RSS

EKSPLORE MALANG 10 NOVEMBER 2018

Pagi pukul 09.00 WIB, Mas Aris sudah menjemput. Setelah urusan check out hotel beres, kami pun langsung tancap gas menuju Sumber Jeruk dan Sumber Maron. Tadinya hari ini saya tidak akan kemana-mana, karena memang tidak ada lagi list yang memungkinkan untuk didatangi. Tapi, setelah obrolan singkat di Pathukan Sirap, jadi penasaran juga buat datengin Sumber Jeruk.

Perjalanan menuju Sumber Jeruk dan Sumber Maron dari arah Malang Kota yaitu menuju Kepanjen. Lumayan sih, saya jadi bisa naik di Stasiun Kepanjen lagi, ga harus balik lagi ke Kota Malang. Kami pun tiba di Desa Karangsuko. Kami segera mencari lokasi Sumber Maron.

Dalam bayangan saya, lokasi Sumber Maron berada di area yang tidak padat permukiman, ya, semacam di pinggiran sawah gitu. Ternyata salah. Area di sekitar lokasi Sumber Maron dan Sumber Jeruk memang masih sawah dan sungai, tapi jalur menuju lokasi sudah merupakan area padat permukiman.

Kami pun segera memarkirkan motor di area parkir Sumber Maron. Sudah sangat banyak pengunjung yang datang ke Sumber Maron dan terus berdatangan. Maklum, hari ini Sabtu, jadi pasti objek wisata penuh. Untuk menuju Sumber Jeruk, kami tinggal memilih jalan setapak ke area persawahan di atas area Sumber Maron.

Seperti biasa, tidak ada pengunjung lain yang menuju Sumber Jeruk. Setelah berjalan menyusuri pematang sawah, kami tiba di area Sumber Jeruk. Berbeda dengan Sumber Maron, air di Sumber Jeruk tidak diperuntukkan untuk berenang. Air di Sumber Jeruk merupakan area hulu dan dimanfaatkan untuk pengairan dan air bersih. Sumber Jeruk juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan.

Terdapat tiga mata air di sekitar Sumber Jeruk. Area di sekitar Sumber Jeruk sudah ditata. Terdapat pagar pembatas, dan sekeliling kolam sudah diberi jalan setapak dari paving block. Terdapat juga beberapa saung untuk beristirahat. Sumber Jeruk termasuk di bawah wewenang BBWS Berantas.

Berhubung areanya terbatas, jadi kami tidak terlalu lama di Sumber Jeruk. Kami mengambil jalur menyusuri sungai untuk menuju Sumber Maron. Sungai yang berasal dari saluran outlet Sumber Jeruk dimanfaatkan untuk tenaga listrik sederhana. Bagian hliirnya bertemu dengan aliran sungai yang tidak kalah jernih yang dimanfaatkan sebagai wahana river tubing.

Semakin mendekati area Sumber Maron, pengunjung semakin banyak. Rasanya sumpek, meskipun berada di outdoor. Bahkan saat tiba di air terjun Sumber Maron pun sudah tidak ada minat lagi untuk mengambil foto. Saya pun meminta Mas Aris untuk segera menuju pintu keluar saja.

Jalan menuju pintu keluar pun dipadati pengunjung. Memang, di beberapa spot, saya masih bisa mengambil beberapa foto, itupun menggunakan HP. Setelah tiba di parkiran, kami pun packing ulang. Pengunjung yang datang lebih banyak lagi, bahkan rombongan yang menggunakan bus.

Kami pun segera menuju tujuan berikutnya, yaitu sebuah air terjun di dekat desanya Mas Aris. Tidak lama, kami tiba di sebuah jembatan cukup lebar. Air terjun yang dimaksud terlihat dari jembatan. Kami pun menuju jalan setapak untuk mendekati air terjun tersebut. Tapi, berhubung saya udah mager, jadi rasanya males kalau harus treking naik-turun bukit lagi.

Saya pun membatalkan untuk ke air terjun tersebut. Akhirnya kami meluncur menuju lokasi berikutnya, Waduk Karangkates. Perjalanan menuju Waduk Karangktes lumayan jauh. Kami tiba tepat pukul 12.00 WIB. Yang kami tuju ternyata adalah Bendungan Lahor. Bendungan Karangkates berada di sisi Selatan jalan raya.

Berhubung hanya penasaran saja, jadi bingung juga kalau harus berenti lama di Bendungan Lahor. Akhirnya, saya putuskan untuk mampir di Taman Wisata Bendungan Lahor Karangkates. Lumayanlah, sambil nunggu jadwal kereta, sambil ambil beberapa foto Bendungan Lahor.

Setelah cukup lama di Taman Wisata Bendungan Lahor, kami memutuskan untuk jalan saja. Kami mengelilingi Bendungan Lahor sampai masuk ke Kabupaten Blitar. Lalu balik lagi ke arah Bendungan Karangkates dan melewati pintu masuk PLTA Sutami. Di dekat area PLTA Sutami, jalur kereta terlihat. Jalur kereta yang nanti sore akan saya lewati untuk pulang ke Bandung.

Kami sudah hamir tiba kembali di jalan raya Karangkates, tapi ternyata hujan deras langsung turun. Kami pun memakai jas hujan seadanya. Saya bahkan hanya memakai jaket saja dan celana jas hujan punya Mas Aris. Jas hujan saya sudah dipacking di bagian aga bawah ransel. Malas juga harus bongkar-bongkar. Kami pun kejar-kejaran dengan hujan.

Ada lokasi dimana kami lewat, ternyata hujannya sudah berhenti. Ada juga daerah yang kami lewati ternyata belum hujan. Bahkan ada daerah yang begitu kami lewati langsung hujan deras. Kami pun neduh dulu di pelataran toko yang kebeneran tutup tepat di pinggir jalan raya Karangkates. Beberapa meter setelah persimpangan menuju Waduk Lahor dan Waduk Karangkates.

Cukup lama juga kami neduh. Kami benar-benar menunggu sampai hujan berhenti. Hujan kali ini sangat deras, bahkan disertai petir. Tidak seperti hujan-hujan di hari sebelumnya. Begitu hujan sudah reda, kami pun jalan lagi. Kali ini jas hujannya kami lepas kembali. Toh, jarak dari lokasi kami ke stasiun tidak terlalu jauh, satu jam perjalanan saja.

Ternyata baru beberapa kilo kami jalan, kembali gerimis. Kami pun melipir. Kali ini di halaman toko tutup sekaligus jalan masuk ke sebuah rumah. Akhirnya kami putuskan untuk tetap jalan dengan menggunakan jas hujan. Di lokasi tempat kami berhenti kedua kali belum turun hujan, tapi kendaraan dari arah depan kami sudah basah. Jadi, kami putuskan berhenti dan memakai jas hujan terlebih dahulu.

Tidak jauh dari lokasi kami memakai jas hujan, ternyata langsung turun hujan deres. Hujan paling deras ditambah angin super kencang. Bener-bener bikin motor oleng. Mobil pun jalan perlahan dan tidak ada yang saling mendahului. Beberapa menyalakan lampu hazard. Ini hujan terparah yang saya alami selama empat hari di Malang.

Jalan yang hanya lurus saja sedikit membantu kami. Setidaknya mendekati Kepanjen, hujan mulai reda, tapi air sudah mulai menggenang. Jalur hujan membentang vertikal dari sisi Utara menuju Selatan, sedangkan jalur motor kami membentang horizontal dari Barat ke Timur. Setidaknya kami tidak full kena hujan.

Kami hampir masuk Kepanjen, dan teryata belum hujan sama sekali. Sementara kami berdua basah kuyup. Jas hujan tembus, tas pun mungkin sedikit tembus. Saya meminta Mas Aris untuk mampir di kedai kopi di Kepanjen saja. Sambil ngopi, sambil ganti baju, sambil nunggu jadwal kereta.

Tapi, sayangnya, tidak ada kedai kopi yang cocok di Kepanjen. Akhirnya kami cari warung makan dekat stasiun saja. Untungnya nemu. Kami pun sekalian isi perut, sekalian jemur jas hujan dan tas-tas kecil yang basah. Baju, celana, tas kecil, ransel, jaket basah semua. Kami selesai makan sekitar pukul 15.30 WIB. Masih ada sekitar satu jam lagi sebelum kereta saya datang.

Mau ganti baju pun bingung dimana, karena di stasiun bagian luar tidak ada toilet. Sebenernya bisa saja masuk dulu numpang ke toilet di dalam stasiun, tapi males juga. Akhirnya masih bertahan dengan baju yang sedikit lembab dan celana yang sedikit basah.

Celana quick dry yang saya pakai, bagian bawahnya sudah saya lepas karena basah total. Model celana yang saya pakai yang punya resleting untuk penyambung di bagian lutut. Jadi, celananya bisa berfungsi sebagai celana panjang maupun sebagai celana pendek.

Lumayan juga satu jam di luar ruangan dengan kaos lembab, celana pendek yang sebagian basah, rambut lepek basah, dan muka kucel. Mas Aris sendiri udah menggigil gara-gara kaos sama celananya basah dan ga bawa ganti. Jaketnya pun basah. Luar biasa emang hujan tadi siang itu. Dari cuaca yang cerah, matahari yang terik, tiba-tiba berubah jadi mendung dan gelap parah terus hujan angin parah.

Tepat 16.30 WIB, saya masuk stasiun karena kereta saya sudah datang. Setelah pamitan dengan Mas Aris, saya pun masuk stasiun. Begitu kereta datang, saya langsung ke tempat duduk, bongkar ransel, keluarin celana dan kaos kering, langsung ganti baju.

Ketika jalur kereta melewati daerah PLTA Sutami, cuaca masih mendung parah, bahkan masih gerimis. Semakin menuju Barat, hujan tidak berhenti. Bahkan, di daerah Gombong atau Kebumen malah hujan deras. Selepas Blitar, saya pun tertidur dan bangun di Madiun. Hampir masuk Solo, saya tidur lagi dan kebangun sebentar di Gombong atau Kebumen. Lalu tidur lagi sampai subuh ketika kereta memasuki Ciamis.

Dan perjalanan saya menyusuri pantai-pantai di Malang pun selesai sudah. Sebenarnya banyak pantai yang sudah saya list sebelumnya yang tidak bisa didatangi karena ternyata medan dan rutenya cukup memakan waktu.

Pantai Kondang Bandung, Pantai Jonggring Saloko, Pantai Nglurung, Pantai Kondang Rowo, Pantai Kondang Buntung, Pantai Banyu Anjlok, Pantai Mbehi, Pantai Rante Wurung, Pantai Kondang Iwak, dan Pantai Watu Lepek merupakan pantai-pantai yang masuk list tapi tidak sempat saya datangi.

Tapi, ada juga beberapa pantai yang masuk list yang akhirnya berhasil dikunjungi. Padahal, ketika mencari referensi, saya sendiri tidak yakin bisa sampai ke pantai-pantai tersebut.

Pantai Pathukan Sirap, Pantai Pulo Doro, Pantai Kedung Celeng, dan Pantai Watu Lawang merupakan pantai-pantai inceran yang awalnya saya sangka ga akan sampai karena aksesnya yang katanya susah. Mulai dari jalan motornya yang jelek sampai waktu trekkingnya yang lumayan lama dan treknya yang jelas.

Mungkin lain waktu, saya bisa kembali mendatangi pantai-pantai di Selatan Malang. Ditambah juga untuk bisa susur jalur dari ujung Kecamatan Donomulyo hingga ujung Kecamatan Bantur. Di sepanjang jalur tersebut masih banyak terdapat potensi wisata berupa air terjun dan danau/rawa yang masih memiliki akses yang sulit.

Semakin sulit akses dan ketersediaan informasi yang ada, semakin menarik dan semakin menantang untuk didatangi. Semoga lain waktu bisa menjelajah lebih jauh lagi di Malang Selatan. Karena untuk saya, Malang bukan hanya Kota Batu dengan Museum Angkut dan Paralayangnya saja, tetapi juga danau/rawa, air terjun serta bukit-bukit tersembunyi di sisi Selatannya yang menarik untuk ditelusuri.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 21, 2019 in DANAU, Travelling

 

EKSPLORE MALANG 9 NOVEMBER 2018

 

Kali ini tujuan kami di sekitaran Pantai Balekambang. Setidaknya tidak terlalu jauh dibandingkan perjalanan kemarin. Seperti biasa, jam 08.00 WIB Mas Aris sudah datang. Kami pun mengambil jalur menuju Pantai Balekambang. Cuaca pagi ini cukup cerah, semoga saja tetap cerah sampai nanti malam.

Tujuan pertama kami adalah Pantai Selok. Untungnya kali ini Mas Aris sudah pernah ke area Pantai Selok. Sebelumnya, hanya Pantai Ngliyep saja yang sudah pernah dikunjungi diantara pantai-pantai di hari kedua, itupun sudah lama. Dari artikel yang saya baca, untuk menuju Pantai Selok, kami harus mengikuti jalur menuju Pantai Kondang Merak. Pantai Kondang Merak merupakan pantai yang menjadi pintu masuk ke beberapa pantai lainnya.

