RSS

CURUG WEDUS 6 MEI 2017

Tulisan serupa pernah dipublikasikan di https://travelnatic.com/jalan-jalan-ke-curug-wedus-jawa-barat/

PART 2

Yang pertama saya lakukan adalah minum dan duduk untuk menghilangkan pusing. Setelah cukup fit, saya meminta tolong Dian untuk memindahkan motor ke halaman depan rumah karena saya mau cash hp. Berhubung tidak ada power bank dan malas harus buka sepatu kalau ikut cash di dalam rumah ibu, jadi saya putuskan untuk pakai charger motor. Ternyata, salah satu kabelnya putus. Rasanya mood kembali down. Untungnya bisa diakalin oleh Mbok. Saking kosongnya daya baterai hp saya, hp tidak bisa nyala selama beberapa menit. Setelah menyala kami segera menandai jalur yang harus kami lewati menuju Curug Cilongan.

Keberadaan Curug Cilongan diperjelas oleh ibu pemilik rumah. Sama persis seperti informasi adik-adik SD Nagrog tadi. Lokasi Curug Cilongan berada tidak jauh dari jembatan gantung. Setelah ngemil dan ngopi, kami pun bersiap menuju Curug Cilongan. Jalur yang kami ambil adalah jalur menurun di persimpangan tempat kami salah sebelumnya jalan ketika menuju Curug Epot. Sebenarnya dari Kampung Cipicung ada jalan tembus menuju Kampung Pasirpari, lokasi perbatasan antara Kecamatan Puspahiang dengan Kecamatan Sodonghilir.

Jalan yang kami lewati didominasi turunan. Jalan yang masih dapat dikatakan bagus ternyata hanya sampai di ujung turunan. Begitu kami memasuki kampung berikutnya, yaitu Kampung Ciserepan (setelah mencocokan rekaman jalur dengan keterangan di Google Maps) jalan berubah menjadi makadam. Untuk saya, jalur makadam ini masih cukup manusiawi. Kondisinya juga cukup lebar, batuannya masih kokoh tertanam dan hanya sedikit yang sudah lepas dan berganti tanah merah dan pasir. Kondisi medan pun lebih banyak datar, meskipun sesekali masih dijumpai turunan.

Memasuki Kampung Ciserepan, sinyal mulai kurang bersahabat, terlebih baterai sudah mulai kritis. Bisa ditebak, kami sampai dua kali salah mengambil jalur. Hp pun mati total. Akhirnya kami mengikuti feeling saja. Tujuan kami adalah aliran sungai cukup besar, sehingga kemungkinan besar, kami harus mengikuti jalan hingga ke ‘bawah’. Kami akhirnya tiba di Desa Muncang yang sudah masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Sodonghilir. Makadam semakin jelek. Begitu hp bisa dinyalakan, langsung cek posisi. Ternyata,  jalur yang kami ambil sedikit melenceng. Anehnyam di sekitar kami tidak ada persimpangan lagi. Hanya ada kebun dan hutan. Lagipula jalan yang sedang kami lalui ini jauh lebih kecil, mungkin hanya cukup untuk mobil jenis mini bus papasan.

Begitu tiba di kampung, kami bertanya pada warga, ternyata jalur kami sudah benar. Kondisi jalan di sekitar kampung yang kami lewati sudah tidak lagi makadam, melainkan jalan yang disemen. Lumayanlah meluruskan tangan sedikit. Begitu keluar kampung, jalanan kembali menjadi makadam. Kali ini kami bertemu tanjakan yang lumayan panjang dan curam ditambah makadam dengan ukuran batu yang cukup besar. Setelah melewati tanjakan, jalan datar kemudian menurun panjang tetap dengan makadam dengan ukuran batu yang cukup besar.

Ujung turunan berupa tikungan cukup tajam kemudian langsung melewati jembatan. Setibanya di jembatan, ternyata motor Mbok tidak ada. Kami berhenti sejenak. Cukup lama kami menunggu Mbok, tapi tidak juga muncul. Feeling saya, takutnya Mbok jatoh. Ga lama, kami ada motor warga yang menyusul kami. Benar saja, warga tersebut memberi informasi bahwa teman kami di belakang jatuh. Tidak lama, Mbok datang, dan kata Mbok, sukses dua kali jatoh karena bannya selip. Jembatan tempat kami berhenti ini merupakan jembatan yang melintasi Sungai Cilongan. Sungai Cilongan cukup lebar dengan pinggir-pinggir aliran sungai berupa tebing cukup tinggi. Ada beberapa warga yang sedang memancing. Aliran Sungai Cilongan sedang deras-derasnya dan berwarna cokelat.

Kami memasuki daerah Kampung Cisindang. Disini kami mulai ragu, karena setiap warga yang kami tanya tidak mengeahui adanya Curug Cilongan. Kami malah diberi informasi mengenai air terjun lainnya. Karena saya pribadi sudah lumayan cape gara-gara salah jalan di Curug Epot, jadi saya tidak terlalu menyimak nama-nama dan lokasi air terjun yang dimaksud warga. Ujung jalan yang kami lewati ternyata bercabang ke kiri dan ke kanan. Kami belok ke kanan kemudian berhenti untuk bertanya pada warga yang sedang berkumpul di warung. Lagi-lagi warga di warung ini tidak mengetahui adanya Curug Cilongan.

Satu orang bilang bahwa curug yang kami maksud ada di Kampung Bojong (yang ternyata letak kamungnya dekat dengan Curug Epot), ada lagi yang bilang tidak ada Curug Cilongan, tetapi ada curug lainnya masuk dari Kampung Cisindang (sebelum pertigaan tempat kami sekarnag), ada juga ibu-ibu yang bilang ada curug yang lumayan besar dan di aliran Cilongan, hanya saja lupa dimana lokasinya, itu pun hanya hasil tidak sengaja mendengar percakapan pemuda setempat beberapa waktu lalu di warungnya. Akhirnya kami disuruh memutar arah, mengambil jalur ke kanan (dari pertigaan arah kami datang) dan di pangkalam ojek disuruh tanya lagi.

Kami mulai ragu apa benar Curug Cilongan itu ada. Seingat saya, ketika mengecek di Gmaps sebelum ho mati, rasanya tidak ada air terjun di aliran Sungai Cilongan ke arah yang kami maksud. Sudah terlanjur melenceng dari jalur awal yang seharusnya kami tempuh dari Curug Epot ke Curug Gedus, ya sekalian saja dicari keberadaan Curug Cilongan ini. Kami pun kembali menyusuri jalan makadam menuju pangkalan ojek yang dimaksud.

Pangkalan ojek yang dimaksud berada di pertigaan. Jalan yang berada di kanan kami merupakan jalur turunan curam dengan makadam yang jauh lebih jelek dan tidak jauh dari permukiman. Jalur di kiri kami merupakan turunan panjang dengan jalur yang sudah disemen dan kembali melipir kebun. Cukup jarang motor yang mengambil jalur di kiri kami. Mbok pun kembali setelah bertanya pada beberapa pemuda di pangkalan ojek sekaligus warung itu. Menurut mereka, tidak ada air terjun di sekitar sini. Lokasi jembatan gantung pun kembali bias. Jembatan gantung yang kami maksud ternyata ditangkap oleh mereka sebagai jembatan gantung di Kampung Bojong.

Karena sudah hampir sore, kami memutuskan untuk menyerah dan menuju Curug Gedus saja. Kami kembali ke pertigaan awal, kemudian melanjutkan jalan menuju jalur utama Sodonghilir. Kondisi jalan semakin ke arah jalan utama semakin bagus, begitupun dengan rumah-rumahnya. Bahkan kami sempat menemukan beberapa rumah cukup mewah dan bertingkat di jalur ini. Kami pun tiba di ujung jalur yang merupakan pertemuan dengan jalur utama Cikalong – Sodonghilir. Karena hp masih mati, kami pun salah jalan. Akhirnya kami memutar arah lagi menuju Terminal Sodonghilir sebagai patokan pertama.

Kondisi jalur menuju Terminal Sodonghilir sangat mulus. Jalan berkelok-kelok dengan pemandangan ke arah Utara Tasikmalaya yang didominasi puncak-puncak bukit dan jurang yang dalam rasanya sedikit mengobati rasa lelah saya di sepanjang jalur Luyubakti – Muncang tadi. Tidak lama, kami tiba di Terminal Sodonghilir. Kami berhenti dulu di sebuah warteg untuk membungkus makan, karena kami belum makan siang. Sembari membungkus makan siang, saya iseng bertanya pada warga mengenai jalur menuju Desa Sepatnunggal. Menurut info dari warga, di persimpangan di depan kami, ambil kanan, kemudian, langsung ambil lagi jalan di kiri. Lalu ikuti terus jalan tersebut.

Nasi sudah dibungkus, namun karena hp masih belum bisa menyala, kami pun hanya berpatokan dari informasi warga barusan. Kami akhirnya berbelok ke kiri, sebuah jalan yang sedikit lebih kecil dari jalan utama dan lengkap dengan gapura. Karena ragu, kami pun bertanya lagi. Ternyata jalur kami sudah benar, hanya saja ternyata jarak ke Desa Sepatnunggal dari lokasi kami masih sekitar 7 Km lagi. Semakin jauh dari persimpangan dengan jalur utama, jalan semakin jelek dan permukiman semakin jarang. Kami bahkan harus beberapa kali berhenti untuk bertantya pada warga jalur menuju Desa Sepatnunggal.

