RSS

Monthly Archives: August 2014

TOURING TIKUNG MENIKUNG CURUG SANGHYANG TARAJE 10 NOVEMBER 2012

Sebenernya touring kali ini hasil dari ‘nikung’ plan awal temen-temen untuk touring ke Curug Malela. Berhubung saya tiba-tiba inget satu air terjun yang menurut saya cukup menarik dan lokasinya tidak terlalu jauh, saya coba ‘racunin’ temen-temen saya yang sebenernya lagi ribut untuk ke Curug Malela. Akhirnya setelah debat dan nambah personil, semua akhirnya sepakat untuk touring ke air terjun yang saya tawarkan, Curug Sanghyang Taraje di Kabupaten Garut.

Tahap berikutnya setelah nentuin mau kemana adalah cari personil, berhubung perempuan disini ada empat orang, jadi seengganya perlu motor yang tanpa boncengan pun empat motor lengkap sama cowo yang ngeboncengnya. Cukup ribet nyari personil dan ada sedikit konflik yang cukup bikin saya sakit kepala dan akhirnya nge-black list satu orang. Pelajaran untuk diri sendiri, seengganya kalau mau ikut satu kegiatan yang ngelibatin orang banyak, jangan bikin bingung yang bikin acara, apalagi sampe malah ngerubah plan awal yang udah jadi kesepakatan bersama. Biar di lain kesempatan, orang ga males buat ngajakin lagi. Akhirnya terkumpullah sepuluh orang dengan lima motor. Berhubung tanggal touring bertepatan sama Hari Pahlawan, jadi kita mutusin untuk pakai kostum dengan tema ‘Merah-Putih’. 

SABTU, 10 NOVEMBER 2012

 Janjian awal jam enam pagi, kenyataannya jam tujuh baru pergi dari rumah dan berkat sedikit salah paham tempat janjian, barulah jam delapan bisa kumplit. Akhirnya sekitar jam setengah sembilan kurang, kami bersepuluh pun berangkat. Baru juga jalan satu Kilometer, salah satu teman saya ternyata harus balik lagi ke rumah gara-gara Stnknya ketinggalan. Akhirnya dia mutusin buat balik lg ke rumah & nyusul.

Perjalanan ke Garut cukup lancar, biar di beberapa titik selepas Cicalengka ada razia rutin (untung temen saya mau balik lagi ambil Stnk motornya yg ketinggalan). Selepas razia, jalanan cukup rame, apalagi di daerah Nagreg sampe masuk Leuweungtiis, selepas itu lumayan sepi dan karena kita kesiangan masuk Garutnya, akhirnya harus sedikit sabar sepanjang jalur Tarogong-Cipanas. Yah, maklum Cipanas di hari Sabtu jadi tujuan wisata primadona. Kita mutusin untuk nunggu temen kita yang balik lagi ambil Stnk & ternyata jaraknya ga terlalu jauh.

Berhubung belum ada satu pun yang pergi kearah Pamulihan, jadi patokan kita adalah Kecamatan Cikajang, ELF Cikajang yang sepanjang dari Bandung cukup banyak kita temuin, ELF jurusan Bungbulang, ELF jurusan Pakenjeng & Pamulihan yang jadi ELF paling penting tapi juga jaraaaang banget kita temuin sepanjang perjalanan Bandung-Garut. Kedodolan kami dimulai ketika masuk Kota Garut. Ga ada satu pun dari lima motor ini yang pernah ngubek-ngubek jalur di Kota Garut. Akhirnya, bisa ditebak kita nyasar di Kota Garut. Untungnya insting untuk kepo ke warga setempat pun muncul, daaan akhirnya jalan yang harusnya kita ambil ada di belakang, puter araaah!! Begitu sampe ke jalan raya utama, lewatlah ELF jurusan Bungbulang, rezekiiii. Ga pikir panjang, kita akhirnya ngebuntutin ELF Bungbulang, sampe ELFnya berenti nurunin penumpang pun kita ikut berenti dengan modus nungguin yang ketinggalan.

Setelah masuk di jalur yang bener & sambil nungguin yg ketinggalan, ga ada salahnya kan nanya lagi sama warga disana. Kata Bapa yang saya tanya, kalau mau ke Cikajang, jalurnya udah bener, tinggal ikutin jalan aja dan ternyata satu arah sama Pasar Cisurupan yang untuk start pendakian Papandayan. Lumayan dapet patokan lg, abis Pasar Cisurupan, masih terus ikutin jalan sampe nemu pertigaan, nah pertigaan itu namanya pertigaan Cikajang, di sana kita disuruh nanya lagi.

Setelah semua lengkap, kita pun terusin lg perjalanan ke Curug Sanghyang Taraje yang entah masih seberapa jauh. Sempet kepikiran, takut nanti ga nyampe ke curugnya gara-gara masih ga tau jalannya kemana. Begitu lewat dari pertigaan di deket pusat Kota Garut, jalanan jadi lebih sepi, pemandangan di kanan sama kiri jalan udah ga sesumpek sebelumnya. Toko-toko dan on street parking udah ganti sama sawah yang luaaas plus background jejeran gunung-gunung di daerah Bandung & Cicalengka, deretan perbukitan di Selatan Garut dan Cikuray yang gagah di sepanjang perjalanan.

Macet cuman ada di beberapa titik pasar sama pertigaan Cisurupan. Berhubung baru pertama kali lewat ke daerah ini, jadi jalannya aga pelan-pelan dan sampe di pertigaan Pasar Cisurupan hampir jam 10.00 WIB, udah mulai ada beberapa sekolah yang bubar, telat sedikit perjalanan kita bakalan kehambat sama bubaran sekolah & jalanan rame sama anak sekolah. Selepas pertigaan Cisurupan, jalannya jadi lebih sepi dan makin lebar. Pemandangan di kiri jalan udah ganti lagi sama Cikuray dari sisi Cikajang dan aliran sungai yang berkelok-kelok dengan aliran air yang jernih, persis kaya di lukisan-lukisan ama ilustrasi buku pelajaran jaman sekolah dulu.

Selepas pertigaan Pasar Cisurupan, jalannya jadi lebih lebar dan sepi, tapi balik lagi jadi berkelok-kelok, beberapa tikungan tajam, tanjakan ama turunan lumayan berat dan bonus kondisi jalan yang aga berlubang bahkan bergelombang. Jarak dari pertigaan Pasar Cisurupan ke Pertigaan Cikajang yang jadi patokan utama kita sebenernya ga terlalu jauh, cman gara-gara baru pertama kali lewat sini, jadi waktu tempuhnya aga lama sedikit. Akhirnya kami sampai di pertigaan yang dimaksud selama nanya sana-sini sama warga, ternyata tepat di pertigaannya, ada papan penunjuk arah “Curug Kembar, Curug Orok, Curug Cikahuripan” ke arah sebelah kanan dri pertigaan ini. Begitu belok di pertigaan, jalan kembali mengecil dan berkelok-kelok, tapi ga begitu lama. Akhir jalan berkelok ditandai dengan markas KostrAD Tengkorak Putih yang gapura dan patung di atas gapuranya yang cukup bikin merinding kalau lewat pas gelap & sepi.

Setelah markas KostrAD, jalannya relatif datar dan lurus melewati permukiman warga dan kantor Desa Cikandang yang di depan kantornya ada patung sapi perah. Di sepanjang jalan ini, ada pertigaan yang menuju tempat rafting Sungai Cikandang di sisi kanan jalan. Setelah lewat pertigaan rafting tadi, jalannya jadi berkelok-kelok lagi dan perukiman penduduk di ganti dengan kebun teh. Begitu masuk perkebunan teh, tepat di tikungan ada papan ukiran yang menandakan kita sudah tiba di Desa Pamulihan. Perkebunan teh ini masih merupakan perkebunan milik PTPN VIII Kebun Papandayan. Kebun Papandayan yang sama dengan yang ada di wilayah Arjuna, Kabupaten Bandung. Kebun Papandayan ini dinamai sesuai dengan lokasinya yang memang berada di kaki Gunung Papandayan, di sisi lain Gunung Papandayan yang biasanya kita lihat dari Kecamatan Cisurupan.

Ga sengaja, kami malah nemuin pintu masuk ke Curug Orok. Untuk mastiin lagi jalan yang kami ambil ini bener, kami pun berhenti di pintu masuk Curug Orok dan nanya sama penjual di sana arah menuju Curug Sanghyang Taraje. Sempat terpikir untuk mampir dulu ke Curug Orok, tapi begitu melihat jalan masuknya yang batu-batu dan jalan ke tempat tujuan pun masih jauh, jadilah sebagian dari kami akhirnya hanya foto-foto di kebun teh Papandayan. Berhubung jalannya mulus banget, jadi ga terlalu lama kami buat sampe di PLN Sumadra dengan pemandangan Gunung Papandayan di sisi kanan jalan dan perbukitan terjal di sisi kiri jalan. Selepas PLN Sumadra, jalan kembali jelek, meskipun ga terlalu rusak dan sampailah kami di Desa Pamulihan, Kecamatan Pakenjeng dengan ditandai dengan pasar dan beberapa ELF yang parkir di sana-sini.

