RSS

PENUH PELUH TAK JENUH MENCARI TALAGA DENUH

07 Feb

Talaga Denuh, nama yang sangat asing didaerah yang juga tidak kalah asingnya. Jangan tanya bagaimana saya bisa menemukan nama tempat ajaib ini. Memang sudah menjadi kebiasaan aneh saya sejak kecil yang selalu menatap peta, atlas, globe atau apapun sejenisnya hanya untuk membaca tulisan-tulisan yang ada di atasnya. Mulai dari nama desa, kota, jalan, gunung, bahkan sampai ke legendanya pun saya baca. Untuk apa? saya pun tidak tahu. Begitupun dengan Talaga Denuh, saya temukan secara tidak sengaja ketika sedang membaca peta, menggeser-geser kursor kesana kemari, zoom out-zoom in , merubah tampilan satelit-hybrid-road-terrain sampai akhirnya saya temukan legenda danau di sebuah puncak bukit di suatu daerah yang cukup jauh dari Kota Tasikmalaya tetapi masih menjadi bagian dari administrasi Kabupaten Tasikmalaya, Talaga Denuh. Setelah memberi penanda di peta mengenai lokasinya, saya pun mencari informasi apapun yang bisa saya temukan di mesin pencari, dan seperti biasa, hanya sedikit informasi, bahkan foto yang bisa saya dapat dari mesin pencari tersebut. Cukup banyak, tapi hanya ada 3 variasi berbeda dalam penyajiannya, selebihnya, hanya berupa hasil kopian dari tulisan aslinya. Berbulan-bulan lamanya dari saya tidak sengaja menemukan lokasi dan artikel mengenai Talaga Denuh, sekitar bulan September 2013 dan baru pada 31 Januari 2014 saya berhasil sampai di Telaga Denuh, bukan sampai, tapi membuktikan dan mencari informasi sendiri secara langsung, langsung di Kampung Daracana, Desa Cikuya, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Perjalanan yang berkali-kali mendapat rintangan dan gagal, dari mulai sulitnya mencari teman yang bisa saya ajak pergi mencari karena kesibukan masing-masing, faktor cuaca, faktor kendaraan, keungan, sampai faktor medan yang terpaksa membuat saya terpaksa berhenti mencari dan harus kembali dengan tangan kosong ke Bandung tepat 2 minggu sebelum saya berhasil sampai di Talaga Denuh.

 

Dengan bermodalkan jalur yang saya cari sendiri dengan moal membaca peta, akhirnya saya mendapat 3 alternatif jalur yang bisa digunakan. 3 alternatif karena setelah bertanya kesana-kemari mengenai kondisi jalan dan medannya, hampir semua yang saya tanya bahkan belum pernah mendengar nama-nama kecamatan -apalagi desa- yang saya sebutkan. Beruntunglah di detik-detik terakhir secara tidak sengaja saya berkenalan dengan seorang teman -yang juga temannya teman saya- yang sedikit memiliki infomasi mengenai daerah-daerah yang saya sebutkan, dan semakin bulat keputusan saya untuk mengambil jalur yang pernah saya lewati 2 minggu sebelumnya.

 

JUMAT, 31 JANUARI 2013

 

Tepat pukul 05.30 teman saya datang kerumah, kali ini perjalanan mencari lokasi Talaga Denuh hanya diperankan secara langsung oleh 2 orang, saya dan seorang teman saya. Secara teknis, baru pukul 06.30 kami keluar dari perbatasan Kota-Kabupaten Bandung karena harus mengambil helm dan mengisi bahan bakar. Jalanan menuju Kota Garut pagi itu cukup lancar dengan cuaca yang mendung, beberapa terlihat kendaraan pribadi terisi penuh dengan keluarga yang akan berlibur karena minggu ini merupakan long weekend, hari ini adalah Hari Jumat, bertepatan dengan perayaan Imlek, tanggal merah. Sementara sebagian besar berwisata ke beberapa tempat wisata yang sudah terkenal dan lengkap dengan segala fasilitasnya, kami, 2 orang anak muda malah lebih memilih menjelajah ke daerah asing yang sudah dapat dipastikan sepanjang jalan menuju tempat tujuan dan bahkan di tempat tujuan pun tidak akan mendapatkan fasilitas apapun, menemukan Masjid yang pintunya tidak terkunci ataupun desa dengan rumah-rumah tidak semewah di Kota Bandung pun senangnya sudah seperti mendapatkan kesempatan menikmati liburan gratis yang penuh dengan fasilitas mewah. Seperti biasa, saya hanya tersenyum dengan keanehan lain yang saya miliki ini.

 UPLOAD 11

Memasuki jalur lingkar luar Cicalengka, sedikit gerimis dan lalu lintas menjadi sedikit lebih ramai, memasuki Nagreg, masih tetap gerimis dan ternyata cukup banyak juga kendaraan yang akan memasuki wilayah Garut. Memasuki wilayah Leuweung Tiis, setelah berhasil menyusul beberapa mobil karena kalau kami tidak menyusul, akan sedikit terhambat ketika memasuki Kadungora. Ternyata setelah memasuki daerah Kadungora-Leles, cuaca berangsur berubah, yang semula mendung dan gerimis, perlahan mulai terasa sinar matahari pagi. Kami sempat berhenti sejenak membeli makanan dan minuman ringan tepat sebelum memasuki Bunderan Tarogong. Memasuki Kota Garut mulai terlihat di pinggir jalan beberapa kelompok yang akan melakukan pendakian, tebakan saya, kemungkinan besar mungkin akan melakukan pendakian ke Gunung Papandayan, mungkin juga Guntur, atau Cikuray.

 

Motor kami terus melaju semakin menjauhi pusat kota Garut melewati pinggiran kota dengan kondisi jalan masih cukup lengang dan berlubang. Arah yang kami ambil yaitu mengikuti arah ke Terminal Guntur, tetapi di pertigaan Terminal Guntur ambil arah menuju Tasikmalaya, ikuti terus jalannya sampai menemukan pertigaan dengan sebuah tempat fitnes, disana ambil jalan kearah kiri hingga bertemu perempatan. Perempatan ini merupakan patokan terakhir untuk keluar dari Kota Garut, di sini kita ambil ke arah Singaparna, Tasikmalaya yang juga sekaligus jalan untuk mendaki Cikuray jalur Cilawu atau yang lebih dikenal dengan jalur pemancar. Selepas perempatan terakhir, jalan langsung menanjak dan mulai sedikit sepi. Hanya ada beberapa kendaraan pribadi, 2 truk, dan sepeda motor, sedangkan dari arah berlawanan tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas, cuaca pun cukup mendukung meskipun Gunung Cikuray tertutup sempurna oleh kabut, tetapi jejeran pegunungan di sisi kiri yang juga merupakan jejeran pegunungan didaerah Talagabodas, Cibatu, Limbangan, Gentong yang memanjang hingga ke Malangbong dan Gunung Galunggung. Setelah melewati lapang golf, arus lalu lintas menjadi lebih sepi, hanya ada beberapa mobil pribadi dan sepeda motor dari kedua arah, cuaca pun menjadi cerah, sangat berbeda jauh dari ketika berada di Nagreg. Kondisi jalan dapat dikatakan sangat baik, hanya saja harus tetap berhati-hati karena tikungan-tikungannya sangat tajam berjarak cukup dekat, jalan yang tidak terlalu lebar, kendaraan yang cukup kencang dari arah berlawanan, serta jalan yang relatif menurun. Kondisi jalan yang berkelok-kelok, tikungan-tikungan tajam, tanjakan dan turunan akan mendominasi jalur sepanjang Kecamatan Cilawu di Kabupaten Garut sampai memasuki Kecamatan Salawu di Kabupaten Tasikmalaya.