Yang saya tidak tahu adalah kondisi jalan menuju Pantai Kondang Merak. Setiba di persimpangan Pantai Balekambang, Mas Aris meminta untuk istirahat sebentar, karena katanya habis ini jalannya bakalan jelek banget. Ternyata, arah ke Pantai Kondang Merak yaitu jalan di sisi kanan kami.

 

Jalan menanjak dengan perkerasan makadam parah dan di kanan-kirinya adalah hutan. Itu adalah gambaran jalur yang harus kami lewati menuju Pantai Kondang Merak. Bagus!. Jalan makadam sepanjang 5,1 Km harus kami tempuh untuk tiba di Pantai Kondang Merak.

Langit biru cerah, setidaknya kami aman dari jalan licin. Kondisi jalan sepanjang 5,1 Km (yang lebih panjang 1 Km dibandingkan ke Pantai Bantol kemarin) sangat lebar. Berbeda dengan jalur makadam menuju Pantai Bantol yang hanya pas untuk dua truk pasir papasan, jalur ini jauh lebih lebar. Meskipun makadamnya jauh lebih hancur.

Batuannya jauh lebih besar-besar, medannya relatif datar, hutannya sama lebatnya, dan sama sepinya. Untungnya Mas Aris sudah pernah ke Pantai Selok jadi sepertinya lebih bisa ngitung waktu dibandingkan ke Pantai Bantol kemarin. Sama-sama belum pernah, jadi masih belum bisa hitung waktu.

Terdapat persimpangan menuju beberapa pantai yang tidak sempat saya baca. Tapi, kalau menurut Mas Aris, tujuan kita, Pantai Kondang Merak adalah yang tetap mengikuti jalur. Penasaran juga seperti apa Pantai Kodang Merak. Saat mencari artikel tentang Pantai Selok, artikel tentang Pantai Kondang Merak yang jadi pintu masuknya malah tidak saya baca.

Setelah hampir satu jam melewati jalan makadam dengan batuan yang besar-besar, kami tiba di jalan yang sedikit lebih sempit. Terdapat gapura tanpa keterangan apapun. Saya pikir kami sudah sampai di Pantai Kondang Merak, ternyata masih belum. Masih sekitar 1 Km lagi dari gapura pertama tadi.

Kami pun tiba di area Pantai Kondang Merak. Sebelum gapura Pantai Kondang Merak terdapat jalan ke arah kanan. Jalur inilah yang harus diambil untuk menuju Pantai Selok. Jangan masuk ke area Kondang Merak karena nanti harus keluar lagi. Terdapat pagar pembatas di area parkir Pantai Kondang Merak dengan Pantai Banyu Meneng.

Pantai Kondang Merak dan Pantai Banyu Meneng merupakan pintu masuk menuju beberapa pantai cantik lainnya. Mulai dari Pantai Banyu Meneng dan Pantai Selok yang masih memiliki akses cukup mudah. Lalu Pantai Kondang Sugu di paling ujung Barat.

Bila dari Kondang Sugu terus menyusur ke arah Barat, maka akan ditemui Pantai Pakhutan Sikutan, Pantai Rante Wulung dan Pantai Mbehi. Untuk mencapai tiga pantai terakhir, medannya cukup sulit. Memasuki area hutan dan waktu tempuhnya sekitar dua jam berjalan kaki. Pantai Rante Wulung juga terkenal sebagai spot memancing. Pantai Mbehi terkenal dengan kolam dengan airnya yang sangat jernih tepat di batuan karang pinggir pantai.

Jika dari Pantai Mbehi diteruskan lagi ke arah Barat, pantai-pantainya lebih dikenal sebagai area memancing. Sebut saja Alang-alang rock spot, Sap Rock fishing spot di area sekitar Pantai Jemblong. Kuniran Rock fishing spot, Geben Rock fishing spot, serta Anjatan rock fishing spot yang berada di area Pantai Gragalan. Spot memancing paling Barat yaitu Pring Jowo fishing spot yang berada di area Pantai Pring Jowo.

Berhubung waktu kami terbatas, kami hanya sampai di Pantai Selok. Padahal saya penasaran juga sama Pantai Mbehi dan Pantai Rante Wulung. Mungkin lain kali saja. Kami memakirkan motor di area parkir dekat Pantai Banyu Meneng. Sepi, semua warung tutup, tidak ada penjaga parkir dan pengunjung lain.

Kami pun berjalan kaki menuju Pantai Selok. Pertama-tama kami melewati Pantai Banyu Meneng, tapi kami tidak mampir, nanti saja setelah dari Pantai Selok. Ternyata masih ada warung-warung di sekitaran Pantai Selok. Ada juga rombongan yang sedang kemping di Pantai Selok. Kami memilih sisi Timur Pantai Selok.

Pantai Selok memiliki pasir pantai yang putih. Terdapat beberapa bongkahan karang yang tepat berada di depan bibir pantai. Bongkahan batu inilah yang menjadi ikon Pantai Selok. Di sisi Baratnya terdapat pulau batu karang. Pantai Selok di sisi Barat dibatasi oleh Pathukan Jugruk. Sedangkan sisi Timurnya dibatasi oleh bukit. Tepat di sebelah bukit tersebut terdapat Pantai Banyu Meneng.

Ombak di Pantai Selok cukup besar, bahkan ketika saya tiba, masih pasang. Berhubung matahari lagi terik-teriknya, jadi saya hanya mengambil foto dari sisi Timur Pantai Selok saja. Setelah cukup mengambil foto-foto Pantai Selok, kami pun bergerak menuju Pantai Banyu Meneng.

Di dekat warung menuju Banyu Meneng, kami bertemu warga. Bapak ini menyarankan agar motor kami dibawa saja ke area Pantai Selok. Menurut bapak ini, kurang aman kalau disimpan di Pantai Ngentup yang berdekatan dengan Pantai Kondang Merak. Bapak ini juga bilang kalau masih ada sedikit masalah antara pengelola Pantai Kondang Merak dengan pengelola Pantai Selok & Pantai Banyu Meneng.

Semetara Mas Aris mengambil motor, saya jalan duluan ke Pantai Banyu Meneng. Di Pantai Banyu Meneng, saya sempat mengobrol dengan warga lainnya yang sedang mengumpulkan sampah plastik. Ternyata, dari Pantai Banyu Meneng, terlihat Pathukan Sirap. Pantai inceran saya hari ini. Saya pun bertanya sekaligus mengobrol dengan bapak ini tentang akses menuju Pathukan Sirap.

Sebelum saya pergi ke Malang untuk kedua kalinya, saya memang sudah mencari referensi mengenai Pathukan Sirap. Cukup sedikit yang membahas lengkap mengenai akses ke Pathukan Sirap. Satu artikel yang cukup lengkap yang saya baca mengatakan kalau akses masuknya dari Pantai Kondang Merak. Dari Pantai Kondang Merak menuju Pathukan Sirap harus ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih satu jam.

Menurut bapak yang saya temui ini, akses ke Pathukan Sirap masih lumayan susah, tapi motor masih bisa masuk sampai titik tertentu. Bapak tadi juga menawarkan kalau mau dianter bisa menunggu bapak ini di warung yang tutup tepat di belakang pos tiket Pantai Kondang Merak. Kata bapak itu, ada motornya di parkirkan di warung tersebut.

Bapak ini juga bercerita-cerita mistis dan mitos-mitos tentang Pathukan Sirap. Katanya dua pulau karang di depan Pathukan Sirap merupakan tempat bertapa salah satu tokoh raja di kerajaan Hindu di Jawa Timur. Saya lupa detailnya.

Bapak ini juga bercerita kalau semalam kedatangan rombongan dari Surabaya yang bermalam di Pantai Kondang Merak. Ada empat atau lima mobil rombongan. Memang sih, dari tempat saya berdiri terlihat cukup banyak pengunjung yang bermain air di area sekitaran Pantai Kondang Merak. Namun, tujuan kedatangannya masih berhubungan dengan hal-hal mistis. Ya sudahlah ya.

Ga lama, Mas Aris pun datang. Kami ngobrol ngalor ngidul sebentar. Kami pun pamit untuk mengambil foto-foto di Banyu Meneng. Bapak tadi pun pamit untuk kembali mengumpulkan botol plastik ke arah Pantai Selok.

Pantai Banyu Meneng merupakan pantai yang membentuk teluk kecil, sehingga ombaknya lebih tenang dibandingkan Pantai Selok. Terdapat tulisan Banyu Meneng di bukit karang di sisi Barat pantai. Tepat di hadapan Pantai Banyu Meneng terdapat pulau batu karang yang bernama Pulau Reges. 

Di Pantai Banyu Meneng terdapat beberapa ayunan yang diikatkan ke batang pohon. Selain itu, banyak juga batang pohon yang merambat sehingga bisa dijadikan tempat untuk duduk. Area Pantai Banyu Meneng saat kami kesana kotor oleh sampah kayu. Terdapat juga area untuk mendirikan tenda di Pantai Banyu Meneng.

Saya pun meminta untuk ke Pantai Pathukan Sirap. Sayangnya, Mas Aris juga belum pernah kesana, jadi rutenya masih sangat burem. Mau cek di Google Maps pun sinyal intenet di sini bener-bener bikin emosi. Akhirnya kami pun mencoba melihat akses jalan dari Pantai Kondang Merak.

Kami pun masuk ke area Pantai Kondang Merak dengan membayar retribusi lagi sebesar Rp 10.000,00/orang (total Rp 20.000,00) dan parkir motor sebesar Rp 5.000,00. Kami pun langsung bergegas menuju ujungnya Pantai Kondang Merak. Ternyata, di ujung Timur Pantai Kondang Merak merupakan muara sungai yang cukup besar dan dalam.

Kami sampai turun ke samping area muara untuk mengecek apakah kami bisa berjalan kaki menyeberang muara. Setelah diperhatikan lagi, pantai di seberang muara sungai ini tidak bisa dilewati, bahkan untuk berjalan kaki. Di balik pantai di depan kami pun (yang baru saya tahu seakarang namanya Pantai Pasir Besi) dikhawatirkan ada beberapa muara sungai dan terhalang tebing.

Dari arah permukiman pun tidak ada jembatan untuk menyeberang. Akhirnya kami pun menyerah dan kembali ke Pantai Kondang Merak. Setelah dipikir-pikir lagi, apa mungkin ada jalur lain untuk ke Pathukan Sirap. Mas Aris sempat bilang kalau mungkin jalan masuknya dari persimpangan yang tadi kami lewati pas di jalur makadam.

Bisa jadi sih, soalnya dilihat-lihat dari posisinya, kalau dari Pantai Kondang Merak kejauhan banget ditambah treknya pun ga ada. Kami pun cari yang jual bensin dulu. Ternyata di sekitaran Pantai Kondang Merak terdapat permukiman warga yang cukup ramai. Padahal akses masuk dari jalan raya di persimpangan Pantai Bale Kambang, sepanjang jalannya hanya hutan lebat.

Setelah berputar-putar cari bensin, kami pun meninggalkan Pantai Kondang Merak. Ketika berada di jalur makadam menuju persimpangan yang dimaksud, langit mulai mendung. Untungnya masih belum gelap. Tepat sebelum persimpangan, saya minta berhenti dulu untuk mengambil foto kondisi jalannya. Tepat dari arah kami datang (arah Timur) melintas Toyota Yaris ke arah Pantai Kondang Merak. Wow!

Setelah mobil tadi lewat, kami pun melanjutkan perjalanan. Kami sampai di persimpangan yang dimaksud. Ternyata benar, untuk menuju Pantai Pathukan Sirap tidak perlu dari Pantai Kondang Merak, sudah ada jalurnya sendiri. Ada baligo yang berisikan informasi nama-nama pantai di jalur tersebut. Pantai Sumur Pitu, Jembatan Panjang, Weden Ciut, Pulau Penyu, dan Tanjung Sirap. Semua pantai tersebut termasuk ke dalam area Pantai JPTS (Pantai Jembatan Panjang Tanjung Sirap).

Kami pun menyusuri jalur makadam menuju JPTS. Kali ini, saya dan Mas Aris sama-sama belum pernah lewat jalur ini. Jalur menuju JPTS jauuuuh lebih rusak dan jauuuh lebih lebat hutannya. Sepertinya masih sangat sangat jarang dilewati. Bahkan, di beberapa titik banyak kayu dan batang pohon berserakan di tengah jalan. Hutannya jauh lebih rimbun, sinar matahari hanya sedikit yang dapat menembus pepohonan. Ditambah lagi cuaca saat saya lewat sudah mendung, tidak ada sinar matahari sama sekali.