Kami berhenti di satu rumah makan yang banyak ELF nya, berhubung udah jam 11.00 juga, jadi sambil nanya jalan sambil bungkus untuk makan siang. Di rumah makan ini banyak ELF jurusan Bungbulang yang berenti, ELF yang jadi patokan ke-2, patokan pertama kami yaitu jurusan Pamulihan yang sedari tadi ga ada satu pun yang keliatan. Untuk satu nasi bungkus yang isinya nasi, ayam goreng, telor, sayur dan sambal yang harganya Rp. 10.000, 00 bisa dibilang murah. Ternyata kami harus belok kanan tepat setelah kantor desa Pamulihan untuk masuk jalan menuju Curug Sanghyang Taraje dari arah Cikajang, sedangkan jalan yang kami ambil saat ini adalah jalan menuju Kecamatan Bungbulang yang melewati Kecamatan Pakenjeng. Setelah mendapat sedikit petunjuk jalan dan bekal makan siang pun sudah aman, kami meneruskan perjalanan.

Kami memutar arah dan langsung belok ke kiri (jika dari arah Bungbulang). Jalan yang kami ambil kali ini sedikit lebih kecil dari jalan sebelumnya, dan tentunya lebih rusak. Selepas pasar Pamulihan, kondisi di sepanjang jalan berubah menjadi tebing dan jurang, bukan lagi pasar dan bangunan kantor. Jalan yang kami lewati pun makin lama kondisinya makin parah, tidak lagi jalan dengan permukaan aspal yang sudah mengelupas, tetapi jadi jalan yang permukaannya penuh dengan bekas tanah liat terkena air hujan, genangan air yang cukup dan menyebar di permukaan jalan, serta lumpur. Sepanjang perjalan kami dari Bandung sampai di tempat ini sama sekali ga ujan, tetapi begitu sampai di Pamulihan, awan hujan seperti sudah siap menyambut kami dan sepertinya pagi tadi daerah ini diguyur hujan yang cukup lama, jalanan dan pepohonannya sebagian masih basah.

Sebenarnya jalannya tidak terlalu berkelok-kelok dan tidak ada tikungan tajam, hanya sedikit melipir jurang dan pinggiran tebing sampai di sebuah gapura yang bertuliskan “Selamat datang di desa percontohan Desa Pakenjeng” Mulai dari sini, pinggiran jurang dan tebing berubah kembali menjadi permukiman penduduk dan sedikit areal perkebunan teh dengan kondisi jalan yang masih sama, jelek dan berlubang. Setelah desa ini habis, jalan akan sedikit menanjak, berkelok-kelok dan tepat di pinggir jurang. Sebenarnya jalan ini tidak terlalu panjang, tidak berapa lama kita kan masuk sebuah desa lagi, ikuti jalannya sampai menemukan tikungan tajam. Kebetulan pada saat kami tiba di tikungan tersebut, ada ELF jurusan Pamulihan yang sedang parkir. Tidak pikir panjang, kami pun berhenti dan bertanya pada warga jalan menuju Curug Sanghyang Taraje. Ternyata jalannya tepat berada di samping kami.

Patokannya adalah tikungan yang cukup tajam satu-satunya setelah melewati kebun teh dan ada gapura. Jalannya langsung menyempit, sangat sempit, lebarnya hanya cukup untuk satu unit mini bus, jadi kalau ada kendaraan roda empat papasan akan sangat sulit. Selain jalannya yang menjadi sangat sempit, kondisinya sedikit lebih rusak dari jalan utama Desa Pakenjeng – Kampung Kombongan. Nama tempat Curug Sanghyang Taraje berada yaitu Kampung Kombongan Hilir. Warga di Desa Pakenjeng, bahkan di Kecamatan Pamulihan sudah cukup akrab dengan Curug Sanghyang Taraje, jadi tidak perlu terlalu khawatir kesulitan mencari lokasi air terjunnya.

Begitu kami berbelok ke jalan kecil menuju Curug Sanghyang Taraje, medannya langsung menurun cukup terjal, setelah itu sedikit berkelok-kelok. Medan turunannya cukup terjal dan panjang, dengan sawah dan jurang di sisi kanan dan kiri jalan. Beruntung kami menggunakan sepeda motor, karena jika menggunakan mobil, sepertinya tidak memungkinkan. Pemandangannya berganti dari sawah dan jurang menjadi tebing dan jurang-jurang yang cukup lebat dengan pepohonan, setelah itu berganti menjadi jurang yang sangat dalam di kedua sisi jalan.

Di seberang jurang sebelah kanan terlihat beberapa bagian bukit yang ditambang secara tradisonal. Kerusakan lahan dan potensi longsor sangat terlihat jelas dari sini. Sisi perbukitan yang hijau langsung jelas berubah menjadi lahan tandus karena pertambangan galian tipe C yang masih berlangsung. Di kiri dan kanan jurang terdapat aliran Sungai Cikandang yang aliran airnya terbagi menjadi dua aliran. Aliran sungai yang berada di sisi kiri jalan merupakan aliran sungai yang sedikit lebih desar dengan ukuran sungai yang lebih lebar. Aliran sungai inilah yang pada akhirnya menajdi aliran Curug Sanghyang Taraje.

Kondisi jalannya cukup bagus, hanya medannya saja yang sedikit berbahaya, jalan yang sangat sempit dan diapit jurang yang sangat dalam, beberapa titik yang jalannya patah, jalan yang licin karena hujan dan longsoran tebing, serta kabut yang tidak menutup kemungkinan turun dan cukup tebal. Tidak berapa lama dari lokasi kami melihat pertambangan di lereng bukit seberang jurang sisi kanan, di sisi kiri jalan, kami akhirnya melihat Curug Sanghyang Taraje. Curug Sanghyang Taraje yang kami lihat ketika itu alirannya sangat deras tetapi jernih, karena hujan yang turun pada pagi harinya. Beberapa dari kami memanfaatkan untuk mengambil foto, sementara beberapa lagi memilih untuk meneruskan peralanan mencari jalan masuk ke Sanghyang Taraje. Tidak jauh dari tempat kami melihat Curug Sanghyang Taraje, teman kami menemukan satu pos siskamling yang ternyata sekaligus juga merupakan jalan masuk menuju curug.

Kami tiba di pintu masuk sekitar pukul 13.12 WIB siang hari. Cuaca tidak cerah tetapi juga tidak hujan. Kami sedikit bingung karena jalan masuknya hanya berupa jalan setapak dari tanah yang di sisi kirinya langsung jurang dan sawah, sementara sisi kanannya tebing yang rawan longsor. Akhirnya dengan sedikit putar otak, ke-5 motor ini digotong dan disimpan di balik pepohonan dan di jejerkan sepanjang jalan masuk yang hanya berupa jalan setapak dari tanah dan tidak lupa menutupnya dengan daun.

Kalau diparkir di pinggir jalan, takutnya nanti menghalangi pick up yang memang paling sering dan paling banyak melintas di jalan ini dan takutnya juga motor kami sudah berpindah ke bak mobil pick up. Jarak dari jalan masuk hingga tepat ke depan air terjun dapat ditempuh dengan waktu lima menit berjalan kaki, tetapi jika sedang puncak musim hujan, jalurnya akan sedikit lebih susah karena lumpur. Meskipun hanya lima menit, tetapi jarak pandang dari jalan masuk tidak akan sampai ke depan air terjun, oleh karena itu kami sebenarnya sedikit cemas memarkirkan motor di pinggir jalan dan memilih untuk menggotong motor aga ke dalam.

Sambil menunggu teman-teman kami selesai menggontong motor, kami pun merapihkan pakaian dan mengeluarkan alat lenong kami, apalagi kalau bukan kamera. Ketika sedang menunggu itulah saya merasa sedikit pusing, rasanya jalan seperti berguncang. Teman saya juga ternyata merasa sama, lagipula guncangan seperti ini bukan akibat dari terlalu lama di atas motor dan melewati jalan sangat jelek terlalu lama, ya, guncangan ini gempa bumi. Getaran gempa yang kami rasakan cukup kencang dan lama, apalgi kami saat ini memang sedang berada di daerah perbukitan dan termasuk zona rawan bencana gempa, karena daerah kami sudah termasuk ke dalam zona Selatan.

