RSS

SURVEY SUKAMAKMUR 10 JULI 2020 PART 2

JUMAT, 10 JULI 2020

Sekitar lewat tengah malam sedikit, suasana kembali hening. Mungkin sekitar jam 01.00 WIB saya tertidur kembali tapi tidak lama. Sekitar pukul 02.00 WIB, karena udara yang semakin dingin saya pun beser. Rasanya malas sekali keluar dari selimut dan berjalan ke kamar mandi yang hanya beberapa langkah saja saking dinginnya. Tepat setelah niat terkumpul, baru juga membuka selimut, tiba-tiba lampu mati. Yak, mati listrik. Tidak ada penerangan dan otomatis sinyal wifi pun mati. Homestay sebelah sudah tidak ada suara. Bahkan di luar dan sekitaran homestay pun hanya ada suara kodok dan bunyi-bunyian tidak jelas (banyak anjing dan ayam di sekitar homestay).

Sedikit parno juga, sudah takut ada binatang masuk, sekarang listrik mati, takut ada orang jahat juga (lebay emang, terlalu overthinking, maklum, perempuan sendiri). Akhirnya saya pun menunda untuk ke kamar mandi. Sedari awal bersiap tidur, sebenarnya tingkat kewaspadaan tetap jalan, jadi meksipun badan sudah remuk dan mata sudah sangat berat, tetap tidak bisa tidur pulas. Ada suara sedikit langsung bangun. Bahkan mungkin tiga puluh menit sekali saya terbangun sebentar, lalu tertidur lagi.

Sekarang ditambah listik yang mati, tingkat kewaspadaan semakin meningkat. Rasa kantuk sudah hilang sepenuhnya, sekarang mata rasanya segar sekali. Ternyata, meskipun wifi mati, tapi saya tetap dapat sinyal, meskipun hanya 1-2 bar. Masih bisa WA dengan suami meskipun pesan terkirim dan pesan masuknya harus nunggu seabad. Semakin lama, mendekati pukul 02.30 WIB ngantuk tidak kunjung datang juga. Udara dingin semakin menusuk. Orkestra kodok masih terus nyaring di luar. Beser pun tak tertahankan. Tiba-tiba di homestay sebelah terdengar ada yang bangun dan ke kamar mandi. Saya pun memanggil-manggil Ujang, siapa tau Ujang yang bangun.

Tidak ada jawaban, saya pun keluar. Baru juga membuka pintu, udara dingin langsung menusuk. Suasana sekitar sangat sepi, tidak ada cahaya dan suara lain selain suara orkestra kodok. Homestay sebelah tetap sepi. Saya pun kembali masuk. Sekalian saja saya ke kamar mandi menuntaskan urusan beser. Setelah beres urusan dengan kamar mandi, terdengar suara di tempat motor kami terparkir. Motor kami diparkirkan diantara homestay kami. Suaranya seperti sesuatu/seseorang naik & duduk di jok motor, lalu turun lagi, lalu naik lagi. Begitu aja terus. Oke, kayanya ini ayam-ayam di sekitaran homestay (tetep positif).

Meskipun keadaan sekitar sepi, rumah penduduk lain juga jauh, semua orang sudah tidur, tidak ada listrik, tapi saya ga merasa merinding sedikitpun. Perasaan tetap tenang. Hanya waspada aja takut ada ular atau kodok terbang masuk atau anjing yang ikut tidur di teras. Saya pun ga ada kepikiran kalau suara-suara di motor adalah orang yang mencoba maling. Dengan santainya saya kembali ke tempat tidur, selimutan. Oh, ya malam ini terang bulan purnama, jadi meskipun listrik mati, tidak gelap total.

Ilalang di depan homestay, bahkan lapangan kosong di samping homestay saya pun masih sedikit terang ketika saya keluar sebentar tadi. Benar-benar kosong tidak ada binatang, apalagi orang. Saya pun berusaha untuk tidur, karena esok masih ada pekerjaan yang dilakukan. Sekitar pukul 03.00 WIB listrik kembali nyala dan saya pun terlelap kembali tidak lama setelahnya. Jam 04.30 WIB saya kembali bangun. Kali ini karena memang jam bangun saya jam segini, jadi udah otomatis. Ya sudah, karena sebentar lagi adzan Subuh, jadi mending siap-siap solat.

Tenryata, musola dekat banget sama homestay. Sura bedug benar-benar jelas. Akhirnya waktu pagi yang saya tunggu akan segera datang. Berhasil juga melewati satu malam yang rasanya campur aduk ini. Setelah Solat Subuh, saya memutuskan untuk mandi kemudian menyiapkan peralatan foto. Siapa tau dapat sunsrise. Jarang-jarang juga kan sudah ada di danau sebelum matahari terbit. Sekitar 05.30 WIB saya keluar untuk mengambil beberapa foto.

Tidak lama setelah saya mengambil beberapa foto dari atas teras homestay, saya pun bersiap ke arah kedai kopi. Pak Irwan yang kebetulan sudah bangun juga ikut ke kedai kopi, mau ngopi katanya. Sayangnya kedai kopinya masih tutup. Langit pagi ini bersih, tidak ada awan sama sekali, kabut pun tidak ada. Padahal tadinya saya pengen foto kabut pagi hari. Tidak lama Ujang pun bangun. Saya ikut Ujang mencari warung kopi yang sudah buka. Hanya satu warung kopi yang sudah buka, sedikit ke arah Barat. Itupun hanya ada gorengan yang masih sedikit dan kopi tentunya.

Sekembali dari warung kopi, Ujang kembali ke homestay karena Pak Abang dan Pak Irwan menitip kopi ke Ujang. Saya meneruskan mengambil foto area Situ Rawa Gede. Dimulai dari jembatan masuk di belakang kedai kopi, lalu berjalan menyusuri jembatan bambu. Namanya juga foto untuk dokumentasi pekerjaan, jadi cukup banyak yang harus didokumentasikan. Berbeda dengan ketika hanya sekedar main saja. Objek/moment yang menurut saya kurang menarik pun harus terdokumentasikan dengan baik bila berhubungan dengan tema pekerjaan.

Mungkin sekitar 30 menit saya mengambil beberapa foto di jembatan bambu, Pak Abang ikut bergabung. Matahari sudah mulai muncul. Sebagian area Situ Rawa Gede sudah mulai bisa untuk difoto. Sekitar pukul 07.00 WIB, saya, Ujang, Pak Abang, Pak Agus dan Pak Sekdes sudah tiba di area kolam renang di sisi lain Situ Rawa Gede. Are Situ Rawa Gede ini cukup kumplit untuk sebuah tujuan wisata. Terdapat kedai kopi, warung kopi yang berjejer cukup banyak, toilet cukup banyak, kolam renang, area kemping, taman, area parkir yang luas, serta akses menuju air terjun dan kebun kopi.

Kami istirahat sambi memesan sarapan. Pilihan kami jatuh pada nasi goreng. Rasa nasi gorengnya enak kalau kata saya. Rasanya hampir mirip dengan nasi goreng rumahan buatan almh. Uyut. Satu piring penuh habis saya lahap. Selain rasanya memang enak, saya memang lapar banget. Setelah sarapan, apalagi full carbo, otomatis mata menjadi berat. Badan yang sangat cape dari kemarin dan tidak mendapat istirahat yang cukup semalam pun ikut berkontribusi. Dengar-dengar, setelah ini, kami akan trekking ke Curug Cibeureum dan Curug Cidulang. Baiklah, saya putuskan untuk tidur sejenak di saung di pinggir Rawa Gede ini.