Ngeri-ngeri sedap juga lewat jalur ini. Kami sama-sama ga tau berapa panjang jalur makadam super ancur dan super gelap ini sampai di gerbang Pantai JPTS, terlebih ga ada satupun kendaraan yang melintas. Cuaca pun semakin mendung.

Untungnya, kami akhirnya tiba di gerbang tiket Pantai JPTS. Kali ini sama sekali tidak ada orang kecuali saya dan Mas Aris, bahkan penjaga loket pun tidak ada. Mas Aris langsung mengarahan motor ke jalan setapak di seberang loket tiket. Jalan setapak yang hampir tertutup pasir dan harus sesekali menghindari ranting pohon. Di jalur ini akan ditemui dua persimpangan sebelum persimpangan Pantai Tanjung Sirap.

Persimpangan pertama yaitu yang menuju Pantai Wedi Ciut, yang kedua merupakan persimpangan menuju Pantai Rowo Gebang. Dua pantai ini kami lewat dulu karena tujuan utama kami Pathukan Sirap. Entah kenapa, rasanya penasaran sekali dengan Tanjung Sirap ini.

Bukan karena cerita mistis bapak yang saya temui di Pantai Banyu Meneng tadi ya. Memang dari pas mencari referensi pantai-pantai di Selatan Malang, rasanya kepincut melihat bentuk dua pulau karang di Tanjung Sirap ini.

Selepas persimpangan dengan Pantai Rowo Gebang, jalur semakin sulit. Jalur lebih menyempit, bahkan ada bongkahan batu yang menghalangi jalur. Untungnya motor kami masih bisa lewat, meskipun step samping harus ditutup dulu dan kaki diangkat biar ga kebentur batu karang tajem.

Semakin jauh, pasir yang menutupi jalur setapak semakin gembur. Sampailah kami di persimpangan Pantai Tanjung Sirap. Kami pun segera belok. Jalan setapak yang kami lalui masih berlanjut, tapi rasanya sudah malas untuk mengeksplore lebih jauh lagi ke dalam hutan.

Sudah sepi, hutannya lebat, banyak monyet dan lutung, pasirnya tambah gembur lagi. Padahal bila diteruskan, ujung dari jalan setapak ini adalah Pantai Pasir Besi. Pantai yang berada tepat di seberang muara sungai di samping Pantai Kondang Merak.

Motor pun tidak bisa masuk hingga ke bibir pantai. Pasirnya benar-benar gembur. Jelas sekali jarang dilalui kendaraan. Kami pun meninggalkan motor begitu saja di tengah jalur karena memang sudah stuck. Kami tiba di sebah pantai yang ternyata adalah Pantai Dali Putih.

Pantai Dali Putih merupakan pantai berpasir cerah dan membentuk teluk kecil. Tidak ada orang lagi selain saya dan Mas Aris. Di kejauhan, terlihat batu karang tanpa nama dan Pulau Ampel. Pulau Ampel merupakan pulau karang yang berada tepat di depan Pantai Pasir Besi.

Jalan menuju Pathukan Sirap ternyata harus menaiki bukit tempat di sisi Pantai Dali Putih. Jalan setapak cukup kecil yang terus menanjak dan cukup rimbun menjadi medan kami sore ini. Perasaan campur aduk. Antara ngeri-ngeri sedap ada di tengah hutan antah berantah dan rasa ga sabar untuk cepet sampai di Pantai Tanjun Sirap, inceran utama eksplore pantai-pantai di Malang kali ini.

Sesekali tercium bau pesing di jalur yang kami lewati. Jalurnya cukup memutar ternyata. Area Pathukan Sirap berada di sisi lain bukit di samping Pantai Dali Putih. Karena bentuknya semenanjung, jadi otomatis jalur trekking kami menjauhi bibir pantai Dali Putih. Kiri dan kanan kami sudah laut lepas dengan batuan karang yang besar. Ngeri-ngeri syedap pokonya.

Dan, sampailah kami di Pathukan Sirap. Puas rasanya bisa mencari jalur Pathukan Sirap dan sukses sampai. Terdapat tempat sampah di area Pathukan Sirap. Sebenarnya, kami bisa berjalan lebih mendekat lagi ke dekat dua pulau karang yang menjadi ikon Pathukan Sirap. Sayangya, ombak sudah kembali besar, bahkan sampai di area batuan karang di depan kami.

Tepat di hadapan kami terdapat dua bongkahan pulau karang. Sebenarnya, dua bongkahan ini masih merupakan satu bongkahan, hanya saja bagian tengahnya hampir habis terkikis ombak. Bagian yang terkikis inilah yang menjadikan seolah-olah terdapat dua pulau batu karang. Dari semenanjung tempat kami berdiri pun sebenarnya terpisah dari dua pulau karang tersebut. Jaraknya pun cukup jauh.

Dua pulau karang di hadapan kami bernama Pulau Lapak, sedangkan pulau karang yang terlihat dari Pantai Dali Putih adalah Pulau Sirap. Bila air laut di Pantai Dali Putih sedang surut, pengunjung bisa sedikit mendekati Pulau Sirap. Keunikan lainnya Pantai Dali Putih yaitu banyak tersebar batuan berbentuk bulat dan halus seperti di Pantai Sendiki. Hanya saja ukurannya jauh lebih besar dan tidak berkumpul di satu tempat seperti di Pantai Sendiki.

Dari Pathukan Sirap ke arah Barat terlihat jejeran Pantai Kondang Merak, Pantai Ngentup, Pantai Banyu Meneng, Pantai Selok, bahkan bukit-bukit karang Pantai Rante Wurung. Sedangkan di sisi Barat terlihat Pantai Rowo Gebang dan Pathukan Rowo Gebang.

Kami diam di Patuhan Sirap cukup lama. Selain menunggu langit di Utara kami sedikit lebih cerah, ya puas-puasin aja di Pathukan Sirap, toh, entah kapan lagi bisa balik ke sini. Langit di sekitaran Pantai Selok dan di Utara kami masih hitam, pertanda hujan masih turun. Sebenarnya, jika cerah, bisa sedikit mengintip sunset dari Pathukan Sirap.

Karena sudah cukup sore, kami pun memutuskan untuk kembali ke Pantai JPTS. Perjalanan pulang memang selalu lebih cepat. Karena sudah tanggung berada di sini, tidak ada salahnya mampir sebentar ke Pantai JPTS. Pantai JPTS ini sedikit berbeda dibandingkan pantai lainnya. Nampak sudah ada fasilitas penunjangnya.

Benar saja, setelah kami melewati loket tiket yang tetap tidak berpenjaga, kami langsung disuguhkan area parkir yang super luas, jejeran warung-warung, bahkan jembatan panjang yang menghubungkan area Pantai Sumur Pitu dengan Pulau Hanoman. Dibuat seperti tampilan Pantai Balekambang yang ternyata berada tepat di sebelah Timur Pantai JPTS.

Dari jembatan yang menjadi ikon Pantai JPTS ini terlihat jelas jembatan Pantai Balekambang, Pulau Ismoyo dan Pura Balekambangnya. Jembatan yang menghubungkan bibir pantai dengan Pulau Hanoman dicat berwarna putih-merah-biru. Dibalik Pulau Hanoman terdapat pulau karang yang ukurannya jauh lebih kecil bernama Pulau Wisanggeni.

Nama-nama pulau di sekitar Pantai JPTS dan Pantai Balekambang kental dengan nama-nama Hindu. Sebut saja Pulau Hanoman, Pulau Wisanggeni, Pulau Ismoyo, Balekambang, dan tidak menutup kemungkinan Sirap pun merupakan serapan dari kebudayaan Hindu.

Lagi-lagi tidak ada pengunjung lain selain kami berdua, tapi di sekitar Pantai JPTS lumayan banyak warga yang sedang memancing dan yang menjaga warung. Mas Aris menyuruh saya untuk sekalian ke Pantai Balekambang. Dipikir-pikir, meskipun ga masuk list dan udah super terkenal banget, sayang juga udah sampe sini ga mampir.

Untungnya dari Pantai JPTS bisa berjalan kaki ke area Pantai Balekambang. Pantai JPTS dan Pantai Balekambang dibatasi oleh bukit karang. Oleh pengelola dibuatkan akses khusus pejalan kaki untuk menuju Pantai Balekambang dari Pantai JPTS maupun sebaliknya. Terdapat pagar pembatas dan gapura serta loket penjualan terpisah untuk memasuki Pantai JPTS.

Di sekitar bukit ini, barulah saya bertemu dengan pengunjung-pengunjung lainnya yang sedang bermain air. Saya berjalan kaki sendiri dari Pantai JPTS menuju Pantai Balekambang, sementara Mas Aris istirahat dulu di Pantai JPTS setelah seharian bawa motor di jalur makadam.

Tanpa buang banyak waktu, saya segera menuju jembatan Pantai Balekambang dan menyeberang ke Pulau Ismoyo. Sayangnya, pengunjung tidak dapat masuk ke area Pura Balekambang. Air laut di sekitar Pantai Balekambang dan Pantai JPTS sudah mulai surut. Banyak pengunjung yang bermain air di muara sungai Pantai Balekambang.

Pengunjung di Pantai Balekambang sangat banyak, meskipun bukan hari libur. Berbanding terbalik dengan Pantai Dali Putih dan Pathukan Sirap yang baru saja kami datangi. Memang sih, Pantai Balekambang merupakan pantai yang sudah hits dari dulu sebelum dibukanya Jalur Lintas Selatan Jawa Timur, berbarengan dengan Pantai Sendang Biru. Jadi, dapat dipastikan, akses jalannya pun sudah mudah dan bagus.

Sayangnya, kami tidak bisa pulang dengan menggunakan motor melewati Pantai Balekambang. Jadi, mau tidak mau, kami nanti harus balik lagi melewati jalur makadam yang super suram tadi. Berhubung sudah semakin mendung dan pencahayaannya sudah tidak bagus, saya pun memutuskan untuk kembali ke Pantai JPTS.

Sebenarnya, di dekat loket Pantai JPTS terdapat Sumur Pitu, tapi rasanya tidak akan sempat lagi kalau mampir-mampir. Mendung semakin menjadi. Saya dan Mas Aris malas rasanya harus melewati jalaur makadam suram ditengah guyuran hujan deras.

Untungnya Mas Aris menjemput saya ke dekat loket Pantai JPTS. Baru saja kami akan jalan, hujan mulai turun. Kami pun melipir dulu ke warung kosong. Kami sempat ditawari untuk mampir dulu ke warung sebelah yang masih buka. Tapi berhubung takut kondisi jalannya semakin parah, jadi kami putuskan untuk tetep jalan.

Untungnya, hujannya tidak terlalu deras. Jalur makadam suram jadi tambah suram dan sulit. Guyuran hujan mulai membuat tanah di sepanjang jalur menjadi lumpur, dan batuannya jadi lebih licin. Motor kami sempat terpeleset karena batunya licin, untung tidak sampai jatuh. Sepanjang jalan makadam suram, saya udah ga berani lagi liat kanan-kiri, pokonya liat ke depan.

Akhirnya kami tiba di persimpangan dengan jalur utama menuju Pantai Kondang Merak. Hujan sudah mereda, hanya gerimis dan sudah mulai terang karena pepohonannya sudah tidak terlalu rimbun. Lega rasanya. Meskipun masih hujan dan jalanan masih sepi, tapi suasananya tidak sesuram di jalur sebelumnya.

Malah, saya sempat mengambil beberapa foto dulu sebagai penanda persimpangan. Setelah beres berfoto, kami pun segera menuju persimpangan jalan raya utama. Kondisi jalan sedikit licin, tapi masih dapat kami lewati dengan lancar. Tidak sampai harus menerjang lumpur.

Setibanya di persimpangan dengan jalan raya utama, hujan pun berhenti. Kami pun berhenti dulu untuk istirahat sejenak. Berhubung masih jam 16.00 WIB, sayang rasanya kalau harus pulang ke Malang. Sementara tujuan pantai-pantai pun sudah habis dan sudah tidak bagus untuk mengambil foto karena mendung.

Akhirnya saya putuskan untuk ke Malang tapi melewati rute lain selain rute utama yang biasa kami lalui dari kemarin. Mas Aris pun menyanggupi. Akhirnya, kami mengambil rute horizontal yang tembus di Pagak. Sayangnya batre hp dan power bank saya sudah habis, jadi tidak bisa merekam jalur.

Jalur yang kami lewati sore ini cukup baik, meskipun hanya sekelas jalan lokal. Suasananya pun cukup tenang. Kami sempat mampir di musola dulu sembari melepas jas hujan. Suasana sore di daerah yang sampai sekarang saya ga tahu namanya itu cukup tenang, adem, dan bikin betah. Satu hal yang saya tahu, kami masih jauh dari Kota Malang.