Setelah gempa mereda dan dirasakan semua aman, tidak ada jalan amblas, tidak ada tebing yang longsor, dan tidak ada jalan yang retak, kami pun bergegas menuju Curug Sanghyang Taraje. Baru juga tiga langkah kami berjalan, hujan turun, meskipun belum terlalu deras, tapi sangat cukup untuk membuat pakaian kami basah. Jalan menuju aliran sugai cukup sulit dilewati ketika hujan, sama seperti tulisan seseorang yang belum lama mengunjungi Curug Sanghyang Taraje.

Setibanya kami di dekat air terjun, hujan makin deras, untungnya ada satu gubug yang kondisinya memprihatinkan tetapi masih bisa dijadikan tempat berteduh untuk sepuluh orang. Sambil menunggu hujan yang makin lama makin deras, kami makan siang. Makan siang beres, hujan pun reda, meskipun masih sedikit gerimis, tapi karena sudah terlanjur basah, ya sudah, langsung eksplore. Aliran air Curug Sanghyang Taraje cukup deras karena hujan barusan, jadi cipratan airnya juga cukup lumayan untuk semakin basah kuyup. Untuk mengambil foto pun lumayan sulit karena hasil foto akan selalu burem terkena cipratan air terjun.

Curug Sanghyang Taraje ini juga merupakan salah satu aliran sungai yang dimafaatkan sebagai PLTMh dengan induknya yaitu aliran Sungai Cikandang. Meskipun habis hujan, tetapi warna aliran airnya tidak berubah menjadi cokelat, tetap bening, artinya lahan di sekitar aliran Sungai Cikandang masih terjaga dari erosi, mengingat posisi Curug Sanghyang Taraje berada pada lokasi sungai stadia muda yang sempurna. Sebenarnya masih ada dua air terjun lagi di sepanjang aliran ini, tetapi sayang, kami tidak sempat mengeksplore sampai ke lokasi dua air terjun tersebut karena medannya yang cukup sulit.

Puas berfoto-foto narsis, kami pun foto keluarga dengan tema ‘Merah-Putih’ untuk ikut berpartisipasi memperingati Hari Pahlawan dengan cara kami sendiri. Selesai foto, kami harus ganti baju karena akan kembali menempuh rute yang cukup panjang ke Bandung, tetapi, inilah kekurangan dari objek wisata ini, masih sangat minimnya fasilitas pendukung. Tetapi meskipun minim fasilitas, sinyal provider warna kuning ini cukup kencang, terbukti dengan masuknya telepon dari temen dan kami malah sempat ngobrol lama sambil menunggu teman yang lain ganti baju. Minim fasilitas bukan berarti jadi mati gaya, justru membuat kami jadi sedikit kreatif. Berhubung tidak ada fasilitas MCK yang kami butuhkan untuk ganti baju, jadinya kami memanfaatkan semak-semak yang cukup tinggi di dekat tebing dan agak jauh dari gubug tempat kami menyimpan tas.

Setelah selesai ganti baju, kami bersiap pulang, hujan sudah reda, hanya tinggal mendungnya saja, berhubung ini juga sudah sore, sudah jam 15.30 WIB. Hal pertama yang kami lakukan tentunya menggotong lagi motor-motor kami ke pinggir jalan. Lumayan susah, karena jalan setapaknya sudah penuh lumpur. Setelah susah payah menggotong motor, tantangan kedua adalah kami harus menempuh tanjakan yang cukup berat, malah beberapa dari kami turun karena motornya ga kuat nanjak. Maklum, tanjakan di jalur ini cukup curam dan panjang. Ketika sedang menunggu teman-teman yang turun dari motor, saya bertemu dengan bapak penjual barang kelontong.

Sedikit obrolan saya dengan beliau, dengan baju yang basah, entah basah karena keringat saja atau bercampur air hujan, yang pasti bapak ini memikul barang dagangan yang cukup berat selama hampir tiga jam lamanya dengan medan yang dominan menanjak. Tujuan bapak ini adalah Pamulihan, dan baru akan menumpang kendaraan ketika sudah tiba di Desa Pakenjeng, kalau tidak ada, terpaksa bermalam atau berjalan kaki sambil menunggu tumpangan. Sebenarnya di belakang bapak ini masih ada dua orang lagi yang berjalan kaki, tetapi berhubung jaraknya cukup jauh dengan saya, jadi saya tidak sempat mengobrol dengan bapak-bapak lainnya. Sesampai di gapura tempat kami melihat ELF Pamulihan, kami berhenti lagi untuk menunggu teman kami yang masih ketinggalan.

Perjalanan dari gapura ke perkebunan dekat dengan gapura Desa Pakenjeng sengaja kami percepat mengingat sudah pukul 16.00 WIB, kami khawatir jika hujan dan kabut turun, perjalanan kami ke Bandung akan memakan waktu yang cukup lama, sedangkan fisik kami sudah mulai berasa cape. Sambil menunggu teman yang masih di belakang, kami berfoto-foto dulu di desa setelah perkebunan teh. Setelah itu perjalanan diteruskan non stop sampai setelah PLN Sumadra. Di PLN Sumadra saya dan beberapa teman berhenti sejenak untuk mengambil foto pemandangan Gunung Papandayan dengan kabut tebalnya, sementara beberapa teman saya yang lain tetap meneruskan perjalanan. Kami pun meneruskan perjalanan karena sudah hampir Magrib, kami mulai jalan lagi sekitar pukul 17.40 WIB. Berhubung Magrib, kami berhenti dulu di Desa Cikandang untuk Shalat Maghrib.

Dari pertama berhenti di sekitar PLN Sumadra hingga selesai Shalat Maghrib di Desa Cikandang, kami sudah terbagi menjadi dua kloter dan kami tidak tahu posisi masing-masing. Sedikit cemas, apalagi sinyal hp sedikit jelek di daerah ini juga batre yang sudah hampir hambis. Pukul 18.30 WIB kami mulai jalan lagi, dengan kondisi yang sudah mulai gelap, kami pun menjaga jarak agar tidak terlalu jauh. Untungnya sebelum pergi, teman kami yang terpisah mengabarkan kalau mereka sudah sampai di Cikajang, kami pun segera menyusul dengan tetap menjaga jarak agar tidak terlalu jauh karena sudah mulai gelap.

Suasana di sepanjang jalan dari Desa Cikandang hingga pertigaan Cikajang selepas Magrib jauh berbeda dengan pada saat siang. Hanya kami dan beberapa motor warga yang melintas di sini, itu pun hanya perjalanan jarak dekat, ELF pun nampak belum terlihat lagi setelah kami berhenti di PLN Sumadra. Setibanya di pertigaan Cikajang, tepat pukul 19.00 WIB, niatnya mau makan malam dulu, tetapi tidak jadi karena tidak banyak pilihan makanan, jadi kami memutuskan untuk makan di Kota Garut atau di Leles. Perjalanan Cikajang-Kota Garut hanya kami tempuh dalam waktu 1,5 jam, selain jalannya kosong, kami pun mengejar waktu agar tidak terlalu malam sampai di Bandung, terlebih lagi dengan perut kosong dan kedinginan sepanjang perjalanan. Masuk Kota Garut nampak masih belum ada pilihan tempat untuk makan malam, akhirnya kami memutuskan untuk makan di Leles, di sate depan kantor polisi Leles yang biasa saya dan teman saya beli.

Jam 21.00 WIB kami sampai di Leles, ternyata tempat makannya masih penuh, bahkan kami pun memarkir sepeda motor di halaman kantor di belakang tukang sate. Pukul 22.00 WIB kami pulang. Leles – Bandung di hari Sabtu menjelang tengah malam cukup sepi, hanya di Kadungora sampai ke Nagreg saja yang cukup penuh karena jalannya memang menanjak. Selepas Leles entah karena tenaganya full lagi, entah karena ngantuk, atau karena udah malem, kayanya ampir 5 motor ini ngebut semua, walhasil kami semua tiba di Bandung pukul 23.00 WIB, hanya satu jam saja dari yang biasanya 1,5 sampai 2 jam.

 

 
Leave a comment

Posted by on August 29, 2014 in AIR TERJUN, Travelling

 

KELILING JAWA PART 3: BLITAR 27 DESEMBER 2012

Saking semangatnya, biar cape maksimal pun bangun tetep pagi-pagi. Jam 08.00 WIB kita semua udah siap, udah mandi dan siap buat ke tujuan pertama kita Museum & Makam Bung Karno. Berhubung jaraknya deket banget, mungkin hanya sekitar tiga puluh menit paling lama, jadilah kita semua jalan kaki, itung-itung olahraga. Tujuan pertama kita apalagi kalo bukan foto sama patung gede di depan ruang lukisan yang di dalemnya ada lukisan yang cukup terkenal. Suasana di sekitar museum sudah cukup ramai padahal masih cukup pagi. Pertama-tama kita harus mengisi buku tamu sebelum masuk dan liat-liat lukisan-lukisan dan foto-foto Sang Proklamator. Setelah selesai mengisi buku tamu, teman saya menyuruh saya untuk memperhatikan sebuah lukisan Bung Karno yang berada tepat di samping meja resepsionis.

