RSS

Monthly Archives: January 2015

CURUG TUJUH NEGLASARI / CURUG LIMBUNG 16 DESEMBER 2012

Minggu, 16 Desember 2012

Jam 05.00 WIB saya dan dua temen lainnya udah bangun (termasuk sepupu saya), rencananya kami pergi dari Pameungpeuk sepagi mungkin setelah sarapan, jadi ga ada acara main di pantai sama sekali. Jam 05.30 WIB kami semua sarapan dan ga lama langsung packing dan pergi. Sekitar 06.00 WIB kami check out tapi tetep ga lupa buat foto-foto di spot yang lumayan bagus di gerbang keluar Pantai Santolo. Ga lama, kami pun udah di jalur Pameungpeuk-Ciakajang lagi. Awan putih kaya kapas di kejauhan, deretan pegunungan yang bersih dari kabut dan awan, sinar matahari yang lumayan terik kayanya sayang kalau landscape di sepanjang jalan ga di foto. 

Perjalanan ke arah Cisompet lumayan cepet, belum banyak motor atau ELF yang seliweran. Sekitar jam 07.30 WIB kami udah sampe di tempat tambal ban. Setelah parkir, kami pun ketemu sama bapak yang punya tambal ban sekaligus Pa RW setempat. Begitu tau kami mau ke Curug Tujuh Neglasari, bapa tadi langsung manggil temennya untuk nganter kami, soalnya kalau ga dianter takut nyasar di kebun tehnya. Begitu kami tanya berapa lama trekking sampe air terjunnya, jawabannya tetep sama kaya tiga minggu yang lalu, satu jam sekali jalan kalau cerah dan ga ada kabut. Setelah nunggu lima belas menit, datenglah temennya yang katanya mau nganter. Perlengkapannya lumayan, golok, baju lapangan, sepatu boot, topi, mencurigakan, jangan-jangan jalannya ga segampang yang saya bayangin. 

Pertama-tama kami jalan nanjak bukit di tengah kebun teh. Bener aja baru juga sebentar, jalannya udah lumayan bikin bingung. Sebagai informasi, akses ke Curug Tujuh Neglasari ini emang belum dibuka, jadi wajar aja kalau ga tau jalannya ke mana dan ga nemu papan penunjuk jalan. Sambil jalan, bapa ini cerita jalur menuju Curug Tujuh Neglasari dan cerita-ceritanya. Kata Bapa ini, jalur ke Curug Tujuh Neglasari ada dua, pertama yang bakal kita lewatin yaitu yang ke atas aliran curug, alias ke Sungai Limbung yang ada di puncak Gunung Limbung, artinya sekarang kami bakal sedikit hiking. Jalan setapak berbatu di kebun teh sekarang ganti jadi pematang sawah mengarah ke jalan setapak yang jauh lebih kecil dan lebih teduh tepat di pinggir tebing Gunung Limbung. Cukup mudah, soalnya tanah sawahnya udah kering, berikutnya kami harus sedikit usaha untuk trek berikutnya. 

Jangan bayangkan jalan setapak layaknya jalur pendakian pada umumnya. Jalan setapak yang satu ini bener-bener jauh dari layak untuk jadi jalur pendakian. Jalannya keciiiiil, liciiiin, banyak daun-daun basah nutupin tanah merah yang juga masih basah, ga ada pegangan, hanya ada rumput-rumput sama akar rapuh di sepanjang dinding tebing di sisi kanan. Di sisi kiri, jurang cukup besar dengan permukaan kaya perosotan lengkap dengan pipa besi super besar di pinggirnya, dan namanya juga mendaki, medannya langsung nanjak tanpa bonus Bapak ini cerita, katanya pipa besi besar di dasar jurang itu asalnya dari sungai di puncak Gunung Limbung untuk keperluan pabrik yang ada di bawah (keliatan dari jalur).

Sebagai informasi, Gunung Limbung ini ga tinggi-tinggi amat dan merupakan rangkaian dari pegunungan dan perbukitan di Gunung Gelap, jadi sebagian besar area di puncak Gunung Limbung ini masih berupa hutan alami. Mungkin baru setengah jam kami jalan, tapi saya udah cukup cape. Medan tanjakan tanpa ampun ditambah tanah merah licin dan ga ada pegangan, bahkan sering bapa ini harus nebasin ranting dan buang kayu-kayu di sepanjang jalur biar kami bisa nanjak. Saya sama satu temen dan bapa guide ini ada di paling belakang, tiga orang lainnya ada di depan buka jalan juga. Akhirnya saya pun mutusin buat istirahat dan berhenti sebentar sama bapa guide sambil nunggu temen saya yang lain buka jalur. 

Sambil istirahat, bapak guide nanya, ko bisa kami sampai di sini? Akhirnya saya pun cerita, awalnya hanya iseng nayri artikel untuk satu air tejun yang ada di Sukabumi, tapi ga sengaja malah keluar artikel tentang Curug Tujuh Neglasari yang ada di Gunung Limbung. Liat fotonya, bagus banget sayang ga ada info jalur. Bekel penasaran ama nama desa dan kecamatan, didatenginlah Curug Tujuh Neglasari ini. Bapa itu pun manggut-manggut dan masih tetep heran, ada ya orang yang kaya begini. Akhirnya bapa itu pun cerita. Bapa ini warga asli Garut, dulunya pegawai suatu perusahaan swasta di daerah sini. Kata bapa ini, satu-satunya orang asing (turis/wisatawan) yang pernah beliau anter ke Puncak Gunung Limbung ini dua orang Perancis sekitar dua tahun yang lalu (2010). Bedanya dengan kami yang nekat dateng karena penasaran dan untuk rekreasi, dua orang Perancis ini dateng ke sini untuk penelitian.

