RSS

CURUG ARJUNA 1 NOVEMBER 2017

Nyurug kali ini bener-bener beda dari biasanya. Mulai dari temen nyurug yang semuanya belum pernah tatap muka langsung sampai hari nyurug yang sedikit nyeleneh. Kali ini temen-temen nyurug saya semuanya hanya berawal dari DM di IG. Ini kali pertama kami bener-bener tatap muka dan langsung pergi eksplore air terjun bareng.

Awalnya kami hanya janjian dengan teman-teman yang di Bandung, tapi entah bagaimana ceritanya, akhirnya kami ikut gabung dengan teman-teman di Garut dan GTK.

RABU, 1 NOVEMBER 2017

Kami janjian jam 04.30 WIB di sebuah mini market di Jalan Sukarno Hatta. Total rombongan Bandung setidaknya ada enam motor, di luar motor saya dan motor Mbok. Kami berhenti lagi di Cibiru menunggu Mbok. Setelah acara tunggu-menunggu selesai, kami langsung tancap gas menuju Garut. Awalnya, karena semua hanya dari Bandung, rute yang akan kami ambil lewat Sapan – Kamojang – Samarang – Cikajang. Berhubung kami gabung dengan teman-teman dari Garut, jadi, rute kami rubah menuju Garut kota lewat Nagreg.

Jalanan cukup lengang, bahkan saya bisa memacu kecepatan motor hampir 80 Km/Jam. Waktu janjian di Garut adalah pukul 07.00 WIB dan kami sudah sampai di tikum sekitar pukul 06.00 WIB. Kami istirahat sambil sarapan di Simpang Lima –setidaknya itulah sebutan tempat tikum kami-. Disini saya berkenalan dengan banyak teman baru yang ternyata sama-sama punya hobi nyurug ala begajulan kaya saya. Singkatnya, kami semua pergi menuju lokasi sekitar pukul 08.00 WIB. Kali ini saya dibonceng Hartas sampai masuk Cikandang.

Kami re-group lagi di Cikandang berhubung katanya ada yang masih harus ditunggu. Saya ikut rombongan Bandung jalan terlebih dahulu menuju gerbang perkebunan karena ada beberapa teman yang sudah pernah ke air terjun yang akan kami tuju. Sebetulnya saya aga khawatir dengan jalan yang akan kami lalui nanti. Jalur perkebunan yang dimaksud adalah jalur Perkebunan Papandayan yang bisa tembus ke Desa Cibatarua, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Teman-teman yang sudah pernah lewat jalur lintas Cibatarua – Cikajang hampir semuanya bilang treknya cukup bikin olahraga. Nah, apa kabar saya yang kondisi ban motor sama rem kurang fit dan udah lama ga motoran di jalan batu? Pokonya saya udah wanti-wanti Mbok dan Kang Gamma kalau nanti di sepanjang jalur perkebunan jalannya dekat-dekat saya. Kalau-kalau ada jalan yang saya ga bisa lewatin, bisa dijokiin dulu.

Ternyata ada satu motor lagi yang masih harus ditunggu. Kami pun melipir sejenak ke warung kopi. Untungnya, di perjalan kami ini saya ada teman beser, Mbak Dina, teman asal Surabaya. Jadi, setidaknya kalau boalk-balik ke kamar kecil ada temannya. Udara pagi Cikajang yang sejuk, langit biru dan matahari yang cukup terik ditambah angin sepoi-sepoi sukses bikin saya ngantuk. Ditambah badan pegel-pegel sehabis pulang dari Cianjur pakai motor sehari sebelumnya, rasanya sukses bikin saya malas melahap jalur batu di kebun Papandayan.

Sekitar satu jam, akhirnya rombongan kumplit dan tiba saatnya saya bertemu dengan jalur Kebun Papandayan yang cukup terkenal itu. Awalnya, jalan hanya aspal rusak, setelah berbelok ke kanan, jalanan menanjak dan langsung berubah menjadi makadam. Perlahan tapi pasti saya melewati tanjakan dan tiba di jalan yang lebih datar.

 

1 km, 2 Km, 3 Km, saya rasa jalur makadam di perkebunan Papandayan ini tipikal gravelnya sama. Batu-batu cukup besar yang tertanam kokoh tanpa ada ruas jalan yang berubah jadi tanah merah akan menjadi suguhan jalan selama dua jam ke depan. Berhubung kondisi jalan cukup kering (nampaknya hujan belum terlalu parah disini), jadi hanya ada beberapa genangan air yang harus dilewati, batuannya pun kering jadi tidak terlalu licin.

Di beberapa titik, memang ada turunan dan tanjakan yang batuannya lepas, tapi tidak terlalu panjang. Ada juga jalan menurun yang sekaligus menjadi jalur air. Sedikit licin, tapi untung ban belakang gundul motor saya masih bisa diajak kompromi. Pegal. Itu saja yang saya rasakan selama melahap jalur ini. Maklum, ini kali pertama lagi semenjak April lalu melahap jalur makadam. Rasa khawatir saya tidak bisa melewati jalan batu perlahan hilang.

Janjian untuk jalan bareng Mbok dan Kang Gamma pun tinggal janji. Kenyataannya, motor Kang Gamma jauh di depan sementara motor Mbok jauh di belakang. Saya jalan bareng motor Badut & Rian. Di depan dan di belakang kami jarak dengan motor lain cukup jauh. Setidaknya ga sendiri banget. Setelah kurang lebih satu setengah jam melahap makadam, kami bertemu desa pertama di jalur ini. Hampir semua isi bahan bakar.

Desa tujuan kami dari tempat kami mengisi bahan bakar tepat di seberang, tapi ternyata jalan menuju desa tersebut masih harus memutari lereng bukit cukup lama. PHP! Kali ini kami re-group, namun lagi-lagi, saya hanya barengan dengan motor Rian & Badut sampai di Desa Panawa, desa tujuan kami. Tujuan kami kali ini adalah Curug Arjuna yang terletak di Kampung Cikopo, Desa Panawa, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Air terjun ini sudah menjadi incaran saya selama kurang lebih satu tahun terakhir.

Kami tiba di Desa Panawa sekitar pukul 10.42 WIB. Berhubung rombongan kami terpencar menjadi beberapa kloter dengan jarak yang cukup jauh, maka saya putuskan untuk mengikuti tiga motor di depan saya. Kami langsung menuju pos penjagaan PLTm. Jalanan batu ala perkebunan yang sebelumnya kami lewati, berakhir di Desa Panawa. Meskipun bukan jalan aspal mulus, setidaknya kondisi jalan dari Desa Panawa menuju gerbang penjagaan PLTm tidak seburuk kondisi sepanjang Perkebunan Papandayan.

Sudah ada beberapa teman lainnya di pos penjagaan PTLm Cikopo, selebihnya masih tertinggal jauh di belakang saya. Sambil menunggu teman lainnya, saya memanfaatkan waktu untuk mengistirahatkan tangan serta menitipkan barang-barang yang tidak terlalu perlu dibawa treking menuju Curug Arjuna.

 

Curug Arjuna berada di areal PTLm Cikopo. PLTm Cikopo merupakan pembangkit listrik yang menggunakan aliran Sungai Cibatarua sebagai sumber alirannya. Aliran Curug Arjuna bersumber dari aliran Ci Arjuna yang kemudian bertemu dengan aliran Ci Batarua, tepat di samping bangunan PLTm Cikopo.

Lokasi Curug Arjuna yang berada tepat di seberang bangunan PLTm Cikopo berdampak pada terbukanya akses jalan dari pos penjagaan hingga tepat di depan area Curug Arjuna, serta adanya aktivitas PLTm selama 24 jam di area Curug Arjuna. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri mengingat lokasi Curug Arjuna cukup jauh dari permukiman penduduk dan berada di dasar jurang yang cukup dalam.

Kami hanya dapat mengendarai motor sampai di pos penjagaan. Selebihnya, perjalanan harus kami tempuh dengan berjalan kaki. Kami memulai perjalan sekitar pukul 11.30 WIB. Terik matahari dan jalanan aspal yang menurun curam terus-menerus menambah rasa lelah dan ngantuk yang sedari tadi ketika menunggu di pos penjagaan sudah saya tahan.

Kondisi jalan yang kami lalui selama trekking sebenarnya sudah beraspal, meskipun di beberapa titik masih berupa batuan lepas. Jalanan menurun dan sangat curam. Beberapa alasan kenapa pengunjung tidak diperbolehkan membawa kendaraan pribadi ke Curug Arjuna mungkin disebabkan kondisi jalan yang curam dapat menjadi pemicu kecelakaan dan juga jalan yang kami lalui merupakan satu-satunya akses kendaraan PLTm. Jika banyak kendaraan pengunjung ke Curug Arjuna di jalur ini, mungkin akan menghambat mobilitas pegawai PLTm.

Selama perjalanan yang semuanya berupa turunan curam ini, yang terfikir hanyalah seberapa cepat nanti saya bisa kembali ke pos penjagaan dari area Curug Arjuna. Perjalanan pulang sudah pasti akan semuanya berupa tanjakan curam. Sedikit minder, karena hampir semua teman yang ikut sepertinya sudah terbiasa dengan treking dan fisik yang kuat. Sementara saya, olahraga pun jarang, apalagi treking. Tidak dapat dibayangkan betapa lamanya nanti perjalanan pulang saya.