 

Jalur yang kami lewati ini merupakan Jalan Provinsi yang menghubungkan 2 wilayah administrasi, yaitu Kecamatan Cilawu di Kabupaten Garut, dan Kecamatan Salawu di Kabupaten Tasikmalaya yang kondisi jalannya sudah cukup bagus. Jalur ini juga merupakan jalur alternatif ketika musim mudik, tetapi apabila sehari-hari, jalur ini merupakan jalur utama truk pengangkut kayu, material bangunan dan ayam. Memang disepanjang jalur Kecamatan Cilawu tepatnya di sepanjang areal pesawahan yang sudah dekat dengan perbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya. Setelah memasuki wilayah Kabupaten Tasikmalaya, kita juga akan melewati objek wisata budaya Kampung Naga, salah satu kampung adat yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu yang ketika kami melintas suasananya sangat sepi, mungkin sedang tidak ada jadwal kunjungan. Di jalur ini juga ada yang dinamakan “Tikungan Gelung”, kalau menurut info teman saya, sedari awal pembuatan pelurusan jalur selalu tidak berhasil, pasti saja longsor. Begitu pertama kali saya melihat “Tikungan Gelung” ternyata jalur awalnya memang harus sedikit memutar mendekati tebing, tetapi setelah pelurusan jalur berhasil, jalur lama pun nampak tidak dilewati lagi. Sepanjang jalur Cilawu-Salawu, dimulai setelah melewati jalur masuk perkebunan teh Dayeuhmanggung sering turun kabut ketika sudah mulai sore.

 UPLOAD 12

Memasuki Kota Kecamatan Salawu, cuaca menjadi lebih cerah, bahkan sinar matahari pagi bisa kami rasakan ketika mengisi bahan bakar di SPBU terakhir yang akan kamu temui di sepanjang jalur menuju tempat tujuan kami. Langit sedikit menunjukan warnanya yang biru, jejeran pegunungan diarah Utara mulai menampakan diri, tetapi tetap saja Cikuray masih enggan untuk menampakan dirinya. Setelah mengisi bahan bakar, kami pun meneruskan perjalanan menuju arah Puspahiang yang juga merupakan batas kecamatan Taraju dengan Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Setelah SPBU, sekitar 3 Km kita akan menemui percabangan jalan, ambil yang kearah kanan yaitu yang menuju Kecamatan Taraju, Kecamatan Bojonggambir, dan Desa Pamijahan. Sedangkan arah yang lainnya, yang tetap mengikuti jalur merupakan jalan utama menuju kota Kecamatan Singaparna yang kemudian menuju Kota Tasikmalaya. Kondisi lalu lintas disepanjang jalan utama Kecamatan Salawu cukup ramai, terutama oleh ELF dan sepeda motor, berbanding terbalik dengan keadaan lalu lintas 2 minggu sebelumnya, ketika saya dan 2 orang lainnya melintas di jalan yang sama pada pukul 19.00 hari Sabtu yang lalu, sama sekali tidak terlihat aktivitas warga bahkan hilir-mudik kendaraan pribadi dan kendaraan umum pun nyaris tidak ada, yang kami temui hanyalah kegiatan di tempat peribadatan, itupun hanya sebatas selepas Isya.

 

Memasuki jalur Puspahiang, kondisi lalu lintas menjadi semakin sepi, hanya sesekali kami berpapasan dengan ELF ataupun menyusul sepeda motor. Kendaraan pribadi ataupun truk pengangkut kayu dan material bangunan nyaris tidak kami temui,  suasana yang lagi-lagi berbeda dengan 2 minggu yang lalu, di mana hampir setiap kendaraan yang kami temui adalah truk pengangkut kayu, batu, dan pasir. Kondisi jalan menjadi semakin sempit, mungkin hanya selebar 2 truk berpapasan, itu pun sudah sangat mepet, sangat berkelok-kelok dengan jurang di sisi kiri dan tebing serta jalan kecil menuju desa-desa di sisi kanan menjadi pemandangan kami menuju kota Kecamatan Taraju. Medan jalan relatif datar, bahkan sesekali menurun. Selepas Pasar Puspahiang, kita akan menemukan percabangan jalur, yang kearah atas (kanan) yaitu menuju Taraju, Bojonggambir, Pamijahan, sedangkan yang ke bawah (kiri) yaitu menuju Cikuya. Kami mengambil jalur yang atas (kanan) seperti waktu 2 minggu yang lalu, meskipun sempat terlintas apakah Cikuya yang dimaksud papan penunjuk arah tadi sama dengan Cikuya yang kami tuju? Apakah memang jalur yang bawah merupakan jalur yang lebih cepat dibandingkan jalur yang sudah pernah saya plot sebelumnya? Selepas Puspahiang, kami memasuki Desa Cikubang. Di Desa Cikubang ini kondisi jalan semakin berkelok-kelok dan medannya cenderung menurun terus. Pada daerah ini juga akan ditemui pemandangan dan kondisi jalan yang menurut saya dan 2 orang lainnya mirip seperti pemandangan ketika melewati Kec. Naringgul di Kab. Cianjur sana. Jalan sempit berkelok-kelok dengan tikungan sangat tajam ditambah dengan turunan curam yang berada ditengah-tengah antara 2 tebing yang merupakan rangkaian perbukitan khas Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat, dan menuju dasar lembah untuk kemudian menanjak kembali menuju deretan perbukitan di sisi lain. Kalau saya lebih sering menyebutnya “Pindah Bukit”. Selepas daerah yang mirip dengan Naringgul, medan jalan akan berubah menjadi full tanjakan dengan tetap berkelok-kelok dan sesekali akan kita temui tikungan tajam. Kondisi jalan ini akan tetap kita lalui sampai memasuki kota Kecamtan Taraju. Memasuki Desa Deudeul, kita akan menemui 3 persimpangan jalan lagi. Persimpangan jalan yang pertama membagi jalur menuju Kecamatan Karangnunggal, Desa Pamijahan, Kecamatan Sodonghilir dan jalur yang satu lagi menuju Kecamatan Taraju, Kecamatan Bojonggambir, Desa Cikubang, Desa Singajaya (yang sudah merupakan batas administrasi Kab. Garut-Kab. Tasikmalaya). Ambil jalan yang menuju Kecamatan Taraju (arah kanan/atas). Persimpangan yang ke-2 yaitu yang menuju kota Kecamatan Taraju dan yang menuju Desa Cikubang.  Setelah beberapa Km dari persimpangan ini, kita akan menemui tikungan tajam (yang cukup fatal bila salah mengambil posisi bila menggunakan mobil) disertai dengan tanjakan panjang. Setelah melalui tikungan ini, kita akan memasuki areal perkebunan teh, tanda bahwa Desa Singasari akan segera kita lewati dan akan segera memasuki kota Kecamatan Taraju. Batas Desa Singasari dan kota Kecamatan Taraju ditandai dengan sebuah tugu dekat dengan Pasar Simpang, yang merupakan pasar di persimpangan ke-3 (persimpangan terakhir) yang jalurnya menuju Kecamatan Sodong Hilir, dan arah yang mengikuti jalur menuju Taraju.

 

Taraju pagi itu, bisa dikatakan lebih ramai dibandingkan pada saat 2 minggu sebelumnya kami tiba di Taraju sekitar pukul 20.00 WIB. Pukul 10.00 WIB, kami tepat memasuki Taraju dan aktivitas warga bisa dikatakan cukup ramai, dan ada beberapa ELF yang baru tiba dan yang segera berangkat dari Terminal Taraju, langit pun sangat biru dengan awan putih di kejauhan, ya, cuaca di Taraju pagi ini cukup cerah. Kondisi jalan yang cukup baik dimulai dari Kecamatan Puspahiang membuat perjalanan kami sedikit lebih cepat meskipun medan jalan yang kami lalui tidak begitu mudah. Tepat di depan Terminal Taraju, kami berhenti untuk mem-plot jalur mana yang harus kami lalui untuk tiba di Desa Cikuya, karena ketika 2 minggu yang lalu saya dan 2 orang lainnya mencoba untuk mensurvei jalur, kami hanya sampai di Taraju tanpa mendapatkan informasi yang cukup mengenai jalur tercepat dan kondisinya untuk menuju Desa Cikuya di Kecamatan Culamega. Dan inilah tantangan kami yang pertama.