Menurut mereka ada kandungan emas di aliran Sungai Limbung (sebut saja demikian). Hasil penelitiannya ga pernah dipublish, tapi dampaknya adalah kawasan di sekitar Gunung Limbung jadi rebutan dua perusahaan tambang swasta besar di Indonesia. Karena satu dan lain hal, bapak kurang setuju sama kebijakan perusahaan ini, dan akhirnya resign. Itulah kenapa ga aa info tentang air terjun ini, karena kalau dikembangkan jadi wisata, ternyata sebelumnya sudah jadi rebutan dan perhatian khusus dua buah perusahaan tambang, jadi sementara biar saja informasinya hanya apa adanya kaya yang ada sekarang. Bapa ini pun bingung, kalau dibuka jadi wisata, sayang juga karena ga yakin pengunjung bisa menjaga kebersihan lingkungan, apalagi aliran sungai ama area di atas masih bener-bener alami dan bener-bener dimanfaatin untuk keperluan warga, kalau tercemar, nanti warga juga yang repot. 

Begitu saya cerita kemarin kami dari mana, menurut bapa itu, Curug Nyogong yang tadinya bakal kami kunjungi juga ada emasnya, bahkan ada beberapa lokasi di sepanjang alirannya yang sudah ditambang secara tradisonal oleh warga. Nah, peralatan berat sama besi-besi besar ga jelas bentuknya yang kemarin kami lihat di Cihurip itu untuk keperluan pembangunan dan perbaikan prasarana dan sarana perusahaan pengelola tambang. Kata bapa guide ini juga, kades di tempat Curug Nyogong ini ade kandungnya.

Dari bapa ini juga, saya jadi tau ada beberapa air terjun lagi di daerah sana yang belum banyak orang tau, berhubung aksesnya yang emang susah dan masih banyak cerita-cerita setempat, katanyaaaa. Apapun yang ada di puncak Gunung Limbung atau bener apa ngganya Curug Nyogong ada penambangan emasnya, sampe saat ini saya belum dapet informasi akurat lagi. Hanya sebatas beberapa penelitian di skripsi di beberapa kampus di Indonsia yang memang meneliti tentang potensi/dugaan kandungan emas di jalur pegunungan Selatan Jawa Barat (Garut, Sukabumi) seperti yang ada di Cineam, Kabupaten Tasikmalaya.

Bapa ini juga ngasih tau kalau di puncak Gunung Limbung ini masih banyak hewan liarnya, termasuk kucing besar. Kalau ular atau serangga-serangga lain sih udah ga usah ditanya. Bapa ini pernah liat ular yang ukurannya cukup gede di sekitar aliran sungai. Untuk kucing besar, kata bapa ini biasanya kalau kabut turun, mereka juga keluar. Aliran sungai di puncak gunung ini jadi tempat minumnya.

Di sekitar sungai, tanahnya datar dan cukup luas untuk ngebangun tenda, hanya ya harus hati-hati dengan masih adanya beberapa binatang yang emang lebih dulu tinggal di sana. Ga heran sih, hutan ini kalau diliat di peta, cukup luas dan masih sangat alami. Yang dimanfaatin masih hanya bagian yang deket sama jalan dan permukiman penduduk, selebihnya, ga ada yang pernah ngusik. Selama kami ngobol, ternyata teman yang jalan duluan pun jaraknya masih cukup dekat dengan saya dan menurut bapa ini dengan kondisi kaya sekarang, seengganya masih diperluin waktu satu jam lagi sampai di puncak. 

Satu jam dengan cuaca yang udah berubah jadi mendung dan kabut juga udah tebel di atas sana membuat kami harus balik arah dan turun ke kebun teh. Bapa ini pun ga menyarankan kami untuk nerusin perjalanan. Kali ini plan B, kami coba jalur yang ngarah ke bawah air terjun. Seperti yang disebutkan di beberapa sumber dan sesuai dengan namanya, Curug Tujuh Neglasari merupakan air terjun yang aliran jatuhannya bertingkat-tingkat dari puncak gunung sampai ke pinggir jalan, nah, kami sekarang menuju salah satu tingkatannya yang kata bapa ini ada kolam kecilnya dan masih di tengah hutan tentunya.

Kami pun turun dengan susah payah. Setibanya di kebun teh, tiba-tiba bapa ini dapet telepon dari rumahnya. Beberapa hari yang lalu, adiknya jadi korban tabrak lari di Cisompet dan pelakunya baru ketangkep. Sekarang, polisi ada di rumah bapa ini dan minta untuk segera pulang. Kami pun ga bisa apa-apa dan hasilnya kami hanya dikasih sedikit petunjuk jalan yang harus kami ambil sama goloknya untuk buka jalur. Entah bener atau ngga, tapi kayanya bener ngeliat raut muka sama gelagatnya yang berubah drastis. Setelah pamitan, tinggalah kami berlima yang celingukan. 

Tanggung udah nyampe sini, kami pun jalan sendiri. Kali ini ke arah yang bverlawanan dari arah pertama kami masuk kebun teh. Jalan yang kami tempuh kali ini melipir tebing sisi lain dari Gunung Limbung. Jalannya sedikit lebih mudah dan lebih jelas. Jalan setapak yang juga berlumpur jadi medan utama. Sekitar lima belas menit kami jalan melipir tebing, kami ketemu aliran sungai dan kolam yang lumayan kecil sebelu akhirnya jatuh lagi. Kami curiga ini bagian dari aliran Curug Tujuh Neglasari. Kami terus jalan. Kali ini kami masuk hutan lagi dan jalan setapaknya mulai ilang. Ternyata disini banyak botol minuman gambar bintang sama bungkus rokok.