Jalur keluar dari permukiman, kemudian masuk area perkebunan yang sepi. Jalan sesekali makadam, sesekali semen/beton hasil program PNPM yang sudah tidak mulus lagi. Turunan menjadi medan utama yang kami lalui. Kami tiba di persimpangan dengan sebuah Bumi Perkemahan yang namanya baru saya dengar. Selepas persimpangan dengan Bumi Perkemahan, kami keluar dari area kebun/hutan karet.  Akhirnya kami tiba di Desa Sepatnunggal. Saya yakin, karena baru saja kami melewati Kantor Desa Sepatnunggal yang sepi penghuni. Jalan kembali menjadi makadam dan langsung berubah menjadi semen/beton begitu memasuki area permukiman.

Kami sampai bertanya dua kali pada warga disini. Akhirnya didapatlah patokan kalau bertemu SD di persimpangan, lurus, lalu setelah SD ada persimpangan lagi, ambil kanan. Siapa sangka setelah jauh dari jalan utama, kami bertemu bangunan SD yang cukup besar dan kondisinya cukup baik. Bisa dibilang ini bangunan SD terbagus yang kami temui sepanjang perjalanan dari Pupahiang hingga Sepatnunggal. Meskipun sudah dapat info, kami masih beberapa kali bertanya pada warga agar tidak salah-salah jalan berhubung sudah cukup sore. Jalan kembali keluar dari permukiman dan masuk ke area kebun lagi.

Begitu jalur sedikit terbuka, akhirnya jalur yang kami lewati kini bersebelahan dengan aliran sungai cukup besar. Aliran sungai berada di sisi kiri kami. Kondisi jalan masih merupakan makadam dan aspal rusak. Menurut informasi dari teman saya yang sudah pernah ke Curug Wedus, area tersebut sudah dikelola warga. Setidaknya, jika sudah dikelola warga, akan ada papan penunjuk arah atau warga yang berkumpul di dekat jalan masuk menuju Curug Wedus. Benar saja, tidak jauh dari lokasi terakhir kami beertanya pada warga, kami dicegat oleh beberapa warga yang menanyakan apakah kami akan ke Curug Wedus atau sekedar melintas.

Motor kami parkirkan, tepat di seberang warung satu-satunya. Disamping warung terdapat jalan setapak tanah yang sudah dibuatkan undakan-undakan menyerupai tangga menurun terus ke arah aliran sungai. Kami pun berpapasan dengan beberapa pengunjung yang akan naik ke parkiran. Di ujung turunan terdapat jembatan gantung yang sudah rusak.  Hampir semua kayu untuk pijakan sudah menghilang, yang tersisa hanya lubang-lubang berbentuk persegi panjang menganga diatas aliran sungai. Jalur treking pun berbelok ke kana, tepat di samping tiang penyangga jembatan gantung. Jalur treking kemudian menuju pematang sawah. Kali ini pematang sawahnya jauh lebih bersahabat dibanding dengan jalur treking sesat Curug Epot siang tadi.

Bayangan akan adanya ular di pematang sawah yang kami lewati ini muncul kembali. Padahal, biasanya kalau treking saya jarang memikirkan akan bertemu ular atau binatang lainnya, Gara-gara Curug Epot, seharian ini saya lebih banyak parno dan misuh-misuhnya dibandingkan menikmati perjalannnya. Jalur pematang sawah ternyata harus berakhir di pinggir sungai. Ternyata posisi kami saat ini berada di bagian atas Curug Wedus. Ada dua jalur, tetap mengikuti pematang sawah kemudian turunnya melipir jurang dan turun dari air terjunnya langsung. Sekedar informasi, batuan dinding Curug Wedus paling kiri (bila membelakangi air terjun) batuannya kokoh, tidak licin dan membentuk seperti tangga, sehingga pengunjung dapat turun langsung.

Pilihan kedua adalah menyeberangi aliran sungai menuju saluran irigasi di seberang kami. Kami akhirnya memilih untuk menyeberangi sungai ke arah alran irigasi. Cukup mudah menyeberangi aliran sungai ini karena batuan dasar sungainya tidak licin dan masih banyak yang datar. Aliran air pun tidak terlalu deras dan dangkal. Selama kami menyeberang, jalur yang kami lalui paling dalam hanya sebatas mata kaki. Kami pun sampai di seberang dan naik ke jalur irigasi. Baru saja mulai berjalan menyusuri saluran irigasi, tepat di dalam saluran irigasi nampak seekor ular berwarna terang (kepala berwarna merah dan badan berwarna orange) sedang berenang melawan arus saluran irigasi menuju sungai.

Untung ketemunya bukan ketika dari sungai naik ke saluran irigasi. Saluran irigasi di depan kami ternyata dibangun tepat di pinggir jurang sempit. Bisa dibilang, setengan dari bagian saluran irigasi ini ‘menggantung’ di atas jurang cukup dalam. Kami harus berjalan melipir saluran irigasi. Di sisi kiri kami batuan tebing yang kadang menutupi sebagian jalur irigasi, jadi kami harus berjalan sedikit menyamping. Di sisi kanan kami jurang cukup dalam. Dasar jurang merupakan bagian tepi dari aliran sungai dan cukup tertutup semak belukar dan tanaman bambu. Sedikit pusing rasanya melintas disini. Kami turun ke area Curug Wedus dari saluran irigasi melalui jalan setapak tanah. Jalan setapak ini langsung muncul di samping warung-warung. Curug Wedus langsung nampak begitu tiba di warung.

Saya langsung menuju warung untuk mengecas hp. Saya mengecas hp bukan untuk live video atau langsung posting foto-foto Curug Wedus, melainkan untuk trek jalur pulang. Mbok sudah menghilang ntah kemana, Dian sibuk berfoto dan mencoba hammock baru. Saya? Sibuk gonta-ganti kabel sambungan karena tidak ada yang pas. Sambil menunggu hp bisa dinyalakan, saya pun bertanya pada ibu penjaga warung. Menurut salah satu dari ibu penjaga warung ini, jalur tembusan ke Taraju tampak tidak direkomendasikan. Menurut ibu ini, nanti jalur akan muncul di area kebun teh.

Sedikit rancu, apakah kebun teh di Taraju atau kebun teh yang dari Bojonggambir. Karena jika tembus dari kebun teh yang Bojonggambir, jalur akan berupa makadam. Dapat dipastikan kami akan jalan malam, jadi jalur Taraju tidak rekomen. Jalur lainnya yang disarankan ibu ini adalah jalur menuju Pamijahan lalu Karangnunggal. Jalur ini yang teraman meskipun sedikit memutar untuk saya. Lalu ada lagi jalur Parungponteng, namun tidak saya masukan rekomendasi karena saya belum pernah ke Parungponteng. Akhirnya sedikit terpaksa, jalur pulang yang nanti kami ambil sepertinya memutar ke Karangnunggal. Sebenarnya saya masih punya satu jalur lagi yang langsung tembus di Salawu, hanya saja belum bisa dicek karena hp masih mati total.

Setelah hp akhirnya berhasil nyala, saya langsung cek jalur yang saya maksud. Ternyata jalur tersebut merupakan jalur Sodonghilir – Cikalong – Taraju – Puspahiang. Jalur yang sebenarnya saya trek ketika merencanakan mencari Curug Epot dan Curug Wedus. Setelah mantap dengan pilihan jalur pulang, saya pun tidak melewatkan untuk mengambil foto-foto Curug Wedus. Air terjun di sisi kanan (bila menghadap air terjun) memiliki kolam yang cukup luas dan dalam, hanya saja airnya berwarna cokelat karena masih musim hujan. Air terjun di sisi kiri lebih untuk bermain air dan memanjat dinding air terjun karena kolamnya sangat dangkal.

Jalur masuk menuju Curug Wedus ada tiga. Pertama dari lokasi parkiran kami, kedua dari saluran irigasi yang berlawanan arah dari saluran irigasi yang kami lewati dan merupakan jalur para warga yang berjualan di Curug Wedus, yang ketiga adalah area parkir utama Curug Wedus yang kali ini ditutup karena sedang digunakan suatu acara. Kami kembali ke parkiran sekitar pukul 17.30 WIB mengingat jalur treking kami akan cukup merepotkan jika sudah gelap. Untuk jalur pulang, kami memang sengaja jalan malam agar masuk Bandungnya tidak terjebak macet.

Begitu Adzan Magrib berkumandang, kami tiba di warung parkiran. Sudah tidak ada siapapun kecuali para pemilik warung dan kami bertiga. Sambil beristirahat dan mengganti sepatu yang sedari siang sudah basah, saya pun menanyakan jalur Cikalong. Bapak pemilik warung pun ternyata merekomendasian jalur Cikalong karena sudah full aspal hingga Taraju. Selain itu, jalur Cikalong juga termasuk jalur yang lebih aman dibanding jalur ke Taraju. Pukul 18.30 WIB kami pun jalan pulang.