Kami pun menyusuri jalan dan akhirnya tiba di persimpangan dengan jalur utama Kepanjen – Pagak – Donomulyo. Jalur ini sudah tidak asing lagi bagi kami. Setiba di Kepanjen, saya meminta untuk masuk melewati jalur yang tidak terlalu ramai. Setiba di Kepanjen, tepat pas Magrib dan perut saya keroncongan. Benar juga, seharian ini kami berdua belum makan apa-apa, bahkan ngemil pun ngga.

Beres makan semacam gado-gado ala Malang (tahu campur mungkin), kami pun menuju Kota Malang. Seperti biasa, kami harus melewati lalu lintas yang ramai kembali. Kami tiba di Kota Malang tepat pukul 20.00 WIB. Saatnya untuk istirahat untuk perjalanan terakhir sekaligus perjalanan pulang esok hari.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on July 21, 2019 in OUR JOURNEY, PANTAI, Travelling

 

EKSPLORE MALANG 8 NOVEMBER 2019

Kamis, 8 November 2018

Pukul 08.00 WIB Mas Aris sudah menjemput. Perjalanan keluar dari Kota Malang di hari kerja lumayan padat. Kali ini tujuan kami adalah pantai-pantai di sisi Barat Kabupaten Malang. Sebenarnya pembagian pantai sisi Barat dan Timur ini saya buat sendiri untuk mempermudah dan memperlancar perjalanan. Patokan yang saya ambil adalah Pantai Balekambang sebagai titik tengah.

Memang sih, sisi Timur jadi sangat panjang, tapi setelah saya searching, ujung paling Timur yang masuk list saya Pantai Sendiki, jadi setidaknya ga sampai Timur banget. Berdasarkan karaktersitik pantai-pantainya pun, Pantai Balekambang merupakan pembatas yang sangat mencolok.

Kebanyakan akses menuju pantai di sisi Timur Pantai Balekambang rata-rata aksesibilitasnya sudah 70%. Pantai yang harus trekking pun tidak seberat pantai-pantai di sisi Barat Pantai Balekambang. Sementara pantai-pantai di sisi Barat Pantai Balekambang aksesibilitasnya masih 40% – 50%.

Masih banyak sekali jalan utama menuju pantai yang berupa makadam, masuk ke area perhutani, bahkan untuk mencapa pantai-pantainya pun hanya bisa diakses dengan berjalan kaki. Waktu tempuh berjalan kaki terjauh untuk mencapai suatu pantai adalah 2-3 jam sekali jalan. Faktor lainnya yang membuat pantai-pantai di sisi Barat Pantai Balekambang aksesibilitasnya masih rendah adalah Jalur Lintas Selatan Jawa Timur.

Jalur Lintas Selatan Jawa Timur di sisi Kabupaten Malang bermula dari Pantai Balekambang ke arah Timur. Mulai dari Pantai Balekambang, Pantai Batu Bengkung hingga di ujung Timurnya yaitu Pantai Sendiki. Setelah Pantai Sendiki, jalur akan kembali naik ke perbukitan dan masih sekelas jalan Kabupaten dan jalan lokal.

Sedangkan untuk sisi Barat Pantai Balekambang, akses jalan penyambung masih berupa pembukaan lahan. Perkerasan jalan untuk rencana jalur pun masih berupa perkerasan tanah. Jalur yang tengah dibuka ini membentang dari Desa Kedungsalam di Kecamatan Donomulyo hingga ke Pantai Modangan di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Desa Sumberoto merupakan perbatasan dengan Kabupaten Blitar.

Kembali ke perjalanan saya di hari kedua. Rute kami kali ini melewati Kepanjen lalu Pagak dan mengikuti jalur utama menuju Kecamatan Donomulyo hingga akhirnya Pantai Ngliyep. Sepanjang perjalanan dari Kepanjen hingga pintu masuk Pantai Ngliyep jalannya sudah sangat baik. Aspal, meskipun masih sekelas aspal desa. Lalu lintasnya pun selepas Kecamatan Pagak sangat sepi.

Sebelum memasuki area Pantai Ngliyep, kami melewati komplek Angkatan Udara. Kondisi jalan dari komplek AU hingga gerbang masuk Pantai Ngliyep jauh lebih baik. Pantai Ngliyep merupakan pantai yang sudah dibuka untuk wisata dan memiliki fasilitas yang lengkap. Homestay dan penginapan pun tersedia di Pantai Ngliyep. Pantai Ngliyep juga merupakan pintu gerbang menuju sederetan pantai-pantai cantik lainnya di Kecamatan Donomulyo.

Bila memilih sisi Barat Pantai Ngliyep, maka kita dapat mengunjungi Pantai Teluk Putri, Pantai Pathuk Ilang, Pantai Watu Lawang, dan Pantai Krambilan. Batas pantai dengan akses mudah hanya sampai di Pantai Kambilan. Melewati Pantai Krambilan, hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki melewati hutan.

Adapun pantai-pantai setelah Pantai Krambilan yang dapat dikunjungi yaitu Pantai Padas Pecah, Pantai Njulek, Pantai Ndelik, dan Pantai Kondang Rowo. Hutan yang dilalui pun cukup lebat, bahkan selepas Kondang Rowo, hutan akan semakin lebat. Waktu tempuh menuju Pantai Kondang Rowo dari Pantai Ngliyep kurang lebih dua jam dengan berjalan kaki.  Hutan-hutan ini berada di area milik Perhutani. Jika disusuri lebih jauh, bisa tembus di Pantai Bantol.

Adapun pantai-pantai yang dapat dikunjungi jika terus berjalan kaki ke arah Timur dari Pantai Kondang Rowo secara berurutan adalah Pantai Ngledakan Ombo, Pantai Ngledakan Ciut, Pantai Pangot Guo, Pantai Makuto Ombo, Pantai Pakuto Ciut, Pantai Weden Ciut, Pantai Pulo Doro, Pantai Kedung Celeng, kemudian Pantai Bantol. Pantai Weden Ciut sudah merupakan pantai dengan akses wisata yang mudah dan pintu masuknya berada di Pantai Bantol.

Sedangkan jika memilih pantai-pantai di sisi Barat Pantai Ngliyep, maka urutan pantai yang dapat dikunjungi adalah Pantai Pasir Panjang, Pantai Pasir Cilik, Pantai Cici, Pantai Pasir Adus, dan Pantai Nglurung. Pantai Nglurung merupakan spot memancing warga setempat sekaligus pantai dengan akses yang masih bisa ditempuh pengunjung. Waktu tempuh dari Pantai Ngliyep hingga Pantai Nglurung kurang lebih dua jam perjalanan berjalan kaki.

Jika diteruskan lagi ke sisi Barat Pantai Nglurung, akan dijumpai Pantai Jonggring Saloko dan Kondang Bandung di Barat. Namun, medannya sangat sulit dan masih masuk ke dalam area hutan milik Perhutani. Pantai-pantainya pun masih jauh lebih sepi dibandingkan Pantai Ngliyep.

Setiba di Pantai Nlgiyep, kami memutuskan untuk ke Pantai Watu Lawang di sisi Timur Pantai Ngliyep. Sepanjang jalur menuju Pantai Watu Lawang, terdapat cukup banyak spot untuk kemping, warung, dan toilet. Terdapat juga objek wisata Goa Jodo dan Pendopo Peringgitan Wayang Kulit di dekat Pantai Watu Lawang.

Pantai Watu Lawang merupakan pantai berbatu karang. Batuan karang di Pantai Watu Lawang cukup unik. Batu karang yang membentang di sepanjang garis pantai membentuk pemecah ombak alami. Bagian depan tumpukan batuan karang ini sudah berongga sehingga jika dihantam oleh ombak, maka menyisakan aliran air yang mirip air terjun kecil berkarakteristik Cascade Waterfall. Di sisi Barat Pantai Watu Lawang terdapat bongkahan batu karang cukup besar.

Ombak di Pantai Watu Lawang ini sangat besar, tetapi ombak di Pantai Krambilan jauh lebih besar lagi. Ketinggian ombak di sisi Pantai Krambilan bisa melebihi tinggi pohon di atas bukit karang. Tepat di samping Pantai Watu Lawang terdapat Gunung Kombang. Disediakan jembatan kayu yang menghubungkan bibir pantai dengan Gunung Kombang jika air laut pasang.

Gunung Kombang merupakan pulau batu karang yang cukup besar. Gunung Kombang masih erat kaitannya dengan legenda Nyai Roro Kidul. Gunung Kombang dipercaya sebagai tempat bertapa Nyi Roro Kidul sebelum akhirya menjadi penguasa Laut Selatan. Selain itu, terdapat sebuah rumah kecil (pesarehan) yang berada di Gunung Kombang sebagai tempat penampakan Nyai Roro Kidul.

Didasari oleh cerita turun temurun dan kepercayaan masyarakat setempat inilah yang membuat terdapat beberapa area sajen dan bau sajen yang menyengat di Gunung Kombang ini. Gunung Kombang pun kerap dijadikan sebagai lokasi upacara Labuhan sebagai bentuk rasa hormat dan syukur terhadap pemilik lautan.

Siang itu, hanya saya dan Mas Aris pengunjung di Gunung Kombang ini. Saya yang saat itu belum mengetahui tentang cerita seputar Gunung Kombang santai-santai saja, malahan sangat menikmati mengambil foto ganasnya ombak di Pantai Watu Lawang dari Gunung Kombang.

Beralih ke sisi lain Gunung Kombang, saya melihat ada beberapa sajen dan tercium bau dupa yang menyengat. Saya pun tetap cuek dan belum ngeh untuk apa sajen-sajen tersebut. Yang pasti, saya benar-benar takjub sekaligus ngeri melihat ganasnya ombak di Gunung Kombang.

Gunung Kombang posisinya sudah cukup jauh dari bibir pantai, sehingga area perairan yang berada di bawahnya langsung lautan dalam dengan ombak yang sangat besar. Air laut berwarna biru terang tertimpa sinar matahari yang cukup terik pagi ini. Cukup lama kami di Gunung Kombang. Tempatnya yang teduh dan ombaknya yang ga bikin bosen bikin kami lupa waktu.

Kami pun kembali ke Pantai Watu Lawang. Setiba di Pantai Watu Lawang, airnya sudah mulai surut. Batuan karang yang seperti pemecah ombak pun kini tinggal batuan karang saja, tidak ada hantaman ombak seperti sebelumnya. Kami pun memutuskan untuk kembali ke Pantai Ngliyep.

Pantai Ngliyep merupakan pantai dengan garis pantai yang cukup panjang. Termasuk pantai berpasir cukup landai dan berombak tenang. Pengunjung dapat bermain air di sekitar Pantai Ngliyep, bahkan terdapat ayunan tepat di bibir pantainya. Bila air sedang pasang, sebagian tiang penyangga ayunan pun terendam.

Terdapat beberapa penginapan dan pendopo di area Pantai Ngliyep. Kami pun menju Pantai Teluk Putri. Untuk menuju Teluk Putri, kami terlebih dahulu harus menaiki bukit karang. Sebelum mencapai Teluk Putri, terdapat persimpangan. Kami mengambil arah Teluk Putri.

Pantai Teluk Putri berupa pantai kecil dengan pasir berwarna terang. Banyak terdapat batuan karang. Untuk menuju Pantai, pengunjung harus menuruni batuan karang terlebih dahulu. Jika tidak turun pun, seluruh area Pantai Teluk Putri sudah terlihat jelas. Saya memutuskan untuk mengambil foto dari atas saja.

Kami pun bergerak kembali. Kali ini kami mengambil arah lainnya di persimpangan sebelumnya. Lokasi ini berupa puncak bukit yang sudah disediakan pendopo lengkap dengan kursi-kursi kayu. Pemandangan dari puncak bukit ini sangat terbuka. Area Pantai Teluk Putri, Gunung Kombang, dan Pantai Watu Lawang terlihat jelas. Posisi bukit ini tepat berada di seberang sisi Barat Gunung Kombang.

Kami cukup lama disini. Selain pemandangannya yang cukup luas, tempatnya pun enak untuk berleyeh-leyeh. Berhubung sudah cukup siang, kami harus segera kembali ke Pantai Ngliyep. Berhubung sudah siang, mata saya sepertinya perlu diistirahatkan sebentar.

Saya meminta kembali ke Pantai Watu Lawang. Kalau tidak salah ada warung di dekat area parkirnya. Lumayanlah ngopi di pinggi Pantai Watu Lawang. Saya pilih Pantai Watu Lawang karena sepi dan menurut saya lebih menarik dibandingkan Pantai Ngliyep.

Sekitar pukul 13.00 WIB, kami kembali jalan. Tujuan kami berikutnya adalah Pantai Bantol, Pantai Kedung Celeng, dan Pantai Pulo Doro. Ketiga pantai ini berada dalam satu deretan dengan pintu masuknya berada di Pantai Bantol. Persis seperti posisi Pantai Watu Lawang yang pintu masuknya berada di Pantai Ngliyep.

Kami kembali ke jalan raya utama Desa Sumbermanjing. Kami pun berbelok mengikuti papan penunjuk jalan menuju Pantai Bantol di sebuah persimpangan. Awalnya, kondisi jalan dan sekitarnya masih seperti jalan desa pada umumnya. Namun, setelah memasuki Dusun Ledok, Desa Banjarejo, Kecamatan Donomulyo, jalan semakin rusak dan suasana semakin sepi.

Tepat setelah rumah terakhir, jalan berubah menjadi makadam dan area di sekitar jalan utama berubah menjadi area hutan. Jalur menuju Pantai Bantol harus melewati area milik Perhutani kurang lebih sepanjang 4,5 Km. Medannya pun naik-turun bukit. Turunan dan tanjakannya tidak terlalu curam, meskipun ada beberapa tanjakan/turunan yang cukup panjang.

Sepanjang jalur milik Perhutani, perkerasan jalannya didominasi oleh makadam kapur dan semen/rabat beton. Tidak ada permukiman lagi sepanjang jalur ini. Sayangnya, kami kurang persiapan, di tengah jalur Perhutani ternyata bahan bakar motor hanya cukup untuk sampai di Pantai Bantol. Nah loh.

Sempet pengen minta balik arah sih, tapi nanggung juga udah di setengah jalur. Cuaca pun kurang mendukung. Terik matahari perlahan tapi pasti berganti awan mendung. Bahkan, sepanjang jalur, kami sudah tidak dapat sinar matahari lagi. Akhirnya saya urungkan niat untuk minta balik arah. Harap-harap cemas di Pantai Bantol ada yang jualan bensin eceran.

Setelah satu jam perjalanan dari Pantai Ngliyep ditambah menempuh jalur makadam 4,5 Km, akhirnya kami sampai di area Pantai Bantol. Tepat sebelum area Pantai Bantol, kami melewati beberapa rumah warga. Hampir semua rumah tertutup rapat seperti tidak berpenghuni. Kalaupun ada yang berpenghuni pun, tidak jual bensin.

Akhirnya kami tiba di area Pantai Bantol. Sepi. Hanya ada motor kami dan dua motor lainnya di parkiran. Langit pun semakin gelap. Setelah kami memarkirkan motor, kami dihampiri bapak-bapak penjaga loket Pantai Bantol. Kami membayar retribusi sebesar Rp 5.000,00/ orang (karena kami dau orang jadi Rp 10.000,00) dan retribusi parkir motor sebesar Rp 5.000,00.

Suram. Itulah kesan pertama yang saya dapat ketika tiba di area parkir Pantai Bantol. Ketika kami tiba di Pantai Bantol, masih sekitar pukul 14.00 WIB lebih, tapi karena mendung dan pepohonan yang cukup rimbun di sekitar area parkir, suasananya jadi sedikit suram. Tidak lupa kami bertanya penjual bensin eceran. Sayangnya tidak ada yang jual bensin eceran saat itu.

Untungnya bapak yang memberi kami tiket rertibusi memiliki bensin cadangan. Ya sudah kami beli saja. Masih ada setengah liter katanya. Setidaknya cukup bagi kami untuk sampai di permukiman penduduk setelah area Perhutani tadi. Karena tujuan kami Pantai Kedung Celeng dan Pantai Pulo Doro, maka dari area parkir kami mengambil jalan setapak ke atas atau ke arah Barat dari area parkir.

Jika mengambil arah Timur dari area parkir, maka akan ditemui Pantai Seling Kates, Pantai Watu Gebros, Pantai Weden Ombo, Pantai Seling Ombo, dan Pantai Wedi Ciut. Lebih jauh lagi terdapat satu pantai terakhir sebelum dibatasi oleh bukit, yaitu Pantai Watu Buceng.

Untuk tiba di Pantai Bantol, kami terlebih dahulu menaiki bukit. Tidak jauh sih nanjaknya, tapi lumayan juga harus nanjak-nanjak lagi. Setelah tiba di puncak bukit, kami lalu menuruni anak tangga hingga ke gerbang Pantai Bantol.

Pantai Bantol merupakan pantai teluk, jadi ombaknya tidak terlalu besar. Saat kami sampai, airnya masih surut. Hanya ada kami berdua dan tiga orang pengunjung lain yang sedang berenang di sisi paling Barat Pantai Bantol.

Di tengah area Pantai Bantol terdapat muara sungai dan laguna kecil. Laguna ini bernama Kondang Bantol. Airnya tenang dan berwarna kehijauan akibat pantulan cahaya matahari. Di sekitar laguna tumbuhan bakau dan tumbuhan lainnya dari area hutan masih sangat lebat.

Kami pun memutuskan untuk menunda mendekati laguna. Kami segera mengambil jalan setapak masuk ke dalam hutan untuk menuju Pantai Kedung Celeng. Jalan setapak cukup jelas meskipun masuk ke area hutan.

Saat memasuki area hutan, hanya ada saya dan Mas Aris. Suasana masih terasa suram karena sinar matahari tidak banyak menembus hutan dan mendung. Sisi kanan jalan setapak masih merupakan hutan yang sangat lebat. Dan seingat saya, area hutan ini masih berada sangat jauh dari permukiman penduduk di atas bukit sana.

Kami tiba di Pantai Kedung Celeng. Tidak ada pengunjung lain. Saya pun memutuskan untuk lanjut ke Pantai Pulo Doro. Pantai Pulo Doro dan Pantai Kedung Celeng memiliki bentukan pantai yang hampir mirip. Sama-sama memiliki pulau karang di tengahnya. Hanya saja Pantai Pulo Doro lebih membentuk teluk meskipun kecil.

Area di sisi Barat Pulo Doro memiliki pasir putih yang sangat gembur. Area pasirnya pun melandai, tidak datar. Cukup sulit juga berjalan di atas pasirnya. Kami ke sisi Timur Pantai Pulo Doro. Garis pantainya jauh lebih panjang dengan bentukan teluk yang lebih luas. Areanya juga lebih terbuka. Sayangnya, pasir pantainya bercampur dengan batu dan sampah-sampah kiriman.

Berhubung air laut masih surut, jadi kami masih bebas berjalan di sekitaran bibir pantainya. Jika air laut sudah pasang, sebaiknya mengambil jalan setapak di pinggir hutan. Sebenarnya, jika diteruskan lagi ke arah Barat dari Pantai Pulo Doro, kita bisa mengunjungi Pantai Weden Ciut yang waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Berhubung sudah sore dan semakin mendung, jadi perjalanan kami cukup sampai di Pantai Pulo Doro saja.

Pantai Pulo Doro menurut saya memang pantai yang cantik, meskipun ketika saya tiba di sana cuaca sudah sangat mendung. Sudah tidak ada lagi sinar matahari. Jadi, artikel-artikel yang saya baca mengenai Pantai Pulo Doro tidak berlebihan dengan menyebut pantai ini sangat eksotis.

Puas berfoto-foto, kami kembali. Kali ini kami mampir di Pantai Kedung Celeng. Di antara Pantai Pulo Doro dan Pantai Kedung Celeng kami berpapasan dengan beberapa warga yang sedang mengangkut kayu dengan menggunakan motor offroad modifikasi. Seru juga kayanya kalau motoran di jalan setapak sini.

Air laut di Pantai Kedung Celeng pun sedang surut. Pantai Kedung Celeng pun menurut saya cukup unik, meskipun garis pantainya tidak sepanjang Pantai Pulo Doro. Jika dilihat sekilas, Pantai Kedung Celeng dan Pantai Pulo Doro hampir seperti pantai kembar.

Setelah cukup mengambil foto di Pantai Kedung Celeng, kami kembali ke Pantai Bantol. Cuaca yang semakin mendung dan hari yang semakin sore cukup membuat jalan di dalam hutan semakin suram. Kami mempercepat langkah, meskipun kami tahu di belakang kami masih ada banyak warga yang sedang menagngkut kayu.

Setiba di Pantai Bantol, tiga orang pengunjung yang semula berenang sudah tidak ada. Artinya kini hanya ada saya dan Mas Aris di Pantai Bantol ini. Pantai Bantol ini juga digunakan sebagai pantai untuk menambatkan perahu nelayan. Pantai Bantol terkenal dengan lobsternya yang cukup melimpah.

Kami mampir sebentar ke Kondang Bantol. Suasana di sekitar Kondang Bantol sama suramnya dengan suasana di jalan setapak menuju Pantai Pulo Doro. Air tenang dengan suasana hutan lebat yang sunyi sukses bikin saya ga mau berlama-lama di Kondang Bantol. Padahal mungkin kalau masih siang dan matahari sedang terik, Kondang Bantol bisa jadi objek foto yang sangat cantik.

Kami pun memutuskan kembali ke parkiran karena mendung semakin menjadi. Bahkan, ketika kami menaiki anak tangga menuju parkiran sudah mulai gerimis. Kami mampir di warung untuk membeli bensin. Sambil istirahat dan mengisi persediaan air minum yang sudah habis, kami pun memakai jas hujan seadanya. Pengunjung Pantai Bantol hanya tinggal kami. Warung yang buka pun hanya tinggal warung tempat kami membeli bensin.

Tidak lama, datang satu mobil milik dinas. Mobilnya masih kering, pertanda di atas belum hujan. Bisa repot juga kalau sampai kehujanan di jalur makadam. Kami pun pamit dan kembali menuju Kepanjen. Berharap kami tidak kebagian hujan di jalan.

Baru saja kami melewati permukiman yang kebanyakan rumahnya tutup, hujan langsung turun. Kami pun memakai jas hujan kami dengan benar. Hujan turun cukup lebat. Biarlah kami melewati jalan makadam sepi ini ditengah hujan lebat, yang penting bensin motor sudah terisi. Ternyata, sepanjang perjalanan pulang kami tidak sendirian. Banyak warga yang baru pulang dari kebun yang sama-sama menuju ke atas.

Kami pun tiba di perisimpangan jalan menuju arah Pantai Ngliyep. Kami pun mampir sebentar di Musola. Sekitar pukul 16.00 WIB kami melanjutkan perjalanan pulang. Berubung hujan sudah reda, kami pun melepas jas hujan kami. Kami berusaha agar tidak kemalaman di area hutan di sekitar Pagak.

Jalan menuju Kepanjen sangat sepi, bahkan rasanya jauh lebih cepat dibanding ketika pergi tadi. Di jalan, ternyata ada pesan masuk dari Bang Ipang. Ternyata Bang Ipang pun lagi ada tugas di Malang. Kami pun janjian, siapa tau nanti malam bisa ketemuan, karena di Malang sedang hujan deras.

Kami masuk Kepanjen menjelang Magrib. Seperti biasa, lalu lintas dari Kepanjen sampai memasuki Kota Malang cukup ramai. Kami tiba di Malang sekitar pukul 19.00 WIB dan janjian ketemuan dengan bang Ipang. Saya pilih tempat di dekat tempat saya menginap saja biar ga susah nanti kalau pulang. Kami pun pisah sekitar pukul 21.00 WIB karena tempatnya sudah mau tutup.

 
Leave a comment

Posted by on June 15, 2019 in OUR JOURNEY, PANTAI, Travelling

 

EKSPLORE MALANG 7 NOVEMBER 2018

Selang Satu bulan lebih sedikit, saya akhirnya berkesempatan untuk kembali mengunjungi Malang. Kunjungan kedua saya kali ini lebih difokuskan untuk mengeksplore pantai-pantai di Malang. Tepatnya di Kabupaten Malang, bagian dari pesisir Selatan Pulau Jawa. Seperti biasa, saya menggunakan kereta untuk menuju dan kembali dari Malang.

Kali ini, saya akan kembali ditemani oleh Mas Aris, salah satu driver sekaligus guide dari Ojek Wisata Malang (OWM). Saya pun janjian dengan Mas Aris di Stasiun Kepanjen. Kepanjen lagi-lagi dipilih sebagai starting point karena memang posisinya yang lebih dekat dengan jalur menuju Selatan dibandingkan dengan Malang Kota.

Berbekal dari pengalaman sebelumnya untuk mengeksplore air terjun di Malang, kali ini sebelum berangkat saya sudah menyiapkan list pantai-pantai yang akan dikunjungi. List pantai dari ujung Barat Kabupaten Malang sampai ujung Timur Kabupaten Malang sudah saya persiapkan. Lengkap dengan lokasi, rute yang harus diambil, kondisi jalan, waktu tempuh, hingga dibuat itinerary sederhana. Tujuannya tentu supaya ga ngacak dan ga kehabisan tujuan kalau ada tujuan yang gagal didatangi.

Rabu, 7 November 2018

Pukul 08.00 WIB saya pun tiba di Stasiun Kepanjen. Terlambat satu jam kurang karena masalah teknis. Mas Aris sudah menunggu saya di luar stasiun. Setelah ketemu dengan Mas Aris, kami langsung tancap gas ke arah Selatan. Kali ini, tujuan kami yaitu pantai-pantai yang ada di sebelah Timur Kabupaten Malang.

Pantai-pantai yang nge-hits hampir semua berada di sini. Mulai dari Batu Bengkung, Goa Cina, Sendang Biru, Pantai Tiga Warna, Watu Leter, Teluk Asmoro, Bajul Mati, Banyu Anjlok dan lainnya. Tujuan kami pertama yaitu Pantai Sendiki. Sebenarnya, pengennya sih mulai dari Banyu Anjlok, tapi berhubung jauh dan takut ga keuber dalam satu hari ini, maka Sendiki titik awalnya.

Posisi Pantai Sendiki sendiri sudah lumayan paling ujung dan mencil sendiri, makanya saya pilih susur pantainya mulai dari Pantai Sendiki. Pantai Sendiki sendiri saya pilih karena pantainya cukup unik. Perjalanan dari Stasiun Kepanjen sampai di parkiran Pantai Sendiki kurang lebih dua jam perjalanan.

Awal perjalanan, kami sempat disambut mendung. Memang sih, awal November ini sebagian wilayah di Pulau Jawa sudah memasuki musim hujan, termasuk Malang dan sekitarnya. Sempat khawatir juga kalau hari ini bakalan mendung seharian.

Ternyata memasuki jalur lintas Selatan Jawa Timur, matahari mulai muncul. Ga tanggung-tanggung, langsung terik. Saya sempat mengantuk di jalur ini. Jalur Lintas Selatan Jawa Timur yang dominan lurus, terik tanpa pepohonan, sepi, mulus, ditambah terpaan angin sukses bikin mata saya berat.

Tepat pukul 10.00 WIB, kami sudah masuk ke area Pantai Sendiki. Posisi jalan raya utama berada di atas bukit, itu artinya kami harus menuruni bukit dulu untuk sampai di ara Pantai Sendiki. Jalanan menuruni bukit cukup mulus. Sesampainya di dasar bukit, kondisi jalan mulai berubah.

Kami harus melewati area persawahan dengan kondisi jalan makadam, bahkan sebagian berupa tanah. Untungnya ketika kami melintas, kondisi jalannya 90% kering. Jalur pematang sawah ini kurang lebih 3 Km. Setelah itu, barulah kami tiba di area parkir Pantai Sendiki. Ditandai dengan adanya pos penjagaan sekaligus loket tiket.

Untuk memasuki Pantai Sendiki, kami membayar retribusi sebesar Rp 10.000,00 untuk kendaraan roda dua. Setelah memarkirkan motor, kami pun menju Pantai Sendiki Ternyata, kami harus menaiki bukit dulu, baru turun menuju area bibir pantai.

Setelah parkir motor, kami berjalan kaki menaiki bukit. Sudah dibuatkan tangga yang kanan-kirinya penuh dengan warung dan toilet umum sampai di puncak bukit. Di puncak bukit ada semacam gapura. Setelah itu, barulan menuruni bukit yang juga sudah dibuatkan tangga.

Tepat setelah tangga habis, kami memasuki area outbond Pantai Sendiki. Lengkap dengan gapura, saung-saung, tempat duduk dari batang kayu, saung, dan semi rumah pohon.

Tujuan kami pertama adalah area pantai yang berbatu. Area pantai berbatu berada di ujung Timur Pantai Sendiki. Artinya, kami harus jalan menyusuri area Pantai Sendiki hingga ke ujung Timur.

Kami memilih berjalan tepat di pinggir pantai. Panas campur terik matahari ditambah pasir Pantai Sendiki yang berwarna putih sukses bikin silau dan dehidrasi. Pasir pantainya gembur dan topografinya miring, sehingga langkah saya pun tambah berat.

Sesampainya di area pantai berbatu, saya istirahat dan langsung minum. Dehidrasi. Sayangnya, lagi-lagi kurang persiapan air minum, jadi harus dihemat. Seenganya sampai kami tiba lagi di area warung-warung di atas bukit sana.

Untungnya di sekitar area pantai berbatu ini pepohonannya masih cukup teduh. Ternyata area pantai berbatu ini bukan area wisata. Terdapat papan himbauan yang berisikan batas area wisata dan pengunjung tidak diperkenankan untuk berjalan lebih jauh lagi di area bebatuan.

Untuk saya pribadi, batuan di sekitar bibir Pantai Sendiki ini kurang stabil. Bentuknya yang bulat dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan batu karang membuatnya semakin tidak stabil jika diinjak. Selain itu, area pantainya langsung melandai dan dalam ditambah ombak yang cukup besar.

Jika diteruskan, ujung dari pantai berbatu ini merupakan area Tanjung Kleten dan di tepat di sisi satunya merupakan area Pantai Watu Klotok. Tepat di hadapan Pantai Sendiki di sisi Timur, terdapat Pulau Rantai dan Cagar Alam Pulau Sempu di sisi Barat Pulau Rantai.

Setelah puas mengambi beberapa foto di pinggir area pantai berbatu, kami pun memutuskan untuk kembali. Kali ini kami memilih jalur di darat. Jalur darat melewati jalan setapak di pinggir hutan. Di tengah jalan setapak, tepat sebelum area kemping, terdapat aliran sungai yang saat itu mengering. Mungkin jika hujan cukup deras, akan terisi air dan bermuara di dekat area pantai berbatu. Kami melewati area untuk kemping yang cukup luas dengan tanah yang datar dan padat.

Di sepanjang bibir Pantai Sendiki terdapat ayunan yang diikatkan pada batang pohon, oleh karena itu, ketinggian tiap ayunan berbeda-beda. Sesekali saya berhenti mengambil foto, lalu kembali berjalan ke area outbond Pantai Sendiki. Tidak ada pengunjung lain di sekitar area pantai berbatu sampai area camp. Mungkin karena bukan hari libur dan mataharinya cukup terik, jadi orang malas untuk berjalan-jalan ke sisi lain Pantai Sendiki.

Kami tiba di area outbond. Barulah kami bertemu dengan pengunjung lain. Kami memutuskan untuk mengambil beberapa foto di area outbond lalu kembali ke atas. Rasa haus sudah tidak dapat ditahan, kepala saya pun sudah mulai pusing, Percampuran antara kepanasan, kurang air putih, dan menahan ngantuk. Sayangnya, untuk tiba di area warung-warung saya masih harus menaiki anak tangga ke puncak bukit.

Sudah dapat ditebak, butuh waktu lumayan lama untuk menaiki anak tangga yang sebenarnya tidak seberapa banyak itu. Bahkan, saya sempat menyerah dengan duduk sejenak di tengah-tengah tanjakan. Lumayan juga areanya teduh dan ada angin sepoi-sepoinya. Sementara Mas Aris, sudah sampai di gapura puncak bukit. Dengan sisa tenaga dan nafas yang udah ampir abis juga, saya sampai juga di gapura. Ga pake basa-basi langsung cari warung untuk istirahat dan pesan minuman dingin yang manis-manis.

Saya segera memasan es teh manis dan mie goreng pakai telur. Dipikir-pikir, terakhir saya makan ya tadi malam di kereta. Sewaktu kami tiba di warung sudah pukul 11.00 WIB lebih. Sudah hampir waktu makan siang dan sarapan yang terlewat. Pantas badan super lemes.

Setelah tenaga mulai pulih dan ngantuk kembali hilang, kami memutuskan untuk ke lokasi berikutnya. Awalnya, tujuan kami berikutnya yaitu Batu Bengkung dan Teluk Asmoro, namun, berhubung ke Teluk Asmoro kami mau naik ke bukitnya, sepertinya di skip dulu.

Pilihan pun jatuh ke Pantai Watu Leter. Meskipun, jadinya bolak-balik karena nantinya tetap akan ke Teluk Asmoro, tapi seengganya saya ga perlu langsung trekking naik-naik bukit lagi siang bolong. Kami pun langsung tancap gas menuju Pantai Watu Leter. Jalan utama masih tetap sepi dan terik karena tidak ada pepohonan.

Kami tiba di persimpangan menuju Pantai Watu Leter. Persimpangan ini juga merupakan jalur menuju Pantai Goa Cina. Jalan masuk menuju area Pantai Watu Leter masih dominan tanah dengan batuan seadanya. Kondisi medannya menurun hingga di dekat area parkir. Kami kembali membayar retribusi sebesar Rp 10.000,00 untuk sepeda motor.

Tepat setelah area parkir merupakan area warung, toilet, musola, dan berikutnya adalah area yang ditumbuhi tanaman sejenis pinus/cemara udang. Area ini juga dapat dipergunakan untuk kemping. Setiba di bibir pantai, terik matahari langsung menyengat dan kepala saya langsung sakit lagi. Saya pun meminta Mas Aris untuk ke spot yang bisa hammockan dan sepi.

Akhirnya kami menuju sisi Barat pantai. Area ini jauh lebih sepi dibandingkan area di sisi Timur. Area Barat lebih gersang, meskipun terdapat saung-saung kecil, tapi sangat-sangat gersang. Pasir pantainya jauh lebih gembur. Kami pun memasang hammock dan saya memutuskan untuk tidur sebentar. Saya pun meminta Mas Aris untuk membangunkan saya jika sudah pukul 13.00 WIB.

Satu jam tidur di pinggir pantai yang cukup sepi dengan angin yang cukup besar rasanya sangat sangat kurang. Tapi, kami masih harus berjalan ke beberapa lokasi lagi, sayang kalau hanya dilewatkan dengan tidur saja. Setelah membereskan hammock, kami pun berjalan ke sisi Timur Pantai Watu leter.

Sisi Timur Pantai Watu Leter memiliki pantai berbatu karang. Banyak terdapat batuan karang berbentuk bongkahan maupun berukuran pecahan. Sisi Timur Pantai Watu Leter ‘dipagari’ oleh Bukit Saroja. Sebuah bukit yang membatasi Pantai Watu Leter dengan Pantai Goa Cina. Sementara, sisi Barat Pantai Watu Leter ‘dipagari’ oleh muara sungai yang cukup besar, dimana terdapat Jembatan Bajul Mati. Di sisi Timur juga terdapat pulau karang yang bernama Pulau Kletek.

Area Timur Pantai Watu leter siang itu cukup ramai. Saung-saung kecil di pinggir pantai ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati makan siang dan mengeringkan pakaian. Kami menuj pantai kecil berair tenang tepat di bawah Bukit Saroja. Disinilah Watu Leter yang berjumlah empat itu berada.

Kondisi pantai sedang surut, bahkan setelah Watu leter pun masih belum sampai di batas pasang-surut. Seperti biasa, saya meminta bantuan Mas Aris untuk jadi model foto saya. Setelah mengambil cukup foto, kami pun memutuskan untuk ke lokasi berikutnya. Sambil berjalan ke arah parkiran, sambil sesekali mengambil foto dari sudut pandang berbeda.

Tujuan kami berikutnya yaitu Teluk Asmoro. Berhubung sudah tidak terlalu terik, jadi sepertinya mencoba naik ke atas bukitnya tidak masalah. Kami kembali ke sisi Timur, karena posisi Pantai Teluk Asmoro berada di Timur Pantai Watu Leter. Pantai Goa Cina sementara saya lewat dulu. Selain, sudah terkenal, saya pun penasaran sama landscape Teluk Asmoro yang mirp-mirip Raja Ampat mini ala Malang.

Jalan masuk menuju Pantai Teluk Asmoro jauh lebih bagus dibandingkan jaan masuk menuju Pantai Watu Leter. Setiba di parkiran Pantai Teluk Asmoro, kami kembali membayar retribusi sebesar Rp 10.000, 00 per orang (karena kami berdua, jadi Rp 20.000,00) dan parkir sepeda motor sebesar Rp 5.000,00.

Kami tiba di Teluk Asmoro sekitar pukul 15.00 WIB. Meskipun hari biasa, ternyata pengunjungnya cukup banyak. Area parkir sepeda motor sudah cukup penuh, area parkir mobil pun mulai penuh. Di sekitar area parkir terdapat warung dan toilet.

Berhubung kami akan menuju bukit, jadi kami memilih jalan setapak ke sisi Timur dari jalan masuk menuju area pantai. Jalan ini merupakan jalan warga. Jalannya berupa tanah. Ternyata, jalur menuju bukit sudah dibenahi. Menurut info dari Mas Aris, dulu, kalau mau ke puncak bukit melewati jalan setapak, tapi sekarang sudah ada jalur yang menggunakan tangga.

Tangganya pun bukan hanya tangga beton, tetapi dihiasi berbagai cetakan daun yang ditempel ketika semen masih basah, ukuran tangganya pun konsisten. Ternyata, di puncak bukit terseut, akan dibangun villa pribadi. Memang sih, sebelumnya pun sudah ada satu bangunan berupa pendopo kecil di puncak bukit, tapi belum dibangun.

Pendopo tersebut milik pribadi, jadi, kalau banyak foto-foto di sosial media ada yang berfoto di pendopo tersebut, harus memanjat tiang dan batu di pinggiran pendopo. Nah, ketika kami datang, puncak bukit dan area pendopo sedang dibenahi.

Terdapat batas pengunjung dan area villa. Untuk area pengunjung dibuatkan semacam landmark berbentuk hati sebagai titik pandang ke arah Teluk Asmoro dan pulau-pulau kecil di Timur, kursi dari beton, tempat sampah, dan taman kecil. Sedangkan untuk area villa pribadi sedang dilakukan pembangunan oleh pemilik. Kami pun tidak diijinkan mendekati ke area milik pribadi.

Untuk pengangkutan material villa, bahkan pohon-pohon yang menjadi hiasan diangkut melalui jalan setapak yang dulu merupakan  merupakan satu-satunya akses menuju puncak Bukit Teluk Asmoro. Bahkan, pengangkutan pun dilakukan dengan menggunakan mobil offroad dan alat berat lainnya.

Ketika kami tiba di puncak bukit, sudah ada empat pengunjung lainnya yang sedang berfoto. Saya yang hampir kehabisan tanaga dan nafas (lagi) setelah menaiki tangga ke puncak bukit memilih untuk duduk sambil mengatur nafas. Sambil istirahat, sambil menunggu area kosong dari pengunjung lain untuk mengambil foto. Hal ini karena spot untuk pengambilan panorama ke arah pulau-pulau kecil sangat terbatas.

Setelah empat pengunjung lain tadi turun, saya pun mulai mengambil foto. Tidak banyak spot yang bisa dieksplore dari atas sini, tapi viewnya emang keren. Dari atas bukit terlihat Pantai Clungup yang airnya sedang surut total. Pantai Gatra di mulut muara Pantai Clungup, dan yang pasti Pantai Teluk Asmara. Selain itu terlihat beberapa pulau karang, diantaranya Pulau Bagong dan Pulau Cilik. Sebagian Cagar Alam Pulau Sempu pun terlihat dari atas Bukit Teluk Asmoro.

Berhubung sudah semakin sore, nampaknya Pantai Goa Cina saya skip. Pantai Tiga Warna pun saya skip, karena katanya harus menggunakan jasa guide dengan bayaran yang diluar budget saya. Selain itu, waktu tempuh untuk ke Pantai Tiga Warna tidak cocok dengan itinerary yang saya buat.

Akhirnya saya memutuskan untuk langsung saja menuju pantai yang punya spot sunset keren dan masih sepi. Pantai Ngudel menjadi pilihan saya. Beberapa minggu lalu, saya sempat melihat foto sunset di Pantai Ngudel milik Mas Aris. Lokasinya sempurna menurut saya.

Dalam perjalanan ke Pantai Ngudel, sayangnya cuaca kembali tidak bersahabat. Langit yang semula biru, bersih dari awan, lama kelamaan menjadi putih. Memang, selama kami di Bukit Teluk Asmoro, langit di Timur kami gelap, pertanda hujan sudah turun.

Sepanjang jalur masuk menuju Pantai Ngudel, kami tidak berpapasan dengan kendaraan lain. Lokasi Pantai Ngudel cukup jauh dari Pantai Teluk Asmoro. Setelah keluar dari jalan raya utama dan masuk ke jalur Pantai Ngudel, akan dilewati beberapa pantai kecil berbatu karang.

Pantai pertama yang akan dilewati yaitu Pantai Buncaran. Karakteristik pantai ini cukup unik. Pantai dengan muara sungai dengan pulau batu karang di tengahnya seolah menjadi membagi pantai menjadi dua sisi. Sisi muara dan sisi yang tidak memiliki muara.

Pantai kedua yaitu Pantai Kletekan. Pantai ini juga cukup unik, karena memiliki semacam pemecah ombak alami dari susunan batu karang. Dengan adanya batuan karang yang berjajar di depan bibir pantai yang berbentuk teluk kecil, bentukannya jadi mirip pelabuhan mini. Namun, ombak di pantai ini tetap besar.

Setelah Pantai Kletekan, barulah jalan memasuki area Pantai Ngudel. Kali ini kami membayar retribusi sebesar Rp 15.000,00 per orang yang sudah termasuk retribusi parkir. Saat kami tiba, hanya ada satu rombongan dengan mobil dan beberapa pengunjung dengan sepeda motor. Menurut Mas Aris, terdapat bukit di sisi kanan area pantai. Nama bukit ini belakangan baru saya tahu bernama Bukit Asmara. Dari atas bukit ini bisa terlihat pantai-pantai lain di sebelah Pantai Ngudel.

Jika dari Pantai Ngudel, pantai-pantai ini tidak akan terlihat karena tertutup bukit. Pantai-pantai tersebut antara lain Pantai Kuncaran, Pantai Ngandol, dan Pantai Ngandol Atas. Ketiga pantai ini masih jauh lebih sepi dari pengunjung dan minim fasilitas umum lainnya.

Area di sekitar bibir Pantai Ngudel ditumbuhi cemara udang. Sama seperti di Pantai Watu leter, hanya saja areanya lebih luas dan sudah lebih tinggi. Terdapat jajaran warung dan toilet umum di sekitaran area Pantai Ngudel. Tepat di hadapan Pantai Ngudel terdapat bongkahan batu karang yang cukup besar.

Kami mengambil spot tidak jauh dari sekitaran batu karang. Untungnya lagi, di lokasi yang kami pilih, kami bisa membuka hammock. Berhubung sudah pukul 16.30 WIB, jadi saya putuskan ini pantai terakhir yang kami datangi hari ini. Sebenarnya, bisa saja sih sambil menunggu sunset, saya mengunjungi tiga pantai lainnya di samping Pantai Ngudel. Berhubung sudah malas trekking dan pengen santai-santai di pantai, akhirnya saya mutuskan buat hammockan saja sampai sunset.

Sayangnya, sampai hampir pukul 18.00 WIB lebih, langit tetap berawan. Gambaran matahari bulat sempurna yang tenggelam di Barat seperti di foto milik Mas Aris pun tidak saya temui. Yah, setidaknya hari ini kami tidak kena hujan, dan matahari cukup terik di pantai-pantai yang kami datangi.

Setelah mulai gelap, kami pun bergegas untuk kembali ke Malang. Berhubung ini pertama kali saya ke pesisir Selatan Malang, jadi saya belum terlalu hafal jalur-jalurnya. Setelah melewati jalan desa yang cukup sepi dan gelap, akhirnya kami sampai di Gondanglegi. Kalau jalur Gondanglegi – Malang sih sudah sedikit hafal. Akhirnya saya sampai di Malang tepat pukul 21.00 WIB.

 
Leave a comment

Posted by on June 15, 2019 in OUR JOURNEY, PANTAI, Travelling

 

BENDUNGAN LAHOR

Secara administratif, Bendungan Lahor berada di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan berada pada koordinat -8.145268, 112.455579. Bendungan Lahor diresmikan pada 1977 oleh Presiden Soeharto, atau 3 tahun setelah peresmian Bendungan Karangkates (yang kemudian berganti nama menjadi Bendungan Sutami pada 1981).

Bendungan Lahor merupakan satu dari dua bendungan yang berada di perbatasan antara Kabupaten Malang dengan Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Posisi Bendungan Lahor berada di sisi kiri jalan raya utama Blitar – Malang (jika dari arah Blitar) atau berada di sisi Utara Bendungan Karangkates/Bendungan Sutami.

Fungsi utama Bendungan Lahor yaitu sebagai penyupai air untuk PLTA Sutami. Bendungan Lahor mensuplai 1 pembangkit 35 MW, sedangkan Bendungan Sutami mensuplai 2 pembangkit 35 MW. Bendungan Lahor juga difungsikan untuk irigasi. Pengelolaan kedua bendungan ini merupakan tanggung jawab Perum Jasa Tirta I, sedangkan pengelolaan PLTA menjadi urusan PT Pembangkitan Jawa-Bali (UP Brantas).

Bendungan Lahor difungsikan juga sebagai tempat wisata. Bahkan sudah tersedia penginapan. Dalam hal wisata, Bendungan Lahor sedikit lebih unggul dibandingkan dengan Bendungan Sutami. Bendungan Lahor juga berfungsi sebagai pengendali banjir, sumber irigasi, dan sumber air baku.

Pada jalan/jembatan penghubung Bendungan Lahor, semua jenis kendaraan diperbolehkan untuk melintas (kecuali truk dan bus besar). Sedangkan di Bendungan Sutami, hanya sepeda motor yang diperbolehkan melintas. Hal ini justru berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Pengunjung juga dapat menyewa perahu untuk berkeliling di Bendungan Lahor ataupun memancing.

Terdapat juga Taman Wisata Bendungan Lahor yang menyediakan aneka kuliner yang berlokasi di pinggir danau. Sedangkan bagi pengunjung yang ingin membeli ikan, disana juga terdapat beberapa penjual ikan segar yang harganya cukup terjangkau.

Taman Wisata Lahor mulai dibuka untuk para pengunjung setiap hari mulai jam 07.00 WIB sampai 17.00 WIB. Kalau sedang beruntung, pada sore hari, kita bisa menikmati hiburan orkes yang diselenggarakan di area Taman Wisata Lahor Karangkates.

Pengunjung akan dikenakan retribusi masuk sebesar Rp 5.000,00 pada hari kerja, Rp 7.000,00 pada akhir pekan, dan Rp 10.000,00 pada hari raya.

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2019 in DANAU, Travelling

 

SUMBER JERUK DAN SUMBER MARON

Sumber Jeruk

Secara administratif, Sumber Jeruk berada di Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan berada pada koordinat -8.162997, 112.594222. Sumber Jeruk merupakan sumber mata air yang berdekatan Sumber Maron. Luas genangan Sumber Jeruk kurang lebih 0,14 Ha.

Sumber Jeruk merupakan sumber mata air yang berada 100 m sebelah Utara Sumber Maron. Bisa dikatakan, air dari Sumber Jeruk merupakan hulu dari Sumber Maron. Berbeda dengan Sumber Maron yang dibuka menjadi objek wisata air yang cukup besar, Sumber Jeruk tidak diperuntukkan untuk wisata air.

Pengunjung hanya dapat menikmati jernihnya air Sumber Jeruk tanpa berenang ataupun bermain air. Air di Sumber Jeruk lebih diperuntukan untuk sumber air bersih warga dan pengairan. Selain itu, Sumber Jeruk juga dimanfaatkan sebagai kolam budidaya ikan.

Di sekeliling Sumber Jeruk sudah dipasang pagar pembatas agar pengunjung tidak berenang. Sekeliling Sumber Jeruk pun sudah diberi jalur pedestrian. Area Sumber Jeruk berdekatan dengan area persawahan warga dan Coban Putih.Tidak terdapat warung di area ini, hanya terdapat sebuah gazebo bagi pengunjung.

Sumber Jeruk pada awalnya hanya berupa embung tanpa bangunan apapun. Pada 2015, dilakukan penataan Sumber Jeruk oleh Kementerian PUPR, Dirjen SDA BBWS Sungai Berantas. Pada penataan ini  dibuatkan kolam dengan perkerasan beton di sekeliling kolam, pemasangan pagar, dan pembuatan jalur pedestrian sepanjang 300 m, serta anak tangga.

Selain itu, tidak kalah pentingnya lagi dengan pasokan air yang begitu melimpah dari Sumber Jeruk, Pemerintah Desa setempat mempunyai suatu Program yaitu akan mengalirkan air dengan sarana Pompa Air (Dongki) dari lokasi Sumber Jeruk menuju ke Waduk yang telah selesai terbangun di Sawah Timur.

Saat berada di Sumber Jeruk, akan ditemui dua kolam, yakni kolam bagian atas (kolam sumber) dan kolam bagian bawah (kolam tampung). Kolam sumber termasuk dangkal, karena kedalamannya hanya sekitar 90 sampai 125 cm. Sementara, kolam tampung memiliki kedalaman sekitar 2 sampai 3 meter.

Pengunjung akan dikenakan retribusi sebesar Rp 2.000,00 untuk anak-anak, Rp 3.000,00 untuk dewasa, tiket parkir Rp 2.000,00 untuk sepeda motor, dan Rp 5.000,00 untuk mobil. Retribusi ini akan dibayarkan ketika memasuki loket Sumber Maron.

Rute Menuju Sumber Jeruk

Arahkan kendaraan dari Kota Malang menuju Kepanjen. Setiba di Kepanjen, arahkan kendaraan menuju Jalan Pahlawan. Ikuti jalan raya utama menuju Kecamatan Pagelaran. Setiba di Kecamatan Pagelaran sudah terdapat papan penunjuk arah menuju Sumber Maron. Ikuti petunjuk arah hingga tiba di Sumber Maron.

Sumber Jeruk yang berada satu lokasi dengan Sumber Maron masih jauh lebih sepi dibandingkan dengan Sumber Maron dan Coban Putih. Hal ini dikarenakan di Sumber Jeruk pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang.

Sumber Maron

Sumber Maron merupakan salah satu icon wisata air yang cukup terkenal di Malang. Sumber Maron memiliki beberapa wahana wisata air, antara lain kolam pemandian, river tubing, terapi ikan dengan biaya Rp 15.000,00 / orang, hingga air terjun berair jernih. Terdapat juga flying fox di area Sumber Maron dengan biaya Rp 10.000,00 / orang

Untuk menikmati river tubing, pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp 5.000,00/orang. Area river tubing berada di sisi Selatan Sumber Jeruk. Panjang lintasannya sejauh 500 m dengan arus yang tidak terlalu deras.

Tepat di dekat titik finish river tubing terdapat air terjun yang cukup lebar bernama Grojogan Sewu. Air terjun Grojogan Sewu memiliki air yang sangat jernih dan dinding air terjun yang tidak licin. Ketinggian air terjun Grojogan Sewu sekitar 5-6 m. Pengunjung dapat dengan mudah memanjat dinding air terjun.

Fasilitas yang ada di Sumber Maron sudah sangat lengkap, antara lain area parkir yang luas, bahkan untuk menampung bus-bus pariwisata, loket tiket yang cukup banyak, jalur pedestrian yang sudah tertata antara rute masuk dan keluar pengunjung, warung, toilet, musola, dan penyewaan ban.

Sumber Maron akan sangat ramai dikunjungi pada akhir pekan. Pengunjung akan bertambah berkali lipat pada hari libur nasional, libur sekolah, dan libur hari raya. Sumber Maron merupakan objek wisata yang dapat dinikmati oleh semua kalangan umur.

Asal usul nama Sumber Maron berasal dari kata sumber yang artinya mata air sedangkan untuk maron terdapat dua versi untuk itu. Maron sendiri merupakan sebuah kata untuk menyebut alat memasak nasi, versi pertama menyebut asal nama Sumber Maron karena ada maron yang pernah dibuang di daerah ini, ada juga yang menyebut kondisi kawasan wisata ini yang menyerupai maron sehingga akhirnya disebut Sumber Maron.

Selain menjadi tempat wisata alternatif, di Sumber Maron terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) yang juga dapat dijadikan tempat wisata edukasi untuk instansi pendidikan yang ingin study tour di kawasan Malang Raya.

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2019 in DANAU, Travelling

 

PANTAI JEMBATAN PANJANG DAN PANTAI BALE KAMBANG

Pantai Jembatan Panjang

Secara administratif, Pantai Jembatan Panjang berada di Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan berada pada koordinat -8.402112, 112.530238. Penamaan Pantai Jembatan Panjang diambil dari adanya jembatan yang cukup panjang yang mengubungkan bibir pantai dengan Pulau Hanoman.

Pengunjung akan dikenakan retribusi masuk sebesar Rp 5.000,00 sekaligus rertibusi parkir. Fasilitas yang berada di Pantai Jembatan Panjang diantaranya area parkir dan kemping yang sangat luas, warung, musola, dan toilet. Serta beberapa kursi dari kayu di bawah pepohonan di sekitar area parkir.

Rute Menuju Pantai jembatan Panjang

Terdapat dua rute menuju Pantai Jembatan Panjang, pertama yaitu melalui Pantai Kondangmerak. Rute kedua yaitu melalui Pantai Balekambang. Rute melalui jalur Pantai Kondangmerak sangat cocok bagi yang suka berpetualang karena seluruh permukaan jalan merupakan jalur makadam. Posisi Pantai Jembatan Panjang tepat berada di sebelah Barat Pantai Balekambang.

Rute Melalui Pantai Balekambang

Arahkan kendaraan dari Kota Malang menuju Gondanglegi. Setiba di Pasar Gondanglegi, ambil arah menuju Bantur. Ikuti jalan raya utama menuju Bantur. Arah yang diambil merupakan arah yang sama dengan yang menuju Pantai Balekambang. Sudah terdapat papan penunjuk arah menuju Pantai Balekambang di beberapa persimpangan besar dari Gondanglegi hingga Bantur.

Setiba di persimpangan, tepat di depan gapura masuk menuju Pantai Balekambang, tepatnya pada koordinat -8.393131, 112.546945, ambil arah menuju Pantai Balekambang.

Setiba di Pantai Balekambang, pengunjung hanya dapat berjalan kaki menuju Pathukan Sirap. Pertama-tama, pengunjung harus memasuki area Pantai Jembatan Panjang dan Pantai Sumur Pitu. Pengunjung akan dikenakan retribusi masuk sebesar Rp 5.000,00/orang.

Rute Melalui Pantai Kondangmerak

Arahkan kendaraan dari Kota Malang menuju Gondanglegi. Setiba di Pasar Gondanglegi, ambil arah menuju Bantur. Ikuti jalan raya utama menuju Bantur. Arah yang diambil merupakan arah yang sama dengan yang menuju Pantai Balekambang. Sudah terdapat papan penunjuk arah menuju Pantai Balekambang di beberapa persimpangan besar dari Gondanglegi hingga Bantur.

Setiba di persimpangan, tepat di depan gapura masuk menuju Pantai Balekambang, tepatnya pada koordinat -8.393131, 112.546945, ambil arah kanan menuju Pantai Kondangmerak. Jalur ini merupakan ujung dari Lintas Selatan Jawa Timur yang selesai dibuka pada 2017 silam. Sayangnya, jalan menuju Pantai Kondangmerak masih berupa makadam dan berada dalam area Perhutani.

Sekitar satu kilometer dari persimpangan dengan Pantai Balekambang, akan ditemui persimpangan kecil pada koordinat -8.392554, 112.532625. Ambil arah kiri di persimpangan ini. Jalur berikutnya masih berupa makadam, hanya saja jauh lebih rusak dan lebih sempit.

Area hutan di sekitar jalur ini jauh lebih rindang dan sesekali hewan liar melintas. Batang kayu dan daun-daun pun banyak yang berserakan di sepanjang jalur. Jika hujan, jalur akan menjadi sangat licin. Jalur ini masih sangat jarang dilewati. Ikuti jalan hingga tiba di gerbang loket Pantai JPTS.

Keunikan Pantai Jembatan Panjang

Sesuai namanya, terdapat jembatan yang cukup panjang yang menghubungkan Pulau Hanoman dengan bibir pantai. Jembatan ini baru selesai direnovasi ketika kunjungan saya November 2018. Sebelumnya, sebagian besar bangunan jembatan ini rubuh. Jembatan panjang yang menjadi icon pantai ini pun kini dicat berwarna merah – putih – biru. Sebelumnya, jembatan ini hanya dicat berwarna putih.

Pantai Jembatan Panjang memiliki mitos terkait jembatan yang menajdi icon pantai ini. Konon, katanya jembatan yang berada di atas pantai tersebut sudah berkali-kali diperbaiki. Namun, perbaikan jembatan itu tidak pernah berhasil karena tidak disetujui oleh “penghuninya” (makhluk halus) yang mendiami kawasan pantai ini.

Selain itu, mitos lain yang berkembang di masyarakat adalah tempat tersebut digunakan sebagai tempat pertapaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Kemungkinan besar jika jembatan itu diperbaiki dan pertapa tersebut belum selesai melakukan kegiatan ritualnya, maka usaha renovasi jembatan akan sia-sia. Hal ini yang membuat jembatan di pantai ini sering patah tepat di tengah-tengah.

Kini, jembatan yang menjadi icon Pantai Jembatan Panjang sudah berdiri kokoh kembali dengan cat berwarna merah – putih – biru serta pemberian paving block dan penanda Kabupaten Malang tepat di hadapan jembatannya. Jika pengunjung memutuskan untuk menyeberang ke Pulau Hanoman, maka akan terlihat Pulau Wisanggeni tepat di balik Pulau Hanoman di sisi Selatan.

Ombak di sekitar Pantai Jembatan Panjang dan Pantai Sumur Pitu tidak terlalu besar. Pantai Jembatan Panjang dan Pantai Sumur Pitu memiliki garis pantai yang cukup panjang. Pengunjung di kedua pantai ini masih jauh lebih sepi dibandingkan Pantai Balekambang yang berada tepat di sebelahnya. Warga lebih banyak memanfaatkan area Pantai Jembatan Panjang dan Pantai Sumur Pitu sebagai lokasi memancing selain sebagai lokasi wisata.

Pantai Balekambanng

Secara administratif, Pantai Balekambang berada di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan berada pada koordinat -8.402733, 112.533843. Pantai Balekambang merupakan pantai yang sudah cukup lama dikenal dari Kabupaten Malang jauh sebelum dibukanya jalur Lintas Selatan Jawa Timur.

Pantai Balekambang terkenal dengan icon jembatan yang menghubungkan bibir pantai dengan pulau yang memiliki sebuah Pura. Namun, selain icon tersebut, terdapat juga cerita mitos seputar Pantai Balekambang.

Salah satu mitos yang berkembang disini adalah akan berakhirnya hubungan pasangan muda mudi yang belum sah dalam bahtera pernikahan jika mereka datang berkunjung ke pantai ini, mitos lain yang berkembang adalah air yang ada disekitar area pantai balekambang akan membuat awet muda, sehingga tidak jarang kita temui orang-orang atau wisatawan yang berendam atau sekedar mengusapkan air ke wajah mereka.

Sejarah Pantai Balekambang

Sebenarnya Pantai Balekambang sudah dikenal warga lokal sejak tahun 1978-an. Pada tahun tersebut, seorang perangkat desa Srigonco membuka akses jalan sehingga orang dari luar desa tersebut lebih mudah mencapai Balekambang. Lima tahun kemudian, Pantai Balekambang diresmikan oleh Bupati Malang yang saat itu bertugas, Bapak Eddy Slamet. Semenjak itu, nama Pantai Balekambang makin bergaung. Keindahan yang ditawarkannya cukup menarik wisatawan sehingga terus berkembang dan kini menjadi salah satu andalan wisata pantai di Kabupaten Malang. So, tidak heran kalau momen akhir pekan dan liburan pantai ini dipenuhi wisatawan dari berbagai daerah.

Konon, orang yang pertama membuka hutan di Pantai Balekambang bernama Syaikh Abdul Jalil, seorang ulama yang dipercaya berasal dari Yogyakarta. Saat ini, makam Syaikh Abdul Jalil yang berlokasi sekitar 1 kilometer dari Pantai Balekambang, rajin diziarahi oleh umat muslim dari berbagai daerah.

Pada bulan Suro/Muharram, jumlah jamaah yang berkunjung baik untuk memperingati tahun baru Hijriyah maupun wisatawan biasa yang ingin menyaksikan prosesi ‘Suroan’ melonjak. Selain Upacara Suroan, digelar juga Upacara Jalanidhi puja. Upacara ini merupakan upacara adat Hindu yang secara khusus diadakan di Pantai Balekambang.

Pada Hari Raya Nyepi, pantai ini juga lebih ramai dari hari – hari biasa, karena umat Hindu melakukan upacara atau prosesi di Pura Amarta Jati yang terletak di Pulau Ismoyo. Pulau Ismoyo sendiri adalah bagian dari pulau-pulau kecil di Balekambang, yang menjorok ke lautan dan dihubungkan dengan sebuah jembatan ke daratan.

Pantai Balekambang termasuk pantai di pesisir Selatan Kabupaten Malang yang memiliki fasilitas terlengkap. Fasilitas tersebut antara lain area parkir, kemping, fasilitas ibadah (Pura), penginapan, dan berbagai warung makan yang menyediakan menu cukup komplit.

Pantai Balekambang juga merupakan batas pembangunan Jalur Lintas Selatan Jawa Timur. Jalur Lintas Selatan Jawa Timur yang baru-baru ini dibuka membentang dari Pantai Balekambang hingga ke Timur, yaitu area Pantai Sendiki sebelum akhirnya menyatu kembali dengan jalan Kabupaten menuju Turen.

Pantai Balekambang pun menjadi patokan pantai-pantai yang sudah dibuka dan dikelola dengan pantai-pantai yang masih berakses cukup sulit. Umumnya, pantai-pantai yang berada di sisi Timur Pantai Balekambang sudah jauh lebih tertata dari segi akses hingga fasilitasnya. Sebut saja Pantai Ngudel, Pantai Watu Leter, Pantai Goa Cina, Pantai Batu Bengkung, dan lainnya.

Sedangkan pantai-pantai yang berada di sisi Barat Pantai Balekambang umumnya masih berkases sulit. Pantai Kondangmerak, merupakan pantai dibuka cukup besar untuk wisata. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Pantai Balekambang, hanya saja aksesnya masih sangat buruk.

Hingga saat ini, Pantai Balekambang masih merupuakan tujuan wisata pantai teramai yang dikunjungi baik dari wisatawan di sekitar Malang, maupun wisatawan dari luar Malang.

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2019 in PANTAI, Travelling