Awalnya saya ga ngerti, kenapa saya harus ngeliatin lukisan yang sama kaya lukisan lainnya, ternyata setelah teman saya memposisikan saya dengan angel yang pas barulah saya tahu, ini lukisan Bung Karno yang terkenal itu. Bila kita berdiri tepat di hadapan lukisan tersebut, mungkin kita akan menganggap ini hanya lukisan biasa, tetapi jika kita berdiri di angel yang tepat, mungkin dengan posisi saya yang berada sedikit di samping lukisan tersebut, maka akan terlihat detak jantung seakan keluar dari dalam lukisan. Detak jantung yang mengibaratkan lukisan tersebut hidup. Sampai sekarang pun saya bisa dibilang percaya ga percaya, mungkin saja hanya tipuan mata dengan perpaduan angel yang tepat, pencahayan dll atau memang lukisan itu memang berbeda yang lain.

Setelah puas melihat lukisan yang cukup terkenal itu, saya dan beberapa teman ke ruangan belakang melihat-lihat foto-foto Bung Karno pada masa pra dan pasca kemerdekaan dan tidak lupa berfoto dengan patung burung Garuda yang cukup besar di pojok belakang ruangan. Puas dari ruangan ini, kami pun meneruskan ke Makam Bung Karno dan Ibundanya. Dari tempat lukisan ini menuju makam kita akan melewati semacam taman yang dindingnya penuh dengan ukiran tentang Indonesia dan masa-masa perjuangan, satu yang menarik perhatian saya, yaitu relief teks proklamasi yang di bawahnya terdapat relief Indonesia, favorit saya. Puas foto-foto relief dan desain tamannya yang cukup modern, kami pun membeli es potong murah meriah, hanya sekitar 500 atau 1.000 Rupiah saja di tengah udara dan cuaca Kota Blitar yang mulai panas. Makamnya berada di atas pendopo yang terlihat sejuk dan untungnya masih belum terlalu banyak yang berziarah.

Setelah memberi hadiah doa, tidak lupa kami mengambil foto sebagai kenang-kenangan, dan untungnya ada karangan bunga dari sekelompok organisasi wanita yang baru dipajang, mempercantik tampilan sekitar makam. Tidak berlama-lama di makam karena selain kami harus segera bersiap ke tempat tujuan berikutnya, sudah cukup banyak juga orang yang akan berziarah. Untuk keluar dari areal makam dan muesum ini, kita harus melewati lorong berliku yang penuh dengan penjual suvenir layaknya di tempat-tempat wisata lainnya. Setelah tidak mempedulikan kanan-kiri, akhirnya saya pun tergoda dengan beberapa kaos ‘Blitar’ yang kebanyakan berisikan kutipan-kutipan kata-kata Bung Karno dan beberapa desain Bung Karno, Burung Garuda, dan beragam corak batik.

Beres di objek pertama di Kota Blitar, rasanya kurang lengkap kalau sarapannya bukan pecel. Kali ini kami diajak makan di tempat makan pecel di Kota Blitar yang katanya cukup terkenal. Pecel Blitar hanya sedikit berbeda dengan pecel Kediri, dan ini pecel ke-2 yang langsung cocok sama lidah saya. Enak!!! Sudah enak, murah meriah lagi, itulah Jawa Timur. Sekitar jam 10.15 WIB, kami kembali ke rumah dan tentunya dengan jalan kaki. Sambil packing, sambil godain anak kecil sodara temen saya yang super gemesin & ganteng. Jam 10.30 WIB kami pergi ke tempat tujuan ke-2 kami yaitu pantai sekalian pamit karena hari ini kami akan meneruskan perjalanan ke Jember lewat Dampit, Lumajang.

Karena teman ada yang ga bawa celana untuk basah-basahan, akhirnya tujuan kami berikutnya menjadi toko outdoor yang sudah cukup dikenal di Blitar. Tempat yang satu ini emang sukses bikin kita semua lupa waktu meskipun ga sanggup beli. Akhirnya pukul 11.30 WIB kami baru jalan meninggalkan Kota Blitar dari rencana awal jam 09.00 WIB. Tujuan kami adalah daerah Selatan Blitar yaitu Pantai Serang dan Pantai Sumbersih. Tempat ini saya dan teman saya pilih setelah bergalau ria liat referensi foto-foto pantai di Blitar yang bagus-bagus tetapi hanya punya waktu kurang dari satu hari saja. Perjalanan menuju tempat yang kami tuju katanya sekitar satu jam. Perjalanan di daerah yang panas, jalan berliku yang relatif sepi, perut yang kekenyangan, rasa cape sisa-sisa perjalanan kemarin menjadi paduan yang pas untuk tidur siang dalam perjalanan menuju Selatan Blitar.

Sekitar jam 12.30 WIB semua personil sudah bangun dan kami sudah menuruni medan yang berupa perbukitan, pertanda kami sudah dekat dengan pesisir Selatan Blitar. Cuaca cukup bersahabat, meskipun tidak ada sinar matahari, tetapi tidak juga mendung. Ya, saya kira cukuplah untuk sekedar mengambil landscape laut biru dan pasir putih tanpa langit biru. Pukul 12.40 WIB ternyata kami sudah sampai di pantai,kami parkir di satu warung yang juga langganan teman saya. Ibu warung bilang kami cukup beruntung soalnya tadi pagi hujan cukup lama dan deras mengguyur daerah ini. Ketika kami tiba, sinar matahari muncul lagi, hal ini tidak disia-siakan oleh teman saya untuk jemur pakaian di pagar pembatas kebun tepat di seberang warung. Kami jalan menuju pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami parkir mobil.

Hanya ada beberapa orang di pantai ini, maklum belum musim liburan dan pantainya sedikit kotor dengan kayu-kayu, beberapa kapal nelayan bersandar di sini. Kami menyeberangi muara sungai yang cukup lebar dan cukup tinggi, sebatas lutut. Setelah menyeberangi muara, jalan sedikit becek dan langsung menanjak bukit dan cukup curam. Jalannya sangat jelek, pilihan tepat untuk berjalan kaki. Menurut teman saya, jarak dari sini ke pantai yang akan kami tuju tidak terlalu lama. Terlihat jejak ban motor di tanah lumpur yang kami lewati. Jalan yang kami lalui melewati tempat untuk melihat Hilal. Kami beristirahat sebentar di sini. Ketika bersitirahat, ternyata ada pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dan langitnya sudah mulai gelap. Kami sedikit khawatir bila kehujanan dalam perjalanan ke pantai yang kami tuju, karena selain pakaian kami yang tidak dipersiapkan untuk hujan-hujanan, selama perjalanan kami tidak bertemu seorang pun.

Tanpa membuang waktu, kami pun meneruskan perjalanan dari tempat Hilal ini karena sudah jam 13.15 WIB. Jalan yang kami tempuh kali ini menuruni bukit dan kemudian hanya terlihat hamparan kebun dengan bukit-bukit penuh batu koral dan beberapa pohon kelapa di sekelilingnya, sama sekali tidak terlihat garis pantai. Sedikit heran dan cemas juga dengan jalan yang nantinya kami ambil. Ketika menuruni bukit, sepintas kami lihat pantai yang cukup kecil dari sela-sela batuan besar, ombaknya cukup besar. Setelah medannya stabil, tidak lagi berupa turunan, kami harus melintasi kebun warga yang sebenarnya tidak ada treknya, kebunnya pun tidak sedang ditanam, jadi hanya mirip hamparan tanah kosong.

Sebenarnya jalan yang teman saya ambil ini merupakan jalan pintas, karena jalan utamanya tidak melewati kebun, bahkan kendaraan pun bisa, tetapi tidak untuk mobil. Jalannya cukup curam, batu koral, dan berhubung musim hujan, jadi sudah dipastikan lumpur semua. Inilah alasannya teman saya mengajak kami untuk lewat jalur kebun berlumpur yang sebenarnya kalau musim kemarau jadi jalan setapak dan padang rumput dihiasi bukit-bukit berbatu koral berbagai ukuran. Ketika di tempat melihat Hilal, sebenarnya awan hujan sudah mulai terlihat di seberang bukit dan air di sekitar pantainya sudah sangat cokelat, hanya tinggal menunggu waktu saja tempat kami ini diguyur hujan. Benar saja, begitu baru sebentar berjalan di kebun ini, mulai gerimis, untungnya ada saung kecil untuk berteduh meskipun sudah cukup rusak.