Jalanan yang tadi kami lewati kini nampak lebih sedikit menyeramkan. Gelap gulita dan jarak antar permukiman warga cukup jauh. Kami harus pintar-pintar memilih jalur agar ban tidak nyangkut. Jalur kami kali akan didominasi tanjakan hingga nanti tiba di persimpangan dengan jalur utama di dekat alun-alun Kecamatan Sodonghilir. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, mungkin karena kami sudah sedikit hafal jalur. SD di persimpangan, kampung dengan jalan disemen, bumi perkemahan yang baru saya dengar namanya, hingga Kantor Desa Sepatnunggal sudah kami lewati. Kami tiba di alun-alun sekitar pukul 19.00 WIB. Kami istirahat sejenak sambil kembali mempersiapkan trek jalur pulang yang akan kami lewati. Tidak ketinggalan isi bahan bakar.

City Light  di seberang jurang di sisi kiri jalur kami tampak terang benderang. Disanalah Kota Tasikmalaya, Salawu, Singaparna berada, tujuan kami. Pemandangan serupa pernah saya lihat ketika melintas pukul 20.00 WIB dari Taraju menuju Salawu. Jadi, dapat dipastikan jalur Sodonghilir – Cikalong yang akan kami tempuh ini pun mengarah ke arah City Light  tersebut. Kalau tidak sedang buru-buru, rasanya tidak keberatan untuk berhenti sejenak menikmati City Light  Singaparna dan sekitarnya. Jalur yang kami lewati ternyata benar sangat mulus. Tidak ada lagi yang melintas selain dua motor kami dan satu motor warga di depan kami. Permukiman penduduk yang kami lewati masih cukup ramai. Warung-warung nasi dan kios-kios masih buka. Setidaknya jalurnya tidak sepi sekali.

Kurang lebih satu jam di jalur Cikalong, jalan akhirnya menikung tajam diikuti turunan panjang dan curam. Ah, ini jalur yang sudah tidak asing bagi saya. Kami sudah masuk jalur utama Salawu – Puspahiang – Taraju. Artinya, kami akan segera tiba di Salawu. Jalur ini menjelang malam akan sedikit ramai oleh truk pengangkut kayu/pasir/bambu yang memang kebanyakan melintas malam hari. Selain truk, sepeda motor dan mobil pribadi menuju Taraju pun cukup ramai. Mungkin karena ini malam minggu.

Kami bertemu kembali jalur masuk kami menuju Curug Epot di Desa Luyubakti, Kec. Puspahiang. Jembatan perbatasan kecamatan Puspahiang dengan Kecamatan Salawu pun akhirnya kami lewati. Tepat pukul 20.30 WIB kami sudah tiba di pertigaan Warungpeuteuy (pertigaan antara Salawu – Singaparna – Puspahiang). Kami langsung berhenti di sebuah warung nasi goreng. Sambil makan malam, sambil memasak kopi tepat di halaman kantor pemerintahan yang sudah tutup. Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan non stop menuju Kota Garut. Kami tiba di Kota Garut sekitar pukul 21.30 WIB. Awalnya sempat terpikir untuk mengabil jalur Kamojang, karena jalur Garut – Nagreg malam minggu biasanya masih macet.

Tapi, akhirnya kami urungkan dan mengambil jalur Garut – Nagreg. Benar saja, dari persimpangan dengan Kawasan Wisata Cipanas hingga masuk Kecamatan Kadungora, jalanan masih sangat ramai. Hanya saja tidak sampai macet total seperti biasanya. Arus kendaraan hingga Cinunuk masih lumayan ramai, tapi sesuai prediksi, kami tidak terkena macet di sepanjang jalur masuk menuju Bandung. Saya tiba kembali di rumah tepat pukul 23.00 WIB. Tepat sesuai perhitungan awal.

 

 
Leave a comment

Posted by on June 2, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

CURUG EPOT 6 MEI 2017

Tulisan serupa pernah dipublikasikan di https://travelnatic.com/mencari-jalan-ke-curug-epot-jawa-barat/

Alarm di hp berbunyi tepat pukul 03.30 WIB. Sayapun segera bangun dan bergegas mandi. Masih ada sisa waktu sebelum Adzan Subuh, saya pun menyempatkan mengisi perut karena seharian kemarin saya hanya makan siang hari, itupun tidak banyak. Perut terasa sedikit perih. Setidaknya perut pagi buta ini tersisi dulu biar tidak masuk angin. Hari ini, saya dan dua teman lainnya, Dian dan Mbok Hasby, akan menuju ke Selatan Tasikmalaya. Selesai makan, segera Solat Subuh. Sebelumnya, tidak lupa saya menelepon dua teman saya terlebih dahulu, takut-takut masih tidur.

Jam di hp menunjukkan pukul 04.50 WIB, sudah mepet dengan waktu janjian pukul 05.00 WIB di sebuat mini market di Gedebage. Setiba di tempat janjian, ternyata teman saya belum datang. Saya pun membeli logistik disini biar nanti tidak banyak berhenti di jalan. Saya dan Dian sudah sering jalan untuk eksplore air terjun. Biasanya ditambah Sum dan Mitra. Sayangnya hari ini dua teman saya absen karena masih masuk kerja. Karena sudah biasa pergi bareng, jadi sudah tidak heran kalau jam janjiannya selalu sebelum langit terang. Banyak yang protes, kenapa sih harus nyubuh, toh hari libur ini. Jawabannya, ah, nanti saja saya ceritakan.

Dian baru datang sekitar pukul 05.15 WIB dan langsung membeli logistik. Baru pukul 05.30 WIB kami berdua meluncur ke Bundaran Cibiru, karena Mbok menunggu disana. Sebelumnya, kami mampir di SPBU karena si MX sudah dehidrasi. Kami bertemu Mbok di Bundaran Cibiru. Kami langsung tancap gas sekitar pukul 06.00 WIB. Kali ini, gantian motor Mbok yang perlu minum. Setelah dari SPBU, ternyata motor Mbok masih minta ‘jajan’. Ban motornya kurang angin. Kami baru menemukan tambal ban di Simpang Cileunyi.

Karena kami berangkat terlalu siang, akhirnya kami terjebak macet di depan tiga pabrik besar di Jalan Raya Rancaekek ini. Setelah lewat pabrik terakhir, langsung tancap gas menuju arah Kota Garut. Setiba di Kadungora, arus lalu lintas sudah mulai padat dan didominasi oleh anak sekolah. Untungnya, kami melintas menjelang pukul 07.00 WIB, sebagian sekolah sudah hampir memulai jam pelajaran. Arus lalu lintas baru mulai lancar setelah persimpangan menuju objek wisata Cipanas. Di Bundaran Tarogong, kami ambil arah menuju Terminal Guntur. Sampai di persimpangan dengan Terminal Guntur, kami ambil arah menuju Tasikmalaya. Arus lalu lintas sudah mulai sepi.

Memasuki Kecamatan Cilawu, langit mendung. Bahkan, jejeran gunung-gunung di sisi kiri jalan, termasuk Gunung Talagabodas dan Gunung Galunggung di kejauhan tertutup awan hujan. Sempat khawatir hujan turun. Rasanya malas saja, baru mulai jalan sudah diguyur hujan deras. Untungnya memasuki Kecamatan Salawu, sinar matahari sedikit muncul, meskipun banyak menghilangnya. Kami berhenti di SPBU Salawu. SPBU Salawu ini menjadi semacam check point pertama sekaligus tempat sarapan jika bepergian melintas ke arah Timur. Kami tiba di SPBU Salawu pukul 08.00 WIB, seperti biasanya.

Selesai sarapan, kami tidak buru-buru beranjak lagi. Jarak menuju tujuan pertama kami sudah tidak terlalu jauh, dan lagi, sudah ada yang memberi nama lokasi di Google Maps, jadi kami hanya tinggal mengikuti jalur saja. Pukul 09.00 WIB kami melanjutkan perjalanan. Patokan pertama kami yaitu persimpangan Salawu – Singaparna – Taraju di daerah Warungpeuteuy. Kami belok kanan di persimpangan ini menuju arah Taraju. Ini bukan pertama kalinya untuk saya dan Dian melintas di jalur Salawu – Taraju. Tidak lama setelah masuk ke jalur menuju Taraju, kondisi jalan menjadi lebih jelek.

2014 adalah kali terakhir saya melintasi jalur ini, dan kala itu, kondisi jalannya masih sangat bagus. Aspal mulus dan jalanan sepi menjadi gambaran saya akan jalur ini. Namun sekarang sudah berbeda jauh. Aspal mengelupas, lubang besar dan dalam serta tanah merah bercampur air harus kami hindari. Jalur ini memang banyak dilewati oleh truk pengangkut kayu, bambu, dan pasir pada malam hari. Wajar saja jika umur aspalnya tidak lama. Kami masuk ke Kecamatan Puspahiang. Satu kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya yang terkenal sebagai sentra manggis. Sayangnya, sekarang belum musim panen.

