RSS

CURUG WEDUS/GEDUS

Secara administratif, Curug Wedus berada di Dusun Bubuay, Desa Sepatnunggal, Kecamatan Sodong Hilir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°32’31.9″S 108°04’23.1″E. Aliran Curug Wedus berasal dari aliran Sungai Cisodong. Curug Wedus memiliki lebar kurang lebih 50 m dan tinggi 10 m. Curug Wedus sudah merupakan salah satu objek wisata yang mulai berkembang. Pengelolaannya saat ini masih oleh warga setempat.

Secara keseluruhan, akses menuju Curug Wedus sudah baik dan tidak terlalu sulit untuk dicari. Berikut beberapa uraian mengenai akses menuju Curug Wedus.

TASIKMALAYA – CIBALONG – CURUG WEDUS

Arahakan kendaran menuju Kecamatan Karangnunggal. Kondisi jalan sudah cukup baik dan merupakan jalan utama penghubung Kota Tasikmalaya – Cipatujah. Patokan pertama yaitu pertigaan menuju jalan menuju Pamijahan. Persimpangan tersebut berada di Kecamatan Cibalong dan terletak pada koordinat -7.513961, 108.181034. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju gapura kawasan objek wisata religi Pamijahan.

Kondisi jalan dari Kecamatan Cibalong hingga memasuki Kecamatan Bantarkalong sudah sangat baik, namun medan yang dilalui akan melewati perbukitan. Jalan akan terus menjak hingga memasuki Kecamatan Parungponteng. Ikuti jalan utama hingga bertemu persimpangan pada koordinat -7.509947, 108.089190 di Desa Karyabakti, Kecamatan Parungponteng. Ambil kiri pada persimpangan ini.

Ikut terus jalan utama dengn kondisi baik hingga bertemu kembali persimpangan pada koordinat -7.521505, 108.074437 yang sudah berada di Desa Sepatnunggal, Kecamatan Sodong Hilir. Ambil kiri pada persimpangan ini. Kondisi jalan akan semakin kecil dengan aspal yang sudah mengelupas. Jalan akan berada di sisi aliran Sungai Cisodong. Ikuti terus jalan utama hingga tiba di area parkir menuju Curug Wedus. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 45,3 Km dalam waktu kurang lebi 1 jam 36 menit.

GARUT – SALAWU – CURUG WEDUS

Arahkan kendaraan menuju Kecamatan Cilawu. Setiba di Kecamatan Cilawu, ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmlaya. Patokan pertama yaitu SPBU Salwu. Setelah SPBU Salawu akan ditemui persimpangan Warungpeuteuy pada koordinat -7.376926, 108.050451. Ambil kanan pada persimpangan ini. Ikuti terus jalan raya utama melewati Kecamatan Puspahiang kemudian Kecamatan Taraju.

Memasuki Desa Deudeul, Kecamatan Taraju, tepatnya di ruas Jalan Gunung Walanda – Taraju akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.433749, 108.029780. Ambil arah kiri, menuju jalan yang menurun pada persimpangan ini. Ikuti terus jalan raya utama hingga tiba di patokan berikutnya, yaitu Alun-Alun Kecamatan Sodong Hilir. Alun-alun Kecamatan Sodong Hilir berada pada koordinat -7.488719, 108.052863. Ambil kanan di Alun-alun Sodong Hilir.

Tidak terlalu jauh dari belokan pertama, akan ditemui pertigaan pada koordinat -7.488966, 108.052142. Ambil kiri pada pertigaan ini menuju Desa Sepatnunggal. Pertigaan ini merupakan pertigaan pertama bila datang dari arah Utara ataupun Timur. Ikuti terus jalan utama hingga memasuki Desa Sepatnunggal. Kondisi jalan dari persimpangan Warungpeuteuy hingga Kecamatan Puspahiang akan cukup buruk. Akan banyak ditemui lubang cukup dalam dan jalan amblas hingga memasuki Kecamatan Puspahiang.

Kondisi jalan dari Kecamatan Puspahiang hingga Desa Deudeul sudah cukup baik. Jalan sudah dalam kondisi aspal, hanya saja ada beberapa titik jalan amblas. Kondisi jalan dari persimpangan di Desa Deudeul hingga Alun-Alun Kecamatan Sodong Hilir sudah baik. Hanya saja tanjakan dan turunannya cukup panjang dan jarak antar tikungannya cukup pendek. Kondisi jalan dari Alun-Alun Kecamatan Sodong Hilir hingga memasuki Desa Sepatnunggal akan cukup buruk. Jalur makadam dengan medan yang menurun terus akan dijumpai seanjang perjalanan.

Tepat ketika akan memasuki Desa Sepatnunggal, jalan akan masuk ke area perkebunan. Disini, kondisi jalan akan sangat gelap dan sepi karena tidak ada penerangan jalan dan tidak ada permukiman warga. Jalan akan berujung pada percabangan pada koordinat -7.513850, 108.070562 di Desa Sepatnunggal.

Ambil kiri pada percabangan jalan ini. Tidak jauh dari percabangan sebelumnya, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.513921, 108.071123. Ambil kanan pada persimpangan ini. Persimpangan kedua merupakan pertemuan dengan jalur dari arah Kecamatan Cibalong melalui Kecamatan Parungponteng dan Kecamatan Bantarkalong. Ikuti jalan utama hingga tiba di area parkir Curug Wedus. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 59,6 Km dalam waktu kurang lebih 2 jam 26 menit.