Di tempat kaya gini masih ada juga warga yang kelakuannya kaya sampah. Di tengah hutan, kami nemu lagi aliran sungai dan disini juga jalannya bercabang. Satu yang makin ke kanan dan masuk ke hutan, ngejauhin areal kebun teh Neglasari, yang satu yang ke arah puncak gunung. Saya, sepupu, dan satu temen nunggu di pinggir aliran sungai, sementara yang dua ngecek masing-masing jalur. Lumayan juga kami nunggu di sini, akhirnya kami kumpul lagi. Jalan ke arah hutan kayanya ga memungkinkan, tapi jalan yang kearah gunung mungkin jalannya, hanya mentok.

 

Temen saya naik sampe jalannya bener-bener mentok dan harus sedikit buka jalur. Jalur berikutnya malah sedikit memutar dan ngejauhin aliran sungai. Dari tempat dia terakhir, puncak aliran Curug Tujuh Neglasari masih jauuuuh dan kalau diterusin ngikutin jalur yang seadanya, malah ngejauhin dan makin ga keliatan, karena ragu, akhirnya turun lagi. Setelah dipikir-pikir, akhirnya kami pun mutusin untuk balik ke Desa Neglasari. Ga jelas juga jalannya yang mana, siapa tahu semuanya bukan jalur yang sebenernya. Yah, maklum namanya juga ditinggalin sama guidenya. Kami pun balik arah.

Sampai di sungai yang pnya kolam cukup luas, dua temen saya penasaran untuk jalan ke arah atasnya, yang lainnya termasuk saya nunggu. Selama nunggu, cuaca berubah lagi, kali ini mataharinya keluar dari awan. Beda jauh sama pas tadi kami naik ke Gunung Limbung. Satu orang temen saya balik ke tempat kami nunggu, katanya mereka nemu gua, woow. Kami pun ke arah gua yang dimaksud. Ternyata gua yang dimaksud itu aliran air di atas sungai tempat saya nunggu. Jadi aliran sungainya masuk ke dalam bongkahan batu-batu yang besar dan ngebentuk ruangan sempit di sekitar aliran air. 

Pintu masuknya berupa celah sempit diantara dua batu yang gede banget dan ga jauh dari celah itu jalan udah kegenang air. Makin ke dalem ruangan dari tumpukan batu-batu gede ini, genangan airnya makin tinggi. Tepat diujung paling dalem di gua ini ada aliran air yang lumayan deres, malah sebenernya ini air terjun. Kata dua temen saya yang deketin air terjun ini, di balik air terjunnya ada jalan dan aga nanjak, jadi semacem gua dalam gua. Air terjun di dalam gua ini ga terlalu tinggi dan landai, jadi kalau jalan ngelawan arus air terjun, mungkin bisa aja keluar dari gua dan sampe di tingkatan atas dari curug di gua ini. Seingat saya, selama masih ada bapa guide, beliau ga nyebut-nyebut ada gua atau air terjun di bawah bongkahan batu gede. Lumayanlah nyasar yang menghasilkan.

 

Hampir satu jam kami di dalem gua ini, tepat jam 11.00 WIB kami keluar dan mutusin buat turun dan pulang ke Bandung. Perjalanan pulang sedikit lebih lama karena sendal sepupu saya yang copot karena keganasan trek Gunung Limbung tadi diperparah dengan trek ke Curug Tujuh Neglasari dari sisi lainnya. Siapa sangka dengan copot totalnya sendal sepupu saya, kami nemu spot untuk ambil foto Curug Tujuh Neglasari sedikit lebih deket daripada spot yang ada di pinggir jalan. Bener-bener nyasar yang menghasilkan.

Kami jalan turun sekitar tiga puluh sampai satu jam dengan cuaca yang berubah-rubah. Ketika kami masuk ke gua masih ada terik sinar matahari, begitu keluar gua dan sampai di batas kebun teh Neglasari mendung. Sampai di rumah Pa RW, ternyata Pa RW udah tau kalau bapak yang guide kami pulang duluan. Setelah semua ganti baju dan beres-beres, kami pamit dan langsung menuju Bandung. Kayanya Curug Nyogong lain kali aja kami datengin. Sepanjang jalan mulai dari rumah Pa RW sampai masuk perkebunan teh Cikajang mendung, bahkan sempet gerimis. Di perbatasan kebun teh sama Cikajang ujan deres, bahkan jalan pun sampe ga keliatan. Keluar Cikajang, tepatnya selepas Cisurupan ujan reda dan mendung sampai Cicalengka. Sekitar jam 16.00 WIB kami sudah sampai di Bandung dan sepupu saya pun selamat dari ketinggalan travel ke Jakarta.

 
Leave a comment

Posted by on January 30, 2015 in AIR TERJUN, Travelling

 

CURUG CIBADAK 15 DESEMBER 2012

upload-16

Kali ini hunting curugnya sedikit berbeda, berhubung ampir semua temen yang ikut motoran huntng curug beberapa minggu kemarin banyak yang ga bisa dan kebeneran ada sepupu yang lagi maen ke Bandung, jadi kali ini ceritanya nyulik sepupu yang dateng dari jauuuuuh, dari Bekasi (oke, becanda). Berhubung pergi sama sepupu, jadi bisa pinjem mobil di rumah, kebeneran juga ada dua temen saya yang mau ikut & bisa nyetir juga, terkumpulah kami berlima. Berhubung waktunya aga nyantei, kali ini say adan seorang temen saya yang dari beberapa minggu kemaren ikut motoran hunting curug mau nyoba keberuntungan ke Curug Tujuh Neglasari, yang artinya untuk weekend kali ini kami nginep. Demi Curug Tujuh Neglasari yang sampai sekarang (2015) masih minim info.