Jalan yang penuh lumpur dan tanah liat serta perpaduan batu koral dan medan yang menurun menjadi kombinasi serasi untuk mempersulit jalan dan merusak alas kaki berhubung tidak ada yang memakai sepatu. Ternyata gerimisnya hanya sebentar, kami pun meneruskan perjalanan. Baru saja akan memulai, kami sudah harus berhadapan dengan medan turunan dan lagi-lagi hamparan tanah bekas kebun yang medannya berupa tanah liat dan batu koral. Setelah cukup lambat dan susah payah menuruni turunan di depan saung, medannya menjadi dataran luas dengan bukit-bukit yang tidak terlalu tinggi di sepanjang jalur hingga ke tepi pantai. Medan yang datar bukan berarti perjalanan kami mulus, justru di sinilah tantangannya. Beberapa langkah dari turunan saung, lumpur yang kami injak dalamnya sebatas mata kaki, kami semua sudah pasti sulit untuk melangkah.

Semakin ke depan, kedalaman bertambah, bahkan ada beberapa titik yang dalamnya sampai ke lutut. Dengan cuaca yang cukup mendung, kami hanya bisa bergegas dan konsentrasi dengan langkah kami, sudah pasrah kalau tiba-tiba hujan besar turun. Dari semua orang di rombongan ini, tidak ada satu pun yang memakai perlengkapan dan pakaian yang mendukung. Kami hanya memakai pakaian untuk ke pantai, kaos, celana pendek, sandal outdoor, tidak membawa cukup logistik hanya beberapa botol minum yang jumlahnya pun tidak seimbang, serta tas kecil untuk barang-barang penting, kamera yang hanya dibawa dengan tasnya saja bukan tas khusus kamera.

Kurang lebih selama satu jam kami harus melintas di jalur berlumpur dan berbatu di tengah tempat terbuka, bahkan beberapa kali kaki kami harus terperosok ke bagian lumpur yang lebih dalam. Binatang dan sisa-sisa tanaman warga sudah tidak kami pedulikan lagi, kami hanya berusaha konsentrasi mengatur dan memilih langkah kami agar tidak semakin terperosok lebih dalam. Sekitar satu jam, tepatnya jam 14.15 WIB akhirnya Pantai Wedi Ombo/Pasir Putih Serang/Peh Pulo yang kami tuju sudah terlihat. Posisi kami sendiri masih berada di sela-sela bukit. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sini sambil membersihkan lumpur dan minum.

Pada titik ini, kami semua sudah tidak ada yang memakai alas kaki karena tebalnya lumpur di sepanjang perjalanan kami. Memang, sedikit lebih mudah dengan melepas alas kaki tetapi risiko kaki terkena batu yang sedikit tajam atau menginjak binatang pun lebih besar. Meskipun alas kaki sudah dilepas, tetapi rasanya masih ada alas yang melindungi telapak kaki sehingga ketika menginjak batu tidak terlalu sakit, saking tebalnya lumpur yang menempel di kaki. Beruntungnya kami, hujan tidak turun ketika kami dalam perjalanan. Setelah puas istirahat dan bahkan sempat mengambil beberapa foto, kami pun menuju pantai.

Semakin mendekati pantai, semakin besar dan banyak bebatuannya. Sepertinya ini memang waktu yang kurang tepat untuk kami berkunjung ke sini. Pasir pantainya memang putih, airnya juga cukup tenang, tetapi langit dan warna air yang sangat biru seperti yang saya lihat di foto, lenyap berganti dengan air laut yang tanpa warna, cenderung keruh, awan hujan, serta langit yang berwarna kelabu. Tidak banyak yang bisa kami lakukan di sini, bahkan untuk mengambil gambar pun tidak banyak angel yang didapat. Semesta pun nampak tidak mendukung, baru sebentar kami membersihkan kaki dari lumpur, gerimis kembali turun. Kami segera berlari menuju saung-saung yang berada di dekat pantai.

Di saung sudah ada beberapa orang yang juga berteduh. Mereka datang ke sini menggunakan sepeda motor dengan ban yang sudah sangat belepotan lumpur. Kira-kira begitulah nasib ban mobil kami jika nekat melewati jalan utama. Dengan sore yang mendung, gerimis, dan saung yang tidak ada penerangannya membuat kami semua memutuskan untuk segera kembali meskipun kami baru lima belas  menit berada di sini.

Tepat pukul 15.10 WIB kami pun bergegas kembali dan mau tidak mau kami harus melewati jalan berlumpur yang tadi, sementara beberapa orang di saung sudah pergi terlebih dulu dengan menggunakan jalur yang berbeda. Tidak lama, kami pun tiba di tanah datar yang sangat luas dan berlumpur. Kepalang tanggung belepotan lumpur, kami pun sedikit mempercepat langkah kaki kami karena awan gelap sudah semakin mendekat. Berkat sedikit teknik dan jejak kaki kami yang masih tertinggal, kami tidak terlalu sulit untuk kembali ke saung tempat kami berteduh pertama kali. Begitu tiba di saung, telapak kaki sudah mulai terasa sakit, bukan hanya karena menginjak batu-bati koral, tetapi juga lecet karena sendal yang saya gunakan. Kami bertemu dua warga yang pulang berladang, berbeda dengan kami, bapak ini membawa golok dan bersepatu boot jadi sudah bisa dipastikan jalannya lebih cepat dari kami.

Setelah sampai di tempat Hilal dan menyelesaikan tanjakan dengan susah payah karena kaki yang sangat sakit, saya dan dua orang teman saya bersitirahat sejenak, sementara dua teman lainnya terus jalan bersama seorang warga lainnya yang baru pulang memasang jaring. Ketika saya dan dua teman saya tiba di pinggir muara, ternyata airnya sudah meluap, arusnya sangat deras. Ketinggiannya sudah hampir di atas pinggang dengan beberapa bagian dari pijakan yang tergerus dan hanyut. Dua teman saya dan warga yang tadi bareng dengan kami pun tampak cukup sulit melintas, apalagi rombongan saya dengan dua orang perempuan dan hanya satu orang laki-laki. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk mengambil jalan memutar melalui bukit di belakang kami daripada mengambil risiko menyeberangi muara yang airnya meluap dan ombak yang sudah sangat pasang serta sudah tidak ada orang lagi di Pantai Serang.

Perjalanan kami bertiga menjadi sedikit sulit dengan tanjakan yang cukup terjal, sempit, dan berbatu koral tentunya. Sambil menahan perih karena lecet dan telapak kaki yang berkali-kali menginjak batu koral yang cukup tajam, bahkan di turunan yang tidak seberapa pun saya dan teman saya harus dengan susah payah melewatinya. Akhirnya hujan pun turun, kali ini tidak lagi tanggung seperti sebelumnya, hujan kali ini benar-benar hujan deras, sangat deras. Setelah berhasil menuruni bukit dengan basah kuyup, kami menemukan gubuk yang ukurannya sangat pendek, bahkan kami harus sedikit jalan jongkok untuk masuk.

Gubug ini lumayan untuk jadi tempat istirahat sejenak, setidaknya kami bisa berhenti dulu di tengah hujan sangat deras dan kilat yang menyambar-nyambar. Atap gubug ini sudah banyak yang bocor, tidak ada alas, jadi kami bertiga hanya bisa berjongkok dan menggigil kedinginan. Tanah di sekitar gubug sudah kembali menjadi genangan air dan lumpur, lagi-lagi kami harus menerjang lumpur. Setelah petirnya tidak terlalu sering, meskipun masih hujan cukup deras, kami bertiga nekat untuk meneruskan perjalanan, karena kata teman saya, masih cukup jauh untuk sampai di jalan utama, baiklah. Kesalahan kami adalah melupakan pepatah “Sedia payung sebelum hujan”, bahkan jaket kami ber-5 yang sebenarnya anti air pun kami tinggal di mobil!

Setelah mengamankan barang-barang berharga, kami bertiga pun meneruskan perjalanan di tengah hujan deras dengan penutup kepala berupa daun pisang, satu orang satu. Kalau mungkin dulu pernah ada iklan di tv yang menampilkan anak-anak kecil berjalan di bawah guyuran hujan deras dengan daun pisang sebagai pelindungnya menyusuri pematang sawah, seperti itulah kami bertiga, yaaa mungkin tanpa gigi ompong dan kerbaunya saja.Kami menyusuri pinggiran kebun warga, berkali-kali menyeberangi aliran irigasi yang nantinya akan menjadi muara yang kami seberangi siang tadi hingga akhirnya ini kali terakhir kami mengikuti aliran irigasi.