Perjalanan dari area parkir Curug Wedus hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu tempuh normal dari parkiran hingga area Curug Wedus kurang lebih 15 menit dengan jarak 200 m. Jalur treking akan melewati pematang sawah dan aliran Sungai Cisodong. Akan ditemui jembatan gantung yang kondisinya sudah tidak layak guna, namun masih bisa dijadikan sebagai lokasi untuk mengambil foto. Aliran Sungai Cisodong sudah pernah dibendung, namun kondisinya sudah tidak baik. Terbukti dengan adanya bekas reruntuhan dan longsoran pada bagian atas Curug Wedus.

Area di sekitar Curug Wedus sudah ditata dan sudah banyak warung. Disediakan pula pelampung, ban, ruangan ganti, dan sudah ada kursi-kursi yang terbuat dari bambu di area sekitar Curug Wedus. Aliran Curug Wedus sebelah kanan (bila menghadap air terjun) biasanya banyak digunakan oleh pengunjung sebagai lokasi berenang. Sisi kiri Curug Wedus (bila menghadap air terjun) lebih banyak digunakan pengunjung sebagai lokasi untuk bermain air saja. Hal ini dikarenakan aliran Curug Wedus di sisi kanan memiliki kolam cukup luas dan dalam, serta terpisah dari sistem sungai.

Secara keseluruhan, Curug Wedus memiliki klasifikasi dominan Block & Paralel Waterfall. Klasifikasi ini muncul karena lebarnya aliran Sungai Cisodong yang jatuh menjadi Curug Wedus serta adanya runtuhan bendungan yang memisahkan aliran jatuah Curug Wedus dimulai dari tepi tebing. Masing-masing aliran jatuhan Curug Wedus yang terbagi ini (sisi kanan dan kiri) sama-sama memiliki aliran jatuhan yang lebar.

Aliran jatuhan Curug Wedus sisi kanan (bila menghadap air terjun) memiliki klasifikasi dominan Block Waterfall. Pada musim hujan akan muncul klasifiaksi Cataract Waterfall. Sedangkan pada musim kemarau, akan muncul klasifikasi Paralel & Horsetail dan Tiered Waterfall. Aliran jatuhan Curug Wedus sisi kiri (bila menghadap air terjun) memiliki klasifikasi dominan Block & Multi Step Waterfall. Pada musim hujan akan muncul klasifikasi Cataract Waterfall sedangkan pada musim kemarau akan mucuk klasifikasi Paralel & Horsetail Waterfall.

Pada aliran jatuhan sisi kiri Curug Wedus (bila menghadap air terjun) bagian paling ujungnya akan membentuk beberapa tingkatan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Bentukan ini memunculkan klasifikasi Multi Step Waterfall. Bagian inilah yang dijadikan jalur oleh pengunjung untuk menuruni air terjun. Apabila dari area parkir, pengunjung akan tiba di bagian atas Curug Wedus, sehingga untuk sampai di area Curug Wedus harus dengan cara menuruni dinding air terjun. Meskipun tidak terlalu curam, tetapi pengunjung harus tetap berhati-hati, terutama jika musim hujan.

Sebenarnya terdapat satu akses lagi menuju area Curug Wedus, yaitu tepat setelah bekas bendungan pertama, sebrangi aliran Sungai Cisodong menuju aliran irigasi. Ikuti aliran irigasi hingga ke jalan setapak kecil menuju area Curug Wedus. Jalan setapak akan muncul tepat di belakang warung-warung di area Curug Wedus. Aliran irigasi ini memiliki posisi yang menggantung di tebing. Jarak dari saluran irigasi hingga ke dasar jurang yang merupakan aliran Sungai Cisodong cukup tinggi. Sangat disarankan untuk berhati-hati jika memilih jalur melewati saluran irigasi.

Curug Wedus merupakan air terjun semi permanen, artinya pada musim kemarau, alirannya tidak akan kering total. Aliran Curug Wedus pada musim kemarau akan mengalami penurunan debit yang cukup besar, namun tidak sampai kering total. Berdasarkan informasi dari warga yang menjaga area Curug Wedus, tidak disarankan berada di areal Curug Wedus dari selepas Magrib. Sebelum Magrib, seluruh pengunjung sudah harus meninggalkan area Curug Wedus.

Artikel lainnya mengenai Curug Wedus, dapat dilihat pada link berikut ini:

http://ngabolangngabolang.blogspot.co.id/2015/06/curug-gedus-tasikmalaya.html

http://hayutravelling.blogspot.co.id/2016/01/ekspedisi-curug-gedus-di-sodonghilir.html

http://jalanjalancurug.blogspot.co.id/2016/03/jalan-jalan-ke-curug-di-kabupaten_12.html

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 19, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

CURUG EPOT

Curug Epot berada di Kampung Cipicung, Desa Luyubakti, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dan berada pada koordinat -7.446289, 108.091355. Terdapat penamaan lain selain Curug Epot untuk air terjun ini, yaitu Curug Luhur dan Curug Cikuya, namun, yang lebih dulu populer adalah nama Curug Epot. Berdasarkan keterangan beberapa warga setempat, Epot merupakan nama orang yang dituakan di kampung tersebut dan yang selalu membersihkan area di sekitar air terjun.

Secara keseluruhan, akses menuju Curug Epot sudah cukup mudah. Berikut beberapa ulasan jalur menuju Curug Epot.