 upload-15

Sabtu, 15 Desember 2012

Ngaret, seperti biasa, janjian pergi jam 06.00, baru bener-bener keluar dari Bandung jam 08.00, tapi kami beruntung lalu lintas ga terlalu macet, kami lolos dari macet di sepanjang jalur Cibiru-Cileunyi. Lepas pertigaan Cileunyi, jalanan cukup lancar, bahkan sampe Garut, kami ga kena macet. Kami masuk Garut sekitar jam 10.00 dan kami langsung menuju arah Cikajang tanpa berhenti dulu. Lalu lintas mulai kerasa sepi selepas pertigaan pasar Cisurupan, sampai Cikajang. Masuk perkebunan teh Cikajang, sedkiti berawan, tapi langit birunya masih keliatan dan ga ada kabut. Masuk perkebunan teh, lalu lintas sedikit ramai, ternyata banyak juga motor yang lewat dan ada juga yang berenti di satu batu besar untuk foto-foto. Kami ga buang waktu karena masih ragu jalan kaya apa yang bakal kami lewatin, jadi, sebisa mungkin kami ga banyak berhenti.

 upload-141

Cuaca cukup mendukung, berawan, masih ada sinar matahari, masih keliatan langit biru, ga ada kabut, meskipun di seberang kami, tepatnya arah Timur langitnya udah aga gelap. Singkat cerita, kami masuk Hutan Gunung Gelap, artinya harus siap-siap untuk cari jalan masuk ke Kecamatan Cihurip. Seingat saya, jalan menuju Kecamatan Cihurip sedkiti nyempil, tepat di tikungan, tetapi ada gapura yang tulisannya “Selamat Datang di Kecamatan Cihurip”. Sebenernya tikungan dan gapura ini bakalan lebih jelas keliatan kalau dari arah Cisompet. Patokan saya yaitu ada warung nasi tepat sebelum tikungannya. Sekitar jam 11.00, kami sampai di warung nasi yang jadi patokan. Sambil bungkus untuk makan siang, sambil nanya tentang Curug Cibadak yang mau kami datengin. Maklum, Curug Cibadak juga masih minim info. Ternyata kata bapak yang punya warnas, arah kami sudah benar, dan emang bener ada Curug Cibadak, malahan bapa itu cerita-cerita lokasi curugnya ada di pinggir jalan banget, ada dua curug di Cihurip yang udah dikenal warga setempat, katanya lagi, kalau ke Curug Cibadak pas banget sambil botram. Air Curug Cibadak jernih meskipun musim hujan kaya sekarang, malah, katanya lagi, lagi bagus-bagusnya, nah cocoklah. DI warnas itu ada juga bapa-bapa yang pake seragam pemda, ternyata pegawai kehutanan, malah sempet nawarin kami untuk nganter ke Sancang (emang sempet nanya kalau ke Sancang masih jauh atau ngga). Jalur yang bapa ini sebutin kayanya jalur potong, soalnya ga nyebut-nyebut Pameungpeuk. Karena bukan tujuan utama kami, akhirnya tawaran bapak itu pun terpaksa kami tolak dan segera pamit untuk nerusin jalan.

 upload-131

Kami masuk gapura dan sambil inget-inget arahan jalur bapak di warung nasi tadi, sambil liat-liat kondisi jalan dan pemandangannya. Ternyata jalur ini makin lama makin turun ke arah jurang dan akhirnya saya inget. Sepulang dari Curug Tujuh Neglasari sekitar dua minggu yang lalu, di hutan Gunung Gelap, ga sengaja saya liat di dasar jurangnya ada jalan dan lumayan mulus ke arah bukit di seberang jurang, ternyata jalan itu jalan yang kami lewtin sekarang menuju Desa Cisangkal. Jalan makin turun sampe akhirnya kita ada di dasar jurang. Kami harus lewatin jembatan untuk nyebrang ke bukit di depan. Sungai yang dilewatin jembatan ini alirannya cukup deras tapi jernih banget. Cuaca mulai mendung, udah ga ada matahari ama langit biru, kabut mulai nutupin puncak perbukitan. Lumayan juga beberapa pas tikungan pas jalannya jelek, jadi harus hati-hati juga. Pemandangan mulai kebuka, deretan pegunungan dengan kabut di puncaknya jadi pemandangan utama.

 upload-121

Ga lama, kami mulai nemuin beberapa rumah, lahan sawah, beberapa embung, kebun warga, hutan bambu, seengganya sampe tiga puluh menit kemudian, pemandangannya sedikit kebuka. Mulai keliatan lembah-lembah dengan kelompok-kelompok kecil permukiman warga tersebar. Jalanan mulai makin menurun dan makin jelek. Mobil kami beberapa kali papasan sama truk pengangkut bambu, ada juga truk yang searah dengan kami, selebihnya hanya sepeda motor yang lewat sini. Ga berapa lama, view lumayan kebuka di sisi kanan kami, sisi kiri kami masih sama, areal sawah yang dibatasi tebing perbukitan di sepanjang jalan. Pemandangan di sini cukup bagus. Garis pantai dan awan hujan dengan ketinggian cukup rendah dan area sekitar pantai yang cerah cukup untuk jadiin tempat ini spot foto-foto sebentar.