 

Kondisi jalanan Taraju yang mulus ternyata hanya mengantarkan kami hingga ± 3 Km dari papan tanda memasuki areal Perkebuna Teh Sambawa, Kecamatan Taraju, Kab. Tasikmalaya dan sekitar ± 1 Km dari sebuah tepat makan di tengah kebun teh dekat dengan pabrik pengolahan teh di areal perkebunan Teh Sambawa. Hanya terlihat 3 sepeda motor termasuk kami yang melintas di jalur ini, beberapa sepeda motor yang berpapasan, serta beberapa pekerja perkebunan teh yang sudah menyelesaikan pekerjaannya di kebun. Seperti yang saya tulis, jalan mulus hanya mengantarkan kami sejauh ± 3 Km, selepas itu, jalanan yang kami lalui mulai menampakan kondisi aslinya, jalanan khas perkebunan teh, batu dengan lubang menganga disana-sini, dan karena kondisi pada saat itu cukup cerah, maka debu dari jalan kebun teh yang kami lalui menjadi pemanis tambahan. Bila saat itu hujan, maka lumpur dari tanah merah serta air dan cipratan airlah yang akan menjadi pemanis buatan. Kondisi jalan akan semakin parah ketika memasuki perbatasan Kecamatan Tarajau-Kecamatan Bojonggambir, tepatnya memasuki wilayah administrasi Desa Mangkonjaya, ternyata jalur yang kami ambi tidak salah, masih mengikuti arahan dari GPS sederhana dan seadanya dari Hp saya. Ternyata, hanya tinggal motor saya yang melintas disini 2 motor lainnya yang berada didepan kami sudah menghilang entah kemana, salut dengan warga disini yang sampai mahir mengendarai kendaraannya dengan kondisi jalan seperti ini, kendaraan yang berpapasan pun hampir tidak ada. Pemandangan yang mendominasi perjalanan kami terdiri dari hamparan luas areal perkebunan teh di perbukitan dengan jurang yang cukup dalam, rentetan perbukitan yang terus memanjang ke arah Selatan, langit biru dengan sedikit hiasan awan putih, dan debu-debu yang berterbangan tertiup angin sepoi-sepoi, tidak ada suara lainnya selain suara mesin motor kami dan teriakn kecil kami ketika melintasi trek yang cukup sulit dan sangat rusak parah. Di jalur ini, akan ditemui kembali percabangan jalan dengan pos Ojek Singajaya di sisi kanan jalan. Tidak ada papan penunjuk jalan di persimpangan kali ini, kami pun sempat ragu dan akhirnya memutuskan jalur yang ke arah kanan, karena terlihat lebih mulus. Ternyata penunjuk di GPS HP yang sempat menghilang karena tidak ada sinyal kembali muncul dan menunjukan bahwa kami salah belok, untung belum terlalu jauh, kami pun memutar arah dan mengambil jalan ke atas, meneruskan dari jalur utama tadi. Ternyata saya baru sadar, kalau jalan yang kami ambil tadi merupakan jalur yang juga saya cari, yaitu jalur menuju Desa Singajaya yang merupakan batas Kab. Tasikmalaya-Kab. Garut dengan melalui perkebunan teh. Pemandangan di sisi kanan pun mulai terbuka, yang semula terhalang oleh bukit yang menjadi areal perkebunan teh menjadi sangat luas dengan jejeran tebing pegunungan dan bukit terjal di bagian Kab. Garut yang seolah menjadi dinding pembatas jurang yang sangat lebar dengan beberpa desa  tersebar tidak merata di bawah kami, serta tebing-tebing perbukitan terjal yang merupakan bagian dari Kecamatan Taraju yang kami lewati tadi, sedangkan di sisi kiri pemandangan masih juga sama, deretan perbukitan yang kami lewati sepanjang Puspahiang-Cikubang yang terus memanjang ke arah Selatan dengan jurang sebagai pembatas dengan jalan yang sedang kami lewati di punggungan deretan perbukitan lainnya. Sampai saat ini, cuaca sangat mendukung meskipun suasana sangat sepi dan jalan semakin hancur. Kondisi jalan selepas persimpangan dengan Desa Singajaya tadi menjadi sedikit menanjak dan akhirnya tepat sebelum memasuki permukiman di Desa Mangkonjaya, untuk pertama kalinya lagi kami berpapasan dengan 2 mobil pribadi. Suasanan desa cukup sepi, warga hanya berakitvitas dihalaman rumah, sedikit sepeda motor ataupun warga yang hilir-mudik di jalanan. Tidak berapa lama, kondisi jalan menjadi sedikit membaik, tidak lagi berupa batu-batu khas perkebunan teh tetapi menjadi kondisi aspal yang mengeupas disana-sini, dan kemudian berubah menjadi aspal yang cukup baik. Kami pun memasuki Kota Kecamatan Bojonggambir. Disini, akan cukup banyak ditemui persimpangan jalan yang semuanya merupakan jalan desa menuju dusun-dusun/kampung-kampung yang berada di Kecamatan Bojonggambir ini. Agar tidak bingung, patokan ketika melewati jalur ini adalah Terminal Ciawi di Kecamatan Bojonggambir. Terminal Tipe C yang kondisinya sangat sepi, tidak ada bus kecil atau ELF, bahkan pasar, kondisi jalan sedikit lebih lebar. Melewati Desa Ciawi, kondisi jalan kembali rusak dan menjadi sempit dan sepi kembali. Deretan tebing perbukitan dan jurang di kanan dan kiri jalan pun kembali terlihat, lagi-lagi kami menemui persimpangan jalan dan kami berada dalam area bebas sinyal, sehingga petunjuk di GPS seadanya pun tidak dapat meng-update posisi dengan cepat dan otomatis, perlu waktu hanya untuk sekedar mengetahui di mana posisi kami sekarang. Akhirnya dengan sedikit coba-coba lagi, kami mengambil jalan yang kearah bawah (kanan) karena melihat kondisi jalan yang menanjak cukup berat dengan kondisi jalan yang lebih rusak, sekilas saya membaca alamat di sebuah papan pesantren, Kecamatan Pedangkamulyan. Saya pun bingung, Pedangkamulyan merupakan daerah yang saya plot untuk jalur pulang, dan pada plot jalur pergi, sama sekali tidak melewati Pedangkamulyan, akhirnya kami pun berhenti, tepat di tikungan curam dengan kondisi jalan yang semakin hancur parah dengan jurang menganga di kanan kami. Saya mengecek posisi kami, ternyata kami salah jalur, jalur yang kami lewati ini memang bisa sampai ke tempat tujuan, tetapi selain tidak ditandai oleh GPS, ujung jalan yang kami lewati pun nampak terputus beberapa Km di GPS, meskipun ada lagi sambungan jalan di sisi satunya. Berhubung lokasi kami dan keadaan jalan tidak mendukung, kami pun sepakat balik arah dan bertanya di satu-satunya warung sekaligus shelter untuk hasil perkebunan teh dan bertanya.

 

Ada 5 orang bapak-bapak ketika saya tiba di warung tersebut, ternyata benar saja, jalur yang seharusnya kami tempuh memang jalur yang kearah atas, memasuki ujung wilayah administrasi Kecamatan Pedangkamulyan, dan jalur yang barusan kami lewati dan meragukan, ternyata memang jalur yang sama-sama menuju Kecamatan Culamega tetapi dengan sebutan “Jalur Potong Kompas”, jalannya semakin kedepan akan semakin rusak dan ada beberapa daerah yang jalannya curam, bila tidak terbiasa sebaiknya jangan lewat jalur yang tadi saya lewati. Saya pun bertanya mengenai lokasi Talaga Denuh, dan ternyata semua bapak-bapak disana tahu lokasinya dan memberikan informasi yang sangat cukup mengenai jalur yang akan kami lewati nanti. Menurut mereka, bila kami tetap melanjutkan lewat “Jalur Potong Kompas” jaraknya ± 20 Km sampai Talaga Denuh, tetapi bila kami melewati jalur utama, akan sedikit memutar sehingga menjadi ± 30 Km. Seperti biasa, begitu kami menjawab darimana asal kami, spontan semua yang ada di sana menunjukan ekspresi kaget, heran, aneh karena ada 2 anak muda nekat & ga jelas yang datang beratus-ratus kilometer menempuh jalanan super hancur hanya karena penasaran sama yang namanya Talaga Denuh. Kami pun meneruskan perjalanan.