TASIKMALAYA – PUSPAHIANG – CURUG EPOT

Arahkan kendaraan menuju Singaparna. Setelah tiba di Singaparna, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Salawu. Patokan pertama yaitu pertigaan Warungpeuteuy yang berada pada koordinat -7.376965, 108.050397. Ambil kiri pada persimpangan ini. Kondisi jalan dari Kota Tasikmalaya hingga pertigaan Warungpeuteuy sudah sangat baik dengan arus lalu-lintas yang cukup ramai.

Setelah memasuki jalur Salawu – Puspahiang, jalan akan sedikit mengecil dan kondisinya akan mulai rusak. Banyak lubang besar dan lubang kecil namun cukup dalam di sepanjang jalur hingga memasuki Kecamatan Puspahiang. Bila malam hari, jalur ini akan sangat gelap karena tidak ada penerangan jalan. Kendaraan yang melintas jika malam hari akan didominasi oleh truk pengangkut pasir, kayu dan bambu. Pada pagi hingga sore hari lebih didominasi oleh sepeda motor, ELF, dan terkadang truk pengangkut pasir.

Patokan berikutnya yaitu alun-alun Kecamatan Puspahiang. Setelah melewati alun-alun, akan terdapat persimpangan tepat ketika jalan raya utama menikung ke arah kanan. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.422370, 108.051151. Ambil jalur kiri pada persimpangan ini dan keluar dari jalur utama Puspahiang – Taraju. Selanjutnya, ikuti jalan desa.

Kondisi jalan akan semakin mengecil lagi, namun kondisinya tetap baik. Medan yang dilalui akan berupa turunan hingga tiba di dasar bukit. Jalan kemudian akan kembali menanjak dan memasuki wilayah Desa Luyubakti. Akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.431651, 108.084985, ambil arah kanan di persimpangan ini. Berikutnya akan ditemui persimpangan kedua pada koordinat -7.434842, 108.087946, ambil kanan di persimpangan ini.

Jalur akan menurun terus hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.438119, 108.087742, ambil jalan paling kiri. Kondisi jalan akan berubah menjadi makadam dengan medan turunan. Ikuti jalan hingga bertemu jembatan. Parkirkan kendaraan di sekitar jembatan atau titipkan di rumah warga. Perjalanan berikutnya hanya akan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jarak dan waktu tempuh yang tertera pada peta yaitu 36,2 Km dalam waktu kurang lebih 1 jam 29 menit.

GARUT – PUSPAHIANG – CURUG EPOT.

Arahkan kendaraan menuju Kecamatan Cilawu. Ikuti jalur Cilawu – Salawu yang juga merupakan jalur penghubung antara Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya. Kondisi jalan sepanjang Cilawu hingga Salawu akan berkelok-kelok dan rawan longsor di musim hujan. Pada malam hari, arus lalu-lintas akan sangat gelap dan sepi, namun pagi hingga sore hari arus lalu-lintas akan cukup ramai.

Patokan pertama yaitu SPBU Salawu. Tidak jauh dari SPBU Salawu akan ditemui persimpangan Warungpeuteuy yang terletak di koordinat -7.376965, 108.050397. Ambil kanan pada persimpangan ini. Jalur berikutnya yaitu jalur yang sama dengan jalur dari arah Kota Tasikmalaya. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta yaitu 43,9 Km dalam waktu kurang lebih 1 jam 30 menit.

KAMPUNG CIPICUNG – CURUG EPOT

Perjalanan dari Kampung Cipicung menuju Curug Epot hanya dapat diteruskan dengan berjalan kaki. Jalur treking cukup membingungkan karena akan ditemui beberapa persimpangan di pematang sawah dan kebun warga. Jika ragu, disarankan bertanya atau meminta antar penduduk setempat. Jalur treking akan melewati kebun dan pematang sawah hingga di lokasi Curug Epot. Jalur trekking akan tiba di tingkatan pertama Curug Epot. Untuk menuju tingkatan paling bawah, bisa turun lagi melalui jalan setapak yang cukup curam atau menuruni dinding air terjun.

Curug Epot merupakan air terjun non permanen, artinya airnya akan kering jika musim kemarau. Curug Epot secara keseluruhan memiliki klasifikasi Multi Step Waterfall. Curug Epot memiliki setidaknya memiliki empat tingkatan. Tingkatan pertama merupakan yang tertinggi dan cukup vertikal. Tingkatan lainnya sedikit melandai, bahkan terdapat bebatuan yang menonjol di dinding air terjunnya yang dapat digunakan sebagai pijakan.

Tingkatan pertama Curug Epot memiliki klasifikasi dominan Paralel Waterfall. Klasifikasi lainnya yaitu Horsetail dan Tiered Waterfall. Aliran jatuhan pada tingkatan pertama akan terbagi menjadi dua aliran tepat di tengah lintasan, bukan terbagi ketika jatuh dari tepi tebing. Hal inilah yang memunculkan klasifikasi Paralel. Permukaan dinding air terjun memiliki karaktersitik batuan yang tidak rata, sehingga cenderung membentuk jenjang kecil sepanjang lintasan jatuhan. Hal inilah yang memunculkan klasifikasi Tiered.

Tingkatan kedua hingga keempat Curug Epot masing-masing memiliki klasifikasi dominan Horsetail Waterfall. Sama dengan permukaan dinding pada tingkatan pertama, tingkatan kedua hingga keempat pun memiliki karaktersitik batuan yang tidak rata, sehingga membentuk jenjang kecil. Jenjang-jenjang kecil ini dapat dipergunakan sebagai pijakan bila ingin memanjat atau menuruni masing-masing tingkatan Curug Epot.

Seluruh tingkatan Curug Epot memiliki area datar yang cukup luas sebelum akhirnya air jatuh kembali membentuk tingkatan kedua, ketiga, dan keempat. Kolam cukup dalam hanya akan ditemui di tingkatan pertama dan keempat. Pada tingkatan keempat, kolam air terjun sudah langsung bergabung kembali menjadi sistem sungai. Pada tingkatan kedua dan ketiga, kolam belum terbentuk sempurna, masih merupakan permukaan batuan yang membentuk cekungan cukup dalam akibat tergerus aliran air.

Belum terdapat fasilitas apapun di sekitar Curug Epot, sehingga disarankan membawa logsitik masing-masing. Area di sekitar Curug Epot juga cukup sempit. Bila musim hujan, seluruh jalur treking yang merupakan jalan tanah akan sangat licin dan berlumpur.

 
Leave a comment

Posted by on October 17, 2017 in AIR TERJUN, Travelling

 

SITU CIHAURGEULIS

Secara administratif, Situ Cihaurgeulis berada di Dusun Cibeurih, Desa Sukahurip, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°16’26.2″S 108°30’02.0″E. Situ Cihaurgeulis merupakan danau buatan yang dibangun oleh pemerintah Kabupaten Ciamis. Situ Cihaurgeulis memiliki luas genangan kurang lebih 3,58 Ha. Situ Cihaurgeulis memiliki kedalaman yang bervariasi yaitu 0,5 meter di bagian timur laut dan yang paling dalam berada di sebelah tenggara yang mencapai kedalaman 6 – 10m.

Secara keseluruhan, akses menuju Situ Cihaurgeulis sudah cukup mudah dengan kondisi jalan yang baik. Berikut uraian jalur menuju Situ Cihaurgeulis dari Bandung dan Cirebon.

Bandung – Kawali – Situ Ciahurgeulis

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Kadipaten melalui Nagreg – Limbangan – Malangbong. Ikuti jalan provinsi hingga melewati Gentong (perbatasan Kabupaten Garut – Kabupaten Tasikmalaya). Setelah melewati Gentong, patokan pertama yaitu pertigaan di Pasar Kadipaten, kabupaten Tasikmalaya. Pertigaan ini berada pada koordinat -7.125025, 108.145547. Ambil arah kiri pada pertigaan ini. Jalur ini disarankan untuk menghindari arus lalu lintas yang akan cukup padat dari Kadipaten hingga Cisaga, terutama pada akhir pekan.

Ikuti jalan raya utama hingga memasuki Kecamatan Pagerageung. Kondisi jalan akan sedikit lebih kecil dibandingkan jalan provinsi. Memasuki Kecamatan Pagerageung, jalan akan terus didominasi oleh tanjakan. Jika melintas di jalur ini pada malam hari akan cukup sepi dan gelap karena tidak ada penerangan jalan.

Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya yang berada pada koordinat -7.125049, 108.217288. Tidak jauh dari gerbang Pondok Pesantren Suryalaya akan ditemui persimpangan dengan jalur dari arah Cihaurgeulis pada koordinat -7.125560, 108.219203. Lurus terus pada persimpangan ini hingga tiba pada persimpangan menuju Situ Lengkong pada koordinat -7.128402, 108.265018. Ambil kanan pada persimpangan ini menuju area parkir Situ Lengkong.

Arahkan kendaraan menuju alun-alun Panjalu yang berada pada koordinat -7.134585, 108.269500. Setelah melewati alun-alun Panjalu, ikuti terus jalan utama hingga tiba di Desa Lumbung. Setiba di Desa Lumbung jalan akan berujung di sebuah perismpangan besar pada koordianat -7.177386, 108.364036. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menjuj Desa Winduraja. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan dengan jalan menuju Rajadesa pada koordinat -7.165331, 108.371848. Ambil arah kanan menuju Rajadesa.

Ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Jatinegara – Kecamatan Rajadesa. Setiba di alun-alun Rajadesa, terus ikuti jalan utama hingga jalan bertemu persimpangan pada koordinat -7.204651, 108.489652. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan raya utama menuju alun-alun Kecamatan Rancah. -7.197844, 108.503496. Setelah melewati alun-alun Rancah akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.198941, 108.505503.

Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Rancah. Ikuti jalan raya utama hingga bertemu persimpangan dengan jalan masuk menuju Situ Cihaurgeulis pada koordinat -7.273358, 108.498454. Belok kiri pada koordinat ini. Jalan menuju Situ Cihaurgeulis merupakan jalan kecil dan hanya diberi tanda baligo di sisi kanan jalan (bila dari arah Rancah)

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 132 Km dalam waktu 4 jam 22 menit.

 

Cirebon – Panawangan – Situ Cihaurgeulis

Arahkan kendaraan dari Cirebon menuju Cigugur, Kuningan melalui Cirendang. Setelah tiba di Cigugur, arahkan kendaraan menuju Waduk Darma pada koordinat -7.003002, 108.406223. Setiba di Waduk Darma, arahkan kendaraan menuju Alun-alun Cikijing yang terletak pada koordinat -7.017868, 108.369273. Setalah alun-alun Cikijing akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.016252, 108.365690. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Panawangan.