Patokan kedua kami adalah pasar Kecamatan Puspahiang. Selepas pasar, kami berbelok ke jalan kecil di sisi kanan jalan. Jalur ini masih asing untuk kami bertiga dibandingkan jalur utama menuju Taraju ke arah berlawanan. Kami masuk jalan kecil yang lebih mirip jalan di permukiman pinggiran Kota Bandung menurut saya. Sekitar 1 Km kami menyusuri jalur ini, aspal masih bisa kami nikmati. Lama kelamaan, permukiman penduduk berganti dengan jurang dan kebun. Biasanya, kalau sudah begini, kami harus berpisah dengan jalan aspal. Kali ini tidak. Medan jalan yang terus menurun masih dilapisi aspal. Sepi, sudah pasti. Udara pagi di Puspahiang yang minim matahari kali ini sukses memunculkan kantuk saya.

Lama kelamaan, jalan yang kami lewati terus menurun. Agaknya kami menuruni sebuah bukit. Benar saja, tidak lama, kami tiba di dataran dan kemudian jalan kembali menanjak. Pindah bukit. Sejauh ini, jalan yang kami lalui masih beraspal. Dalam perjalanan ke daerah Selatan Jawa Barat ini, saya pribadi tidak terlalu berharap muluk-muluk, hanya dikasih jalan aspal sepanjang jalur tak terduga saja senangnya bukan main. Seperti saat sekarang ini. Di tengah perjalanan, baru ingat belum cek bensin. Ternyata sudah hampir habis. Kami pun melipir di Pertamini.

Sambil isi bensin, sambil kepo tentunya sama akang yang jaga Pertamini. Menurut akang ini, jalur yang kami lewati menuju air terjun yang kami cari ini sudah benar. “Di depan nanti belok kiri. Ikutin aja jalannya.” Begitu katanya. Tidak ketinggalan, saya pun kepo bagaimana kondisi jalannya. “Jalannya bagus ko, ya, sama kaya ginilah (sambil nunjuk jalan yang kami lewatin)”.  Setelah bayar, kami pun melanjutkan perjalanan. Wah, kalau begini terus jalannya sih, bisa hemat waktu lumayan banyak nih. Kami sampai di persimpanan yang dimaksud. Ternyata, ini adalah persimpangan menuju Cikuya dengan yang menuju Parakantilu.

Kali ini aspal sudah mulai menghilang digantikan semacam beton atau semen. Yah, setidaknya bukan batu campur lumpur. Medan jalan terus menurun. Sampai akhirnya kami tiba di persimpangan lagi. Karena ragu yang mana dan pointer my location di Gmaps juga masih di jalur yang benar, kami pun memutuskan ambil jalur tengah, yang menurun terus. Setelah kurang lebih 1 Km, tiba-tiba, pointer my location di Gmaps melenceng jauh dari jalur yang udah di trek. Yah, puter balik. Setelah sampai lagi di persimpangan awal, kami ambil jalur ke kiri, yang menanjak terus. Kali ini benar. Disini kami akhirnya bertemu makadam. Yah, setidaknya makadamnya masih dalam batas wajar, ga kaya makadam di area kebun teh, yang saya beri level ‘makadam ripuh’.

Tidak lama, pointer my location kembali melenceng. Kali ini saya yakin tidak ada persimpangan yang kami lewati. Akhirnya kami bertanya pada warga di sebuah warung. Untungnya bapak yang di warung hafal jalur menuju air terjun yang kami cari. “Lurus aja terus, nanti di depan ada jembatan, trus ada rumah. Nah, nanti disana tanyain lagi jalan ke curug.”  Informasi yang padat, singkat, dan jelas. Awalnya, saya ditanya mau ketemu siapa. Sudah khas di daerah, kalau menanyakan satu tempat, pasti ditanya mau ke siapa. Beda dengan di kota besar, jangankan cari rumah orang, cari jalur aja susahnya minta ampun.

Untungnya ada warga yang bisa kami tanya. Kami disuruh parkir motor di halaman belakang rumah, lalu nanti berjalan kaki menyusuri sungai tepat di samping rumah. Kami pun parkir motor. Tidak lama, ibu pemilik rumah keluar. Sambil mengobrol basa-basi, sambil bertanya jalur. Menurut ibu ini, kami sudah orang kesekian yang menanyakan Curug Epot. Sambil menjelaskan arahan jalur dari ibu pemilik rumah, saya sambil mengeluarkan barang yang tidak perlu dibawa ke curug, kemudian dititipkan di rumah ibu. Perjalanan pun dimulai.

Sayangnya, batre hp saya sudah 3%. Power Bank yang senantiasa menemani perjalanan blusukan saya, kali ini sedang melanglangbuana ke Kota Medan. Dua teman saya pun tidak bawa. Ya sudah terima nasib tidak bisa trek jalur dan tidak bisa ambil foto pake hp. Ibu pemilik rumah mewanti-wanti kami untuk tidak berenang di curug karena airnya sedang besar dan kolamnya cukup dalam. Aliran sungai di pinggir kami merupakan aliran yang sama dengan yang membentuk Curug Epot. Sayangnya, airnya masih berwarna cokelat. Pertanda hujan masih cukup sering turun di daerah ini. Beberapa celah dihubungkan oleh bambu yang dijejerkan dan sangat licin. Setidaknya ada lima jembatan bambu kecil yang kami lewati sebelum akhirnya bertemu jembatan gantung yang dimaksud ibu tadi.

Jalur treking kami sudah berada di tengah area sawah. Kami tiba di percabangan jalur. Mbok berinsiatif bertanya pada warga yang kebetulan lewat, sementara Dian sudah duluan mengambil jalur ke arah sungai. Ternyata, jalur yang harus kami ambil adalah yang menanjak, bukan jalur menuju sungai yang diambil Dian. Kami pun kembali menanjak. Kali ini jalur masuk di area kebun. Posisi kami jadi jauh lebih tinggi dibandingkan posisi sungai. Jalan setapak dari tanah yang sebagiannya masih berlumpur dan licin kami lalui sampai tiba di sebuah balong. Disini, kami bertemu warga lagi. Kami kembali bertanya jalur menuju Curug Epot.

Menurut bapak ini, ikuti jalan ke arah atas di belakang bapak, lalu di persimpangan ambil jalan menuju jembatan bambu. Kami pun bergegeas. Benar saja ada persimpangan setelah kami menanjak melewati bapak tadi. Kami pun menyeberangi jembatan bambu yang lumayan licin dan sedikit tidak kokoh hingga tiba di pematang sawah. Dari sini, jalur mulai tidak jelas. Terdapat jalur bawah yang mengelilingi pematang sawah, ada juga jalur menanjak yang kembali melipir di area kebun, lalu jalur menuju area perkampungan lainnya. Akhirnya kami memilih jalur atas menuju area kebun.

Makin lama, jalur semakin menjauhi air terjun yang sebelumnya masih terlihat di sisi kiri jalur. Tidak lama, ada jalur menuju bawah tapi cukup terjal, tertutup, dan licin. Mbok turun duluan untuk cek jalur. Saya dan Dian menunggu di atas. Ga lama, Mbok balik lagi ke atas. Katanya ada jalur ke bawah, tapi lumayan terjal dan licin. Lalu, dari arah kami datang, ada bapak-bapak. Seperti biasa, bapak tadi bertanya kami darimana dan akan kemana. Setelah kami bilang mau ke curug, bapa tadi heran. “Mau ngapain ke curug? Mau cari apa?” timpalnya heran. Mungkin untuk warga disini, air terjun bukan hal yang aneh, malah kalau ada yang mau ke air terjun, baru aneh.

Bapak yang kami temui ini seneng bercanda tenyata. Dibilangnya, di sungai ini ada buayanya, ditambah lagi, katanya jalur ke arah bawah yang akan kami lalui ini cukup susah, dan lain-lain. Dari bapak ini juga, kami dapat satu lagi nama air terjun yang akan kami tuju. Dengan begitu, sudah ada tiga nama untuk satu air terjun. Curug Luhur, Curug Epot, dan yang terakhir, Curug Cikuya. Entah kenapa, begitu fix jalur ini yang harus kami turuni, perasaan sedikit ga enak. Saya malah ngarepnya, jalan setapak yang sedikit memutar di depan kami ini bisa ke air terjun juga. Sayangnya, kata bapa yang kami temui, jalur ini bukan ke air terjun, tapi ke kampung sebelah.

“Hati-hati, jangan buru-buru kalau melangkah”  pesan bapak yang barusan kami temui sebelum kami memulai turun. Ternyata jalurnya lumayan tertutup semak belukar, malah ada juga yang menghilang total. Jarak untuk sampai ke sungai dari tempat kami masih cukup jauh, meskipun dari tempat kami ini, permukaan sungai sudah terlihat. Makin lama, jalur makin curam dan licin. Akhirnya jalur masuk lagi ke area kebun yang lebih tertutup rapat. Kali ini, jalur harus melipir tebing dengan pijakan berupa batuan lancip lengkap dengan lumut dan aliran air dari tebing. Perasaan saya makin ga enak.

Tiba-tiba kaki kanan saya seperti tersengat sesuatu. Perih. Jangan-jangan kena duri, tapi begitu liat, ga ada tanaman berduri. Jangan-jangan ular. Sambil celingukan ke kana dan kiri jalan setapak, siapa tau beneran ular, tapi nihil. Memang, lokasi kami ini cocok untuk tempat tinggal ular. Ternyata, setelah diliat lagi, ah, untungnya Cuma kena jelatang. Dan baru sadar kalau ada beberapa daun jelatang yang sedikit nongol ke jalan setapak. Setelah dibersiin pake air, kami jalan lagi. Akhirnya kami sampai di batas kebun dengan pematang sawah. Jalur yang harus kami ambil adalah menuju pematang sawah. Pematang sawah di depan mata, tapi jalur menuju kesana tidak semudah itu.

Lokasi kami dengan pematang sawah ternyata dipisahkan jurang cukup dalam. Mungkin lebih tepatnya saluran air/solokan lebar dan tertutup rapat semak belukar.  Di sisi kiri kami memang ada jalan menurun, tapi sangat licin dan curam. Bahkan, tidak terlihat bekas jejak penduduk lewat di jalur tersebut. Seperti biasa, Mbok mengecek jalur yang bisa dilewati terlebih dahulu. Akhirnya, diputuskan untuk mengambil jalur di sisi kanan kami. Sama licinnya, tapi setidaknya lebih mudah dibandingkan jalur di sisi kiri kami. Baru juga melangkah, saya sudah kepeleset. Untung masih bisa tertahan oleh batang kayu yang sedari tadi saya jadikan tongkat.

Mbok jalan duluan ke arah pematang sawah untuk mencari jalur menuju tepi sungai. Saya dan Dian kembali istirahat. Untungnya di sawah, kami bertemu warga lagi. Mbok akhirnya menanyakan jalur menuju Curug Epot. Warga yang ditanya nampak bingung dan malah menunjukkan arah di seberang sungai. Wah, makin ga enak feeling saya. Akhirnya Mbok balik lagi ke tempat kami dan bilang, setelah pematang sawah, kami akan berjalan melawan arus sungai. Ternyata, pematang sawah tempat kami sekarang ini masih lebih tinggi dari permukaan sungai. Sementara, tidak ada jalur/jalan setapak untuk turun dari pematang sawah. Masa iya, harus lompatin solokan?

Ternyata kami harus turun ke cerukan cukup lebar di sisi kiri pematang sawah. Cerukan yang merupakan jalur keluar irigasi yang sepenuhnya tertutup semak belukar. Batang pisang jadi pilihan saya untuk pegangan, sementara tangn satunya masih pegang tongkat dari batang kayu. Tas saya dipegang oleh Dian agar seimbang kalau saya tiba-tiba oleng atau salah melangkah. Baru satu kaki yang turun dan masih mencari pijakan yang kokoh, tiba-tiba sekilas terlihat di tumpukan rumput di sisi kanan saya ada sesuati berwarna cokelat – hitam meliuk. Ular. Kali ini yakin pasti itu ular. Spontan saya pun langsung naik lagi karena ular tadi menuju arah saya berdiri.

Ternyata begitu sampai di pematang sawah lagi, ternyata di sawah tepat di sebelah kami (saya dan Dian) ular berwarna cokelat – hitam, persisi seperti yang saya liat di tumpukan semak belukar sedang berenang cantik ke arah kami. Saya memperingatkan Dian kalau ada ular di sebelahnya, tapi nampaknya Dian salah menagkap arah yang saya maksud. Saya hanya mematung dan tidak melihat ke arah ular, sementara Dian masih sibuk mencari dimana posisi si ular yang saya maksud. Ga berapa lama, akhirnya kami memaksakan turun,meskipun saya sempat sedikit terperosok ke saluran air.

Setelah tiba di bawah, jalan yang harus kami lewati ke pinggir sungai melewati tumpukan semak belukar, ranting, dan daun-daun. Di sisi kiri kami tebing dan sisi kanan kami masih pematang sawah. Saya dan Dian sesekali melihat ke kiri dan kanan jalur yang kami pijak, takut-takut teman-temannya ular yang di pematang sawah tadi tiba-tiba muncul. Saya bahkan sempat terpeleset dan hampir masuk ke sawah. Untung masih tertahan. Akhirnya kami sampai di pinggir sungai. Sudah ada beberapa anak-anak di sungai. Mereka datang dari arah seberang sungai. Sepertinya feeling salah jalan saya benar.

Salah satu anak di rombongan tadi menunjukkan jalan menuju bagian atas air terjun dengan memanjat dinding air terjun. Persis seperti waktu di Curug Situhiang, Majalengka, hanya saja kali ini sepertinya lebih mudah dan tidak lama. Saya dan Dian memutuskan untuk menyeberangi sungai, kemudian naik ke kebun dan mencari jalan setapak yang diinformasikan anak-anak ini. Menurut mereka, jalan masuk menuju Curug Epot ya dari jalur yang mereka lalui, bukan dari jalur yang barusan kami lalui. Sedikit kesal, cape, mood untuk mengambil foto pun sedikit hilang gara-gara drama salah jalur ini.

Mbok jalan duluan, sementara saya dan Dian masih pamitan dengan anak-anak ini. Ternyata, jalur yang kami lalui ini sama sulitnya dengan jalur sebelumnya. Jalan setapak kecil berbatu dan licin tertutup rapat semak belukar. Di ujung tanjakan. Kami kembali bertemu pematang sawah. Kali ini, seluruh pematang sawah yang merupakan penghubung jalan dari sungai ke jalan setapak baru selesai dicangkul. Mbok sudah duluan menyusuri pematang sawah ke arah air terjun, sementara saya dan Dian mencoba mencari jalur lain.

Saya dan Dian akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan setapak di sisi kanan pematang. Mau tidak mau, kami harus menginjak pematang sawah yang masih sangat gembur ini. Cepat dan tepat, begitulah kami harus melangkah. Salah-salah bisa jadi kami terperosok ke sawah atau jatuh ke jurang di sisi kanan kami. Jurang di sisi kanan kami merupakan jalur air yang cukup dalam dan tertutup seluruhnya oleh semak belukar. Lagi-lagi bayangan adanya ular di bawah semak-semak bikin saya sedikit parno dan kaki kiri saya akhirnya sukses terperosok ke sawah. Sementara Dian takut petani yang mencangkul sawah melihat kami jalan di pematang yang baru dicangkul, saya sudah bodo amat kalaupun ketahuan juga, yang penting bisa secepatnya sampai ke jalur treking yang benar.

Pematang sawah gembur sudah kami lalui. Posisi kami saat ini berada jauh lebih tinggi dari permukaan sungai. Jalan setapak di depan kami hilang. Kami sudah kembali masuk ke area kebun. Dian mengecek jalur terlebih dahulu, sementara saya berhenti dulu di perbatasan antara kebun dan pematang sawah. Tidak lama, Dian balik lagi dan membantu saya untuk naik ke jalan setapak yang harusnya kami lewati. Jalur yang sedang kami lewati ini, termyata tidak mudah juga. Tanah yang dipijak tidak semuanya kokoh. Kaki pun harus diangkat lebih tinggi untuk melewati satu tanjakan di tanah yang bercampur lumpur.

Akhirnya kami sampai di jalan setapak yang seharusnya menjadi jalur treking kami. Sedikit lega. Kami pun bertemu Mbok. Akhirnya kami tiba di Curug Epot setelah satu jam perjalanan yang cukup bikin sedikit emosi ini. Jalan yang kami lalui ternyata berujung di tingkatan pertama Curug Epot. Untuk bisa mencapai spot seperti yang saya lihat di sosial media, ternyata masih harus turun ke tingkatan bawahnya, Curug Epot memiliki sedikitnya lima undakan utama yang cukup tinggi. Dinding air terjun merupakan batuan kokoh dan tidak rata. Pengunjung dapat naik atau turun menuju tingkatan-tingkatan Curug Epot melalui batuan ini. Ada juga jalan setapak, tetapi cukup licin dan berlumpur.

Dasar sungai di tingkatan pertama Curug Epot tidak dalam. Batuan dasarnya pun tidak licin, sehingga bisa cukup mudah untuk berjalan ke tengah. Kolam air terjun berada tepat di bawah aliran jatuhan Curug Epot. Kolamnya cukup dalam, namun tidak terlalu besar. Dinding air terjun tingkatan pertama Curug Epot pun dapat dipanjat. Banyak anak-anak dari SD Nagrog yang dengan mudahnya memanjat dinding air terjun kemudian terjun bebeas ke kolam air terjun yang saat itu berwarna cokelat. Curah hujan di wilayah ini masih cukup tinggi, sehingga airnya berwarna cokelat.

Mood untuk foto-foto sudah hilang. Kesal karena diberi informasi jalur yang salah oleh warga sehingga jadinya harus memutar jauh dan membuang banyak waktu. Cape juga karena tenaga banyak terkuras. Ya, sudahlah jadikan pengalaman saja. Saya hanya mengambil foto-foto di tingkatan pertama. Disini masih banyak adik-adik dari SD Nagrog yang menemani kami. Mbok memutuskan untuk turun dan mengambil angle foto air terjun secara keseluruhan. Saya dan Dian di tingkatan pertama saja, berfoto bersama adik-adik dari SD Nagrog ini. Salah satu anak memberikan informasi bahwa di kampung bawah, masih satu aliran dengan Curug Epot ada satu air terjun lagi yang jauh lebih besar dan lebih lebar.