 

Untunglah si motor kali ini mau bekerja sama, saya tidak perlu turun karena motor tidak kuat nanjak di jalan super hancur bahkan di ujung tanjakan pun, masih harus menanjak lagi ditambah dengan bonus tikungan. Setelah itu jalan kembali datar, kami pun berada di punggungan bukit yang sedikit lebih tinggi dari jalan sebelumnya. Beruntung ternyata tidak jauh kami pun memasuki sebuah desa lagi, Desa Sukabakti, Kecamatan Pedangkamulyan, Kabupaten Tasikmalaya. Suasana desanya masih bisa dibilang cukup ramai, masih ada beberapa warga yang beraktivitas diluar rumah, ada juga yang hilir mudik di jalanan desa yang semakin lama semakin hancur. Setelah keluar dari Desa Sukabakti, jalanan kembali sepi dan hancur, kali ini kami ada teman seperjalanan, 1 motor yang sama-sama melintas di jalur ini. Tidak lama meninggalkan desa, kami kembali menemui persimpangan jalan, karena masih tidak mendapatkan sinyal, kami pun ingat pesan bapak-bapak di warung, kalau ketemu persimpangan lagi, ambil saja yang kearah kanan, dan kamipun mengambil arah yang kanan yang jalannya menanjak dan sedikit lebih bagus. Tetapi GPS Hp berkata lain, ternyata jalan yang ditunjukan GPS adalah arah yang bawah & motor yang berada di belakang kami pun melewati jalur yang bawah, karena tidak mau mengambil resiko nyasar dan buang-buang waktu, kami pun memutar arah dan mengambil jalur yang bawah. Jalur ini semakin lama semakin rusak, bahkan ada 2 genangan air yang lumayan licin, sepertinya bekas hujan, jalannya cukup lebar dibandingkan sebelumnya. Tidak lama, kamipun memasuki permukiman penduduk lagi, kali ini kami tiba di Desa Cipicung, Kecamatan Pedangkamulyan, Kabupaten Tasikmalaya, desa terakhir sebelum akhirnya kami memasuki Kecamatan Culamega. Jalan di Desa Cipicung ini bisa dibilang semakin rusak, batu-batu yang cukup besar, lubang yang menganga disana-sini, kondisi jalan yang menurun dan menikung di beberapa titik, bahkan ada beberapa meter yang batunya hancur parah dan dipastikan akan mengenai bagian bawah motor kalau kami memaksa mengambil jalur itu dan tidak sangat berhati-hati. Jalan yang ada pun melipir sampai ke tepi jalan dengan kondisi sangat sempit, hanya selebar ban motor dengan permukaan tanah, jika ban kita basah atau kondisi hujan, dapat dipastikan jalurnya akan sangat licin dan bisa dipastikan juga jika tidak sangat berhati-hati akan jatuh ke bawah, ke halaman rumah penduduk yang letaknya jauh lebih rendah dari jalan, atau jika beruntung hanya akan jatuh ke bagian tengah jalan yang sudah berubah menjadi kubangan air dengan batu-batu yang cukup besar. Untunglah kondisi jalan yang seperti itu tidak terlalu panjang, jalan pun kembali berbatu dan rusak seperti sebelumnya, tidak ada lagi jalur tanah dan bahkan setelah beberapa Km, jalan akan bercabang dua, kali ini penunjuk arah di HP melaksanakan tugasnya dengan baik, rupanya di daerah ini saya mendapatkan sinyal.  Kondisi jalan pun akhirnya membaik,  jalur yang kami ambil kali ini beraspal meskipun hanya aspal sekelas jalan desa. Kali ini kondisi jalan tidak teralu curam, hanya sesekali kamu menemui tikungan tajam dan tanjakan serta turunan curam, kondisi jalannya relatif sedikit datar. Posisi jalan yang kami lalui benar-benar berada di puncak punggungan perbukitan yang terus mengarah ke Selatan. Pemandangan di kanan dan kiri jalan berubah kembali menjadi bentangan jurang yang membatasi jejeran tebing perbukitan lainnya di seberang sana. Cuaca siang ini tetap cerah, meskipun langitnya sudah tidak biru sepenuhnya, ada beberapa awan putih yang mulai bergerak menuju arah kami karena tiupan angin. Kondisi jalan di sini relatif ramai dengan permukiman penduduk yang menyebar sepanjang jalan dan dibatasi oleh kebun-kebun miik warga, areal perkebunan karet dan juga kolang-kaling, di beberapa tempat kami berpapasan dengan penduduk yang sedang berjalan kaki menuju Masjid karena hari ini Hari Jumat dan sudah hampir jam 11 siang. Kami terus menyusuri jalan yang semakin lama semakin menuruni bukit di tengah-tengah areal (mungkin) perkebunan karet sampai akhirnya saya melihat tugu batu khas yang bertuliskan Desa Cikuya, Kecamatan Culamega, akhirnya kami tiba di Desa Cikuya. Jalanan masih sepi meskipun sudah cukup lebar dan kondisinya semakin baik, ada beberapa persimpangan dengan jalan yang lebih kecil dari jalan yang kami lewati. Akhirnya daripada kami salah jalur lagi, kali ini teman saya yang bertanya ke penduduk yang kebetulan sedang berkumpul, ternyata jalur kami kali ini benar dan lagi-lagi semua yang ada di rumah tersebut kaget ketika mendengar kami datang darimana. Ketika teman saya bertanya tentang Talaga Denuh, sebagian dari warga yang kami tanya di rumah tadi ada yang menyebutnya dengan sebutan “Kawah”.

 

Sekitar 2 Km dari tempat kami bertanya tadi, kami kembali menemui persimpangan, kali ini dengan kondisi di sekeliling yang cukup ramai, seperti kota Kecamatan Culamega. Setelah kembali bertanya jalan mana yang harus kami ambil untuk menuju Talaga Denuh, lagi-lagi penduduk disana menyebut “Talaga Denuh” dengan sebutan “Kawah”. Jalan yang sudah mulus berubah kembali menjadi jalan aspal desa yang sudah rusak tetapi tidak separah jalan perkebunan. Sejak memasuki Desa Cikuya, sinyal hp saya sudah secara resmi sudah tidak dapat lagi ditangkap, jadi selama menyusuri jalan ini, kami mengandalkan GPS baru (Guide Penduduk Setempat). Berhubung sudah hampir waktunya Shalat Jumat, maka kami pun memutuskan untuk berhenti begitu melihat Masjid dan akhirnya kami tiba di salah satu Masjid di Desa Bojongsari, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya tepat pukul 11.25 WIB. Setibanya di Masjid, teman saya segera ke Masjid untuk bersih-bersih terlebih dahulu, sementara saya menyempatkan untuk bertanya-tanya dengan warga yang kebetulan sedang menunggu Shalat Jumat di warung yang kami singgahi. Ternyata sebagian besar warga di Kecamatan Culamega menyebut “Talaga Denuh” dengan sebutan “Kawah”, berbeda dengan beberapa warga yang kami temui di Kecamatan Bojonggambir sebelumnya. Ternyata setelah saya menanyakan kenapa kebanyakan orang menyebut dengan kawah dan apakah sebelumnya pernah ada gunung api, menurut mereka, hanya sebutan saja karena berada tepat dipuncak bukit dan menurut informasi yang saya dapat, jalan menuju Kampung Daracana malah sudah lebih bagus dari jalan Desa Cikuya-Desa Bojongasri karena sudah di cor beton sebagai hasil dari program Pnpm tahun lalu. Talaga Denuh juga untuk penduduk di sekitar sini sudah cukup dikenal karena merupakan tempat yang biasa didatangi untuk sekedar memancing. Bahkan, tidak jarang ada beberapa kelompok yang datang dari luar Culamega untuk sekedar kemping di Talaga Denuh. Selain itu juga, warga di sana juga memberikan informasi bahwa untuk menuju ke Telaga Denuh diperkirakan harus berjalan kaki sejauh ± 3 Km dengan menuruni bukit melalui pematang sawah hingga ke dasar jurang yang ditengahnya melintas Sungai Cipatujah dan kemudian kami harus menyebrangi Sungai Cipatujah untuk kemudian kembali mendaki hingga puncak bukit.