Kondisi jalan akan didominasi oleh jalan aspal dan akan cukup ramai setiba di alun-alun Cikijing. Jalur Cikijing – Panawangan akan didominasi oleh jalan berkelok-kelok dan akan sangat sepi jika malam hari. Setelah belok kiri di Cikijing, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.025899, 108.351537. Ambil arah kiri pada persimpangan ini.

Ikuti terus jalan utama hingga bertemu persimpangan dengan jalur menuju Rajadesa di koordinat -7.165337, 108.371859. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Jalur berikutnya akan sama dengan jalur yang datang dari arah Kawali.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 107 Km dalam waktu 3 jam 18 menit.

Setiba di area Situ Cihaurgeulis, pengunjung harus membayar retribusi. Sudah terdapat jalan untuk mengelilingi sebagian area Situ Cihaurgeulis. Area di sekeliling Situ Cihaurgeulis memiliki cukup banyak pepohonan, sehingga jika berkunjung pada siang hari tidak terlalu terik.

Situ Cihaurgeulis sudah 60% nya dikelilingi jalan berukuran kurang lebih dua meter dari sisi Barat hingga sisi Timur yang dapat dilalui sepeda motor dan mobil. Situ Cihaurgeulis berfungsi sebagai sumber air untuk wilayah Noong, area persawahan di sekitarnya, budidaya ikan Mas serta sebagai objek tujuan wisata.

Fasilitas yang ada di Situ Cihaurgeulis masih dalam tahap pembenahan. Setidaknya sudah ada beberapa saung dan warung-warung di sekeliling area Situ Cihaurgeulis. Serta dermaga dari bambu dan jembatan bambu di area Situ Ciahurgeulis.

Artikel lainnya mengenai Situ Cihaurgeulis:

http://ciamissuka-suka.blogspot.co.id/2013/03/situ-cihaurgeulis-cisaga-kabupaten.html

http://desasukahuripkecamatancisaga.blogspot.co.id/

 
Leave a comment

Posted by on September 16, 2017 in DANAU, Travelling

 

CEKDAM KADUPANDAK

Secara administrartif, Cekdam Kadupandak berada di Kampung Karangsari, Desa Kadupandak, Kecamatan Tambakasari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan berada pada koordinat -7.220406, 108.556171. Cekdam Kadupandak memiliki nama lain, yaitu Cekdam Singapraya, namun warga lebih banyak mengenal cekdam ini dengan nama Cekdam Kadupandak. Nama Cekdam Kadupandak diambil dari nama desa lokasi cekdam, yaitu Desa Kadupandak.

Cekdam Kadupandak merupakan cekdam buatan yang dibangun sekitar tahun 2000-an. Fungsi utama dari Cekdam Kadupandak adalah sebagai penahan erosi, penyuplai air untuk wilayah Desa Kadupandak serta Desa Kaso, sumber air bersih untuk wilayah sekitar cekdam, objek wisata, dan budidaya ikan keramba. Jenis ikan yang ada di Cekdam Kadupandak diantaranya ikan Nila, Gurame, Tawes, dan ikan Nilem.

Tanggul Cekdam Kadupandak Jebol

Pada 1 Juni 2010, tanggul penahan di Utara sepanjang 15 m hancur akibat tidak mampu menahan gerusan air setelah wilayah Desa Kadupandak diguyur hujan lebat. Desa Tambaksari merupakan daerah dengan tingkat rawan bencana longsor yang cukup tinggi. Tercatat sudah sejak 2008 gerakan tanah di wilayah Desa Kadupandak termasuk yang cukup tinggi.

Total luas cekdam yang jebol seluas 6 Ha dan menyebabkan 195 Ha areal sawah serta tiga peternakan ayam hancur tersapu banjir bandang. Selain itu, bajir bandang juga menghancurkan Jembatan Cibeureum yang menghubngkan Dusun Sukamandi dengan Dusun Walahar. Getaran akibat hancurnya tanggul memicu longsoran tanah di beberapa titik sehingga menyebabkan rumah-rumah warga di sekitar tanggul rusak. Pembangunan tanggul kembali dilakukan pada 12 April 2013 oleh pemerintah.

Akses Menuju Cekdam Kadupandak

Akses menuju Cekdam Kadupandak termasuk cukup mudah. Jalur yang harus dilalui pun tidak terlalu sulit untuk dicari, baik dari arah Bandung, Subang, maupun Cirebon.

Bandung – Kawali – Cekdam Kadupandak

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Kadipaten melalui Nagreg – Limbangan – Malangbong. Ikuti jalan provinsi hingga melewati Gentong (perbatasan Kabupaten Garut – Kabupaten Tasikmalaya). Setelah melewati Gentong, patokan pertama yaitu pertigaan di Pasar Kadipaten, kabupaten Tasikmalaya. Pertigaan ini berada pada koordinat -7.125025, 108.145547. Ambil arah kiri pada pertigaan ini. Jalur ini disarankan untuk menghindari arus lalu lintas yang akan cukup padat dari Kadipaten hingga Cisaga, terutama pada akhir pekan.

Ikuti jalan raya utama hingga memasuki Kecamatan Pagerageung. Kondisi jalan akan sedikit lebih kecil dibandingkan jalan provinsi. Memasuki Kecamatan Pagerageung, jalan akan terus didominasi oleh tanjakan. Jika melintas di jalur ini pada malam hari akan cukup sepi dan gelap karena tidak ada penerangan jalan.

Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya yang berada pada koordinat -7.125049, 108.217288. Tidak jauh dari gerbang Pondok Pesantren Suryalaya akan ditemui persimpangan dengan jalur dari arah Cihaurgeulis pada koordinat -7.125560, 108.219203. Lurus terus pada persimpangan ini hingga tiba pada persimpangan menuju Situ Lengkong pada koordinat -7.128402, 108.265018. Ambil kanan pada persimpangan ini menuju area parkir Situ Lengkong.

Arahkan kendaraan menuju alun-alun Panjalu yang berada pada koordinat -7.134585, 108.269500. Setelah melewati alun-alun Panjalu, ikuti terus jalan utama hingga tiba di Desa Lumbung. Setiba di Desa Lumbung jalan akan berujung di sebuah perismpangan besar pada koordianat -7.177386, 108.364036. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menjuj Desa Winduraja. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan dengan jalan menuju Rajadesa pada koordinat -7.165331, 108.371848. Ambil arah kanan menuju Rajadesa.

Ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Jatinegara – Kecamatan Rajadesa. Setiba di alun-alun Rajadesa, terus ikuti jalan utama hingga jalan bertemu persimpangan pada koordinat -7.204651, 108.489652. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan raya utama menuju alun-alun Kecamatan Rancah. -7.197844, 108.503496. Setelah melewati alun-alun Rancah akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.198941, 108.505503.

Lurus terus pada persimpangan ini menuju Desa Tambaksari. Ikuti jalan utama. Kondisi jalan setelah persimpangan di Polsek Rancah akan sedikit memburuk. Medan jalan akan didominasi oleh turunan. Jalan aspal mulus dari Kawali akan berakhir di persimpangan Polsek Rancah dan akan berganti dengan jalan berlubang. Jika musim kemarau, jalan akan sangta berdebu.

Patokan berikutnya yaitu persimpangan pada koordinat -7.218259, 108.556963. Ambil kanan pada koordinat ini. Pada persimpangan jalan akan terdapat papan kayu sederhana penunjuk arah menuju Cekdam Kadupandak. Pengunjung yang datang ke Cekdam Kadupandak harus membayar retribusi sebesar Rp 4.000,00/motor. Rertibusi dibayarkan pada warga yang menjaga portal menuju area Cekdam Kadupandak.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 131 Km dalam waktu 4 jam 29 menit

Cirebon – Kuningan – Cekdam Kadupandak

Arahkan kendaraan dari Cirebon menuju Cigugur, Kuningan melalui Cirendang. Setelah tiba di Cigugur, arahkan kendaraan menuju Waduk Darma pada koordinat -7.003002, 108.406223. Setiba di Waduk Darma, arahkan kendaraan menuju Alun-alun Cikijing yang terletak pada koordinat -7.017868, 108.369273. Setalah alun-alun Cikijing akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.016252, 108.365690. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Panwangan.

Kondisi jalan akan didominasi oleh jalan aspal dan akan cukup ramai setiba di alun-alun Cikijing. Jalur Cikijing – Panawangan akan didominasi oleh jalan berkelok-kelok dan akan sangat sepi jika malam hari. Setelah belok kiri di Cikijing, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.025899, 108.351537. Ambil arah kiri pada persimpangan ini.

Ikuti terus jalan utama hingga bertemu persimpangan dengan jalur menuju Rajadesa di koordinat -7.165337, 108.371859. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Jalur berikutnya akan sama dengan jalur yang datang dari arah Panjalu.

Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 107 Km dalam waktu 3 jam 27 menit.

Area di sekitar Cekdam Kadupandak sudah dapat dikelilingi oleh mobil maupun sepeda motor. Terdapat beberapa kampung di pinggir Cekdam. Terdapat area yang cukup rimbun oleh pepohonan dan saung-saung kecil di dekat permukiman warga. Meskipun sudah dibenahi dan memang dibuka untuk tujuan wisata, namun pengunjung ke Cekdam Kadupandak tidak terlalu ramai. Warung-warung pun jumlahnya cukup sedikit.

Tulisan lainnya mengenai Cekdam Kadupandak dapat dilihat di link berikut:

http://dskdpdk.blogspot.co.id/2013/04/profil-desa.html

http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2010/06/01/114893/cekdam-jebol-195-hektar-sawah-hancur

http://kknm.unpad.ac.id/kadupandak/2013/07/30/coretan-desa-kadupandak-rizki-t-bastanta-sinuhaji/

http://dskdpdk.blogspot.co.id/2013/05/pembangunan-cekdam-singapraya.html

 
Leave a comment

Posted by on September 15, 2017 in DANAU, Travelling

 

CURUG BOJONG

Secara administratif, Curug Bojong berada di Kampung Cihandiung, Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°38’45.2″S 108°40’48.3″E. Curug Bojong merupakan satu dari sekian banyak wisata air terjun yang berada di Kabupaten Pangandaran. Curug Bojong termasuk ke dalam objek wisata selain wisata pantai yang sudah dikelola di Kabupaten Pangandaran.

Lokasi Curug Bojong berada di kawasan milik Perhutani, sehingga area di sekitar Curug Bojong masih berupa hutan sekunder/hutan produksi. Pembukaan akses wisata Curug Bojong pertama kali dilakukan pada 1 September 2013 atas permintaan warga setempat. Luas Wana Wisata Curug Bojong kurang lebih sekitar 14 Ha. Curug Bojong berada pada ketinggian 100 – 150 meter diatas permukaan laut.

Hingga kini, pengelolaan Curug Bojong dapat terlihat dari adanya pemasangan papan penunjuk arah ketika memasuki jalan Desa Sukahurip, area parkir, area camping yang bernama Buper Curug Bojong, retribusi, ruang ganti, bahkan disediakan juga pelampung bagi pengunjung. Pengunjung ditarik retribusi sebesar Rp 10.000,00/orang yang terdiri dari Rp 5.000,00 untuk Perhutani dan Rp 5.000,00 untuk karcis kerjasama dan sudah termasuk asuransi. Secara keseluruhan, akses menuju Curug Bojong sangat mudah dengan kondisi jalan yang sebagian besar sudah dalam keadaan baik. Berikut beberapa rute dapat dipilih untuk menuju ke Curug Bojong.

Bandung – Banjar – Curug Bojong

Rute ini merupakan rute utama menuju Pangandaran melewati jalan provinsi. Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Nagreg – Limbangan – Malangbong – Gentong – Ciawi – Cihaurgeulis – Ciamis – Banjar. Kondisi jalan ketika pagi hari akan cukup ramai dengan kendaraan pribadi dan bus tujuan Jawa Tengah.

Kondisi jalan yang berkelok dari mulai Limbangan dan tanjakan-tanjakan cukup panjang di daerah Malangbong akan menyebabkan antrian di beberapa titik, terutama jika lalu lintas sedang ramai dengan bus dan truk yang melintas. Secara keseluruhan, kondisi arus lalu lintas di sepanjang jalur ini cukup ramai, terutama ketika akhir pekan dan libur panjang.

Setiba di Cikoneng, terdapat dua alternatif jalur. Pertama adalah jalur utama yang melintasi alun-alun Ciamis dan yang kedua adalah jalan lingkar luar Ciamis yang masih satu arah menuju Jembatan Cirahong. Jalur lingkar luar Ciamis ini tidak akan melewati alun-alun Ciamis dan akan bertemu kembali dengan jalur utama di sekitar Cijeungjing. Tepatnya setelah Pasar Bojong jika dari arah alun-alun Kota Ciamis.

Setelah kembali ke jalan provinsi, ikuti jalan utama hingga tiba di Kota Banjar. Ambil jalan menuju Pangandaran di persimpangan pada koordinat -7.365943, 108.543502. Sepanjang jalur provinsi akan ditemui papan penunjuk jalan yang lengkap. Setelah memasuki Kota Banjar, ikuti jalan raya utama menuju Kalipucang lalu Putrapinggan.

Jalur termudah menuju Desa Sukahurip adalah melalui Putrapinggan. Patokannya yaitu SPBU Babakan yang berada di kiri jalan bila datang dari arah Banjar dan berada pada koordinat -7.673884, 108.680999. Patokan berikutnya yaitu Museum Nyamuk yang berada tidak jauh dari SPBU Babakan dan berada di kanan jalan jika datang dari arah Banjar dan berada pada koordinat -7.673951, 108.679896.

Tidak jauh dari Museum Nyamuk, akan ditemui pertigaan kecil. Di sisi kiri jalan jika dari arah Banjar akan terdapat baligo Curug Bojong yang cukup besar. Sementara, jalan menuju Desa Sukahurip berada di kanan jalan. Pertigaan menuju Desa Sukahurip berada pada koordinat -7.674929, 108.677552. Ambil arah kanan pada pertigaan ini. Setelah masuk ke jalan desa, patokan berikutnya yaitu SMP 2 Pangandaran yang berada pada koordinat -7.668015, 108.675148. Ikuti terus jalan utama desa.

Tidak jauh dari SMPN 2 Pangandaran, akan ditemui persimpangan ckup besar pada koordinat -7.666355, 108.666947. Ambil kanan pada persimpangan ini. Setelah belok kanan, akan ditemui gapura sebagai penanda memasuki area Curug Bojong. Patokan berikutnya yaitu Kantor Desa Sukahurip yang berada pada koordinat -7.663668, 108.666171. Setelah melewati Kantor Desa Sukahurip, akan ditemui pertigaan cukup besar pada koordinat -7.653393, 108.670343. Ambil arah kanan pada persimpangan ini.

Total jarak dan waktu tempuh jalur ini pada pembacaan peta adalah 213 Km dalam waktu 5 jam 49 menit.

Bandung – Rancabuaya – Curug Bojong

Jalur ini merupakan jalur terpanjang dengan waktu tempuh terlama. Jalur ini merupakan jalur yang cocok bagi yang senang menyusuri pantai-pantai di Selatan Jawa Barat. Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Pangalengan. Setelah tiba di Pangalengan, ambil jalur menuju Situ Cileunca kemudian Perkebunan Cukul. Memasuki jalur di Perkebunan Cukul, jalan akan berkelok-kelok dan berada di jalur rawan longsor. Kondisi jalan dari Pangalengan hingga Rancabuaya sudah baik dan jika akhir pekan akan cukup ramai.

Setiba di Rancabuaya, ambil arah Timur menuju Pameungpeuk. Setiba di Pameungpeuk, arahkan terus kendaraan menuju Sancang – Cipatujah – Cikalong – Cimerak. Patokan berikutnya yaitu Cijulang. Sepanjang Rancabuaya hingga Cimerak, jalur akan berada di pesisir, sehingga ada banyak pilihan lokasi untuk beristirahat di pinggir pantai. Arus lalu lintas di jalur ini termasuk yang sangat sepi serta akan sangat gelap dan sepi ketika malam hari.