Di tengah perjalanan, seorang teman saya memberi tahu kami bahwa ada satu air terjun lagi selain Curug Arjuna. Curug Cibatarua, yang lokasinya dapat kami lihat di perjalanan treking menuju Curug Arjuna. Meskipun hanya dari kejauhan, tetapi area Curug Cibatarua dan alirannya sudah cukup terlihat jelas. Tidak membuang banyak waktu, kami pun melanjutkan kembali treking menuju Curug Arjuna.

 

Jalur treking menuju Curug Arjuna ternyata tidak separah yang saya bayangkan. Jalur treking memang curam dan lumayan jauh, tapi setidaknya sudah berupa jalan aspal dan jelas. Setidaknya juga kami tidak harus buka jalur dan tersasar di hutan/kebun/pematang sawah seperti biasanya. Tepat sebelum turunan terakhir, terdapat satu tempat cukup terbuka untuk melihat Curug Arjuna dengan jelas dari atas.

Setelah mengambil beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan menuju area utama Curug Arjuna. Ujung turunan bercabang ke kanan dan ke kiri. Di kanan turunan merupakan area parkir dan gedung utama PLTMh Cikopo 2, sedangkan di sisi kiri merupakan area Curug Arjuna. Jalan aspal berakhir disini. Begitu pun jalan yang sudah dibangun. Selebihnya akses jalan mentok di tebing-tebing. Tepat di belakang area milik PLTm Cikopo 2 terdapat pertemuan aliran Ci Batarua dengan Ci Arjuna serta beberapa air terjun kecil.

Memasuki area Curug Arjuna, pengunjung harus melewati dua kolam kecil dan aliran Ci Arjuna. Hanya ada pijakan berupa batuan lepas sembarang untuk menyeberangi aliran Ci Arjuna. Tepat di belakang kolam pertama, terdapat air terjun kecil yang alirannya berasal dari rembesan batu dan sungai kecil yang terpisah dari aliran Ci Arjuna. Aliran air terjun ini cukup stabil, meskipun musim kemarau. Setiba di kolam pertama, sudah terlihat dua aliran utama Curug Arjuna dengan tebing batu cukup tinggi di sekeliling area.

 

Setelah tiba di kolam kedua, barulah keseluruhan Curug Arjuna terlihat dengan jelas. Curug Arjuna yang sumbernya langsung berasal dari aliran Sungai Ciarjuna merupakan air terjun paling kanan (bila menghadap ke air terjun). Aliran jatuhannya paling deras dan stabil. Dua aliran lainnya cukup besar, namun tidak sebesar aliran jatuhan paling kanan. Tepat dihadapan ketiga aliran air terjun tersebut terdapat tanah datar yang cukup luas.

Ketika musim hujan, ketiga aliran jatuhan akan sangat deras. Hal ini ditandai oleh adanya area tanah yang lebih lembek dan berlumpur di hamparan tanah datar di depan aliran jatuhan tersebut. Pengunjung dapat berjalan ke balik air terjun pailing tengah, karena alirannya langsung jatuh ke tanah yang cukup datar. Sedangkan aliran paling kiri, aliran jatuhannya langsung masuk ke aliran Sungai Ciarjuna. Aliran Sungai Ciarjuna stabil, dan pada musim hujan pun tidak berubah warna menjadi kecokelatan.

Setelah puas berfoto-foto, saya, Mba Dina, Rinaldi, memutuskan untuk jalan duluan menuju tempat kami memarkir motor. Teman lainnya masih ada yang mengambil foto, bahkan katanya ada rencana untuk mampir ke Curug Cibatarua. Pertimbangan kami bertiga jalan dulan hanya satu, yaitu jalan pulang yang semuanya tanjakan. Agar tidak terlalu sore keluar dari Desa Panawa hanya gara-gara menunggu saya yang trekingnya lama, lebih baik saya jalan duluan.

Satu tikungan, dua tikungan, tiga tikungan, nafas saya masih teratur. Begitu sampai di lokasi dimana kami bisa melihat Curug Cibatarua, ritme nafas mulai acak-acakan. Sambil istirahat sebentar, dua teman saya melihat ke Curug Cibatarua. Mbok dan dua teman lainnya berhasil menyusul kami disini. Ternyata air Curug Cibatarua berubah menjadi cokelat pekat. Artinya di hulu hujan deras. Semakin kami harus bergegas keluar dari Desa Panwa.

Tidak lama, kami melanjutkan perjalanan, tapi kemudian kami mendengar suara mesin motor. Ternyata ada pegawai PLTm Cikopo yang akan ke atas. Segera motor tersebut kami cegat. Akhirnya Mba Dina menumpang motor tersebut sambil membawakan tas kami. Tinggal saya, Mbok, Rinaldi, dan satu orang teman yang saya lupa namanya. Rinaldi memutuskan untuk lari sampai atas, sementara saya memutuskan untuk tetap jalan santai sambil sesekali mengatur nafas ditemani oleh Mbok.

Sempat terfikir untuk meminta tolong Rinaldi membawa kunci motor saya kemudian mengambilkan motor saya, tapi kalau boncengan pun tidak memungkinkan. Saya dan Mbok tetap jalan kaki. Begitu hampir memasuki area hutan pinus, kami berdua bertemu Hartas dan beberapa teman lainnya yang mengambil jalur tangga di samping pipa air. Kami beristirahat kembali disini.

Beberapa teman memutuskan untuk melanjutkan perjalanan melalui tangga di samping pipa. Sementara saya dan Mbok melanjutkan berjalan kaki melewati jalan aspal. Hartas dan beberapa teman lainnya masih beristirahat. Nafas sudah mulai bisa diatur, tanjakan pun sudah tidak securam sebelumnya. Seingat saya, jika sudah bertemu hutan pinus, kami sudah hampir sampai di pos penjagaan PLTm.

Tidak lama setelah kami melanjutkan perjalanan, terdengar suara mobil dari arah bawah. Ternyata mobil PLTm yang akan kembali ke atas. Mobil double cabin yang di belakangnya sudah penuh dengan teman-teman kami pun segera kami cegat. Tanpa dikomando, saya, Mbok, Hartas, dan teman lainnya langsung naik ke bak bagian belakang mobil. Lumayan menghemat waktu dan tenaga banget kalau begini. Di tengah jalan, kami bertemu beberapa teman yang mengambil jalur tangga di sebelah pipa.

Kami pun turun dari mobil setibanya di pos satpam. Sudah ada beberapa teman yang menunggu di pos satpam. Sambil menunggu teman yang masih jalan menuju pos satpam, saya mengambil dan packing ulang barang-barang bawaan saya. Setelah beristirahat dan membayar iuran seikhlasnya untuk bapak satpam, kami pun menuju Kampung Cikopo.

Kami sudah disediakan makanan oleh warga. Dana makan siang kami ini dari patungan kami per orang Rp 10.000,00 yang kemudian dibuatkan menjadi makan siang oleh warga Kampung Cikopo. Setiba di Kampung Cikopo, kami sudah ditunggu oleh warga dan kemudian dipersilahkan menumpang di salah satu rumah warga. Sajian makan siang kami kali ini rasanya luar biasa. Tenga yang hilang setelah dua jam melewati jalan makadam serta treking naik dan turun menuju Curug Arjuna tergantikan.

Setelah makan selesai, kami mengobrol sebentar dengan bapak pemilik rumah, barulah kami membagikan buku tulis dan sumbangan lainnya kepada anak-anak di Kampung Cikopo. Sementara buku-buku bacaan, kami sumbangkan ke perpustakaan SD dan diserahkan langsung pada guru di SD tersebut. Tepat pukul 16.00 WIB kami pun bersiap pulang.

Kami akan pulang melalui jalur Pakenjeng. Jalur Pakenjeng memang lebih pendek, tetapi hampir 80% jalurnya berupa jalan tanah dan turunan curam. Rasanya ga karuan kalau mendengar turunan curam. Warga pun menyarankan kami untuk mengambil jalur Pakenjeng karena lebih pendek dan cuaca pun mendukung. Jika hujan, warga lebih menyarankan kami untuk kembali ke jalur Kebun Papandayan.

Kami pun kembali menuju arah Curug Arjuna, hanya saja, kali ini setelah gerbang utama PLTm Cikopo 2, kami tidak belok kiri menuju pos penjagaan. Kami mengambil jalur ke kanan, yaitu jalan desa yang sudah disemen. Baru juga melewati persimpangan gerbang PLTm Cikopo 2, jalur sudah langsung menurun curam. Turunan pertama, kedua, ketiga saya masih bisa bawa motor sendiri.

Turunan keempat, rasanya sudah tidak sanggup. Turunan panjang dan curam ditambah ban belakang gundul dan rem belakang yang entah kenapa tiba-tiba ga pakem menjadikan saya akhirnya pindah motor. Motor saya dibawa oleh Hartas. Setelah turunan panjang dan curam, jalan langsung menanjak panjang dan kondisi jalannya pun berubah menjadi aspal rusak. Sampai disini, saya masih dibonceng oleh motor teman saya.