 

Setelah menunggu selama 1 jam, saya dan teman saya pun meneruskan perjalanan menuju Daracana dengan patokan sekolah SD untuk tempat menitipkan motor sebelum meneruskan kembali perjalanan dengan berjalan kaki. Jalan desa yang kami lalui kondisinya cukup baik untuk ukuran jalan desa yang cukup jauh dari kota kecamatan dan berdampingan terus dengan sebuah aliran sungai yang cukup besar dan dibatasi bukit-bukit yang kebanyakan lahannya sudah menjadi areal sawah dengan kondisi jalan yang berbatu dan jauh lebih sempit. Ada satu buah jembatan yang cukup besar dan dapat dilalui oleh sepeda motor untuk menyebrangi sungai tersebut, selebihnya hanya jembatan dari bambu yang jumlahnya pun tidak seberapa. Akhirnya kami sampai diujung jalan dan buntu, bila diteruskan hanya bisa dengan berjalan kaki dan kebetulan ada sekolah, tetapi kami belum menemukan jalan yang di cor beton, maka kami putuskan untuk bertanya kembali di sebuah warung dan ternyata jalan untuk menuju Daracana tepat berada disebelah warung dengan kondisi di cor beton dan menanjak. Kondisi jalan akan terus menanjak dan menanjak dan menanjak terus. Jalan yang kami lalui ini sangat sempit, mungkin selebar 1 buah kendaraan mini bus. Posisi kami sekarang tepat berada di puncak bukit dan pemandangan di kanan adalah jurang yang cukup dalam dengan dasarnya adalah aliran sungai yang sejajar dengan jalan di Desa Bojongasih. Kami sempat bertanya 2x pada warga yang kebetulan melintas, karena di sisi kanan kami jurang dan sisi kiri kami tebing bukit, dan permukiman warga berada di lokasi yang berada lebih rendah dari jalan raya dan nampak tidak ada tanda-tanda SD yang dimaksud. Ternyata kami masih berada di puncak bukit dan SD yang kami cari berada di lebak (bawah). Setelah jalan kembali bercabang 3, akhirnya kami pun bertanya lagi dengan warga yang kebetulan sedang melintas, dan menyarankan kami untuk mengambil jalur kearah kiri. Sebenarnya jawabannya kurang meyakinkan, dan akhirnya kami putuskan untuk mengambil jalur sebelah kiri dan bertanya kembali pada warga lainnya. Ternyata jalan yang kami ambil sudah benar dan SD yang dimaksud pun berada tepat di sebelah kiri kami dan nama Sdnya adalah “SDN Denuh” Desa Cikuya, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya. SD yang menurut kami memiliki bangunan yang cukup bagus untuk daerah uang cukup jauh dari mana-mana ini, halamannya cukup luas, tepat disampingnya yaitu SMPN 1 Denuh.

 

Sebenarnya kami ditawari oleh warga yang terakhir kami tanya untuk ke Telaga Denuh bersama-sama, tapi karena kami harus mencari tempat untuk menumpang menitipkan motor dan membeli sedikit makanan karena kami berencana untuk memasak di Talaga Denuh untuk makan siang, jadilah kami ditinggal rombongan warga yang kelihatannya tidak bereda untuk memancing. Akhirnya setelah meinta izin di rumah terdekat dengan SD untuk menitip motor, kami pun membeli beberapa makanan di warung yang masih jam 14.00 tapi sudah akan tutup. Sempet berbincang dengan Teteh penjaga warung, diperlukan waktu kurang lebih 2 jam berjalan kaki hingga sampai ke Talaga Denuh, tapi untuk warga disana biasanya hanya memerlukan waktu 1 jam saja. Akhirnya kami mulai berjalan kaki, baru mulai jalan kaki sudah disambut jalan setapak dari tanah merah yang kebetulan kondisinya basah tetapi tidak lama, setelah itu kami menemui lapang bola, disini ada 3 percabangan jalan dan kami memilih jalan setapak yang banyak jejak ban motor, kayu yang berserakan, serta pohon yang tinggal setengahnya saja. Di ujung jalan setapak yang kami pilih, ternyata jalan kembali bercabang 3, kali ini kami benar-benar bingung harus memilih yang mana, tetapi teman saya memilih cabang yang paling kanan, karena lebih dekat menuju sawah.  Jalan setapak yang kami lewati berupa turunan curam dengan pijakan kaki yang sempit dan akan sangat licin dan menjadi lumpur bila musim hujan. Tiba di ujung pematang sawah, kami melihat setidaknya ada 3-4 orang pemuda yang berada di ujung kiri pematang sawah, kami pun memutuskan untuk menyusul mereka. Dengan bermodal nekat dan mencari jalur termudah diantara pematang sawah yang terbilang sangat sempit dengan jarak yang cukup tinggi dengan pematang dibawahnya, kami pun berhasil tiba di saung yang berada tepat di bibir jurang. Sempat saya meminta teman saya untuk berteriak ke arah pemuda tadi untuk menunggu kami, atau sekedar bertanya arah mana yang benar menuju Talaga Denuh. Sesekali mereka melihat kearah kami dengan ekspresi kebingungan. Untuk saya pribadi, cukup sulit berjalan di pematang sawah yang sempit dengan pijakan tanah yang tidak padat, salah sedikit saja pijakan kita, maka kita akan terperosok kedalam lumpur, beruntung hari ini tidak ada hujan. Setelah hampir 15 menit mencari jalan yang termudah untuk menyusul rombongan tadi, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak di saung. Saya beristirahat sejenak sembari menunggu teman saya mencari jalur ke bawah, ke arah sungai. Setelah ikut melihat jalur yang akan dilewati, saya pun mendadak malas untuk meneruskan perjalanan dan memilih kembali ke desa untuk meminta warga yang ada disana untuk mengantar kami. Untunglah tidak berapa lama, dari arah jalan setapak tempat kami datang, muncul 3 orang pemuda lainnya. Tidak disangka jalan mereka sangat cepat dan jalan yang diambil ternyata jauh berbeda dengan yang kami lalui tadi. Dalam sekejap, mereka sudah sampai di saung tempat kami istirahat. Ternyata benar saja, jalan yang kami ambil untuk menuju Talaga Denuh, bahkan tebakan jalur jalan setapak yang menanjak di bukit seberang sungai pun salah. Mereka menunjukkan jalan yang seharusnya kami ambil menuju ke sungai, berada di sisi kanan jalan setapak sebelum pematang sawah, sedangkan kami, mengambil jalur ke arah kiri dari ujung jalan setapak menuju pematang sawah. Jalan yang barusan kami ambil sebenarnya sama-sama menuju dasar sungai, tetapi untuk menuju ke jalan setapak menuju Talaga Denuh, kami harus menyusur sungai melawan arus. Tidak masalah jika sungainya sedang sedikit airnya seperti sekarang, tetapi bila sedang meluap, jangankan untuk menyusur sungai, bahkan untuk menyebrang pun tidak bisa, warga disini pun bila air sunga sedang besar, tidak ada yang memaksa untuk menyebrang. Tidak ada jembatan disini, sebenarnya ada tetapi jaraknya cukup jauh dan tetap harus melipir di pematang sawah dengan arah melawan arah aliran sungai. Tidak membuang waktu, kami pun kembali menuju jalan yang ditunjukan oleh teman kami tadi. Ternyata memang pematang yang tadi dilewati oleh 3 orang terakhir sedikit lebih lebar dari yang kami lalui pertama. Tidak lama, kami pun sampai di ujung pematang sawah dengan pinggiran sungai, disini kami masih harus mencari pijakan yang benar untuk menuju bawah, karena tidak jarang di balik rimbunnya rumput merupakan lubang yang cukup besar dan dalam, bahkan bila terjatuh akan terperosok langsung ke jurang, seperti yang banyak sekali kami temui pada saat berjalan di pematang sawah tadi. Teman saya pun bilang, feeling saya cukup bagus untuk urusan nyasar menyasar, kalau dari awal saya tidak ngotot untuk berhenti di saung dan bertanya arah yang benar, mungkin kami sudah cukup kewalahan menempuh jalan yang salah menuju sungai di dasar jurang. Setibanya di tepi sungai, saya melihat ada seorang bapak yang sedang khusyuk memancing, saya pun meminta tolong teman saya untuk bertanya jalur ke bapa ini berhubung jalannya cukup cepat dibandingkan saya di batu-batu di pinggir sungai ini.  Setelah menunggu sebentar, teman saya pun kembali dan ternyata bapa ini pun ikut. Saya, yang sedari pagi belum makan dan kurang tidur mulai kehabisan tenaga, badan mulai gemetar, susah konsentrasi, dan yang pasti sangaaaattt lemas. Akhirnya saya memutuskan untuk memasak makan siang dulu sambil mengobrol dengan bapa ini. Ternyata nama bapa ini, sebut saja Pak Abdul. Dari Pak Abdul inilah kami mendapat banyak sekali informasi yang memang kami cari mengenai Talaga Denuh. Sambil menyiapkan makan dan kopi untuk Pak Abdul, akhirnya saya dan teman sepakat untuk pisah. Teman saya saya minta tolong untuk tetap jalan sampai ke Talaga Denuh dan mengambil beberapa foto sementara saya tetap tinggal di pinggir sungai ditemani Pak Abdul. Hal ini dilakukan karena berdasarkan informasi dari Pak Abdul, masih diperlukan sekitar 1 jam lagi untuk sampai di Telaga Denuh karena setelah menyebrangi Sungai Cipatujah ini, jalan akan menanjak, sempit, cukup terjal, akan sangat licin jika hujan, dan bila hujan juga, aliran Sungai Cipatujah akan meluap dan dipastikan akan sangat kesulitan untuk menyebrang. Daripada saya dengan fisik yang sudah kelelahan malah menghambat dan menyusahkan, jadi akhirnya kami sepakat teman saya trekking sendiri menuju Talaga Denuh mengikuti warga lain yang kami temui di sekitar sungai yang akan menuju Talaga Denuh, sementara saya menunggu di pinggir sungai dengan Pak Abdul.