Hambatan kami berikutnya adalah jembatan yang hanya dari bambu yang ditumpang tindih seadanya tanpa pegangan dan sudah sangat basah diguyur hujan untuk menyeberangi aliran irigasi yang masih cukup lebar dan arusnya sangat deras. Susah payah kami menyeberangi solokan ini, dengan batang bambu yang bergoyang ketika kami berjalan di atasnya, solokan yang tinggi airnya sudah hampir menyentuh bambu, sendal yang licin karena lumpur dan permukaan bambu yang licin karena hujan, serta badan yang menggigil dan lapar.

Begitu tiba di seberang kebun, yang juga merupakan jalan setapak di pinggir tambak garam, hujan pun mereda, meskipun tidak berhenti total, daun pisang pun hanya tinggal dua saja yang di bawa, karena yang satu kami tinggal di seberang jembatan, ribet juga menyeberang jembatan bambu dengan membawa daun pisang. Tambak garam ini sebenarnya adalah tambak yang sama yang saya lihat ketika di tempat Hilal. Dari tempat melihat Hilal, tambak garam ini terlihat sangat jauh, tidak disangka kami memutar hingga sejauh ini demi menghindari luapan muara sungai dan ombak pasang. Kami berjalan megikuti jalan setapak di pinggir tambak dengan petir yang kembali menyambar-nyambar.Kami mempercepat langkah karena jalannya sudah datar dan tidak lagi berlumpur parah. Di ujung jalan setapak ada sebuah gubug yang digunakan oleh para pekerja tambak garam untuk sekedar shelter dan tidak ada orang ketika kami tiba dan pertigaan.

Kami memilih jalan yang menyusuri solokan di sisi kanan dan tambak garam di sisi kiri. Kami bertiga menyeberang ke sisi satu lagi dari tambak garam ini mengikuti aliran air. Tidak berapa lama akhirnya kami keluar dari tambak garam dan tiba di jalan utama, syukurlah! Ternyata tempat kami keluar tidak jauh dari tempat kami membayar retribusi ketika datang. Kami tiba di warung tempat kami memarkir mobil sekitar pukul 17.00 WIB. Untungnya teman saya ini sudah cukup dekat dengan pemilik warung, jadi kami bertiga bisa menumpang mandi, karena kami akan langsung menerukan perjalanan menuju Banyuwangi, non stop melalui Malang-Dampit-Lumajang-Jember-Banyuwangi, setidaknya kami melakukan perjalanan panjang ini dengan badan yang tidak gatal-gatal karena lumpur dan tidak masuk angin.

Seperti halnya daerah pesisir Selatan Pulau Jawa yang belum tejamah oleh wisata, begitu Magrib, penerangan satu-satunya hanya lampu dari rwarung sekaligus rumah tempat kami memarkir mobil dan menumpang mandi ini, sementara di sekitarnya, gelap gulita. Saya dan teman saya sampai bisa ganti baju di pinggir warung hanya dengan ditutupi kain pantai dan modal headlamp saking gelap dan sepinya. Setelah ikut cash hp, power bank, baterai kamera dll, kami pun pamitan dan tidak lupa berterima kasih pada ibu warung dan keluarganya. Kejutan terakhir pun kami dapatkan ketika sedang packing.

Ternyata dari tadi, tepat di seberang warung ada orang yang sudah tidak waras lagi ngoceh sendiri dengan tampang yang cukup mengerikan dengan kondisi gelap gulita begini. Ketika kami akan berangkat, orang gila ini tiba-tiba mendekat, dan oleh teman saya dengan isengnya ngasih rokok yang tidak di bakar, orang gila menyingkir, kami pun langsung tancap gas menuju Blitar.

Jam 19.00 WIB kami meninggalkan Desa Serang, dan sekitar pukul 20.00 WIB kami sudah tiba di persimpangan jalan utama Blitar-Malang. Kami pun pisah di sini, karena teman kami balik lagi ke Blitar, sementara kami menuju Malang. Sebenarnya ga enak jga karena sudah anter kami main, ternyata kemaleman dan harus balik lagi ke Blitar pakai kendaraan umum. Berhubung kami belum makan dari siang, akhirnya begitu nemu tempat makan yang sedikit beda dari biasanya (biasanya warteg, warung nasi, warung di objek-objek wisata), kali ini tempat makannya sedikit mirip dengan family resto yang harganya pun pasti sedikit lebih mahal.

Setidaknya ngasih sedikit hadiah sama perut dan lidah setelah seharian treking lumpur-lumpuran, ujan-ujanan, ngelintas bukit, kedinginan gara-gara keujanan, haus berat, dan ngantuk pastinya. Jenis makanan yang kami pesan pun sedikit berbeda, kalau biasanya kami makan nasi pecel, nasi dengan sayur rumahan, mie instan, baso, kali ini kami memesan sea food!

Puas makan, leyeh-leyeh di tempat makan yang kebetulan dapet lesehan, foto-foto dan trek jalur yang bakal dilewatin. Perut kenyang, mata sepet, begitulah biasanya kalau hukum alam. Kali ini ditambah lagi dengan badan yang super pegel-pegel setelah trekking lumpur dan ujan-ujanan seharian. Pukul 21.00 WIB kami berangkat lagi, kali ini menuju Malang, hanya kami sengaja tidak melewati Kota Malang, rute yang kami ambil dari Blitar sedikit ke Selatan, melewati Pindad, jalur-jalur menuju pantai Selatan Malang, salah satunya jalur yang menuju Pulau Sempu. Blitar-Malang hanya ditempuh dengan waktu satu jam saja dengan jalan yang dominan hanya lurus dan sangat sepi, maklum ketika masuk ke pinggiran Kota Malang, sudah pukul 22.00 WIB, ditambah lagi ini hari Kamis, bukan hari Sabtu-Minggu.

 
Leave a comment

Posted by on August 29, 2014 in Travelling

 

RAWA BEBER 17 AGUSTUS 2014

Rawa Beber secara administrasi berada di Desa Situhiang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Rawa Beber merupakan satu dari sedikitnya lima danau yang semuanya diberi nama depan ‘Rawa’ yang ada di Kecamatan Pagelaran. Bila melihat peta, Rawa Beber terletak di kaki Gunung Gedogan yang juga menjadi pembatas antara Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bandung Barat. Selain Rawa Beber, ada sekitar tujuh danau lagi di sekitarnya dengan ukuran yang bervariasi, Tiga diantaranya sudah diberi nama, Rawa Galuga, Rawa Beber Awi, dan Rawa Kajar-kajar, sisanya belum memiliki nama dan ukurannya relatif cukup kecil. Rawa Beber berada di ketinggian sekitar 900-1000 mdpl dan berada di puncak perbukitan yang cukup terjal di daerah Cianjur Selatan.

Rawa Beber secara fisiografis berada di zona Pegunungan Selatan, tepatanya berada di perbatasan antara Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat dengan Gunung api Kuarter. Gunung api kuarter yang dimaksud yaitu Gunung Kendeng. Rawa Beber memiliki luas sekitar 2 Ha dengan kedalaman 4 m memiliki pemandangan yang masih alami. Deretan perbukitan seperti Pasir Jambe, Pasir Kendeng, Gunung Wayang dan hamparan sawah serta hutan yang masih cukup lebat menjadi latar belakang utama Rawa Beber.

Suasana di sekitar Rawa Beber cukup sepi karena tidak banyak rumah warga di sekitarnya. Rawa Beber dikelilingi oleh kebun warga, dua buah rumah, sawah yang mendominasi lahan di sekeliling Rawa Beber. Terdapat bangunan semi permanen bertingkat yang terbuat dari kayu tepat di pinggir Rawa Beber yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh. Kita dapat menggunakan bagian teras bangunannya saja karena pintu masuk maupun pintu menuju loteng digembok. Beberapa rumah warga di sini memasang kincir angin di atas atapnya. Di sekitar Rawa Beber tidak ada pohon yang cukup besar, sehingga bila mengunjungi Rawa Beber pada siang dan menjelang sore hari cukup panas untuk berkeliling. Di sudut Rawa Beber terdapat jalur masuk air yang berasal dari kaki bukit Pasir Jambe dengan debit yang cukup besar, jembatan kecil, serta jalan setapak menuju arel sawah dan kebun yang berada di seberang jalan masuk Rawa Beber.