Curug Cilongan namanya. Posisinya katanya tidak jauh dari pinggir jalan raya, dekat jembatan gantung. Lumayan sih bisa sekalian, mumpung lagi di daerah sini. Sekitar satu jam, akhirnya kami bersama adik-adik SD Nagrog memutuskan untuk kembali. Kami kembali menyusuri jalan setapak menuju pematang sawah. Kali ini jalurnya lebih jelas dan lebih mudah dibanding jalur abal-abal yang tadi kami lewati. Setelah pematang sawah, saya, Dian, Mbok dan tiga anak berpisah dengan rombongan lainnya. Kami bertiga baru tau kalau nama kampung tempat kami menitipkan motor bernama Kampung Cipicung.

Jalan kembali menanjak di tengah kebun. Nafas sudah Senin – Kamis tapi harus tetap jalan karena awan hitam sudah berada tepat diatas kami. Akhirnya kami sampai diujung tanjakan. Kali ini kami harus melewati jalan setapak yang cukup datar. Sesekali menanjak, tapi tidak curam. Kami tiba di persimpangan yang tidak asing. Ini adalah persimpangan tempat tadi kami menyeberangi sungai di atas jembatan bambu. Benar-benar salah jalur jauh kalau begini ceritanya. Kalau dari sini, jalannya sudah jelas. Mbok jalan duluan, sementara saya meminta Dian menemani saya yang jalannya sudah pakai sisa-sisa tenaga.

Gerimis mulai turun ketika kami sudah hampir sampai di rumah tempat kami menitipkan motor. Mbok sudah menghilang. Masih ada lima jembatan bambu yang harus saya lewati, sementara hujan makin deras. Saya sih sudah bodo amat deh mau kehujanan juga, toh semua pakaian ganti dari mulai kaos sampai kaos kaki dan buff sudah bawa semua. Cape dan mulai pusing itulah yang saya rasakan sekarang. Hujan makin besar pun tetap bodo amat. Akhirnya kami sampai juga di rumah. Ga berapa lama kami sampai, hujan berhenti.

Bersambung ke Curug Gedus 6 Mei 2017

 
Leave a comment

Posted by on June 2, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

KEMBALI KE TOMIA 3-14 OKTOBER 2016 PART 3

Tulisan serupa pernah dipublikasikan di https://travelnatic.com/serunya-kerja-sambil-jalan-jalan-di-wakatobi/

SELASA, 11 OKTOBER 2016

Hari ini adalah hari terakhir kami survey darat, sekaligus hari terakhir saya di Pulau Tomia. Rencanaya, memang saya akan kembali ke Wanci besok, tapi dua teman saya mungkin masih menetap di Tomia karena masih ada pengukuran area laut. Lokasi survey kami kali ini di Pelabuhan Waha yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari penginapan. Hari ini survey tersantai selama kami di Tomia. Setelah sarapan, saya dan Imam ke pelabuhan untuk mengecek pengukuran, setelah itu kami keliling Waha untuk mencari toko obat dan warung yang menjual obat flu dan batuk pesanan A Cevi. Akhirnya salah satu dari kami tumbang juga.

Kami keliling dari Waha hingga Onemay. Saya baru tau kalau di Kelurahan Onemai juga ada pantai yang landai. Pantai-pantai di Kelurahan Onemai hanya dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai tempat sandar kapal kecil penangkap ikan. Pantainya juga tidak terlalu terawat, karena memang tidak difokuskan untuk area wisata. Jalan utama di Kelurahan Waha dan Kelurahan Onemai lebih mirip jalan-jalan di komplek perumahan di Bandung. Meskipun kami berada di Pulau Tomia, tapi suasana di sekitar menjadikan kami serasa ada di Bandung.

Berhubung di Pelabuhan Waha juga air masih pasang, jadi pengukuran belum bisa dilakukan. Kami akan berangkat ke Pelabuhan Waha setelah makan siang. Sembari menunggu makan siang, kami hammockan dan mengobrol di halaman penginapan. Penginapan siang ini kembali sepi. Dua tamu dari Jakarta sudah kembali ke Wanci dan langsung ke Jakarta. Tamu-tamu dokter Yudi pun sudah semenjak pagi meninggalkan penginapan untuk diving. Cuaca hari ini terik dengan udara yang cukup panas.

Berhubung ini hari terkahir saya di Tomia, saya memtuskan untuk pergi jalan-jalan sendiri saja dengan motor. Mumpung masih pagi. Rute saya pertama adalah ke sebuah tebing dan benteng di Keluarahan Onemai, benteng di Desa Patua, lalu mengikuti jalur Desa Patua – Desa Kahiyanga. Jalur dari Desa Patua hingga Desa Kahiyanga berada di puncak bukit dan akan melewati hutan yang cukup lebat serta jauh dari permukiman. Untuk kondisi jalannya, sepanjang jalur kondisinya sudah sangat baik. Saya pun berhasil melewati tanjakan tepat di ujung jalan Desa Onemai yang cukup panjang dan curam ini dengan mulus.

Selepas tanjakan, sudah tidak ada lagi permukiman penduduk. Sepanjang jalur hanya semak belukar dan hutan. Warga pun tidak ada yang melintas disini. Sepi. Meskipun masih pukul 09.30 WITA, tapi sepinya sudah hampir mirip Kota Bandung jam 02.00 WIB. Saya bertemu percabangan. Sebenarnya saya sedikit lupa jalur menuju benteng yang saya cari. Seingat saya, jalannya hanya ambil yang lurus saja. Jadi, di dua persimpangan yang saya temui, saya ambil yang lurus. Tau-tau saya sudah sampai di gapura Desa Patua. Salah jalan.

Saya sengaja lewati dulu gapura yang sedang direnovasi oleh beberapa warga ini dan berhenti di satu lokasi yang cukup terbuka. Pemandangan di kiri jalan sangat terbuka dan laut langsung terlihat. Sayangnya, konturnya tidak rata, jadi saya tidak bisa jalan di semak belukar tepat di sisi jalan. Setelah puas foto-foto di jalan yang cukup sepi ini, saya kembali ke gapura. Saya pun bertanya pada satu warga yang sedang merenovasi gapura. Saya pun tidak ketinggalan memperlihatkan foto tempat yang saya maksud. Begitu saya memberikan hp pada bapak ini, spontan beberapa warga yang sedang beristirahat pun ikut berkumpul. Malah jadi ramai, dikira ada apaan, padahal saya hanya nyasar saja.

Bapak pertama yang saya tanya akhirnya mengantar saya ke lokasi tersebut. Bapak tadi menjelaskan kalau sebentar lagi waktu istirahat. Kalau sudah masuk waktu istirahat, semua warga kembali ke rumah masing-masing, baru nanti kembali bekerja lagi. Sebagian besar warga yang sedang merenovasi gapura berasal dari Desa Patua. Ternyata, di persimpangan kedua yang saya temui dari arah Onemai, saya harusnya mengambil jalur ke kiri, bukan yang lurus menuju Desa Patua.

Setelah masuk jalan yang benar, ternyata jalannya berubah dari aspal menjadi pasir yang baru diratakan. Pasir yang digunakan berwarna putih, jadi jalan di jalur ini jadi lebih silau. Di kanan dan kiri jalur semak belukar dan cukup tinggi. Sesekali di sisi kiri jalur, semak belukar terbuka dan memperlihatkan laut yang berwarna biru dan tosca. Di tengah jalur, di sisi kanan jalan, ada sesuatu berwarna putih yang tersangkut di dahan semak belukar. Sebenarnya hanya kain berwarna putih dengan ukuran cukup besar tersangkut, tetapi penampakannya cukup kontras dengan kondisi sekitar.

Sampailah kami di tempat yang saya maksud. Bapak ini pun pamit untuk kembali ke gapura yang sedang direnovasi. Tinggalah saya sendiri di pinggir tebing ini. Menurut bapak tadi, jika menjelang sore biasanya banyak anak sekolah yang kemari hingga menjelang Magrib. Setelah bapak tadi pergi, saya benar-benar sendiri. Suasana di sekeliling benar-benar sepi, tidak ada warga yang melintas. Cuaca pagi menjelang siang hari ini cukup terik. Saya pun segera mengeluarkan kamera.

Lokasi tempat saya berada merupakan pinggiran bukit yang dibuatkan bangunan menyerupai benteng layaknya pada masa perang dahulu. Bangunan benteng dibuat tiga undakan. Terdapat saung yang cukup besar di undakan paling atas. Masing-masing undakan diberi paving block dan tegel berwarna hitam-putih seperti pada papan catur. Dari sisi kiri tebing terlihat semenanjung yang merupakan wilayah Kelurahan Onemai. Di sisi kanan tebing, pemandangan berupa hamparan biru Laut Banda yang sedang tenang. Tebing tempat saya berada cukup tinggi, mungkin ketinggiannya sekitar 100 m atau lebih.

Sekitar tiga puluh menit saya memutuskan untuk kembali. Kali ini saya akan mencoba untuk menyusur jalur ke Desa Patua dan tembus di Desa Kahiyangan, lalu ke Puncak Tomia untuk leyeh-leyeh. Entah kenapa semakin mendekati kain putih yang tersangkut di semak belukar di sisi jalan yang sedang saya lewati ini, perasaan semakin aneh. Rasa takut tiba-tiba saja saya rasakan. Terlebih tidak ada siapa-siapa di jalur ini, dan lokasi saya benar-benar jauh dari permukiman. Permukiman terdekat yaitu Kelurahan Onemai yang tadi saya lihat dari atas tebing.