 

Setelah teman saya pergi, saya pun sedikit mengobrol dengan Pak Abdul tentang Talaga Denuh, ternyata memang “kawah” itu hanya sebutan warga disini karena memang letak Talaga Denuh yang berada di puncak bukit dan hanya satu-satunya didaerah sini. Memang, disekitar Talaga Denuh di Kecamatan Culamega ini sangat sedikit sekali ditemukan danau, embung, waduk, ataupun hanya sekedar genangan, tidak seperti di daerah Cianjur, Garut, dan Sukabumi. Saya pun menanyakan mengenai keberadaan beberapa situs purbakala yang saya peroleh informasinya di internet dan memang ternyata memang benar ada. Sekitar tahun 2001, pernah ada seorang dosen dari salah satu universitas negeri di Bandung yang datang dan meneliti situs-situs tersebut. Situs-situs itu sendiri berupa dolmen, menhir, beberapa perkakas batu yang memiliki bentuk-bentuk unik, serta beberapa peninggalan lainnya yang berada di sekitar Talaga Denuh dan sebagian lagi ada yang berada di Kampung Daracana. Mengenai tempat situs-situs tersebut, dari Talaga Denuh masih harus berjalan menyusuri puncak bukit, karena letaknya menyebar dan dianjurkan untuk diantar agar tidak tersasar. Talaga Denuh sendiri menurut Pak Abdul sudah mengalami penyusutan karean hutan-hutan yang berada disekeliling bukit sudah habis ditebang, sudah gundul dan lagi-lagi mulai terjadi sejak lengsernya pemerintahan orde baru, sama seperti cerita dari ibu penjaga warung di Curug Cikaso yang menceritakan nasib hutan jati dan karet di sekitar pesisir Kecamatan Tegalbuleud, Kecamatan Surade, dan Kecamatan Cibitung di Kab. Sukabumi sana. Selagi saya berbincang dengan Pak Abdul, setidaknya sudah ada 3 rombongan warga yang mengangkut kayu hasil penebangan dan telah dibentuk untuk dibawa dari hutan dibukit-bukit dekat tempat saya sekarang menuju Daracana untuk kemudian diangkut oleh truk. Menurut Pak Abdul, kayu-kayu tadi ada yang digunakan sendiri oleh warga ada juga yang untuk dijual. Reaksi yang sama saya dapatkan ketika menceritakan bagaimana saya dan teman saya bisa sampai disini, terkejut dan merasa heran ada juga anak perempuan yang sedikit nekat mencari jalur sendiri dari hasil ketidaksengajaannya menemukan Talaga Denuh di peta. Begitu Pak Abdul tahu saya datang dari arah Taraju-Bojonggambir-Pedangkamulan beliau pun tertawa ternyata menurutnya ada jalan yang lebih baik untuk dilalui, setidaknya ada 2 jalur, tetapi jalur yang 1 memang ujung-ujungnya memang kondisi jalannya tidak jauh berbeda dengan Desa Bojongasri, tapi setidaknya tidak seperti di Desa Kertanegla dan Mangkonjaya di Kecamatan Bojonggambir. Jalur yang 1 lagi merupakan jalur yang melalui Kecamatan Karangnunggal, jalur yang juga merupakan jalur utama Tasikmalaya-Cipatujah melalui Pamijahan, jalur yang sama yang pernah saya lewati ketika pulang dari Curug Dengdeng di Kecamatan Pancatengah. Mengenai sulitnya mencari informasi mengenai Talaga Denuh pun saya sampaikan, tapi menurut Pak Abdul, sejak tahun 2001 sudah mulai banyak yang tahu dan datang ke Talaga Denuh, tetapi memang peningkatannya tidak secepat dan sebesar Talagabodas setelah aksesnya diperbaiki ataupun Curug Malela yang aksesnya buruk tetapi masih cukup ramai dikunjungi. Komunitas motor trail Tasikmalaya Selatan merupakan salah satu komunitas dengan anggota terbanyak yang pernah datang dan bermalam di Talaga Denuh beberapa tahun lalu, dan saya tidak memperoleh informasi tersebut ketika mencari di internet. Binatang yang hidup di hutan-hutan di perbukitan disekitar Talaga Denuh kebanyakan babi hutan, karena itu banyak warga yang sering berburu seperti warga yang siang tadi saya tanyai mengenai Talaga Denuh dan kemudian mengajak untuk pergi bersama, warga tersebut membawa serta 3 ekor anjing yang saya tidak tahu jenisnya tetapi cukup sering saya lihat ketika ada liputan/film mengenai perburuan. Sedangkan hewan yang tinggal di kayu seperti monyet, serangga, ataupun burung-burungan sudah sangat jarang ditemui oleh Pak Abdul yang memang asli dari Daracana karena pohon-pohon di hutan sekitar perbukitan ini kebanyakan sudah habis ditebang. Saya pun iseng bertanya tentang adakah truk atau warga yang menambang batu-batu di Sungai Cipatujah tempat kami sekarang, beliau menjawab tidak ada. Ya, mungkin karena akses menuju aliran sungai ini cukup sulit jika dari Daracana, jadi yang ditambang hanya aliran sungai yang ada di Desa Bojongasri, sungai yang sejajar dengan jalan yang kami lalui menuju Daracana. Setidaknya ada bagian dari Sungai Cipatujah yang tidak terkena aktivitas penambangan. Sungai Cipatujah yang mengalir di depan kami ini sama dengan Sungai Cipatujah yang bermuara di Pantai Cipatujah di pesisir Selatan Tasikmalaya. Selain bertanya mengenai keadaan alam disekitar Talaga Denuh, saya pun sedikit menanyakan mengenai hubungan sejarah atau cerita rakyat dengan Talaga Denuh,  karena menurut bapak yang saya temui ketika menunggu Jumatan, bentuk Talaga Denuh mirip bekas jejak sepatu bila dilihat dari atas. Menurut Pak Abdul memang daerah di Culamega, Sancang, Pedangkamulyan, Banjarwangi, dan beberapa daerah lainnya di sekitar Talaga Denuh masih ada kaitannya dengan bagian dari cerita sejarah Kerajaan-kerajaan di tanah Sunda. Berhubung saya pun masih sangat kurang memiliki informasi mengenai cerita sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Jawa Barat zaman dahulu, saya pun tidak terlalu ambil pusing dan mendengarkan saja penjelasan dari Pak Abdul. Pak Abdul pun akhirnya menyarankan agar kami menunggu di sebrang jalan setapak menuju Talaga Denuh, karena ternyata jalan menuju sungai ini bukanlah yang kami lewati tadi, ada jalan setapak yang jauh lebih mudah untuk dilewati dan bila sampai di tepi sungai hanya tinggal menyebrang dan langsung masuk ke jalur menuju Talaga Denuh. Yah, setidaknya nyasar kali ini lagi-lagi memberi informasi tambahan yang cukup banyak. Pak Abdul pun sekali lagi kaget karena meliha tas yang saya bawa dan berkata ternyata bawaannya saya berat juga kelihatannya dan kayanya baru atau jarang bertemu dengan anak perempuan yang maennya sampai harus nyangkut-nyangkut di sawah, di sungai, naik-turun bukit, keluar-masuk hutan. Saya pun bercertia sedikit tentang saya dan teman-teman saya dan Pak Abdul pun hanya ber-oooooo panjang. Ketika kami akan berjalan, Pak Abdul sekali lagi terkejut karena teman saya yang tadi saya minta ke Talaga Denuh sudah balik lagi, karena menurut Pak Abdul, teman saya cukup cepat untuk ukuran orang asing yang baru pertama kali ke Talaga Denuh. Saya pun bilang kalau teman saya itu memang sering naik gunung dan jalan serta fisiknya memang kuat, makanya saya memilih untuk tinggal dan meminta dia saja yang ke Talaga Denuh untuk menghemat waktu mengingat kami harus segera kembali ke Bandung, Pak Abdul hanya tertawa heran. Sebelum berpamitan, Pak Abdul menanyakan apakah ada rencana untuk datang lagi dengan teman-teman saya yang lainnya, saya pun masih belum bisa memastikan, tapi beliau hanya menyarankan bila mau ke Talaga Denuh dan bermalam sebaiknya mengunjungi yang dianggap sesepuh yang sangat kenal derah ini selama 88 tahun, dan yang ternyata tidak lain adalah mertua dari Pak Abdul sendiri. Saya pun hanya bisa tersenyum heran dan bersyukur juga karena nyasar kali ini banyak memberikan informasi dan lagi-lagi bertemu dengan orang-orang baik yang mau direpotkan oleh orang asing ga jelas yang hanya nekat datang jauh-jauh karena penasaran.