 upload-112

Beres foto, kami masih nyusurin jalan yang terus turun sampe akhirnya nyampe di jembatan yang kondisinya kurang baik, tapi ada beberapa alat berat dan beberapa peralatan besi yang lumayan gede untuk dipasang didaerah ini, ah, mungkin beberapa jembatan di sini mau diperbaiki. Selepas jembatan, jalan lumayan datar, tapi tetep batu-batu. Jalanan di daerah sini udah lumayan kering, jadi ga terlalu licin meskipun jalannya batu-batu. Di sepanjang jalan yang udah mulai masuk area permukiman ini lumayan banyak persimpangan, jadi kalau mau ke Curug Cibadak ga ada salahnya nanya warga. Warga di sini udah pada tahu lokasi Curug Cibadak. Pemandangannya dominan permukiman warga dan dikejauhan sedikit keliatan laut yang juga masih cerah, di sisi jalan lainnya, tebing perbukitan masih ngiringin jalan menuju ke Curug Cibadak. Berhubung ini Desember, yang umumnya bulan dengan curah hujan cukup tinggi, jadi, cuaca dari tadi ga konsisten. Kadang cerah, langsung mendung lagi, gerimis sebentar, berhenti trus mendung lagi, gitu aja terus berulang-ulang. Sedikit ragu ini jalan ke Curug Cibadak, soalnya makin lama permukimannya makin sedikit dan tebingnya sedikit menjauh. Di satu titik, perjalanan kami kehambat. Jalan lagi di aspal, jadi kita berhenti dulu sekitar tiga puluh menit dan pas kami berhenti, pas gerimis lagi. Kalo udah gini, saatnya istirahat sejenak, saya sih milih buat istirahatin mata. Yang lain ada yang ngopi di warung, ada juga yang milih tidur nyenyak.

 upload-101

Sekitar tiga puluh menit, ujan reda, aspal pun udah bisa dilewatin, kami pun ga buang-buang waktu langsung jalan lagi. Kata warga sih, lokasi Curug Cibadak udah ga jauh, sebentar lagi juga sampe. Cukup kaget juga jalan di daerah sini akhirnya di aspal, dan warga pun ga kalah kagetnya, ada juga mobil dari kota yang lewat ke sini. Setelah ngelewatin titik terakhir pengaspalan jalan, ternyata jalannya sedikit lebih parah. Batuannya banyak yang ilang, jadilah otomatis lumpur yang ada di permukaan jalan. Selain itu, jalannya pun mulai turun lagi. Kali ini di kanan dan di kiri kami pohon bambu yang lumayan rapet, jadi jalannya sedikit gelap. Lumayan bahaya juga kalau jalan di sini pas mulai sore. Ternyata setelah turunan jalan kembali datar, tapi kali ini di sekeliling kami kebun sawit. Jalannya mulai lebih banyak lumpur daripada batuan. Kami sempet berhenti sebentar untuk nunggu truk muat sawit, berhubung jalannya cukup sempit. Setelah diliat-liat lagi, jalan yang harus kami ambil ilang. Ternyata jalan yang harus kami lewatin masuk ke arah pepohonan sawit di depan kami. Jarak antar pohon cukup rapet, jadi jalannya bener-bener gelap, ga keliatan, apalagi jalannya lebih banyak tanah, jadi ga ada bedanya sama tanah di sekeliling areal perkebunan. Setelah truknya beres ngangkut sawit, kami pun jalan lagi. Ternyata jalan yang harus kami lewatin di dalem kebun sawit ini ga terlalu panjang. Keluar dari kebun sawit, jalan yang kami lewatin balik lagi kaya semula, tebing pegunungan di sisi kiri dan areal sawah dan kebun di sisi kanan, jalan pun kembali naik-turun.

 upload-91

Di tikungan yang kesekian dengan medan yang menanjak, akhirnya kami nemu apa yang kami cari, Curug Cibadak. Tepat di depan kami (kalau pas di tikungan) dan airnya jerniiiih, lumayan gede, dan tinggi juga ternyata. Nah, akhirnya yang kami cari-cari dari tadi ketemu juga dan bener kata bapa di warung nasi tadi, bener-bener di pinggir jalan!. Untungnya kami naik mobil gini, meskipun jalan kecil dan bener-bener ga ada lahan parkir, ga ada satupun yang lewat, bahkan sepeda motor pun ga ada. Mungkin efek ujan kali ya. Di sekitar Curug Cibadak ini emang bener-bener ga ada rumah, ga ada warung, ga ada juga yang lagi garap sawah atau lagi berkebun, kayanya bener-bener efek ujan, jadi ga ada orang satu pun di sekitar sini. Setelah dapet lahan sempit buat parkir, yang sebenernya aga maksa juga, kami pun langsng cari spot buat nikmatin Curug Cibadak.

 upload-82

Nasib kami ga jauh beda dari nasib mobil yang ga dapet tempat parkir, kami pun ga dapet spot yang bagus buat nikmatin ama ambil landscape Curug Cibadak utuh. Curug Cibadak ini bener-bener tinggi, jadi kalau berdiri di depan air terjunnya, aga susah dapet dua tingkatan teratas. Temen saya ternyata masih keukeuh nyari tempat yang enak buat nyimpen mobil, soalnya tempat kami nyimpen mobil aga jauh dan ga keliatan. Kami pun mencar, dua temen saya balik ke mobil, temen saya yang dua lagi jalan-jalan di deket air terjun, saya tetep di jembatan di depan air terjun. Ga lama, dateng dua anak kecil pake sepeda. Dengan cueknya, mereka buka kaos dan terjun ke bagian seberang air terjun yang sekaligus jadi aliran sungai kecil. Saya, sempet iseng nanya pas mereka lagi berenang di air yang aslinya dingin banget ditambah cuaca yang emang dingin. Kata mereka, mereka tinggal ga jauh dari Curug Cibadak dan ujung jalan ini katanya tembus ke pantai tapi jalannya ga bisa dilewatin sama mobil. Desa terakhir yang bisa dilewatin mobil sekaligus rute terakhir ELF yaitu Desa Cisangkal. Sekitar lima belas menit, dua anak ini naik dan pamit pulang. Seger bener liatnya.