Hanya tersisa tiga motor, sementara motor lainnya sudah ngebut menghilang jauh di depan. Tidak jauh dari tanjakan pertama, kami bertemu tanjakan kedua. Tanjakan ini lebih panjang dan jalannya lebih jelek. Akhirnya saya pun terpaksa turun dan treking karena motor teman saya tidak kuat nanjak. Setelah beres tanjakan, saya pun kembali membawa motor lagi karena jalan di depan masih didominasi tanjakan.

Jalan yang kami lewati pun mulai memasuki hutan yang cukup lebat dan sudah tidak ada lagi rumah warga dan aktivitas warga. Setelah keluar dari hutan, jalan kembali terbuka dan ada beberapa rumah warga. Disni kami akhirnya bertemu dua teman saya yang kebetulan boncengan. Tidak pakai basa-basi lagi, saya langsung meminta tolong teman saya untuk membawakan motor saya, setidaknya sampai masuk di Pakenjeng. Feeling saya, sepertinya jalur di depan jauh lebih sulit.

Benar saja, tidak jauh dari tempat saya tukar motor, jalan langsung menurun curam. Kondisi kali ini sudah bukan aspal rusak lagi, tapi jalan tanah sempit dan hampir sebagiannya tertutup ilalang. Makin lama, turunan semakin curam dan panjang. Kondisi jalan pun semakin parah. Ditambah, jalur kami kembali memasuki hutan yang jauh lebih lebat dibanding sebelumnya.

Semakin masuk ke dalam hutan, jalan semakin kecil dan turunannya semakin sadis. Jalan hanya berupa jalur setapak tanah hasil dari pemadatan longsoran dari tebing di sisi kiri, sementara di sisi kanan kami jurang sangat dalam siap menyambut. Batuan-batuan lepas pun cukup banyak berserakan di jalur ini. Bahkan akar pohon pun ikut memeriahkan jalur di tengah hutan ini. Benar saja, kalau hujan, kemungkinan longsor dan lumpur tebal adalah medan yang harus kami lewati.

 

Kami bertemu dengan rombongan lainnya. Ada satu motor teman kami yang tidak mau nyala. Kali ini, kami semua berhenti, tidak ada yang jalan duluan. Motor teman kami kembali nyala dan perjalanan pun dilanjutkan. Tidak jauh dari tempat kami berhenti, ada sebuah turuan yang benar-benar curam.

Sisi kiri hampir semuanya tertutup timbunan material longsor, sementara jalur yang dilewati berupa tanah yang sedikit licin dan ada batu yang menancap di jalur. Turunan pun sedikit menikung ke kanan, jadi, salah perhitungan bisa-bisa menabrak batu di kiri atau jatuh ke jurang di sisi kanan.

Saya dan Hartas yang kebetulan menjadi boncengers memutuskan untuk jalan kaki saja di turunan ini. Tidak disangka, ternyata jalan kaki pun sangat sulit. Salah langkah dan tidak bisa mengerem, bisa-bisa kami jatuh. Setelah semua berhasil melewati turunan, saya dan Hartas kembali naik ke motor. Tidak jauh dari turunan curam pertama, kami kembali berhenti karena ada beberapa motor yang remnya tidak berfungsi baik. Kami pun berhenti sejenak. Setelah semua beres, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

 

Ternyata masih ada satu turunan lagi yang cukup ekstrim. Turunan panjang dan hampir membentuk “U” dengan jurang di kanan serta batu-batu yang timbul di jalur harus kami lewati. Setelah turunan, jalan akan langsung menanjak panjang dan curam dengan kondisi jalan tanah dan batu. Di tanjakan ini pun saya kembali turun. Seteah trek barusan, medan jalan mulai bersahabat. Jalur pun sudah mulai menunjukan akan keluar dari hutan. Kabut yang mulai turun selama trek di dalam hutan pun perlahan menghilang.

Kami pun akhirnya bertemu rumah pertama. Jalur yang kami lewati akhirnya benar-benar keluar dari hutan. Kondisi jalan kembali sedikit mulus. Jalur tanah berbatuan lepas berganti jalur semen. Turunan masih sama curamnya, tapi setidaknya sudah bukan jalan tanah lagi. Jalur yang kami lewati berakhir di persimpangan dengan jalur menuju Curug Sanghyang Taraje. Kami sudah tiba di Kecamatan Pakenjeng. Lega rasanya bisa sampai di Pakenjeng sebelum Magrib.

Setelah persimpangan dengan jalan menuju Curug Sanghyang Taraje, jalanan menjadi aspal mulus. Jalur berkelok, tanjakan dan turunan memang masih mendominasi, tetapi setidaknya sudah jauh lebih enak dibandingkan jalur hutan. Motor mulai terpisah-pisah lagi. Kali ini hanya motor teman saya, di belakang jarak motor cukup jauh. Kami sampai bertanya pada warga jalan mana yang diambil oleh rombongan motor didepan, karena setidaknya ada dua persimpangan di jalur aspal ini.

Cuaca cukup bersahabat. Langit memang mendung, tetapi kabut sudah sepenuhnya hilang, tepatnya sudah naik lagi ke puncak bukit yang sebelumnya kami lalui. Hamparan terasering sawah di kanan dan kiri kami serta jejeran perbukitan dan Sungai Cikandang di dasar bukit menjadi pemandangan sehabis melahap trek hutan abal-abal. Sayangnya, ketika sedang asik riding, tiba-tiba di satu tikungan sekaligus tanjakan ada mobil Kijang berwarna merah yang cukup kencang dari arah berlawanan.

Hampir saja motor kami tertabrak kijang merah sruntulan tersebut. Untungnya teman saya yang bawa motor cukup cekatan. Jalu ini memang aspal mulus dengan pemandangan yang bisa memanjakan mata, tetapi kita harus berhati-hati karena jalurnya sangat sempit. Meskipun kami tidak salah, tetap saja pengendara kijang merah sruntulan tersebut memaki-maki teman saya yang bawa motor. Setelah dipikir-pikir, rasanya, kami sudah jalan mepet di kiri, masa iya sih hampir tertabeak juga?

Kami tidak ladeni dan kembali melanjutkan jalan sambil menertawakan kebodohan supir kijang sruntulan tadi. Ya, sudah tau jalananya curam dan sempit dan di tikungan, masih juga ngebut. Tidak lama, kami bertemu teman lainnya. Ternyata salah satu teman kami di rombongan depan pun hampir tertabrak oleh kijang merah tadi. Padahal, teman kami itu sudah jalan mepet di pinggir dan pelan-pelan serta papasannya bukan pas di tikungan seperti kejadian saya tadi.

 

Kami menunggu motor Hartas, Mbok, dan satu teman lagi. Untunglah tidak terlalu lama, karena waktu sudah menunjukan pukul lima lebih. Kami pun langsung tancap gas menuju jalan utama. Jalur melewati kebun Papandayan kurang lebih 29, 2 Km berdasarkan rekaman jalur di ponsel, dimulai dari wilayah Kopassus sampai Gapura Desa Panawa. Sementara jalur Pakenjeng kurang lebih 16,8 Km dimulai dari Gapura Desa Panawa hingga tidak jauh setelah melewati gerbang kebun Papandayan.

Tepat Magrib kami tiba di persimpangan Papanggungan, kami berhenti lagi. Kali ini, kami akan pisah rombongan. Saya dan Mbok memutuskan untuk langsung pulang ke Bandung melewati jalur Kamojang, sementara rombongan lainnya akan mampir dulu ke tempat Hartas. Ternyata ada dua orang teman dari Ciparay yang juga memutuskan pulang duluan. Akhirnya kami berempat berpisah duluan dengan rombongan.

Kami mampir dulu di SPBU Cisurupan. Ternyata rombongan lain pun mengisi bensin dulu, jadi kami bertemu lagi. Salah satu teman dari Ciparay menawarkan untuk membawakan motor saya agar lebih cepat sampai. Maklum, kalau sudah malam ditambah jalannya ramai, apalagi sudah cape seharian di motor, kadang kecepatan saya bawa motor menurun drastis. Bahkan cenderung malas menyalip kendaraan lain dalam kondisi macet.

 

Ternyata benar saja, waktu tempuh menjadi lebih cepat. Sekitar pukul 18.30 WIB, kami bertiga sudah sampai di persimpangan jalur Samarang – Kamojang. Disinilah kerempongan terjadi. Mbok tidak ada. Saya pikir Mbok jalan duluan karena kami tadi sempat mampir di SPBU dan Mbok tidak ada. Tapi feeling saya, Mbok masih di belakang. Akhirnya kami memutuskan menunggu Mbok sampai pukul 19.00 WIB biar tidak kemalaman masuk Majalaya.

Ponsel Mbok tidak aktif karena habis baterai. Saya pun berhasil menghubungi Hartas, dan katanya Mbok tidak bareng mereka. Nah loh, kalau sudah begini jadi bingung sendiri. Berhubung nantinya saya akan mengambil jalur Sapan, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Motor seperti dipacu lebih cepat, bahkan kami sudah sampai di Majalaya tiga puluh menit kemudian.