Semakin mendekati kain tadi, saya pun menambah kecepatan. Saya benar-benar tancap gas. Tidak peduli jalan yang sedang saya lewati ini berpasir dan banyak batuan lepasnya. Saking takutnya, saya malah mengambil jalur ke arah Kelurahan Onemai, bukannya jalur ke atas menuju Desa Patua. Ya sudahlah, hanya kain putih tersangkut di semak belukar saja saya sampai ketakutan begini, bagaimana nanti saya masuk jalur hutan di Desa Patua II? Saya putuskan lain kali lagi ke puncak Tomia. Saya pun kembali ke penginapan.

Setiba di penginapan, dua teman saya masih di halaman penginapan. Saya pun kembali hammockan sambal menunggu waktu makan siang. Kami makan siang di dekat penginapan. Selesai makan siang, kami kembali ke penginapan untuk siap-siap pengukuran. Sekitar pukul 14.30 WITA, kami menuju Pelabuhan Waha. Sinar matahari masih sangat terik, namun angin yang cukup kencang menjadi penyeimbangnya. Air sudah mulai surut. Tidak ada kapal sandar dan penumpang yang akan pergi, jadi kali ini saya hanya mengambil foto-foto saja.

Tidak lama setelah saya mengambil beberapa foto, datang sekelompok anak-anak, mungkin masih usia SD. Anak-anak ini kemudian bermain sepakbola di sisi kanan jalan masuk dermaga. Bila air sedang surut, hamparan pasir putih yang cukup luas digunakan anak-anak untuk bermain. Baik perempuan, maupun laki-laki nampaknya cukup asik bermain sepakbola. Mungkin sekitar satu jam mereka bermain sepakbola, lalu satu persatu anak-anak tadi membubarkan diri. Kali ini mereka menaiki salah satu kapal yang sedang sandar. Tenyata air mulai pasang. Perlahan tapi pasti, tempat anak-anak tadi bermain sepakbola kini terendam air laut.

Anak-anak tadi satu persatu berlompatan ke laut dari salah satu kapal yang sedang diperbaiki. Ketika air mulai pasang, ritual berenang di laut sambil mencari teripang pun dimulai. Kadang, teripang dan bulu babi dijual dengan cara bekeliling desa dengan berjalan kaki, ataupun untuk dikonsumsi sendiri. Ada yang unik ketika sore di sekitar penginapan. Anak-anak kecil akan berjualan dengan berkeliling berjalan kaki. Yang dijual pun bisa berbeda-beda setiap hari. Satu hari berjualan makanan ringan khas Tomia, esoknya jadi jambu dan buah-buahan lain, besoknya bisa teripang dan bulu babi, esoknya bisa ganti lagi. Barang dagangan berubah tergantung logistik yang masuk hari itu di pelabuhan.

Sekitar pukul 16.30 WITA, pengukuran selesai. Ketika sedang merapihkan peralatan, saya bertemu doter Yudi yang baru selesai mengantar tamu-tamunya. Setiba di penginapan, saya mandi kemudian packing. Kapal yang akan membawa saya ke Wanci akan berangkat dari Pelabuhan Waha tepat pukul 06.00 WITA. Tidak lupa malamnya menyelesaikan pembayaran sewa motor, kamar, dan jasa mencuci pakaian selama di penginapan. Tidak terasa besok saya sudah harus meninggalkan Pulau Tomia.

RABU, 12 OKTOBER 2016

Saya sudah mulai packing ulang sedari pukul 05.00 WITA. Tidak lupa sebelum ke pelabuhan, saya sarapan dulu. Sarapan terakhir di Pulau Tomia, meskipun dengan menu yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Nasi goreng, telur mata sapi dan kerupuk sudah pasti ada. Pukul 05.45 WITA, saya pun pamitan pada dua teman saya yang masih satu hari lagi di Tomia. Tidak lupa pamitan dengan bapak dan ibu pemilik penginapan Abi Jaya.

Kapal kayu yang sama dengan yang saya naiki ketika menuju Tomia minggu lalu kembali saya naiki. Kali ini perjalanan selama tiga jam menuju Wanci akan saya tempuh sendiri. Khusus untuk tamu Penginapan Abi Jaya, biasanya sudah disediakan tempat di tingkat dua kapal. Lengkap dengan kasurnya. Penumpang lain pun boleh mengambil tempat di tingkat dua ini . Kali ini saya bersama tiga penumpang lainnya (dua bapak-bapak dan satu ibu-ibu) di tingkat atas kapal kayu ini. Berhubung saya masih ngantuk dan tidak ada teman mengobrol, saya pun memutuskan untuk tidur saja.

Saya terbangun ketika kapal berhenti di Pulau Kaledupa untuk menurunkan dan mengangkut penumpang. Perjalanan dari Pulau Tomia hingga perairan Pulau Kaledupa cukup lancar, cuaca cerah, udara panas, dan angin sesekali bertiup kencang. Memasuki perairan Pulau Wangi-wangi, sinyal hp sudah mulai bagus. Bahkan 4G. Sekedar informasi, selama di Pulau Tomia, sinyal hp sangat sulit, bahkan untuk Telkomsel dan XL pun hanya bisa sampai EDGE, itu pun terkadang hanya dua bar sinyal.

Segera saya menghubungi Bang Akbar untuk menjemput saya di pelabuhan manapun nanti saya sandar. Memang belum jelas kapal akan sandar dimana, tergantung kapasitas pelabuhan dan ketinggian air pasang di alur masuk. Ternyata kapal sandar di pelabuhan dekat permukiman Suku Bajo. Begitu turun dari kapal, Bang Akbar sudah stand by. Lumayanlah tidak usah celingukan sendiri di pelabuhan. Setiba di hotel, saya harus menunggu dulu karena kamar-kamar masih dibereskan. Maklum, saya tiba disini sebelum pukul 12.00 WITA. Untuk makan siang, sudah ada restoran di belakang hotel. Segera setelah kamar saya siap, saya pun mandi dan leyeh-leyeh. Nampaknya masih sedikit jet lag.

Karena hanya sendiri, jadi sedikit malas jalan-jalan. Lagipula, waktu Agustus lalu, saya sudah cukup kenyang berkenalan dengan Wanci. Malam hari, saya mencegat ojek untuk mengantar saya membeli makan malam, beli kaos oleh-oleh, membeli beberapa kebutuhan di toserba dekat penginapan, dan tidak lupa ke ATM. Pesawat saya ke Makassar besok siang, jadi biar besok pagi santai, saya packing semua hari ini.

KAMIS, 13 OKTOBER 2016

Sedikit panic, karena Bang Akbar belum menjemput juga. Saya tiba di bandara tiga puluh menit sebelum check in ditutup. Ternyata saya satu pesawat dengan dokter Yudi dan tamunya. Ya, meskipun ga terlalu kenal, setidaknya ada dua wajah yang familiar dalam perjalanan saya ke Makassar kali ini. Pesawat saya akan transit di Kendari lalu landing di Makassar. Hari ini saya akan bermalam di Makassar karena jadwal pesawat Makassar – Bandung tidak cocok. Jadi, besok saja saya pulang ke Bandung langsung pakai pesawat dari Makassar.

Wanci siang ini cukup terik dan udaranya panas. Sehari kemarin, hujan cukup besar mengguyur Wanci. Sementara di Tomia, kemarin terik dan cerah sepanjang hari. Perjalanan dari Wanci menuju Kendari hanya tiga puluh menit saja. Setiba di Kendari cuaca cukup cerah, meskipun tidak seterik di Wanci. Penumpang transit tidak turun di Kendari. Seperti biasa, di Kendari naik beberapa WNA dari Cina yang kemungkinan besar bekerja di pertambangan.

Memasuki wilayah Makassar, langit mendung. Bahkan gerimis turun ketika akan landing. Tepat sesaat setelah pesawat mendarat di landasan, hujan sangat deras mengguyur bandara. Seluruh penumpang terpaksa menunggu di dalam pesawat, mungkin sekitar tiga puluh menit. Sebagian besar penumpang yang akan melanjutkan penerbangan ke Jakarta mulai panik, termasuk dokter Yudi. Sementara tamunya sudah turun terlebih dahulu di Kendari. Masalahnya waktu Check in untuk pesawat ke Jakarta sangat mepet. Apalagi jika harus menunggu tiga puluh menit. Untungnya penumpang transit ke Jakarta masih menggunakan maskapai yang sama.

Setelah hujan hanya tinggal gerimis, satu persatu penumpang dari jejeran paling belakang dipersilahkan keluar menuju bus bandara, dengan dipayungi tentunya oleh petugas bandara. Sayangnya hanya ada tiga petugas bandara yang memayungi penumpang, jadi waktu yang dibutuhkan seidkit lebih lama. Saya duduk di sebelah dokter Yudi di dalam bus bandara. Ternyata untuk pesawat ke Jakarta, sudah terlambat beberapa menit. Untungnya karena satu maskapai, jadi masih bisa ditunggu.

