RSS

SITU CIHAURGEULIS

Secara administratif, Situ Cihaurgeulis berada di Dusun Cibeurih, Desa Sukahurip, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°16’26.2″S 108°30’02.0″E. Situ Cihaurgeulis merupakan danau buatan yang dibangun oleh pemerintah Kabupaten Ciamis. Situ Cihaurgeulis memiliki luas genangan kurang lebih 3,58 Ha. Situ Cihaurgeulis memiliki kedalaman yang bervariasi yaitu 0,5 meter di bagian timur laut dan yang paling dalam berada di sebelah tenggara yang mencapai kedalaman 6 – 10m.

Secara keseluruhan, akses menuju Situ Cihaurgeulis sudah cukup mudah dengan kondisi jalan yang baik. Berikut uraian jalur menuju Situ Cihaurgeulis dari Bandung dan Cirebon.

Bandung – Kawali – Situ Ciahurgeulis

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Kadipaten melalui Nagreg – Limbangan – Malangbong. Ikuti jalan provinsi hingga melewati Gentong (perbatasan Kabupaten Garut – Kabupaten Tasikmalaya). Setelah melewati Gentong, patokan pertama yaitu pertigaan di Pasar Kadipaten, kabupaten Tasikmalaya. Pertigaan ini berada pada koordinat -7.125025, 108.145547. Ambil arah kiri pada pertigaan ini. Jalur ini disarankan untuk menghindari arus lalu lintas yang akan cukup padat dari Kadipaten hingga Cisaga, terutama pada akhir pekan.

Ikuti jalan raya utama hingga memasuki Kecamatan Pagerageung. Kondisi jalan akan sedikit lebih kecil dibandingkan jalan provinsi. Memasuki Kecamatan Pagerageung, jalan akan terus didominasi oleh tanjakan. Jika melintas di jalur ini pada malam hari akan cukup sepi dan gelap karena tidak ada penerangan jalan.

Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya yang berada pada koordinat -7.125049, 108.217288. Tidak jauh dari gerbang Pondok Pesantren Suryalaya akan ditemui persimpangan dengan jalur dari arah Cihaurgeulis pada koordinat -7.125560, 108.219203. Lurus terus pada persimpangan ini hingga tiba pada persimpangan menuju Situ Lengkong pada koordinat -7.128402, 108.265018. Ambil kanan pada persimpangan ini menuju area parkir Situ Lengkong.

Arahkan kendaraan menuju alun-alun Panjalu yang berada pada koordinat -7.134585, 108.269500. Setelah melewati alun-alun Panjalu, ikuti terus jalan utama hingga tiba di Desa Lumbung. Setiba di Desa Lumbung jalan akan berujung di sebuah perismpangan besar pada koordianat -7.177386, 108.364036. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menjuj Desa Winduraja. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan dengan jalan menuju Rajadesa pada koordinat -7.165331, 108.371848. Ambil arah kanan menuju Rajadesa.

Ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Jatinegara – Kecamatan Rajadesa. Setiba di alun-alun Rajadesa, terus ikuti jalan utama hingga jalan bertemu persimpangan pada koordinat -7.204651, 108.489652. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan raya utama menuju alun-alun Kecamatan Rancah. -7.197844, 108.503496. Setelah melewati alun-alun Rancah akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.198941, 108.505503.

Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Rancah. Ikuti jalan raya utama hingga bertemu persimpangan dengan jalan masuk menuju Situ Cihaurgeulis pada koordinat -7.273358, 108.498454. Belok kiri pada koordinat ini. Jalan menuju Situ Cihaurgeulis merupakan jalan kecil dan hanya diberi tanda baligo di sisi kanan jalan (bila dari arah Rancah)

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 132 Km dalam waktu 4 jam 22 menit.

 

Cirebon – Panawangan – Situ Cihaurgeulis

Arahkan kendaraan dari Cirebon menuju Cigugur, Kuningan melalui Cirendang. Setelah tiba di Cigugur, arahkan kendaraan menuju Waduk Darma pada koordinat -7.003002, 108.406223. Setiba di Waduk Darma, arahkan kendaraan menuju Alun-alun Cikijing yang terletak pada koordinat -7.017868, 108.369273. Setalah alun-alun Cikijing akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.016252, 108.365690. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Panawangan.

Kondisi jalan akan didominasi oleh jalan aspal dan akan cukup ramai setiba di alun-alun Cikijing. Jalur Cikijing – Panawangan akan didominasi oleh jalan berkelok-kelok dan akan sangat sepi jika malam hari. Setelah belok kiri di Cikijing, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.025899, 108.351537. Ambil arah kiri pada persimpangan ini.

Ikuti terus jalan utama hingga bertemu persimpangan dengan jalur menuju Rajadesa di koordinat -7.165337, 108.371859. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Jalur berikutnya akan sama dengan jalur yang datang dari arah Kawali.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 107 Km dalam waktu 3 jam 18 menit.

Setiba di area Situ Cihaurgeulis, pengunjung harus membayar retribusi. Sudah terdapat jalan untuk mengelilingi sebagian area Situ Cihaurgeulis. Area di sekeliling Situ Cihaurgeulis memiliki cukup banyak pepohonan, sehingga jika berkunjung pada siang hari tidak terlalu terik.

Situ Cihaurgeulis sudah 60% nya dikelilingi jalan berukuran kurang lebih dua meter dari sisi Barat hingga sisi Timur yang dapat dilalui sepeda motor dan mobil. Situ Cihaurgeulis berfungsi sebagai sumber air untuk wilayah Noong, area persawahan di sekitarnya, budidaya ikan Mas serta sebagai objek tujuan wisata.

Fasilitas yang ada di Situ Cihaurgeulis masih dalam tahap pembenahan. Setidaknya sudah ada beberapa saung dan warung-warung di sekeliling area Situ Cihaurgeulis. Serta dermaga dari bambu dan jembatan bambu di area Situ Ciahurgeulis.

Artikel lainnya mengenai Situ Cihaurgeulis:

http://ciamissuka-suka.blogspot.co.id/2013/03/situ-cihaurgeulis-cisaga-kabupaten.html

http://desasukahuripkecamatancisaga.blogspot.co.id/

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 16, 2017 in DANAU, Travelling

 

CEKDAM KADUPANDAK

Secara administrartif, Cekdam Kadupandak berada di Kampung Karangsari, Desa Kadupandak, Kecamatan Tambakasari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan berada pada koordinat -7.220406, 108.556171. Cekdam Kadupandak memiliki nama lain, yaitu Cekdam Singapraya, namun warga lebih banyak mengenal cekdam ini dengan nama Cekdam Kadupandak. Nama Cekdam Kadupandak diambil dari nama desa lokasi cekdam, yaitu Desa Kadupandak.

Cekdam Kadupandak merupakan cekdam buatan yang dibangun sekitar tahun 2000-an. Fungsi utama dari Cekdam Kadupandak adalah sebagai penahan erosi, penyuplai air untuk wilayah Desa Kadupandak serta Desa Kaso, sumber air bersih untuk wilayah sekitar cekdam, objek wisata, dan budidaya ikan keramba. Jenis ikan yang ada di Cekdam Kadupandak diantaranya ikan Nila, Gurame, Tawes, dan ikan Nilem.

Tanggul Cekdam Kadupandak Jebol

Pada 1 Juni 2010, tanggul penahan di Utara sepanjang 15 m hancur akibat tidak mampu menahan gerusan air setelah wilayah Desa Kadupandak diguyur hujan lebat. Desa Tambaksari merupakan daerah dengan tingkat rawan bencana longsor yang cukup tinggi. Tercatat sudah sejak 2008 gerakan tanah di wilayah Desa Kadupandak termasuk yang cukup tinggi.

Total luas cekdam yang jebol seluas 6 Ha dan menyebabkan 195 Ha areal sawah serta tiga peternakan ayam hancur tersapu banjir bandang. Selain itu, bajir bandang juga menghancurkan Jembatan Cibeureum yang menghubngkan Dusun Sukamandi dengan Dusun Walahar. Getaran akibat hancurnya tanggul memicu longsoran tanah di beberapa titik sehingga menyebabkan rumah-rumah warga di sekitar tanggul rusak. Pembangunan tanggul kembali dilakukan pada 12 April 2013 oleh pemerintah.

Akses Menuju Cekdam Kadupandak

Akses menuju Cekdam Kadupandak termasuk cukup mudah. Jalur yang harus dilalui pun tidak terlalu sulit untuk dicari, baik dari arah Bandung, Subang, maupun Cirebon.

Bandung – Kawali – Cekdam Kadupandak

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Kadipaten melalui Nagreg – Limbangan – Malangbong. Ikuti jalan provinsi hingga melewati Gentong (perbatasan Kabupaten Garut – Kabupaten Tasikmalaya). Setelah melewati Gentong, patokan pertama yaitu pertigaan di Pasar Kadipaten, kabupaten Tasikmalaya. Pertigaan ini berada pada koordinat -7.125025, 108.145547. Ambil arah kiri pada pertigaan ini. Jalur ini disarankan untuk menghindari arus lalu lintas yang akan cukup padat dari Kadipaten hingga Cisaga, terutama pada akhir pekan.

Ikuti jalan raya utama hingga memasuki Kecamatan Pagerageung. Kondisi jalan akan sedikit lebih kecil dibandingkan jalan provinsi. Memasuki Kecamatan Pagerageung, jalan akan terus didominasi oleh tanjakan. Jika melintas di jalur ini pada malam hari akan cukup sepi dan gelap karena tidak ada penerangan jalan.

Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya yang berada pada koordinat -7.125049, 108.217288. Tidak jauh dari gerbang Pondok Pesantren Suryalaya akan ditemui persimpangan dengan jalur dari arah Cihaurgeulis pada koordinat -7.125560, 108.219203. Lurus terus pada persimpangan ini hingga tiba pada persimpangan menuju Situ Lengkong pada koordinat -7.128402, 108.265018. Ambil kanan pada persimpangan ini menuju area parkir Situ Lengkong.

Arahkan kendaraan menuju alun-alun Panjalu yang berada pada koordinat -7.134585, 108.269500. Setelah melewati alun-alun Panjalu, ikuti terus jalan utama hingga tiba di Desa Lumbung. Setiba di Desa Lumbung jalan akan berujung di sebuah perismpangan besar pada koordianat -7.177386, 108.364036. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menjuj Desa Winduraja. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan dengan jalan menuju Rajadesa pada koordinat -7.165331, 108.371848. Ambil arah kanan menuju Rajadesa.

Ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Jatinegara – Kecamatan Rajadesa. Setiba di alun-alun Rajadesa, terus ikuti jalan utama hingga jalan bertemu persimpangan pada koordinat -7.204651, 108.489652. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan raya utama menuju alun-alun Kecamatan Rancah. -7.197844, 108.503496. Setelah melewati alun-alun Rancah akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.198941, 108.505503.

Lurus terus pada persimpangan ini menuju Desa Tambaksari. Ikuti jalan utama. Kondisi jalan setelah persimpangan di Polsek Rancah akan sedikit memburuk. Medan jalan akan didominasi oleh turunan. Jalan aspal mulus dari Kawali akan berakhir di persimpangan Polsek Rancah dan akan berganti dengan jalan berlubang. Jika musim kemarau, jalan akan sangta berdebu.

Patokan berikutnya yaitu persimpangan pada koordinat -7.218259, 108.556963. Ambil kanan pada koordinat ini. Pada persimpangan jalan akan terdapat papan kayu sederhana penunjuk arah menuju Cekdam Kadupandak. Pengunjung yang datang ke Cekdam Kadupandak harus membayar retribusi sebesar Rp 4.000,00/motor. Rertibusi dibayarkan pada warga yang menjaga portal menuju area Cekdam Kadupandak.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 131 Km dalam waktu 4 jam 29 menit

Cirebon – Kuningan – Cekdam Kadupandak

Arahkan kendaraan dari Cirebon menuju Cigugur, Kuningan melalui Cirendang. Setelah tiba di Cigugur, arahkan kendaraan menuju Waduk Darma pada koordinat -7.003002, 108.406223. Setiba di Waduk Darma, arahkan kendaraan menuju Alun-alun Cikijing yang terletak pada koordinat -7.017868, 108.369273. Setalah alun-alun Cikijing akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.016252, 108.365690. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Panwangan.

Kondisi jalan akan didominasi oleh jalan aspal dan akan cukup ramai setiba di alun-alun Cikijing. Jalur Cikijing – Panawangan akan didominasi oleh jalan berkelok-kelok dan akan sangat sepi jika malam hari. Setelah belok kiri di Cikijing, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.025899, 108.351537. Ambil arah kiri pada persimpangan ini.

Ikuti terus jalan utama hingga bertemu persimpangan dengan jalur menuju Rajadesa di koordinat -7.165337, 108.371859. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Jalur berikutnya akan sama dengan jalur yang datang dari arah Panjalu.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 107 Km dalam waktu 3 jam 27 menit.

Area di sekitar Cekdam Kadupandak sudah dapat dikelilingi oleh mobil maupun sepeda motor. Terdapat beberapa kampung di pinggir Cekdam. Terdapat area yang cukup rimbun oleh pepohonan dan saung-saung kecil di dekat permukiman warga. Meskipun sudah dibenahi dan memang dibuka untuk tujuan wisata, namun pengunjung ke Cekdam Kadupandak tidak terlalu ramai. Warung-warung pun jumlahnya cukup sedikit.

Tulisan lainnya mengenai Cekdam Kadupandak dapat dilihat di link berikut:

http://dskdpdk.blogspot.co.id/2013/04/profil-desa.html

http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2010/06/01/114893/cekdam-jebol-195-hektar-sawah-hancur

http://kknm.unpad.ac.id/kadupandak/2013/07/30/coretan-desa-kadupandak-rizki-t-bastanta-sinuhaji/

http://dskdpdk.blogspot.co.id/2013/05/pembangunan-cekdam-singapraya.html

 
Leave a comment

Posted by on September 15, 2017 in DANAU, Travelling

 

CURUG BOJONG

Secara administratif, Curug Bojong berada di Kampung Cihandiung, Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°38’45.2″S 108°40’48.3″E. Curug Bojong merupakan satu dari sekian banyak wisata air terjun yang berada di Kabupaten Pangandaran. Curug Bojong termasuk ke dalam objek wisata selain wisata pantai yang sudah dikelola di Kabupaten Pangandaran.

Lokasi Curug Bojong berada di kawasan milik Perhutani, sehingga area di sekitar Curug Bojong masih berupa hutan sekunder/hutan produksi. Pembukaan akses wisata Curug Bojong pertama kali dilakukan pada 1 September 2013 atas permintaan warga setempat. Luas Wana Wisata Curug Bojong kurang lebih sekitar 14 Ha. Curug Bojong berada pada ketinggian 100 – 150 meter diatas permukaan laut.

Hingga kini, pengelolaan Curug Bojong dapat terlihat dari adanya pemasangan papan penunjuk arah ketika memasuki jalan Desa Sukahurip, area parkir, area camping yang bernama Buper Curug Bojong, retribusi, ruang ganti, bahkan disediakan juga pelampung bagi pengunjung. Pengunjung ditarik retribusi sebesar Rp 10.000,00/orang yang terdiri dari Rp 5.000,00 untuk Perhutani dan Rp 5.000,00 untuk karcis kerjasama dan sudah termasuk asuransi. Secara keseluruhan, akses menuju Curug Bojong sangat mudah dengan kondisi jalan yang sebagian besar sudah dalam keadaan baik. Berikut beberapa rute dapat dipilih untuk menuju ke Curug Bojong.

Bandung – Banjar – Curug Bojong

Rute ini merupakan rute utama menuju Pangandaran melewati jalan provinsi. Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Nagreg – Limbangan – Malangbong – Gentong – Ciawi – Cihaurgeulis – Ciamis – Banjar. Kondisi jalan ketika pagi hari akan cukup ramai dengan kendaraan pribadi dan bus tujuan Jawa Tengah.

Kondisi jalan yang berkelok dari mulai Limbangan dan tanjakan-tanjakan cukup panjang di daerah Malangbong akan menyebabkan antrian di beberapa titik, terutama jika lalu lintas sedang ramai dengan bus dan truk yang melintas. Secara keseluruhan, kondisi arus lalu lintas di sepanjang jalur ini cukup ramai, terutama ketika akhir pekan dan libur panjang.

Setiba di Cikoneng, terdapat dua alternatif jalur. Pertama adalah jalur utama yang melintasi alun-alun Ciamis dan yang kedua adalah jalan lingkar luar Ciamis yang masih satu arah menuju Jembatan Cirahong. Jalur lingkar luar Ciamis ini tidak akan melewati alun-alun Ciamis dan akan bertemu kembali dengan jalur utama di sekitar Cijeungjing. Tepatnya setelah Pasar Bojong jika dari arah alun-alun Kota Ciamis.

Setelah kembali ke jalan provinsi, ikuti jalan utama hingga tiba di Kota Banjar. Ambil jalan menuju Pangandaran di persimpangan pada koordinat -7.365943, 108.543502. Sepanjang jalur provinsi akan ditemui papan penunjuk jalan yang lengkap. Setelah memasuki Kota Banjar, ikuti jalan raya utama menuju Kalipucang lalu Putrapinggan.