Kondisi rem belakang making ga karuan, ditambah badan yang juga mulai terasa pegal, mata panas, dan kepala rasanya berat. Setiba di Majalaya, masih belum ada kabar Mbok. Dua teman saya memberi pilihan untuk tetap ambil jalur Sapan karena masih pukul 19.30 WIB, jalurnya masih ramai. Entah kenapa, saya malah ragu dan feeling tidak enak. Akhirnya saya putuskan untuk lewat Baleendah.

 

Jalur Baleendah memang jauh memutar, tapi setidaknya saya di jalan utama. Tadinya saya meminta antar sampai di Simpang, tapi sepertinya dua teman saya keberatan karena jadi bolak-balik. Akhirnya saya jalan sendiri dari Ciparay. Kondisi jalan cukup ramai tapi tidak sampai macet, hanya saja memang harus banyak-banyak mengerem.

Dan inilah yang paling menghambat perjalanan pulang saya, rem belakang bermasalah. Entah habis, entah kepanasan, entah kenapa juga, yang pasti sudah diinjak habis pun motor tidak bisa berhenti. Persis seperti kejadian kanvas rem belakang habis ketika ke Curug Dadali April 2017 lalu. Kalau sudah begini ya hanya bisa sabar sampai rumah. Mau mampir ke bengkel pun rasanya sudah malas. Perjalanan pulang hanya mengandalkan rem depan dengan kecepatan tidak lebih dari 20 Km/Jam di jalan yang tidak terlalu familiar untuk saya.

Kesal campur sedih itulah yang saya rasakan selama perjalanan Ciparay – Baleendah. Entah kenapa, rasanya capek sekali dan kenapa juga bisa sampai kepisah sama Mbok. Kenapa juga saya ga sering-sering ngecek motor Mbok, padahal saya dibonceng. Ah, sudahlah, efek saya terlalu cape, konsentrasi menurun drastis. Rasa kesal semakin menjadi ketika sampai di jembatan Citarum kedua, mobil berhenti alias macet panjang.

Dengan kecepatan jalan 10 Km/Jam dan rem belakang yang benar-benar ga berfungsi, Bojongsoang – rumah lamanya sama seperti perjalanan dari Cikandang menuju Desa Panawa, ditambah lagi lalu lintas Kota Bandung di hari kerja yang menuntut kesabaran lebih. Sekitar pukul 20.30 WIB akhirnya saya sampai di rumah, dan setelah dicek, ternyata rem belakang hanya longgar bautnya saja. Setelah dikencangkan, berfungsi seperti biasa. Sekitar pukul 22.00 WIB, Mbok mengirim pesan dan ternyata memang tertinggal jauh sedari Cisurupan sebelum berhenti di SPBU.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 8, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

NUSANTARIDE NYASAR BARENG 2017

 

ANTARA GPS CHALLENGE dan NYASAR BARENG

Nusantaride Nyasar Bareng 2017 merupakan salah satu acara yang rutin digelar oleh sebuah forum bernama Nusantaride. Nyasar Bareng merupakan perubahan nama dari nama acara tahunan Nusantaride yang sebelumnya bernama GPS Challenge. Perubahan nama ini dimaksudkan agar lebih ‘familiar’ tanpa merubah inti tata cara pelaksanaan acara tersebut.

Nusantaride Nyasar Bareng 2017 memiliki hastag #NNB2017 dengan tujuan memudahkan penyebaran informasi seputar acara. Acara Nyasar Bareng tahun 2017 dilaksanakan di empat wilayah di Pulau Jawa, yaitu Jabodetabek, Jawa Barat, Semarang & DIY, serta Jawa Timur ikut memeriahkan gelaran tahunan ini.

JABODETABEK (6°42’43.3″S 106°36’03.8″E)

Penyelenggaraan Nyasar Bareng oleh teman-teman Jabodetabek merupakan yang pertama kalinya diadakan. Lokasi acara Nyasar Bareng wilayah Jabodetabek berada di Bukit Bakukung. Bukit Bakukung secara administratif berada di Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Jumlah peserta Nyasar Bareng Jabodetabek adalah 55 peserta. Peserta terjauh berasal dari Cibitung. Patokan menuju lokasi acara adalah kawasan Kebun Teh Cianten. Kondisi jalan di dalam area Kebun Teh Cianten hingga Bukit Bakukung cukup beragam. Mulai dari jalan dengan beton mulus, jalan yang masih dalam proses pembetonan dan jalan batu + tanah khas perkebunan.

Patokan berikutnya yaitu gapura bertuliskan ‘Bukit Bakukung’ yang menjadi penanda venue acara sudah dekat. Kondisi jalan dari gapura hingga venue masih merupakan jalan tanah dan batu khas perkebunan dengan medan sedikit menanjak. Kondisi jalan akan cukup sulit jika turun hujan. Hanya satu provider telepon selular yang masih dapat digunakan di sekitar lokasi acara.

Peserta acara Nyasar Bareng wilayah Jabodetabek dikenakan biaya sebesar Rp 25.000,00 untuk tiket masuk. Fasilitas yang tersedia di lokasi acara hanya MCK, lokasi untuk mendirikan tenda dan deretan pohon pinus untuk lokasi hammock. Tidak ada warung di sekitar lokasi. Warung terdekat berada di permukiman warga yang berada di luar venue acara.

Informasi mengenai lokasi Bukit/Pasir Bakukung saat ini memang masih sedikit. Objek wisata ini baru dibuka dan dikelola oleh warga setempat kurang lebih lima bulan terakhir. Informasi lainnya mengenai Pasir/Bukit Bakukung dapat dilihat pada link berikut:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=855513967930833&id=460889207393313&_rdr

 

Sumber Foto Nyasar Bareng Jabodetabek merupakan dokumentasi pribadi milik akun FB dibawah ini:

Ade Adrian Ghazalie

Bagus Prayudha Beat Kami

Erlando Arthama

Gabriel Gery Saka

Ma’mun Asgar

Mohamad Daut Yusuf

JAWA BARAT (7°09’42.0″S 108°22’11.3″E)

Lokasi Nyasar Bareng wilayah Jawa Barat merupakan lokasi alternatif dari lokasi yang sebelumnya direncanakan. Lokasi awal kegiatan Nyasar Bareng Jawa Barat direncanakan di Pantai Minajaya, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Penggantian lokasi disebabkan faktor cuaca dan kondisi di sekitar jalur menuju lokasi yang tidak memungkinkan. Untuk mengurangi resiko terhambatnya acara, maka H-2 dilakukan pemindahan lokasi. Lokasi terpilih Situ Wangi berjarak lebih dari tiga ratus kilometer dari lokasi awal yaitu Pantai Minajaya tidak menyurutkan semangat teman-teman Jawa Barat untuk berpartisipasi dalam acara Nyasar Bareng kali ini.

Peserta acara Nyasar Bareng Jawa Barat diikuti oleh 32 peserta dengan peserta terjauh berasal dari Jakarta sebanyak dua orang. Seluruh peserta Nyasar Bareng Jawa Barat dikenakan biaya Rp 10.000,00 dan diharapkan membawa bulu tulis minimal lima buku. Buku tulis yang dibawa peserta akan disumbangkan ke sekolah atau ke anak-anak di sekitar lokasi.

Lokasi Situ Wangi secara administratif berada di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kondisi jalan menuju lokasi acara sudah merupakan jalan aspal. Fasilitas di sekitar lokasi acara cukup lengkap. Area kemping, Masjid, MCK, warung, bahkan lokasi acara pun sangat dekat dengan rumah warga. Situ Wangi merupakan objek wisata yang berada di atas tanah Pemkab Ciamis yang dikelola oleh warga sekitar. Pembenahan di sekitar area wisata Situ Wangi masih terus dilakukan.

Lokasi Nyasar Bareng Jawa Barat merupakan lokasi yang cukup mudah dijangkau dengan fasilitas lengkap, bahkan sinyal telepon seluler yang cukup bersahabat, namun masih terbilang sepi dari ramainya pengunjung wisata. Patokan pertama menuju lokasi adalah Situ Lengkong di Panjalu. Terus ikuti jalan raya utama menuju patokan kedua, yaitu persimpangan Lumbung – Kawali. Pada perismpangan ini ambil arah menuju Desa Winduraja.

Informasi lengkap mengenai objek wisata Situ Wangi dapat dilihat pada link berikut ini:

http://dyaiganov.com/situ-wangi/

 

 

Sumber Foto Nyasar Bareng Jawa Barat merupakan dokumentasi pribadi milik akun FB dibawah ini:

Dya Iganov

Rama Bergawa

Salum

Teguh Kusumah Akbar

Yudi Agaustiar

JAWA TENGAH & D.I. YOGYAKARTA (7°54’21.1″S 111°12’32.7″E)

Lokasi Nyasar Bareng Jawa Tengah dan Yogyakarta merupakan lokasi rintisan yang baru dua kali digunakan sebagai area camping ground. Lokasi yang oleh perangkat desa setempat dinamai Bukit Gombong ini secara administratif berada di Desa Ngroto, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Lokasi ini juga dikenal dengan nama Bukit Jeprix (sesuai informasi pada Google Maps). Lokasi ini masih dikelola oleh warga setempat.