Saya pun berpisah dengan dokter Yudi yang bergegas menuju area keberangkatan domestik di lantai dua, sementara saya menuju tempat pengambilan bagasi. Sekarang saya benar-benar hanya tinggal sendiri di Makassar. Setelah mendapat bagasi, saya makan siang dulu, baru mencari taxi. Ternyata perjalanan saya dari bandara menuju hotel tempat saya menginap lumayan jauh. Saya check in sekitar pukul 17.00 WITA. Kepala sudah sedikit pusing akibat jet lag. Untuk makan malam, sengaja saya membungkus makan dari bandara. Agak malas juga keluar hotel lagi kalau jetlag dan hanya sendiri.

JUMAT, 14 OKTOBER 2016

Saya check out sekitar pukul 11.30 WITA. Sedikit tidak enak juga waktunya, karena mepet dengan Jumatan. Harusnya saya ke bandara saja tadi dari pukul 10.30 WITA. Jadilah bapak supir yang mengantar saya ke bandara sedikit ngebut, untung jalan tol. Sayangnya, ketika sudah hampir keluar di GT, ada antrian perbaikan jalan. Ujian berikutnya yaitu kemacetan akibat pembangunan fly over tepat di persimpangan antara GT dengan jalan masuk menuju bandara. Saya pun tiba di bandara dan bapak supir tadi masih keburu Jumatan. Sekarang tinggalah saya yang menunggu pesawat yang baru akan berangkat kurang lebih dua jam lagi.

Selagi menunggu di bandara, ternyata kami pinda gate, karena akan dipakai Jemaah haji yang baru tiba. Untungnya pesawat saya tidak delay. Perjalanan dua jam Makassar – Bandung ditemani cuaca yang semakin mendung ketika mendekati Bandung. Seperti biasa, pesawat harus berputar-putar di atas Saguling sebelum akhirnya dapat mendarat di landasan. Pesawat pun landing di Bandara Hussein. Selamat datang di Bandung. Setelah menunggu bagasi, tepat pukul 17.00 WIB saya keluar bandara. Jumat, hujan, jam pulang kantor, sudah pasti macet. Akhirnya saya baru tiba di rumah sekitar pukul 19.00 WIB.

Selamat kembali pulang di Bandung. Selamat berjumpa lagi di lain waktu, Wakatobi. Sampai jumpa lagi lain waktu, Makassar. Sampai jumpa lagi lain waktu, Kendari. Dan sudah kangen lagi dengan suasana di Pulau Tomia. Semoga nanti bisa kembali berkunjung ke Tomia.

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2017 in Travelling

 

KEMBALI KE TOMIA 3-14 OKTOBER 2016 PART 2

Tulisan serupa pernah dipublikasikan di https://travelnatic.com/serunya-kerja-sambil-jalan-jalan-di-wakatobi/

JUMAT, 7 OKTOBER 2016

Jadwal saya hari ini adalah menuju Pelabuhan Usuku sepagi mungkin. Menurut informasi, kapal-kapal dari Binongko sudah tiba di Pelabuhan Usuku dari pukul 06.00 WITA. Kapal-kapal dari Binongko tersebut akan pulang kembali dari Pelabuhan Usuku sekitar pukul 09.00 WITA. Tidak banyak waktu yang saya punya untuk mengejar wawancara dengan kapal dari Binongko. Seharusnya saya berangkat dari pukul 05.00 WITA. Apa daya, nyali masih ciut untuk berkendara sendiri ketika hari masih gelap. Ditambah rasa enggan meninggalkan kasur penginapan terlalu cepat.

Cuaca pun sepertinya ikut mendukung rasa malas saya. Sedari malam, angin bertiup sangat kencang. Pukul 03.00 WITA saya sempat terbangun dan ternyata di luar hujan sangat deras. Pukul 04.39 WITA ketika saya bangun pun masih gerimis. Pukul 06.00 WITA, setelah saya selesai mandi dan sarapan, saya pun bergegas menuju Pelabuan Usuku seorang diri. Cuaca pagi ini masih sangat mendung. Angin pun masih bertiup cukup kencang. Jalanan sangat sepi, mungkin pengaruh cuaca pagi ini.

Belum jauh saya jalan dari penginapan, tiba-tiba mesin motor mati. Saya coba nyalakan (dan hanya bisa diselah) tetap tidak mau nyala. Indikator bensin masih penuh. Cukup lama saya mencoba menyalakan motor. Tidak ada seorang pun warga yang terlihat di jalur ini, padahal di kanan dan kiri saya berjejer rumah warga. Terlambat sudah mengejar kapal dari Binongko. Akhirnya saya putuskan untuk mendorong motor kembali ke penginapan dan meminjam motor yang biasa digunakan dua teman saya. Untungnya diujung jalan hanya tinggal belok kiri lalu sampailah saya di penginapan.

Saya pun segera mendatangi ibu pemilik penginapan. Setelah diceritakan kondisinya, akhirnya ibu pemilik penginapan pun mengajak saya ke rumah tepat di seberang penginapan. Cukup lama tidak ada sahutan dari pemilik rumah. Saya pun semakin putus asa untuk wawancara dengan kapal dari Binongko. Akhirnya pemilik rumah datang. Setelah dijelaskan maksudnya, pemilik rumah pun setuju dengan harga sewa motor dan lama sewa motor yang saya ajukan. Biaya sewa 100rb/hari dan boleh saya bawa 24 jam. Motor yang akan saya bawa kali ini adalah Honda Supra dengan kondisi yang masih cukup baik.

Segera setelah selesai urusan negosiasi sewa motor, hujan amat deras langsung turun tanpa basa-basi disertai angin sangat kencang. Pupus sudah harapan saya untuk mengejar kapal dari Binongko. Hujan turun cukup lama, mungkin sekitar tiga puluh menit. Ketika hujan berhenti, waktu sudah menunjukan pukul 08.00 WITA. Kalau sudah begini, ya pasrah saja. Kami kembali ke penginapan. Dua teman saya sudah bangun. Saya pun cerita tentang motor yang bermasalah dan sudah dikembalikan ke pemiliknya.

Tidak lama hujan kembali turun. Lagi-lagi hanya bisa menunggu. Listrik sudah mati sedari pagi tadi. Pukul 09.00 WITA, hujan reda, kami pun bergegas menuju Pelabuhan Usuku. Sebelumnya, kami mampir dulu ke Pelabuhan Waha untuk pencatatan. Kami pun berangkat. Dua teman saya boncengan dengan menggunakan motor matic, sementara saya sendiri membawa si Supra. Begitu tiba di Desa Waitii, motor terasa goyang. Ternyata ban belakang si Supra bocor. Saya pun berhenti dank arena saya ada di belakang, dua teman saya tidak tahu kalau ban belakang saya bocor.

Saya pun mencoba menelepon mereka. Setelah beberapa lama akhirnya WA saya dibaca dan mereka pun balik lagi. Saya dan A Cevi menunggu di tempat saya berhenti sementara Imam membawa Supra mencari tambal ban. Nihil. Ke arah Waha tidak ada tambal ban buka. Warga sekitar memberi informasi kalau ada tambal ban lagi di Desa Patipelong. Artinya kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 6 Km lagi. Sampailah kami di Desa Patipelong. Langsung kami berhenti di tambal ban. Berhubung A Cevi dan Imam sudah cukup kesiangan, saya tinggal sendiri menunggu ban motor selesai ditambal.

Tiga puluh menit kemudian, ban motor pun selesai ditambal. Uang lima puluh ribu rupiah pun melayang dari dompet. Saya pun segera tancap gas ke Pelabuhan Usuku. Dua teman saya sudah mulai mencari lokasi pemasangan patok, sementara saya melipir ke warung makan yang kemarin. Ibu pemilik warung sudah hafal dengan saya, jadi saya pun tidak apa memarkirkan motor di depan warungnya. Kali ini saya hanya tinggal menunggu speed boat dari Wanci karena kapal dari Binongko sudah semuanya kembali ke Pulau Binongko. Pelabuhan Usuku pagi ini jauh lebih sepi dibandingkan kemarin.

Tiba waktu Solat Jumat. Dua teman saya pamitan Jumatan sementara saya menunggu di warung makan. Suasana Pelabuhan Usuku menjadi jauh lebih sepi ketika waktu Jumatan tiba, bahkan pintu warung makan pun ditutup setengahnya. Sambil menunggu, saya pun kembali memesan semangkok mie kuah, berhubung cuaca juga cukup dingin, tidak ada sinar matahari. Ternyata dua teman saya setelah Jumatan kembali ke Pelabuhan Waha dulu untuk pencatatan baru ke Pelabuhan Usuku lagi. Menjealng pukul 14.00 WITA, dua teman saya baru kembali dan segera memasang patok.

Baru juga memasang satu patok, gerimis kembali turun. Angin bertiup cukup kencang. Gerimis baru reda sekitar pukul 15.00 WITA. Selama menunggu gerimis reda, kami sempat hampir tertidur di saung seberang rumah makan. Pukul 15.00 WITA, berhubung tidak ada tanda-tanda kapal dari Wanci akan sandar, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Setiba di penginapan, listrik sudah menyala. Kami memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing karena cuaca memang benar-benar mendukung untuk bermalas-malasan. Tidak banyak yang kami lakukan di sisa hari ini. Survey akan kami lanjutkan esok hari.