 

Pak Abdul menunjukkan jalan setapak untuk pulang kembali ke SD, dan pesannya ambil terus jalan yang kearah bukit di sebelah kanan, jangan kearah bukit yang sebelah kiri, karena akan sedikit memutar dan bukit tersebut adalah jalan menuju rumah “Mbah Denuh” kalau saya tidak salah ingat sebutan untuk mertuanya. Ternyata karena memang jalannya membingungkan, saya pun kembali salah jalan, untunglah kami diteriaki oleh warga yang sebelumnya berpapasan dengan kami dan akan ke Telaga Denuh bahwa jalan yang kami ambil salah. Jalan setapak untuk kembali ke SD Denuh cukup menguras tenaga karena berupa tanjakan yang tidak habis-habis. Tepat pukul 15.40, kami sudah kembali ke SD Denuh, dengan maksud ingin menumpang ganti baju di kamar mandi sekolah yang ternyata di kunci, jadilah kami hanya mengambil sedikit foto-foto bangunan SD yang bisa dibilang cukup bagus untuk ukuran daerah yang cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten. Kamipun berhenti lagi di Masjid Desa Bojongasih untuk bebersih, Shalat, dan packing ulang sebelum menempuh perjalanan panjang menuju Bandung. Dengan berbekal sedikit petunjuk dan sedikit feeling tebak-tebakan pertigaan mana yang dimaksud Pak Abdul untuk menuju Kecamatan Karangnunggal, pukul 16.30 kami pun meninggalkan Desa Bojongasih. Ketika kami berangkat, sudah ada sekitar 4-5 truk yang sudah siap berangkat dan sedang menaikkan muatan berupa kayu, yah, sudah waktunya truk-truk angkutan keluar, berarti kamipun harus segera tiba di jalur utama Karangnunggal jika ingin perjalanan lancar. Ternyata pertigaan yang dimaksud adalah pertigaan kedua, tempat kami bertanya untuk ke-3 kalinya sejak memasuki Desa Cikuya, Kecamatan Culamega. Ternyata jalan di Desa Cikuya menuju Kecamatan Karangnunggal (yang saya pun masih belum bisa menemukan posisinya di GPS Hp sederhana karena belum mendapatkan sinyal) sangat bagus, aspal yang masih baru dan mulus setidaknya memudahkan dan mempercepat perjalanan kami. Kami sempat berhenti untuk kembali mengisi bahan bakar, sambil menunggu kembalian, kami sempat bertanya kepada ibu dan anak yang menjual bensin jalan menju Karangnunggal, menurut mereka jalan mulus yang kami lewati ini hanya tinggal 1 Km lagi, setelah itu, jalan akan kembali rusak, tetapi tidak separah jalur yang kami lewati tadi siang hingga sampai ke pertigaan Darawati, pertigaan yang akan langsung menuju jalur utama menuju Karangnunggal. Ibu itu pun hanya tertawa sambil menggelengkan kepala ketika bertanya darimana asal kami dan akan kemana tujuan kami sekarang dan anak ibu yang paling besarpun bekerja di Bandung, tepatnya di Padalarang, oke, sedikit harus diluruskan oleh masing-masing mengenai persepsi “Bandung”. Setelah berpamitan, kami pun menerukan perjalanan melewati areal perkebunan karet dan beberapa desa kecil, sesekali melewati truk-truk yang sedang menaikkan kayu hasil perkebunan, hingga akhirnya kami memasuki pusat dari Desa Cikuya dengan kondisi jalan yang kembali berubah menjadi jalanan aspal yang sudah hancur, tapi setidaknya bukan jalan batu khas perkebunan teh atau jalan tanah khas perkebunan karet. Sekitar 30 menit akhirnya kami tiba di persimpangan dengan jalan yang cukup besar dengan kondisi yang cukup bagus dan feeling saya lebih memilih untuk bebelok kearah kiri, tetapi untuk memastikan, akhirnya saya bertanya kembali di pangkalan ojek di pertigaan tersebut dan ternyata benar, jalur ke Karangnunggal adalah jalur yang ke arah kiri.