Saya pun dibangunkan karena sudah waktunya trekking. Mungkin hanya sekitar 15 menit saya mengistirahatkan mata dan badan. Saya pikir kami akan ke homestay dulu untuk mengambil keperluan trekking, ternyata langsung trekking dari saung. Saya yang hanya bawa kamera dan air putih kemasan rasanya tidak siap. Tadi pagi ketika mau ambil foto, saya asal saja pakai sepatu tidak pakai kaos kaki, tidak pakai buff, bahkan tas yang isinya dompet dan segala macemnya saya tinggal di kamar. Saya hanya bawa kamera dan hp saja.

Rasanya aneh trekking tanpa ‘kostum’ yang biasa saya pakai, tapi mau gimana lagi. Menuju Curug Cibeureum akan memakan waktu hampir satu jam trekking dengan medan yang terus memanjak. Baiklah, sekuatnya saja deh, karena dari kemarin dan semalam kurang sekali istirahat. Bahkan tidur yang nyenyak pun hanya 1-2 jam saja, Belum apa-apa kami sudah disuguhi tangga batu yang terus menanjak. Menurut Pak Sekdes, medan menuju air terjun akan terus seperti ini, menanjak terus. Baiklaaah.

Kami istirahat di sebuah tempat yang rencananya akan dijadikan tempat persinggahan untuk agrowisata menuju kebun kopi. Jalur menuju Curug Cibeureum dan Curug Cidulang ini sudah dibuka dan dibenahi oleh warga, jadi meskipun medannya menanjak terus, jalurnya sudah cukup nyaman untuk dilalui. Kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini jalur trekking menanjak di sebelah kebun kopi binaan Bumdes dan warga. Kopi yang ditanam kebanyakan berjenis robusta. Dari sini rombongan terbagi dua. Saya dan Ujang berjalan di depan, lalu rombongan kedua yaitu Pak Abang, Pak Agus dan Pak Sekdes. Udara pagi itu cukup segar, meskipun matahari bersinar cukup terik.

Saya dan Ujang tiba di sebuah persimpangan kecil. Karena takut salah jalan, kami pun memutuskan untuk berhenti dan menunggu saja. Selang 10 menit, Pak Agus tiba. Akhirnya kami bertiga jalan barengan, biar kami tidak nyasar katanya. Sementara Pak Abang dan Pak Sekdes masih cukup jauh di bawah. Di tengah jalur trekking kami melihat ada tiga air terjun di bukit di seberang kami. Yang paling kanan dan masih ada airnya sedikit adalah Curug Cibeureum yang akan kami tuju. Di sebelah kirinya ada air terjun yang lebih kecil, tapi kering total. Itulah Curug Ciawitali. Di atas Curug Cibeureum, hampir di puncak bukit ada juga air terjun yang airnya cukup deras. Itulah Curug Cibeureum 1 yang juga merupakan tingkatan atas dari Curug Cibeureum.

Curug Cibeureum memiliki nama lain Curug Rawagede. Entah siapa yang memberi nama, tetapi nama Curug Rawagedelah yang lebih terkenal. Bahkan di Google Maps pun Curug Cibeureum diberi tag nama Curug Rawagede. Sebenarnya, untuk menuju Curug Cibeureum ini bisa juga dengan menggunakan kendaraan. Hanya saja, jalannya cukup jelek dan berada di kebun kopi. Berhubung airnya sudah mengecil, kami pun skip Curug Cibeureum. Nanti saja sesudah beres dari Curug Cidulang dan menggunakan motor saja. Tujuan kami pun berubah menjadi Curug Cidulang. Berbeda dengan Curug Cibeureum, Curug Cidulang airnya deras dan sangat jernih. Begitu kata Pak Agus. Ya sudah tujuan kami pun berubah menjadi hanya Curug Cidulang saja.

Jalan yang kami lalui berujung di sebuah pertigaan. Jika ke kanan, maka akan menuju Curug Cibeureum. Waktu tempuhnya masih sekitar 30 menit. Jika ke kiri, maka akan menuju Curug Cidulang. Jalur yang kami lewati saat ini merupakan jalur petani kopi untuk mengangkut kayu dan kopi dengan menggunakan motor. Kami tiba di puncakan bukit yang letaknya di sebelah bukit yang sebelumnya kami naiki. Jalur motor hanya sampai sini. Di sisi kiri jalan terdapat sebuah petilasan. Menurut Pak Agus, petilasan tersebut merupakan Makom/Petilasan Eyang Suryakencana, salah satu Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Kami tidak mampir dan tetap berjalan menuju Curug Cidulang.

Medan menanjak hanya sampai di sini. Sisanya kami berjalan di antara kebun kopi menyusuri punggungan bukit. Terdapat satu gazebo yang berfungsi sebagai warung ketika akhir pekan dan satu gardu pandang. Saat ini tidak ada yang jualan karena belum akhir pekan. Tidak lama kamipun sampai di area Curug Cidulang. Kami harus turun dulu sedikit untuk benar-benar sampai di depan Curug Cidulang. Terdapat gazebo cukup luas di sisi kanan air terjun. Terdapat meja untuk berjualan, tempat sampah yang pada saat itu sampahnya sudah sangat penuh sampai-sampai tumpah.

Kami tiba di Curug Cidulang dengan estimasi waktu sekitar 45 menit. Segera kami keluarkan kamera dan mengambil foto-foto di area Curug Cidulang. Air Curug Cidulang sangat jernih dan dingin. Volume jatuhannya masih cukup besar, berbeda dengan Curug Cibeureum dan Curug Ciawitali. Aliran Curug Cidulang ini membentuk air terjun kecil yang berada dekat tempat kami istirahat pertama. Sumber air untuk homestay pun diambil dari aliran curug kecil yang masih satu jalur sungai dengan Curug Cidulang. Oleh karena itu, kebersihan di sekiar Curug Cidulang harus sangat diperhatikan agar kualitas airnya tetap terjaga.

Saya pun tidak tahan untuk mencuci muka dan mencelupkan kaki. Segar sekali rasanya. Beruntungnya lagi, cipratan air masih terkena sinar matahari sehingga memunculkan pelangi. Posisi pelangi berada di bawah aliran jatuhan curug, tidak terlalu tinggi dari kolam air terjun. Curug Cidulang memiliki kolam air terjun yang lumayan luas. Semakin mendekati aliran jatuhan semakin dalam dan semakin jernih. Dinding air terjun Curug Cidulang membentuk Collumnar Joint. Bentuk Curug Cidulang merupakan air terjun tunggal. Artinya aliran jatuhannya hanya satu lintasan atau lebih dikenal dengan istilah Horsetail Waterfall. Bentuk air terjun yang akan banyak ditemui di hulu aliran sungai atau di puncak-puncak pegunungan.

Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu di Curug Cidulang. Foto dan video sudah didapat, istirahat pun rasanya sudah cukup. Pak Abang dan Pak Sekdes tidak kunjung muncul, mungkin tidak jadi naik dan balik kanan. Pak Agus mengajak kami turun karena memang sudah hampir dekat waktunya Jumatan. Ketika kami akan mulai jalan, Pak Abang dan Pak Sekdes datang. Ternyata, meskipun jalan sangat pelan dan banyak sekali berhentinya, Pak Abang tetap lanjut menuju Curug Cidulang. Bahkan, sempat mampir dan mengambil sedikit foto Petilasan Eyang Suryakencana.

Kami pun menunda perjalanan kami. Kami menambah waktu sekitar 30 menit lagi di Curug Cidulang sebelum akhirnya benar-benar turun. Di perjalanan turun, kami mengambil foto gardu pandang dan gazebo warung. Perjalanan turun non stop karena memang medannya menurun terus. Kami baru berhenti lagi di tempat kami pertama istirahat ketika mulai trekking. Dari tempat ini, Situ Rawa Gede terlihat sangat jelas. Area Situ Rawa Gede sudah sangat ramai. Ada beberapa rombongan santri dengan menggunakan pick up. Saya dan Ujang turun duluan karena masih ada beberapa spot yang harus di foto di sekitar Rawa Gede.

Kami tiba di bawah bertepatan dengan bubarnya rombongan para santri, sehingga suasana kembali sepi. Meskipun tidak sesepi pagi, masih ada beberapa pengunjung dan pedagang. Kami pun kembali ke homestay untuk beres-beres. Berhubung saya sudah mandi sehabis solat Subuh tadi, saya berencana untuk tidur sambil menunggu para bapak-bapak Jumatan. Untungnya barang-barang yang saya tinggalkan di homestay masih aman. Sambil menunggu Jumatan, saya pun istirahat dan packing. Rencana saya dan Ujang hanya sampai hari ini, karena besoknya kami sudah ada keperluan masing-masing. Pak Abang dan Pak Irwan sepertinya masih akan menginap satu malam lagi.

Beres Jumatan, kami langsung disuguhi makan siang. Nasi liwet, ikan bakar, aneka sayur yang langka ada di kota, dan dua jenis sambal dihidangkan di homestay. Sambal kecap dan sambal merah. Rasanya benar-benar nikmat. Sehabis trekking langsung diisi nasi liwet. Cuaca pun berubah menjadi mendung dan angin bertiup sepoi-sepoi. Habis makan langsung bawaannya pengen tidur. Mata mulai berat. Selesai makan, kami koordinasikan rencana berikutnya. Berhubung saya dan Ujang akan pulang hari ini, jadi sebelum pulang ada beberapa tempat yang sebaiknya didatangi dulu untuk diambil fotonya. Kami bagi dua. Rumah pohon Curug Ciherang, kedai kopi Rawa Gede dan Curug Leuwi Lieuk bagian saya dan Ujang. Villa Khayangan dan budidaya kopi, serta beberapa lokasi sekitar Rawa Gede bagian Pak Abang, Pak Irwan beserta Pak Agus dkk.

Sekitar pukul 14.00 WIB saya dan Ujang pamit setelah beres mengambil dokumentasi Kedai Kopi Rawa Gede. Tujuan pertama kami adalah Rumah Pohon Curug Ciherang. Untungnya tidak perlu sampai ke curugnya, karena butuh waktu trekking lagi. Ternyata area Curug Ciherang ini sangat luas. Dari gerbang utama hingga ke start point trekking Curug Ciherang masih sangat jauh. Dekat gerbang utama terdapat wahana waterboom yang cukup besar. Setelah arena waterboom terdapat beberapa villa yang disewakan. Setelah area villa, sedikit naik lagi ke arah bukit, terdapat spot panorama yang cukup luas dan arena outbound. Setelah arena outbound, naik lagi ke atas bukit, barulah area pakrir menuju Curug Ciherang.

Dari area parkir pun masih harus berjalan kaki menaiki anak tangga ke atas bukit. Diantara area parkir dan start point trekking Curug Ciherang inilah terdapat arena Rumah Pohon, tujuan kami. Karena tujuan kami hanya rumah pohon dan waktu kami tidak banyak, kami bahkan tidak melepas jaket dan langsung naik. Memang fisik tidak dapat dibohongi, hanya naik tangga sedikit saja, nafas kami rasanya sudah habis dan badan rasanya tidak ada tenaga sama sekali. Dari area rumah pohon terhampar jelas Desa Sirnajaya di bawah sana. Pemandangannya sangat bagus sebenarnya. Area sawah, kebun, bahkan jalan desa terlihat sangat jelas. Sayang, waktu kami tidak banyak.

Kami hanya sebentar di rumah pohon. Setelah mendapatkan beberapa foto untuk dokumentasi yang layak, kami segera turun. Tujuan kami berikutnya Curug Leuwi Lieuk. Lokasinya cukup jauh dan kami belum kebayang jalurnya seperti apa dan mengarah ke mana. Oleh karena itu, kami tidak banyak membuang waktu. Kami meneruskan perjalanan ke arah kantor Desa Wargajaya lagi. Ternyata, medan menuju kantor Desa Wargajaya cukup curam. Turunan panjang ditambah tikungan cukup tajam dan jalan berlubang di sana-sini cukup memperlambat laju kendaraan.

Ditambah, baik arah turun maupun arah naik ramai mobil pribadi dan pick up yang membawa rombongan santri. Setau saya, memang beberapa pondok pesantren, atau malah sebagian besarnya mengambil hari Jumat sebagai hari liburnya, bukan hari Minggu. Hal ini mengacu pada hari libur di Arab Saudi sana. Hal yang sama dengan yang diadaptasi oleh Malaysia. Hari libur adalah Jumat, dan Minggu termasuk hari kerja. Jarak tempuh yang cukup jauh, jalan yang cukup padat, sinar matahari sore yang cukup terik, udara yang semakin ke bawah semakin gerah semakin sempurna menguras sisa tenaga saya. Sebisa mungkin jangan sampai kalah dengan ngantuk, karena harus tetap sek Gmaps hingga ke tujuan akhir kami, Curug Leuwi Lieuk.

Kami sempat berhenti lagi di kantor Desa Wargajaya untuk cek posisi dan ngetrek jalur yang harus dilewati. Ternyata, Curug Leuwi Lieuk yang disebut Pak Irwan berada satu lokasi dengan Curug Leuwi Hejo. Jalur yang ditunjukan Gmaps pun cocok dengan nama desa yang diinfokan oleh Pak Sekdes. Jadi, fix, tujuan kami kali ini mengarah ke Curug Leuwi Hejo. Curug Leuwi Hejo merupakan air terjun yang sangat hits di Bogor, tepatnya lebih dikenal dengan Curug Leuwi Hejo Sentul. Sedikit yang perlu diluruskan mengenai Curug Leuwi Hejo, lokasinya bukan di Sentul. Sentul hanya merupakan daerah pertama yang dilalui setelah keluar dari Tol Lingkar Luar Bogor.

Curug Leuwi Hejo terletak di perbatasan Desa Central Karang, Kecamatan Babakan Madang dengan Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Posisi Curug Leuwi Hejo cukup jauh dari daerah Sentul. Kami pun menyusuri jalan utama desa yang masih tetap ramai dan berdebu. Kami tiba di persimpangan di Pasar Sukamakmur. Kemarin, Pak Abang dan Pak Irwan bablas sampai pasar ini. Untungnya segera sadar karena hafal jalur berikutnya sudah jalur yang mengarah ke Jonggol dan arah Bogor. Lumayan jauh juga bablasnya.

Kami pun mengambil arah ke Babakan Madang di persimpangan ini. Jalur kembali menanjak. Kali ini lalu lintas lumayan lebih sepi, kondisi jalan pun lebih lebar dari sebelumnya. Sebelumnya saya sempat melihat penunjuk jalan menuju Kantor Desa Sirnajaya dan jalur menuju Situ Rawa Gede lewat Kebon Nanas. Jaraknya cukup jauh dari jalur yang kami lewati dari arah Puncak Dua. Kami sempat salah belok dua kali. Pertama salah belok, yang kedua kami memang diputerin ama Gmaps. Seharusnya kami bisa belok kiri di persimpangan, tapi oleh Gmaps diarahkan ke kanan dan memotong jalan lewat jalan setapak membelah kebun dan lewat pekarangan rumah orang. Jalur yang ujung-ujungnya tembus ke jalur terusan kalau kami belok kiri di persimpangan berikutnya.

Semakin lama, jalan semakin lebar dan semakin sepi. Tetap saja, kami tidak bisa tancap gas, karena lubang dan pasir berserakan di mana-mana. Akhirnya kami sampai di lokasi Leuwi Hejo. Leuwi Hejo merupakan area wisata yang lahannya cukup luas. Bukan hanya sekedar parkiran lalu jalur trekking dan sampai di Curug Leuwi Hejo. Leuwi Hejo hanya merupakan salah satu aliran air terjun kecil di sepanjang aliran sungai.

Dalam satu aliran sungai setidaknya hingga saat ini terdapat delapan air terjun. Dimulai dari yang paling hulu yaitu Curug Mariuk, Curug Hordeng, Curug Kembar, Curug Ciburial, Curug Cibaliung/Leuwi Baliung, Leuwi Cepet, Leuwi Lieuk, dan Leuwi Hejo. Terdapat juga Curug Cakrawardana yang dekat masih satu area namun berbeda aliran sungai. Hanya Leuwi Cepet, Leuwi Lieuk, Leuwi Hejo dan Curug Cakrawardana yang masih berdekatan dan memiliki satu akses masuk, kemudian Curug Hordeng dan Curug Kembar satu akses masuk. Sisanya memiliki pintu masuk masing-masing.

Kami tiba sekitar pukul 17.00 WIB kurang lebih. Sayangnya, menurut yang jaga, kalau tujuan kami Leuwi Lieuk sudah tidak akan sempat. Kami memutuskan untuk skip Leuwi Lieuk. Ada beberapa pertimbangan yang membuat kami balik kanan pulang saja. Pertama karena jaraknya lumayan jauh, harus trekking kurang lebih 30-40 menit dari Curug Leuwi Hejo. Kedua, jika nekat naik, ketika pulang sudah tidak ada yang jaga parkir, di atas maupun di bawah. Takutnya ada sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Ketiga, biaya masuknya terbilang cukup mahal. Kami harus dua kali bayar. Pertama di pintu masuk di bawah, kedua di Leuwi Hejo harus bayar lagi kalau mau lanjut ke Leuwi Lieuk. Keempat, jalur pulang kami yang melalui jalur Cariu cukup sepi dan minim penerangan. Sebisa mungkin kami lewat jalur tersebut sebelum gelap. Kelima, tenaga kami berdua sudah benar-benar habis kalau harus trekking lagi. Setelah koordinasi dengan Pak Abang terkait kondisi Leuwi Lieuk, kami pun akhirnya balik kanan. Jalur yang kami lewati kembali ke arah Pasar Sukamakmur. Kami berhenti di Pasar Sukamakmur untuk beli minuman dan istirahat sejenak. Setelah ini kami akan nonstop entah sampai mana.

Dari Pasar Sukamakmur, kami kembali ke arah Desa Wargajaya, hanya saja, sebelum kantor Desa Wargajaya, kami akan bertemu persimpangan, dan di persimpangan ini kami mengambil jalur ke arah Timur. Setelah berbelok di persimpangan, lalu lintas menjadi sangat sepi. Hanya ada motor kami dan satu mobil yang mengarah ke Cariu. Di sepanjang jalur ini hanya terdapat kebun yang sangat luas. Masing-masing kebun sudah berpemilik. Terlihat dari papan nama di setiap kebun.

Setelah jalur kebun-kebun, jalur kami akan masuk permukiman, tapi tidak jauh. Setelah itu, jalur akan menuju ke Gunung Batu Jonggol. Jalur yang akan kami tempuh tepat di bawah Gunung Batu. Sayangnya kami tidak sempat mengabadikan kemegahan Gunng Batu yang disinari matahari sore dan langit biru. Kami masih harus melewati jalur sepi. Setelah Gunung Batu tidak terlihat lagi, jalan yang kami lewati kembali naik ke atas bukit. Kanan dan kiri jalan kembali kebun dan hutan serta jurang yang cukup dalam. Hanya ada motor kami yang melintas. Kalau terlambat sedikit, sudah dapat dipastikan kami melintas dalam keadaan sekeliling sudah gelap gulita. Sesekali kami berpapasan dengan pengendara motor.

Jalur hutan ini cukup panjang. Jalur hutan berakhir ketika jalan mulai menurun dan kembali bertemu dengan permukiman warga. Permukiman warga ini sudah berada di wilayah administrasi Desa Selawangi, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Baik Kecamatan Sukamakmur dan Kecamatan Tanjungsari merupakan pemekaran daerah Cariu. Setelah beberapa km melewati jalur aspal mulus, kosong, dan berada di tengah permukiman, kami bertemu persimpangan besar. Persimpangan ini merupakan pertemuan dengan jalan raya utama Cikalongkulon – Tanjungsari (dahulu Cikalongkulon – Cariu).

Kami berbelok ke arah Selatan di persimpangan besar ini menuju Cikalongkulon. Jika kami mengambil arah Utara, maka kami akan tiba di pusat Kecamatan Jonggol. Lalu lintas di jalur ini cukup sepi. Dari arah Selatan cukup ramai truk tronton dan truk pengangkut batu – pasir. Kami berhenti untuk solat Magrib dulu di sekitaran Cikalongkulon. Awalnya kami akan mengambil jalur Cirata lalu tembus Cikalong Wetan karena pasti lebih sepi. Jaraknya memang menjadi lebih jauh dibanding jalur utama Cikalongkulon – Ciranjang. Setelah jalan dan dipikir-pikir lagi, jadinya jalur yang kami ambil yang menuju Sukaluyu  -Ciranjang – Rajamandala. Mudah-mudahan tidak terlalu macet.

Kondisi jalan sudah jauh lebih baik dibandingkan terakhir melintas di jalur ini 2013 lalu, tetapi penerangan masih sama saja. Tidak ada lampu jalan di sepanjang jalur. Sampai Sukaluyu, perjalanan cukup lancar. Kami hanya butuh waktu kurang lebih satu jam saja. Selepas pertigaan Sukaluyu, tepatnya mendekati Pasar Ciranjang, barulah perjalanan kami tersendat. Antrian kendaaraan mengular hingga mendekati Jembatan Citarum.

Kami memutuskan untuk berhenti makan malam dulu sekalian istirahat. Pilihan kami hanya ada di Pasar Rajamandala. Kami pun memilih warung nasi padang. Selesai makan sekitar pukul 20.30 WIB, arus lalu lintas di sekitaran Pasar Rajamandala sudah mulai lancar. Kami pun bisa lebih cepat tiba di Citatah. Perjalanan Cipatat – Citatah – Situ Ciburuy cukup lancar. Kami hanya tersendat di beberapa titik karena truk yang tidak kuat menanjak. Untungnya di jalur Cipatat – Citatah sedang tidak terlalu banyak truk dan bus yang melintas, jadi kami masih bisa jalan sedikit cepat. Memasuki Cimareme hingga Cimahi pun arus lalu lintas lancar. Pukul 22.00 WIB kami sudah tiba kembali di rumah.

 
Leave a comment

Posted by on August 20, 2020 in OUR JOURNEY

 

SURVEY SUKAMAKMUR 9 JULI 2020 PART 1

“Nadya, bisa bantu saya?” Begitu pesan WA dari Pak Abang, rekan kerja dari pekerjaan saya yang terakhir. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mengiyakan ajakan tersebut. Kali ini, saya diminta bantuan untuk mengambil foto-foto Situ Rawa Gede di Bogor dan beberapa tempat di sekitarnya.

Setelah deal semua urusan teknis dan non teknis, saya pun segera menghubungi Ujang. Singkatnya, saya dan Ujang siap berangkat ke Bogor lusa. Motoran tentunya.

KAMIS, 9 JULI 2020

Pada hari keberangkatan, sekitar pukul 09.00 WIB, saya dan Ujang sampai di meeting point. Hampir satu jam menunggu, barulah saya mendapat kabar kalau motor Pak Abang mengalami masalah. Saya dan Ujang diminta jalan duluan saja pelan-pelan menuju satu tempat makan di Cianjur kota sana.Aga sedikit aneh, kenapa harus ke Cianjur Kota? Padahal jalur tercepat menuju daerah tujuan yaitu yang lewat Cikalongkulon lalu Cariu. Akhirnya saya dan Ujang memutuskan untuk menunggu di daerah Sukaluyu saja, di SPBU tidak jauh dari pertigaan jalan menuju arah Jonggol.

Kami tiba di SPBU di daerah Sukaluyu sekitar 10.30 WIB. Cuaca cerah, matahari bersinar terik, udara pun cukup gerah. Sepanjang jalan dari rumah hingga Situ Ciburuy sangat ramai. Situ Ciburuy hingga Sukaluyu pun tak kalah ramainya. Kami berdua cukup kewalahan karena semalam kurang tidur.Setelah Solat Dzuhur, saya kembali mendapat WA dari Pak Abang, yang mengabarkan kalau Pak Abang dan temannya sudah di tempat makan di Cianjur Kota. Sesuai tebakan saya dan Ujang, jalur yang diambil yang lewat Puncak. Makin lemeslah ini badan.Sebetulnya, saya kurang suka lewat jalur Cianjur Kota – Puncak, karena jalurnya ramai. Alasan saya dan Ujang memilih jalur Cariu karena sudah pasti jalurnya sangat sepi, sehingga meskipun sedikit memutar, tapi tenaga tidak dua kali terkuras karena macet.

Kami pun tiba di tempat makan. Sudah ada Pak Abang, menyusul tidak lama kemudian temannya Pak Abang datang. Sebut saja Pak Irwan. Setelah makan, kami pun berembug dulu melihat lokasi-lokasi mana saja yang akan didatangi.Tujuan utama adalah Situ Rawa Gede. Pa Irwan dan Pak Abang ternyata sudah ditunggu oleh Bumdes dan Sekda Sirnajaya. Jadi, dapat dipastikan, tujuan pertama kami adalah Situ Rawa Gede.Kami baru bisa berangkat sekitar pukul 15.00 WIB. Saya dan Ujang jalan duluan, karena Pak Abang dan Pak Irwan masih harus mampir ke mini market membeli keperluan motor. Jalur yang akan kami lewati yaitu yang menuju Kota Bunga. Seperti yang sudah kami predikis, sebelum Istana Cipanas dan selepas Istana Cipanas, jalan sangat padat.

Saya dan Ujang memutuskan untuk berhenti dulu menunggu Pak Abang ketika sudah berbelok menuju arah Kota Bunga. Ternyata, ada pesan WA dan telepon dari Pak Abang yang mengabarkan kalau motornya bermasalah lagi dan sedang di bengkel. Letak bengkelnya masih tidak terlalu jauh dari Cianjur Kota yang otomatis sangat jauh dari posisi kami saat ini. Mini market adalah tujuan saya dan Ujang. Lokasi mini market yang kami pilih memang sedikit jauh dari pertigaan dengan jalan raya Puncak, jadi lumayanlah seenganya bisa menghemat jarak. Saya dan Ujang sudah cukup kewalahan karena badan lemas kurang tidur.

Padahal, sebelom berangkat, saya dan Ujang udah hitung-hitungan waktu, seharusnya sih satu hari juga bisa selesai kalau hanya ambil foto. Ternyata memang harus nginep karena ada janjian dengan orang desa setempat. Syukurlah kalau gitu, jadi kami bisa istirahatin badan dulu.Jam 16.00 WIB, Pak Abang dan Pak Irwan sampai, kami pun langsung tancap gas lagi. Tidak jauh dari mini market ada percabangan jalan, kami memilih yang kanan karena jalannya tidak terlalu terjal dan tidak terlalu banyak kelokan. Jalur yang kami ambil yang mengarah ke Puncak Dua. Jalan cukup ramai, sampai akhirnya lama-lama lalu lintas sepi.

Kondisi jalan cukup bagus, malah terbilang mulus. Pemandangan di sepanjang jalan pun cukup menyegarkan mata. Kalau begini sih, bisa sampai Situ Rawa Gede sebelum Magrib.Sampailah kami di objek wisata atau villa yang bernama Puncak Kana. Di sini juga saya baru tau kalau jalur/daerah yang sedang kami lewati ini namanya Puncak Dua. Selepas Puncak Kana inilah, perkiraan waktu kami meleset jauh. Jalan yang sedari tadi mulus, sekarang berubah menjadi aspal rusak. Pemandangan di sekeliling pun berubah menjadi kebun dan tebing. Semakin lama, jalan semakin menurun dan semakin jelek. Cek di Gmaps, kami masih di jalur yang ditunjukan Gmaps. Siapa sangka jalan mulusnya hanya sampai di Puncak Kana saja.

Semakin lama, jalan semakin jelek dan semakin kecil. Malahan, Gmaps mengarahkan kami ke jalan yang jauh lebih kecil, malah lebih mirip pekarangan rumah warga. Sesampai di rumah terakhir, saya pun menanyakan jalur menuju Situ Rawa Gede. Kata warga, jalannya benar, ikuti saja jalannya. Jalan yang dimaksud adalah jalan jelek menanjak ke puncak bukit. Semakin lama, jalan semakin jelek, dan berubahlah menjadi makadam. Ada beberapa persimpangan yang kami lewati. Semakin ke atas bukit semakin ragu dengan jalur yang ditunjukkan Gmaps, jangan-jangan ada jalur yang lebih mudah di antara persimpangan yang sedari tadi kami lewati.

Kami pun memutuskan untuk berhenti di tengah jalur. Mau tanya warga pun tidak ada yang lewat. Permukiman warga jauh di bawah. Saya dan Ujang memutuskan balik lagi ke persimpangan terakhir yang kami lewati untuk cek jalur. Karena sepertinya jalur di seberang kami lebih manusiawi. Belum sampai ke persimpangan terakhir, kami papasan dengan warga. Kami diberi tahu kalau jalan yang kami lewati sekarang ini sudah benar mengarah ke Situ Rawa Gede. Warga tadi pun lengkap memberi petunjuk arah simpangan-simpangan mana yang harus kami ambil nanti di atas.

Info tambahan lagi, jalan di seberang kami, yang terlihat mulus, malah kata warga jauh lebih memutar dan jauh lebih jelek jalannya. Setelah mendapat pencerahan dari warga, kami pun kembali lagi. Kami pun meneruskan perjalanan menuju puncak bukit. Jalan makadam ini tidak lama lagi akan bertemu dengan jalan aspal. Nah, jalan aspal inilah yang akan kami lewati menuju Situ Rawa Gede. Sebenernya, kami tidak salah jalur, hanya saja kami salah pilih jalur. Jalur yang kami pilih ini cocok untuk penyuka offroad dan anti jalan ramai. Karena, jalur satunya lagi yang dari awal tidak kami pilih (Jalur Ciseureuh) merupakan jalur yang lebih ramai karena medannya lebih mudah dan kondisi jalannya lebih bagus.

Tidak lama, kami sudah tiba di puncak bukit. Kali ini kami tinggal menyusuri punggungannya untuk tiba di persimpangan menuju jalan utama. Tanjakan di jalur yang kami lewati ini panjang-panjang ditambah lagi jalurnya yang berupa makadam. Sudah dapat dipastikan kalau mau lewat jalur ini memang yang sudah biasa bertemu medan yang jauh dari kata aspal mulus. Benar saja, setiba di persimpangan terkahir, kami bertemu dengan jalan yang cukup lebar, dengan kondisi yang jauh lebih baik. Meskipun perkerasannya bukan aspal mulus, tapi setidaknya rata. Kami hanya tinggal mengikuti jalan ini sampai tiba di Curug Arca.

Curug Arca sudah masuk wilayah Kecamatan Sukamakmur, jadi dapat dipastikan kami tidak akan salah jalan lagi. Ternyata jalan yang kami lewati saat ini menyusuri punggungan perbukitan. Sekeliling kami hanya ada jejeran perbukitan dan lembah-lembah yang mulai tertutp kabut. Saya sendiri sudah tidak tahu lagi posisi kami saat ini ada di mana. Sinyal yang sulit, membuat saya tidak bisa sesuka hati melihat Gmaps karena bisa-bisa jalur yang sudah kami trek hilang. Saya pun terpaksa mengurungkan niat untuk mengambil beberapa foto karena sudah semakin mendekati Magrib dan tidak tahu seberapa jauh lagi Situ Rawa Gede Tujuan kami.

Kondisi jalan cukup mulus, tapi cukup banyak pasir di sepanjang jalur, sehingga harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Jalur kami pun semakin menyempit dan berakhir di sebuah jembatan kayu. Di sisi kiri kami kini sudah berubah menjadi tebing batu dan sisi kanan kami sudah mulai tertutup kebun. Selepas jembatan kayu ini, jalan menjadi lebih sempit dengan perkerasan aspal mulus. Tidak jauh dari jembatan ini terdapat Curug Arca. Kami pun berhenti sejenak untuk mengambil dokumentasi Curug Arca. Sayangnya, saat ini Curug Arca ditutup permanen karena masalah sengketa pengelolaan. Curug Arca pun masih dikenal cukup mistis dan masih jarang dikunjungi ketika masih dibuka.

Pak Irwan kembali menelepon Pa Agus, yang sudah menunggu kami di Situ Rawa Gede. Tidak lama-lama, kami pun kembali meluncur. Ujung jalan yang kami lewati bercabang lagi. Untuk menuju Rawa Gede, jalur yang diambil adalah yang arah kiri. Sedangkan yang arah kanan bisa mengarah ke Jonggol. Setelah berbelok, barulah kami tiba di kawasan wisata. Objek pertama yang kami lewati adalah persimpangan menuju Curug Cisarua. Jalannya menanjak dan makadam. Kedua adalah area Curug Cipamingkis. Area ini merupakan area untuk villa, kolam renang, outbond lalu area air terjunnya tentunya.

Berikutnya adalah Villa Khayangan yang menyambung dengan Nirvana Valley Resort. Setelah itu, barulah terdapat percabangan jalan lagi. Cabang ke kiri menuju area objek wisata Curug Ciherang. Percabangan ke kanan menuju jalur tembusan dari Bogor dan Jonggol. Di percabangan arah kiri inilah terdapat jalur ke Situ Rawa Gede. Sampai di depan area wisata Curug Cipamingkis, motor kami masih beriringan, tapi, sempat saya lihat Pak Abang dan Pak Irwan berhenti. Mungkin mau ambil foto. Saya dan Ujang tidak ikut berhenti, karena kalau kami jalan terus pun nanti juga bakalan kesusul.

Setelah belok ke arah kanan, jalan akan langung menurun terus. Kondisi jalan masih aspal bagus. Sedang asik-asiknya turun, tiba-tiba kami melihat papan penunjuk arah ke Situ Rawa Gede. Posisinya tidak jauh dari persimpangan Curug Ciherang. Jalan masuknya cukup kecil, hanya cukup dua mobil papasan. Kanan-kiri jalan masuk merupakan kios-kios yang saat itu sudah tutup. Kami pun putar arah dan langsung masuk ke jalan kecil tersebut. Jalannya cukup baik, meskipun kecil dan di kanan-kiri jalan lebih banyak ladang dibandingkan permukiman warga. Di dalam jalur tersebut, banyak persimpangan. Untungnya, di setiap persimpangan sudah terdapat petunjuk arah menuju Situ Rawa Gede. Jarak dari persimpangan di jalan utama desa hingga lokasi Situ Rawa Gede ternyata cukup jauh.

Tepat sebelum Adzan Magrib berkumandang, saya dan Ujang sampai di Rawa Gede. Suasana sudah sangat sepi. Hanya ada motor saya dan tiga motor milik pengunjung lainnya. Are parkir Situ Rawa Gede sangat luas, tapi, sekeliling area Situ Rawa Gede masih berupa lapang kosong, jadi suasana di sekeliling cukup gelap. Hanya terdapat satu kedai kopi, satu buah saung (mirip musola tidak terpakai) dan bangunan seperti homestay di sisi kiri agak jauh dari area parkir. Saya pun sedikit mengabadikan suasana sekitar dengan sisa cahaya matahari terakhir hari itu.

Tidak lama, ketiga pengunjung lain pun bersiap untuk pulang. Pak Abang dan Pak Irwan belum juga sampai. Kami sempat mengira tiga pengunjung ini adalah orang-orang yang janjian dengan Pak Irwan, ternyata bukan. Berhubung saya dan Ujang juga tidak tahu mana Pak Agus yang janjian dengan Pak Irwan, kami pun hanya duduk menunggu di gapura tiket. Setelah ketiga pengunjung tadi pulang, Saya dan Ujang mulai heran, kenapa dua rekan kami ga datang juga, padahal dengan CC motor dan kondisi jalan yang baik, harusnya sudah sampai. Saya mengajak Ujang untuk kembali ke area Curug Cipamingkis.

Hal ini karena ada beberapa pertimbangan. Pertama, di area Situ Rawa Gede sama sekali tidak ada sinyal, bahkan untuk menelepon. Kedua, ketika kami di Curug Arca, Pak Irwan sempat menghubungi Pak Agus, yang pada saat itu katanya menunggu di Rawa Gede. Dengan kondisi blank spot seperti ini, jangan-jangan Pak Agus menunggu di tempat lain. Kedua, jika kedai kopi tutup, maka benar-benar hanya saya dan Ujang di lokasi tersebut, jadi lebih baik putar balik. Kami pun segera putar balik tancap gas menuju arah Curug Cipamingkis. Lokasi tersebut memang memungkinkan untuk tempat janjian, karena ada beberapa warung makan. Kami pun bertanya ke beberapa warga yang sedang ngopi di warung-warung sepanjang jalan di area Curug Cipamingkis. Nihil.

Berikutnya, kami bertanya pada penjaga tiket masuk ke Curug Cipamingkis, nihil juga. Menurut bapak penjaga, tidak ada yang masuk ke area wisata. Kami pun mencari lagi ke arah kami datang, siapa tau ada tempat lain yang mungkin bisa dikunjungi. Kami hampir sampai di persimpangan menuju Curug Arca. Rasanya tidak mungkin kalau sampai sejauh ini. Belum puas, kami pun kembali bertanya pada warga yang sedang ngopi di warung kopi lain. Masih nihil. Kami pun memutuskan untuk masuk ke area wisata Curug Cipamingkis. Siapa tau ketemuannya di warung-warung di dalam area wisata Curug Cipamingkis.

Setelah tanya-tanya dengan penjaga villa dan penjaga loket, hasilnya pun masih nihil. Saya heran juga, dengan kondisi jalan dan area wisata yang sepi (karena bukan akhir pekan), seharusnya keberadaan dua motor yang cukup mencolok itu bisa terlihat oleh warga, apalagi dua rekan kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto di depan area wisata Curug Cipamingkis. Tinggal satu lokasi tersisa, yaitu area Curug Ciherang, tapi rasanya tidak mungkin. Di sinilah baru terpikirkan jangan-jangan nyasar atau ada dua jalur menuju Situ Rawa Gede. Kami pun segera keluar dari area Curug Cipamingkis dan langsung menuju persimpangan Rawa Gede.

Di persimpangan terdpat pos ronda dan kebetulan ada dua warga sedang mengobrol. Kami pun menanyakan apakah mereka melihat dua motor besar warna putih dan abu melintas. Sayangnya, dua warga yang kami tanya pun tidak tahu. Tiba-tiba pemuda yang sedang membuat api unggun di belakang pos ronda bilang, dia sempat lihat motor besar warna putih lewat sekitar Magrib. Akhirnya.

Ciri-ciri motor yang disebutkan cocok dengan motor Pak Abang. Anehnya, motor Pak Abang melaju terus mengikuti jalan desa. Ternyata, setelah dikonfirmasi, memang ada dua jalur masuk menuju Situ Rawa Gede, tapi jalur yang satu cukup jauh jaraknya dari lokasi kami saat ini. Kami disarankan untuk mengejar dan mencegat rekan kami di jalur lama. Jalur masuknya ada di persimpangan di bawah kami. Setelah petunjuk lokasi persimpangan sudah kami pahami, kami pun diberi informasi, kalau di daerah ini sinyal hanya bagus di sekitaran kantor desa. Kami pun pamit dan segera menuju kantor desa terlebih dahulu untuk mengecek hp.

Benar dugaan Ujang, kalau dua rekan kami tidak tahu jalan menuju Situ Rawa Gede yang kami lewati, malahan, menurut Ujang, jalur satunya pun (jalur Kebon Nanas) belum tentu tahu. Kami pun tancap gas. Untungnya jalannya sepi, namun kondisinya semakin ke bawah semakin rusak. Lubang dan turunan panjang menikung kami libas demi tiba secepatnya di kantor desa. Namun, ada yang mengganjal, warga tadi bilang, kantor desa yang kami tuju adalah kantor Desa Wargajaya. Bukannya kami harusnya berada di Desa Sirnajaya? Ah, beginilah kalau kurang cek informasi dan mempelajari lokasi sekitar dari Google Maps sebelum berangkat.

Begitu ada pesan WA masuk ke hp, saya pun segera membukanya. Benar saja, Pa Abang menanyakan posisi saya di mana, kira-kira pas Magrib. Tidak pakai lama, saya meminta Ujang untuk menepi, karena saya akan menelepon Pak Abang. Semoga saja Pak Abang masih di lokasi yang ada sinyalnya. Telepon nyambung tapi tidak diangkat. Akhirnya, setelah beberapa kali berhenti untuk cek sinyal, cek wa, dan masih mencoba menelepon, kami pun tancap gas ke kantor Desa Wargajaya. Siapa sangka, jarak kantor desa dengan persimpangan menuju Rawa Gede cukup jauh. Jalannya pun menurun terus dengan medan yang cukup terjal, ditambah jalanan yang gelap dan lubang-lubang dalam di sepanjang jalur.

Kami tiba di kantor Desa Wargajaya sekitar pukul 19.00 WIB. Nihil. Hanya ada beberapa warga yang sedang mencari sinyal juga. Segera saya hubungi Pak Abang lagi. Kali ini telepon tidak tersambung, menandakan Pak Abang sedang berada di lokasi yang tidak bersinyal. Ujang mendapatkan informasi dari warga bahwa memang benar ada jalan masuk lain menuju Situ Rawa Gede. Kalau memang dua rekan kami babalas sampai bawah, kemungkinan nanti jika bertanya jalur, oleh warga di bawah akan diarahkan menuju jalur Kebon Nanas.

Sekitar 10-15 menit kami menunggu sambil istirahat sejenak, barulah ada WA masuk dari Pak Abang yang mengabarkan bahwa sudah sampai di Rawa Gede. Kami pun pamit dan balik arah lagi menuju Situ Rawa Gede. Karena sudah tahu posisi kedua rekan kami, jalur yang kami pilih pun tidak lagi yang tembus ke jalur Kebon Nanas melainkan jalur yang tadi Magrib kami lewati. Warga yang kami tanyai terakhir sudah tidak ada. Kami pun tiba di Situ Rawa Gede sekitar pukul 19.30 WIB.

Ternyata, Pak Agus dan warga desa yang janjian dengan Pak Abang, sedari sore sudah ada di kedai kopi di area Situ Rawa Gede. Ketika tadi Magrib kami sampai pun sebenarnya Pak Agus dan yang lainnya ada di dalam Kedai Kopi Situ Rawa Gede. Yah, emang harus sedikit penyegaran otak dulu sih berhubung kondisi fisik dan mata saya dan Ujang udah ga bisa diajak kompromi. Mie kuah dan kopi segera saya pesan karena perut sudah mulai perih. Ujang memesan kopi hitam. Area Situ Rawa Gede memang blank spot, tetapi pengunjung bisa membeli voucher untuk wifi ke Pak Agus selaku BUMDES Rawa Gede yang juga ikut mengembankan area Situ Rawa Gede.

Tanpa pikir panjang, saya pun meminta untuk didaftarkan agar bisa menggunakan wifi. Obrolan mengenai rencana pengembangan Situ Rawa Gede pun masih terus berlanjut. Info-info mengenai lokasi objek wisata air terjun di sekitaran Situ Rawa Gede lengkap dengan foto objek dan medan trekking serta estimasi waktu trekking pun kami dapatkan. Dari sekian banyak air terjun, saya paling tertarik dengan Curug Cibeureum. Maka, sudah dapat dipastikan besok Curug Cibeureum akan masuk list. Berhubung jalur trekking menuju Curug Cibeureum sejalur dengan Curug Cidulang, maka Curug Cidulang pun masuk list untuk besok.

Pukul 22.00 WIB, mata dan badan sudah semakin tidak bisa diajak kompromi, akhirnya saya dan Ujang dipersilahkan untuk istirahat. Kami sudah disediakan dua bungalow yang ada di sisi Timur kedai kopi. Berhubung saya hanya perempuan sendiri, jadi saya mendapatkan satu bungalow/homestay sendiri. Homestay yang saya tempati berada di sisi paling Timur dan berbatasan dengan tanah kosong cukup luas, sedangkan yang ditempati para bapak-bapak bersebalahan dengan homestay saya dan area parkir Situ Rawa Gede. Secara teknis, homestay para bapak-bapak lebih dekat dengan kedai kopi.

Homestay berkonsep rumah panggung dengan lantai kayu dan dinding dari anyaman bambu. Penyangganya pun menggunakan bambu-bambu kokoh yang diikat dengan serat seperti ijuk. Atapnya pun dari serabut/ijuk. Benar-benar khas rumah tradisonal dengan material yang modern tentunya. Satu-satunya bangunan yang menggunakan batu bata/dinding tembok adalah kamar mandi. Atap kamar mandi menyatu dengan atap homestay, jadi tidak sepenuhnya tertutup. Homestay masih terbilang sangat baru dan belum dipasarkan untuk umum, jadi masih ada bagian yang belum dibenahi, salah satunya adalah tidak adanya tirai/gorden di setiap jendela.

Jika lampu menyala, seisi homestay dapat terlihat dengan jelas dari luar. Untungnya posisi kamar mandi cukup bagus sehingga tidak langsung menghadap ke arah jendela luar. Seprai dan kasur tambahan pun masih dibungkus dengan rapi dalam plastik. Seprai pun masih kaku, tanda masih sangat baru. Sebenarnya, aga takut juga sendiri di homestay yang tidak sepenuhnya tertutup begini, apalagi tepat di depan homestay kami adalah bagian dari danau yang paling bala. Ilalang setinggi atap homestay menghalangi homestay dengan sisi seberang danau. Ditambah, area tanah kosong di sebelah homestay yang saya tempati. Takut tiba-tiba kalau malam ada binatang yang masuk.

Sempat terpikirkan untuk tukeran homestay agar posisi saya lebih dekat dengan kedai kopi dan area parkir yang lebih bersih, tapi karena sudah dirapihkan dan warga yang merapihkannya sudah kembali ke kedai kopi, jadi, apa boleh buat. Saya menyarankan Ujang untuk minta didaftarkan juga wifi nya, jadi kalau nanti ada apa-apa saya bisa gampang menghubungi Ujang. Setelah urusan sinyal dan homestay beres, saatnya istirahat.

Sebelum istirahat, saya bebersih dulu. Cuci tangan, cuci muka, ganti semua baju dan tidak lupa solat dulu. Udara dingin tetap menusuk karena kisi-kisi jendela yang cukup lebar tidak tertutup. Saya pun tidur menggunakan jaket dan selimut. Itupun dinginnya masih terasa menusuk. Mungkin sekitar jam 23.00 WIB saya ketiduran, tapi tidak lama, sekitar pukul 23.30 atau menjelang tengah malam, Pak Abang dan yang lainnya datang ke homestay. Rupanya baru selesai ngobrol. Suasan di luar menjadi ramai oleh orang dan motor yang diparkirkan.

 
Leave a comment

Posted by on August 20, 2020 in OUR JOURNEY

 

SITU RANCA HIDEUNG

Secara administratif, Situ Ranca Hideung berada di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut, Jawa Barat dan berada pada koordinat 7°29’09.5″S 107°51’51.2″E. Situ Ranca Hideung memiliki luas genangan kurang lebih 4 Ha.

Pada musim kemarau, air di Situ Ranca Hideung akan menyusut, terutama di sisi Selatan. Area di sekeliling Situ Ranca Hideung masih didominasi oleh area pesawahan dan kebun. Rumah-rumah penduduk berada di sisi Utara. Situ Ranca Hideung sudah memiliki beberapa fasilitas pendukung wisata.

Terdapat warung-warung lesehan di sisi Barat hingga ke Utara, menuju area permukinan penduduk, area parkir yang luas, dan sarana perahu air (rakit, perahu, hingga bebek-bebekan). Sisi Timur merupakan area kebun dan persawahan penduduk, sehingga jalan setapak kondisinya tidak sebagus di sisi Selatan dan Barat.

Hingga tahun 2010, pengunjung tidak ditarik biaya masuk. Biaya masuk dikenakan bagi warga yang akan memancing. Pada saat itu, untuk memancing dikenakan biaya Rp 2.000,00 – Rp 3.000,00 untuk sehari semalam.

Situ Ranca Hideung merupakan danau yang terletak di jalur alternatif lintasan antar Kabupaten. Situ Ranca Hideung berada di wilayah administrasi Kabupaten Garut, namun jika diteruskan mengikuti jalan utama desa ke Timur, maka akan sampai ke Kecamatan Singajaya, lalu masuk ke Kabupaten Tasikmalaya. Posisi ini menjadikan Situ Ranca Hideung sebagai pilihan objek wisata danau di antara dua kabupaten.

Berdasarkan keterangan warga setempat, Situ Ranca Hideung pernah mencapai masa kejayaannya hingga tahun 2010. Setelah tahun 2010, pengunjung mulai menyusut. Hal ini dikarenakan adanya perebutan kewenangan penataan Situ Ranca Hideung, lalu kabar adanya pengunjung yang kerasukan makhluk halus, sehingga semakin lama, wisatawan pun enggan berkunjung ke Situ Ranca Hideung.

Puncak dari perebutan kewenangan pengelolaan Situ Ranca Hideung berimbas pada tidak terurusnya kawasan Situ Ranca Hideung. Hal ini mengakibatkan nama Situ Ranca Hideung mulai menghilang dari dunia pariwisata, seolah tidak pernah ada.

Hal ini berlangsung hingga 2018. Pada 2015, pengelola Situ Ranca Hideung sekaligus ketua Kompepar mengusulkan kepada Pemda Garut untuk menata kembali Situ Ranca Hideung sebagai tempat wisata. Barulah tahun 2017 dilakukan penataan ulang. Januari 2018 pekerjaan penataan selesai dan diresmikan oleh Kepala Desa Cihurip saat itu. Tugu penataan Situ Ranca Hideung dapat kita temukan di pinggir danau tepat di pintu masuk.

Situ Ranca Hideung memiliki mitos yang cukup unik, yaitu bahwa barang siapa yang memasukan kaki atau menginjakan ke situ maka akan muncul tanda hitam kurang lebih seperti tahi lalat. Selain itu, Situ Ranca Hideung pun sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin menjadi pejabat, juga yang sudah menjadi pejabat dengan maksud tertentu.

Siapapun yang datang dan berprilaku dengan jujur maka akan jadi pejabat atau naik pangkat. Akan tetapi sebaliknya, jika datang atau memiliki niat dan berprilaku tidak bisa jujur dan memiliki niat yang jelek maka akan mendapatkan karir yang jelek, bahkan bisa kehilangan pekerjaan atau tidak lancar dalam berkarir.

Untuk menuju Situ Ranca Hideung dari Kota Garut, arahkan kendaraan menuju Selatan, tepatnya jalur yang menuju Kecamatan Cikajang. Patokan pertama adalah persimpangan menuju objek wisata Gunung Papandayan di Cisurupan. Ikuti jalan raya utama di persimpangan ini. Ujung jalan rata utama merupakan persimpangan. Persimpangan ini berada pada koordinat -7.330957, 107.793772.

Ambil arah kiri pada persimpangan tersebut. Ikuti terus jalan raya utama hingga patokan kedua, yaitu Objek Wisata Batu Tumpang. Setelah melewati Batu Tumpang, terus ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan dengan Kecamatan Cihurip pada koordinat -7.438065, 107.835047.

Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.492537, 107.859092, tepat  di depan Polsek Cihurip. Ambil arah kiri pada simpangan ini. Sudah terdapat papan penunjuk objek wisata di persimpangan ini. Setelah belok di persimpangan ini, ikuti jalan hingga tiba di gapura masuk Situ Ranca Hideung.

Kondisi jalan hingga tiba di kawasan Situ Ranca Hideung sudah sangat baik. Hanya saja, akan ditemui tanjakan dan turunan curam ketika akan memasuki Kecamatan Cihurip. Situ Ranca Hideung dapat dicapai dengan menggunakan sepeda motor maupun mini bus.

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2020 in DANAU, Travelling