 upload-72

Akhirnya temen saya mutusin buat mindahin mobilnya, tepat di samping jembatan, masih aga maksa juga sih, cuman seengganya deket sama tempat kita hunting spot foto. Temen saya yang lainnya nemu spot yang cukup lumayan buat ngambil foto Curug Cibadak. Tempatnya ada di seberang Curug Cibadak, tepatnya di areal kebun warga. Untuk sampai ke spot kami, yang kebeneran kebunnya masih belum ditanam, kami harus naik dulu ke gubug kecil trus jalan sedikit ke belakang gubugnya. Sampailah kami di areal yang cukup luas karena belum ditanam dan Curug Cibadak tepat di depan kami. Meskipun tempat udah cukup bagus buat ambil foto, tapi tetep aja masih kurang, soalnya pas di depan kami, kabel listriknya lumayan banyak dan ga ada satupun dari hasil jeretan kami semua yang bisa motong kabel listriknya. Puas foto-foto, sekitar jam 13.30, kami pun isi perut dulu. Berhubung udah mulai mendung lagi, abis makan kami foto-foto lagi sebentar trus mutusin buat ke Curug Tujuh Neglasari berhubung jaraknya lumayan jauh dari sini. Selagi kami makan, bener-bener ga ada yang lewat di jalan utama selain ELF jurusan Cisangkal yang udah ampir kosong dan beberapa sepeda motor. Selesai makan, kami pun beresin sampahnya, foto-foto terakhir, langsung turun ke arah mobil. Pas sampe di pinggir jalan, langsung ujan deres. Untung parkir mobil udah dipindahin jadi lebih deket, jadi ga terlalu basah.

 upload-62

Sepanjang jalan ke arah jalan raya Cikajang-Pameungpeuk ujan ga berenti, bikin jalannya jadi lumayan lebih licin, apalagi bagian deket jembatan di dasar jurang. Bagian jalan yang tadi lagi di aspal udah ga ada orang sama sekali, beberapa warung yang pas kami dateng rame sama warga dan anak-anak yang bubar sekolah mulai aga sepi. Sebenernya masih ada satu air terjun lagi, Curug Nyogong yang masih harus masik lagi ke jalan kecl ke desa sebelah, tapi berhubung udah sore, ujan lumayan lama dan deres, belum tau juga jalannya arahnya kemana, ga tau kondisi jalur trekkingnya dan lain sebagainya, akhirnya kami pending buat ke curug ini dan kalau besok masih sempet, mungkin balik lagi. Begitu sampe di jembatan yang banyak alat-alat beratnya, ternyata besi-besi gedenya lagi ditarik buat dipindahin. Sepanjang jalan lumayan sepi, ga papasan sama kendaraan apapun. Sampe di jembatan deket pertigaan Cihurip-Cisomet-Cikajang, kami berento sebentar. Biarpun abis ujan lumayan deres dan lama, air sungainya tetep jernih. Kami foto-foto sebentar soalnya ga lama mulai gerimis lagi. Akhirnya kami sampe di pertigaan tempat tadi siang kami beli makanan buat makan. Kami nerusin jalan ke arah Cisompet. Begitu keluar dari pertigaan, langsung ujan deres.

 upload-52

Kami sampe di bekas warung deket perbatasan hutan sama kebun teh Neglasari, di sini kami berenti dulu di tempat yang emang bisa liat Curug Tujuh Neglasari dengan jelas dari pinggir jalan. Berhubung temen saya mau hunting ke sungai yang ada di pinggir jalan, jadi kami berenti lumayan lama di sini. Lumayan sambil iseng-iseng ambil foto Curug Tujuh Neglasari sambil liat-liat curug yang rencananya bakal kita datengin besok. Kami berenti di pinggir jalan ini lumayan lama sekitar tiga puluh sampe ampir satu jam, akhirnya kami jalan lagi non stop sampe ke Pameungpeuk. Rencananya kami nginep di areal Pantai Santolo. Berhubung ada satu temen saya yang baru minggu lalu ke Pantai Santolo dan dapet penginepan yang aga lebih murah dari yang laen, kayanya malem ini kami nginep di sana aja deh. Ga jauh dari tempat kami berenti, kami sampe di tempat tambal ban yang sekaligus juga perbatasan Kecamatan Cikajang sama Kecamatan Cisompet. Kami jalan nonstop sampe ke Pameungpeuk. Di tengah jalan kami sempet kena ujan deres lagi, tapi begitu udah ampir sampe ke daerah pesisir, ternyata ujannya udah lama berenti, jadi cuman kebagian jalan basahnya aja.

 upload-15

Sampe di area Pantai Santolo, kami ke penginepan yang minggu lalu dipake temen saya. Setelah deal harga, nurunin barang, dan istirahat sebentar, kami pun ke Pantai Santolo, ceritanya mau sunset. Sampe Pantai Santolo, ternyata mendung parah, jadi cuman kebagian sunsetnya bener-bener secuil. Biarpun mendung dan ga dapet sunset, tapi ga tau kenapa kami betah-betah aja ni diem di pinggir pantai. Sampe bener-bener gelap, kami baru balik ke penginepan, untungnya penginepannya deket sama jalan ke pantai. Sampe penginepan, kami mandi trus cus buat beli makan malem. Lumayan bingung juga makan di mana, soalnya daerahnya masih sepi, ga kaya Pangandaran yang buat jalan kaki aja susah saking ramenya. Kami juga sekalian cari ATM, akhirnya kami nyusur ke arah Barat. Lumayan jauh juga, sampe akhirnya kami berenti di mini market waralaba. Saya sama dua orang temen saya tunggu di mobil, sepupu saya ke dalem buat ke ATM, temen saya yang satu cuman jalan-jalan aja di luar mobil. Di tempat parkirnya lumayan rame, ada beberapa yang jualan makanan, yang nungguin kendaraannya di halaman, beberapa orang yang emang cuman lewat, sama satu yang harusnya ga ada di sana.

 upload-42

Lagatnya sih ni orang kaya orang stres, tiap yang parkir motor di sana, dia datengin trus dicuekin abis-abisan ama tiap yang dia ajak ngobrol. Baru aga lama ketauan kalo ni orang aga mabok, dasar sampah! Temen saya yang lagi di luar toko pun didatengin, dan entah ni sampah satu ngomong apaan, untungnya temen saya ini cuek dan nanggepin ogah-ogahan sampe akhirnya si sampah busuk ini pergi sendiri. Temen saya pun masuk mobil. Ni sampah satu nyamperin pengunjung lainnya di tempat parkir. Kata temen saya, tu sampah emang mabok, dia nanya ada cewe ga di dalem mobil, katanya mau soalnya dingin. Dasar sampah, mudah-mudahan sekarang udah mampus ya, nyampah aja idupnya, ga guna. Temen saya cuman jawab, ada. Si sampah nanya-nanya kami nginep di mana, dan dijawab seenaknya aja ama temen saya. Untungnya sepupu saya juga beres ambil uang, jadi temen saya pun masuk mobil dan kita pun cabut dari sana. Akhirnya kami bungkus makanan seadanya lumayan deket dari area Pantai Santolo, balik ke penginepan, makan, terus tidur sekitar jam 21.30.

upload-32

upload-22

 
Leave a comment

Posted by on January 30, 2015 in AIR TERJUN, Travelling

 

RAWA GEDE PASIRKUDA

Kabupaten Cianjur memiliki dua buah danau bernama Rawa Gede. Rawa Gede pertama terletak di Desa Simpang, Kecamatan Pasirkuda, sedangkan Rawa Gede yang kedua berada di Desa Rawagede, Kecamatan Tanggeung. Rawa Gede yang akan dibahas kali ini merupakan Rawa Gede yang secara administratif berada di Desa Simpang, Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°11’30.1″S 107°11’24.2″E.

Terdapat empat akses masuk menuju Rawa Gede, pertama melalui Kecamatan Pagelaran, tepatnya melewati Rawa Galuga, kedua melalui Jalan Raya Pagelaran, yang ketiga melewati Kecamatan Pasirkuda, dan yang terakhir melalui Desa Pasirpari Kecamatan Tanggeung. Sedangkan untuk titik awal perjalanan dapat dimulai dari Kota Cianjur dan Kota Soreang. Akses melalui Kota Soreang merupakan jalur yang sama dengan yang menuju Curug Citambur. Jalur dari Kota Soreang melalui Perkebunan teh Rancabali, Perkebunan teh Sinumbra, Desa Cipelah, Desa Karangjaya (lokasi Curug Citambur) hingga pertigaan Desa Simpang menuju Rawa Gede.

Kondisi jalan melalui jalur ini akan cukup baik hingga Desa Cipelah. Setelah Desa Cipelah, kondisi jalan akan sangat buruk dengan medan dominan berupa turunan panjang. Jalan merupakan batuan besar yang sebagian sudah hancur dan sebagian lagi batuannya mudah terlepas sehingga cukup licin. Kondisi jalan ini akan ditemui hingga perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Cianjur. Memasuki Kabupaten Cianjur, kondisi jalan akan sangat mulus hingga ke pertigaan Desa Simpang. Memasuki Desa Simpang kondisi jalan semakin lama semakin menyempit dan mulai berubah dari aspal, semen, hingga pada akhirnya menjadi jalan batu hingga ke Rawa Gede. 

Akses melalui Kecamatan Pagelaran merupakan jalur tembus dari Rawa Galuga di Desa Bunijaya. Akses ini cukup sulit karena kondisi jalan yang sangat buruk sepanjang menuju Rawa Gede. Jalan berupa batuan tajam yang sudah tertanam sehingga tidak akan terlalu licin, dengan medan yang bervariasi. Terkadang jalan akan berupa tanjakan-tanjakan dengan tikungan serta turunan panjang yang cukup curam. Jalan sepanjang Rawa Galuga hingga ke Rawa Gede hanya cukup untuk dua motor atau satu mobil jenis jeep dan mini bus, tetapi ada beberapa titik yang tidak dapat dilalui oleh mobil.

Titik yang tidak dapat dilewati diantaranya berupa jembatan dan beberapa titik yang memang memiliki lebar jalan yang sangat sempit. Jalur ini melipir tebing Gunung Kendeng yang pada umumnya berupa hutan, kebun, dan areal sawah yang cukup jauh dari permukiman. Di beberapa tempat, jalan memang akan melewati dekat permukiman penduduk, tapi secara keseluruhan, jalur ini akan terus berada di pinggir tebing di dalam hutan. Hampir semua jembatan yang berada di jalur ini berada dalam kondisi yang sangat tidak layak. Lebarnya hanya cukup untuk satu buah sepeda motor dengan permukaan jembatan berupa kayu yang sudah lapuk, bahkan bolong, batang kayu yang ditanam, beton tanpa penyangga samping, dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini tentu tidak akan memungkinkan untuk dilewati oleh mobil. 