Setiba di Cijulang, arahkan kendaraan menuju Parigi kemudian objek wisata Pangandaran. Setiba di persimpangan objek wisata Pangandaran, arahkan kendaraan menuju arah Kalipucang. Patokan terakhir yaitu persimpangan Putrapinggan menuju jalan Desa Sukahurip. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.652687, 108.670557. Lokasi persimpangan berada tepat sebelum Museum Nyamuk yang berada pada koordinat -7.673951, 108.679896. Ambil arah kiri pada persimpangan ini.

Setelah masuk ke jalan desa, patokan berikutnya yaitu SMP 2 Pangandaran yang berada pada koordinat -7.668015, 108.675148. Ikuti terus jalan utama desa.

Tidak jauh dari SMPN 2 Pangandaran, akan ditemui persimpangan cukup besar pada koordinat -7.666355, 108.666947. Ambil kanan pada persimpangan ini. Setelah belok kanan, akan ditemui gapura sebagai penanda memasuki area Curug Bojong. Patokan berikutnya yaitu Kantor Desa Sukahurip yang berada pada koordinat -7.663668, 108.666171. Setelah melewati Kantor Desa Sukahurip, akan ditemui pertigaan cukup besar pada koordinat -7.653393, 108.670343. Ambil arah kanan pada persimpangan ini.

Total jarak dan waktu tempuh jalur ini pada pembacaan peta adalah 289 Km dalam waktu 8 jam 29 menit.

Bandung – Cikatomas – Curug Bojong

Rute ini merupakan jalur alternatif jika mencari jalur dengan arus lalu lintas yang sepi. Jarak tempuhnya lebih jauh dibandingkan dengan melewati jalan provinsi namun lebih pendek jika dibandingkan dengan jalur yang melewati Rancabuaya.

Arahkan kendaraan dari Bandung menuju Samarang melalui Kamojang. Kondisi jalan dari Bandung hingga Samarang sudah sangat baik. Jalur akan didominasi tanjakan hingga Kamojang. Setelah tiba di Samarang, ambil arah menuju Tarogong kemudian arahkan kendaraan menuju Terminal Guntur. Setelah tiba di persimpangan dengan Terminal Guntur, ambil arah menuju Tasikmalaya.

Jalur ini merupakan jalur yang sama jika akan melakukan pendakian Gunung Cikuray melalui Dayeuhmanggung. Patokan berikutnya yaitu persimpangan dengan jalur kebun teh Dayeuhmanggung. Ikuti terus jalan utama hingga gapura perbatasan Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya. Arus lalu lintas akan cukup padat dari Samarang hingga memasuki Cilawu. Selepas Cilawu, arus lalu lintas akan sedikit sepi.

Patokan berikutnya yaitu SPBU di Kecamatan Salawu. Ikuti jalan utama hingga tiba di patokan berikutnya, yaitu Polsek Singaparna. Tepat di sebelah Polsek Singaparna akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.365581, 108.101786. Ambil kanan pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama hingga tiba di alun-alun Sukaraja. Tepat di alun-alun Sukaraja, akan ditemui persimpangan dengan jalur utama Tasikmalaya – Cipatujah. Ambil arah kanan menuju Karangnunggal.

Tidak jauh dari alun-alun Sukaraja akan ditemui persimpangan menuju arah Cikalong dan Cikatomas pada koordinat -7.464923, 108.195562. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama menuju Jatiwaras – Salopa – Cikatomas. Patokan berikutnya yaitu SPBU Cikatomas pada koordinat -7.627054, 108.262462. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Pasar Tawang. Jalur ini juga merupakan jalur yang sama dengan yang menuju Curug Dengdeng.

Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan dengan jalur Pantai Selatan Jawa Barat di daerah Cimerak. Pada persimpangan di koordinat -7.749054, 108.439555 ambil arah kiri menuju Cijulang. Rute berikutnya merupakan rute yang sama dengan jalur Rancabuaya – Curug Bojong.

Total jarak dan waktu tempuh jalur ini pada pembacaan peta adalah 225 Km dalam waktu 7 jam 26 menit.

Desa Sukahurip – Curug Bojong

Setelah belok kanan di persimpangan setelah kantor Desa Sukahurip, akan ditemui jembatan kayu cukup panjang. Tepat setelah jembatan, ambil jalan ke kanan pada koordinat -7.652687, 108.670557. Kondisi jalan dari mulai pertigaan Putrapinggan hingga jembatan kayu sudah baik, aspal mulus dengan medan yang didominasi tanjakan. Jembatan kayu masih dalam kondisi rusak dan harus berhati-hati ketika menyebrang.

Jalan setelah jembatan kayu masih dalam kondisi kurang baik. Tanah dan batu akan ditemui hingga kurang lebih 500 m. Setelah itu, permukaan jalan akan menjadi jalan rabat beton dan menanjak. Setelah jembatan, akan ditemui papan penunjuk jalan menuju Curug Bojong, namun masih dari papan kayu dan tidak terlalu besar. Papan penunjuk jalan akan terus ditemui hingga memasuki area parkir.

Mobil hanya akan dapat sampai di area parkir, namun motor masih tetap bisa masuk hingga area parkir di dekat Curug Bojong. Setelah pos retribusi, kondisi jalan akan menyempit dan merupakan jalan tanah. Jika musim hujan, kondisi jalan akan sangat licin, sehingga disarankan untuk berjalan kaki. Medan jalan kebanyakan turunan, namun ada juga beberapa tanjakan cukup panjang. Kondisi jalan berupa tanah juga diselingi batuan lepas, akar pohon, dan sebagian besar jalan tertutup daun.