RSS

Monthly Archives: December 2011

In Memoriam, R. Pekik Ginong Pratidino (May 13th 1975 – December 13th 2011) Repost: IBU NIKEN SYAFITRI

Kali ini artikel saya tulis dalam Bahasa Indonesia saja. Selain supaya leluasa menuangkan kenangan mengenai almarhum, juga untuk mengingat bahwa kami ini bangsa Indonesia. Sekelumit ingatan saya bersama Pak Pekik.

Sebelum masa Pelatihan Bahasa Inggris EAP Dikti di UGM Yogyakarta, saya tidak terlalu mengenal beliau. Meski kami kolega di institusi yang sama, Institut Teknologi Nasional Bandung, namun setiap bertemu hanya sebatas “say hello”. Beliau adalah dosen tetap jurusan Teknik Planologi, dan saya di Teknik Elektro. Interaksi yang kurang ini diperparah juga dengan kesibukan sehingga saya agak-agak kuper untuk berinteraksi langsung selain hanya berkomunikasi via milis dosen atau social media.

 Ketika sampai di kota Yogyakarta akhir bulan Oktober 2010 kami berenam, Bu Rosa Karnita, Bu Yulianti Pratama, Bu Kancitra Pharmawati, Pak Jono Suhartono, Pak M. Rangga Sururi, dan saya, memutuskan tinggal di hotel dulu sebelum mendapatkan residensial. Bu Ira Irawati yang datang menyusul kami pun memutuskan hal yang sama. Sementara Mbak Lisa Kristiana pulang-pergi Salatiga-Yogyakarta sebelum menemukan kos-kosan yang sesuai. Pak Pekik saat itu sudah tinggal di rumah Budhenya di Yogyakarta, namun kadang ikut tidur di kamar Pak Jono dan Pak Rangga di hotel.

Sampai beberapa hari setelah tiba di kota ini, mengikuti upacara pembukaan pelatihan di UGM, tes awal serta mengikuti pelatihan, sepulang waktu terpakai tersebut kami gunakan untuk mencari tempat tinggal. Pak Pekik yang sudah mengetahui seluk-beluk kota Yogyakarta ikut sibuk mencarikan kos-kosan bagi kami. Akhirnya Pak Jono dan Pak Rangga mendapatkan sebuah kamar kos untuk ditinggali berdua tak jauh dari lokasi hotel tempat kami menginap. Tinggal kami kaum Hawa yang belum mendapatkan kepastian. Dengan vespa coklatnya “Si Coki” Pak Pekik turut mencari sambil membonceng bergantian beberapa dari kami berputar-putar mencari residensial yang tak jauh dari UGM. Sampai akhirnya kami berlima, Cici Oca, Cici Ira, Mbak Ijul, Mbak Citra, dan saya, mendapatkan Asrama Putri UGM Ratnaningsih atas jasa Pak Pekik. Di asrama inilah akhirnya kami tinggal untuk beberapa bulan ke depan bersama mahasiswi-mahasiswa tingkat pertama UGM dengan persyaratan kami harus mengikuti peraturan yang sama dengan mereka. Kami menyewa dua kamar, satu ditempati oleh Cici Oca, Cici Ira, dan Mbak Ijul, sementara satu kamar lagi ditempati oleh Mbak Citra dan saya. Setelah memindahkan koper-koper dari hotel ke kos-kosan dan asrama, Pak Pekik mengantar kami bertujuh membeli perlengkapan dan peralatan keperluan sehari-hari ke Pasar Bringharjo dan seputaran Malioboro.

Peraturan asrama mengharuskan kami tidak boleh keluar asrama lagi setelah pukul 21.00. Jika ada keperluan khusus seperti tugas, maksimal pukul 22.00 mahasiswi sudah harus pulang, atau malah lebih baik menginap di rumah teman. Saat itu Mbak Ijul agak bandel (menurut kami), untuk pergi selepas pelatihan dan pulang larut bersama Pak Pekik entah ke mana. Kami berempat yang belum tahu arti penting di balik main-mainnya mereka berdua hanya bisa memperingatkan dan mengomel. Ternyata sahabat berdua ini main-main ke Kotagede dan tempat lain untuk menggali budaya Jawa lebih mendalam, terutama Pak Pekik.

Setelah letusan pertama Merapi, kami tetap tinggal di Yogyakarta karena dampak letusan tidak begitu terasa. Hanya abu tipis saja yang kadang turun. Di kala weekend, Cici Ira, Pak Jono, dan Pak Rangga pulang ke Bandung karena suatu keperluan. Sementara Cici Oca, Mbak Ijul, Mbak Citra, dan saya diajak Pak Pekik jalan-jalan mengenal Yogyakarta.

Tempat yang dikunjungi kala itu adalah kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dimulai dari Museum Kereta Kraton dengan segala pajangan kereta dan patung kuda serta perlengkapannya. Lalu dilanjutkan ke keraton, ke bangsal tempat berkumpulnya adipati-adipati dari berbagai daerah kekuasaan Mataram-Yogya dahulu kala untuk menerima titah Sri Sultan, penjelasan pakaian-pakaian yang dikenakan oleh keluarga Sultan, pengawal, abdi dalem, dan sebagainya, kemudian Pak Pekik menjelaskan relief yang menceritakan Perjanjian Giyanti saat Mataram terpecah menjadi Surakarta hadiningrat dan Ngayogyakarta hadiningrat, lalu dilanjutkan ke bangsal tempat singgasana Sang Sultan.

Ketika akan melanjutkan tour yang dipandu Pak Pekik menuju bagian lain keraton, melewati Keben, sangat disayangkan waktu kunjungan habis. Sehingga Pak Pekik memutar haluan kami untuk mengunjungi kompleks Taman Sari.

Mulailah kami jalan-jalan di Taman Sari, mblusuk-mblusuk melewati perumahan masyarakat sekitar karena banyak rumah yang didirikan di antara situs pemandian ini. Di sinilah saya mulai mengagumi keluasan pengetahuan Pak Pekik akan sejarah Mataram. Beliau bercerita dengan antusias bagaimana sebenarnya Taman Sari adalah kedok untuk menutupi bahwa sesungguhnya pemandian ini adalah benteng untuk menghadapi Belanda. Penjelasan bentuk bale-bale dari bata terplester dengan maksud-maksudnya.

Mblusuk-mblusuk yang benar-benar mblusuk sehingga kami menemukan bangunan kecil berbentuk silinder, yang setelah diperhatikan ternyata fungsinya dulu adalah jamban! Sampai masuk ke tempat yang tampaknya dilarang dimasuki pengunjung karena terhalang oleh palang kayu tapi kami nekad saja masuk. Akhirnya Pak Pekik menduga-duga lokasi ini adalah tempat pertukaran informasi antara telik sandi dan Sultan.

Dan sampailah kami di lokasi ibadah di Taman Sari dahulu kala, di bawah tanah, dengan banyak relung dan satu dataran untuk satu orang yang terhubung dengan tangga batu di keempat sisinya. Memasuki bagian ini Pak Pekik bertanya ke saya, apakah saya memiliki hubungan darah dengan keluarga keraton. Saya berkata tidak. Ketika keluar dari lokasi ini, pertanyaan yang sama diajukan, lagi-lagi saya bilang tidak. Capai kami rasakan dan akhirnya kami memutuskan untuk makan dan pulang. Kemudian Merapi menurunkan abu yang tebal sehingga mengganggu pernafasan kami. Ketika terjadi letusan kedua kalinya, kali ini besar, kami semua memutuskan untuk pulang ke Bandung, ditambah dengan keputusan dari PPB UGM untuk meliburkan kami selama dua minggu.

Sekembalinya ke Yogyakarta kami memulai aktivitas pelatihan lagi. Saya terkena ISPA karena efek debu Merapi saat itu sehingga selama tiga hari hanya bisa beristirahat di asrama. Setelah sehat dan beraktivitas bersama yang lain, setelah beberapa lama, Pak Pekik kembali menanyakan hal yang sama bolak-balik. Akhirnya saya menyerah karena saya juga penasaran dengan sesuatu. Ya, saya masih berhubungan darah dengan keraton Yogya. Pak Pekik terus mencecar silsilah saya, sampai akhirnya saya meminta adik untuk men-scan dan meng-email Kekancingan ibu saya. Sesuatu yang sebenarnya tidak kami pedulikan di zaman seperti saat ini. Pak Pekik begitu antusias menelusuri silsilah saya berdasarkan Kekancingan tersebut, lalu menjelaskan panjang lebar sejarah dimulainya Mataram saat Kerajaan Pajang masih berdiri. Menilik silsilah, ternyata kami masih berkerabat. Beliau memiliki trah Amangkurat IV (tolong ralat jika saya salah ingat), dan saya dari trah HB III. Saya ingat betul bagaimana beliau meminta izin untuk menambahkan silsilah saya untuk melengkapi data silsilah keluarga Mataram. Telusur dan telisik, beliau bilang bahwa kedudukan saya adalah nenek baginya. Mulai dari situlah panggilan “Eyang” bagi saya terucap.