Jalur dari Rawa Galuga menuju Rawa Gede ini pada akhirnya akan bertemu dengan jalur yang berasal dari jalan utama Kecamatan Pagelaran. Jarak dari jalan raya utama hingga Rawa Gede hanya 9,9 Km tertera pada peta, tetapi medan yang harus dilalui akan membutuhkan waktu tempuh lebih dari waktu tempuh normal untuk melalui 9,9 Km. Jalur ini melewati areal hutan, kebun, dan sawah yang berada tidak jauh dari tepi jurang. Jalan masuk melalui jalur ini berada di Desa Padamaju, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur. Jalur ini akan bertemu dengan jalur yang berasal dari Rawa Galuga.

Persimpangan jalur ini juga sebagai pembatas administrasi dua kecamatan dan tiga desa, yaitu perbatasan antara Desa Buniwangi Kecamatan Pagelaran dengan Desa Padamaju Kecamatan Pagelaran, dan dengan Desa Simpang Kecamatan Pasirkuda. Jalur melalui Desa Padamaju ini juga akan berada cukup jauh dari permukiman penduduk. Dasar jurang yang berada tidak jauh dari jalan berupa aliran sungai yang cukup deras dan besar yang berhulu di Gunung Gedogan. Medan jalan berupa bebatuan akan menjadi medan jalan utama hingga tiba di Rawa Gede. 

Jalur termudah sekaligus tersingkat menuju Rawa Gede yaitu jalur yang melewati Desa Simpang dari Kota Soreang. Bila datang dari arah Kota Cianjur sebaiknya mengambil jalan masuk dari akses masuk keempat yaitu Desa Pasirpari, Kecamatan Tanggeung sehingga tidak perlu melewati Rawa Galuga di Kecamatan Pagelaran. Jalur ini memiliki titik awal yang sama dengan titik awal pada jalur Rawa Galuga dan Desa Padamaju.

Setelah SPBU Pagelaran, akan ditemukan papan penunjuk jalan menuju Curug Citambur, ambil jalur tersebut hingga pertigaan Desa Simpang tepat sebelum kantor kecamatan Pasirkuda. Jalur ini merupakan jalur termudah meskipun jaraknya lebih jauh bila dibandingkan dengan jalur Ciwidey-Cipelah-Pasirkuda, tetapi memiliki kondisi jalan yang cukup baik hingga pertigaan Desa Simpang. Untuk mengunjungi Rawa Gede, sebaiknya pada awal musim hujan dan awal musim kemarau mengingat kondisi jalan yang cukup buruk dan kondisi di sepanjang jalur yang rawan longsor. 

Letak Rawa Gede yang berada di lereng (yang saat ini dinamai oleh warga) Gunung Simpang dengan kondisi jalan yang buruk menjadikan tempat ini hanya dikenal sebatas warga setempat saja. Pada umumnya warga di sekitar Desa Bunijaya, Padamaju, Pasirkuda, Tanggeung sudah mengetahui keberadaan dan kondisi akses menuju Rawa Gede. Pemanfaatannya pun tidak kalah sempitnya, hanya dimanfaatkan untuk pengairan lahan sawah yang memang cukup luas di sekitar Desa Simpang dan Desa Padamaju. Budidaya ikan menjadi pilihan warga di dekat Rawa Gede sebagai pemanfaatan lain Rawa Gede. Rawa Gede dapat dilihat dari jalan Desa Padamaju-Desa Bunijaya yang letaknya sedikit lebih tinggi. Pemandangan terbaik akan didapatkan pada siang menuju sore hari karena sinar matahari tidak akan terlalu terik dan pada saat siang menuju sore sinar matahari pada titik ini tidak akan terhalang oleh deretan perbukitan. 

Belum ada ukuran yang pasti mengenai kedalaman dan luas Rawa Gede yang akurat, tetapi bila dibandingkan dengan Rawa Beber dan Rawa Galuga, Rawa Gede memiliki ukuran yang lebih kecil. Bagian pinggir Rawa Gede sudah diberi dinding beton seluruhnya, sehingga bila memutari Rawa Gede tidak perlu repot memutar seperti di Rawa Galuga. Pemandangan di sekitar Rawa Gede lebih luas karena jarak ke perbukitan cukup jauh dan pada sisi lainnya pemandangan langsung menghadap teras-teras sawah hingga tepi jurang dan tebing di kejauhan. Terdapat sekitar lima hingga tujuh rumah yang ada tepat di samping Rawa Gede. Untuk menikmati Rawa Gede pada siang hari atau pada musim hujan tidak terlalu disarankan karena tidak ada tempat berteduh di sekeliling Rawa Gede, arealnya sangat terbuka.

Tidak ada pungutan biaya retribusi apapun di sekitar Rawa Gede, hal ini mungkin didasari dari pemanfaatan utamanya yang bukan sebagai tujuan wisata. Sebanding dengan tidak adanya retribusi, di sekitar Rawa Gede pun tidak akan ditemukan fasilitas pendukung pariwisata seperti lahan parkir, papan penunjuk jalan, papan nama, faslitas peribadatan, fasilitas kebersihan, lampu, bahkan kursi dan tempat sampah, tetapi bila membutuhkan sesuatu, warga sekitar akan membantu. Meskipun Rawa Gede bukan tempat yang sudah atau akan dikembangkan menjadi tempat wisata dan tidak memiliki fasiltas apapun, tetapi pemandangan di sepanjang jalan dan keseluruhan medan yang harus dilewati, serta suasana di sektiar Rawa Gede menjadikan tempat ini cukup tepat untuk tujuan wisata yang sedikit berbeda.

 

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2015 in DANAU, Travelling