Jalur termudah menuju Desa Sukahurip adalah melalui Putrapinggan. Patokannya yaitu SPBU Babakan yang berada di kiri jalan bila datang dari arah Banjar dan berada pada koordinat -7.673884, 108.680999. Patokan berikutnya yaitu Museum Nyamuk yang berada tidak jauh dari SPBU Babakan dan berada di kanan jalan jika datang dari arah Banjar dan berada pada koordinat -7.673951, 108.679896.

Tidak jauh dari Museum Nyamuk, akan ditemui pertigaan kecil. Di sisi kiri jalan jika dari arah Banjar akan terdapat baligo Curug Bojong yang cukup besar. Sementara, jalan menuju Desa Sukahurip berada di kanan jalan. Pertigaan menuju Desa Sukahurip berada pada koordinat -7.674929, 108.677552. Ambil arah kanan pada pertigaan ini. Setelah masuk ke jalan desa, patokan berikutnya yaitu SMP 2 Pangandaran yang berada pada koordinat -7.668015, 108.675148. Ikuti terus jalan utama desa.

Tidak jauh dari SMPN 2 Pangandaran, akan ditemui persimpangan ckup besar pada koordinat -7.666355, 108.666947. Ambil kanan pada persimpangan ini. Setelah belok kanan, akan ditemui gapura sebagai penanda memasuki area Curug Bojong. Patokan berikutnya yaitu Kantor Desa Sukahurip yang berada pada koordinat -7.663668, 108.666171. Setelah melewati Kantor Desa Sukahurip, akan ditemui pertigaan cukup besar pada koordinat -7.653393, 108.670343. Ambil arah kanan pada persimpangan ini.

Total jarak dan waktu tempuh jalur ini pada pembacaan peta adalah 213 Km dalam waktu 5 jam 49 menit.

Bandung – Rancabuaya – Curug Bojong

Jalur ini merupakan jalur terpanjang dengan waktu tempuh terlama. Jalur ini merupakan jalur yang cocok bagi yang senang menyusuri pantai-pantai di Selatan Jawa Barat. Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Pangalengan. Setelah tiba di Pangalengan, ambil jalur menuju Situ Cileunca kemudian Perkebunan Cukul. Memasuki jalur di Perkebunan Cukul, jalan akan berkelok-kelok dan berada di jalur rawan longsor. Kondisi jalan dari Pangalengan hingga Rancabuaya sudah baik dan jika akhir pekan akan cukup ramai.

Setiba di Rancabuaya, ambil arah Timur menuju Pameungpeuk. Setiba di Pameungpeuk, arahkan terus kendaraan menuju Sancang – Cipatujah – Cikalong – Cimerak. Patokan berikutnya yaitu Cijulang. Sepanjang Rancabuaya hingga Cimerak, jalur akan berada di pesisir, sehingga ada banyak pilihan lokasi untuk beristirahat di pinggir pantai. Arus lalu lintas di jalur ini termasuk yang sangat sepi serta akan sangat gelap dan sepi ketika malam hari.

Setiba di Cijulang, arahkan kendaraan menuju Parigi kemudian objek wisata Pangandaran. Setiba di persimpangan objek wisata Pangandaran, arahkan kendaraan menuju arah Kalipucang. Patokan terakhir yaitu persimpangan Putrapinggan menuju jalan Desa Sukahurip. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.652687, 108.670557. Lokasi persimpangan berada tepat sebelum Museum Nyamuk yang berada pada koordinat -7.673951, 108.679896. Ambil arah kiri pada persimpangan ini.

Setelah masuk ke jalan desa, patokan berikutnya yaitu SMP 2 Pangandaran yang berada pada koordinat -7.668015, 108.675148. Ikuti terus jalan utama desa.

Tidak jauh dari SMPN 2 Pangandaran, akan ditemui persimpangan cukup besar pada koordinat -7.666355, 108.666947. Ambil kanan pada persimpangan ini. Setelah belok kanan, akan ditemui gapura sebagai penanda memasuki area Curug Bojong. Patokan berikutnya yaitu Kantor Desa Sukahurip yang berada pada koordinat -7.663668, 108.666171. Setelah melewati Kantor Desa Sukahurip, akan ditemui pertigaan cukup besar pada koordinat -7.653393, 108.670343. Ambil arah kanan pada persimpangan ini.

Total jarak dan waktu tempuh jalur ini pada pembacaan peta adalah 289 Km dalam waktu 8 jam 29 menit.

Bandung – Cikatomas – Curug Bojong

Rute ini merupakan jalur alternatif jika mencari jalur dengan arus lalu lintas yang sepi. Jarak tempuhnya lebih jauh dibandingkan dengan melewati jalan provinsi namun lebih pendek jika dibandingkan dengan jalur yang melewati Rancabuaya.

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Samarang melalui Kamojang. Kondisi jalan dari Bandung hingga Samarang sudah sangat baik. Jalur akan didominasi tanjakan hingga Kamojang. Setelah tiba di Samarang, ambil arah menuju Tarogong kemudian arahkan kendaraan menuju Terminal Guntur. Setelah tiba di persimpangan dengan Terminal Guntur, ambil arah menuju Tasikmalaya.

Jalur ini merupakan jalur yang sama jika akan melakukan pendakian Gunung Cikuray melalui Dayeuhmanggung. Patokan berikutnya yaitu persimpangan dengan jalur kebun teh Dayeuhmanggung. Ikuti terus jalan utama hingga gapura perbatasan Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya. Arus lalu lintas akan cukup padat dari Samarang hingga memasuki Cilawu. Selepas Cilawu, arus lalu lintas akan sedikit sepi.

Patokan berikutnya yaitu SPBU di Kecamatan Salawu. Ikuti jalan utama hingga tiba di patokan berikutnya, yaitu Polsek Singaparna. Tepat di sebelah Polsek Singaparna akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.365581, 108.101786. Ambil kanan pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama hingga tiba di alun-alun Sukaraja. Tepat di alun-alun Sukaraja, akan ditemui persimpangan dengan jalur utama Tasikmalaya – Cipatujah. Ambil arah kanan menuju Karangnunggal.

Tidak jauh dari alun-alun Sukaraja akan ditemui persimpangan menuju arah Cikalong dan Cikatomas pada koordinat -7.464923, 108.195562. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama menuju Jatiwaras – Salopa – Cikatomas. Patokan berikutnya yaitu SPBU Cikatomas pada koordinat -7.627054, 108.262462. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Pasar Tawang. Jalur ini juga merupakan jalur yang sama dengan yang menuju Curug Dengdeng.

Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan dengan jalur Pantai Selatan Jawa Barat di daerah Cimerak. Pada persimpangan di koordinat -7.749054, 108.439555 ambil arah kiri menuju Cijulang. Rute berikutnya merupakan rute yang sama dengan jalur Rancabuaya – Curug Bojong.

Total jarak dan waktu tempuh jalur ini pada pembacaan peta adalah 225 Km dalam waktu 7 jam 26 menit.

Desa Sukahurip – Curug Bojong

Setelah belok kanan di persimpangan setelah kantor Desa Sukahurip, akan ditemui jembatan kayu cukup panjang. Tepat setelah jembatan, ambil jalan ke kanan pada koordinat -7.652687, 108.670557. Kondisi jalan dari mulai pertigaan Putrapinggan hingga jembatan kayu sudah baik, aspal mulus dengan medan yang didominasi tanjakan. Jembatan kayu masih dalam kondisi rusak dan harus berhati-hati ketika menyebrang.

Jalan setelah jembatan kayu masih dalam kondisi kurang baik. Tanah dan batu akan ditemui hingga kurang lebih 500 m. Setelah itu, permukaan jalan akan menjadi jalan rabat beton dan menanjak. Setelah jembatan, akan ditemui papan penunjuk jalan menuju Curug Bojong, namun masih dari papan kayu dan tidak terlalu besar. Papan penunjuk jalan akan terus ditemui hingga memasuki area parkir.

Mobil hanya akan dapat sampai di area parkir, namun motor masih tetap bisa masuk hingga area parkir di dekat Curug Bojong. Setelah pos retribusi, kondisi jalan akan menyempit dan merupakan jalan tanah. Jika musim hujan, kondisi jalan akan sangat licin, sehingga disarankan untuk berjalan kaki. Medan jalan kebanyakan turunan, namun ada juga beberapa tanjakan cukup panjang. Kondisi jalan berupa tanah juga diselingi batuan lepas, akar pohon, dan sebagian besar jalan tertutup daun.

Setelah tiba di area parkir dekat ruang ganti dan penyewaan pelampung, perjalanan hanya akan dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki. Arah yang harus diambil adalah menuju aliran sungai yang cukup besar. Pengunjung harus menyeberangi sungai dengan bantuan tambang yang sudah diikatkan ke pohon. Sebelumnya, masih ada jembatan bambu sederhana untuk menyeberang, namun sekitar Juni/Juli 2017, jembatan tersebut ambruk karean banjir bandang.

Setelah tiba di seberang sungai, pengunjung masih harus berjalan menuju aliran Sungai Curug Bojong. Sudah dibuatkan tangga untuk mempermudah pengunjung. Sudah disediakan juga beberapa kursi dari batu untuk beristirahat. Suasana disekeliling Curug Bojong cukup alami karena berada di area milik perhutani. Sudah disediakan juga tangga untuk ke bagian atas Curug Bojong.

Curug Bojong dapat diklasifikasikan ke dalam tipe dominan Block Waterfall. Pada musim hujan, klasifikasinya akan bertambah menjadi Block, Tiered, dan Horsetail Waterfall. Dinding air terjun yang tertutup aliran jatuhan air akan membentuk jenjang namun tidak cukup besar hingga tipe Multi Step. Aliran jatuhannya pun akan mempertahankan kontak dengan dinding air terjun selama proses jatuhannya.

Pada musim kemarau, klasifikasi Curug Bojong yang muncul ialah Plunge, Horsetail dan Cascade. Hanya terdapat satu aliran jatuhan utama pada dinding paling kanan air terjun. Sebagian dinding runtuh sehingga membentuk cekungan cukup dalam dan di dalam cekungan tersebut terbentuk kolam yang cukup dalam.

Air dari kolam kemudian jatuh kembali melewati dinding air terjun yang landai hingga jatuh ke kolam yang lebih kecil. Setelah jatuh ke kolam kedua, aliran jatuhan Curug Bojong kemudian bergabung kembali dengan sistem Sungai Curug Bojong. Jika musim kemarau, bagian dinding air terjun di dekat cekungan dapat dengan mudah dipanjat karena permukaan batuannya tidak tertutup lumut.

Curug Bojong hanya memiliki satu kolam dalam di cekungan yang berada di sisi paling kanan dinding air terjun, selebihnya hanya kolam kecil dan beberapa Pothole. Dasar Sungai Curug Bojong merupakan batuan yang cukup datar. Hanya ditemukan satu bongkahan batuan dengan ukuran yang tidak terlalu besar.

Curug Bojong merupakan air terjun non permanen. Jika kemarau, alirannya akan kering total. Keunikan di Curug Bojong yaitu, aliran Sungai Curug Bojong pada musim hujan relatif aman untuk sekedar bermain air. Berbeda dengan aliran sungai di samping Curug Bojong. Pada musim hujan, banjir bandang sangat mungkin terjadi.

Tulisan lainnya mengenai Curug Bojong:

http://www.mypangandaran.com/wisata/detail/14/curug-bojong.html

http://ngabolangngabolang.blogspot.co.id/2015/01/curug-bojong_20.html

 
Leave a comment

Posted by on September 11, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

BANDUNG – SALEM 22 JULI 2017

Berawal dari ga sengaja cari jalur alternatif menghindari ganasnya kemacetan arus balik Lebaran beberapa tahun silam, akhirnya ketemulah sebuah jalur antar provinsi di Kuningan. Saat itu, saya hanya ngeh sebuah nama daerah ‘Cibingbin’ di Kabupaten Kuningan sebagai wilayah administrasi terakhir di Jawa Barat sebelum memasuki wilayah administratif Jawa Tengah. Untuk wilayah pertama di Jawa Tengah setelah Cibingbin, tidak terlalu saya perhatikan. Hanya Waduk Malahayu saja yang berhasil menarik perhatian saya.

Selang satu tahun kemudian, masih dalam suasana mudik Lebaran, tidak sengaja, saya melihat salah seorang teman saya memposting tentang wilayah bernama Salem. Salem merupakan satu dari sekian jalur ‘alternatif’ yang dipilihnya dari Cikarang hingga Yogyakarta. Setelah membaca tulisannya yang cukup menarik dan mencocokan di peta, ternyata Salem merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah yang masih berada di kawasan garis perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah.

Juli 2017, tepatnya 22 Juli 2017 saya putuskan untuk mencoba menyusur jalur Salem dan Cibingbin. Beberapa hari sebelumnya, saya pun tidak lupa memplot jalur yang kira-kira bisa kami lewati dan informasi tentang jalur Salem sendiri tentunya. Referensi jalur Salem yang saya dapat kebanyakan tentang jalannya yang berliku, tikungan tajam, tanjakan berat, hutan sangat lebat, sepi, bahkan sampai berita longsor. Makin penasaranlah saya.

SABTU, 22 JULI 2017

Bandung – Malangbong

Setelah ngaret 1,5 jam, akhirnya kami pergi sekitar pukul 06.30 WIB dari rumah saya. Jalur Bandung – Cibiru – Nagreg lancar. Beruntung kami tidak terjebak kemacetan di depan beberapa pabrik di Rancaekek. Setiba di wilayah Limbangan, jalan mulai terlihat ramai. Beberapa kali kami harus menyalip bus dan mobil pribadi agar perjalanan sedikit cepat. Ada yang aneh dengan motor teman saya kali ini. Ko seperti tidak ada tenaganya ya? Dan kayanya nyalip kendaraan pun ga seperti biasanya, sedikit ragu-ragu rasanya.

Berhubung jalanan monoton dan matahari baru mulai benar-benar bersinar, kami putuskan untuk istirahat sejenak di spbu sebelum Gentong. Benar saja, ternyata karbu motor teman saya kurang cocok, akhirnya bongkar motor sebentar untuk menukar karbu. Lumayahlah setelah dua jam di motor bisa istirahat dulu. Sambil istirahat, saya kembali cek jalur yang akan kami lewati menuju Kuningan.

Ternyata, jika dihitung waktunya, jika kami ke Kuningan dulu, kemungkinan kami masuk jalur Salem sudah lebih sore dari target hitungan. Akhirnya, saya mengusulkan untuk merubah plan awal menuju Kuningan lalu Salem menjadi sebaliknya. Setidaknya jika kami kemalaman di jalur Kuningan, toh tinggal jalur pulang yang sudah tidak asing lagi bagi kami. Tapi kalau kemalaman di jalur Salem, kami tidak mau ambil resiko.

Sepakat, kami akan menuju Salem terlebih dahulu, artinya, tujuan kami berikutnya yaitu Majenang. Jalur awal yang akan kami ambil tadinya melalui Pagerageung – Panjalu – Panawangan – Cikijing – Darma – Kota Kuningan – Luragung – Cibingbin pun kami ganti menjadi mengikuti jalur utama (Jalan Provinsi) menuju Majenang. Artinya kami akan melewati Ciamis, Banjar, Wangon, lalu Majenang. Tidak apa-apalah lewat jalan yang rame dulu sebelum nyungsep di gunung.

Malangbong – Majenang

Sekitar satu jam kami berhenti di SPBU, kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Rencananya kami akan berhenti lagi untuk mencari sarapan. Entah kenapa, pagi itu saya pengen banget mie goreng. Berhubung begitu keluar SPBU ada warung-warung kecil dan jualan mie instan, kami pun berhenti lagi. Sekitar tiga puluh menit, kami melanjutkan perjalanan. Urusan ke Atm, bensin, otak-atik motor, kamar mandi, dan sarapan sudah beres jadi kali ini kami akan jalan non stop hingga sampai di Majenang.

Jalur yang berikutnya kami lewati yaitu Gentong. Kali ini Gentong sangat sepi, hanya ada motor kami dan dua motor warga saja yang melaju menuju arah Timur. Langit di atas kami mulai mendung, tapi di kejauhan di arah Timur nampaknya cerah. Memasuki Kadipaten, arus lalu-lintas kembali ramai. Sesekali kami kembali harus menyusul bus di sepanjang Ciawi hingga memasuki Rajapolah. Di Rajapolah, kami belok menuju Cihaurbeuti, jalan lingkar luar menuju Ciamis tanpa harus melewati Kota Tasikmalaya.

Jalur Ciahurbeuti yang dominan lurus dan sedang sepi-sepinya membuat motor dipacu hingga kecepatan 100 Km (mungkin lebih). Tidak terasa, kami pun keluar dari jalur Cihaurbeuti dan masuk daerah Cikoneng, Ciamis. Kami sepakat untuk lewat jalur lingkar luar Ciamis agar lebih sepi. Arah yang kami ambil menuju jalur lingkar luar Ciamis sama dengan jalur yang menuju area Taman Makam Pahlawan di Ciamis. Ada yang menarik di sepanjang jalan di Ciamis. Di dekat sekolah-sekolah, akan ditemui papan rambu jalan bertuliskan E=MC2 milik Einstein.

Saking kami ga ngerti apa maksud rambu jalan tadi dipasang di dekat area sekolah, kami sampai berhenti dulu untuk mengambil fotonya. Kembali ke jalur lingkar luar Ciamis. Tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Ciamis, akan ditemui persimpangan menuju Jembatan Cirahong. Jalur lingkar luar Ciamis ini cukup lebar, malah jauh lebih lebar dari jalur utama Ciamis melalui kota, tapi sayang kondisinya kurang bagus. Lalu lintasnya sangat sepi, malah lebih mirip jalan di komplek-komplek perumahan di Bandung saking sepinya. Sesekali hanya truk dan sepeda motor warga saja yang melintas disini.

Sekitar pukul 11.00 WIB kami keluar dari jalur lingkar luar Ciamis. Cuaca sudah kembali berubah dari mendung dan berangin menjadi cerah dan terik ketika memasuki Cikoneng. Otomatis, sekarang saya merasa ngantuk. Kami melipir sebentar di SPBU untuk isi angin kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju Majenang. Arus lalu lintas kembali ramai. Kali ini ramai oleh sepeda motor yang kebanyakan menuju arah Pangandaran.

Memasuki Banjar, arus lalu lintas kembali sepi, kami bisa sedikit tancap gas lagi. Kami berhenti sebentar di tugu perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah untuk foto-foto. Bagi kami berdua yang tiap tahun dari kami masih kecil mudik ke arah Timur, sebenarnya sudah tidak terhitung berapa kali melewati tugu ini, tapi baru tahun 2017 ini kami bisa berhenti dan foto-foto di tugu perbatasan.

Tidak berlama-lama, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Majenang. Jalur yang kami lewati cukup mulus, sepi, dan berkelok. Kanan dan kiri jalan didominasi hutan karet. Hilang sudah ngantuk saya. Motor sedikit dipacu lebih cepat. Beberapa kali kami menyusul mobil pribadi dan motor warga. Sekitar pukul 11.30 WIB kami sudah tiba di Majenang.

Majenang – Salem

Kami memutuskan untuk berhenti lagi di Masjid Agung Majenang untuk solat dan mengatur ulang rute yang akan kami lewati. Pukul 12.15 WIB setelah semua urusan beres, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini gps sudah di set menuju Kalibaya, Salem sebagai tempat berhenti kami berikutnya. Tujuan kami memang menyusur jalur Salem dan memang berencana untuk banyak berhenti mengambil foto jika ada spot yang menarik di sepanjang jalur Salem. Itulah mengapa saya kepikiran untuk membalik rute dari rencana awal.

Kami masuk ke jalan menuju Salem. Baru beberapa meter kami keluar dari jalan raya utama, jalan di depan kami sudah merupakan tanjakan panjang yang cukup curam. Setelah itu, yang kami temui hanya tanjakan, tanjakan, dan tanjakan. Tidak lupa sesekali jalur yang kami lewati memasuki hutan pinus dan sawah. Jalannya pun tidak lurus, tetapi sudah mulai berkelok-kelok.

Setelah melewati jembatan cukup lebar, jalan yang kami lewati makin mengecil dan masuk ke dalam hutan pinus. Disini, tanjakan dan tikungan yang cukup tajam langsung menyambut kami. Bahkan ada beberapa longsor kecil di beberapa tanjakan yang kami lalui. Cuaca pun langsung berubah total. Sinar matahari sudah tidak dapat kami rasakan lagi, meskipun langit tidak mendung. Pohon pinus cukup rapat, ditambah angin yang membawa awan hujan dari arah pantai (Selatan) ke arah utara (lokasi kami saat ini).

Jalan masih monoton tikungan tajam dan tanjakan panjang sampai akhirnya kami tiba di depan gapura perbatasan Kabupaten Cilacap dengan Kabupaten Brebes. Lah, berarti jalur yang tadi kami lewati itu bukan Salem. Saya kira, sudah masuk Salem semenjak masuk hutan pinus. Kami berhenti dulu untuk mengambil foto gapura perbatasan. Tidak sengaja, saya melihat jalan kecil di kanan kami, masuk ke hutan pinus. Jalannya kecil, tapi cukup bagus.

Kami akhirnya tegoda untuk belok kanan ke arah jalan kecil menuju hutan pinus. Mungkin kalau ini alur cerita di film-film horror atau thriller, ini adalah awal mula masalah. Untungnya bukan. Malahan, kondisi jalan semakin ke dalam hutan masih tetap baik. Aspal sekelas jalan desa sesekali berlubang kecil dan berserakan pasir kami temui ketika sedikit keluar dari hutan pinus. Namun, ketika kembali memasuki hutan pinus, kondisi jalan kembali membaik.

Kami sempat berpapasan dengan beberapa motor warga. Kalau tidak salah, di gapura tempat kami berhenti ada papan penunjuk jalan dan ada kampung di arah yang sedang kami tuju ini. Entah sudah berapa kilo kami masuk menyusuri jalan di tengah hutan pinus ini, yang pasti kami sudah tidak pernah lagi berpapasan dengan warga. Kami pun berhenti untuk mengambil foto. Begitu kami turun dan melepas helm, nyamuk langsung menyerbu kami. Nyamuk disini ganas-ganas.

Kami jalan lagi beberapa meter kemudian berhenti lagi. Kali ini di sisi kiri jalan, ada area yang sedikit datar dan cocok untuk hammockan. Kami memang niat untuk foto-foto dan hammockan di jalur ini. Baru juga teman saya selesai parkir motor, ada dua orang bapak jalan dari arah yang berlawanan dengan kami. Begitu kedua bapak ini mendekat, ternyata warga setempat yang sedang ngangon kerbau.

Setidaknya ada tujuh kerbau yang sedang diangon dan langsung berhenti di tempat yang semula akan kami jadikan lokasi hammockan. Untung belum pasang hammock, bisa-bisa diseruduk rombongan kerbau. Melihat awan diatas kami semakin mendung, kami pun membatalkan niat untuk membuka hammock. Kami pun pamitan dan kembali ke arah gapura lalu menuju Salem.

Salem, Kabupupaten Brebes, Jawa Tengah

Tidak lama setelah kami melewati perbatasan Kabupaten Cilacap – Kabupaten Brebes, jalan didepan kami berubah dari aspal menjadi aspal yang dilapisi pasir dan kerikil. Ditambah lagi ada dua truk logistik miliki sebuah mini market yang harus banget kami susul. Di belakang truk ini sama saja cari masalah, debunya ga nahan. Dari titik ini, kondisi jalan terus menurun. Meskipun tidak terlalu terlihat, tapi sebenarnya jalur ini merupakan turunan sangat panjang dan cukup curam.

Jalanan terus turun sampai keluar dari hutan dan masuk ke sebuah desa. Inilah yang namanya Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kota kecamatan yang sore ini nampak sejuk. Sekeliling kota kecamatan ini dibentengi oleh jejeran pegunungan. Pegunungan yang entah apa namanya yang baru saja kami lewati dan Pegunungang Pasir Panjang di depan sana yang akan menjadi jalur kami nanti.

Sedari memasuki Majenang, kami udah niat makan bakso kampung, sayangnya belum nemu yang cocok. Kami pun mencari tukang bakso di Salem sini. Setelah gagal di warung bakso pertama, kamipun berhasil menemukan warung bakso yang lumayan rekomen. Bakso yang dijual ada bakso ikan, bakso ayam, dan bako daging. Ada juga mie ayam. Sudah pasti kami memesan bakso.

Meskipun sedang berada di pusat kota kecamatan, tapi suasananya mirip-mirip di pinggiran kota Bandung. Adem, sepi, rumah tertata rapih, masih bergaya ala perumahan non real eastate maupun cluster, jalannya pun cukup baik meskipun kecil dan masih tetap menurun. Cuaca sore ini di Salem benar-benar bikin kami mager.

Tidak lupa kami cek posisi dan jalur. Ternyata, jalur yang kata orang-orang bikin jantungan itu, belum kami lewati. Kami baru sampai di Salem, sementara jalur tersebut merupakan jalur perbatasan antara Kecamatan Salem dengan Kecamatan Banjarharjo. Kalibaya tempat yang akan kami kunjungi pun ternyata masih jauh. Tepat pukul 15.00 WIB kami melanjutkan perjalanan.

Salem – Puncak Gunung Lio

Tidak jauh dari tempat kami makan bakso, kami menemui persimpangan cukup besar. Bila ke arah kanan, jalur akan tembus ke Bumiayu, sementara yang lurus adalah yang menuju Banjarharjo. Setelah persimpangan, kami melewati sebuah jembatan cukup lebar. Jembatan ini cukup familiar. Beberapa hari yang lalu, saya sempat dikirimi foto jembatan ini oleh salah satu teman yang pernah melintas di jalur Salem.

Kami pun melintasi jembatan dan kembali bertemu dengan persimpangan. Kami pun mengambil jalan ke kiri. Jalan langsung menanjak dan tidak jauh, kami kembali bertemu persimpangan. Sebenarnya, di persimpangan kedua ini ada papan penunjuk jalan. Berhubung semua namanya asing, jadi kami lurus saja terus. Jalan terus menanjak. Panjang dan curam. Untungnya kondisi jalan sangat baik. Aspal mulus meskipun ada di desa. Iseng, saya pun mengecek jalur. Ternyata kami salah jalan.

Sebenarnya kalau kami terusin, nanti pun kami akan bertemu lagi persimpangan dengan jalur yang harusnya kami lalui. Tapi karena biar ga buang waktu, jadi kami memilih putar balik. Jalur yang kami ambil ini merupakan jalur menuju objek wisata Ranti Canyon, Bukit Panenjoan, dan Bukit Bintang yang berada tepat di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kalau saja waktu kami masih banyak, sepertinya semua tempat tadi akan kami datangi. Kami pun putar balik.

Setelah repot riding di turunan yang ga ada selow-selownya ini, kami pun langsung belok kiri. Sebelumnya, masih sempat kami berhenti untuk foto. Setelah belok, ternyata di kiri jalan terpampang besar peta wisata Kecamatan Salem. Yang kaya gini ga boleh sampai kelewat didokumtasikan. Kami pun jalan lagi. Ga seberapa jauh kami jalan, kami pun tergoda oleh pemandangan di sisi kanan kami.

Hamparan sawah yang saat itu sedang berwarna hijau cerah dengan pematang yang sedikit berbentuk, dan jejeran pegunungan yang tampak berlapis sebagai latarnya sukses membuat kami berhenti untuk foto-foto lagi. Untungnya, di sisi kiri jalan merupakan toko yang saat itu sedang tutup, jadi saya bisa ikut mengambil posisi untuk mengambil gambar dari situ. Karena, kalau posisi mengambil gambarnya tepat di pinggir jalan, kurang greget hasilnya.

Puas mengambil beberapa gambar, kami pun jalan lagi. Inilah jalur Salem yang sebenarnya. Yang cukup tenar dengan banyak ‘katanya’. Meninggalkan pusat Desa Bentar, kami kembali disambut oleh hutan, tanjakan panjang dan tikungan tajam. Kondisi jalan kembali sepi, hanya ada motor kami saja. Langit kembali menjadi berwarna kelabu. Untung hanya kabut.

Ternyata benar kata orang-orang tentang referensi Jalur Salem ini. Tikungannya sadis, hutannya masih rapet banget, dan sangat sepi. Tanjakan demi tanjakan dan tikungan-tikungan sadis kami lewati. Saya sudah tidak bisa lagi merekam dan mengambil foto jalur yang kami lalui karena cuku susah kalau satu tangan pegang hp, satu tangan pegangan ke motor. Kami pun tiba di tujuan terakhir kami di Salem, Objek Wisata Kalibaya.