Beliau pernah bertanya apa alasan saya untuk tidak mementingkan kekerabatan dengan keraton. Saya waktu itu menjawab ketidakpedulian saya, orang tua, adik, serta adik-adik ibu adalah karena kami melihat sisi negatif dari perebutan kekuasaan dan harta, yang sampai kini pun tercermin pada perilaku beberapa kerabat kami. Hal ini yang membuat kami mengambil jalan aman untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengan kerabat-kerabat tersebut, mengambil kenetralan untuk tidak memihak sana maupun sini dalam persengketaan yang kerap terjadi. Saat itu beliau setengah bernasihat, boleh saja saya merasa sedikit kecewa akan hal tersebut, tapi alangkah baiknya jika saya tidak memutuskan begitu saja pertalian darah dan sejarah. Jadikan hal-hal seperti itu untuk tidak dilakukan. Mulai saat itulah Pak Pekik sangat bersemangat mengajak saya menelusuri sejarah asal-usul saya. Ya, selain saya juga penasaran sehingga menanyakan siapa saya. Sejarah pertama yang diulas adalah dari silsilah, sehingga saya mendapat kejelasan dan pencerahan dari sedikit kerancuan cerita dari Mbah Buyut Surabaya yang mungkin saat itu sudah agak pelupa.

Suatu hari beliau mengajak saya ke Keraton Yogya mengendarai vespa kesayangannya. Masuk melewati Gerbang Keben lalu menjelaskan filosofi ukiran yang ada di Bangsal Kencana. Kemudian awal pendirian keraton hingga perubahan besar-besaran yang dilakukan oleh HB VIII. Hingga akhirnya mengajak saya ke Perpustakaan Keraton untuk keperluan risetnya kelak saat menempuh studi doktoral. Kesempatan yang sangat langka karena tidak semua orang bisa masuk ke sini dengan mudah. Dan saya pun sempat membaca separo buku Serat Diponegoro volume pertama yang tertulis dalam tulisan latin berbahasa Jawi Kromo selama dua jam mendekam di perpustakaan tersebut. Dan di memoriam ini, untuk pertama kalinya saya mempublikasikan foto yang saya ambil kala itu, setelah mempertimbangkan bahwa Pak Pekik telah mem-posting foto-foto yang diambilnya di jaringan sosial facebook. Perpustakaan ini berdekatan pula dengan kantor tempat para abdi dalem melakukan absensi sebelum bertugas.

Selepas dari sini kami meneruskan perjalanan menuju Kaliurang, menuju Museum Ullen Sentalu. Museum yang didirikan atas inisiatif keluarga dari empat kerajaan trah Mataram, Surakarta Hadiningrat, Ngayogyakarta Hadiningrat, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Museum yang sangat berkesan, dan saya melihat sisi lain dari nilai-nilai luhur yang bisa dipetik di sini. Terdapat ruangan khusus yang mengulas Gusti Nurul (Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, putri tunggal pasangan Mangkunegara VII dan Gusti Ratu Timur-putri Sultan Hamengku Buwono VII). Dan saya sempat terkaget karena kemiripan wajahnya dengan ibu saya, terutama di foto saat beliau menari di depan Ratu Wilhelmina, Belanda. Wajahnya di usia tersebut sangat mirip dengan ibu saya di usia yang sama. Alasan ini pula yang membuat saya tak bosan untuk berkali-kali mengunjungi museum ini sewaktu kangen dengan ibu saat saya menjalani pelatihan dan merekomendasikannya ke teman-teman. Pak Pekik menjelaskan juga, adalah mungkin kemiripan wajah terjadi jika masih ada pertalian darah meskipun jauh. Oh ya, di museum ini, yang menjadi guide justru Pak Pekik, dan guide resmi dari museum malah ikut mendengarkan paparan beliau.

Setelah puas mengelilingi museum, karena letaknya yang dekat, kami menyempatkan melihat Pesanggrahan Ngeksigondo, pesanggrahan tempat tetirah keluarga Sultan di Kaliurang yang bersejarah sebagai tempat Perundingan Kaliurang tahun 1946. Di sini Pak Pekik minta dirinya diabadikan bersama dengan “Si Coki”. Setelah itu kami turun dan mencoba menelusuri Kali Kuning yang ternyata sudah penuh oleh muntahan Merapi, tak ada air sama sekali. Terlihat pula di dekatnya beda lokasi yang terkena terjangan awan panas Merapi dan yang tidak.

Di awal tahun 2011 beberapa teman memutuskan untuk mengunjungi Ullen Sentalu dan meminta Pak Pekik menjadi guide. Saya ikut, mengunjungi museum ini untuk kedua kalinya. Selepas ini kami bersantai dan menikmati seafood di Pantai Depok. Sungguh saya agak menyesal karena kami memaksanya ikut. Ternyata Pak Pekik tidak bisa sama sekali memakan seafood. Untuk pertama kalinya kami melihat tersiksanya beliau saat melihat hidangan-hidangan laut keluar. Akhirnya beliau meminta dibuatkan mie kuah dengan telur. Meskipun demikian beliau masih mampu menceritakan filosofi batik parang yang diambil dari bentuk parang di Gunung Kidul yang terlihat dari pantai. Masih bertingkah dengan keriangannya yang khas. Sepulangnya beliau juga masih sempat menjelaskan satu situs karang di sana.

Awal Februari saat teman-teman pulang ke Bandung, sementara saya memutuskan tetap tinggal di Yogya karena alasan kesehatan untuk tidak terlalu lelah menjelang ujian, Pak Pekik, Mbak Ijul, dan saya berkeliling kompleks keraton kembali. Kami mblusuk-mblusuk melihat bagian-bagian lain keraton sampai dibagi masing-masing lepet untuk mengganjal perut oleh para abdi dalem, mengunjungi rumah joglo yang dibangun pada masa pemerintahan HB III yang ternyata adalah tempat rias pengantin yang masih memegang pakem klasik Yogya. Lalu perjalanan diteruskan untuk menelusuri sisi selatan yang tidak begitu diekspos. Ternyata filosofi lengkap keraton dimulai dari sini. Di sini pula Pak Pekik mengungkapkan kekagumannya terhadap HB I sebagai kreator, arsitek, dan seniman ulung di samping kesederhanaan dan ketaatannya dalam Islam. Tampaknya, di sini pelan-pelan dari caranya tersendiri Pak Pekik menyadarkan saya bahwa kehidupan keraton tidak selalu dalam gambaran kemewahan. Ada sisi lain yang lebih penting dari itu, sisi lain yang jauh dari perebutan harta antar anggota keluarga. Perjalanan berujung pada salah satu rumah kerabat Sultan yang digunakan untuk angkringan. Di sini kami bertiga berdiskusi banyak hal.

Banyak kehebohan yang dilakukan beliau selam di Yogya. Dari “kenakalan”nya untuk membolos pelatihan, yang akhirnya saya tahu apa yang dilakukannya adalah hal yang penting juga. Main-mainnya bukan main-main sembarangan. Main-mainnya adalah seputar mengunjungi museum, keraton, perpustakaan keraton, latihan gamelan di keraton untuk tampil di beberapa acara keraton, dan banyak lagi. Kemudian memasang pasfoto dengan pakaian beskap di formulir peserta tes IELTS, dan banyak lagi.

Penelusuran berikutnya yang kami lakukan berdua adalah mengunjungi kompleks kampus Widya Mataram yang dulunya adalah istana putra mahkota. Di sini kami menemui banyak kerusakan, dari keretakan tiang, coretan pada dinding, lapisan kayu yang mengelupas, hiasan di langit-langit yang digerogoti rayap, bahkan pembangunan gedung atau rumah baru di sekeliling dan di dalam lokasi kampus yang merusak bentuk asli kompleks ini. Kalau dalam bahasa Jawa, saat itu kami berdua hanya bisa njelu-njelu melihat kondisi tersebut. Setelah puas mengumpulkan data baginya, dan pengumpulan “data” bagi saya, berupa foto-foto kondisi bangunan, kami mengunjungi keraton yang di saat itu pameran sedang diadakan. Saat pemutaran video penobatan HB X, CD yang dimiliki keraton saat itu rusak. Pak Pekik dengan sigap menyodorkan file di flashdisk-nya untuk ditonton bersama. Kuliah untuk saya pun berlanjut, dari penjelasan kereta-kereta keraton yang dipamerkan, bahkan tandu sederhana untuk menggotong HB I saat beliau tak mampu berjalan, pembuatan gong, tenun ikat, keris, wayang, sampai akhirnya kami kemalaman sementara jam malam asrama hampir dekat. Dan tiba-tiba hujan deras turun sehingga saya menelepon satpam asrama meminta izin pulang malam. Untunglah diizinkan meski diomeli panjang lebar.

Selepas tes IELTS kami melakukan penelusuran terakhir. Saya ingat kata-katanya, “Saya merasa bersalah, punya kerabat tapi nggak begitu tahu sejarah asal-usulnya.” Karena itulah beliau mengajak saya ke Imogiri, lokasi pemakaman raja-raja Mataram. Meskipun dengan agak sedikit terpaksa karena saya harus menggunakan kemben. Pak Pekik mengatakan, “Kemben itu jangan selalu dianggap keseksian. Kemben tradisional beda dengan yang ditayangkan di televisi.” Dan ya, memang benar. Aura yang ada di Imogiri tidak membuat orang-orang berpikir itu adalah hal yang menjurus ke arah yang aneh-aneh. Meski saat itu para abdi dalem sempat mengira beliau adalah ayah saya karena wajah saya yang entah kenapa menjadi seusia anak SMP! Memasuki makam HB IX saya menangkap beliau termenung, kemudian berkata,”HB IX adalah seseorang yang sangat saya kagumi. Sikap beliaulah yang mengingkatkan diriku untuk selalu mengingat, bagaimanapun kita dididik, dibesarkan, dengan cara apapun, tapi tidak melupakan bahwa kita ini bangsa Indonesia.” Di sini juga beliau berkata, “Saya merasa hutang saya lunas dengan mengajak Eyang ke sini. Dari yang ternyata Eyang bertanya-tanya juga tentang ‘siapa saya, dari mana asal-usul saya’, akhirnya bisa sowan ziarah ke leluhur.” Saya baru menyadarinya sekarang, ucapan ini seolah-olah memang pelunasan hutang terhadap saya.

Sekembalinya ke Bandung kami semua disibukkan kembali oleh kerjaan. Dan saya, tersibukkan oleh pencarian supervisor untuk studi doktoral, pendaftaran beasiswa Dikti serta proses-prosesnya, seminar, dan juga perkuliahan dan urusan laboratorium. Sampai di bulan Oktober Pak Pekik mendatangi ruangan saya untuk mengabarkan akhirnya beliau mendaftar beasiswa Dikti batch 7 untuk keberangkatan tahun 2012. Kami sempat mengobrol tentang urusan beasiswa. Kemudian bertemu di dekat parkiran motor belakang, dengan teriakannya dari kejauhan memanggil saya, “Eyaaaaang!!!” Dan saya sempat bilang, “Husy, ngejatuhin kredibilitas saya nih. Mosok tampang gini jadi Eyang.” Itu adalah pertemuan terakhir kami saat beliau terlihat dalam kondisi sehat.

Sampai Sabtu lalu saya di-sms Cici Ira yang mengabarkan Pak Pekik baru saja keluar dari ICU selama seminggu. Kala itu beliau sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Saya kaget. Kok tidak ada yang mengabari sedari awal. Senin siang saya ditelepon Mbak Citra dan Mbak Ijul. Mbak Citra mengajak saya menengok beliau, dan Mbak Ijul setengah memaksa saya untuk besuk. Ya, tentu saja saya akan besuk tanpa dipaksa. Mbak Ijul yang telah menengoknay di pagi hari berkata, “Dhek, Pekik nanyain kamu lho. Mana Eyang? Terus nanya juga, mana Citra, mana Rangga? Ke sana ya siang ini. Beda banget kondisinya, nggak seperti Pekik yang biasa kita lihat.”

Sesampainya di sana saya hanya bisa diam. Bingung. Ketika ibu, ayah, dan paman beliau berkata kami datang, dia bertanya, “Siapa aja yang dateng?” Penglihatannya sudah tak jelas karena pembuluh matanya sempat pecah. Kami disuruh mendekat olehnya agar dapat terlihat jelas. Pak Rangga meminta izin keluar dan mengajak Mbak Citra dan saya. Pak Rangga nggak tega melihatnya, dan tidak mau kembali ke kamar rawat inap. Akhirnya hanya Mbak Citra dan saya yang kembali, untuk mengobrol dengan ibu beliau. Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba Pak Pekik memohon, “Mbak Niken, tolong pijetin kakiku. Saya minta tolong Mbak.” Deg! Jantung saya sesaat serasa berhenti. Bukannya mendahului, tapi dari cerita pengalaman orang tua saya, ketika kerabat-kerabat kami atau tetangga mendekati ajal, selalu meminta pijatan atau gosokan di kaki. Seperti Mbah Buyut dari Mbah Kung, meminta kakinya digosok balsem saat nyawanya ditarik sementara ibu yang saat itu baru duduk di bangku SMA masih belum mengerti mengapa kaki Mbah Buyut semakin dingin sementara beliau dengan sendirinya berdzikir saat sakaratul maut. Atau tetangga depan rumah yang meminta ibu memijat kakinya, atau Mbah Tedjo yang meminta kakinya dipijat pula oleh ayah, dan banyak lagi. Saya memijatnya dengan rasa tidak tega karena harus menggunakan sarung tangan. Rasanya seperti apa saja, harus dilindungi sarung tangan. Saya juga tidak tega melihat wajahnya, hanya sesekali saya menengok sambil tersenyum dan menghibur dan berkata pada beliau untuk beristirahat, dan melihat matanya yang merah perlahan-lahan memutih kembali. Monitor peralatan medis lebih saya perhatikan kala itu.

Senin malam hingga Selasa siang saya disibukkan oleh kegiatan permintaan supervisor saya untuk mendaftar online studi doktoral, istirahat, serta menguji sidang, sambil agak tidak mampu berkonsentrasi memikirkan beliau. Selesai sidang saya membuka milis dosen, dan ada email meminta untuk mendoakan beliau karena sempat koma. Saya berdoa dalam hati, begitu juga selepas Zhuhur saya kembali mendoakan yang terbaik bagi beliau. Jika Allah SWT menghendaki beliau sehat kembali, sehatkanlah, jika tidak, peringankanlah deritanya untuk menghadap Allah SWT. Tak lama setelah itu, pukul 13.40 Cici Ira sms mengabarkan beliau pergi untuk selamanya pada pukul 13.30. Saya shock. Terdiam. Memutuskan untuk mengurung diri di ruangan dan menangis. Kemudian mengabarkan berita tersebut ke ibu, grup EAP Dikti Yogya, dan juga memasang status duka di facebook maupun twitter. Dari social media pula saya tahu, banyak yang kehilangan. Dan setelah berita itu, hampir semua bengong, tidak konsen terhadap pekerjaan meski urgent sekalipun. Almarhum dimakamkan malam itu di dekat rumahnya. Tapi saya tidak kuat menghadiri pemakamannya. Baru beberapa hari setelah itu saya ke rumahnya menemui ibu, ayah, Mbak Reki (adik beliau) dan suaminya. Kami mengobrol mengenang beliau. Ya, mengenang beliau.

Selamat jalan sahabatku, cucuku, guru sejarahku. Terima kasih telah mengenalkan sejarah Mataram kepadaku, sesuatu yang sangat berharga. Terima kasih untuk mengingatkanku, untuk tidak melupakan sejarah keluarga sehingga kita bisa mengambil hikmah apa yang baik dan apa yang buruk. Terima kasih telah menghiasi hari-hari kami dengan kerianganmu yang khas. Terima kasih untuk keramahan dan kesupelanmu terhadap semua orang. Terima kasih untuk tidak pelit membagi ilmu kepada semua. Dan masih banyak lagi terima kasih-terima kasih lainnya yang tidak mungkin kami sebut semuanya. Selamat jalan. Semoga Iman dan Islammu diterima Allah SWT. Semoga engkau diringankan di alam kubur dan barzah kelak. Dan saya setuju dengan Cici Oca, untuk menambahkan gelar PhD di belakang namamu. Tahun depan seharusnya engkau bergabung dengan kami bersama-sama di Eropa untuk menempuh studi doktoral. Negara juga kehilangan satu aset berharga negeri ini dengan kecerdasan dan kepiawaianmu dalam menyampaikan ilmu. Tunggulah kami semua di alam kekal, R. Pekik Ginong Pratidino, S.T., M.T., Ph.D.

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2011 in Sehari-hari

 

MENYEPI DI TENGAH-TENGAH SELAT SUNDA, KEMPING DI PULAU SANGHYANG

Ahirnya setelah sekian lama, bisa juga ngerasain yang namanya kemping di pulau, sekarang tujuan kita ke Pulau Sanghyang di Banten. Sedikit bertanya-tanya juga sih katanya nyebrangnya dari Anyer, haduh seumur-umur ke Anyer belom pernah liat tempat penyebrangan, trus transportnya juga aga bingung, klo ke Anyer pasti pake mobil pribadi, tau nyampe ajah, klo pun pake kendaraan umum, cuman tau pake bis jurusan Merak & turun di Cilegon, nah dari Cilegonnya sendiri bingung juga mau pake apa. Belum lagi temen dari Bandung berkurang drastis dari ber-5, jadi cuman ber-3. Yang 1 ada halangan, yang 1 entah dimana rimbanya, di hari-H malah menghilang ga bisa dihubungin, dan mendadak yg 1 juga ga bisa ikut karna alesan laen. Tapi dengan sedikit bujukan, ahirnya jadilah kita berangkat ber-3. Saya dan temen saya berangkat duluan pake bis ke Serang, nginep di rumah kakek, jadi jarak & transportnya bisa lebih gampang buat ke Anyernya. Temen saya yang 1 berangkat pake bis malem ke Serang.
Ternyata bis yg saya naikin ga masuk sampai ke Terminal Pakupatan Serang dan malah langsung masuk jalur ke Cilegon-Merak, weew untung feeling saya lagi bagus, begitu bis muter arah, langsung turun & naek ojek ke rumah kakek & sedikit nyasar juga di komplek rumahnya haddehh.

Sabtu, 26 November 2011

Jam 5 subuh, bangun gara-gara tlp dari temen saya, ngabarin klo dia bablas ke Cilegon & otw balik lagi ke Serang weeew. Tapi berhubung di jadwal juga rombongan dari Jakarta kumpul jam 7 & kira-kira berangkat jam 8 dri Jakarta, jadi kita juga siap-siap dari pagi. Jam 6 temen saya udah sampai di depan komplek perumahan kakek saya. Begitu jemput, langsung sarapan & ngantri giliran mandi. Ternyata jam set 8 saya hubungin temen yg di Jakarta katanya belum pada kumpul. Kita yang tadinya mau naek umum ke Anyer jadi dianter sama kakek & ahirnya berangkat jam 9, kebeneran kakek ada undangan juga di deket Anyer, jadi sekalian.

Dermaga Cikoneng
View Kota Cilegon selama nyebrang
Dermaga Paku, Pulau Sanghyang

Jam 9 kita berangkat, di jalan beli perlengkapan pribadi buat di pulau & ke Anyer lewat jalur yang sama waktu saya sekeluarga ke Anyer di pertengahan tahun 2007. Ternyata ga banyak berubah, hanya saya jadi lebih ngeh sama jalur & view di sepanjang jalan, terutaman kebun duren & duren yang dijual di sepanjang jalan langsung dari kebunnya hueeehh menggoda sih, tapi sayangnya kita lagi buru-buru jadi hanya bisa diliat saja. Ditengah jalan, ternyata dapet kabar kalau ban bis bocor di tol & jaraknya masih lumayan jauh ke Serang, dan mobil kita pun kehambat sama iring-iringan pengantin yang baru selesai akad nikah di masjid deket tempat hajatan yang cuman berjarak 100 m. Liat seserahannya, khas banget daerah sana, yap, ga ada seserahan yang berbentuk barang mewah, hanya ada aneka kue tradisonal yang bikin lumayan ngiler juga nih heu heu. Oya jalur ini jalan pintas buat ke Anyer biar ga usah neglewatin Cilegon yang panas, berdebu, jalan rusak, & macet pastinya. Bener-bener bertolak belakang deh sama jalur Cilegon. Hampir 1,5 jam kita udah mau keluar dari jalur pintas, dan lagi-lagi mobil kita kehambat sama rombongan Kopassus yang lagi gerak jalan lewat situ, hiaaaah.

Jam 11 kita udah sampai di Anyer, tapi sempet muter2 cari Pantai Tanjung Tun yg dimaksud. Ahirnya setelah nanya-nanya ternyata tempat yang kita maksud itu kelewat & namanya itu bukan Tanjung Tun tapi Tanjung Tum, pake “M” bukan “N”. Ternyata Pantai Tanjung Tum ini salah sat daerah tujuan wisata kaya Pantai Bandulu yang sering saya datengin. Untuk masuknya, berhubung palai mobil, jadi total Rp 20.000,00 dan masuklah kita ke tempat wisata tersebut. Disana sempet ganjel perut dulu & kata penjaga warungnya, kalau mau nyebrang ke Pulau Sanghyang, bukan disini, tapi ada di dermaga Cikoneng, persis disebelah tempat wisata Tanjung Tum. Beres cemal0cemil, kita pun kluar dari Tanjung Tum & ke dermaga. Berhubung jalan ke dermaganya kecil, jadi, saya cuman dianter sampai depan gang. Darisitu saya pisah sama kakek-nenek yang mau lamjut ke undangan. Ternyata kebeneran, begitu kita turun, ada bapa-bapa yang nanya kalau kita ini anggota rombongan temen saya & kita pun disuruh ikut bapa itu nunggu di dermaga ajah. Ternyata lokasi dermaganya numpang di salah satu resort di pinggir pantai, jadi ga terlalu gede & kapalnya juga sedikit. Didermaga udah ada 2 kapal yang disewa untuk rombongan kita.

Lumayan lama juga nunggu temen-temen lain di dermaga, jam 1 siang temen-temen lain baru sampe, udah sempet tidur, cas hp, bolak-balik ke wc ahirnya dateng juga… fiuuhh. Setelah naik-naikin barang & atur posisi di kapal masing-masing, jam 2 siang pun kita berangkat ke Pulau Sanghyang. Tapiiii belum juga jalan jauh dari dermaga, kapal yang saya naikin harus balik ke dermaga soalnya ada kerusakan mesin, yaaa ampir sama kaya motor saya, ga ada tenaganya. Nah loh??!! Ahirnya kita semua balik merapat ke dermaga dan lumayan nunggu lama di dermaga. Ahirnya baru bener-bener bisa jalan sekitar jam 3an. Untungnya waktu buat nyebrang ke Pulau Sanghyang ini kalau normal hanya 1 jam, jadi kita masih bisa hunting sunsetlah. Ditengah jalan nyebrang ke Sanghyang kita sempet ketemu beberapa lumba-lumba, pertemuan arus di tengah laut, view ke arah Kota Cilegon yang dihiasi sama bangunan-banguna pabrik dominan putih, asep pabrik yang hitam diudara, beberapa kapal besar & tongkang, dan beberapa kapal penyebrangan di Selat Sunda sana.

Pantai Batu Mandi Pulau Sanghyang
Tangga kebukit + Mercusuar

Bener ajah, sekitar jam 4 lebih, kapal merapat di Dermaga Paku, dermaga utama Pulau Sanghyang. Begitu sampai, foto-foto sebentar sambil lurusin kaki & ngilangin pegel-pegel. Lokasi kemping ga jauh dari dermaga, malahan begitu keluar dermaga udah ada lokasi kemping. Lokasinya enak, soalnya bekas reruntuhan bangunan, jadi bagian bawah udah aspal, bukan lagi semak belukar, malah di bagian samping tempat kemping, ada reruntuhan bangunan yang masih kumplit ubinnya & beberapa pilar & kerangka-kerangka pintunya, Di belakan tempat kemping, ada bangunan semi tertutup bekas gudang yang bisa dijadiin tempat ganti baju. Di bagian belakang tempat kemping, tepatnya di jalur untuk trekking nyusur pulau udah berupa jalan aspal, lengkap dengan pemisah jalan & pohon-pohon tinggi. Begitu sampai, beberapa ada yang langsung trekking kearah Mercusuar di Pantai Batu Mandi & ada juga yang Solat dulu. Saya ikut kloter terakhir yang jalan ke Pantai Batu Mandi.

Perjalanan ke Pantai Batu Mandi 1 arah ke arah bekas pos TNI yang udah ga berbentuk lagi. Perjalanannya cukup lama & nyusurin jalan setapak ditengah-tengah ilalang & semak belukar. Kalau mau trekking kesini bener-bener harus sedia lotion anti nyamuk, soalnya nyamuknya ganas-ganas. Di awal pertama trekking, bakal ditemuin reruntuhan-reruntuhan bangunan yang katanya bekas barak, ada juga yang bilang bekas buat resort yang ga jadi dibangung. Luamyan jauh juga trekkingnya, apalagi serangan nyamuk-nyamuknya ampun deh. Ditengah-tengah trekking kita bakal ketemu kaya 1 gedung serba guna yang kosong yang dibelakangnya ada rumah penjaga pulau. Disini juga ada bekas pos TNI yang udah rusak ga berbentuk. Trekking dilanjutin masuk kearah hutan disamping kana gedung, lagi-lagi bakal nemuin reruntuhan bangunan. Dari sini trekking udah ga terlalu jauh, diujung hutan, jalan ketemu sama reruntuhan bangunan yang persis kaya dismaping tempat kemping, masih ada ubin, tangga, & beberapa tembok-tembok bekas penyangga bangunan. Ujung hutannya dipagerin sama pohon-pohon & dibaliknya langsun disambut Pantai Batu Mandi yang berpasir putih & malah sebagian ada yang warnanya pink kaya Pink Beach di Pulau Flores NTT sana, wuaaahh ahirnya bisa liat sendiri aslinya pasir pantai warna pink. Di Pantai Batu Mandi lumayan hunting foto-foto sebentar & langsung diterusin untuk naek ke atas bukit tempat mercusuar.

View sunset 1

View sunset 2

View sunset 3

View sunset 4

View sunset 5

Buat naek ke bukit, kita masuk ke hutan lagi, ga jauh dari hutan ini, kita bakal nemuin kolam buatan lengkap sama jembatannya yang sayangnya udah lama ga keurus & sebagian ada yang rusak. Tangga keatas bukit masih dibilang cukup terawat & bagus, tapiii ya lumayan juga inih naek-naek ke puncak bukit bikin aga ngos-ngosan juga. Tapi capenya kebayar sama view ditengah-tengah tangga yang langsung ngadep kearah sunset, Selat Sunda, & rentetan Gunung Krakatau, Anak Krakatau, Pulau Sabesi, Gunung Rajabasa di Lampung sana & klo liat ke arah belakang bakal disuguhin view Kota Cilegon di Pulau Jawa kereenn. Perjalanan diterusin lagi ke atas bukit, diujung bukit yang juga jalan ke arah Mercusuar, view sunsetnya lebih jelas & lebih tinggi, ditambah lagi hari ini cerah, perfect sunset!

Puas dengan vew sunset yg ajib, kita semua turun biar ga keburu gelap buat trekking pulangnya, soalnya kita harus ngelewatin hutan yang tadi lagi. Tapi apa daya, begitu sampai di Pantai Batu Mandi sunset belum abis, malah warna langitnya jadi bagus & ga disia-siain untuk foto-foto. Sebagian sih udah ada yang jalan pulang duluan, tapi saya sih mutusin buat nikmatin sunset sampe ahir & ga rugi. Puas foto-foto kita trekking pulang. Yah, ahirnya sih trekking pulangnya pas udah gelap, tapi gpp udah siap sedia headlamp. Ini kedua kalinya saya trekking di hutan di pulau yang ga ada penduduknya, magrib menjelang malem hmmm rasanya yahud deh. Begitu sampe di gedung serba guna, ada beberapa orang yang mau numpang ke toilet jadi kita berhenti dul sambil istirahat, tapi serangan nyamuknya ga berkurang, tetep ganaaazzz. Ahirnya perjalanan dilanjutin lagi, tapi entah kenapa perjalanan pulangnya ko kerasa lebih jauh & lebih lama?? Padahal waktu trekking di Ujungkulon trekking pulang itu kerasa lebih cepet daripada pergi hiaaaah.

Pantai Batu Mandi dari atas mercusuar

Pantai Batu Mandi & bukit dari mercusuar

Pulau Sanghyang

Awan smurf

Ahirnya kita sampe juga ditempat camp, istirahat sebentar & siap-siap buat makan malem. Oya makan selama di Pulau Sanghyang ini disediain sama awak kapal, jadi kita ga perlu repot-repot masak, tapi kalao mau masak sendiri & ga pake jasa awak kapal juga bisa ko. Menu makannya cukup sederhanam nasi+ayam goreng+lalapan+sambel, tapiii enaaaak banget. Kita makan ngumpul semua di dermaga, disamping kapal. Selesai makan, seperti biasa acara perkenalan & bangun tenda. Saya sendiri sama beberapa orang lainnya mutusin buat tidur didermaga, adem + kapan lagi tidur liat bintang yang buanyaaak kaya gini, mumpung cerah juga. Setelah ganti baju, beres-beres lapak buat tidur, kita iseng-iseng liatin yang mancing diujung dermaga. Ternyata oh ternyata airnya naek banget + dapet banyaaaaaaak banget kiriman sampah!!! Ooohh tidaaaakkk asli ini banyak banget sampahnya. Kata beberapa orang yang kebeneran lagi diem di pulau ini sih itu sampah kiriman dari Merak & klo udah menjelang subuh biasanya ilang. Tapi tetep ajaaaah ga enak banget liatnya, selain sampah plastik bungkus makanan, ada juga sampah boneka, maenan plastik, sepatu, sandal, sampai pempers juga ada idiiiihhh

Puas liatin yang mancing nyangkut mulu, kita ahirnya ke posisi tidur masing-masing & ahirnya cuman ngobrol-ngobrol sampe jam 12 malem lebih. Sialnya beberapa temen saya liat bintang jatoh sampa 3x, tapi saya ga liat satupun huaaaaa. Seperti biasa kala udah tengah malem belum tidur, idung pasti mampet, apalagi sekarang tidur di dermaga bener-bener kebuka, cuman modal matras, jaket jadi bantal & kaen pantai jadi selimut. Lama-lama ko jadi dingin yah?? pas nyoba mau tidur pas udaranya jadi dingin & embunnya mulai turun jadi basah semua deh. Sekitar jam 2, ada beberapa temen yang ikut nelayan & awak kapal macing ikan soalnya airnya bener-bener surut, sampe-sampe karangnya keliatan & dikejauhan saya bisa liat ada beberapa nelayan yang jalan ditengah laut! weeew surut banget berarti. Tapi berhubung saya ngantuk banget & dingin, jadi saya mutusin buat nyoba tidur lagi ajah. Oya, hari ini juga malem taun baru Islam, wah pertama kalinya nih malem taun baru Islam dluar rumah & rame-rame sama temen 😀

MInggu, 27 November 2011

Ahirnya jam 5, kita semua bangun buat siap-siap hunting sunrise. Air disekitar dermaga udah naek lagi + udaranya ga terlalu dingin lagi. Ternyata kita juga dapet sunrise dari dermaga, jelas banget ga ketutupan, tapi jauh, jadi mataharinya lebih kecil dari yg diliat pas sunset (padahal kaga ngaruh yah kayanya) Sunrise + kabut di Dermaga Paku bareng temen-temen se-RT yang riweuh foto-foto bener-bener ngilangin ngantuk! Beres hunting sunrise, kita semua foto-foto di dermaga sambil nunggu sarapan yang lagi-lagi dimasakin sama awak kapal. Jam 8 kita sarapan + siap-siap packing sekalian susur pulau. Tujuan pertama kita ke spot snorkeling pertama, ga tau namanya , tapi berhubung saya lagi cuti snorkeling, jadi ya saya nunggu di kapal sajah smabil ngobrol-ngobrol sama yg laennya. Lumayan lama juga di spot pertama ini, sampe ahirnya disuruh naek, soalnya kita mau ke pantai yang jalan masuk paling deket itu lewatin rawa trus ke permukiman penduduk di Pulau Sanghyang. Kata bapanya, kalau terlalu siang takutnya air rawanya surut, kita ga bisa lewat & harus muter, sayang soalnya view rawa bakaunya bagus.

Sunrise 1

View sunrise 2

Ahirnya semua jalan menuju permukiman penduduk lewati rawa bakau. Air rawanya jernih, jadi keliatan jelas yang ada didalem air, viewnya juga sebagian sih bilang kaya nyusurin sungai di Kalimantan, pokonya yahud deeh. Ga terlalu lama, dari rawa, kita keluar ke tempat kaya danau besar ditengah-tengah permukiman sama rawa, kalau disini airnya dalem. Setelah kapal merapat di dermaga, kita sepakat jam 11 udha harus jalan lagi soalnya takut airnya surut, kapalnya ga bisa kluar. Permukiman penduduh disini namanya Desa Sanghyang, Kel. Cikoneng, Kec. Anyer, Labuan, Banten (maaf kalo salah nyambungin sendiri soalnya). Permukimannya bener-bener masih sepi, penduduknya ga banyak, malah rumah-rumah yang keliatan disepanjang jalan bisa dihitungm tapi ga tau juga kalau di bagian dalam pulau diluar jalur trekking ke pantai. Ada 1 pendopo yang dijadiin Balai Desa, 2 kamar mandi umum, 1 tempat bilas, & Masjid ditengah-tengah permukiman. Hanya beberapa meter dari Balai Desa kearah pantai udah ga ada rumah lagi, hanya 1 atau 2 itu pun terkahir. Sisanya seperti trekking sebelumnya, hanya jalan setapak diantara semak belukar.

Ternyata ujung jalan setapak ini kondisinya lebih kebuka dibandingin jalur trekking ke Pantai Batu Mandi. Daaan pantainyaaa bener-bener baguuuusss!!! Pantai Pasir putih, air warna hijau tosca, ombak yang gede, dan disisi kanan-kirinya ada tebing karang yang lumayan tinggi. Sayang di pinggir-pinggir pantai, dibates jalan setapak-pantai bertumpuk sampah-sampah plastik hasil kiriman dari laut & juga mungkin sampah domestik dari permukiman penduduk, tapi kalau pas di pinggir pantainya sih bersiiih. Sebagian temen-temen saya udah mulai huntung foto-foto. Saya sendiri lebih tertarik buat eksplore naik ke tebing karang di sisi kiri pantai. Oya, nama pantainya Pantai Pasir Panjang.

Ternyata ga teralu susah juga buat naek ke tebing karang di sisi kiri pantai, dan view dari atas sini…. wuiiiihh baguuusss mirip-mirip kaya di Uluwatu, Bali hanya lebih sepi & lebih alami ajah. Pantai ini bener-bener pantai yang masih alami, ga ada orang laen lagi selain rombongan saya & 1 orang penduduk Pulau Sanghyang yang kebeneran lagi mancing. Dari atas bukit ini, di bukit sebrang, disisi kanan pantai ada bukit laen yang keliatannya lebih terawat. Kata mas-mas yg lagi mancing, diujung sana bukitnya lebih kebkuka & ga banyak bat & perkebunan. Hmmm sebenernya penasaran, tapi kalau kesana lumayan jauh juga, jadilah ditunda eksplore kesananya sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Pantai Pasir Panjang 1

Pantai Pasir Panjang 2

Pantai Pasir panjang dari atas bukit

Ahirnya Jam set 11 lebih kita semua mutusin buat balik ke kapal buat nyantap kelapa muda hmmm. Trekking yang ke-2 ini jauh lebih pendek jaraknya dibanding trekking yang pertama, tapi berhubung ini menjelang tengah hari, jadi hausnya bener-bener kerasa banget, ga sabar pengen cepet-cepet minum air kelapa. Ahirnya bisa ngerasain air kelapa, udah kehausan + lemes banget. Ternyata bapa-bapa yg masakin makanan buat kita lagi masak, katanya biar ga usah berenti lagi & bisa langsung pulang. Sambil nunggu makanan siap ada beberapa yang bersih-bersih, tidur, ngobrol, pokonya geje. Ahirnya makanan dateng, ga pake lama langsung diserbu & makan di kapal. Beres makan, siap-siap untuk spot snorkeling terakhir sebelum ahirnya nyebrang lagi ke Pulau Jawa haaaahh.

Untungnya air rawa ga surut, jadi kita bisa tetep lewat rawa lagi. Tujuan kita kearah kanan dari pintu kluar rawa. Spot snorkelingnya bener-bener deket sama Selat Sunda, pas dibelakang kapal kita Selat Sunda dan keliatan jelas banget kapal-kapal penyebrangan lalu lalang disana. Spot snorkeling disini deket sama arus laut yang lumayan kenceng, kadi aga ngeri juga sih klo ga bisa control & ga bisa renang. View disini juga bagus, airnya tosca, pantainya pasir putih yaaa meskipun banyak karang juga, ditepi pantai banyak pohon, jadi lumayan adem. Sekitar jam 2 kita siap-siap buat nyebrang lagi ke Anyer. Berhubung kita kali ini nyebrang dari titil yang lebih jauh dari Dermaga Paku, jadi lumayan nambah 30 menit waktu nyebrangnya.

View rawa 1

View rawa 2

Antara rawa & permukiman penduduk Pulau Sanghyang

Awal-awal berangkat sih masih banyak yang ngobrol, masih banyak stok cemilan, tapi lama-lama satu per satu tewas juga, emang udara panas, angin sepoi-sepoi, gelombang laut yang ga gede-gede amat bikin mata pengen merem ajah. Dideket Anyer, kita sempet papasan sama kapal tongkang Batu bara hmmm ternyata ngeri juga yah kalo dari deket gini x__x Saya pun mutusin buat istirahatin mata. Tapiii ga lama kita udah sampe lagi di Dermaga Cikoneng, wuiih penyebrangan tersingkat selama nge-trip ke pulau hahaha Berhubung bisnya jemput di Tanjung Tum, jadilah kita semua jalan melipir batu-batu di pinggir pantai buat ngehemat waktu. Ternyata lumayan ngeri sih, tapi ga se-ngeri waktu saya liat anak-anak kecil melipir batu-batu di hari Sabtu. Mungkin karna waktu anak-anak itu melipir pas siang, pas air lagi tinggi jadi kesannya ngeri. Tapi pas giliran kita melipir sih, airnya kayanya lagi surut jadi bisa turun ke pantainya pas melipir.

Jam set 4 kita udah sampai lagi di Anyer, bebersih, solat, & jajan bakso. Ahirnya jam 4 kita foto keluarga & pulang. Berhubung ini bis ke Jakarta, jadi saua & 2 temen saya yg ke Bandung numpang sampai di Cilegon sajah. Sepanjang jalan adaaa ajah kelakuan temen-temen biar ga sepi, sampe-sampe bikin stress + sakit perut gara-gara ngakak orang-orang yg ngeliat di bis. Ini ke-2 kalinya saya lewat Cilegon, setelah yg pertama lewat pas taun 2007 dan belum ngeh sama jalan & 1x waktu perjalan ke Merak tapi itu tengah malem jadi ga keliatan apa-apa. Hmmm bener-bener sepanjang jalan full debuuu + jalan bolong & truk-truk di Cilegon ini serem-serem yah. Ngejalaninnya tu kaya cuman dia ajah yang ada dijalan raya buseeet ngeri deh pokonya. Jam 5 saya & 2 orang temen saya pisah sama rombongan Jakarta yang bakalan masuk tol smape ke Jakarta. Terimakasih tumpangannya.

Spot snorkeling terakhir

Pantai di spot snorkeling terakhir

Sekarang giliran kita ber-3 yang bersih-bersih & packing ulang buat siap-siap pulang ke Bandung. Untungnya ga jauh dari tempat kita turun ada pom bensin. Sebenernya saya sendiri ga tau ini Cilegon belah mana, jadi ya udahlah begitu ada pom bensin langsung hajar bebersih. Beres mandi + packing ulang pas Magrib, jadi skalian nunggu temen Solat Magrib dulu. Sekitar jam set 7, kita dah nongrong di pinggir jalan ga jauh dari pom bensin tadi. Untungya kata bapa yang jaga warung tempat kita nunggu bis, bis ke Bandung dari Merak lewat dijalan ini. Alhamdulillah jadi ga usah repot. Dan Alhamdulillahnya lagi kita ga nunggu lama, lewat deh bis yg dimaksud. Bis sempet berenti sebentar ambil penumpang di Cilegon terus bablas ke Terminal Pakupatan Serang. Sekitar jam set 8 kita transit dulu di Serang & jam 8 bis meluncur ke Bandung. Berhubung saya bener-bener ngantuk, 2 malem tidurnya ga bener, bikin saya pingsan di bis. Bangun-bangun udah keluar Tol Pasirkoja ajah sekitar jam 12. Dan jam 12 lebih, sampailah kita di Terminal Leuwipanjang & selesailah sudah trip ke Pulau Sanghyang.

Terimakasih buat semua temen yang ikut trip ini. Maaf kalau ada salah, ngerepotin, dan ada yang diluar rencana.

Begitu nyampe langsung foto

Tenda kita

Warna-warni sunset di Pantai Batu Mandi

Pagi hari di Dermaga Paku

Pagi hari di dermaga

 

 
Leave a comment

Posted by on December 10, 2011 in Travelling

 

PENDAKIAN (REMEDIAL) BURANGRANG

Ahirnya bisa balik lagi ke Burangrang setelah Januari lalu gagal muncak karna 1 dan lain hal. Tapi pendakian ke Burangrang kali ini bener-bener pendakian yang paling banyak persiapannya, mulai dari cari informasi perizinan, tempat nge-camp, Curug Layung, sampe transport & tempat nginep buat temen-temen yg dri Jakarta. Buat nanya masalah ijin aja harus bolak-balik sampe 3x, pertama di awal Juni, trus yang ke-2 pertengahan Oktober, dan terakhir seminggu sebelum pendakian, dan jawabannya kompak, gpp ga pake surat ijin, silahkan naek ke Burangrang. Malahan waktu survey terakhir, kita minta ijin buat camp di Curug Layung tanpa surat, silahkan aja katanya, yo wess, masalah perijinan & lokasi beres deh ya. Soalnya puncaknya Burangrang ini sempit jadi lumayan ga nyaman kalau ada yang naek juga, trus bisa PP, jadi ya kita cari tempat yang lebih luas biar nyaman & biar ada air. Masalah nginep juga yang tadinya dirumah, jadi pindah ke rumah temen soalnya sewa angkot dari deket rumahnya lebih murah dibanding sewa dari deket tempat saya. Masalah yang mau ikut juga, dari ampir 40 orang, jadi yang fix tinggal 13 orang termasuk saya hahaha tapi ahirnya beres jugaaa semua urusan.

Gerbang Pos Komando

Jumat, 21 Oktober 2011

Siang menjelang sore udah nyamper ke rumah temen di Jalan Jakarta yg jadi tempat ngumpul buat pergi besok. Rencananya sore ini kita berdua mau belanja bahan makanan buat dimasak kan rencananya bakalan camp di Curug Layung jadi ada air, jadi dikonsepin semi kemcer, yaaa belanja aga banyak juga. Sayangnya kita smape ke pasar udah terlalu sore, jadi ada sebagian yang ga kebeli hari ini, tapi yang lainnya sih udah lumayan kekumpul. Oya, malem ini juga rencananya mau ngumpul sama yang ikut ke Burangrang yang dari Bandung biar ngumpul & langsung ke rumah temen yg jadi meeting point, dan ada 1 orang yg emang udah di Bandung jadi saya suruh ikut ngumpul & bareng juga ke rumah temen saya. Tapi ternyata dia ga bisa ikut nginep & ke Burangrangnya pun jadi galau ikut apa ngga (hadeehh yg gini nih yg bikin sakit kepala). Abis Magrib saya & temen saya baru nyampe lagi ke rumah temen, Solat Magrib & siap-siap pergi ke tempat janjian di daerah Dipati Ukur. Lumayan banyak juga yg ikutan, yg ga ikut ke Burangrang pun ikut ngumpul hmmm lumayan deh setelah lama juga ga ketemu heu heu. Jam 8 malem kita bubaran, saya jemput 1 orang temen saya dulu di daerah kampus, ada yg pulang dulu, dan temen saya juga pulang ke rumahnya.

Ternyata eh ternyata begitu sampe di kampus, temen saya lagi ada acara sama temen yang laen, jadilah saya nungg sampe ampir tengah malem, udah gitu mamah salah ngasih kartu ATM, kartu ATM yg dikasih yg udah kadaluarsa, weleeeh repooot mana haru ambil uang malem itu juga rempong deeeh. Temen saya yg ditunggu-tunggu ahirnya nyampe juga ke kampus ampir tengah malem hueeeh dan belom packing dan belom ambil tenda, dan belom segala macem. Hadeh ya udah deh saya minta dianter ke rumah temen saya di Jalan Jakarta & temen saya itu pulang & beresin semuanya & bakal balik lagi ke rumah temen saya itu. Ahirnya saya bisa mendarat di kasur jam 12 lebih hueeeh capeknyaaaa….

Lapor disini

Banyak kaleee papannyaaa

Gapura Pos Lawang Angin

Sabtu, 22 Oktober 2011
Jam set 2, temen saya yg beres-beres tadi nyampe & kepaksa harus bangun & bukain pintu huaaaa. Ternyata temen-temen yang dari Jakarta juga udah di Kopo hmmm bearti tinggal naek angkot bentar trus nyampe deh hueeeh need sleep T__T. Jam set 3 lebih, temen-temen yang dari Jakarta nyampe, ternyata salah naek bus, bus yang dinaikin lanjut ke arah Soreang, jadilah pada turun di Kopo & angkot satu-satunya yang bisa dianekin cuman mau nganter smape perempatan Jalan Jakarta-Antapani, jadi temen yang dari Jakarta ini harus jalan dari perempatan sampe ke depan rumah. Dan jam 3 baru pada nyampe, dan walhasil cuman bisa tidur sebentaaaar bangeeet. Jam set 5 udah harus bangun, packing ulang & belanja bahan makanan yang kemaren ga sempet kebeli & ngurus angkot hueeehh -____-

Temen-temen yang di Bandung baru pada nyampe jam 6, sambil nunggu temen-temen yg dari Jakarta beres, sambil beli bahan makanan yang buat dimasak. Dan ada 3 orang yang udah nunggu di depan Terminal Ledeng. Dan kita pun baru berangkat jam 7 pagi dari rencana awal berangkat jam 5 zzzzzz. Setelah ketemu sama 3 orang laennya & sampe mindang didalem angkot, kita terusin jalan kearah Pos Komando, sejauh ini sih masih lancar, tapiiii ternyata begitu udah ngelewatin gaupra Pos Komando, ternyata kita lupa bungus makan buat makan siang + tambahan lauk untuk makan mael, walhasil dengan aga rempong kita puter arah lagi. Hueeehh maap, maap bener-bener konslet otaknya kecapean + kurang tidur smalem 😦 setelah rempong bungkus makan siang + lauk untuk 2x makan + beli cemilan-cemilan + bahan-bahan untuk masak yang kurang, kita lanjut ke Lawang Angin.

Begitu sampe di Lawang Angin, minta ijin sama petugas yang jaga, asli yang jaga disini ramah + ngebolehin malah nyuruh kita buat camp di puncak ajah setelah saya jelasin kita mau kemping di Curug Layung (dan dibolehin). Ternyata ada 1 rombongan lumayan banyak, ampir 25 orang dari Jakarta juga yg naek ke Burangrang + 1 rombongan gede salah satu himpunan mahasiswa dari univeritas terkenal di Bandung yang ngadain acara di Situ Lembang (klo yg ini sih bener-bener surat resmi + proposal buat Kopassus Batujajar). Nah, jadi bingunglah kita antara yang pengen camp di puncak ajah, sama yg masih tetep di rencana awal berhubung bahan makanan yang dibawa perlu lumyan banyak air. Ahirnya rundingan dulu & keputusan akhir kita camp di puncak dengan resiko sempit & rebutan lapak sama yang 25 orang laen. Dan jam set 10 kita mulai pendakian dan orang-orang yang bawa tenda ngebut duluan buat cari lapak di puncak.Trek Burangrang yang udah pernah saya lewatin kali ini kondisinya kering, waktu pertama saya kesini lagi musim ujan, jadi sempet naek pas ujan-ujanan dan berlumpur ria. Trek Burangrang ini ketutup & treknya akar-akar pohon + batu di beberapa titik. Trek Burangrang masih bisa dibilang ‘ramah’ buat pemula, soalnya jarak ke puncak yang hanya 2-3 jam, bisa PP, banyak bonus, treknya naek-turun + sejuk.

View dari Lawang Angin kearah Cimahi

View ke sisi kanan jalur

View ke Situ Lembang

Tenda beres langsung tewaaasss

Ahirnya sampai juga di tempat saya berenti & balik pulang pas waktu pertama kali naek. Hmmmm ternyata tempat saya itu masih jauh ke puncak, Ga jauh dari tempat saya berenti nyampelah di puncak bayangan. Disini ada 2 jalan, 1 ke kanan ke atas, yang 1 ke kiri ke bawah. Kalau denger dari temen-temen yang udah pada ke Burangrang sih katanya kalau mau ke puncak nanti nemu jalan yang turuuuun terus, lewatin ke situ hmmm berarti ini jalan yang dimaksudnya. Tapi penasaran juga sama jalan yang ke kanan. Tapi ahirnya saya mutusin buat ambil yang kekiri. Dan ternyata bener aja jalannya turuuun terus, jadi ragu, dan disamping kanan udah jurang, hutan-hutan yang masih alami + Situ Lembang di kejauhan. Waduh mana puncaknya yah?? jadi ragu bener ga yah temen yang bawa tenda lewat sini? apa lewat jalan yang ke kanan? Jalan ke kana kemana yah? soalnya kalau liat dari sini jalan ke kanan itu bener-bener ga nyambung sama jalan yang saya lewatin, entah ke sisi mana tebing. Waduuuh sempet ragu, apalagi ga berapa lama turun, jalannya lebih turun lagi dan sama sekali ga ada tanda-tanda bakalan nanjak. Ya udahlah berhubung dibelakang saya ada rombongan laen juga yg lewat, berarti bener deh kesini jalannya. Dan ternyata ga berapa lama, baru deh keliatan jalannya.

Tanjakan panjang+terjal dengan trek tanah merah+batu-batu buat ke puncak, huaaaahh berarti bener kesini jalurnya, untung tadi ga sempet muter arah & nyobain jalan yg ke kanan hehehe. Lumayan juga nih tanjakan, kondisi kering kaya gini ajah udah licin, susah, apalagi klo ujan yah?? full lumpur ni treknya. Ada tali yang dipasang sama kaya “Tanjakan Setan” di Gunung Gede hanya lebih pendek & beberapa temen dari rombongan laen bantu-bantu yang mau naek. Sesudah lewatin tanjakan tadi jalan mulai nanjak terus daaaan sampailah saya di deket puncak Burangrang pas jam 11 lebih, hampir set 12 dan temen-temen saya yg bawa tenda udah dapet lapak tenda yg enakeun + 3 temda udah dipasang horeeeee. Sementara rombongan laen, termasuk yg 25 orang itu harus buka lahan motongin rumput-rumput dulu buat bisa bangn tenda fiuuuhh seenganya beneran camp di puncak. Kalau Tugu Puncak Burangrangnya sendiri dari tempay saya camp, masih jalan lagi sedikit, ga jauh, malahan jalan + puncaknya juga keliatan soalnya tempat camp sama puncak beda bukit. Yaaah ahirnyaaaaa saya muncak juga di Burangraaaang horeeee berarti 2 dari 3 trip saya yg harus diulang udah beres, tinggal Krakatau nih huhuhu

Jam 12 lebih temen-temen yang laen nyampe & tenda udah dibangun semua horeee 50% pendakian Gunung Burangrang udah dilewatin. Begitu sampe, beres-beres, atur tempat buat tidur, ada yg ke puncak duluan, ada yg ngobrol-ngobrol di deket tenda, ada juga yg langsung tidur. Berhubung pada kurang tidur semua, jam 1 siang kita tidur siang di puncak Burangrang, cuaca juga panas, mataharinya lumayan terik & ga tau juga mau ngapain, jarang-jarang siang udah nyampe puncak. Tapi ada 1 orng temen yang mau langsng pulang, soalnya ada acara laen, hadeehh ya deeh silahkan ati-ati ajah dibawah. Dan semuanya pun tiduuurrr zzzzzz

Tenda kita

Tanjakan Setan versi Burangrang

Jam 4 kurang, ada temen saya yg bangunin soalnya mulai turun kabut & tanda-tanda gerimis, takutnya ujan gede, soalnya barang-barang masih ada yang diluar + belum bikin saluran air dideket tenda, jadilah kita semua bangun sore, dan ga lama gerimis. Daripada bengong mendingan, jadilah kita maen maenan paliiing ngarang sedunia setelah UNO, yap “Truth or Dare” ala kita semua. Ga kerasa maen ini sampe jam 5 lebih, waktunya siap-siap buat masak makan malem, tapi sebelumnya kita ke puncak, ada juga yang masih tidur, ada juga yg baru mau tidur ckckckckc

Menjelang sunrise 1

Menjelang sunrise 2

Menjelang sunrise 3

Sunrise 1

Sunrise 2

Sunrise 3

Vew sunrise 4

Abis magrib acara masak memasak dimulai, berhubung gerimis lagi kita masak didalem tenda, lagian tendanya juga tinggi banget. Demi hemat air, kita cuaman masak nasi + mie telor + lauk yg dibeli pas siang +tempe orek yang emang menu buat makan malem. Tapi entah gimana ceritanyam begitu mau mulai masak, kompor yang 1 aga kurang bersahabat, gasnya aga bocor, jadilah pas mau nyalain apinya malah kegedean & apinya nyamber ampir ke atap tenda & orang-orang didalem tenda. Kejadian tadi, sangat-sangat bikin kaget tapi entah karna males entah karena nyawanya 9, ga ada yang keluar dari tenda, malahan yg tidur, tetep ajah tidur -___- Sekarang dicoba lagi, daaan ternyata kejadian tadi keulang lagi, sebagian ada yg udah kluar tenda, yg tidur, udah pada melek sekarang tapi tetep belom kluar tenda. Ahirnya pas mau nyoba nyalain buat ke-3 kalinya, barulah sebagian pad akluar, termasuk saya, ternyata masih sama kaya tadi cuman udah ga gede banget kaya tadi apinya, ahirnya dibenerin dan aman, lancar, jaya, senotsa, masak nasi, mie telor, sampe pisang keju buat cemilan dimalam hari.

Minggu, 22 Oktober 2011

Subuh, seperti biasa heboh buat hunting sunrise, tapi sayang sunrisenya ga sejelas di gunung-gunung laen, selaen berawan, kehalangan juga sama pohon-pohon, dan spot buat huntingnya pun sempit, jadi yaaa sedanaya ajah ditambah foto-foto kabut diatas Situ Lembang pagi-pagi segeeer. Berhubung Burangrang masih deket sama kota, jadi udara subuh disini ga terlalu dingin, jauuuh banget dibandingin subuh di Sindoro haddeehh ga kuat dej itu mah. Beres hunting foto sunrise saatnya mucak. Jalan ke puncak ga terlalu jauh, jadi ga harus subuh-subuh buta muncak. Sampe puncak, foto-foto dan jam 7an kita balik ke tenda masak buat sarapan, ada juga yang tidur lagi zzzz….. Menu pagi ini cukup roti bakar + pisang keju bluberrry + minuman-minuman anget laennya.

Tempat camp diliat dari puncak

Menu sarapan

Jam 8 target turun soalnya kita mau maen aer di Curug Layung & biar yg dari Jakarta ga teralu malem nyampe Jakartanya. Sesuai jadwal, jam 8 udah jalan turun, untungnya juga cuaca bersahabat hari ini, mendung, kabut tapi ga tebel, jadi adem. Lagi-lagi pas turun barengan sama rombongan yang 25 orang dari Jakarta, tapi untungnya sekarang ga harus pake acara ngebut buat berebut lapak. Waktu turun lebih cepet dibanding waktu naek, masih smepet foto-foto di sebelum hutan pinus & liat pembuatan video gilanya 2 orang temen saya yang maen perosotan dengan modal matras di hutan pinus.

Rempongnya masak

Full team minus Arif & Sandri

Ahirnya sampe juga di pos Lawang Angin, tapi penjaganya udah ganti lagi dari yang kmaren. Daaann dapet bad news, katanya kalo ga pake surat ijin ga boleh ke Curug Layung , walhasil batal deh kita maen aer + masak-masak disana!! siaaallll!! ni tentara ko ga konsisten sih??? kompak napaaa??!!! 2x dateng bilangnya boleh ke Curug Layung, sekarang dah tinggal jalan, malah ga boleeeh??!!! Siaaaalll!!!!!! Ahirnya cuman duduk-duduk geje di Pos Lawang angin sambil nunggu mamang angkot jemput + bersih-bersih. Jam 11 lebih, kita pun meluncur ke Bandung, tepatnya ke Saung Baduy buat makan siang & pisah disana.

Terimakasih buat semua yang ikut pendakian Burangrang, maaf kalau ngerepotin & ada salah & kurangnya.

Full team minus Arif

Full team + lapak sebelah

Jalan ke Situ Lembang

 
Leave a comment

Posted by on December 6, 2011 in Travelling