Peserta Nyasar Bareng Jawa Tengah dan Yogyakarta kali ini berjumlah 52 orang dan peserta terjauh berasal dari Kebumen sebanyak satu orang. Peserta Nyasar Bareng Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak dikenakan HTM hanya berupa iuran spontan untuk warga sekitar sebesar Rp 10.000,00/orang.

Lokasi Nyasar Bareng Jawa Tengah & Yogyakarta belum memiliki fasilitas apapun, karena masih lokasi rintisan, bahkan camping ground sekalipun. Akses menuju lokasi acara sudah berupa jalan aspal hingga ke venue acara.

Venue acara merupakan area terbuka di perbukitan dan belum dikelola. Tidak ada MCK di lokasi. Warung terdekat berada di permukiman warga yang berjarak 500 m dari venue. Mck selama acara berlangsung menumpang di rumah warga. Sinyal telepon seluler di area acara Nyasar Bareng Jawa Tengah & Yogyakarta hanya tersedia satu provider dengan sinyal sangat terbatas dan tidak bisa untuk akses internet.

Patokan pertama menuju lokasi acara adalah Pasar Purwantoro dan Terminal Bus Purwantoro. Tidak jauh dari Pasar Purwantoro akan ditemui persimpangan tepat di samping Terminal Bus Purwantoro. Ambil jalan menuju Desa Ngroto. Patokan kedua yaitu SMP 3 Kismantoro. Jalan menuju lokasi acara dapat ditanyakan pada warga setelah tiba di sekitar SMP 3 Kismantoro.

Hingga saat ini masih belum ada informasi lebih lengkap mengenai lokasi Nyasar Bareng Jawa Tengah & Yogyakarta dan hanya berupa link foto seperti di bawah ini:

http://www.panoramio.com/photo/109653991

Sumber Foto Nyasar Bareng Jawa Tengah & Yogyakarta merupakan dokumentasi pribadi milik akun FB dibawah ini:

Noveri Tahalea Ambon

Andi Frastiyo

Fachrizal Razaq

Amir Fatiro

Siroo Zaq

Thomas Yulianto

JAWA TIMUR (7°40’22.6″S 112°23’28.0″E)

Lokasi Nyasar Bareng Jawa Timur berada di Bumi Perkemahan Dan Agrowisata Pd.Perkebunan Panglungan. Bumi Perkemahan Panglungan secara adminsitratif berada di Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Lokasi Nyasar Bareng Jawa Timur berada di lahan milik Perhutani.

Jumlah peserta Nyasar Bareng Jawa Timur adalah sebanyak 45 orang dengan peserta terjauh berasal dari Solo sebanyak satu orang. Khusus untuk Nyasar Bareng Jawa Timur, biaya untuk venue lokasi adalah sebesar Rp 300.000,00.

Patokan pertama menuju lokasi acara adalah persimpangan di dekat SDN Sumengko di Kecamatan Jatirejo. Ambil arah menuju Jalan Jatirejo – Jabung. Patokan kedua yaitu Segolo-golo Eco Park. Tepat sebelum Segolo – golo Eco Park, ambil jalan ke arah Barat menuju Bumi Perkemahan Panglungan.

Akses menuju lokasi Bumi Perkemahan sudah merupakan aspal mulus. Hanya saja dari Bumi Perkemahan menuju venue acara belum ada akses jalan yang memadai, sehingga peserta harus sedikit ber-offroad hingga tiba di venue. Bumi Perkemahan Panglungan sudah memiliki fasilitas lengkap, mulai dari listrik, MCK, aula & musola yang dapat dimanfaatkan oleh peserta Nyasar Bareng Jawa Timur selama acara berlangsung.

Selain fasilitas umum, terdapat juga sirkuit khusus untuk trail dan danau yang dapat ditempuh dengan sedikit berjalan kaki dari venue acara. Warung berada di permukiman warga yang jaraknya tidak jauh dari lokasi acara. Sinyal telepon seluler di lokasi acara hanya dapat dijangkau satu provider.

Informasi lebih lengkap mengenai Bumi Perkemahan Panglungan dapat dilihat pada link berikut:

https://opencorpdata.com/place/ChIJqYB-rplveC4RptbBu6iDWGA

https://www.slideshare.net/henryn9/presentation2-38813580

Sumber Foto Nyasar Bareng Jawa Timur merupakan dokumentasi pribadi milik akun FB dibawah ini:

Mardha Octa Sila Sakti

Bibud

Aldino Widhy Anggriawan

Adityo Ari Anggoro

Ero Kristianto

SEPUTAR NYASAR BARENG 2017

Pelaksanaan kegiatan Nyasar Bareng 2017 masih sama dengan kegiatan serupa di tahun-tahun sebelumnya. Koordinat lokasi baru diumumkan H-2 dan hanya berupa koordinat. Peserta bebas memilih rute mana yang akan diambil. Peserta juga bebas datang kapan saja bahkan hanya sekedar hadir dan tidak ikut kemping pun dipersilahkan. Provider di lokasi acara pun hanya satu yang stabil. Acara Nyasar Bareng kali ini pun disponsori oleh Contin dan Nestro.

Antara Nyasar Bareng dan Dahlia

Penyelenggaraan acara Nyasar Bareng 2017 kali ini bertepatan dengan musim hujan. Bahkan, seminggu hingga dua hari acara dilaksanakan beberapa wilayah di Indonesia terkena musibah. Banjir, longsor, puting beliung melanda beberapa wilayah di Indonesia. Tepat dua hari menjelang acara, bahkan terjadi Siklon Tropis Dahlia yang berdampak pada pemindahan lokasi acara Jawa Barat.

Sehari sebelum acara, tinggi gelombang di pesisir Selatan Jawa Barat mencapai batas ketinggian normal, bahkan sampai menimbulkan ROB. Cuaca di Jawa Tengah dan sekitarnya satu hingga dua hari menjelang acara pun masih diwarnai hujan lebat dan longsor. Sabtu tanggal 2 Desember 2017 sekaligus tanggal acara pelaksanaan Nyasar Bareng 2017, berdasarkan informasi dari teman-teman di masing-masing wilayah, cuaca selama acara berlangsung sangat mendukung. Hanya lokasi Jawa Tengah saja yang berangin cukup kencang.

Antara Nyasar Bareng dan Long Weekend

Tanggal pelaksanaan Nyasar Bareng kali ini berbarengan dengan libur panjang. Tidak sedikit teman-teman yang memanfaatkan moment ini untuk mengeksplore lokasi-lokasi wisata di sepanjang jalur ataupun di sekitar lokasi acara. Bahkan, ada yang tiba di lokasi acara paling duluan, ada yang sehari sebelumnya kemping di lokasi lain. Ada juga yang baru mengeksplore sepulang dari kegiatan Nyasar Bareng.

Keseruan lainnya, tidak bukan adalah tidak jarang peserta yang benar-benar kesasar menuju lokasi acara. Hambatan di masing-masing lokasi acara pun berbeda-beda. Ada yang terhambat karena sinyal, jalur yang cukup sulit karena berbatu dan tanah, ada yang motornya bermasalah, ada juga yang jatuh sakit ketika acara berlangsung. Semoga semua kejadian selama Nyasar Bareng 2017 ini bisa menjadi bekal cerita yang berkesan bagi teman-teman semua.

Bagi teman-teman yang keitnggalan info mengenai Nyasar Bareng 2017 dapat cek melalui hastag #NNB2017 ataupun di akun Instagram Nusantaride.id. Sampai bertemu di acara Nusantaride Nyasar Bareng 2018.

 
Leave a comment

Posted by on December 4, 2017 in DANAU, Travelling

 

CURUG WEDUS/GEDUS

Secara administratif, Curug Wedus berada di Dusun Bubuay, Desa Sepatnunggal, Kecamatan Sodong Hilir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°32’31.9″S 108°04’23.1″E. Aliran Curug Wedus berasal dari aliran Sungai Cisodong. Curug Wedus memiliki lebar kurang lebih 50 m dan tinggi 10 m. Curug Wedus sudah merupakan salah satu objek wisata yang mulai berkembang. Pengelolaannya saat ini masih oleh warga setempat.

Secara keseluruhan, akses menuju Curug Wedus sudah baik dan tidak terlalu sulit untuk dicari. Berikut beberapa uraian mengenai akses menuju Curug Wedus.

TASIKMALAYA – CIBALONG – CURUG WEDUS

Arahakan kendaran menuju Kecamatan Karangnunggal. Kondisi jalan sudah cukup baik dan merupakan jalan utama penghubung Kota Tasikmalaya – Cipatujah. Patokan pertama yaitu pertigaan menuju jalan menuju Pamijahan. Persimpangan tersebut berada di Kecamatan Cibalong dan terletak pada koordinat -7.513961, 108.181034. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju gapura kawasan objek wisata religi Pamijahan.

Kondisi jalan dari Kecamatan Cibalong hingga memasuki Kecamatan Bantarkalong sudah sangat baik, namun medan yang dilalui akan melewati perbukitan. Jalan akan terus menjak hingga memasuki Kecamatan Parungponteng. Ikuti jalan utama hingga bertemu persimpangan pada koordinat -7.509947, 108.089190 di Desa Karyabakti, Kecamatan Parungponteng. Ambil kiri pada persimpangan ini.

Ikut terus jalan utama dengn kondisi baik hingga bertemu kembali persimpangan pada koordinat -7.521505, 108.074437 yang sudah berada di Desa Sepatnunggal, Kecamatan Sodong Hilir. Ambil kiri pada persimpangan ini. Kondisi jalan akan semakin kecil dengan aspal yang sudah mengelupas. Jalan akan berada di sisi aliran Sungai Cisodong. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di area parkir menuju Curug Wedus. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 45,3 Km dalam waktu kurang lebi 1 jam 36 menit.

GARUT – SALAWU – CURUG WEDUS

Arahkan kendaraan menuju Kecamatan Cilawu. Setiba di Kecamatan Cilawu, ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmlaya. Patokan pertama yaitu SPBU Salwu. Setelah SPBU Salawu akan ditemui persimpangan Warungpeuteuy pada koordinat -7.376926, 108.050451. Ambil kanan pada persimpangan ini. Ikuti terus jalan raya utama melewati Kecamatan Puspahiang kemudian Kecamatan Taraju.

Memasuki Desa Deudeul, Kecamatan Taraju, tepatnya di ruas Jalan Gunung Walanda – Taraju akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.433749, 108.029780. Ambil arah kiri, menuju jalan yang menurun pada persimpangan ini. Ikuti terus jalan raya utama hingga tiba di patokan berikutnya, yaitu Alun-Alun Kecamatan Sodong Hilir. Alun-alun Kecamatan Sodong Hilir berada pada koordinat -7.488719, 108.052863. Ambil kanan di Alun-alun Sodong Hilir.

Tidak terlalu jauh dari belokan pertama, akan ditemui pertigaan pada koordinat -7.488966, 108.052142. Ambil kiri pada pertigaan ini menuju Desa Sepatnunggal. Pertigaan ini merupakan pertigaan pertama bila datang dari arah Utara ataupun Timur. Ikuti terus jalan utama hingga memasuki Desa Sepatnunggal. Kondisi jalan dari persimpangan Warungpeuteuy hingga Kecamatan Puspahiang akan cukup buruk. Akan banyak ditemui lubang cukup dalam dan jalan amblas hingga memasuki Kecamatan Puspahiang.

Kondisi jalan dari Kecamatan Puspahiang hingga Desa Deudeul sudah cukup baik. Jalan sudah dalam kondisi aspal, hanya saja ada beberapa titik jalan amblas. Kondisi jalan dari persimpangan di Desa Deudeul hingga Alun-Alun Kecamatan Sodong Hilir sudah baik. Hanya saja tanjakan dan turunannya cukup panjang dan jarak antar tikungannya cukup pendek. Kondisi jalan dari Alun-Alun Kecamatan Sodong Hilir hingga memasuki Desa Sepatnunggal akan cukup buruk. Jalur makadam dengan medan yang menurun terus akan dijumpai seanjang perjalanan.

Tepat ketika akan memasuki Desa Sepatnunggal, jalan akan masuk ke area perkebunan. Disini, kondisi jalan akan sangat gelap dan sepi karena tidak ada penerangan jalan dan tidak ada permukiman warga. Jalan akan berujung pada percabangan pada koordinat -7.513850, 108.070562 di Desa Sepatnunggal.

Ambil kiri pada percabangan jalan ini. Tidak jauh dari percabangan sebelumnya, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.513921, 108.071123. Ambil kanan pada persimpangan ini. Persimpangan kedua merupakan pertemuan dengan jalur dari arah Kecamatan Cibalong melalui Kecamatan Parungponteng dan Kecamatan Bantarkalong. Ikuti jalan utama hingga tiba di area parkir Curug Wedus. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 59,6 Km dalam waktu kurang lebih 2 jam 26 menit.

Perjalanan dari area parkir Curug Wedus hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu tempuh normal dari parkiran hingga area Curug Wedus kurang lebih 15 menit dengan jarak 200 m. Jalur treking akan melewati pematang sawah dan aliran Sungai Cisodong. Akan ditemui jembatan gantung yang kondisinya sudah tidak layak guna, namun masih bisa dijadikan sebagai lokasi untuk mengambil foto. Aliran Sungai Cisodong sudah pernah dibendung, namun kondisinya sudah tidak baik. Terbukti dengan adanya bekas reruntuhan dan longsoran pada bagian atas Curug Wedus.

Area di sekitar Curug Wedus sudah ditata dan sudah banyak warung. Disediakan pula pelampung, ban, ruangan ganti, dan sudah ada kursi-kursi yang terbuat dari bambu di area sekitar Curug Wedus. Aliran Curug Wedus sebelah kanan (bila menghadap air terjun) biasanya banyak digunakan oleh pengunjung sebagai lokasi berenang. Sisi kiri Curug Wedus (bila menghadap air terjun) lebih banyak digunakan pengunjung sebagai lokasi untuk bermain air saja. Hal ini dikarenakan aliran Curug Wedus di sisi kanan memiliki kolam cukup luas dan dalam, serta terpisah dari sistem sungai.

Secara keseluruhan, Curug Wedus memiliki klasifikasi dominan Block & Paralel Waterfall. Klasifikasi ini muncul karena lebarnya aliran Sungai Cisodong yang jatuh menjadi Curug Wedus serta adanya runtuhan bendungan yang memisahkan aliran jatuah Curug Wedus dimulai dari tepi tebing. Masing-masing aliran jatuhan Curug Wedus yang terbagi ini (sisi kanan dan kiri) sama-sama memiliki aliran jatuhan yang lebar.

Aliran jatuhan Curug Wedus sisi kanan (bila menghadap air terjun) memiliki klasifikasi dominan Block Waterfall. Pada musim hujan akan muncul klasifiaksi Cataract Waterfall. Sedangkan pada musim kemarau, akan muncul klasifikasi Paralel & Horsetail dan Tiered Waterfall. Aliran jatuhan Curug Wedus sisi kiri (bila menghadap air terjun) memiliki klasifikasi dominan Block & Multi Step Waterfall. Pada musim hujan akan muncul klasifikasi Cataract Waterfall sedangkan pada musim kemarau akan mucuk klasifikasi Paralel & Horsetail Waterfall.

Pada aliran jatuhan sisi kiri Curug Wedus (bila menghadap air terjun) bagian paling ujungnya akan membentuk beberapa tingkatan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Bentukan ini memunculkan klasifikasi Multi Step Waterfall. Bagian inilah yang dijadikan jalur oleh pengunjung untuk menuruni air terjun. Apabila dari area parkir, pengunjung akan tiba di bagian atas Curug Wedus, sehingga untuk sampai di area Curug Wedus harus dengan cara menuruni dinding air terjun. Meskipun tidak terlalu curam, tetapi pengunjung harus tetap berhati-hati, terutama jika musim hujan.

Sebenarnya terdapat satu akses lagi menuju area Curug Wedus, yaitu tepat setelah bekas bendungan pertama, sebrangi aliran Sungai Cisodong menuju aliran irigasi. Ikuti aliran irigasi hingga ke jalan setapak kecil menuju area Curug Wedus. Jalan setapak akan muncul tepat di belakang warung-warung di area Curug Wedus. Aliran irigasi ini memiliki posisi yang menggantung di tebing. Jarak dari saluran irigasi hingga ke dasar jurang yang merupakan aliran Sungai Cisodong cukup tinggi. Sangat disarankan untuk berhati-hati jika memilih jalur melewati saluran irigasi.

Curug Wedus merupakan air terjun semi permanen, artinya pada musim kemarau, alirannya tidak akan kering total. Aliran Curug Wedus pada musim kemarau akan mengalami penurunan debit yang cukup besar, namun tidak sampai kering total. Berdasarkan informasi dari warga yang menjaga area Curug Wedus, tidak disarankan berada di areal Curug Wedus dari selepas Magrib. Sebelum Magrib, seluruh pengunjung sudah harus meninggalkan area Curug Wedus.

Artikel lainnya mengenai Curug Wedus, dapat dilihat pada link berikut ini:

http://ngabolangngabolang.blogspot.co.id/2015/06/curug-gedus-tasikmalaya.html

http://hayutravelling.blogspot.co.id/2016/01/ekspedisi-curug-gedus-di-sodonghilir.html

http://jalanjalancurug.blogspot.co.id/2016/03/jalan-jalan-ke-curug-di-kabupaten_12.html

 
Leave a comment

Posted by on October 19, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

CURUG EPOT

Curug Epot berada di Kampung Cipicung, Desa Luyubakti, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dan berada pada koordinat -7.446289, 108.091355. Terdapat penamaan lain selain Curug Epot untuk air terjun ini, yaitu Curug Luhur dan Curug Cikuya, namun, yang lebih dulu populer adalah nama Curug Epot. Berdasarkan keterangan beberapa warga setempat, Epot merupakan nama orang yang dituakan di kampung tersebut dan yang selalu membersihkan area di sekitar air terjun.

Secara keseluruhan, akses menuju Curug Epot sudah cukup mudah. Berikut beberapa ulasan jalur menuju Curug Epot.

TASIKMALAYA – PUSPAHIANG – CURUG EPOT

Arahkan kendaraan menuju Singaparna. Setelah tiba di Singaparna, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Salawu. Patokan pertama yaitu pertigaan Warungpeuteuy yang berada pada koordinat -7.376965, 108.050397. Ambil kiri pada persimpangan ini. Kondisi jalan dari Kota Tasikmalaya hingga pertigaan Warungpeuteuy sudah sangat baik dengan arus lalu-lintas yang cukup ramai.

Setelah memasuki jalur Salawu – Puspahiang, jalan akan sedikit mengecil dan kondisinya akan mulai rusak. Banyak lubang besar dan lubang kecil namun cukup dalam di sepanjang jalur hingga memasuki Kecamatan Puspahiang. Bila malam hari, jalur ini akan sangat gelap karena tidak ada penerangan jalan. Kendaraan yang melintas jika malam hari akan didominasi oleh truk pengangkut pasir, kayu dan bambu. Pada pagi hingga sore hari lebih didominasi oleh sepeda motor, ELF, dan terkadang truk pengangkut pasir.

Patokan berikutnya yaitu alun-alun Kecamatan Puspahiang. Setelah melewati alun-alun, akan terdapat persimpangan tepat ketika jalan raya utama menikung ke arah kanan. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.422370, 108.051151. Ambil jalur kiri pada persimpangan ini dan keluar dari jalur utama Puspahiang – Taraju. Selanjutnya, ikuti jalan desa.

Kondisi jalan akan semakin mengecil lagi, namun kondisinya tetap baik. Medan yang dilalui akan berupa turunan hingga tiba di dasar bukit. Jalan kemudian akan kembali menanjak dan memasuki wilayah Desa Luyubakti. Akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.431651, 108.084985, ambil arah kanan di persimpangan ini. Berikutnya akan ditemui persimpangan kedua pada koordinat -7.434842, 108.087946, ambil kanan di persimpangan ini.

Jalur akan menurun terus hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.438119, 108.087742, ambil jalan paling kiri. Kondisi jalan akan berubah menjadi makadam dengan medan turunan. Ikuti jalan hingga bertemu jembatan. Parkirkan kendaraan di sekitar jembatan atau titipkan di rumah warga. Perjalanan berikutnya hanya akan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jarak dan waktu tempuh yang tertera pada peta yaitu 36,2 Km dalam waktu kurang lebih 1 jam 29 menit.

GARUT – PUSPAHIANG – CURUG EPOT.

Arahkan kendaraan menuju Kecamatan Cilawu. Ikuti jalur Cilawu – Salawu yang juga merupakan jalur penghubung antara Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya. Kondisi jalan sepanjang Cilawu hingga Salawu akan berkelok-kelok dan rawan longsor di musim hujan. Pada malam hari, arus lalu-lintas akan sangat gelap dan sepi, namun pagi hingga sore hari arus lalu-lintas akan cukup ramai.

Patokan pertama yaitu SPBU Salawu. Tidak jauh dari SPBU Salawu akan ditemui persimpangan Warungpeuteuy yang terletak di koordinat -7.376965, 108.050397. Ambil kanan pada persimpangan ini. Jalur berikutnya yaitu jalur yang sama dengan jalur dari arah Kota Tasikmalaya. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 43,9 Km dalam waktu kurang lebih 1 jam 30 menit.

KAMPUNG CIPICUNG – CURUG EPOT

Perjalanan dari Kampung Cipicung menuju Curug Epot hanya dapat diteruskan dengan berjalan kaki. Jalur treking cukup membingungkan karena akan ditemui beberapa persimpangan di pematang sawah dan kebun warga. Jika ragu, disarankan bertanya atau meminta antar penduduk setempat. Jalur treking akan melewati kebun dan pematang sawah hingga di lokasi Curug Epot. Jalur trekking akan tiba di tingkatan pertama Curug Epot. Untuk menuju tingkatan paling bawah, bisa turun lagi melalui jalan setapak yang cukup curam atau menuruni dinding air terjun.

Curug Epot merupakan air terjun non permanen, artinya airnya akan kering jika musim kemarau. Curug Epot secara keseluruhan memiliki klasifikasi Multi Step Waterfall. Curug Epot memiliki setidaknya memiliki empat tingkatan. Tingkatan pertama merupakan yang tertinggi dan cukup vertikal. Tingkatan lainnya sedikit melandai, bahkan terdapat bebatuan yang menonjol di dinding air terjunnya yang dapat digunakan sebagai pijakan.

Tingkatan pertama Curug Epot memiliki klasifikasi dominan Paralel Waterfall. Klasifikasi lainnya yaitu Horsetail dan Tiered Waterfall. Aliran jatuhan pada tingkatan pertama akan terbagi menjadi dua aliran tepat di tengah lintasan, bukan terbagi ketika jatuh dari tepi tebing. Hal inilah yang memunculkan klasifikasi Paralel. Permukaan dinding air terjun memiliki karaktersitik batuan yang tidak rata, sehingga cenderung membentuk jenjang kecil sepanjang lintasan jatuhan. Hal inilah yang memunculkan klasifikasi Tiered.

Tingkatan kedua hingga keempat Curug Epot masing-masing memiliki klasifikasi dominan Horsetail Waterfall. Sama dengan permukaan dinding pada tingkatan pertama, tingkatan kedua hingga keempat pun memiliki karaktersitik batuan yang tidak rata, sehingga membentuk jenjang kecil. Jenjang-jenjang kecil ini dapat dipergunakan sebagai pijakan bila ingin memanjat atau menuruni masing-masing tingkatan Curug Epot.

Seluruh tingkatan Curug Epot memiliki area datar yang cukup luas sebelum akhirnya air jatuh kembali membentuk tingkatan kedua, ketiga, dan keempat. Kolam cukup dalam hanya akan ditemui di tingkatan pertama dan keempat. Pada tingkatan keempat, kolam air terjun sudah langsung bergabung kembali menjadi sistem sungai. Pada tingkatan kedua dan ketiga, kolam belum terbentuk sempurna, masih merupakan permukaan batuan yang membentuk cekungan cukup dalam akibat tergerus aliran air.

Belum terdapat fasilitas apapun di sekitar Curug Epot, sehingga disarankan membawa logsitik masing-masing. Area di sekitar Curug Epot juga cukup sempit. Bila musim hujan, seluruh jalur treking yang merupakan jalan tanah akan sangat licin dan berlumpur.

 
Leave a comment

Posted by on October 17, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

SITU CIHAURGEULIS

Secara administratif, Situ Cihaurgeulis berada di Dusun Cibeurih, Desa Sukahurip, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°16’26.2″S 108°30’02.0″E. Situ Cihaurgeulis merupakan danau buatan yang dibangun oleh pemerintah Kabupaten Ciamis. Situ Cihaurgeulis memiliki luas genangan kurang lebih 3,58 Ha. Situ Cihaurgeulis memiliki kedalaman yang bervariasi yaitu 0,5 meter di bagian timur laut dan yang paling dalam berada di sebelah tenggara yang mencapai kedalaman 6 – 10m.

Secara keseluruhan, akses menuju Situ Cihaurgeulis sudah cukup mudah dengan kondisi jalan yang baik. Berikut uraian jalur menuju Situ Cihaurgeulis dari Bandung dan Cirebon.

Bandung – Kawali – Situ Ciahurgeulis

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Kadipaten melalui Nagreg – Limbangan – Malangbong. Ikuti jalan provinsi hingga melewati Gentong (perbatasan Kabupaten Garut – Kabupaten Tasikmalaya). Setelah melewati Gentong, patokan pertama yaitu pertigaan di Pasar Kadipaten, kabupaten Tasikmalaya. Pertigaan ini berada pada koordinat -7.125025, 108.145547. Ambil arah kiri pada pertigaan ini. Jalur ini disarankan untuk menghindari arus lalu lintas yang akan cukup padat dari Kadipaten hingga Cisaga, terutama pada akhir pekan.

Ikuti jalan raya utama hingga memasuki Kecamatan Pagerageung. Kondisi jalan akan sedikit lebih kecil dibandingkan jalan provinsi. Memasuki Kecamatan Pagerageung, jalan akan terus didominasi oleh tanjakan. Jika melintas di jalur ini pada malam hari akan cukup sepi dan gelap karena tidak ada penerangan jalan.

Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya yang berada pada koordinat -7.125049, 108.217288. Tidak jauh dari gerbang Pondok Pesantren Suryalaya akan ditemui persimpangan dengan jalur dari arah Cihaurgeulis pada koordinat -7.125560, 108.219203. Lurus terus pada persimpangan ini hingga tiba pada persimpangan menuju Situ Lengkong pada koordinat -7.128402, 108.265018. Ambil kanan pada persimpangan ini menuju area parkir Situ Lengkong.

Arahkan kendaraan menuju alun-alun Panjalu yang berada pada koordinat -7.134585, 108.269500. Setelah melewati alun-alun Panjalu, ikuti terus jalan utama hingga tiba di Desa Lumbung. Setiba di Desa Lumbung jalan akan berujung di sebuah perismpangan besar pada koordianat -7.177386, 108.364036. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menjuj Desa Winduraja. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan dengan jalan menuju Rajadesa pada koordinat -7.165331, 108.371848. Ambil arah kanan menuju Rajadesa.

Ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Jatinegara – Kecamatan Rajadesa. Setiba di alun-alun Rajadesa, terus ikuti jalan utama hingga jalan bertemu persimpangan pada koordinat -7.204651, 108.489652. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan raya utama menuju alun-alun Kecamatan Rancah. -7.197844, 108.503496. Setelah melewati alun-alun Rancah akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.198941, 108.505503.

Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Rancah. Ikuti jalan raya utama hingga bertemu persimpangan dengan jalan masuk menuju Situ Cihaurgeulis pada koordinat -7.273358, 108.498454. Belok kiri pada koordinat ini. Jalan menuju Situ Cihaurgeulis merupakan jalan kecil dan hanya diberi tanda baligo di sisi kanan jalan (bila dari arah Rancah)

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 132 Km dalam waktu 4 jam 22 menit.

 

Cirebon – Panawangan – Situ Cihaurgeulis

Arahkan kendaraan dari Cirebon menuju Cigugur, Kuningan melalui Cirendang. Setelah tiba di Cigugur, arahkan kendaraan menuju Waduk Darma pada koordinat -7.003002, 108.406223. Setiba di Waduk Darma, arahkan kendaraan menuju Alun-alun Cikijing yang terletak pada koordinat -7.017868, 108.369273. Setalah alun-alun Cikijing akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.016252, 108.365690. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Panawangan.

Kondisi jalan akan didominasi oleh jalan aspal dan akan cukup ramai setiba di alun-alun Cikijing. Jalur Cikijing – Panawangan akan didominasi oleh jalan berkelok-kelok dan akan sangat sepi jika malam hari. Setelah belok kiri di Cikijing, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.025899, 108.351537. Ambil arah kiri pada persimpangan ini.

Ikuti terus jalan utama hingga bertemu persimpangan dengan jalur menuju Rajadesa di koordinat -7.165337, 108.371859. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Jalur berikutnya akan sama dengan jalur yang datang dari arah Kawali.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 107 Km dalam waktu 3 jam 18 menit.

Setiba di area Situ Cihaurgeulis, pengunjung harus membayar retribusi. Sudah terdapat jalan untuk mengelilingi sebagian area Situ Cihaurgeulis. Area di sekeliling Situ Cihaurgeulis memiliki cukup banyak pepohonan, sehingga jika berkunjung pada siang hari tidak terlalu terik.

Situ Cihaurgeulis sudah 60% nya dikelilingi jalan berukuran kurang lebih dua meter dari sisi Barat hingga sisi Timur yang dapat dilalui sepeda motor dan mobil. Situ Cihaurgeulis berfungsi sebagai sumber air untuk wilayah Noong, area persawahan di sekitarnya, budidaya ikan Mas serta sebagai objek tujuan wisata.

Fasilitas yang ada di Situ Cihaurgeulis masih dalam tahap pembenahan. Setidaknya sudah ada beberapa saung dan warung-warung di sekeliling area Situ Cihaurgeulis. Serta dermaga dari bambu dan jembatan bambu di area Situ Ciahurgeulis.

Artikel lainnya mengenai Situ Cihaurgeulis:

http://ciamissuka-suka.blogspot.co.id/2013/03/situ-cihaurgeulis-cisaga-kabupaten.html

http://desasukahuripkecamatancisaga.blogspot.co.id/

 
Leave a comment

Posted by on September 16, 2017 in DANAU, Travelling

 

CEKDAM KADUPANDAK

Secara administrartif, Cekdam Kadupandak berada di Kampung Karangsari, Desa Kadupandak, Kecamatan Tambakasari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan berada pada koordinat -7.220406, 108.556171. Cekdam Kadupandak memiliki nama lain, yaitu Cekdam Singapraya, namun warga lebih banyak mengenal cekdam ini dengan nama Cekdam Kadupandak. Nama Cekdam Kadupandak diambil dari nama desa lokasi cekdam, yaitu Desa Kadupandak.

Cekdam Kadupandak merupakan cekdam buatan yang dibangun sekitar tahun 2000-an. Fungsi utama dari Cekdam Kadupandak adalah sebagai penahan erosi, penyuplai air untuk wilayah Desa Kadupandak serta Desa Kaso, sumber air bersih untuk wilayah sekitar cekdam, objek wisata, dan budidaya ikan keramba. Jenis ikan yang ada di Cekdam Kadupandak diantaranya ikan Nila, Gurame, Tawes, dan ikan Nilem.

Tanggul Cekdam Kadupandak Jebol

Pada 1 Juni 2010, tanggul penahan di Utara sepanjang 15 m hancur akibat tidak mampu menahan gerusan air setelah wilayah Desa Kadupandak diguyur hujan lebat. Desa Tambaksari merupakan daerah dengan tingkat rawan bencana longsor yang cukup tinggi. Tercatat sudah sejak 2008 gerakan tanah di wilayah Desa Kadupandak termasuk yang cukup tinggi.

Total luas cekdam yang jebol seluas 6 Ha dan menyebabkan 195 Ha areal sawah serta tiga peternakan ayam hancur tersapu banjir bandang. Selain itu, bajir bandang juga menghancurkan Jembatan Cibeureum yang menghubngkan Dusun Sukamandi dengan Dusun Walahar. Getaran akibat hancurnya tanggul memicu longsoran tanah di beberapa titik sehingga menyebabkan rumah-rumah warga di sekitar tanggul rusak. Pembangunan tanggul kembali dilakukan pada 12 April 2013 oleh pemerintah.

Akses Menuju Cekdam Kadupandak

Akses menuju Cekdam Kadupandak termasuk cukup mudah. Jalur yang harus dilalui pun tidak terlalu sulit untuk dicari, baik dari arah Bandung, Subang, maupun Cirebon.

Bandung – Kawali – Cekdam Kadupandak

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Kadipaten melalui Nagreg – Limbangan – Malangbong. Ikuti jalan provinsi hingga melewati Gentong (perbatasan Kabupaten Garut – Kabupaten Tasikmalaya). Setelah melewati Gentong, patokan pertama yaitu pertigaan di Pasar Kadipaten, kabupaten Tasikmalaya. Pertigaan ini berada pada koordinat -7.125025, 108.145547. Ambil arah kiri pada pertigaan ini. Jalur ini disarankan untuk menghindari arus lalu lintas yang akan cukup padat dari Kadipaten hingga Cisaga, terutama pada akhir pekan.

Ikuti jalan raya utama hingga memasuki Kecamatan Pagerageung. Kondisi jalan akan sedikit lebih kecil dibandingkan jalan provinsi. Memasuki Kecamatan Pagerageung, jalan akan terus didominasi oleh tanjakan. Jika melintas di jalur ini pada malam hari akan cukup sepi dan gelap karena tidak ada penerangan jalan.

Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya yang berada pada koordinat -7.125049, 108.217288. Tidak jauh dari gerbang Pondok Pesantren Suryalaya akan ditemui persimpangan dengan jalur dari arah Cihaurgeulis pada koordinat -7.125560, 108.219203. Lurus terus pada persimpangan ini hingga tiba pada persimpangan menuju Situ Lengkong pada koordinat -7.128402, 108.265018. Ambil kanan pada persimpangan ini menuju area parkir Situ Lengkong.

Arahkan kendaraan menuju alun-alun Panjalu yang berada pada koordinat -7.134585, 108.269500. Setelah melewati alun-alun Panjalu, ikuti terus jalan utama hingga tiba di Desa Lumbung. Setiba di Desa Lumbung jalan akan berujung di sebuah perismpangan besar pada koordianat -7.177386, 108.364036. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menjuj Desa Winduraja. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan dengan jalan menuju Rajadesa pada koordinat -7.165331, 108.371848. Ambil arah kanan menuju Rajadesa.

Ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Jatinegara – Kecamatan Rajadesa. Setiba di alun-alun Rajadesa, terus ikuti jalan utama hingga jalan bertemu persimpangan pada koordinat -7.204651, 108.489652. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan raya utama menuju alun-alun Kecamatan Rancah. -7.197844, 108.503496. Setelah melewati alun-alun Rancah akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.198941, 108.505503.

Lurus terus pada persimpangan ini menuju Desa Tambaksari. Ikuti jalan utama. Kondisi jalan setelah persimpangan di Polsek Rancah akan sedikit memburuk. Medan jalan akan didominasi oleh turunan. Jalan aspal mulus dari Kawali akan berakhir di persimpangan Polsek Rancah dan akan berganti dengan jalan berlubang. Jika musim kemarau, jalan akan sangta berdebu.

Patokan berikutnya yaitu persimpangan pada koordinat -7.218259, 108.556963. Ambil kanan pada koordinat ini. Pada persimpangan jalan akan terdapat papan kayu sederhana penunjuk arah menuju Cekdam Kadupandak. Pengunjung yang datang ke Cekdam Kadupandak harus membayar retribusi sebesar Rp 4.000,00/motor. Rertibusi dibayarkan pada warga yang menjaga portal menuju area Cekdam Kadupandak.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 131 Km dalam waktu 4 jam 29 menit