 

Jalur yang kami tempuh selanjutnya adalah jalur utama Tasikmalaya-Cipatujah melalui Bantarkalong, Pamijahan, Cibalong, Karangnunggal, Sukapura, Kawalu dengan kondisi jalan yang cukup baik, meskipun di beberapa tempat masih ada jalan yang rusak, yaitu yang sudah memasuki Sukapura, berkelok-kelok, dan kendaraan cukup banyak dari arah berlawanan, sedang dari arah Cipatujah seperti yang kami lewati, tidak terlalu banyak. Kendaraan dari arah Cipatujah didominasi oleh truk, sedangkan dari arah Tasikmalaya didominasi oleh truk dan mobil-mobil pribadi. Meskipun sedikit memutar, tetapi total lama perjalanan hingga tiba di Bandung lagi hanya berselisih 1 jam. Jalur yang kami ambil menuju Bandung bukanlah melewati Kota Tasikmalaya tetapi menyusur melewati Kecamatan Singaparna. Kondisi jalan keluar dari pusat kota Kecamatan Singaparna sudah cukup sepi dari kedua arah, hanya sesekali berjalan beriringan dengan sepeda motor. Beruntung kali ini kabut tidak turun, kami hanya terkena kabut selepas Sukapura dan sedikit gerimis. Sepanjang jalur Singaparna-Salawu kami memacu kendaraan cukup kencang karena sudah sama-sama lapar dan badan sudah mulai protes. Di Desa Neglasari lalu lintas seddikit ramai, beberapa kendaraan pribadi dan truk pengangkut ayam serta kayu memperlambat laju kendaraan. Selepas perbatasan Tasikmalaya-Garut, lalu lintas sepi kembali. Sepanjang jalan dari Karangnunggal tidak jarang kami hampir tertabrak kendaraan dari arah berlawanan yang menyusul kendaraan di depannya dan mengambil jalur kami hingga memasuki Kota Garut. Ternyata Kota Garut diguyur hujan, berbanding terbalik dengan daerah-daerah yang kami lalui seharian ini, sama sekali tidak ada hujan, matahari cukup terik, bahkan kami masih bisa menikmati langit yang biru dari puncak perbukitan di Tasikmalaya Selatan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di Tarogong sebelum meneruskan perjalanan pulang kami. Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, kami meneruskan perjalanan yang diawali dengan nyasar di Kota Garut. Sebenarnya jalan tempat kami makan malam sedikit asing untuk saya dan ternyata memang benar kami salah belok, jadilah sedikit memutar kearah kota dan akhirnya keluar dari Kota Garut bukan melalui jalur Terminal Guntur-Tarogong Kidul, tetapi dari jalur Bayongbong-Kota Garut-Tarogong Kaler, semakin malam semakin menurun konsentrasi, apalagi teman saya yang ternyata kalau malam cukup kesulitan mengingat jalur yang sudah dilewati siang tadi dan juga kesulita membaca jalan. Memasuki Nagreg, kami sempat terhambat kemacetan padahal sudah hampir pukul 22 lewat. Ternyata kemacetan gara-gara cukup banyaknya kendaraan yang melintas dan menghindari lubang yang menganga di jalan utama. Saya tiba di rumah tepat pukul 23.00 dan sangat berterima kasih kepada teman seperjalanan saya Mamang Dian Mardiana yang sama-sama sudah berada diatas motor selama 14 jam dengan kondisi jalan yang beraneka macam, kesasar dan salah jalan bareng-bareng, stress melihat kondisi jalan dan keadaan di sekeliling, gemes karena sebegitu susahnya sampai ke Telaga Denuh, dan juga untuk Pak Abdul dan warga di Daracana yang baru pertama kalinya kami kunjungi.

 

 

 

 

 CATATAN SELAMA PERJALANAN SABTU, 31 JANUARI 2014

 

LOKASI:

Talaga Denuh, Kp. Daracana, Desa Cikuya, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

 

LAMA PERJALANAN

Bandung-Taraju                                   06.30-10.10

Taraju-Bojongsari                                10.10-11.25

Bojongsari Shalat Jumat                      11.25-13.00

Bojongsari-Daracana                          13.00-13.30

Daracana-Trekking nyasar                  13.30-14.00

Sungai Cipatujah                                14.00-14.15

Sungai Cipatujah                                14.15-15.00

Sungai Cipatujah-Daracana               15.00-15.40

Daracana-Masjid Bojongsari              15.40-16.00

Masjid Bojongsari istirahat + Shalat   16.00-16.30

Bojongsari-Darawati                           16.30-17.00

Darawati-Sukapura                            17.00-18.15

Pom bensin Sukapura istirahat                        18.15-18.30

Sukapura-Kawalu                               18.30-19.00

Kawalu-Singaparna                            19.00-19.30

Singaparna-Tarogong                        19.30-20.35

Tarogong makan malem                     20.35-21.25

Tarogong-Bandung                             21.25-23.00

 

BIAYA

Bensin 1           Rp 20.000,00 (P)

Bensin 2           Rp 15.000,00 (P)

Belanja            Rp 28.500,00 (S)

Belanja 2         Rp 15.000,00 (P)

Bensin 3           Rp 7.500,00 (P)

Belanja 3         Rp 7.000,00 (S)

Bensin 4           Rp 15.500,00 (P)

Makan Malam Rp 9.000,00 (S)

*S = Sendiri/Pribadi

 P = Patungan

 

RUTE PERGI

Bandung-Garut-Cilawu-Salawu-Puspahiang-Puspadatar-Deudeul-Cikubang-Singasari-Raksasari-Taraju-Banyuasih-Mangkonjaya-Bojonggambir-Ciawi-Kertanegla-Pedangkamulyan-Cipicung-Bantarkalong-Culamega-Cikuya-Bojongsari-Daracana-Talaga Denuh

 

RUTE PULANG

Talaga Denuh-Daracana-Bojongsari-Cikuya-Nangelasari-Darawati-Bantarkalong-Tobongjaya -Simpang-Pamijahan-Karangnunggal-Cikukulu-Eureunpalay-Setiawaras-Parung-Cibalong-Singajaya-Papayan-Janggala-Sukapara-Urug-Gunungtandala-Gununggede-Kawalu-Sambongjaya-Sambongpari-Mangkubumi-Linggajaya-Cipari-Cipawitra-Cikunir-Cintaraja-Singaparna-Salebu-Serang-Salawu-Cilawu-Garut-Bandung

 

SEPANJANG JALAN

  1. Bandung-Taraju jalan mulus, berkelok-kelok, tikungan tajam
  2. Bandung-Deudeul dominan turunan
  3. Deudeul-Taraju dominan tanjakan
  4. Taraju-Bojonggambir datar, kondisi jalan lumayan bagus
  5. Bojonggambir-Pedangkamulyan jalan hancur, batu, dominan tanjakan, sepi, areal perkebunan teh, desanya sepi
  6. Ambil arah ke Pedangkamulyan, masuk Desa Cipicung
  7. Daracana, jalan dominan tanjakan curam, sudah di cor, ada diatas bukit
  8. Ambil arah kekanan dari pertigaan di Culamega-Bojongsari untuk ke Karangnunggal
  9. Pertigaan Darawati-Cipatujah-Bantarkalong, ambil arah kiri (arah Bantarkalong-Karangnunggal)
  10. Di Kawalu, ambil arah ke Mangkubumi, sudah jalur ke Singaparna
  11. Jalan di Puspahiang-Pedangkamulyan dan Karangnunggal-Kawalu sering turun kabut tebal
  12. Jalan dominan berkelok-kelok
  13. Jalur Salawu-Taraju-Pedangkamulyan-Culamega jalur paling cepat tetapi kondisi sebagian besar hancur dan lewat kebun teh, diatas punggungan bukit, sangat sepi, hanya truk dan sepeda motor yang banyak melintas hingga pukul 17.00. Pukul 17.00 keatas sangat sepi, truk pada umumnya hanya sampai Taraju dan kearah Sodonghilir.
  14. Jalur Culamega-Darawati-Karangnunggal-Kawalu jalaur yang sedikit memutar, cukup lebar, jalur utama, Jalan Provinsi, kondisi cukup bagus, ramai oleh berbagai jenis kendaraan

 

Total Pergi                   5 jam

Total Pulang                6,5 jam

Shalat Jumat                1,5 jam

Istirahat                       1,5 jam

Total trekking              2 jam

Ttotal Biaya                 Rp 73.000,00

Total Biata Patungan   Rp 36.000,00

Total Motor                  1

Total Orang                 2

 

 

 

 

 

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on February 7, 2014 in DANAU, Travelling

 

2 responses to “PENUH PELUH TAK JENUH MENCARI TALAGA DENUH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: