RSS

EXPLORE MALANG 29 SEPTEMBER 2018

Sabtu, 29 September 2018

Setelah searching sana-sini, nemulah beberapa air terjun yang kayanya menarik juga. Coban Tundo, Coban Jodo, Coban Telaga Warna. Tapi, setelah tanya ke Mas Aris dan liat videonya di Youtube, skip semua. Saya sempet request pantai yang masih sepi dan bisa hammockan. Rencananya hari ini saya pengen trip nyantei aja. Leyeh-leyeh ke tempat yang ga terlalu susah, apalagi harus trekking cape. Setelah cari-cari referensi lagi, nemu lagi Coban Pandawa. Setelah baca referensinya, kayanya cocok. Kebeneran Mas Aris juga belum pernah. Jadi, impas lah ya sama-sama ga tau kondisinya kaya apa. Fix, hari ini dari Malang kami bakaan langsung ke Coban Pandawa di Dampit. Kebeneran udah lama juga saya penasaran sama daerah Dampit.

Jam 08.00 WIB, mas Aris datang. Kami pun langsung meluncur ke arah Dampit. Lalu lintas mulai ramai. Maklum weekend. Rute kami kali ini sama seperti kemarin. Harus siap-siap ketemu rombongan truk touring lagi. Baru sampai daerah Turen, mata rasanya berat. Cuaca lumayan cerah, meskipun langit ga biru. Udara yang lebih gerah dari kemarin ditambah badan yang masih cape sukses bikin ngantuk datang. Mata pun sepet. Seperti biasa, sebelum kami keluar dari jalur utama, mampir dulu ke mini market.

Kami akan melewati jalur utama sampai di Pasar Dampit. Dari Pasar Dampit, kami ambil arah ke Selatan menuju Desa Sukodono. Setelah masuk ke arah jalan desa, lagi-lagi kami dibikin galau sama rute Gmaps. Jalan utama hanya satu, tapi rute yang ditunjukin kita disuruh belok kanan. Kami putar balik karena penasaran jalan mana yang ditunjukin di rute. Perasaan dari tadi ga ada simpangan sama sekali. Kami putar arah bahkan sampe ke Pasar Dampit lagi. Berhubung ga mungkin juga ke arah pasar, kami putar arah lagi. Ternyata oh ternyata, jalan yang ditunjuk Gmaps adalah jalan masuk gang yang kemudian nyusurin pematang sawah.

Kami pun mutusin buat ikutin jalan utama aja. Toh, cuman satu jalur. Kondisi jalan lumayan baik, meskipun tetap saja kualitas jalan desa. Kami harus menyusul rombongan truk yang bawa sound system (saya lupa apa sebutannya) biar perjalanan lebih lancar dan ga banyak emosi. Lama kelamaan, jalan makin sepi. Di kiri jalan ada aliran sungai yang sudah lumayan lebar, di sisi kanan kebun warga. Di satu titik, kamu ketemu persimpangan tembusan dari jalan yang ditunjukin Gmaps. Jalannya ternyata rabat beton yang baru selesai dan jauh lebih kecil. Untung juga ga nekat ngikutin Gmaps kaya biasanya.

Lama kelamaan, kondisi jalan makin kurang baik. Lubang dan lapisan aspal atas yang sudah hilang jadi medan utama kami. Lalu lintas pun semakin sepi. Pemandangan di kanan jalan sekarang sudah mulai menunjukkan jurang. Sepanjang jalur ini, kami mungkin ada sampai lima kali berhenti di persimpangan karena kurangnya penunjuk jalan. Meskipun sudah pakai Gmaps, tetap saja kalau ketemu simpangan bikin galau. Takutnya jalur yang ditunjuk Gmaps kondisinya lebih parah. Sementara, ternyata jalur yang ga ditunjuk Gmaps pun sebenarnya sama-sama mengarah ke tujuan kami. Takut kejadian persimpangan di dekat Pasar Dampit terulang.

Benar aja, dari tiga persimpangan yang kami temui, kami sama sekali tidak mengikuti rute yang ditunjukan Gmaps. Kami mengikuti jalan yang yang kondisinya lebih bagus. Meskipun di beberapa titik, jalan masih makadam dan sedang ada pekerjaan peningkatan jalan. Sayangya, pekerjaan peningkatan jalan ini baru akan dimulai. Jadi, jalan yang sudah dibor permukaannya menjadi tanah padat dengan tumpukan material di kedua sisi jalan. Kalau musim hujan, lumayan ngabisin waktu juga.

Kami berjalan dengan patokan pusat Desa Sukodono. Siapa tahu kalau sudah masuk di Desa Sukodono akan ada penunjuk jalan menuju Coban Pandawa. Medan jalan kali ini mulai menanjak lagi. Akhirnya kami sampai di pusat Desa Sukodono. Kami langsung disuguhi bundaran. Awalnya kami mengambil jalur ke arah kanan bundaran desa. Tapi, ternyata, rute yang ditunjukan Gmaps ke arah kiri bundaran. Putar arah lagi. Sayangnya, kondisi jalan yang ditunjukan Gmaps tidak semulus jalur yang pertama kami ambil. Pasrah aja kalau jalan di depan jauh lebih ancur.

Ternyata, kondisi jalannya masih bisa dibilang baik. Medan jalan mulai menurun. Di kanan dan kiri jalan mulai berganti kembali dengan area perkebunan warga. Kali ini, jalur yang kami akan lewati hanya satu dan langsung menuju area Coban Pandawa. Di pertengahan jalur, kami melewati Waduk Kaliungkal. Tidak terlalu besar. Akhirnya saya menemukan waduk lain selain yang memang sudah hits di Malang. Di ujung jalur, kami bertemu persimpangan. Untunglah kali ini sudah ada penunjuk arah menuju Coban Pandawa. Meskipun dengan spanduk seadanya. Medan terakhir menuju Coban Pandawa berupa tanjakan dengan jalan yang masih berupa rabat beton.

Akhirnya kami sampai di parkiran Coban Pandawa. Kami tiba di parkiran tepat pukul 11.00 WIB. Kami pun menitipkan barang-barang yang tidak perlu dibawa ke air terjun dan segera menuju Coban Pandawa. Berdasarkan referensi yang saya baca, jalur trekking menuju Coban Pandawa tidak terlalu jauh dengan medan yang relatif mudah. Ternyata, benar saja, hasil rekaman perjalanan menunjukan jarak dari gapura tiket sampai ke depan Coban Pandawa sejauh 328 m. Medan trekking berupa tanah dan terus menurun sampai tiba di areal Coban Pandawa. Pada awal jalur trekking, di kanan dan kiri jalur merupakan pohon salak yang cukup tinggi. Lumayan teduh jadinya.

Coban Pandawa termasuk objek wisata yang baru dibuka dan dibenahi kurang lebih setahun kebelakang. Sumber aliran Coban Pandawa merupakan aliran sungai. Jadi, ketika kemarau, volume jatuhannya berkurang drastis, bahkan ada yang sampai kering total. Dalam satu aliran sungai ini, terdapat lima air terjun yang semuanya diberi nama Coban Pandawa 1 sampai 5. Air terjun pertama yang akan ditemui merupakan Coban Pandawa 2 (ada juga yang mengatakan Coban Pandawa 3). Pengunjung Coban Pandawa siang ini hanya kami berdua.

Sudah ada gazebo kecil, kursi kayu, tempat sampah, hingga taman kecil di sekitar area Coban Pandawa 2. Coban Pandawa 1 letaknya terpisah dari Coban Pandawa 2-4. Dari Coban Pandawa 4, pengunjung dapat sekaligus melihat Coban Pandawa 2 dan 3. Sedangkan untuk menuju Coban Pandawa 2, hanya tinggal naik ke atas bukit sedikit. Sedangkan untuk menuju Coban Pandawa 1, masih harus trekking ke atas bukit (ke arah hulu) sekitar dua puluh menit. Kami pun turun untuk mengambil foto Coban Pandawa 3-4. Setelah selesai, kami kembali ke Coban Pandawa 2.

Berhubung masih hanya kami berdua pengunjungnya dan saya pun mulai mager, akhirnya saya meminjam hammock mas Aris. Akhirnya kesampean juga hammockan lagi di air terjun. Sementara saya hammockan leyeh-leyeh di Coban Pandawa 2, Mas Aris trekking ke Coban Pandawa 1. Penasaran katanya. Cuaca siang ini bener-bener bikin mager. Sekitar 20-30 menit kemudian, mas Aris udah balik lagi. Coban Pandawa 1 tipikal air terjun dengan dinding air terjun yang melebar. Sayangnya, aliran jatuhannya hanya terdapat di sisi kanan dinding air terjun karena kemarau.

Sebenernya saya masih pengen leyeh-leyeh di Coban Pandawa, berhubung saya juga ga tau lagi mau kemana tujuan berikutnya. Pantai sih, sesuai request saya kemarin. Tapi, rasanya ko mager di Coban Pandawa ya. Jam 13.00, kami pun kembali ke parkiran. Setelah bayar ini-itu dan packing ulang, kami pun meluncur menuju pantai. Kata Mas Aris kemungkinan perjalanan ke pantai bakal makan waktu tiga jam. Jadi, pas sampai di pantai pas tinggal nunggu sunset. Cuman, sampe sekarang, saya ga tau pantai mana yang dimaksud.

Di perjalanan, saya iseng browsing-browsing lagi spot apa yang kira-kira bisa didatengin selain pantai. Siapa tau ada air terjun lagi yang kelewat didatengin deket-deket lokasi kami sekarang. Ga sengaja, saya malah nemu Pura Mandara Giri Semeru Agung. Sekilas, saya langsung kepikiran Pura Jagatkarta di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Meskipun belum pernah ke Pura Jagatkarta, tapi liat foto-fotonya sih keren. Pura di lahan terbuka dengan hamparan rumput hijau dengan latar belakang Gunung Salak yang sebagian tertutup kabut bener-bener landscape yang keren. Nah, apalagi pura yang satu ini, di kaki Gunung Semeru.

Saya pun langsung kebut cari referensi. Perjuangan juga cari referensi sambil harus konsentrasi biar saya dan hp ga jatoh gara-gara jalan yang berlubang. Menurut referensi, Pura Mandara Giri Semeru Agung ini merupakan Pura kedua terbesar setelah Pura Besakih di Bali. Tapi, nyatanya, ketika tulisan ini dibuat, malah ada teman saya yang bilang kalau Pura kedua terbesar setelah Pura Besakih itu adalah Pura Jagatkarta. Nah loh. Oke, dari segi jarak dan waktu tempuh dari lokasi kami adalah sektiar 2 jam 40 menit. Satu jam lebih singat dibanding ke pantai. Liat rute dan medan menuju Pura pun kayanya sudah aspal. Banyak referensi yang bilang bahwa banyak juga rombongan yang pakai bus sampai tepat di depan Pura.

Setelah mantap dan penasaran sama pura ini, akhirnya saya bilang plan saya ke Mas Aris. Jauh sih memang, ditambah, Mas Aris pun belum pernah sama sekali ke daerah sana. Dari segi waktu sih masih bisa kekejar, hanya pasti pulang ke Malang bakalan malem lagi. Akhirnya rencana pun berubah. Tujuan kami sekarang bukan lagi pantai di Malang yang entah pantai mana yang dimaksud menjadi ke arah Pura Mandara Giri Semeru Agung di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Oh, ya, kami pun sempat mampir sebentar ke Waduk Kaliungal karena saya penasaran.

Sialnya, kami beberapa kali salah ambil belokan menuju jalan raya. Padahal niatnya buat nyari jalan pintas ke arah jalur utama Malang – Lumajang, eh, malah muter-muter di jalan desa. Terakhir, dapat zonk, jalan desanya masih makadam. Untungnya jalan makadam ini langsung tembus ke jalan raya. Setelah kembali ke jalan raya utama, lalu lintas sangat sepi. Berbeda jauh dari kemarin yang harus susah payah nyusul rombongan truk. Kali ini malahan sepeda motor dan mobil pribadi aja jarang kami temui. Lumayan bisa tancap gas. Ga kerasa, kami malah sudah ngelewati pertigaan ke arah Tempursari.

Jalur ini sudah tidak asing lagi untuk saya. Jalur ini punya kesan sendiri untuk saya. Dari perjalanan nekat menuju Banyuwangi dari Blitarlah, saya bisa kenal jalur ini. Pertama kalinya menyusuri jalan-jalan di Jawa Timur, tengah malam buta kami harus berkenalan dengan Jalur Dampit – Lumajang yang lumayan terkenal ini. Yang paling saya ingat dari jalur ini adalah jembatan panjang dengan aliran material Semeru di bawahnya. Yang belakangan saya tahu namanya adalah Jembatan Gladak Perak di area Piket Nol.

Kami sempat berhenti di SPBU. Sebenernya kaki dan badan udan mulai pegel. Tapi, kalau istirahat sekarang, waktu banyak kebuang. Akhirnya paksain jalan terus. Dalam waktu satu setengah jam, kami sudah mulai melewati Piket Nol. Setelah Jembatan Gladak Perak, medan akan menurun terus hingga memasuki Kecamatan Candipuro. Cuaca ketika memasuki Kecamatan Candipuro berangsur cerah. Sebelumnya, dari mulai keluar dari jalan Desa Sukodono sampai di Jembatan Gladak Perak, cuaca udah mendung banget. Sama sekali ga ada sinar matahari.

Setelah jembatan Gladak Perak, jalan yang akan dilewati berupa jalan lurus monoton dan sudah datar. Lagi enak-enak tancap gas, tau-tau motor oleng lagi. Ternyata, ban belakang bocor lagi. Untungnya, kali ini lokasi ketika ban kami bocor sangat dekat dengan tambal ban. Lumayan juga di tambal ban, dan akhirnya ban dalem pun diganti. Kata bapa tambal ban, kurang lebih 1-2 jam lagi kami baru akan sampai di Pura. Lama juga ya. Saya sempet putus asa. Kepikiran balik arah. Tapi udah nanggung sampe di sini, tinggal sedikit lagi.

Kami pun berbelok ke arah jalan desa dan keluar dari jalan raya utama. Kali ini, kami benar-benar mengandalkan Gmaps sepenuhnya. Kami berdua buta arah di jalur ini. Jalan desanya ternyata jauh lebih baik dibanding jalan desa di Sukodono tadi. Kalau cerah, Semeru akan berada tepat di depan kami. Sayangnya, sedari tadi Semeru sudah sembunyi di balik awan hujan. Kanan dan kiri jalur kami adalah area persawahan. Jalan pun hanya satu jalur. Kami pun berbelok mengikuti arahan rute Gmaps. Medan mulai kembali menanjak. Permukiman warga menghilang tepat di ujung tanjakan dan kembali digantikan hamparan sawah berundak.

Sebenarnya, saya gatel pengen ambil foto landscape di jalur ini, sayangnya, waktu kami terbatas. Kami sempat bablas. Harusnya kami belok ke kanan, tapi kami malah lurus. Jalur yang lurus ini merupakan jalur ke sebuah air terjun. Menggoda sih, liat aliran air di saluran irigasinya jernih banget. Sayangnya tujuan kami kali ini ke Pura. Ternyata, jalur yang harusnya kami lalui sesuai arahan Gmaps jembatannya sedang diperbaiki. Kami ga bisa lewat. Putar arah. Setelah dilihat lagi di peta, mau ga mau kami harus balik arah.

Kami harus mengambil jalur tepat di bukit sebelah dari lokasi kami. Sayangnya, kami harus balik arah dan memutar cukup jauh. Waktu sudah menunnjukan pukul 16.00 WIB. Bener-bener nanggung. Ga banyak buang waktu, kami pun balik arah untuk menuju rute lain yang ditunjukan Gmaps setelah di re-route. Sambil berharap, Semeru segera nongol dari balik awan hujan.

Untungnya, jalan desanya semuanya aspal mulus dan view sepanjang jalan bener-bener keren. Meskipun tanpa Semeru. Kami pun masuk ke jalur lainnya. Ternyata jalur yang barusan kami lewati bertemu kembali dengan jalur utama Candiporo – Senduro. Setelah masuk kembali ke jalan raya utama, barulah lalu lintas ramai. Jalan pun jauh lebih lebar dan kondisinya jauh lebih baik. Jika di jalur pertama jembatannya tidak diperbaiki, kami bisa hemat waktu cukup banyak. Persimpangan jalan tembusan dari jalur pertama dengan jalan raya utama sudah berada sangat dekat dengan lokasi Pura.

Medan yang kami lalui menanjak terus sampai ke Alun-alun Kecamatan Senduro. Ternyata, lokasi Pura yang kami cari berada tidak jauh dari alun-alun dan pusat kota Kecamatan Senduro. Bahkan, lokasinya pun berada persisi di pinggir jalan raya utama. Sedikit pupus juga ekspektasi saya mengenai gambaran pura besar di kaki Gunung Semeru seperti Pura Jagatkarta. Jangankan hamparan lahan yang luas, bahkan di sisi kanan dan kiri pura ini sudah berupa area komersial dan permukiman. Berhasil juga kami sampai di Pura Mandara Giri Semeru Agung.

Kami pun bergegas menaiki anak tangga sekaligus gerbang masuk menuju area Pura. Ketika kami tiba di dalam Pura, ada tiga anak muda yang sedang mengambil gambar untuk sebuah acara musik lokal. Sambil menunggu mereka selesai mengambil gambar, saya pun mengambil foto spot gapura utama kemudian keliling bangunan utama Pura. Sayangnya, area yang saya liat di foto referensi dan yang paling menarik untuk dijadikan spot foto merupakan area terbatas. Hanya yang berkepentingan dan yang akan beribadah saja yang diijinkan memasuki area tersebut.

Setelah keliling satu putaran bangunan utama, kini giliran bagian depan Pura yang jadi spotnya. Setelah area depan/luar Pura, kami pun mengambil foto bangunan utama. Ga pake lama, kami pun segera bersiap-siap pulang setelah semua spot dirasa cukup terdokumentasikan. Setelah berunding, daripada kami memutar ke Lumajang Kota, mendingan lewat jalur yang tadi kami lewati. Dengan catatan ga pake mampir-mampir dan berhenti-berhenti. Padahal perut saya udah mulai perih. Untung masih ada roti sedikit buat ganjal.

Kami pun tancap gas menuju jalur alternatif tadi menuju jalan raya utama Candipuro – Dampit. Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Tidak terasa, kami sudah hampir keluar ke jalur utama Candipuro – Dampit. Kami isi bahan bakar dulu sebelum masuk hutan.Sepanjang jalur, kami hanya menyusul sedikit truk. Itu pun jalannya tidak berombongan seperti biasanya.

Seingat saya, kami mulai jalan dari Pura Mandara Giri Semeru Agung sekitar pukul 17.46 WIB, dan ketika Magrib, kami sudah tiba di dekat jalan masuk menuju Air Terjun Kapas Biru. Bahkan, kami sudah sampai di Dampit sekitar pukul 19.00 lebih. Kami pun melipir ke warung nasi goreng di Dampit. Berdasarkan rekaman rute saya, total waktu tempuh dari Pura Mandara Giri Semeru Agung sampai di alun-alun Dampit hanya 1 jam 38 menit. Berbeda jauh dengan sehari sebelumnya. Setelah makan malam, kami pun melanjutkan perjalanan ke Malang.

Berhubung malam Minggu, jadi, lalu lintas ketika memasuki Kota Malang jauh lebih ramai dibanding kemarin. Hanya saja, jalur Dampit – Pronojiwo jauh lebih sepi dibanding kemarin. Total perjalanan kami dari Senduro sampai di Kota Malang kurang lebih dua jam lebih. Tidak sampai tiga jam. Sudah termasuk berhenti makan dan ke ATM. Sedangkan, perjalanan dari Tempursari kemarin hingga Kota Malang membutuhkan waktu tempuh sekitar tiga jam lebih. Sudah termasuk makan dan ke ATM.

Selesai sudah perjalanan saya di Malang kali ini. Meskipun banyak banget yang ga sesuai rencana awal, tapi puas juga bisa motor-motoran dan maen ke air terjun lagi. Waktunya istirahat dan packing untuk pulang besok.

Minggu, 30 September 2018

Berhubung ga bisa late check out, jadi jam 12.00 WIB saya udah harus keluar dari hotel. Bingung juga nunggu empat jam di stasiun. Akhirnya, karena emang sedikit absurd, akhirnya saya mutusin buat ke Kepanjen. Tentunya udah janjian dulu lah sama Mas Aris. Meskipun ga percaya juga saya ke Kepanjen. Baru percaya setelah dikirim foto bapak supir Grab yang nganterin saya ke Kepanjen. Iya, saya pake Grab dari Kota Malang ke Kepanjen. Absurd abis.

Berhubung emang dadakan kaya tahu bulat, jadi ya sampe di Kepanjen ga tau juga mau kemana. Seenganya ga bengong sendiri sih. Saya janjian sama Mas Aris di Stasiun Kepanjen, sekalian saya tuker tiket dulu, biar tenang. Saya sampai di Kepanjen sekitar pukul 13.00 WIB. Lumayanlah tiga jam kosong. Kami pun menuju sebuah tempat pusat kuliner olahan ikan yang bernama Dempok. Jaraknya 9,7 Km dari Satsiun Kepanjen. Sayangnya, berhubung sekarang Hari Minggu, jadi tempatnya ruammmeee.

Saya langsung mati gaya kalau tempatnya kelewat rame. Akhirnya, kami balik lagi ke arah Kepanjen. Kali ini kami ke Stadion Kanjuruhan. Lumayanlah ngadem sambil nyemilin cireng dan kawan-kawannya. Untungnya cuaca hari ini pun cerah. Jadi, ga perlu ditambah panik harus ujan-ujanan ke arah stasiun. Jam 15.30 WIB, kami ke Stasiun Kepanjen. Jam 16.30 WIB kereta saya ke Bandung masuk Stasiun Kepanjen. Seleai sudah perjalanan saya di Malang kali ini.

Oh, ya selama tiga hari keliling-keliling saya pakai jasa Ojek Wisata Malang. OWM, singkatannya. OWM ini saya dapet info dari temen yang kebetulan Agustus lalu ke Malang. Mas Aris ini salah satu guide dari OWM. OWM bener-bener nolong banget, secara di Malang ga ada kenalan sama sekali. Malahan, tadinya sih mau nekat sewa motor & jalan sendiri ke Tumpak Sewu. Sisanya? Ya di Malang aja. Cuman, buat saya, diem di kota aja sementara banyak banget tempat menarik yang bisa dieksplore, rasanya rugi banget. Bener-bener makasih buat Mba Dika yang udah infoin tentang OWM, mas Sugeng yang kelola OWM & Mas Aris yang udah nganter-nganter dan direpotin ama tamu yang absurd kaya saya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 3, 2019 in AIR TERJUN, DANAU, Travelling

 

EXPLORE MALANG 28 SEPTEMBER 2018

Yap, Malang. Akhirnya bisa kembali berkunjung ke kota ini lagi. Terakhir kali ke Malang –tepatnya numpang lewat aja- yaitu akhir Desember 2012 lalu. Tidak terasa sudah enam tahun berlalu. Kali ini, kunjungan saya ke Malang tentu saja untuk mengunjungi Tumpak Sewu. Air terjun yang super cantik dan ngehits banget dari Jawa Timur ini memang sudah jadi incaran saya. Kurang lebih satu sampai satu setengah tahun ke belakang. Kalau selama ini saya cuman bisa liatin foto-foto Tumpak Sewu di sosial media, kali ini saya bakalan liat langsung.

“Sampean turun di Stasiun Kepanjen aja ya, lebih dekat”

Pesan WA dari Mas Aris yang akan nemenin saya jalan-jalan di Malang dan sekitarnya selama dua hari ke depan. Kenapa turun di Kepanjen? Soalnya ternyata arah ke Tumpak Sewu itu memang lebih deket jaraknya kalau start dari Kepanjen. Kalau start dari Malang, malah jadi mundur lagi. Selain itu juga, kebeneran, rumah Mas Aris juga di Kepanjen.

Jumat, 28 September 2018

Setelah 14,5 jam perjalanan dari Bandung, sampailah saya di Kepanjen, ibukota Kabupaten Malang. Sesuai arahan Mas Aris, saya pun turun di Stasiun Kepanjen. Stasiun Kepanjen termasuk stasiun kecil, jadi lumayan enak kalau janjian. Apalagi sama teman yang belum pernah ketemu sama sekali. Setelah bertemu Mas Aris, saya sempatkan sarapan dulu. Sebenarnya ga lapar, cuman berhubung daripada masuk angin dan ga ada tenaga pas nanti trekking, paksain makan dulu sedikit. Menu sarapan pagi ini adalah pecel tepat di seberang Stasiun Kepanjen.

Tujuan pertama kami hari ini adalah Tumpak Sewu di Lumajang. Sumber Pitu sebagai tujuan utama berikutnya pun jadi tujuan untuk besok saja karena arahnya yang berlawanan jauh. Kami pun meluncur menuju Tumpak Sewu. Jalur yang akan kami lalui dari Kepanjen adalah Kepanjen – Gondanglegi – Turen – Dampit – Tirtoyudo – Ampelgading – Pronojiwo – Tumpak Sewu. Jalur yang kami lewati ini merupakan jalur truk pasir, jadi, sudah dapat dipastikan bakal nyalip banyak truk dan jalannya berlubang.

Cuaca pagi ini cerah, sampai Semeru pun terlihat jelas sepanjang perjalanan ke Tumpak Sewu. Perjalanan ke Tumpak Sewu dari Kepanjen kurang lebih dua jam. Itupun kalau jalannya cepat, non stop, dan ga macet gara-gara banyak truk. Perjalanan kami pagi ini bisa dibilang cukup lancar. Truk kebanyakan dari arah Lumajang ke Kepanjen. Berlawanan arah dengan arah yang kami tuju.

Ternyata pagi yang cerah dan udara yang lebih dingin dari Kepanjen sukses bikin saya ngantuk. Berhubung belum beli minum dan cemilan, jadi melipir dulu ke minimarket. Lumayan bisa ikut cuci muka (lagi) sambil beli minum. Udah yakin pasti nanti bakalan treking-treking, jadi wajib siapin air minum. Setelah istirahat sebentar, kami pun jalan lagi ke arah Tumpak Sewu.

Mas Aris sempet nawarin mau masuk ke Coban Sewu dulu atau langsung Tumpak Sewu. Nah lo? Dimana lagi itu Coban Sewu? Ternnyata, lokasi Tumpak Sewu ini berada persis di perbatasan Kabupaten Malang – Kabupaten Lumajang. Aliran sungainya merupakan batas geografis dua kabupaten tersebut. Karena masuk ke dalam dua wilayah administrasi, jadi masing-masing daerah sama-sama buka akses untuk wisata.

Coban Sewu merupakan nama yang diberikan untuk air terjun ini dari arah Kabupaten Malang. Akses masuknya berada di Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Sedangkan Tumpak Sewu adalah nama yang diberikan untuk air terjun ini dari arah Kabupaten Lumajang. Akses masuknya berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Saya langsung memilih akses masuk yang dari Kabupaten Lumajang. Karena memang spot yang dari Kabupaten Lumajanglah yang saya ingin datangi.

Kami sampai di parkiran Tumpak Sewu tepat jam 09.00 WIB. Dua jam perjalanan, pas sesuai perhitungan. Setelah parkir, kami pun menuju (sebut saja) spot panorama. Dari gerbang tiket, kami harus trekking dulu. Berhubung medannya turun terus, jadi hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit dari loket tiket sampai ke spot panorama. Jalur trekking sudah di semen. Semakin mendekati tujuan, turunan semakin curam. DI beberapa titik disediakan kursi dan tempat sampah. Disini juga tersedia jasa ojek dengan tarif 10.000 Rupiah. Ojek ini menjadi alternatif untuk menghemat waktu dan tenaga dari spot panorama ke parkiran.

Ketika kami sampai di Spot Panorama hanya ada dua orang pengunjung. Itu pun sepertinya sudah mau pulang. Rasanya puas bisa sampai ke Tumpak Sewu. Selama ini hanya bisa ngiler liatin foto-foto temen, akhirnya sekarang bisa punya foto sendiri. Udara cukup cerah, bahkan langit pun biru sempurna. Ga ada awan. Semeru pun terihat cukup jelas dari Spot Panorama ini.

Mas Aris nawarin untuk ke bawah. Berhubung sempet baca-baca kaya gimana trek ke bawah dan kondisi fisik yang emang ga ada tenaga ini, saya pun mikir-mikir lagi. Apalagi kalo inget ada tangga bambu vertikal yang harus dilewatin. Duh, rasanya ga sanggup. Sebenernya saya juga penasaran sih sama jalur trekkingnya kaya gimana. Akhirnya setuju, buat ngintip jalur turunnya kaya gimana. Ternyata jalur turunnya berupa jalan setapak dari tanah. Jalan setapak tanah diselingi bambu sebagai jembatan kecil penghubung celah antar tebing dan tangga untuk turun.

Setelah dipikir-pikir, sayang juga udah sampai sini tapi ga tuntas ke bawah. Berhubung masih pagi banget juga. Seengganya kalau nanti trekking naiknya lama, ga akan kesorean banget. Saya pun mengiyakan ajakan Mas Aris untuk turun. Awalnya sih biasa aja. Jalan setapak tanah kemudian jembatan bambu, jalan setapak lagi, tangga bambu, jalan setapak lagi. Tapi, lama kelamaan, tangga bambunya makin berasa vertikal. Ada juga yang jarak antar anak tangga bambunya lumayan jauh. Keliatan jelaslah jurang di bawah. Oke, kaki mulai gemeteran. Yang saya suka dari trek ini adalah pijakan jembatan bambu, anak tangga bambu, dan pegangan untuk tangannya kokoh.

Kayanya udah turun jauh, tapi ko ga nyampe-nyampe. Liat ke arah sungai pun, ga keliatan-keliatan aja sungainya. Makin turun, tangga makin bikin kaki gemeteran. Dan, puncaknya adalah setelah tangga-tangga bambu abis. Oh, ada satu bagian yang tangganya emang bener-bener vertikal, tapi masih okelah. Yang bikin kaki makin tremor buat saya, ya trek setelah tangga-tangga bambu ini.

Tepat di ujung anak tangga bambu terakhir, pijakan udah bukan lagi tanah, tapi langsung batu. Batunya pun bukan batu biasa. Batu ini merupakan bagian dari badan air terjun kecil yang harus kita lewatin. Jadi, pertama kita nyebrangin aliran air terjun yang paling pinggir. Disini masih ada tali dan bambu untuk pegangan. Setelah ini, kita harus nurunin aliran air terjun kecil ini. Bener-bener turun modal pijakan celah-celah batu yang kekikis air sampe jadi kaya tangga. Disini kita dikasih tali tambang untuk pegangan. Tapi tali ini pun ga cukup sampe ke bawah.

Untungnya, karakter batuan air terjun kecil ini bukan yang super licin berlumut. Ada beberapa yang emang licin dan berlumut, tapi bukan di batu yang bisa dijadiin pijakan pengunjung. Ga usah tanya kaki ama tangan gemeterannya kaya apa. Sampai di bawah, langsung cari tempat duduk dulu. Untungnya ada warung yang kebeneran tutup. Numpang duduk dululah ngilangin tremor.

Kalo kata Mas Aris, abis ini jalannya udah enak, udah datar. Tinggal ikutin aliran sungainya aja ke hulu. Oh iya kalau udah sampai sini, jalurnya kebagi dua. Yang ke kanan (ke arah hulu sungai) jalur ke Tumpak Sewu. Kalau ke kiri (ke arah hilir sungai) jalur ke Goa Tetes. Dari spot ini, jarak ke Goa Tetes kurang lebih 1-2 Km lagi. Sebenernya penasaran juga sama Goa Tetes, tapi kalau inget jalur naik dari Tumpak Sewu ke parkiran, ah sudahlah skip dulu saja Goa Tetesnya.

Setelah warung ini, kalau kita ambil ke arah Tumpak Sewu, akan ada pos lagi. Di sini pengunjung dikenakan retribusi lagi sebesar 5.000 Rupiah per orang. Ternyata, ga ada warga yang jaga. Warung tutup, warga yang jaga retribusi pun ga ada, mungkin karena ini hari Jumat dan udah hampir jam 09.30 WIB. Mungkin lebih milih untuk siap-siap Jumatan. Udara di bawah sini jauh lebih sejuk dibanding di spot panorama tadi. Kami masih harus menyeberangi jembatan bambu dan sedikit naik ke batu-batu untuk sampai ke depan Tumpak Sewu.

Sebenernya ga seberapa sih nanjaknya, cuman berhubung tenaga udah abis dipake turun, jadi rasanya mallleess banget liat jalan nanjak lagi. Tapi, setelah sampai di ujung tanjakan, barulah Tumpak Sewunya keliatan jelas. Di sini saya minta istirahat (lagi). Lumayan sambil ancer-ancer ambil spot foto dari arah mana. Selagi ambil nafas lagi, ada tamu juga dari Jakarta yang udah sampe duluan dan lagi foto-foto.

Berhubung udah cape banget dan masih harus nyiapin tenaga buat naik, jadi saya mutusin untuk ga naik lagi ke spot batu-batu tempat tamu-tamu dari Jakarta. Emang sih, viewnya pasti lebih keren, cuman rasanya udah ga sanggup lagi buat nanjak-nanjak meskipun sedikit. Dari tempat saya sekarang pun udah bagus banget untuk ambil beberapa spot foto. Saya jalan ke arah sungai. Dari posisi kami sekarang, aliran jatuhan di sisi kiri sampai ke sebagian sisi kanan Tumpak Sewu udah keliatan jelas kok. Meskipun ga full view kaya kalau naik ke spot batu.

Sayangnya kalau mau mendekati ke aliran jatuhan sisi kiri dan tengah, saya harus nyebrangin sungai. Kalau kata Mas Aris sih, dalemnya mungkin selutut. Aga males juga sih basah-basahan. Secara nanti masih harus najak sampe parkiran. Kalau celana sama sepatu basah, malah makin berat jadinya. Buat saya sih, bisa sampe ke bawah sini aja udah lebih dari rencana. Awalnya malahan hanya mau di spot panorama aja. Eh, taunya malah sampe ke bawah, rasanya udah puas banget. Kesampean juga yang selama dua taun ini cuman bisa liat foto-fotonya di sosmed, sekarang bisa liat langsung. Malah dapet dua spot sekaligus.

Beres foto-foto, saya minta istirahat dulu. Ngumpulin tenaga dulu buat nanjak. Sebenernya sih masih pengen lama-lama di sini, berhubung hari Jumat, jadi ngejar biar Mas Aris bisa Jumatan. Jam sebelas kurang, kami mulai jalan. Sesampainya kami di warung sebelum aliran air terjun, kami liat ada tiga orang yang sedang turun. Daripada nanti papasan di tengah tangga, mendingan kami nunggu dulu. Kurang lebih lima belas menit, akhirnya tiga orang tadi sampai di warung tempat kami duduk. Kami pun pamitan untuk naik. Baru juga beberapa anak tangga, nafas udah ga karuan. Akhirnya saya berhenti lagi, tepat sebelum trek aliran air terjun.

Begitu naik di aliran air terjun, bingung juga soalnya takut salah pijakan. Salah pijakan, byeeee….. Selain itu, tali tambang yang ada di samping kiri pun pas naik ini ga terlalu membantu. Setelah susah payah, akhirnya saya sampai di ujung trek air terjun. Mas Aris? Ga usah ditanya, udah nyampe daritadi.

Setelah nyebrang, saya pun minta istirahat lagi. Seengganya trek yang bikin dengkul lemes udah lewat. Sekarang saatnya tangga bambu sampai ke spot panorama. Ga usah ditanya berapa kali saya berenti dan seberapa lamanya saya naikin tangga bambu. Nafas udah ga karuan, tenaga tinggal sisa-sisa. Tiap tangga bambu abis, berenti. Kalau tangga bambunya panjang, pasti berenti di tengah-tengah. Kecuali di jembatan bambu aja saya ga berenti. Ngeri juga takut tiba-tiba jebol.

Akhirnya setelah susah payah nanjak dengan tenaga sisa-sisa dan nafas yang udah ga karuan, kami pun sampai lagi di spot panorama. Perlu waktu empat puluh menit dari warung paling bawah sampai ke spot panorama. Lumayan juga, itu udah sama nunggu tiga orang yang turun pas di warung sama berenti tiap abis nanjak di tangga bambu. Saya kira, udah satu jam lebih. Kami mampir lagi ke spot panorama. Berhubung belum puas ambil foto di spot ini. Kami ga bisa lama-lama juga, soalnya masih harus nanjak lagi sampai parkiran. Ngejar waktu Jumatan juga.

Sempet kepikir, saya naik ojek aja kali ya biar cepet. Biar Mas Aris juga keburu Jumatan. Biaya ojek kalau ga salah 10.000 Rupiah/ motor. Begitu sampai di pos ojek, ga ada motor satupun. Yah, ini sih emang disuruh jalan kaki sampai tuntas judulnya. Kami pun nanjak lagi ke parkiran. Ga usah tanya berapa kali berenti. Sedikit-sedikit berenti. Apalagi di beberapa tanjakan disediain kursi. Jadi, tiap nyampe kursi, berenti lagi. Kami perlu waktu kurang lebih lima belas menit nanjak sampai ke parkiran.

Sampai di parkiran, pas banget waktunya Jumatan. Sambil nunggu Mas Aris Jumatan, saya mending numpang cuci muka sama ganti baju. Ini pertama kalinya saya trekking berat lagi. Sebelumnya, saya cuman trekking ke air terjun dengan durasi nanjak hanya lima belas sampai dua puluh menit. Itu pun hampir satu bulan yang lalu. Berhubung fisik udah kekuras abis, jadi sepertinya Kapas Biru saya lewat untuk hari ini. Coban Ciblungan langsung jadi alternatif tujuan berikutnya. Memang, sebelum berangkat, saya punya empat air terjun yang jadi tujuan utama.

Tumpak Sewu, Kapas Biru, Coban Ciblungan, Sumber Pitu Pujon, dan Sumber Pitu di Tumpang. Ada dua lagi Coban Buntung dan Coban Telaga Warna tapi berhubung yang dua terakhir aga meragukan, jadi ga terlalu saya kejar. Begitu Mas Aris selesei Jumatan, kami langsung menuju Coban Ciblungan. Dari beberapa referensi yang saya baca, akses trekking ke Coban Ciblungan ga susah. Coban Ciblungan juga merupakan air terjun yang cukup populer. Sudah banyak yang datang ke Coban Ciblungan.

Jika dari arah Lumajang, Coban Ciblungan letaknya setelah Tumpak Sewu. Otomatis, rute kami mengarah ke arah Malang lagi, searah jalur pulang. Pagi tadi selagi menuju Tumpak Sewu dari arah Kepanjen, kami memang sempat melihat baligo Coban Ciblungan. Lalu lintas siang ini lumayan sepi. Jadi, kami sampai ke persimpangan menuju Coban Ciblungan lumayan cepat. Kami mulai memasuki jalan desa. Kondisi jalannya cukup baik. Sudah ada penunjuk arah menuju Coban Ciblungan di persimpangan.

Kami tiba di parkiran Coban Ciblungan. Jalur trekking menuju Coban CIblungan berada di seberang area parkir. Kami membutuhkan waktu kurang lebih lima menit untuk sampai ke Coban Ciblungan. Jalur trekking full menurun jika menuju air terjun. Jalur trekking sudah dibuat. Jadi, tidak terlalu terjal dan tidak terlalu licin. Mendekati area air terjun, jalur trekking yang dibuatkan anak tangga memiliki pegangan juga. Terdapat area cukup luas sebelum tiba di air terjun. Di area ini dibuat beberapa spot selfie dengan latar belakang Coban Ciblungan tentunya. Area ini juga merupakan spot terbaik untuk mengambil angel Coban Ciblungan.

Air di Coban Ciblungan ini sangat jernih dan sangat dingin. Coban Ciblungan memiliki karakteristik Paralel Waterfall. Artinya terdapat lebih dari satu aliran jatuhan dalam satu bentukan air terjun dengan sumber yang berbeda untuk masing-masing jatuhan. Aliran jatuhan utama Coban Ciblungan berasal dari aliran sungai. Sedangkan aliran jatuhan minornya berasal dari mata air. Mata air di sekitar Coban Ciblungan keluar melalui retakan pada dinding batuan air terjun. Jumlahnya cukup banyak dan terdapat hampir mengelilingi dinding air terjun Coban Ciblungan.

Berhubung masih belum musim hujan, aliran jatuhan utama Coban Ciblungan yang berasal dari aliran sungai sangat kecil. Sementara, aliran jatuhan yang berasal dari mata air volumenya cukup besar. Di beberapa referensi yang sempat saya baca, ada beberapa referensi yang mencantumkan foto Coban Ciblungan dengan air yang keruh. Mungkin karena aliran jatuhan utama yang berasal dari aliran sungai bila musim hujan membawa cukup banyak material tanah sehingga akan merubah warna air di kolam.

Coban Ciblungan ini punya kolam yang cukup luas dan sebagiannya cukup dangkal. Jadi, ketika musim kemarau bisa dipakai untuk main air. Meskipun, semakin mendekati dinding air terjun, akan semakin dalam, sehingga tidak disarankan untuk bermain di sekitar dinding air terjun. Apalagi yang tidak bisa berenang.  Setelah selesei mengambil beberapa foto, saatnya kembali ke parkiran. Kalau menuju parkiran dari Coban Ciblungan, medannya full tanjakan. Tapi tidak susah seperti Tumpak Sewu. Perlu waktu kurang lebih sepuluh menit untuk saya sampai di parkiran lagi.

Ketika sampai di parkiran, masih lumayan banyak waktu sebelum sunset. Berhubung sekarang posisi kami udah lebih ke Timur, lebih deket sama Lumajang, jadi saya pun putusin untuk ke pantai di Lumajang. Kenapa pantai di Lumajang? Emang apa menariknya pantai di Lumajang? Perasaan ga se-booming­ pantai-pantai di Malang. Nah, justru itu, saya malah penasaran. Sektiar satu tahun yang lalu, saya ga sengaja baca-baca artikel tentang pantai-pantai di Lumajang. Yang bikin unik adalah hampir semua pasir pantai di Lumajang warnanya hitam.

Berhubung saya lupa, pantai mana aja yang waktu dulu saya udah tandain, jadi kali ini saya asal liat di peta aja pantainya. Dapatlah Pantai Watu Godek. Kalau liat dari posisinya sih, ga terlalu jauh dan bisa balik lagi sebelum Magrib. Rutenya juga kayanya lumayan gampang dan ga ada jalur offroadnya. Sambil istirahat, sabil cari-cari referensi tentang Pantai Watu Godek. Sayangnya, hampir semua artikel yang kami baca kurang memuaskan infonya. Ya sudahlah, mendingan kami langsung berangkat ke Pantai Watu Godek.

Rute kami sekarang balik lagi ke arah Lumajang. Lewatin lagi jalan masuk ke Tumpak Sewu. Setelah persimpangan dengan jalan masuk ke Tumpak Sewu, saya liat jalan masuk ke Goa Tetes, Kapas Biru, Coban Srengege, dan Coban Sumber Telu. Kondisi jalan lumyan lancar. Truk dan kendaraan lainnya ga sebanyak tadi pagi. Setiba di titik persimpangan, kami ambil jalur ke Selatan Lumajang. Tepatnya menuju arah Kecamatan Tempursari. Ini pertama kalinya saya nyobain jalur Selatannya Lumajang.

Jalannya lebih kecil dan aspalnya tidak sebagus jalur utama Lumajang. Ga jauh dari persimpangan, jalan kembali berkelok-kelok. Jalan yang kami lewatin sekarang ini merupakan bagian atas dari tebingnya air terjun Kapas Biru. Tepat di sisi kanan jalan merupakan jurang yang cukup luas dan dalam. Dasarnya adalah airan sungai. Beberapa diantaranya adalah lokasi Air Terjun Kapas Biru dan Air Terjun Kabut Pelangi. Sebenernya masih ada air terjun di tebing-tebing ini, hanya saya lupa nama-namanya. Semeru pun masih terlihat jelas di jalur ini. Meskipun bagian lerengnya sudah tertutup perbukitan.

Ga lama kami jalan, motor berasa aga aneh. Di tikungan kerasa oleng. Setelah di cek, ternyata ban belakang bocor. Waduh, mana posisi kami sekarang di tempat yang ga ada rumah sama sekali. Tujuan pun masih jauh banget. Akhirnya kami mutusin buat balik arah cari tambal ban. Untunya, ga jauh dari tempat kami, ada tambal ban. Sambil tambal ban, sambil nanya-nanya tentang Pantai Watu Gedek. Berhubung ibu-ibu di tambal ban ngobrolnya sama mas Aris pake Bahasa Jawa, jadi intinya aja.

Kami udah ada di jalur yang bener kalau mau ke pantai. Pantai masih jauh, mungkin sekitar dua jam lagi baru sampai. Jalannya sudah bagus sampai pantai. Jalan sama di pantai sekarang (hari ini) sepi. Beres tambal ban, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Watu Godek. Jalan yang kami lewatin monoton. Berkelok dan kebanyakan turunan. Lalu lintasnya lumayan sepi dan beberapa kali lewatin area kebun yang ga ada rumah penduduknya.

Sekitar hampir satu jam, pemandangan di depan kami mulai kebuka. Di sisi kiri jalan terdapat jejeran perbukitan dari arah Utara yang berujung di pesisir pantai. Dan di depan kami, garis pantai mulai terlihat. Jalan yang kami lalui pun mulai menuruni bukit.

Setelah turunan habis. Sampilah kami di dataran rendah. Kecamatan Tempursari, nama daerah yang kami lalui sekarang. Medan jalan sudah mulai datar dan lurus. Kami pun mengikuti rute yang ditunjukan Google Maps. Ternyata untuk sampai ke Pantai Watu Godek masih harus ke arah Timur lagi. Setelah tiba di ujung jalan aspal, kami pun bertemu persimpangan. Menurut Google Maps, jalan yang harus kami ambil adalah jalur yang berada di kiri kami. Sedikit malas sebenarnya, karena jalan di kiri kami merupakan jalan desa dengan aspal yang sudah terkelupas.

Kami pun mengambil jalan ke arah kiri. Sebelumnya, dari pusat kota Kecamatan Tempursari, kami beberapa kali salah mengambil belokan. Kali ini, sepertinya jalurnya benar. Jalan dengan lapisan aspal paling atas sudah menghilang digantikan batu dan bergelombang menjadi medan yang cukup membosankan. Ditambah, pemandangan di sekitar kami cukup tertutup. Area kebun milik warga yang didominasi semak belukar dan pepohonan serta tebing di sisi kiri kami menjadikan perjalanan di jalur ini terasa sangat lama.

Sempet was-was juga takut ban motornya kempes lagi liat kondisi jalan yang jelek dan banyak batu tajem. Kami isi bahan bakar satu kali lagi. Sekilas, saya lihat jam. Sudah pukul 15.00 WIB. Kata ibu penjual bensin, kurang lebih tiga puluh menit lagi kami baru sampai di pantai. Sempet kepikiran buat ajak balik kanan aja. Tapi, nanggung katanya. Matahari mulai muncul lagi, tadi sempat mendung. Kami pun sepakat melanjutkan perjalanan ke Pantai Watu Godek.

Pas, tiga puluh menit kemudian, kami akhirnya melihat garis pantai lagi. Penunjuk posisi kami di Google Maps pun semakin mendekati Pantai Watu Godek. Tapi, ternyata di lokasi dan di Google Maps sedikit berbeda. Menurut Google Maps, kami masih harus terus. Sedangkan di depan kami ada papan penunjuk arah menuju area trail sekaligus bisa tembus ke Pantai Watu Godek. Di sinilah, saya baru sadar bahwa ada dua pantai dengan nama yang hampir sama. Pantai Watu Godek dan Pantai Watu Gedek. Kami pun memilih melanjutkan perjalanan ke Pantai Watu Gedek.

Setelah tanjakan panjang, jalan pun menurun. Dan, tepat setelah turunan habis, jalan berubah menjadi datar dan lurus. Di sisi kanan jalan sudah merupakan hamparan pasir hitam dan garis pantai. Bila melihat di Google Maps, pantai yang berada di sisi kanan kami adalah Pantai Pandan. Tepat di ujung jalan terdapat jembatan kayu yang sudah sangat tidak layak untuk dilalui.

Saya memutuskan untuk turun dan menyeberang duluan dengan berjalan kaki. Ketika motor melintas di jembatan, beberapa balok kayu penyangga jembatan bergeser. Di bawah jembatan merupakan aliran muara sungai. Pada waktu kami di sini, tidak ada airnya, hanya pasir hitam yang sangat gembur. Kondisi jalan di seberang jembatan sangat kontras dengan jalan yang berada di pesisir Pantai Pandan.

Jalan aspal mulus berubah menjadi jalan setapak yang lama kelamaan hilang. Jalan setapak dekat jembatan berupa pasir pantai yang berwarna hitam yang sudah dipadatkan. Namun, beberapa meter dari situ, berubah menjadi jalan setapak dari pasir pantai yang gembur. Motor sempat stuck di pasir karena terlalu gembur untuk dilalui. Sebenarnya tebing Pantai Watu Gedek sudah terlihat dari posisi kami sekarang. Hanya saja, untuk bisa ke sana, sepertinya berjalan kaki menjadi satu-satunya pilihan.

Jika berjalan kaki, akan memakan waktu cukup lama. Belum lagi di lokasi kami tidak ada tempat untuk memarkirkan kendaraan dengan aman. Tidak ada satu orang pun yang melintas. Tidak ada warung dan rumah penduduk. Hanya hamparan pasir hitam dan semak belukar luas di sekeliling kami. Kali ini kami balik arah. Setelah menyeberangi jembatan kayu, saya meminta untuk berhenti sebentar. Tepat di samping jembatan ada saung kecil. Lumayan, sambil istirahat, saya mau ambil foto sedikit.

Pantai Pandan memiliki tipikal pantai dengan garis pantai panjang, datar, dan monoton. Pasirnya berwarna hitam. Sekilas, mengingatkan saya pada sebuah pantai di Tasikmalaya Selatan yang sama persisi dengan Pantai Pandan. Hanya saja, pasir pantai di Pantai Pandan jauh lebih gembur dan warna pasirnya lebih cerah. Tidak berapa lama, ternyata ada satu motor datang dari arah Pantai Watu Gedek. Dua orang, perempuan dan laki-laki dengan bawaan cukup banyak. Dari kampung sebelah sepertinya. Atau memang habis dari kebun. Entahlah, ketika kami siap-siap untuk jalan lagi, kedua orang ini baru tiba di saung.

Tambahan. Ketika tulisan ini dibuat, tepatnya tiga bulan setelah kegagalan saya ke Pantai Watu Gedek. Saya pun mengecek jalan dari Pantai Pandan hingga Pantai Watu Gedek melalui Google Street View. Sangat berbeda. Berdasarkan data Google Street View yang tertera tahun 2015, dari Pantai Pandan sampai Pantai Watu Godek, bahkan sampai ke Pantai Muara Gede di Timur jalannya berupa aspal mulus. Jembatan kayu yang kami lewati pun masih berupa jembatan beton yang sangat layak pakai.

Akhirnya kami putar arah dan mencoba mampir ke Pantai Watu Godek. Sekalian pulang. Kami tiba di gapura tanpa nama yang di Google Maps diberi tanda sebagai lokasi sirkuit trail Watu Godek. Kami pun masuk ke arah gapura. Jarak dari gapura hingga bibir pantai cukup jauh dengan jalan yang tidak terlalu bagus. Setiba di bibir pantai, kami masih harus melipir ke arah Timur. Menuju tebing dan perbukitan. Ternyata, ini adalah pantai yang sama dengan yang saya baca referensinya di Google. Pantai Watu Godek. Bentuk batuan dan tebingnya sama persis dengan yang saya baca-baca ketika di Coban Ciblungan tadi siang. Jadi, bisa disimpulkan, sebenarnya tujuan kami Pantai Watu Godek, bukan Pantai Watu Gedek.

Pantai Watu Godek sore ini sangat sepi. Hanya ada kami berdua. Jalan setapak kecil dan hampir tertutup pasir hitam yang gembur. Tidak ada warung. Ada bangunan toilet tetapi sudah tidak dapat digunakan. Jelas sangat tidak terurus. Ujung jalan setapak adalah tebing bukit. Tepat di sebelah kirinya merupakan tangga menuju satu Pura di puncak bukit. Kami memilih untuk ke arah bibir pantai.

Dari lokasi kami di pinggir pantai, tebing yang menjadi icon Pantai Watu Godek terlihat sangat jelas. Artinya kami tidak salah lokasi. Garis pantainya sangat panjang. Monoton lurus dan datar. Pasir masih berwarna hitam. Di kejauhan di ujung Timur, samar terlihat sebuah pulau cukup besar. Saya yakin itu adalah Pulau Nusa Barung yang berada di Jember (dan memang benar setelah di cek di Google Maps).

Setelah cukup ambil foto, kami pun segera melanjutkan perjalanan pulang. Hampir jam 16.00 WIB. Kami harus bergegas supaya ga kemaleman di jalur bukit. Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Kami sudah sampai lagi di pusat kota Kecamatan Tempursari. Kami mampir sebentar di mini market. Beli minum sambil recehin uang. Beli cemilan juga sih soalnya perut mulai kerasa perih. Baru sadar, terakhir makan berat ya pas sarapan di stasiun tadi. Selebihnya hanya minum dan makan cemilan. Kami mampir lagi di pertengahan jalan di masjid. Setelah semua urusan beres, kami pun tancap gas non stop ke arah Pronojiwo lagi.

Niatnya mau ambil foto Semeru di lokasi deket tambal ban tadi siang. Ternyata Semeru sudah semuanya ketutup kabut dan awan. Kami sampai jalur utama Malang – Lumajang sekitar pukul 17.00 WIB. Jalanan masih sepi. Berhubung perut udah berasa perih, jadi saya minta untuk sekalian cari tempat makan di jalur ini. Biar sekalian, jadi habis makan bisa jalan nonstop sampai Malang. Ga jauh dari persimpangan ke arah Tempursari, kami akhirnya ketemu rombongan touring truk pasir. Setelah nyusul dua rombongan, kami melipir ke tempat makan.

Pas berenti, pas Magrib. Selama kami berhenti makan, kurang lebih satu jam, rombongan touring truk pasir makin ramai. Sekali rombongan truk lewat, bisa enam bahkan lebih truk pasir. Setelah habis satu rombongan ada jeda beberapa menit. Ketika jeda inilah jalanan lumayan sepi. Tidak lama, melintas lagi satu rombongan truk. Hal ini berlaku juga untuk arah sebaliknya, menuju Lumajang.

Sekitar 18.30 WIB, kami kembali jalan. Kali ini lalu lintas lumayan ramai. Rasanya pengen cepet sampe Malang. Badan pegel, ngantuk, ditambah harus sabar ngantri buat nyusul truk. Sukses bikin perjalanan selama kurang lebih dua jam ini berasa enam jam. Sepanjang Pronojiwo sampai masuk Turen ga abis-abis truk pasirnya. Nyalip rombongan truk ini pun ga gampang. Sekali susul harus serombongan. Belum lagi lalu lintas dari arah berlawanan juga lumayan padat. Bonus jalan berlubang, pasir, dan jalan yang bergelombang. Rasanya kaya ngelewat di jalur Sumedang – Cirebon pas truk lagi rame tapi tiga kali lipatnya. Untungnya, kali ini ban motor bersahabat.

Kami masuk Malang kota sekitar jam 21.00 WIB. Ini Kota Malang emang lumayan gede, atau emang karena sayanya cape. Perasaan ga nyampe-nyampe. Saya sempat minta mampir dulu ke ATM terdekat sebelum ke hotel. Beres urusan susul menyusul truk, urusan uang cash, barulah bisa istirahat. Mata rasanya panas dan perih. Efek ngahan ngantuk dan kena debu. Berhubung fisik udah lumayan payah, jadi rencana ke Tumpak Sewu besok fix dibatalin. Artinya, malam ini saya harus searching spot dadakan. Pilihannya air terjun yang ga terlalu susah dan pantai.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on February 3, 2019 in AIR TERJUN, PANTAI, Travelling

 

PURA MANDHARA GIRI SEMERU AGUNG

Pura Mandhara Giri Semeru Agung berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Lebih tepatnya, Pura Mandhara Giri Semeru Agung berada di Jalan Serma Dohir pada koordinat -8.091197, 113.088263. Berdasarkan sumber berikut, penamaan, status, dan pengelola pura ditetapkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Adapun ketetapannya sebagai berikut: nama Pura Mandhara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja Hyang Widhi Wasa.

Sejarah pembangunan Pura

Berdasarkan beberapa sumber, Awalnya Pura Mandara Giri Semeru berada diatas tanah pekarangan yang luasnya hanya 25 meter x 60 meter. Tempat ini merupakan keinginan dari masyarakat Hindu di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur untuk membangun sebuah Bangunan Suci berupa Pura. Saat itu untuk mewujudkannya merupakan hal yang tidak mudah dicapai. Keinginan ini berawal sejak diadakannya tradisi nuur tirta (memohon air suci) dari Bali langsung ke Patirtaaan Watu Klosot yang terletak di kaki Gunung Semeru. Hal ini berkaitan dengan upacara Agung Karya Ekadasa Rudra yang dilaksanakan di Pura Agung Besakih pada Maret 1963. Kegiatan nuwur tirta kembali dilaksanakan pada tahun 1979 saat upacara Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih.

Sejak itu dimulailah tradisi rutin nuur tirta dan Kawasan Gunung Sumeru dengan mata air suci Watu Kelosot pun makin dikenal kalangan umat Hindu di Bali maupun di luar Bali. Sebelumnya para pandita ataupun sulinggih biasanya cukup hanya ngaskara atau ngayat ke Gunung Semeru. Tujuannya untuk memohon kehadapan Hyang Siwa Pasupati yang diyakini berstana di puncak Gunung Semeru. Namun seiring kemajuan teknologi transportasi dan niat untuk nuur atau mendak tirta secara langsung ke Gunung Semeru pun dilaksanakan oleh pemedek dari Bali.

Saat ngiring nuur tirta terdapat kendala dikala pemedek harus menginap semalam untuk beristirahat karena perjalanan yang cukup lama. Dan tidak etis rasanya untuk menginap sambil ngiring tirta yang baru saja ditunas dimohonkan dengan tulus iklas. Oleh karena itu munculah keinginan untuk mendirikan tempat suci di sekitar Gunung Semeru. Pendirian pura di kawasan ini sangatlah tepat. Dikarenakan kawasan ini secara historis juga merupakan kawasan suci semasa Jawa Kuno. Sebagaimana dapat disusuri dari sumber kesusastraan Nagarakertagama berbahasa Jawa Kuno. Letaknya Pura ini pun berada di Kaki Gunung Semeru yang merupakan Gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Izin lokasi pendirian pura diajukan, namun hal ini ditolak Bupati Lumajang. Alasannya karena tempat sempit dan dekat pemukiman non-Hindu. Setelah adanya musyawarah, akhirnya dipilih lokasi berdirinya pura saat ini. Awalnya Pura hanya berada di sebuah pekarangan dengan luas hanya 25 x 60 meter. Seiring waktu dan dengan perjuangan masyarakat sekitarnya serta bantuan dari Umat Hindu di Indonesia hingga akhirnya 3 tahun kemudian, areal tanah berkembang menjadi dua hektar dan ijin mendirikan Pura disetujui. Bangunan Pura yang awalnya nampak sederhana, kini sudah menjadi sangat megah. Bangunan pun menjadi semakin lengkap dengan sarana dan fasilitas untuk pemedek yang tangkil ke Pura Mandara Giri Semeru.

Tata Letak Bangunan di dalam Pura

Berdasarkan berbagai sumber, Di Pura Mandara Giri Semeru Agung, tak semua ruang boleh dimasuki masyarakat umum dengan bebas. Ada banyak larangan keras untuk wanita yang sedang  haid/datang bulan. Untuk tingkatan paling atas, hanya untuk persembahyangan dan meditasi, tingkatan kedua atau madya, pelataran yang biasa untuk kegiatan keagamaan, seperti pernikahan, dan acara upacara keagamaan.

Bangunan fisik dari Pura Mandara Giri Semeru Agung saat ini sudah dilengkapi dengan Candi Bentar (apit surang) di jaba sisi dan Candi Kurung (gelungkuri) di jaba tengah. Di areal ini dibangun Bale Patok, Bale Gong, Gedong Simpen, dan Bale Kulkul. Ada juga Pendopo, Dapur Suci sebagai dapur khusus dan Bale Matandingan. Di jeroan areal utama terdapat Pangapit Lawang, Bale Ongkara, Bale Pasanekan, Bale Gajah, Bale Agung, Bale Paselang, Anglurah, Tajuk, dan Padmanabha sebagai bangunan suci utama dan sentral. Di lokasi agak menurun pada sisi Timur, dibangun Pasraman Sulinggih, Bale simpen peralatan dan dua Bale Pagibungan selain dapur. Sedangkan di sisi Selatan berdiri Wantilan yang megah dan luas. Panitia juga menyiapkan pembangunan kantor Sekretariat Parisada, perpustakaan dan gerbang utama Waringin Lawang.

Akses Menuju Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Malang – Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Arahkan kendaraan menuju Turen dari Kota Malang. Setiba di Turen, ambil jalur menuju Lumajang melalui Jalan Raya Malang – Lumajang. Jalur ini akan melewati Dampit, Ampelgading, Pronojiwo, kemudian Candipuro. Jalur ini pun akan melewati Jembatan Gladak Perak sebagai patokan pertama. Setelah Jembatan Gladak Perak, patokan kedua yaitu Tugu Candipuro. Tugu Candipuro berada pada koordinat -8.185536, 113.073861. Ambil arah kiri di Tugu Candipuro menuju Jalan Letjen Sutoyo. Ikuti jalan utama hingga bertemu persimpangan pertama pada koordinat -8.154987, 113.082019. Ambil arah kiri pada persimpangan ini, lalu di persimpangan berikutnya, ambil arah kanan. Selanjutnya, akan ditemui persimpangan pada koordinat -8.153753, 113.082264, ambil arah kanan.

Ikuti terus jalan utama, hingga jalan berujung di persimpangan pada koordinat -8.150202, 113.096520. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju arah Pasrujambe. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -8.141858, 113.085245. Ambil arah kanan pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -8.130756, 113.095936. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama hingga jalan memasuki areal persawahan. Saat memasuki areal persawahan, akan ditemui persimpangan pertama pada koordinat -8.117191, 113.073138. Ambil kanan pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama hingga memasuki Jalan Sikyang. Tepat di ujung Jalan Sikyang, akan ditemui persimpangan dengan jalan raya utama. Persimpangan ini berada pada koordinat -8.099660, 113.092587. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Pasar Senduro.

Tepat setelah Pasar Senduro, akan ditemui persimpangan, ambil arah kanan menuju Jalan Serma Dohir, lokasi Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Secara keseluruhan, kondisi jalan sangat baik. Meskipun rute yang digunakan menggunakan jalan pintas melalui jalan desa. Total jarak dari Kota Malang adalah sekitar 112 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam 31 menit.

Lumajang – Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Bila datang dari arah Kota Lumajang, patokan pertama yaitu Monumen Adipura. Monumen Adipura berada pada koordinat -8.133169, 113.222435. Arahkan kendaraan menuju Jalan Kapten Kyai Ilyas. Ikuti jalan utama hingga bertemu Jalan Semeru. Ikuti terus Jalan Semeru hingga tiba di Pasar Senduro. Tepat setelah Pasar Senduro, akan ditemui persimpangan, ambil arah kanan menuju Jalan Serma Dohir, lokasi Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Total jarak dari Kota Lumajang adalah sekitar 18,5 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 28 menit.

Pura Mandhara Giri Semeru Agung dapat dicapai dengan menggunakan sepeda motor, segala jenis mobil, ELF, bahkan bus. Area parkir Pura Mandhara Giri Semeru Agung pun sudah dapat mengakomodir semua jenis kendaraan. Hal ini dikarenakan pada saat acara besar Umat Hindu, tidak sedikit rombongan bus dari Bali yang berkunjung ke Pura Mandhara Giri Semeru Agung.

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2019 in Travelling

 

PANTAI WATU GODEK

Pantai Watu Godek secara administratif berada di Desa Bulurejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Pantai Watu Godek berada pada koordinat -8.318262, 112.992577. Penamaan pantai ini didasari dari dua kata, Watu yang berarti Batu dan Godek yang berarti bergoyang. Hal ini karena ada satu batu karang yang cukup besar yang akan bergoyang jika terkena ombak. Sayangnya, batu yang menjadi icon Pantai Watu Godek kini telah rubuh. Namun, pada beberapa sumber lain, Godek diartikan sebagai salah satu jenis penyakit kulit. Penyakit kulit tersebut sejnis panu dan kudis. Ada masyarakat yang percaya bila mandi air laut di Pantai Watu Godek dapat menyembuhkan penyakit kulit.

Pantai Watu Godek berada bersebelahan dengan sirkuit motor trail Watu Godek. Pantai Watu Godek memiliki garis pantai yang cukup panjang. Pada beberapa sumber, di beberapa titik sekitar Pantai Watu Godek pun terdapat beberapa danau air payau yang memilki keampuhan untuk menyembuhkan penyakit kulit. Namun, kini sebagian danau air payau tersebut sudah digunakan warga untuk memancing. Pantai Watu Godek merupakan pantai yang datar dengan garis pantai landai. Pada ujung Timur, Pantai Watu Godek dibatasi oleh ujung perbukitan karang. Tepat di puncak bukitnya terdapat satu pura. Untuk menuju pura tersebut dapat diakses dari Pantai Watu Godek, maupun dari jalan utama Tempursari – Watu Gedek. Pulau Nusa Barong yang masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Jember pun dapat terlihat dari sini. Pulau Nusa Barong terletak di Tenggara Pantai Watu Godek.

Selain Pantai Watu Godek, terdapat beberapa pantai lainnya yang masih satu garis pantai. Pantai TPI Tempursari berada di sisi Barat Pantai Watu Godek. Tepat di balik bukit karang yang membatasi garis Pantai Watu Godek, terdapat muara sungai yang cukup lebar. Sebelah Timur muara sungai sudah merupakan garis pantai milik Pantai Pandan. Sisi Timur Pantai Pandan, dibatasi oleh muara sungai, terdapat Pantai Watu Gedek. Bagi yang pertama kali menjelajah pantai-pantai di Lumajang, mungkin akan terkecoh antara Pantai Watu Gedek dengan Pantai Watu Godek. Bahkan mengira, bahwa Pantai Watu Gedek sama dengan Pantai Watu Godek. Kenyataannya, kedua pantai ini berbeda lokasi dan karakteristiknya.

Berdsarkan sumber berikut, Pantai Watu Gedek sebenarnya bukan merupakan tempat wisata. Letaknya berada di area terbuka dan tepat di pinggir jalan lintas Selatan Lumajang menjadikannya objek wisata dadakan yang cukup ramai dikunjungi. Pengambilan namanya, diambil karena tebing-tebing di sekeliling pantai berbentuk seperti anyaman bambu atau dalam bahasa Jawa sering disebut gedek. Pantai Watu Godek, berbeda dengan Pantai Watu Gedek, sudah merupakan tempat wisata. Terdapat jalan masuk cukup kecil yang ditandai oleh gapura pada koordinat -8.315761, 112.992648.

Area di sekitar Pantai Watu Godek masih merupakan area terbuka. Belum terdapat fasilitas penunjang wisata yang memadai. Terdapat dua bangunan toilet yang sudah tidak dapat digunakan dan kursi kayu pada beberapa pohon di tepi pantai. Warung dan warga yang berjualan pun hanya ada pada hari libur dan hari libur tertentu. Tingkat kunjungan tertinggi ke Pantai Watu Godek biasanya pada libur Idul Fitri dan Idul Adha. Pantai Watu Godek pun terkenal dengan kuliner ikan tongkol bakar.

Akses menuju Pantai Watu Godek

Malang – Pantai Watu Godek

Arahkan kendaraan menuju Turen. Setiba di Turen, ambil arah menuju Pronojiwo melalui jalur Malang – Lumajang. Ikuti jalan raya utama hingga patokan pertama. Patokan pertama yaitu gapura perbatasan Kabupaten Malang – Kabupaten Lumajang. Ikuti jalan raya utama hingga melewati Kantor Pos Pronojiwo. Tepat setelah Kantor Pos Pronojiwo, akan ditemui persimpangan pada koordinat -8.212869, 112.948774. Ambil kanan pada persimpangan ini menuju Kecamatan Tempursari. Ikuti jalan raya utama melewati Tamanayu kemudian Kecamatan Tempursari. Setelah tiba di Kecamatan Tempursari, ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -8.311535, 112.967039. Ambil kiri pada persimpangan ini. Kemudian akan ditemui persimpangan berikutnya, ambil arah kanan pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan keempat.

Persimpangan keempat berada pada koordinat -8.319725, 112.969104. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di gapura pintu masuk menuju Pantai Watu Godek. Kondisi jalan pada jalur ini, aspalnya cukup rusak dan berlubang. Jalan ini juga jauh lebi sepi dibandingkan jalan di sekitar pusat kota Kecamatan Tempursari. Jarak dari Kota Malang hingga Pantai Watu Godek yaitu sekitar 100 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam 30 menit.

Lumajang – Pantai Watu Godek

Arahkan kendaraan dari Kota Lumajang ke arah Selatan menuju Pasirian. Setelah tiba di Pasirian, ikuti jalan menuju Candipuro. Ikuti jalan raya utama Candipuro – Malang. Patokan setelah tiba di Pronojiwo adalah SMPN 1 Pronojiwo. Tidak jauh dari SMPN 1 Pronojiwo, akan ditemui persimpangan pada koordinat -8.212862, 112.948780. Ambil arah kiri pada persimpangan ini menuju Kecamatan Tempursari.

Ikuti jalan raya utama melewati Tamanayu kemudian Kecamatan Tempursari. Setelah tiba di Kecamatan Tempursari, ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -8.311535, 112.967039. Ambil kiri pada persimpangan ini. Kemudian akan ditemui persimpangan berikutnya, ambil arah kanan pada persimpangan ini. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan keempat.

Persimpangan keempat berada pada koordinat -8.319725, 112.969104. Ambil arah kiri pada persimpangan ini. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di gapura pintu masuk menuju Pantai Watu Godek. Kondisi jalan pada jalur ini, aspalnya cukup rusak dan berlubang. Jalan ini juga jauh lebi sepi dibandingkan jalan di sekitar pusat kota Kecamatan Tempursari. Jarak dari Kota Lumajang hingga Pantai Watu Godek yaitu sekitar 76 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam 35 menit.

Pasir Hitam Pantai Watu Godek

Pantai Watu Godek memiliki karakteristik yang sama dengan semua pantai di Pesisir Lumajang. Pasir pantainya berwarna hitam. Pasir berwarna hitam di sepanjang pesisir Lumajang merupakan pasir besi. Pasir besi dari Lumajang sudah terkenal kualitasnya. Tidak heran, banyak ditemukan tambang-tambang pasir rakyat di area dekat pantai, maupun di sungai-sungai. Warna hitam pada pasir pantai di pesisir Kabupaten Lumajang, berdasarkan erat kaitannya dengan keberadaan gunungapi. Dalam hal ini Gunung Semeru. Pantai berpasir hitam umumnya terbentuk dari mineral vulkanik dan fragmen lava gunung berapi. Aliran material Gunung Semeru terbawa beberapa sungai besar, seperti salah satunya Kali Besukbang yang muaranya berdekatan dengan Pantai Watu Godek.

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2019 in PANTAI, Travelling

 

WADUK KALIUNGKAL

Secara administratif, Waduk Kaliungkal berada di Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Waduk Kaliungkal berada pada koordinat -8.303234, 112.785908. Waduk Kaliungkal pada awalnya merupakan sebuah embung. Embung ini bernama Embung Kaliungkal, namun ada juga yang menyebutkan Embung Sukodono. Embung ini memiliki luas genangan kurang lebih 0,4 Ha.

Waduk Kaliungkal awalnya hanya merupakan sebuah embung yang tidak terawat. Embung ini bahkan mengalami pendangkalan. Tujuan pembuatan embung ini pada awalnya hanya untuk pemenuhan kebutuhan air minum bagi warga RT 05 dan sekitarnya. Namun, pada November 2017, dilakukan pembersihan serta pembenahan Embung Kaliungkal. Pembersihan dan pembenahan ini dilakukan secara gotong royong oleh tokoh masyarakat dan pemuda setempat.

Setelah dilakukan pembersihan, Embung Kaliungkal pun dibenahi menjadi objek wisata. Terlihat dari pembangunan area parkir, pembangunan tangga sebagai shelter wahan sepeda air, pengecatan besi jembatan dan dinding batuan pembatas waduk. Area lainnya di sekeliling waduk dibiarkan alami. Area ini merupakan lahan kebun milik warga. Posisi Waduk Kaliungkal berada lebih tinggi dari jalan raya Desa Sukodono.

Untuk mencapai Waduk Kaliungkal, arahkan kendaraan menuju Turen dari Kota Malang. Setiba di Turen, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Dampit melalui Jalan Raya Dampit – Lumajang. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -8.215930, 112.756542. Patokan persimpangan ini adalah PDAM Dampit. Persimpangan ini tidak jauh setelah PDAM Dampit. Ambil arah kanan pada persimpangn ini menuju Jalan Tunggorono.

Ikuti jalan raya utama hingga tiba di SMPN 2 Dampit sebagai patokan pertama. SMPN 2 Dampit berada pada koordinat -8.257334, 112.772501. Setelah SMPN 2 Dampit, ikuti jalan raya utama menuju Balai Desa Sukodono sebagai patokan berikutnya. Balai Desa Sukodono berada pada koordinat -8.301005, 112.783070. Setelah tiba di Balai Desa Sukodono, arahkan kendaraan menuju Waduk Kaliungkal.

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2019 in DANAU, Travelling

 

C0BAN PANDAWA

 

 

Secara administratif, Coban Pandawa berada di Dusun Wonorejo, Desa Sukodono, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Coban Pandawa berada di Bukit Dinamo, dan berada pada koordinat -8.310833, 112.784126. Penamaan Coban Pandawa didasarkan karena dalam satu aliran sungai terdapat lima air terjun dengan jarak yang berdekatan. Coban Pandawa merupakan objek wisata yang dikelola oleh warga. Berdasarkan sumber berikut, pembukaan akses, pembenahan area di sekitar air terjun, hingga pengelolaan Coban Pandawa dilakukan secara gotong royong warga. Pengelolaan secara gotong rotong ini dimaksudkan untuk memperkecil kebutuhan warga. Bahkan, setiap anggota yang hadir dalam kegiatan  gotong royong dicatat dalam daftar dan diperhitungkan sebagai saham dengan besaran selayaknya bekerja di kebun.

Untuk menuju Coban Pandawa, arahkan kendaraan menuju Turen dari Kota Malang. Setiba di Turen, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Dampit melalui Jalan Raya Dampit – Lumajang. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -8.215930, 112.756542. Patokan persimpangan ini adalah PDAM Dampit. Persimpangan ini tidak jauh setelah PDAM Dampit. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Tunggorono. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di SMPN 2 Dampit sebagai patokan pertama. SMPN 2 Dampit berada pada koordinat -8.257334, 112.772501. Setelah SMPN 2 Dampit, ikuti jalan raya utama menuju Balai Desa Sukodono sebagai patokan berikutnya. Balai Desa Sukodono berada pada koordinat -8.301005, 112.783070. Setelah tiba di Balai Desa Sukodono, arahkan kendaraan menuju Waduk Kaliungkal sebagai patokan berikutnya. Waduk Kaliungkal berada pada koordinat -8.303365, 112.785682.

Setelah Waduk Kaliungkal, akan ditemui persimpangan pertama pada koordinat -8.306268, 112.786238. Ambil arah kanan pada persimpangan ini. Kemudian, akan ditemui persimpangan berikutnya pada koordinat -8.308779, 112.786375. Ambil arah kanan pada persimpangan ini. Pada persimpangan pertama dan kedua setelah Waduk Kaliungkal, sudah terdapat spanduk dan penunjuk arah menuju Coban Pandawa. Tidak jauh setelah mengambil arah kanan pada persimpangan kedua, area parkir Coban Pandawa sudah tidak jauh. Area parkir Coban Pandawa berada pada koordinat -8.311042, 112.786106. Jarak Coban Pandawa dari Kota Malang kurang lebih sekitar 53,7 Km dengan waktu tempuh sekitar dua jam.

Kondisi jalan yang kurang baik akan ditemui sesaat sebelum memasuki Desa Sukodono hingga persimpangan kedua setelah Waduk Kaliungkal. Coban Pandawa dapat dicapai dengan menggunakan sepeda motor, mobil, dan ELF.

Dari parkiran, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih 300 m untuk tiba di Coban Pandawa 2. Coban Pandawa 2 adalah air terjun kedua dari atas. Area di sekitar Coban Pandawa 2 sudah ditata. Sudah terdapat taman kecil, kursi kayu, tempat sampah, gazebo kecil, serta jalan setapak menuju Coban Pandawa 3 dan 4. Pengunjung hanya dikenakan retribusi sebesar Rp 10.000,00 untuk satu kendaraan mobil dan Rp 5.000,00 untuk satu sepeda motor.

Coban Pandawa 1

Coban Pandawa 1 merupakan air terjun pertama di aliran sungai ini. Coban Pandawa 1 letaknya sudah hampir berada di puncak bukit. Untuk mencapai Coban Pandawa 1, pengunjung harus menaiki bukit melalui jalan setapak yang berada di dekat Coban Pandawa 2.

Coban Pandawa 1 dapat diklasifikasikan ke dalam tipe dominan Block Waterfall. Hal ini dikarenakan dinding air terjunnya cukup lebar. Tipe kedua yaitu Tiered Waterfall. Tipe ini muncul karena permukaan dinding air terjun tidak tegak lurus vertikal. Dinding air terjun memiliki jarak sedikit jarak akibat tergerus air. Sehingga membentuk undakan kecil pada permukaan dinding air terjunnya.

Pada musim kemarau. Aliran jatuhannya akan menyusut drastis. Aliran jatuhan hanya terdapat di sisi kanan air terjun (bila menghadap air terjun). Klasifikasi yang muncul pada musim kemarau yaitu Tiered Waterfall. Area di sekitar Coban Pandawa 1 tidak terlalu luas. Terdapat kolam kecil sebelum aliran jatuhan kembali membentuk sistem sungai.

Coban Pandawa 2

Coban Pandawa 2 merupakan air terjun kedua pada aliran sungai. Coban Pandawa 2 merupakan air terjun pertama yang akan dijumpai ketika pengunjung tiba di lokasi. Area Coban Pandawa 2 merupakan yang terluas. Terdapat kolam kecil yang cukup dalam di dekat dinding air terjun. Coban Pandawa 2 terletak dekat dengan tepi tebing yang kemudian membentuk Coban Pandawa 3.

Sudah terdapar pagar pembatas di tepi tebing Coban Pandawa 2. Terdapat juga kursi kayu, gazebo kecil, dan taman kecil di dekat Coban Pandawa 2. Setelah aliran jatuhan masuk ke dalam kolam kecil, air akan mengalir melalui permukaan batuan yang relatif datar sebelum akhirnya jatuh membentuk Coban Pandawa 3. Area di depan Coban Pandawa 2 merupakan batuan datar yang cukup luas. Berbeda dengan Coban Pandawa 1 yang area depannya merupakan kolam dan kembali menjadi aliran sungai.

Coban Pandawa 2 dapat diklasifikasikan kedalam tipe dominan Block Waterfall. Tipe ini muncul karena dinding air terjunnya lebar. Pada musim kemarau, aliran jatuhannya akan menyusut, tetapi masih membasahi hampir seluruh permukaan dinding air terjun. Pada musim kemarau, klasifikasi dominan yang muncul adalah Segmented Waterfall.

Coban Pandawa 3 dan 4

Coban Pandawa 3 merupakan air terjun ketiga di aliran sungai ini. Coban Pandawa 3 memiliki klasifikasi dominan Block Waterfall. Tipe ini muncul karena dinding air terjunnya sangat lebar. Bila musim hujan, aliran jatuhan Coban Pandawa 3 akan lebih lebar dibandingkan Coban Pandawa 1 dan 2.

Pada musim kemarau, aliran jatuhannya akan menyusut drastis Aliran jatuhan hanya terdapat di sisi paling kiri air terjun (bila menghadap air terjun). Pada musim kemarau, Coban Pandawa 3 memiliki klasifikasi air terjun tipe Segmented Waterfall. Tipe ini muncul karena pada ujung tebing di sisi kiri terdapat batu yang memisahkan aliran sungai menjadi dua jalur sebelum jatuh membentuk Coban Pandawa 3.

Coban Pandawa 4 terletak persisi di bawah aliran jatuhan Coban Pandawa 3. Coban Pandawa 3 dan Coban Pandawa 4 hanya dibatasi kolam kecil. Kolam ini berada tepat di bawah aliran jatuhan Coban Pandawa 3 sebelum akhirnya jatuh lagi membentuk Coban Pandawa 4.

Coban Pandawa 4 memiliki lintasan jatuhan paling sempit di antara Coban Pandawa 1-3. Pada musim kemarau, Coban Pandawa 4 memiliki klasifikasi air terjun tipe Tiered Waterfall. Tipe ini muncuk karena dinding air terjun membentuk garis/undakan sempit di seluruh permukaan dinding air terjunnya. Pada musim hujan, Coban Pandawa memiliki klasifikasi dominan Chute Waterfall. Tipe ini muncul karena aliran jatuhan dengan volume besar dan deras akan mengalir melalui lintasan yang sempit.

Coban Pandawa 5

Sampai tulisan ini dibuat, penulis belum sampai ke Coban Pandawa 5 dan belum berhasil menemukan referensi lainnya mengenai Coban Pandawa 5.

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2019 in AIR TERJUN, Travelling

 

COBAN CIBLUNGAN

Secara administratif, Coban Ciblungan berada di Desa Purwoharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Coban Ciblungan berada pada koordinat -8.241784, 112.906498. Coban Ciblungan berada tidak jauh dari Coban Campuhan.

Coban Ciblungan merupakan objek wisata yang dikelola oleh warga. Lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan desa. Untuk mencapai Coban Ciblungan, hanya diperlukan waktu berjalan kaki sekitar lima menit. Medan trekking berupa turunan hingga ke area air terjun. Medan trekking berupa tanah merah yang sudah dipadatkan. Mendekati area Coban Ciblungan sudah dibuatkan pijakan menyerupai tangga lengkap dengan pegangan.

Sebelum memasuki area Coban Ciblungan, terdapat area datar yang sudah ditata dengan membuat taman kecil dan beberapa spot selfie. Area di sekitar Coban Ciblungan cukup luas. Kemudahan akses dan keunikan Coban Ciblungan menjadi daya tarik wisata, sehingga menjadikan Coban Ciblungan sebagai salah satu tujuan wisata utama.

Untuk menuju Coban Ciblungan, arahkan kendaraan menuju Turen dari Kota Malang. Setiba di Turen, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Ampelgading melalui Jalan Raya Dampit – Lumajang. Jalan masuk menuju Coban Ciblungan berada di Jalan Sidorenggo, tepatnya berada pada koordinat -8.228551, 112.909674. Bila datang dari arah Malang, jalan masuk berada di sisi kanan jalan. Coban Ciblungan berada kurang lebih 65,8 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam 13 menit.

Setelah masuk ke jalan desa, ikuti jalan utama. Kondisi jalan cukup baik. Sudah terdapat spanduk dan penunjuk arah menuju Coban Ciblungan di setiap persimpangan. Area parkir berupa halaman kosong di samping rumah warga. Pengunjung akan dikenakan retribusi sebesar Rp 3.000,00/orang dan parkir sebesar Rp 5.000,00.

Coban Ciblungan merupakan air terjun permanen. Coban Ciblungan dapat diklasifikasikan ke dalam tipe Paralel Waterfall dan Segmented – Curtain Waterfall. Tipe Paralel Waterfall pada Coban Ciblungan ditandai dengan adanya dua sumber aliran jatuhan yang berbeda. Aliran jatuhan utama berasal dari aliran sungai. Aliran jatuhan ini akan kering total pada musim kemarau. Pada musim hujan, aliran jatuhan ini volumenya cukup besar dan airnya sangat keruh.

Sumber aliran jatuhan kedua berasal dari mata air. Mata air di Coban Ciblungan berasal dari retakan batuan di sekeliling dinding air terjun. Aliran jatuhan ini akan tetap stabil pada musim kemarau dan berwarna jernih. Coban Ciblungan memiliki kolam berbentuk lingkaran yang cukup luas. Airnya akan sangat jernih pada musim kemarau.

Bagian kolam yang berada dekat aliran jatuhan utama cukup dalam, sedangkan yang berada di pinggir dekat jalan setapak dan yang menuju sistem sungai, sangat dangkal. Kolam ini dapat digunakan pegunjung untuk bermain air, terutama pada musim kemarau. Pada musim hujan, air di kolam Coban Ciblungan akan berwarna keruh. Hal ini disebabkan karena material yang dibawa oleh sumber aliran utama yang berasal dari aliran sungai.

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2019 in AIR TERJUN, Travelling