Jalan masuk menuju Rawa Beber sedikit sulit untuk ditemukan, karena jalan masuknya berada tepat di jalan yang menurun dan sedikit menikung dengan permukaan jalan berupa batu-batu yang cukup besar. Jalan masuknya pun berupa jalan setapak yang sangat kecil, bahkan jika musim hujan, sepertinya jalan setapak ini tidak akan terlihat, selain itu beberapa pohon bambu yang berada di kanan dan kiri jalan setapak menuju Rawa Beber menutupi pemandangan ke arah Rawa. Jalan setapak yang cukup licin jika hujan dan cukup gelap karena tertutup pohon bambu sebenarnya hanya sedikit saja, setelah itu, tidak ada lagi yang menghalangi pemandangan ke arah danau.

Terdapat batu yang cukup besar di sisi kanan jalan setapak dan dua batu besar yang tepat berada di pinggir Rawa Beber. Seluruh bagian dinding Rawa Beber sudah di beton dengan kondisi yang masih mulus. Tangga menuju Rawa terdapat di sisi kanan bangunan, sedangkan di sisi kiri bangunan merupakan beberapa petak sawah yang langsung berbatasan dengan tembok beton Rawa Beber.

Pemandangan di seberang Rawa Beber adalah bagian perbukitan dari Gunung Kendeng, yaitu Pasir Jambe dan bagian dari Pasir Kendeng. Apabila melihat peta, sebenarnya ada satu lagi legenda yang menandakan danau dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari Rawa Beber yang berada setelah areal sawah di seberang Rawa Beber. Sayangnya, kami tidak sempat mengecek jalur untuk menuju ke tempat tersebut. Beberapa warga ada yang memanfaatkan air yang masuk ke Rawa Beber untuk pengairan sawah, kebun, mencuci motor, mencuci pakaian, hingga mandi. Rawa Beber memiliki debit air yang stabil, sama halnya dengan Rawa Galuga. Rawa Beber merupakan salah satu bagian dari PLTMh Cijampang 2A yang sumber airnya berasal dari mata air di salah satu perbukitan di lereng Gunung Kendeng yang kemudian menjadi aliran Sungai Cijampang. Air di Rawa Beber cukup jernih dan memiliki cukup banyak ikan.

Salah satu tradisi yang biasa dilaksanakan di Rawa Beber ini adalah Pesta Rakyat Ngucek/ngubek ikan. Pesta rakyat ini selain dinikmati oleh penduduk setempat juga didatangi oleh masyarakat dari berbagai pelosok. Bahkan datang dari tempat yang jauh untuk menyaksikan kegiatan pesta menangkap ikan dengan cara dijala. Pesta tersebut dikenal dengan sebutan “ngucek’ atau ‘ngubek’, yaitu kegiatan menangkap ikan dengan jala secara beramai-ramai.”Kegiatan ini menjadi ajang reunian bagi masyarakat terutama masyarakat situhiang yang bekerja, sekolah di luar kota. Saat malam sebelum waktu pesta ngubek dimulai, harus bakar menyan dulu sebagai simbol minta izin kepada ‘pangeugeuh’ yang memegang kekuasaan di sana, itu bagi yang percaya. Suasana sepi berubah dengan hingar-bingar suara sound system yang dibawa penduduk ke ‘saung’ dadakan yang sengaja mereka persiapkan sebagai tempat tinggal sementara.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Rawa Beber merupakan salah satu bagian dari PLTMh Cijampang. Aliran air pertama berasal Pair Jambe dan Pasir Kendeng yang kemudian masuk ke dalam cekungan yang berada pada lokasi lebih tinggi dari Rawa Beber, 1000 mdpl. Air dialirkan kembali menuju Rawa Beber yang kemudian masuk ke dalam aliran reservoir PLTMh Cijampang 2A. PLTMh Cijampang 2A ini mulai beroperasi pada 2010 dan menghasilkan energi listik ke jaringan Tegangan Menengah (TM) Cianjur Selatan. Aliran sungai yang mengalir dan berhulu di perbukitan sekitar Kecamatan Pagelaran memang termasuk yang debitnya stabil, seperti yang dituturkan seorang warga kepada kami. Kami bahkan dapat melihat setidaknya tiga air terjun yang cukup tinggi di perbukitan yang oleh warga sekitar disebut dengan Gunung Kiarapayung dengan volume jatuhan yang cukup besar di musim kemarau.

Rute menuju Rawa Galuga dapat dikatakan cukup ribet, karena setelah memasuki Desa Cipari, akan banyak ditemui percabangan jalan, terutama yang mengarah ke Kecamatan Sukanagara. Untuk bisa sampai di pertigaan Cipari, ada dua jalur yang dapat ditempuh.
1. Bandung – Padalarang – Rajamandala – Ciranjang – Cianjur – Terminal Pasirhayam – Cilaku – Cibeber – Campaka – Sukanagara – Pagelaran – Pertigaan Cipari – Desa Cilameta – Desa Situhiang – Rawa Beber
2. Bandung – Soreang – Ciwidey – Rancabali – Perkebunan Teh Sinumbra – Desa Cipelah – Kecamatan Pasirkuda – Kecamatan Tanggeung – Kecamatan Pagelaran – Pertigaan Cipari – Desa Cilameta – Desa Situhiang – Rawa Beber

Apabila memilih jalur melalui Kota Cianjur, patokan pertama adalah Terminal Pasir Hayam kemudian ambil jalan menuju Kecamatan Sindangbarang. Kondisi jalan hingga Kecamatan Campaka cukup berkelok-kelok dan akan menanjak terus. Jalan cukup lebar untuk dua mikrobus. Kondisi jalannya cukup baik, di beberapa titik sudah ada permukaan jalan yang menggunakan beton, ada yang aspalnya masih mulus, tetapi ada juga yang permukaan aspal paling atasnya sudah mengelupas. Tanjakan akan mendominasi perjalanan disertai dengan beberapa tikungan tajam hingga memasuki Kecamatan Pagelaran.

Setelah melewati Kecamatan Cibeber, lalu lintas akan menjadi cukup sepi, setelah sebelumnya lalu lintas akan cukup ramai dengan angkot, sepeda motor, serta bus antar kota yang menuju Terminal Pasir Hayam. Elf menuju Cianjur akan cukup sering melintas pada siang hari, sebaliknya, menjelang sore hari, ELF yang menuju arah Selatan akan cukup ramai. Perjalanan malam tidak terlalu disarankan bagi yang belum terbiasa melintas di daerah tengah Jawa Barat, karena selain jalur ini termasuk salah satu yang rawan kejahatan, sisi kiri jalan ini (dari arah Cianjur) merupakan jurang yang sangat dalam dengan aliran sungai yang cukup deras dan berbatu besar di dasarnya. Jalur ini tidak memiliki penerangan jalan kecuali di kota-kota kecamatan, seperti Campaka, Sukanagara, dan Pagelaran.

Selain rawan tindak kriminal dan minimnya sarana kelengkapan jalan, jalur ini menjelang sore akan sangat sepi, ketika malam, hanya truk pengangkut kay dan ELF saja yang akan mendominasi lalu lintas. Dari Kecamatan Cibeber hingga Kecamatan Pagelaran, setidaknya kita akan melewati tiga sampai empat blok perkebunan teh dari dua perkebunan milik PTPN VIII, yaitu Perkebunan Panyairan dan Perkebunan Pagelaran. Pohon-pohon bambu yang cukup lebat akan ditemui ketika mulai memasuki Warungbitung hingga memasuki Kecamatan Campaka, setelah itu akan memasuki hutan produksi dan perkebunan teh. Kabut akan mulai turun ketika sore menjelang Magrib, dan lokasi dengan kabut paling tebal berada ketika memasuki perkebunan teh Pagelaran, suhu udara pun terdingin berada pada daerah ini, karena merupakan daerah yang cukup tinggi, di lereng Gunung Gebeg.

Pertigaan Cipari terletak tidak jauh dari alun-alun Kecamatan Pagelaran, setelah melewati Gunung Gebeg dan PTPN VIII Kebun Pagelaran. Posisi pertigaan Cipar berada tepat di tikungan dengan ciri gapura, jika tidak jeli, mungkin akan terlewat.
Jalan masuk menuju Cipari sedang dalam perbaikan, dapat terlihat dari banyaknya batu yang belum diratakan, tetapi hanya beberapa meter saja, kareana selebihnya batu-batunya sudah diratakan hanya belum diaspal sehingga cukup licin ketika musim kemarau.

Secara keseluruhan, tingkat kerusakan jalan masih lebih baik dibandingkan dengan jalan di perkebunan teh Bojonggambir-Pedangkamulyan, Kabupaten Tasikmalaya, tetapi cukup merepotkan juga apabila musim hujan tiba. Setelah melewati beberapa permukiman penduduk, kita akan menyeberangi aliran sungai yang cukup lebar dengan warna air yang sedikit tosca bila musim kemarau dan hamparan sawah dengan latar belakang jejeran perbukitan yang menjadi Pembatas Kecamatan Pagelaran dengan Kecamatan Tanggeung tampak jelas dari jembatan ini. Setelah melewati jembatan, jalan akan mulai menanjak dengan permukaan batu-batu yang masih belum tertanam, sehingga ada batu-batu yang cukup besar yang akan menggelincir.

Tepat diujung jalan, kita akan menemui percabangan jalan yang terus menanjak dan yang berbelok ke kiri. Sebenarnya kedua jalan ini sama-sama bisa digunakan untuk menuju Rawa Beber, tetapi, menurut informasi dari warga yang kami tanya, akhirnya kami memilih jalan yang menanjak. Mulai dari sini, kita akan sedikit sering menemukan tanjakan, hanya bervariasi dengan kondisi jalan yang permukaan aspal paling atasnya sudah mengelupas. Perjalanan dari tanjakan di Desa Cipari akan banyak didominasi oleh jalan yang aspalnya sudah mengelupas dengan pemandangan di kiri berupa hamparan sawah yang cukup luas dan jejeran tebing perbukitan beserta air terjunnya di sisi kanan sebagai latar belakang dari hamparan sawah yang cukup luas. Tidak ketinggalan juga aliran sungai yang cukup besar membeah di tengah-tengah areal sawah.

Ujung jalan ini merupakan pertigaan yang jalannya sudah merupakan jalan beton. Jalan beton ini merupakan bagian dari proyek pembangunan PLYMh Cijampang 2A pada tahun 2010. Kondisi jalan berbeton ini masih sangat layak untuk dilewati. Baik jalan yang menuju ke arah kanan maupun kiri sama-sama menuju Rawa Beber. Memang, jalan menuju Rawa Beber ini sedikit ribet karena banyaknya persimpangan. Kami memilih jalan yang berbelok ke kanan, menurut warga yang lagi-lagi kami tanya, keduanya sama-sama bisa dilewati menuju Rawa Beber, kami akhirnya memilih jalan yang berbelok ke kanan.

Jalan beton yang kami lewati, ternyata tidak terlalu panjang, setelah melewati jalan yang menurun dan menikung, jalan betonnya habis, tepat di pertigaan. Jalan menuju Rawa Beber yang paling mudah berada tepat di ujung jalan beton, di pertigaan yang ada pos siskamling, ambil jalan ke arah kiri, jalan dengan ukuran yang lebih sempit dari jalan desa utama. Tidak lama setelah belok kiri, jalan akan semakin menanjak. Mulai dari sini, jalan akan terus menanjak. Tanjakannya cukup berat, tanjakan panjang, berkelok dengan perkerasan jalan berupa batu-batu yang cukup besar di tengah-tengah areal sawah. Untuk menuju Rawa Beber, memang harus melewati tiga bukit. Bukit-bukit tersebut memang tidak terlalu tinggi dan hanya merupakan pemisah antara satu kampung dengan kampung lainnya, tetapi dengan kondisi jalan yang cukup jelek, untuk bisa melewati jalur ini dengan cepat memang cukup sulit.

Tepat di ujung tanjakan, jalan akan sedikit memutar bukit dan akan ada persimpangan jalan. Menurut warga yang kami temui di sana, jalan ke arah kanan yang lebih menanjak dan lebih smepit juga merupakan akses menuju danau, bahkan bisa juga menuju Rawa Beber, tetapi jauh lebih memutar. Patokan kami berikutnya yaitu persimpangan dengan jalan yang sudah di beton dan akan terlihat pipa PLTMh di bukit. Jalan menuju Rawa Beber yaitu jalan yang sama dengan yang menuju PLTMh Cijampang 2A dan kolam reservoir. Setelah menuruni bukit, akan ditemui persimpangan dengan jalan yang ada di sebelah kiri, ambil jalan yang lurus menuju pipa PLTMh.

Mendekati PLTMh, kita kan kembali melewati jalan dengan batu-batu yang cukup besar dan mulai menanjak bukit lagi. Kolam reservoir berada di balik bukit. Jalan akan menyempit kembali dan pada tanjakan pertama akan ditemui longsoran dari tebing di sisi kiri jalan dan jalan yang longsor di sisi kanan jalan. Setelah tanjakan pertama, jalan akan sedikit menikung menuju balik bukit kemudian tiba di reservoir PLTMh Cijampang 2A. Kondisi jalan sedikit membaik ketika tiba di kolam reservoir, dan kembali menjadi jalan dengan perkerasan batu setelah memasuki permukiman penduduk. Lahan sawah dan aliran air yang diarahkan menuju kolam reservoir menjadi pemandangan utama.

Pada ujung jalan akan ditemui lagi persimpangan, dengan ukuran jalan yang jauh lebih kecil. Ambil jalan yang kanan, melewati kolam ikan milik pribadi dan ukuran jalannya jauh lebih kecil dengan batu-batu yang semakin besar ukurannya hingga menemukan turunan. Tepat di tengah turunan dan sedikit menikung, di sisi kiri jalan ada jalan setapak yang sangat kecil dan tertutup pohon bambu yang cukup rindang. Jalan setapak itu merupakan jalan masuk menuju Rawa Beber. Jangan tertipu dengan ukuran jalan yang sangat kecil, karena hanya jalan masuknya saja yang kecil, tetapi areal di sekitar Rawa Beber sangat luas.

Jalan pulang yang kami ambil sedikit berbeda dengan jalan yang diambil ketika menuju Rawa Beber. Rencana awal, kami mau mencoba jalur beton yang katanya sedikit memutar tetapi lebih landai, tetapi ternyata kami malah menemukan cukup banyak persimpangan, terutama yang menuju ke Kecamatan Sukanagara. Jalan menuju Sukanagara ukurannya jauh lebih kecil, menanjak, lebih rusak, dan melewati beberapa bukit dan keluar-masuk hutan. Kami memutuskan untuk mengambil jalan menuju arah Kecamatan Pagelaran.

Jalannya masih sama seperti jalan yang di dekat PLTMh, hanya didominasi dengan turunan. Jalannya tidak terlalu sulit seperti jalan yang kami ambil menuju Rawa Beber, tetapi tetap dengan perkerasan batu yang besar dan masih banyak yang lepas. Sebenarnya, jalan ini sudah pernah di aspal, tetapi memang sudah sangat lama, sekitar tahun 1990-an dan sebagian jalan memiliki permukaan jalan yang cukup bagus karena masuk menjadi bagian proyek jalan menuju PLTMh Cijampang 2A pada tahun 2010.

Jalur yang melewati Rancabali-Cipelah sebenarnya merupakan jalur yang terpendek jika titik awalnya dari Bandung. Jalur ini memang jalur terpendek tetapi juga cukup sulit medannya, sepanjang jalan melewati perkebunan teh, cukup sepi, sepanjang jalur jalannya rusak parah, kabut dan bahkan gerimis pun lebih sering turun di sepanjang jalur ini sehingga menjadi cukup berbahaya jika belum pernah melewati jalur ini sebelumnya.

Rawa Beber ini cocok didatangi pada musim kemarau, karena selain airnya memang stabil dan tidak menjadi keruh karena sedimentasi, medan jalannya tidak akan terlalu sulit jika kering. Selain musim kemarau, waktu yang tetap untuk mengunjungi Rawa Beber adalah ketika dilaksanakannya tradisi “Ngubek Lauk” seperti yang dilakukan juga di Rawa Galuga. Tetapi bila ingin mengunjungi Rawa Beber seperti kondisi sehari-harinya, weekend biasa pun tempat ini sangat sepi, bahkan terkadang tidak ada pengunjung sama sekali. Meskipun dari segi potensi pariwisata masih kurang menjanjikan, tetapi setidaknya Rawa Beber memiliki manfaat cukup besar bagi kebutuhan listrik masyarakat di Cianjur bagian tengah dan juga pelestarian budaya warga setempat.

CATATAN PERJALANAN

BANDUNG – CIANJUR 07.30 – 09.35

CIANJUR – PAGELARAN 09.35 – 11.53

PAGELARAN – RAWA BEBER 11.53 – 13.30

RAWA BEBER 13.30 – 14.18

RAWA BEBER – SUKANAGARA 14.18 – 16.50

SUKANAGARA 16.50 – 17.50

SUKANAGARA – CIANJUR 17.50 – 19.00

CIANJUR 19.00 – 19.35

CIANJUR – BANDUNG 19.35 – 21.05

TOTAL PERGI 5,5 JAM

TOTAL PULANG 6,5 JAM

TOTAL RAWA BEBER 45 MENIT

TOTAL BUDGET 128.700

CIANJUR

 
Leave a comment

Posted by on August 23, 2014 in DANAU, Travelling