sungainya yang cukup kencang.

Jalur menuju Curug Badak jauh lebih mudah dan lebih dekat dibandingkan yang menuju Curug Ciruti. Ambil jalan setapak ke arah kanan di pertigaan kecil di tengah kebun warga hingga keluar di koordinat -7.326765, 106.493663. Setelah keluar dari kebun warga, ikuti saja jalan setapak yang menuruni area sawah hingga menemukan jembatan bambu. Letak Curug Badak berada di sebelah kiri jembatan bambu. Hal menarik lainnya yaitu, banyaknya bongkahan batu yang tersebar di area kebun warga, bukan hanya di aliran dan pinggir sungai. Bongkahan batu ini sekilas mirip dengan bongkahan batu di perkebunan kelapa di Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, tepatnya setelah spot Bukit Panenjoan. Sayangnya, bongkahan-bongkahan batu yang cukup banyak di perkebunan kelapa ini sudah menghilang ditambang oleh manusia. Mengingat lokasi Curug Badak yang tidak terlalu jauh dari Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, bongkahan batu ini menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Selain Curug Badak dan Curug Ciruti, bila sekilas melihat aliran sungainya, kemungkinan masih terdapat beberapa air terjun lagi setelah Curug Ciruti, hanya saja aksesnya masih belum sejelas menuju Curug Ciruti. Warga di sekitar Cikangkung, Purwasedar, dan Ciruti banyak yang berprofesi sebagai pengasah batu yang kebanyakan diambil dari aliran sungai dan menjadi marmer. Sebaiknya bila mengunjungi Curug Ciruti sebelum sore, karena setelah pukul 17.00 suasana di sekitar Curug Ciruti dan Ciracap akan sangat sepi. Tidak perlu khawatir mengenai logistik, karena sudah ada minimarket dan warung nasi di Kecamatan Ciracap. Sepanjang perjalanan menuju Ciracap dari arah manapun akan melewati beberapa kota kecamatan untuk membeli perlengkapan logistik dan ransum.

 upload-52

upload-112

FOTO : RAHMAT MUHAMMAD (MANG DADANG)

 
4 Comments

Posted by on May 15, 2015 in AIR TERJUN, Travelling